SINOPSIS dorama Married as Job episode 08 part 1. Mikuri berusaha bersikap baik-baik saja meski sudah ditolak malam itu. Tapi ternyata semua tetap sulit. Dan hari selasa, hari berpelukan pun datang. Mikuri berpikir untuk menghindari hari itu.


Untuk pertama kalinya, Mikuri mangkir dari pekerjaannya. Apakah ini berarti Mikuri sudah tidak sanggup lagi bekerja menjadi ‘pekerja rumah tangga’ bagi Hiramasa?



Hiramasa makan siang di kantor. Tapi kali ini ia hanya makan nasi kepal. Tidak ada bekal dari Mikuri. Hino-san yang ikut bergabung menyadari hal itu. Ia menebak kalau Hiramasa tengah bertengkar dengan Mikuri, jadi tidak ada bekal makan siang.


“Hino, kau tak mengerti apa-apa, ya?” Numata-san tiba-tiba ikut bergabung dengan bekal makan siangnya sendiri juga. “Kau sama sekali tak mengerti rahasia bekal Hiramasa selama ini. Bekal Hiramasa selama ini...dibuat oleh Tsuzaki sendiri. Seperti membeli cokelat untuk dirimu sendiri pada Hari Raya Valentine...dan menaruhnya sendiri di lokermu.”


“Aku takkan melakukannya,” komentar Hino-san cepat.


Hiramasa sendiri tidak banyak berkomentar hari itu. Ia Cuma melihat Numata-san, tanpa minat untuk membalas ucapannya.


“Bagaimanapun, ini menjelaskan semuanya. Mikuri itu...hanya istri sewaan. Kau hanya menyewanya saat akan bertemu kami.”


Hiramasa kaget saat Numata-san menebaknya seperti itu. Meski benar, Hiramasa sudah tidak terlalu kaget. Kekagetannya pun tidak ditangkap oleh Numata-san atau Hino-san.


Justru Kazami yang panik karena tahu juga soal rahasia ini. “Numata...Hiramasa dan Mikuri yang seperti ini sebenarnya mesra, lho.”



Hiramasa benar-benar tidak berkomentar apapun. Dia justru mengingat-ingat peristiwa malam itu.


Malam itu...Sejak saat itu, Mikuri bersikap seperti tak ada yang terjadi. Akan tetapi, malam itu saat aku pulang ke rumah, Mikuri sudah pergi


Rumah dalam situasi gelap saat Hiramasa pulang malam itu. Ia tidak mendapati Mikuri di manapun. Alih-alih, Hiramasa justru menemukan catatan yang ditinggalkan Mikuri di meja. Ya, Mikuri pergi dari rumah Hiramasa malam itu.



Kazami keluar makan malam bersama Yuri-san. Sepertinya insiden Mikuri yang pergi dari rumah Hiramasa juga sudah mereka ketahui.


“Aku juga tak tahu pasti. Saat dia datang untuk bebersih di hari Senin, dia tak berkata apa pun. Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” tanya Hiramasa.


“Hari itu juga. Senin malam di stasiun, saat dia pulang dari tempatmu. Dia bilang dia mau mengembalikan anggur es yang kuberikan padanya,” cerita Yuri-san.


Malam itu Mikuri sengaja menunggu Yuri-san. Ia kemudian mengembalikan anggur yang pernah diberi oleh Yuri-san. Mikuri tahu anggur itu mahal, dan dia tidak mungkin membuangnya. Jadi Mikuri memilih mengembalikannya pada Yuri.


“Melihatnya... membuatku ingin mati,” ujar Mikuri malam itu.


Yuri mengingat-ingat apa yang dikatakan Mikuri saat mereka bertemu. “Aku tak mengira anggur es bisa memojokkan seseorang sejauh itu, tetapi....Pasti ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Hiramasa, 'kan ya?”


Kazami mulai berkomentar soal hubungan Hiramasa dan Mikuri, yang sebenarnya adalah bisnis. Tetapi kalimatnya tidak langsung, hanya menggunakan perumpamaan. Ia berpikir, kalau itu adalah dirinya dan Mikuri, tentu situasi tidak akan ribet seperti ini. Yuri-san protes karena lagi-lagi Hiramasa bicara dengan kalimat perumpamaan yang membuatnya bingung.


“Kalau khawatir, kenapa kau tak coba meneleponnya?” saran Hiramasa kemudian.



Yuri pun menelepon Mikuri, dan bertanya kapan Mikuri akan kembali.


“Aku tak bisa kembali sekarang,” ujar Mikuri dari seberang.


“Kenapa?”


“Karena ada kemungkinan cerai,” ujar Mikuri pula.


“Kemungkinan cerai?!” Yuri kaget. Rupanya Kazami yang ikut menguping di sebelahnya juga kaget. “Ternyata, sudah separah itu?”


“Kelihatannya lebih serius dari yang kukira...” lanjut Mikuri. Ia memandangi kedua orang tuanya yang tengah bertengkar soal cucian yang luntur akibat tidak dipisahkan saat mencuci.


“Maaf, nanti kuhubungi lagi,” Mikuri pun menutup teleponnya.


(jadi, yang sebenarnya dibahas oleh Mikuri ‘rawan’ cerai ini adalah orang tuanya. Mereka sedang bertengkar hebat karena cucian. Selama ibu Mikuri sakit akibat terjatuh, semua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh ayah Mikuri. Tapi ternyata pekerjaan itu tidak selesai dengan baik. Dan kini mereka bertengkar)



Mikuri menyusul ayahnya yang tengah duduk di teras menatap langit, “Sudah kubilang, jangan khawatir. Ibu hanya sedikit kesal.”


“Sedikit?”


“Yah, lumayan kesal,” Mikuri meralatnya. “Karena dia selalu sehat dan tak pernah cedera sebelumnya, kupikir dia merasa kesal sendiri.”


“Aku senang kau datang ke sini, Mikuri,” ujar ayah Mikuri.


“Aku juga terbantu, kok.”



Mikuri juga masih mengingat-ingat kejadian malam itu.


Malam itu...Sejak saat itu, aku mencoba untuk hidup seperti tak terjadi apa pun. Namun, apa pun yang kulakukan, kenangan malam itu.... Meski begitu, aku ingin melupakannya, dan mencoba sekuat tenaga untuk memikirkan hal lain.


Mikuri melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Saat mencuci, ia kembali ingat kejadian malam itu. Saat bersih-bersih rumah dan melihat ke arah sofa, Mikuri ingat kejadian malam itu di atas sofa. Saat mencuci piring dan melihat anggur es yang masih tersisa di dapur, Mikuri kembali ingat kejadian malam itu. Itulah alasan Mikuri memilih mengembalikan anggur es-nya pada Yuri-san lagi. Mikuri juga sampai pada situasi sulit tertidur.



Imajinasi Mikuri. Kali ini ia menjadi seorang atlet, tetapi karena satu dan lain hal ternyata gagal mencapai targetnya.


Aku mengacaukannya. Itu adalah kesalahan mendasar. Kalau saja aku tak mengatakannya, hari itu akan berakhir dengan suasana menyenangkan. Aku jadi tamak, ingin lebih dekat. Aku yakin akan diterima.... Aku wanita yang tersakiti.... Maaf.


“Kalau begitu, bagaimana perasaanmu pada Hiramasa saat ini?” tanya sang reporter lagi.


Dia orang yang hebat dan aku sangat menghormatinya. Mulai sekarang aku akan menjaga jarak dan bekerja dengan teliti.Terima kasih.


Aku bisa! Begitu seharusnya. Aku yakin jika aku memikirkan malam itu sebagai suatu acara lawak, dan mengirimkannya ke dalam anganku, aku pasti bisa melupakannya. Meski demikian, hari pelukan datang tanpa ampun.



Mikuri melepas kepergian Hiramasa ke kantor seperti biasa, dengan senyum terkembang. Tapi setelah Hiramasa pergi, Mikuri terduduk dil lantai, lemas. Ia sudah berusaha untuk baik-baik saja, tapi ternyata sulit.


Ponsel Mikuri bebunyi, dari kakaknya, “Katanya ibu patah tulang. Dia jatuh dari tangga dan perlu dua bulan untuk menyembuhkannya.”


“Duh, gawat! Bagaimana dengan pekerjaan rumah?” Mikuri khawatir.


“Ayah yang melakukannya. Selain kakinya, ibu tak apa-apa, jadi jangan khawatir dan tak usah ke sana,” ujar kakak Mikuri lagi.



Tapi Mikuri berpikiran lain. Ia tidak menuruti saran kakaknya itu. Mikuri pun berbelanja banyak bahan makanan lalu mulai memasak. Ada deretan menu lengkap yang dibuat oleh Mikuri dan dimasukkan dalam kotak plastik. Mikuri lalu memasukkan kotak-kotak plastik berisi makanan itu ke dalam lemari es.


Setelahnya Mikuri melakukan pekerjaan lain. Termasuk menyetrika baju. Sadar kalau sudah jam 6 sore, Mikuri pun menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah siap pergi dengan tas baju dan jaket di badan. Mikuri tidak lupa menulis catatan yang ia tinggalkan untuk Hiramasa di meja.


Saat bekerja, di sekolah, dan klub sekolah, aku sekali pun tak pernah tak masuk. Itu satu-satunya kebanggaanku. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku mengabaikan pekerjaan, jadi paling tidak aku harus mempersiapkannya dengan sempurna.


