SINOPSIS dorama Married as Job episode 10 part 2. Setelah ehm ehm malam itu, hubungan Hiramasa dan Mikuri makin dekat. Tapi ternyata tidak semua semudah itu. Masih saja tetap ada masalah yang siap menghadang mereka berdua.


(halo semua, maaf banget ya, sepertinya Kelana terlalu lama menghilang #ehe. Dan berhubung Na kembali nulis lagi, jadi Na akan lanjutkan sinopsis yang sempat lama tertunda. Enjoy ... ^_^)



Numata datang menemui Hiramasa di rumahnya, “Efek dari pembelian saham Company M, kita kehilangan 40% dari penjualan kita. Untuk merampingkan manajemen kita, kami perlu melakukan pemecatan.”


“Dan itu...aku?”


“Tolong jangan salah sangka. Kau adalah insinyur terbaik, Tsuzaki. Dan gaji per tahunmu mencerminkannya. Kalau memecat seseorang dari bagian pengembangan, itu sama saja menyia-nyiakan bakat. Dan satu hal lagi, kau belum menikah kan?”


Hiramasa kaget ditanya secara langsung seperti itu.


Numata melanjutkannya ucapannya, “Aku tak sengaja mendengar. Kau dan Mikuri tak berada dalam satu kartu keluarga. Aku bertanya pada direktur, dan bertanya juga pada bagian urusan umum.”


“Aku tidak melanggar hukum....” elak Hiramasa.


“Aku tahu. Perusahaan kita menyetujui asuransi sosial, bahkan dengan pernikahan de facto, jadi tak masalah. Akan tetapi, jika hanya hubungan kerja, membuatnya mudah untuk memilihmu...sebagai pegawai yang akan kami lepas. Kau memiliki keleluasaan untuk menyewa orang lain. Kau tak punya istri dan anak untuk dibiayai seperti Hino.”


Hiramasa mengerti, “Memang, ya, tidak masuk ke dalam kartu keluarga berarti aku tidak memikul tanggung jawab.”



Obrolan di balai pertemuan makin seru. Para pemilik toko sepakat untuk mengadakan semacam bazar untuk memperkenalkan kembali distrik perbelanjaan mereka. Dan dari sana, Mikuri akhirnya sadar kalau kemungkinan ia tidak akan dibayar untuk pekerjaan ini.


Mikuri lemas. Idenya yang keren, ternyat justru berakhir seperti ini, “Memanfaatkan niat baik seseorang, dan memintanya bekerja sukarela adalah eksploitasi. Misalnya, karena kita berteman, kau belajar sesuatu untuk keuntunganmu...atau hal lain, dan tidak membayar gaji. Kita tak bisa mengabaikan eksploitasi "layak" seperti ini. Aku, Moriyama Mikuri, dengan tegas menentang eksploitasi "layak."!”


Salah satu pemilik toko pun mengerti maksud Mikuri, “Oke, aku mengerti! Tiga ribu yen per hari,” tawarnya kemudian.


Meski akhirnya dapat upah, ternyata yang diterima oleh Mikuri sangat sedikit.



Mikuri pulang bersama Yassan. Yassan menyesal karena sudah melibatkan Mikuri seperti ini. Tapi Mikuri mengatakan tidak masalah. Ia bertekat untuk bisa bekerja cepat, jadi pendapatannya masih akan sesuai dengan upah minimum di daerah tersebut.


“Apa aku terlihat pelit?” tanya Mikuri akhirnya.


“Tidak!” elak Yassan cepat. “Punya pendapatan tunai itu penting, itu yang kupelajari setelah bercerai.”



Numata-san pamit untuk pulang. Hiramasa mengantarnya hingga di depan pintu. Numata-san masih punya sedikit rasa menyesal atas keputusan ini.


“Kalau aku jadi kau...mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Tolong jangan menyalahkan diri sendiri,” ujar Hiramasa pula.