Untuk Hiramasa, Kaki ibuku patah, dia memintaku datang apa pun yang terjadi, jadi aku pergi ke Tateyama. Aku sudah menyiapkan makanan di kulkas.Hari itu adalah hari Selasa, hari pelukan.



Mikuri menunggu bisa di halte. Saat sebuah bis berhenti, Mikuri naik dari pintu depan. Ternyata itu bis yang sama, yang digunakan oleh Hiramasa. Tapi Hiramasa turun dari pintu tengah, jadi mereka tidak bertemu.


Apa pun akan kulakukan asal aku bisa melarikan diri. Asal aku bisa lari dari hari Selasa. Asal aku tak perlu melihat diriku yang menyedihkan. Aku mungkin takkan pernah bisa kembali. Sisi lain diriku berkata bahwa ini juga bagian dari hidup. Mikuri melamun di kursi yang membawanya mengarungi malam di atas bis menuju Tateyama.



Ayah Mikuri menyajikan makanan untuk Mikuri dan ibunya. Masih seperti kemarin, ibu Mikuri terus saja protes soal pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh ayah Mikuri.


“Seharusnya aku lebih banyak menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” keluh ibu Mikuri.


“Aku membantu sedikit. Membuang sampah.”


“Itu bukan pekerjaan rumah tangga!” Mikuri juga ikut protes.


“Membersihkan kamar mandi, kadang-kadang.”


“Seberapa sering kadang-kadang?”


“Sebulan dua kali.”


Pertengkaran kedua orang tua Mikuri masih saja berlanjut. Sampai akhirnya ada yang datang dan membuat mereka berhenti. Istri dari kakak laki-laki Mikuri, bersama anaknya yang masih kecil Kozue!



Ayah Mikuri lalu turun menyambut dan langsung menggendong cucunya itu. Sementara kakak ipar Mikuri ikut bergabung dalam rumah.


“Bu, apa kakinya baik-baik saja?” sapa kakak ipar Mikuri.


“Baik, baik.”


Dan curhat soal pekerjaan rumah tangga yang dilakukan para suami pun berlanjut. Kakak ipar Mikuri juga mengaku kesal karena kakak laki-laki Mikuri juga tidak mau membantu pekerjaan rumahnya. Saat pulang kerja dia mengaku capek dan malah minta dipijat. (kayaknya ini masalah semua kaum hawa ya. Yang dibutuhkan istri itu nggak selalu barang mahal atau uang banyak. Tapi perhatian suami sama pekerjaan istri di rumah, yang nggak pernah ada habisnya. Sukur-sukur mau bantu-bantu)


“Yah, untuk sementara tak masalah, tetapi bulan depan aku akan kembali bekerja,” ujar si kakak ipar.


“Jadi kau sudah menemukan Kelompok Bermain!”


“Akan tetapi, bekerja, mengasuh Kozue, bahkan mengasuh Chigaya (kakak laki-laki Mikuri).NAku tak tahu apa aku bisa melakukan semuanya,” curhat kakak ipar Mikuri lagi.


“Maaf aku yang tak benar membesarkannya,” sesal ibu Mikuri.


Berbeda kakak iparnya, berbeda juga dengan Mikuri. Selama ini Mikuri berpikir pekerjaan rumah tangga seperti sebuah hobby, jadi dia santai saja melakukannya tanpa beban.


Ibu Mikuri mengingatkan kalau cucian sudah selesai. Tadinya Mikuri ingin membantu, tapi dilarang oleh ibunya. Akhirnya si kecil Kozue yang dibawa masuk dan ayah Mikuri yang melanjutkan menjemur cucian di luar. Ibu Mikuri yang masih saja khawatir bahkan mengajarinya cara menjemur pakaian.


Di dalam, kakak ipar Mikuri curhat pada Mikuri. Ia ingin tahu juga bagaimana dengan rumah tangga Mikuri. Mikuri cukup kaget, tapi ia mengatakan kalau Hiramasa cukup banyak membantunya.


Aku digaji untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku tak bisa mengatakannya di depan orang-orang yang melakukannya tanpa bayaran. Ujar Mikuri dalam hati.



Yuri rapat bersama kedua bawahan langsungnya itu. Yuri mengatakan kalau tim mereka akan kekurangan orang karena ada karyawan yang akan cuti melahirkan. Dua bawahannya itu kesal karenanya. Tapi Yuri tampak tidak terlalu terganggu. Bahkan meski resikonya, Yuri akan semakin banyak pekerjaan setelah ini.


“Maaf, tetapi aku tak punya pandangan seperti itu lagi. Rasa terima kasih. Terima kasih telah mewakiliku melahirkan! Saat kau seusiaku ini, kau tidak lagi iri atau yang lainnya!” Yuri tiba-tiba menjadi begitu bersemangat. Ia bahkan meminta kedua karyawannya ini agar jangan menggerutu. “Saat ini, perusahaan yang memahami cuti melahirkan itu bagus. Selain itu, memiliki program kesejahteraan berarti kalian masih aman.”



Sebenarnya sih yang disidang Numata-san. Tapi entah kenapa, terkesan sebaliknya. Numata justru menanyai para atasannya soal keadaan perusahaan. Rupanya ia curiga kalau belakangan situasi perusahaan sedang tidak terlalu baik. Rupanya dulu Numata-san pernah menjadi instruktur nasional, jadi dia paham benar situasi yang terjadi dengan perusahaan hanya dengan melihat gelagat yang mencurigakan.


Perusahaan ternyata sedang ada masalah. Saham salah satu klien mereka akan dibeli. Jadi, ada kemungkinan perjanjian bisnis akan dibatalkan. Dan artinya, 40% penjualan mereka akan hilang. Bos punya ide, kalau mereka perlu memecat beberapa karyawan untuk mengurangi pengeluaran. Situasi lebih buruk dari perkiraan.



Numata melamun di mejanya. Makan siang di tangan pun dibiarkan tidak tersentuh. Saat Hino-san menegurnya, Numata-san justru menghindar.


“Bisakah kau menjauh dariku?” pinta Numata-san.


Hino-san bertanya pada Kazami yang juga ada di pantry dan tengah mengambil kopi. Tapi sepertinya Kazami juga tidak mengerti dengan yang tengah terjadi. Numata-san yang biasanya ceplas-ceplos saat berbicara, kali ini benar-benar tampak diam. Hino-san juga heran karena Hiramasa tidak tampak di manapun.



Kemana Hiramasa? Dia makan siang sendirian di taman dekat kantor. Rupanya Hiramasa menghindar dari rekan-rekannya yang masih kepo soal hubungannya dengan Mikuri.


Sebuah pesan masuk di ponsel Hiramasa, dari ibunya. Di sana ada foto ibu Hiramasa dengan seorang anak kecil. Tulisan di bawahnya mengatakan kalau itu adalah cucu tetangga, dan ibu Hiramasa ingin tahu kapan ia juga bisa menggendong cucu seperti itu.


Hiramasa memandang orang-orang yang lalu lalang di taman itu bersama anak-anak kecil. Ibu... maaf. Anakmu tidak dalam posisi bisa mempunyai anak, bahkan belum berdiri di garis start. Aku hanya berhasil memeluk dan menciumnya. Aku tak bisa mengimbangi Mikuri yang sepuluh tahun lebih muda. Aku tak seharusnya melewati batas.


Hiramasa ingat momen saat ia dan Mikuri piknik di taman itu juga, dalam rangka membuat Yuri percaya kalau mereka adalah pasangan. Saat itu Mikuri memeluk Hiramasa dan mengatakan kalau Mikuri akan berada di pihaknya seterusnya. Andai saja kami bisa selamanya seperti itu. Aku ingin menghilangkan kekhawatiranku dengan angan-angan sepertimu, tetapi aku tak bisa berimajinasi seperti itu.



Mikuri jalan-jalan sendirian di kampung dekat pantai itu. Ia menemukan seekor kucing dan mengelusnya. Kucing itu menurut saja. Suasana yang benar-benar damai.


Akan tetapi, tak ada pekerjaan di daerah ini. Hidup di sini seperti ini, Kalau itu terjadi...


Mikuri mengimajinasikan dirinya yang tinggal di Tateyama setelah beberapa lama dan jadi pengangguran. Dia menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk main game, nonton tv, tidur dan bersantai-santai. Semuanya serba kacau dan berantakan.


Tapi Mikuri segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Situasi seperti itu sepertinya tidak cocok dengannya. Mikuri pun memutuskan kalau ia tetap harus mencari pekerjaan.



Mikuri melanjutkan perjalanan. Ia pun kemudian menemukan sebuah poster. Di sana ada gambar seorang wanita seusia dengannya, yang bekerja jadi anggota dewan kota Tateyama.


“Jadi ada juga pilihan seperti ini,” komentar Mikuri.


Mikuri kemudian melihat seorang wanita keluar dari sebuah gedung. Ia lalu menyadari kalau wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang ada dalam poster. Mikuri segera mengejar wanita itu.


“Noguchi Mayu! Aku benar-benar ingin bertemu dengan Anda!”



Yassan menurunkan sayuran dari truknya. Rupanya ia mengantar belanjaan ke rumah keluarga Mikuri. Hirari tidak tampak bersama Yassan. Dan Yassan mengatakan kalau Hirari dijaga oleh neneknya.


“Aku mau makan chikuzenni!” ujar ibu Mikuri pada ayah Mikuri. (chikuzenni: semur ayam dengan talas, wortel, dan lain-lain.)


“Apa tak bisa sesuatu yang lebih mudah?” protes ayah Mikuri. Tapi ibu Mikuri tidak mau dengar ia tetap berkeras ingin makan makanan itu. Ayah Mikuri pun mengalah dan menurut.


Mikuri pun menyeret Yassan sedikit menjauh dari keluarganya. “Tentang kawin kontrak itu rahasia, oke?” pinta Mikuri.


“Oke.”



Tidak lama setelahnya, kakak laki-laki Mikuri, Chigaya juga datang. Ia merasa kalau rumah terlalu ramai oleh banyak orang. Chigaya mengenali Yassan dan mulai menyebut-nyebut soal Yassan yang dulunya yankee.


“Kakakmu sama sekali belum berubah,” komentar Yassan kesal. Ia bicara pada Mikuri.


“Kau boleh menjepitnya di tembok,” ujar Mikuri.


Kakak ipar Mikuri bingung. Yassan lalu memberikan contoh menjepit di tembok, artinya memegang kerah baju lawan mereka dan memandangnya tajam, kasar.


Ayah Mikuri pun punya ide kalau mereka juga perlu menelepon Hiramasa. Tapi Mikuri buru-buru melarangnya dengan alasan biaya telepon yang mahal. Tapi Chigaya menyiram garam. Ia menebak kalau Mikuri tengah bertengkar dengan Hiramasa dan membuat situasi makin runyam.


“Kau harus memperlakukan suamimu yang lelah dengan lebih banyak kebaikan dan rasa hormat,” saran Chigaya.


Mikuri yang kesal menoleh ke arah Yassan, memberi isyarat kalau Mikuri mengijinkan Yassan menjepit kakak laki-lakinya yang reseh itu.


Tapi, Yassan bahkan belum bertindak, kakak ipar Mikuri yang bertindak lebih dulu. Ia menarik kerah baju suaminya dan menyudutkannya ke tembok. “Tolong... berlakulah yang pantas!” teriak kakak ipar Mikuri, membuat seisi rumah terdiam dengan sikapnya yang tiba-tiba. Chigaya sendiri kaget luar biasa melihat istrinya yang tiba-tiba menjadi galak seperti itu.



Sebagai hukuman, Chigaya pun harus membantu ayahnya menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


“Aku bahagia, lho,” ujar ayah Mikuri.


“Akan lebih baik kalau orang-orang di sekitarmu bahagia. Kalau kau sendiri tak bahagia, kau tak bisa membuat orang lain bahagia,” komentar Chigaya pula.


Ayahnya kaget mendengar Chigaya bicara seperti itu, “Kau... mengatakan sesuatu yang bagus, ya.”


“Karena aku putramu.”


Ayah dan anak ini pun saling memuji. Mereka tidak sadar kalau Mikuri memerhatikan mereka dari dekat pintu sambil geleng-geleng kepala.


BERSAMBUNG


Pictures and written by Kelana

Bening Pertiwi 14.19.00
Read more ...

Halo semua! Bagaimana liburan akhir tahunnya? Semoga seru ya. Udah masuk musim dingin aja nih. Dan drama baru keren siap menyapa. Eits, masih ada yang belum bisa move on dari drama season kemarin? Hmmm ... mending cek dulu drama berikut deh. Selamat membaca! ^_^




Seirei no Moribito Season 2 ~ Kanashiki Hakaishin


Tayang : pada 21.00 mulai Sabtu, 21 January 2017 (berlanjut pada 2018)


Stasiun TV: NHK


Penulis naskah: Omori Sumio (64, Nezumi Edo o Hashiru, Akumu-chan)


Karya asli: Moribito Series oleh Uehashi Nahoko


Genre: sejarah-fantasi


Pemeran: Ayase Haruka, Itagaki Mizuki, Maki Yoko, Emoto Akira, Suzuki Rio, Dean Fujioka, Dan Mitsu, Fukuyama Kohei, Hashimoto Satoshi, Shinagawa Toru, Ibu Masato, Watanabe Eri, Iwasaki Udai, Suzuki Ryohei, Oda Risa, Koichi Mantaro, Kora Kengo


Sinopsis:


Empat tahun setelah perjalanannya dengan Chagum berakhir, Balsa (Ayase haruka) tak tersentuh hukum. Menyembunyikan dirinya di kerajaan Rota, di barat Kekaisaran New Yogo, dia kembali jadi bodyguard. Suatu hari, Balsa menyelamatkan gadis kecil Asura (Suzuki Rio) yang menjadi korban perdagangan manusia. Gadis itu adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian masal beberapa hari sebelumnya.


Website: www.nhk.or.jp/moribito


Related: Seirei no Moribito Season 1


 



Totsuzen desu ga, Ashita Kekkon Shimasu


Tayang: pada 21.00 mulai Minggu, 23 January 2017


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskah: Yamamura Yukiko (Kekkonshiki no Zenjitsu ni, Aru Hi Ahiru Bus), Kuramitsu Yasuko (Love Song)


Karya asli: Totsuzen desu ga, Ashita Kekkon Shimasu oleh Miyazono Izumi


Genre: Romance


Pemeran: Nishiuchi Mariya, Yamamura Ryuta


Sinopsis:


Takanashi Asuka (Nishiuchi Mariya) adalah seorang office lady di sebuah bank besar. Dia adalah pekerja yang sangat rajin. Meski tren sekarang adalah menikah nanti, mimpi Asuka adalah menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Tapi, pacarnya yang sudah lima tahu, memutuskannya. Jadi, Asuka mulai mencari calon suami meski tidak punya waktu. Dia bertemu penyiar TV yang populer Nanami Ryu (Yamamura Ryuta) yang membuat banyak pria benci menikah. Dia adalah pria ideal Asuka, kalau saja tidak ditolak. Meski mereka akhirnya kencan, kisah mereka tidak mudah.


Website: www.fujitv.co.jp/ashita_kekkonshimasu




Kimi wa Petto (2017)


Tayang : Mulai 7 February 2017 (updated pada Selasa)


Stasiun TV : Fuji TV


Penulis naskah : Koga Fumie (Ghostwriter), Arai Yuka (Watashi no Uchi ni wa Nanimo Nai, Tokyo Sentimental, Konkatsu Deka)


Karya asli : Kimi wa Petto oleh Ogawa Yayoi


Genre : Romantic comedy


Pemeran : Iriyama Noriko, Shison Jun, Takezai Terunosuke, Yanagi Yurina, Noro Kayo, Shida Yumi, Okabe Takashi, Yoshida Oolongta, Masaki Reiya, Kinoshita Misaki, Okamura Izumi, Ikushima Sho, Tochihara Rakuto


Sinopsis :


Seorang wanita karir yang cantik dan berpendidikan tinggi dan Iwaya Sumire (Iriyama Noriko) menemukan Goda Takeshi (Shison Jun), pria tampan yang terbaring dalam kardus di depan apartemennya. Dia bercanda mengajaknya masuk dan memintanya jadi binatang peliharaan dan memberikannya nama bekas anjingnya, Momo. Inilah awal mula mereka tinggal bersama.


Website: www.cinemart.co.jp/kimipe


Preview: Kimi wa Petto (2017) Teaser




Uso no Sensou


Tayang: pada 21.00 mulai Selasa, 10 January 2017


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskah: Goto Noriko (Kazoku no Katachi, Team Batista Series, Zeni no Sensou)


Genre: Revenge


Pemeran: Kusanagi Tsuyoshi, Fujiki Naohito, Mizuhara Kiko, Kikuchi Fuma, Kyo Nobuo, Magy, Nomura Masumi, Osugi Ren, Yamamoto Mizuki, Yasuda Ken, Ichimura Masachika


Sinopsis:


30 tahun silam, keluarga Ichinose Koichi (Kusanagi Tsuyoshi) terbunuh saat dia masih kecil. Sejak ia melihat wajah si pelaku, dia merencanakan penipuan dan jadi penipu ulung. Meski jenius, dia tidak tertarik pada uang dan tidak punya ambisi. Ichinose mencoba bals dendam pada si pelaku dan dia mencari kebenaran yang terjadi pada malam pembunuhan. Dia mengungkap skandal dan kejahatan mereka dengan penipuan dan mulai menghukum mereka dalam sosial.


Website: www.ktv.jp/uso


Related: Zeni no Sensou


 



Quartet (2017)


Tayang: pada 22.00 mulai Selasa, 17 January 2017


Stasiun TV: TBS


Penulis naskah: Sakamoto Yuji (Woman, Saikou no Rikon, Mother)


Genre: Love and suspense


Pemeran: Matsu Takako, Mitsushima Hikari, Takahashi Issei, Matsuda Ryuhei, Yoshioka Riho


Sinopsis:


Suatu hari, empat orang berusia 30 tahunan bertemu, Maki Maki (Matsu Takako), violinis pertama; Sebuki Suzume (Mitsushima Hikari), cellist; Iemori Yutaka (Takahashi Issei), a violist; and Beppu Tsukasa (Matsuda Ryuhei), violinist kedua. Mereka tidak mengejar mimpi ataupun mencapi puncak dalam hidup. Tapi menghentikan sebelum hancur. Mereka berempat membentuk quartet dan menghabiskan musim dingin yang indah di Karuizawa. Tapi, kebetulan ini menyembunyikan rahasia besar.