Setelah Numata-san pergi, Hiramasa kembali ke kamarnya. Ia langsung asyik masyuk di depan komputernya, membuka beberapa informasi lowongan pekerjaan. Ini bukan salah Numata. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya kenyataan yang kejam. Kerja. Aku harus mencari kerja. Pekerjaan dengan gaji tahunan yang sama, perusahaan yang akan membela mati-matian waktu bermesraanku dengan Mikuri. Kupikir pekerjaan yang pas takkan semudah itu ditemukan, tetapi aku akan melakukan apa pun untuk mempertahankan gaya hidupku saat ini.



Mikuri baru saja tiba. Kali ini Hiramasa yang menyambutnya pulang. Tampak Hiramasa ingin mengatakan sesuatu, tapi urung diucapkannya.


Mikuri heran melihat Hiramasa yang tampak berbeda dari biasanya. Mikuri mengatakan kalau ia membeli bahan-bahan yang sempat mereka bicarakan tadi pagi. Tapi karena Hiramasa tidak bicara lebih banyak, Mikuri pun tidak bertanya lagi.



Yuri masih berada di depan stasiun saat ponselnya berbunyi, dari Kazami. Kazami memintanya mampir, karena ingin bicara. Tidak bisa mengelak, Yuri pun datang ke rumah Kazami.


“Aku datang karena ada yang mau kutanyakan. Apa maksudmu waktu itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Contohnya, wanita sepertiku, lajang dan berumur 50-an... dibutuhkan di masyarakat dan bisa memberikan dukungan untuk seseorang di luar sana. Makanya kupikir...aku harus hidup dengan cara yang mengagumkan.” Yuri to the point. Ia ingin bicara soal insiden sebelumnya, saat Yuri menangis. “Berpura-pura kuat, memasang topeng dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan?”


“Aku suka Yuri yang tenang, tetapi ada sesuatu tentang ketenangan yang kau pancarkan ini,” ujar Kazami. “Kau tak perlu memaksakan diri demi menjadi contoh untuk seseorang.”


Obrolan mereka terus berlanjut. Dengan caranya, Kazami mampu memahami apa yang dipikirkan oleh Yuri, yang tengah mengalami krisis kepercayaan diri di usianya yang tidak lagi muda itu. Bahkan Kazami meyakinkan Yuri, kalau tidak masalah sesekali tampak lemah.


“Maaf, aku menangis di tempat seperti itu. Dan terima kasih telah menutupiku sehingga orang-orang tak melihatnya,” ujar Yuri pula.


“Bukannya aku menutupimu...tetapi aku tak mau membiarkan mereka melihatnya. Siapa pun,” ujar Kazami.


Yuri kaget dengan ucapan Kazami. Ia paham arah pembicaraan itu. Tapi Yuri memilih percaya kalau ucapan Kazami itu hanya ucapan seorang anak muda pada bibinya. Yuri terus mengelak soal apa yang sebenarnya dipikirkan Kazami tentangnya.



“Beri air di sini. Seperti ini, dan seperti ini,” Mikuri mengajari Hiramasa cara membuat makanan. “Mulai sekarang, sepertinya aku akan lebih sering ke tempat Yassan. Aku perlu membantu beberapa hal.”


“Pasti sulit, ya... jadi ibu tunggal,” komentar Hiramasa. Tangannya sibuk mengikuti intruksi yang tadi diajarkan oleh Mikuri.


Bukan hanya Yassan. Di tempat yang penuh laki-laki, aku dipekerjakan dengan biaya minimum. Namun itu sulit kukatakan. Mikuri menarif nafas. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Hiramasa.


“Aku bisa!” seru Hiramasa kemudian.


“Anda lebih jago dariku!” puji Mikuri ikut sumringah. “Hiramasa... Anda bisa melakukan banyak hal kalau mencoba, ya 'kan?”