Website: www.tbs.co.jp/quartet2017


Preview: Quartet (2017) Teaser




Nekonin


Tayang: January 2017 (diikuti dengan film)


Stasiun TV: BS Fuji


Penulis naskah: Kuroki Hisakatsu (Nekozamurai Series, Shukan Maki Yoko)


Genre: sejarah


Pemeran: Ohno Takuro, Sato Eriko, Fujimoto Izumi, Shibukawa Kiyoshiko, Suzuki Fuku, Emoto Akira, Maro Akaji, Kusano Ini, Osawa Hikaru, Aoki Tsunenori, Funakoshi Eiichiro


Sinopsis:


Seorang ninja muda, Kagerota (Ohno Takuro/Suzuki Fuku) dari keluarga Kiryu terpisah dari ayahnya saat berusia 10 tahun dan hidup tanpa tahu cinta. Ayahnya adalah ninja legendaris, Kenzan (Funakoshi Eiichiro). Suatu hari, Kagerota pergi ke Edo dalam rangka misi dengan para ninja lain. Ini adalah misi sederhana untuk mencuri ikan emas dari kediaman tuan tanah. Mereka berhasil masuk dan sudah akan berhasil mencuri si ikan emas saat sesuatu terjadi. Itu adalah kucing gemuk (Kintoki) dengan hidung merah. Ada hal yang dikenalnya dari kucing itu yang mengingatkannya pada ayahnya ...


Website: neko-nin.info



Osaka Loop Season 2 ~ Hito Eki Goto no Ai no Monogatari


Tayang : tengah malam, Rabu, January 2017


Stasiun TV : Kansai TV


Penulis naskah : Fukutani Keisuke, Hatakeyama Junichi, Yasuda Chihiro, Nakai Minami, Inukai Kyoko, Inagawa Ami, Yasuda Mana, Kobayashi Hirotoshi, Kimura Yasuhiko


Genre: Love


Pemeran : Jiyoung, Momose Saku, Kimura Midoriko, Namioka Kazuki, Takatsuki Sara, Abe Junko, Yamamoto Hiroyuki, Nakae Yuri, Suzuki Sarina, Nakamura Yuri, Koshiba Fuka, Tabata Tomoko, Inoue Sonoko, Takahashi Ai, Babazono Azusa, Niimi Shohei, Kiyoi Saki, Hyodo Daiki, Maeda Koki, Katono Taiko, Chinzei Suzuka, Tanimura Mitsuki (guest star), Kinoshita Houka


Synopsis:


Di mana ada orang, di sana ada daerah. Kereta menghubungakan daerah dengan daerah lain. Kereta berhenti di stasiun menyebabkan orang-ornag bertemu dan di sinilah cinta dimulai. Ini adalah 10 cerita drama pendek tentang kisah cinta yang luar biasa, romantisme, cinta keluarga, persahabatan, cinta daerah asal—yang terhubung dengan masing-masing kereta di jaringan kereta Osaka.


Website: www.ktv.jp/osakaloop2


Related: Osaka Loop Season 1 ~ Hito Eki Goto no Ai no Monogatari


 



Hokusai to Meshi Sae Areba


Tayang : pada 01.28 mulai Rabu, 25 January 2017


Stasiun TV : TBS


Penulis naskah : Doki Harumi (OL Kana no Ojiisan Kansatsu Nikki, Kazoku no Ura Jijou), Kitagawa Ayako (Onna Kudoki Meshi Series, Prison School, Ofukousan)


Karya asli : Hokusai to Meshi Sae Areba oleh Suzuki Sanami


Genre : makanan


Pemeran : Kamishiraishi Mone, Ikeda Eliza


Synopsis:


Yamada Fumiko (Kamishiraishi Mone), dengan nickname Bun, adalah mahasiswa miskin yang hidup sendirian di Kita Senju, Tokyo dengan mainannya Hokusai. Seoarang yang pemalu dan suka bermimpi, Bun membuat orang-orang di sekitarnya bahagia dengan imajinasi, makanan enak.




Tokyo Tarareba Musume


Tayang: pada 22.00 mulai Rabu, 18 January 2017


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Matsuda Yuko (Hanasaki Mai ga Damattenai Series, Hotel Concierge, Gokusen Series)


Karya asli: Tokyo Tarareba Musume oleh Higashimura Akiko


Pemeran: Yoshitaka Yuriko, Eikura Nana, Oshima Yuko, Sakaguchi Kentaro, Hiraoka Yuta, Ishikawa Ren, Kaneda Akio, Tanaka Kei, Suzuki Ryohei


Sinopsis:


Kamata Rinko (Yoshitaka Yuriko) adalah wanita single berusia 30 tahun dan seorang Penulis naskah. Dia tidak punya kekasih dan hanya keluar malam untuk minum bersama teman-teman wanitanya, Yamakawa Kaori (Eikura Nana) dan Torii Koyuki (Oshima Yuko).


“Jika aku cantik, pria yang lebih baik akan muncul!””Jika kita tumbuh saling menyukai, kita akan menikah!” Mereka tidak berhenti bicara soal angan-angan. Seorang pria berambut emas yang lebih muda dan tampan mengatakan ‘mereka inilah wanita ‘jika’. Dan ketiga wanita tadi harus menghadapai kenyataan mereka bukan lagi gadis remaja. Rinko memasuki usia 30an tapi masih belum dewasa, mencari kebahagiaan dan terjebak dalam romantisme dan pekerjaan.


Website: www.ntv.co.jp/tarareba




Rental no Koi


Tayang : pada 00.10 mulai Kamis, 19 January 2017


Stasiun TV: TBS


Penulis naskah: Tanabe Shigenori (Omotesando Koukou Gasshoubu!)


Genre: Romance


Pemeran: Goriki Ayame, Taiga, Kishii Yukino, Kentaro, Hara Mikie, Nobue Yu, Kaneda Ayana, Kiyohara Sho, Nukumizu Yoichi


Sinopsis:


Takasugi Remi (Goriki Ayame) adalah seorang gadis rental paling terkenal di Rental Lovers, perusahaan yang menyediakan gadis-gadis rental. Pria yang mengencani Remi akan langsung jatuh cinta. Meski dia tahu benar kesukaan pelanggan dan bisa menjadi gadis ideal, bicara baik sifatnya, saat pekerjaan selesai, dia tidak pernah tersenyum. Dan lagi ada ikatan aneh di sekitar lehernya. Lalu Remi dirental oleh seorang mahasiswa Yamada Kosuke (Taiga) yang sangat jatuh cinta padanya.


Website: www.tbs.co.jp/renkoi-tbs


Preview: Rental no Koi Teaser


 



Shukatsu Kazoku ~ Kitto, Umaku Iku


Tayang : pada 21.00 mulai Kamis, 12 January 2017


Stasiun TV: TV Asahi


Penulis naskah: Hashimoto Hiroshi (Risk no Kamisama, Shinigami-kun, Unmei no Hito)


Genre: Family


Pemeran: Miura Tomokazu, Kuroki Hitomi, Maeda Atsuko, Kudo Asuka, Arai Hirofumi, Yamamoto Mirai, Nakagawa Chika, Kimura Midoriko, Watanabe Dai, Kimura Tae, Danta Yasunori


Sinopsis:


Tomikawa Yosuke (Miura Tomokazu) adalah kepala HRD di sebuah perusahaan besar. Istrinya, Mizuki (Kuroki Hitomi) adalah guru bahasa Jepang di SMP swasta, sementara putri mereka Shiori (Maeda Atsuko) bekerja sebagai pembuat perhiasan dan putra mereka Hikaru (Kudo Asuka) sedang mencari kerja. Hal tidak terduga yang terjadi membuat keluarga bahagia ini mulai kacau.


Website: www.tv-asahi.co.jp/shukatsukazoku


 


Cr. All English text from www.jdramas.wordpress.com


Kelana hanya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia


Posting at www.elangkelana.net


Kelana’s note :


Halo semua. Untuk part 1 ini baru 11 drama dulu ya yang Na post. Lanjutannya ada di postingan berikutnya.


Ada beberapa drama yang menurut Na menarik sih. Meski kalau genre period Na agak kurang tertarik sih. Dari 11 daftar di atas, ada 3 drama yang menurut Na layak dipertimbangkan. Totsuzen desu ga, Ashita Kekkon Shimasu-nya Nisiuchi Mariya, Kimi wa pettonya – Shinson Jun dan Rantal no koinya – goriki ayame. Kayaknya semuanya genre romantis atau romcom ya. #ehe. Khusus Kimi wa Petto, ini adaptasi kedua (yang Na tahu) di Jepang. Pertama kali dulu diadaptasi dengan pemeran Matsujun. Nah, sempat diadaptasi jadi movie di Korea juga, yang main Jang Geun Suk.


 
Bening Pertiwi 14.16.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Married as Job episode 07 part 2. Ciuman setelah pulang dari liburan dari penginapan ternyata berbuntut panjang. Hiramasa berusaha menghindari Mikuri dalam berbagai kesempatan. Mikuri yang terus mendesak ingin tahu, tidak bisa berbuat banyak.


Tapi Hiramasa tidak berkutik saat harus berhadapan dengan ‘ulang tahun Mikuri’. Mau tidak mau mereka harus kembali berinteraksi. Dan akhirnya kesempatan Mikuri pun datang.



Pesan dari Mikuri : Apa boleh aku bertanya? Kenapa Anda menciumku?


Hiramasa kaget diberi pertanyaan seperti ini dari Mikuri. Butuh beberapa lama hingga akhirnya di bisa membalas pesan Mikuri itu.


Pesan dari Hiramasa : Maaf, itu tindakan tak pantas dari seorang bos.


Mikuri kesal mendapat balasan seperti itu. Pesan dari Mikuri : Bukan permintaan maaf. Alasan!


Hiramasa panik. Aku tak bisa mengatakan bahwa aku terbawa suasana dan menciumnya. Aku akan menambahkan permintaan. Pesan dari Hiramasa : Bisakah kau berpura-pura hal itu tak pernah terjadi?


Pesan balasan dari Mikuri : Anda tak perlu minta maaf.


Pesan dari Hiramasa : Tak apa-apa... jika aku tidak minta maaf? Tetap saja, tindakan sepihakku tak bisa dimaafkan. Aku benar-benar menyesal."


Mikuri kesal sendiri. Ia berpikir, kenapa Hiramasa harus menyesalinya?


Pesan dari Hiramasa : Jika melihatnya sebagai liburan kantor, itu termasuk pelecehan seksual dan tak pantas.


Pesan dari Mikuri : Akan tetapi, liburan kemarin juga bulan madu, dan secara teknis kita berdua adalah kekasih, jadi bukankah bisa diterima sebagai sentuhan lanjutan? Tapi kemudian Mikuri heran sendiri dengan kalimat ‘bisa diterima’ yang barusan ditulisnya.


(ni orang, Cuma dibatasi tembok selapis aja pake sms-an segala. Kenapa nggak ngomong langsung aja sih? hih! Bikin gemes aja!)



Pesan dari Hiramasa : Terima kasih. Mulai sekarang tolong tetap membantuku. Hiramasa bingung sendiri dengan kalimatnya. Bantuan apa? Akhirnya ia mengubah kalimat pesannya jadi Mulai sekarang tolong tetap membantuku.


Mikuri tersenyum mendapat pesan balasan dari Hiramasa. Ia pun membalasnya cepat : Sama-sama, mohon bimbingannya. Selamanya .


(ada yang ngerti maksud kalimat-kalimat pesan mereka berdua ini? Itu endingnya, mereka sepakat jadian ato gimana sih? kekekeke. Habisnya Hiramasa ini clueless banget sih. gemesss )


Mikuri dan Hiramasa pun senyum-senyum sendiri sambil memandang bulan yang sama dari jendela masing-masing.



Pagi berikutnya, Mikuri mempersiapkan sarapan seperti biasa. Setelahnya ia pun memberikan bekal makan siang pada Hiramasa.


“Kupikir aku akan pulang malam dari kantor. Aku akan makan malam di kantor, jadi jangan khawatir,” ujar Hiramasa sebelum berangkat. Kali ini ia seolah ingin berlama-lama berpamitan. “Hari ini...Selasa, 'kan?” Hiramasa mendekat dan kemudian memeluk Mikuri di hari pelukan. “Hari ini pastikan... kau tidur lebih dulu. Aku berangkat.”


“Selamat jalan,” Mikuri tersenyum seperti biasa saat melepas kepergian Hiramasa.


Tapi ... setelah pintu tertutup, Mikuri hanya bisa bersimpuh karena kakinya lemas. Level kebahagiaan Mikuri naik derastis, bahkan mencapai point tertinggi angka 9 untuk keempad digit angka. Gelombang... cinta ini. Angin Puyuh Hiramasa di dalamku sudah. Hari ini pastikan kau tidur lebih dulu dari Tsuzaki Hiramasa: 9.999 poin!


Apa tak apa-apa... punya rasa suka sedalam ini? Ini akan menimbulkan masalah dalam pekerjaan. Tidak, mari sekarang kita bahagia dengan setulusnya. Selamat, peringkat pertama! Terima kasih, peringkat pertama!



Tak terasa, Selasa berikutnya terasa ternyata datang dengan cepat. Selasa kini jadi hari yang ditunggu.


“Aku akan pulang di waktu biasa hari ini.”


“Oke. Aku akan menunggu,” ujar Mikuri.


“Tolong tunggu aku. Aku berangkat,” pamit Hiramasa. Ia kemudian menutup pintu. Dan ternyata tidak hanya Mikuri yang merasakan bahagia luar biasa. Hiramasa sampai merasakan kakinya lemas dan terduduk di lantai karena melihat Mikuri pagi ini. Imut sekali...!



Aku selalu berpikir dia cukup imut, tetapi belakangan ini aku mulai berpikir dia benar-benar imut.


Aku tak mungkin menyangkalnya. Ini...


Hiramasa masih saja terus memikirkan Mikuri. Saat di jalan, ia pun melihat ke arah apartemennya di lantai dua dan menemukan Mikuri ada di sana melambaikan tangan. Hiramasa pun membalas lambaian tangan itu dengan senyum lebar terkembang. Tapi, karena tidak hati-hati, Hiramasa nyaris saja tertabrak mobil yang lewat. Si sopir marah-marah melihat Hiramasa yang berjalan tidak hati-hati.


Hiramasa pun melihat ke arah Mikuri lagi yang tampak khawatir. Tapi ia kemudian memberikan tanda kalau dirinya baik-baik saja. Aku tak mau mati saat ini. Malam ini aku tak boleh mati sebelum sampai di rumah.



Lajang profesional tidak mengambil langkah lanjutan. Itu adalah peraturan yang tak bisa diganggu gugat. Akan tetapi, untuk pertama kalinya aku tahu bahwa tempat itu sangat hangat. Aku mulai pulang ke rumah untuk menghangatkan tubuhku yang beku.Hiramasa menatap apartemennya dari bawah, dengan perasaan berbeda dari biasanya.


Malam itu, hari Selasa, seperti biasa Hiramasa dan Mikuri berpelukan. Dan hanya itu. lalu keduanya saling mengucapkan selamat malam dan beranjak tidur.


Apa mungkin... takkan ada ciuman kedua?



Hiramasa kembali kamarnya. Alih-alih langsung tidur, ia justru mencari sesuatu di internet. Tapi setelahnya Hiramasa dibuat pusing dengan hasil pencarian yang muncul di sana.


Waktu ciuman


Waktu Ciuman: 20 Hal untuk Diperhatikan



“Kau kurang tidur?” sapa Kazami-san melihat Hiramasa hari itu.


“Kemarin malam aku mencari tahu tentang sesuatu. Makin lama kupelajari, makin banyak yang perlu diperhatikan,” ujar Hiramasa. “Yang mana yang benar? Yang mana yang fakta?”


“Masalah sosial atau yang lain?”


“Yah, sesuatu seperti itu.”


Hino-san lalu bergabung. Ia memperingatkan Hiramasa dan Kazami, karena mungkin saja Numata-san akan datang lagi dan berpikira yang tidak-tidak karena melihat mereka mengobrol berdua seperti itu.


“Siapa yang berpikir kalau Numata mengira Kazami dan aku saling jatuh cinta?”


“Itu lucu, ya. Kukira Numata orang yang tajam,” komentar Kazami pula.


Mereka akhirnya sepakat kalau Numata-san tidak selalu tepat dalam menebak segala hal. Dan Numata adalah Numata, seorang pria bernama lengkap Numata Yoshitsuna. Biasanya di saat-saat seperti itu, Numata akan muncul. Tapi kali ini, Numata ternyata tidak muncul. Itu membuat ketiganya heran juga.



Kemana Numata-san? Ternyata ia mengikuti salah seorang karyawan perusahaan yang belakangan cukup mencurigakan. Tepat seperti dugaan Numata, si karyawan muda itu bicara dengan atasannya di tempat tidak biasa, di tangga darurat.


“Aku sendiri juga tidak begitu mengerti! Bagaimanapun...Membeli semua saham?!”


“Ssst!”


Yuri rapat bersama dua stafnya di ruangan lain. Kali ini si staf pria memuji kuku milik Yuri yang cantik. Yuri mengelak karena bisa jadi itu akan jadi masalah lagi. Lagipula meski ia sudah dinyatakan tidak bersalah, rumor yang terlanjur beredar tentangnya tidak bisa hilang begitu saja.


Si karyawan wanita juga ikut kesal karena melihat karyawan lain masih saya merumpikan soal Yuri. Ia bahkan menantang mereka untuk mengerjakan pekerjaan Yuri.


“Kau baru saja membuat banyak orang memusuhimu,” tegur Yuri.


“Aku hanya mengatakan kebenaran,” elak si karyawan wanita.


“Kadang-kadang kebenaran menimbulkan masalah,” sambung si karyawan pria.


“Itu alasannya aku benci Jepang. Meski aku juga benci Amerika,” keluh si karyawan wanita.


Si karyawan wanita ini ternyata adalah migran yang kembali dari Amerika. Dan dia tidak mau kalau orang-orang di sekitarnya tahu soal ini. Karena kalau mereka tahu, maka ia akan dianggap aneh. Bahkan orang-orang akan menyuruhnya kembali saja ke Amerika. Lalu saat di Amerika, orang-orang di sana menyuruhnya kembali saja ke Jepang. Serba salah.


“Meski aku bisa dua bahasa, bahasa Inggrisku beraksen selatan, dan aku tak cakap menulis artikel dalam bahasa Jepang,” lanjut si karyawan wanita.


“Kau seharusnya memberitahuku!” komentar Yuri.


“Kupikir kau hanya anak muda tanpa motivasi,” ujar si karyawan pria.


“Karena ada banyak migran yang kembali dan bisa menulis dengan sempurna. Aku tak mau menggunakannya sebagai alasan,” ujar si karyawan wanita pula.



“Meski sulit dikendalikan, tetapi aku menyadari bahwa mereka berdua anak yang baik. Pekerjaan itu adalah... menghubungkan satu orang dengan orang lain,” ujar Yuri. Ia baru saja menceritakan soal dua orang bawahannya yang tadinya menurutnya menyebalkan itu.


“Menghubungkan... Pada akhirnya itu persoalannya, ya. Apakah kau mau atau tidak. Mungkin itu jenis pekerjaan yang kumau. Alih-alih bekerja di perusahaan besar, tempatku bekerja mungkin tidak luas, tetapi dibangun dari hubungan orang-orang. Pekerjaan sukarela,” komentar Mikuri selanjutnya. Tapi ia buru-buru meralatnya, karena ia juga butuh uang.


Obrolan Yuri dan Mikuri hari itu masih soal pekerjaan. Sampai sekarang Yuri masih tidak tahu kalau sebenarnya pernikahan Mikuri dengan Hiramasa adalah urusan pekerjaan.


“Tak peduli apa pekerjaanmu, kau perlu memiliki rasa terima kasih dan hormat pada orang lain,” ujar Yuri pula.


Mikuri pun memikirkannya. Terima kasih dan hormat. Hiramasa selalu menunjukkan rasa terima kasih dan hormat padaku. Apa karena ini... hanya hubungan kerja? Kalau kami melewatinya apa yang akan terjadi?



Mikuri pulang ke rumah. Ia membawa oleh-oleh dari Yuri dan menawarkannya pada Hiramasa. Anggur es.


“Yuri memberikannya padaku,” ujar Mikuri.


Hiramasa pun menikmati minuman itu, “Tampaknya anggur ini hanya menggunakan anggur yang beku alami di daerah dingin. Kandungan gulanya naik karena proses kondensasi. Ini jauh lebih manis dari yang kukira.”


Mikuri yang duduk di sebelah Hiramasa mulai bicara serius, “Aku belum pernah mengatakannya dengan layak, jadi akan kulakukan sekarang. Karena Anda cukup baik untuk mempekerjakanku, aku bisa menikmati pekerjaanku tiap hari. Terima kasih banyak.”


“Sama-sama.”


“Lalu, bukan itu saja. Aku tetap paling menyukaimu, Hiramasa,” sayangnya itu hanya adala dalam hati Mikuri saja. Ia lalu meletakkan kepalanya di pundak Hiramasa. Kata-kata yang dulu bisa kukatakan dengan mudah sebagai pekerja, kenapa... aku tak bisa mengatakannya lagi?


Hiramasa merasa canggung dengan sikap Mikuri ini. Tapi ia juga tidak berbuat apapun. Alih-alih, Hiramasa justru mengambil gelasnya dan minum anggur dari sana lagi.



Hiramasa meletakkan gelasnya kembali ke meja. Mikuri pun bangun dari pundak Hiramasa. Hiramasa lalu menggeser duduknya, tangannya memegang tangan Mikuri. Pelan, Hiramasa mendekatkan wajahnya ke wajah Mikuri.


Seperti sebelumnya, Hiramasa pun mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. Kali ini Mikuri sudah tidak kaget seperti yang pertama dulu. Semuanya berjalan secara alami.



Setelah berciuman, keduanya pun jadi canggung. Tapi tidak seperti yang dulu, mereka akhirnya bepelukan erat, menikmati rasa nyaman satu sama lain.


“Aku tak apa-apa. Kalau itu Anda, Hiramasa. Untuk melakukan hal seperti “itu”,” bisik Mikuri dalam pelukan Hiramasa. (tahu maksudnya kan ya, “itu” yang dikatakan Mikuri? Ok, ok, Na sebutkan deh, bersenang-senang. Mudeng? Paham? Kalau belum paham, berarti kalian belum saatnya baca sinopsis ini. kekekekeke)


Kaget karena Mikuri mengatakan hal itu, Hiramasa justru melepaskan pelukannya. “Maaf. Itu tak mungkin... bagiku. Bukannya aku mau melakukan hal seperti itu. Maaf. Itu tidak mungkin.”



Suasana berubah benar-benar jadi canggung. Mikuri lalu segera berdiri, “Aku juga minta maaf. Tolong lupakan hal itu,” ia bersikap sebiasa mungkin.


Mikuri lalu mengambil gelas minumannya dan meletakkannya ke bak cuci di dapur. Mikuri berusaha menyembunyikan fakta kalau tangannya bergetar, sebagai pelengkap gemuruh yang ada di dalam dadanya akibat penolakan tadi.


Hal ini membuatku ingin masuk ke dalam lubang, jika ada. Aku benar-benar berharap aku bisa pergi ke sisi lain dunia.



Di malam dengan bulan yang samar, aku...melarikan diri dari apartemen 303.


Malam merambat pelan. Mikuri berada di dalam sebuah bis malam yang melaju cepat di jalanan. Ia dalam sebuah perjalanan.


BERSAMBUNG


Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :


Tu kan ya ... baru episode tujuh, jadi nggak mungkin perjalanan kisah Mikuri sama Hiramasa langsung berjalan baik. Meski sempat ada manis-manisnya gitu, tapi tetap aja ternyata masih ada masalah juga. Mikuri kabur dari apartemen Hiramasa. Kemana dia pergi? Dan apa yang akan dilakukan Hiramasa kemudian?


Oh ya, Happy New Year!


ahahahaha, hampir ketinggalan. Sampai lupa tanggal nih

Bening Pertiwi 14.15.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Married as Job episode 07 part 1. Mikuri dan Hiramasa liburan bersama dari tiket liburan yang diberikan Yuri. Meski hanya semalam, berbagai insiden sudah terjadi. Dari insiden ranjang besar, kotak berisi minuman energi hingga terpeleset karena serangga. Sayangnya, sampai akhir tidak terjadi apapun. Mikuri pun hanya bisa menahan tangisnya saja.


Dan akhir episode enam adalah ending yang paling banyak ditunggu. Liburan mereka berakhir. Tapi, sebelum turun dari kereta, tiba-tiba saja Hiramasa mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. LOL?



Pagi ini ada dua emprit jepang datang ke beranda. Apa yang putih juga sehat? Ya, sehat. Baguslah kalau baik-baik saja.


Sarapan pagi pertama, kedua dan berikutnya sepulang liburan kemarin yang (tidak) baik-baik saja.



Mikuri’s imagination mode on.


Ini adalah bosku, Tsuzaki Hiramasa. Apa Anda percaya, orang ini di perjalanan pulang liburan yang lalu tiba-tiba menciumku! Akan tetapi...


Saat kereta akhirnya sampai di pemberhentian terakhir, Mikuri sudah menyerah. Ia tidak mau berharap apapun ataupun meminta apapun lagi pada Hiramasa. Tapi ternyata Hiramasa menghentikannya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. Sadar atas sikapnya ini, Hiramasa buru-buru turun dari kereta. Ia bahkan tidak mendengarkan panggilan Mikuri di belakangnya.


Setelah itu, di dalam kereta dan bus, dia tidak berbicara apa pun dan tidur seperti balok kayu. Namun, pasti dia berpura-pura tidur! Sesampainya di rumah pun...


Di rumah, Mikuri berusaha minta penjelasan pada Hiramasa soal insiden ciuman tadi. Tapi Hiramasa buru-buru mengelak dan mengatakan masih ada pekerjaan (alasan paling absurd, soalnya besoknya masih libur) dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Jelas Hiramasa menghindari bicara dengan Mikuri.


Sejak saat itu, dia sama sekali mengabaikannya, benar-benar mengabaikannya. Tak ada sentuhan, tak ada reaksi, baik-baik saja di belakang! Orang ini kenapa, ya?



“Bagaimana sup miso pagi ini?” tanya Mikuri. Ia memulai pembicaraan.


“Ya... seenak biasanya.”


Sup miso ini...Karena makanan di penginapan yang sangat enak, aku terinspirasi membuat dashi* otentik. (dashi: kaldu masak khas Jepang) Pagi ini aku bangun pagi dan membuat kaldu dari ikan bonito kering. Ini adalah sup miso spesial. Itu yah, tak masalah. Masalahnya adalah, apa maksud Hiramasa? Menyalakan api lalu meninggalkannya begitu saja. Bagaimana kalau apinya menyebar? Apa Anda seorang pembakar? Mikuri masih saja bertanya-tanya soal insiden kemarin dalam pikirannya.


“Bagaimana ikannya?” tanya Mikuri lagi.


“Ini enak. Kau belum pernah masak ikan ini sebelumnya, 'kan ya?” komentar Hiramasa, tetap datar.


“Ya. Ini ikan kisu* bakar.” (*kisu: nama ikan, pelafalannya mirip kata kiss—ciuman)


Ucapan Mikuri membuat Hiramasa tersedak. Tapi juga tetap tidak mengatakan apapun soal insiden ciuman kemarin. Mikuri tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan sikap Hiramasa yang luar biasa tanpa ekspresi ini.



Setelah melepas Hiramasa yang berangkat kerja, Mikuri beres-beres rumah. Ia melepas sprei ranjang Hiramasa dan berniat menggantinya. Tapi Mikuri kembali berimajinasi.


Mikuri berkerudung merah duduk di pinggir jalan dengan korek api di tangan. Satu per satu korek itu dinyalakan. Dan momen-momen menyenangkan selama ini bersama Hiramasa pun berseliweran. Tiap kali korek di tangannya mati, Mikuri kembali menyalakannya. Dan kilasan kisah manis itu pun kembali muncul. Sayangnya semua korek akhirnya habis. Dan Mikuri akhirnya terlelap di bawah guyuran salju. (ini mirip dongeng gadis kerudung merah, ato bukan ya?)


Jika dia akan mengabaikannya sejauh ini, kupikir semuanya hingga saat ini apakah hanya ilusi? Lelah mencari pekerjaan, seorang wanita sedih, tak dibutuhkan oleh siapa pun, dan tak punya tempat tujuan melihat sebuah ilusi di ambang kematian. Bulan madu palsu yang juga liburan kantor, juga ciuman di kereta, semuanya. Semuanya, semuanya hanya ilusiku. Meski semua itu membuatku bahagia...


Kenyataan? Mikuri berselimut sepresi meletakkan kepalanya di ranjang milik Hiramasa dan mengelus bibirnya.



Di kantor, Hiramasa mengembalikan minuman energi pada Hino-san, “Ini aku kembalikan. Barang yang kauberikan sebelumnya...”


“Oh, minuman energi?”


“Kau tak perlu mengatakannya!” protes Hiramasa.


“Kau tak meminumnya?” Hino-san heran karena minuman itu masih lengkap.


“Aku takkan meminumnya,” elak Hiramasa.


“Namun, aku sudah memberikannya padamu, kau seharusnya meminumnya!”


“Itu adalah sesuatu yang takkan pernah kubutuhkan selama hidupku. Aku hanya akan menerima niat baikmu. Terima kasih,” Hiramasa beranjak pergi kembali ke mejanya.


Tapi Hino-san justru berpikir lain, “Dia ternyata hebat, ya (tanpa meminum minuman energi).”



Ada yang aneh denganku. Seorang lajang profesional tidak mudah jatuh cinta, tidak mengambil langkah lanjutan. Atau bisa dibilang, penting untuk tidak melanjutkannya. Dengan begitu tercipta ketenteraman. Ada yang aneh denganku saat itu. Saat itu... Tak mudah meninggalkannya, dan kurasa kami memikirkan hal yang sama. Sangat manis...


Hiramasa masih terus memikirkan insiden kemarin saat liburan itu. Soal ciuman dengan Mikuri. Hingga ia pun berteriak dari dalam toilet.


Karyawan lain yang mendengar teriakan itu heran. Saat ia melihat Hiramasa keluar, si karyawan bertanya soal teriakan. Tapi Hiramasa mengelak kalau dia yang berteriak dengan wajah datarnya seperti biasa.



Pulang kantor, Hiramasa tidak langsung pulang ke rumah. Ia malah mampir ke toko buku dan membeli buku sudoku. (tahu kan game sudoku itu?). Dan sekarang dia malah nongkrong di kafe sambil mengisi kotak-kotak sudoku yang masih kosong itu.


Benar-benar ada sesuatu yang aneh denganku. Kenapa aku melakukan hal seperti itu? Kenapa aku terbuai bulan madu palsu itu? Buaian bulan madu. Aku terbuai. Aku hanya meyakinkan diriku sendiri bahwa kami memikirkan hal yang sama. Itu adalah tindakan terburuk seorang majikan. Itu adalah pelecehan seksual. Mikuri tidak akan mengatakannya terus terang, tetapi dia pasti kesal. Jika dia mulai membenciku lalu mengundurkan diri dan apa yang tertinggal untukku.


Begitu, ya...Untuk orang seusiaku ini, tentu saja, paling tidak sudah pernah mencium seseorang.


Aku bisa mengatakannya. Aku sekarang bisa mengatakan dengan bangga apa yang dulu kututup-tutupi. Bahkan hanya karena itu, aku bisa berpikir aku bersyukur hal itu terjadi.



Nyaris tengah malam saat Hiramasa akhirnya tiba di rumah. Ia mengendap-endap masuk. Rupanya Hiramasa sengaja pulang telat untuk menghindari Mikuri. Sayang, sebelum masuk ke kamarnya, lampu ruangan menyala. Hiramasa kaget karena Mikuri masih belum tidur.


“Aku sudah memberitahumu bahwa aku akan pulang telat karena lembur dan menyuruhmu tidur duluan,” ujar Hiramasa.


“Aku sudah baca pesanmu. Akan tetapi, ini hari Selasa,” ujar Mikuri.


Hiramasa menunjuk jarum panjang jam yang baru saja melewati angka dua belas, “Baru saja jadi Rabu.”


Tapi Mikuri tidak tergoyahkan. Dia malah membuka tangannya lebar-lebar. Tidak punya pilihan, Hiramasa pun mendekat dan memeluk Mikuri, dengan terpaksa. Setelahnya ia pun kembali masuk ke kamarnya.


Tidak adil. Seakan-akan dia tidak punya pilihan. Tiba-tiba dia seperti menyesali ciuman itu. Mikuri melihat pintu kamar Hiramasa yang tertutup itu dengan tatapan sedih.


Ternyata di dalam, Hiramasa juga belum bisa tidur. Ia masih memikirkan soal insiden kemarin itu. Apa aku melakukan hal yang benar? Seperti biasa, seperti tak ada yang terjadi. Namun, tak mungkin aku bisa berpura-pura tak ada yang terjadi. Tolong, bagaimanapun caranya, buat gaya hidup ini tetap berjalan, bahkan jika hanya sehari lebih lama.



Mikuri seperti biasa datang dan membersihkan rumah Kazami. Kazami yang penasaran mulai bertanya-tanya soal bulan madu Mikuri. Tapi Mikuri tampak malas membahasnya dan memilih mengalihkan pembicaraan.


“Kazami, kau tak pergi kerja?” tanya Mikuri.


“Hari Sabtu aku masuk, jadi aku libur hari ini.”


Mikuri tengah bersih-bersih lantai. Ia pun mengusir Hiramasa agar pindah dulu. Hiramasa heran dengan sikap Mikuri yang tampak emosidonal. Tapi Mikuri mengatakan kalau dia biasanya juga demikian.


Tidak mau kehilangan momen, Kazami lalu menarik Mikuri dalam pelukannya, “Kalau kau jadi pasanganku, bahkan jika kau melakukan sesuatu yang mengejutkanku, Aku akan berpikir "Ah! Ini pasti sebuah trik."”


Mikuri cukup kaget dipeluk tiba-tiba begitu. Tapi perasaan Mikuri baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Ini pasti strategi untuk menggetarkan hatiku.


“Apa hatimu berdebar-debar?” tanya Kazami kemudian.


“Tolong jangan bercanda!” protes Mikuri. Ia pun melepaskan diri dari pelukan Kazami.



“Aku mulai iri pada Hiramasa. Orang sepertiku tak dipandang serius. Mereka pikir kami hanya main-main,” curhat Kazami saat makan siang bersama Yuri.


“Ada yang bilang begitu?” tanya Yuri.


“Aku coba mencium Mikuri. Tidak, tidak benaran...” ralat Kazami cepat saat ia melihat perubahan ekspresi wajah Yuri.


“Yang mana sebenarnya? Ini buruk untuk jantungku.”


Kazami tersenyum, “Tampang dan kepribadian Hiramasa sama-sama tulus, jadi dia bisa menemukan cinta sejati. Orang berkata yang sama tentangku saat aku masih muda.”


Yuri hanya tersenyum menanggapi curhatan Kazami. Ia juga mengaku pernah punya pengalaman seperti itu. Dan seperti inilah dia sekarang.


Mereka pun bangun selesai makan siang dan berebut untuk membayar makan siang itu.


“Aku sudah mengubah pandanganku tentangmu. Aku bukan "laki-laki ganteng yang menyebalkan" lagi. Sekarang kau "ponakan bermuka tebal.",” ujar Yuri kemudian.


“Kalau aku ponakan, apa boleh kupanggil kau tante?”


“Kau takkan selamat jika berani melakukannya,” ancam Yuri, tapi dengan bercanda.



Hiramasa makan siang bersama Hino-san. Hino-san mengaku kehabisan ide untuk hadiah ulang tahun istrinya, setelah lebih dari 10 tahun berlalu. Hino-san bertanya, apa yang diberikan Hiramasa untuk ulang tahun Mikuri.


“Ulang tahunnya belum lewat...” ujar Hiramasa. Tapi ia kemudian ingat saat mengisi form pernikahan. Ternyata ulang tahun Mikuri sudah lewat, 8 September 1990. Hiramasa lalu mengecek tanggal di ponselnya, “Aku lupa ulang tahunnya. Sudah hampir sebulan lalu.”


“Kau bercanda, 'kan? Kau tak memberinya apa-apa? Bagaimana dengan "selamat ulang tahun"?”


“Tidak juga,” ujar Hiramasa jujur. “Akan tetapi, kami adalah pasangan menikah yang tak melakukan apa pun.”


“Tidak bisa begitu. Kalau tak menghargai hal-hal kecil, kalian akan bercerai di masa tua.”


“Dalam kasus kami, malah aneh jika aku melakukan sesuatu,” elak Hiramasa.


“Tidak aneh, 'kan? Bukankah bukan hal yang aneh bahwa hal ini tidak tak aneh?” Hino-san akhirnya bingung sendiri. “Kupikir kau perlu memikirkannya, lho.”



Tidak lama setelahnya Kazami bergabung untuk makan siang juga. Ia mengaku mempekerjakan wanita untuk membersihkan ruamhnya dua kali seminggu. Dan karena ulang tahunnya awal September dulu, Kazami juga sudah memberinya hadiah ulang tahun.


“O-omong-omong, apa yang kau berikan?” justru Hino-san yang penasaran.


“Teh Sri Lanka yang lumayan enak.”


“Hebat sekali jika kau bisa memberinya hadiah sesantai itu,” puji Hino-san lagi.


Sementara Hiramasa mengingat-ingat. Sepertinya ia kenal dengan teh itu. Seperti yang pernah disajikan oleh Mikuri saat malam.


“Dia mendekati tipe idealku, tetapi dia bukan orang yang terus terang. Benar 'kan, Hiramasa?” Kazami bertanya pada Hiramasa, membuat Hiramasa makin salah tingkah.


Hino-san heran karena Kazami bicara seperti itu. Tapi Kazami mengatakan kalau Hiramasa juga mengenal wanita pekerja itu.


“Kami sering membahasnya,” ujar Kazami lagi.


“Makanya kalian berdua belakangan ini kelihatan dekat,” komentar Hino-san.


Tapi Numata-san bergabung dan membuat kacau. Ia berpikir kalau Hiramasa dan Kazami bohong soal itu. Karena Numata-san percaya, kalau Hiramasa dan Kazami dekat lantaran tertarik satu sama lain. (baca=gay). Hiramasa dan Kazami Cuma bengong dituduh seperti itu oleh Numata.



Mikuri makan siang di toko milik Yassan. Dan seperti biasa, dia memulai curhatnya di sana. “Apa kaupikir pernikahan bisa berjalan lancar jika tidak ada cinta? Jika tak ada cinta, kau tak mengharapkan banyak hal dan hanya memikirkannya sebagai perjanjian bisnis. Dan menganggap suamimu sebagai ATM-mu?”


“Itu terlalu ekstrem, sih,” komentar Yassan. “Kalau bisa dipecahkan semudah itu, aku takkan bercerai, juga takkan bekerja di toko seperti ini.”


“Jangan berkata "toko seperti ini" saat kau sendiri yang kembali ke sini,” saran Mikuri.


“Pendengaran Nenek hanya bagus di saat-saat seperti ini,” Yassan ikut berbisik.


“Kau akan mewarisi toko ini?” tanya Mikuri kemudian.


“Aku tak menginginkannya, sih.”


“Bagaimana dengan memperbaruinya?”


“Kami tak punya uang untuk itu,” elak Yassan.


“Bukan dengan mengeluarkan uang, tetapi misalnya menjual selai sayuran, memberi tahu resep masakan yang menggunakan sayur-sayuran, atau sesuatu untuk menarik pelanggan ibu rumah tangga...” saran Mikuri.


“Mikuri... kau selalu mengatakan hal seperti ini. Kalau melakukan ini, kalau melakukan itu... Kalau kau melakukannya sendiri itu adalah masalahmu sendiri, tetapi kalau disuruh orang lain jadi menyebalkan,” keluh Yassan.


“Ahk! Kata-kata itu baru saja memukulku telak. Ada banyak hal yang tak berjalan lancar...”


“Dengan pacarmu?” Yassan heran.


“Sebenarnya, dia bahkan bukan pacarku. Kami menikah, tetapi aku tak terdaftar di kartu keluarganya. Selain itu aku diciumnya. Hanya sekali.”


“Ini imajinasimu?” sindir Yassan. Sepertinya dia tidak terlalu serius menanggapi curhat Mikuri.



Hiramasa menunggu Yuri keluar dari kantor baru menghampirinya.


“Terima kasih atas hadiah liburannya waktu itu,” ujar Hiramasa.


“Sepertinya kalian bersenang-senang. Terima kasih oleh-olehnya.”


“Omong-omong bulan lalu ulang tahun Mikuri, ya. Apa kau memberinya sesuatu, Yuri?” tanya Hiramasa sangat hati-hati.


“Kau belum dengar? Sebuah Bamix, mikser tangan. Kenapa kau bertanya?”


“Tak ada alasan khusus,” elak Hiramasa ceoat.


“Jangan bilang, kau tak berbuat apa pun?” tembak Yuri, tepat.


“Mana mungkin!”


“Kalian bukan pasangan paruh baya. Kalian berdua seperti baru mulai berpacaran,” komentar Yuri kemudian.



Hiramasa mengecek di dapur. Dan benar saja, ia menemukan benda yang dihadiahkan Yuri pada Mikuri. Lalu kotak teh, seperti yang diceritakan oleh Kazami.


Apa hanya aku satu-satunya yang tak menyadarinya. Tepat di depanku. Ini faktanya.


Mikuri heran melihat tingkah Hiramasa yang tumben mengendap-endap di dapur. Tapi Hiramasa buru-buru menghindar dengan berjalan ke kamarnya sendiri setelah mengucapkan selamat malam.



Hari berikutnya, Hiramasa datang ke deprtemen store. Ia berniat mencari hadiah untuk Mikuri. Perhiasan, pakaian, peralatan rumah ... ternyata mencari hadiah untuk wanita lebih membuat pusing Hiramasa.


Hiramasa lalu duduk di depan departemen store dan menelepon orang tua Mikuri. “Ah, begini, aku mau bertanya apa yang Mikuri suka atau hal-hal apa yang dia sukai.”


“Hal-hal yang Mikuri sukai?” orang tua Mikuri terlalu bersemangat menanggapi pertanyaan menantu mereka ini.


Tapi alih-alih membantu, kedua orang tua Mikuri justru sibuk menceritakan soal pero, anak anjing yang pernah disukai Mikuri saat masih kecil. Tidak ada solusi sama sekali.


Hiramasa masuk kembali ke departemen store, menuju toko perhiasan.


“Apa yang Anda cari?” tanya si pegawai.


“Hadiah untuk seorang wanita...” Hiramasa ragu.


Tapi saat si pegawai bertanya ‘siapa’, selalu dijawab bukan. Istri, saudara perempuan, pacar, semuanya bukan.



Hari sudah gelap saat Hiramasa pulang ke rumah. Mikuri heran karena tidak biasanya Hiramasa pergi di hari liburnya seperti ini.


“Mikuri, ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Aku bisa menunggu sampai kau selesai nonton TV,” ujar Hiramasa.


“Tak apa-apa, aku tak menontonnya,” Mikuri pun mematikan televisi.


Hiramasa duduk di kursi, “Ini tentang sesuatu yang belum lama berlalu...Ulang tahunmu di awal September, 'kan? Aku benar-benar minta maaf.”


“Itu bukan masalah,” ujar Mikuri santai.


“Yang lebih penting... Aku mempertimbangkan banyak hal, tetapi kupikir ini yang terbaik,” Hiramasa memberikan amplop putih pada Mikuri. “Ini bukan hadiah, ini bonus. Kupikir tidak terlalu baik jika seorang bos secara pribadi memberikan hadiah pada pekerjanya. Akan tetapi, aku ingin rasa terima kasihku berwujud. Jadi, dalam bentuk bonus. Jadi, kau tak perlu membalasnya. Itu saja. Selamat ulang tahun,” Hiramasa lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya sendiri.


“Terimakasih, “ Mikuri masih bingung. Ia membuka amplop putih itu yang ternyata isinya adalah uang dalam jumlah cukup banyak.



Banyak pertanyaan berseliweran di kepala Mikuri. Ulang tahunku sudah lebih dari sebulan yang lalu, jadi... kenapa? Apa mungkin uang kompensasi ciuman?


Mikuri akhirnya mengirim pesan pada Hiramasa. Terima kasih atas bonusnya. Apa boleh aku bertanya? Kenapa Anda menciumku?


Sementara Mikuri menunggu jawaban pesan dari balik pintu, Hiramasa kaget mendapat pesan to the point dari Mikuri seperti itu. Hiramasa panik. Jawaban apa yang harus ia berikan pada Mikuri?


BERSAMBUNG


Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :


Cewek gitu ya. Kalau dicium, pasti bakalan minta penjelasan. Apa maksud ciuman itu. Gitu kata drama. Hei-hei ... Na bukan mengatakan Na berpengalaman lho ya. Jadi ini yang clueless itu Mikuri atau Hiramasa sih sebenarnya? Mereka gagal jujur soal perasaan masing-masing sih ya.

Bening Pertiwi 14.15.00
Read more ...