Hiramasa terdiam memandangi Mikuri. Aku bisa melakukan hal-hal yang kukira tak bisa kulakukan. Sedikit demi sedikit, duniaku meluas. Yang membuatku tetap tenang meski kehilangan pekerjaan... adalah aku percaya pada dunia yang kumiliki di sini saat ini. Aku bersyukur kau ada di sini, Mikuri.


Mikuri membantu mengelap kaca mata Hiramasa yang berembun karena peluh. Dalam hati, Mikuri juga bersyukur bertemu dan bisa bersama Hiramasa, meski mereka tidak punya ikatan yang jelas.



Tidak mau terlibat dalam situasi canggung lebih dalam, Yuri pun bergegas pamit. “Kapan-kapan datang ke rumahku juga, ya. Aku akan memberimu anggur enak sebagai ponakanku.”


“Apa kau benar-benar menganggapku hanya sebagai ponakanmu?” cecar Kazami. “Meski aku ingin memelukmu.”


Yuri masih terus berusaha menguasai diri, “Jangan mengolok-olok tantemu.” Ia bergegas merapikan syalnya dan buru-buru pergi. Di depan pintu rumah Kazami, Yuri berhenti. Ia menghembuskan nafas yang sempat ditahannya sejak tadi. Hatinya bergejolak oleh sikap maupun perkataan Kazami. Tapi, Yuri terus saja mengelak semua itu. “Aku bilang apa, sih?”


Sepeninggal Yuri, Kazami hanya terdiam memandangi pintu rumahnya kembali tertutup. Ia memikirkan perasaannya dan ... Yuri. Dan hubungan mereka yang ... entah.



Mikuri dan Hiramasa makan malam seperti biasa. Tidak ada yang istimewa malam itu. Hiramasa kembali sibuk di balik pintu kamarnya. Pun Mikuri yang akhirnya sibuk dengan laptopnya, memikirkan rencana pekerjaan yang dijanjikannya bersama Yassan.


Asalkan keseimbangannya tidak rusak....Selamanya, hanya seperti ini. Kami bisa melakukannya.



Kantor heboh saat daftar karyawan yang dipecat muncul. Hino-san tidak percaya kalau Hiramasa yang hebat seperti itu ternyata malah kena efek pemecatan.


“Seharusnya kita bersyukur saja masih kerja di sini, apa kau mau berhenti sebagai gantinya?” ujar Kazami.


Hino-san yang nyaris protes lagi akhirnya terdiam. Ia ingat soal keluarganya, cicilan rumah dan lain-lain. Sementara itu Numata-san yang masih merasa bersalah soal pemecatan itu, sakitnya kambuh lagi. Tapi mereka percaya, kalau orang hebat seperti Hiramasa pasti akan segera mendapatkan pekerjaan baru gantinya.


Bisik-bisik pun terdengar nyaris di seluruh kantor. Bagaimana Hiramasa? Dia tetap bersikap tenang. Alih-alih terlihat pusing, Hiramasa justru memanfaatkan jam makan siangnya untuk mencari pekerjaan baru.



Hari-hari berikutnya Mikuri maupun Hiramasa sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hiramasa banyak menghabiskan waktu istirahatnya sambil terus menekuri laptop. Ia harus segera mendapatkan pekerjaan baru.


Sementara itu Mikuri pun sudah mulai bekerja untuk area perbelanjaan. Ia sudah menyiapkan kuisioner dan membagikannya ke tiap toko untuk persiapan acara mereka.



“Terima kasih atas makanannya,” selesai makan Hiramasa kembali masuk ke kamarnya.


Mikuri hanya bisa terdiam melihat sikap Hiramasa itu. Belakangan ini, Hiramasa terlihat sibuk. Dia bahkan tak mengomentari makanannya. Dia menghabiskannya, jadi kupikir tidak tak enak, sih...



Di kamar, Hiramasa kembali sibuk dengan komputernya. Sepertinya pencarian pekerjaan barunya mulai menampakkan hasil.


Sebuah panggilan telepon datang, “Yang benar? Oke. Terima kasih banyak. Besok aku akan memperkenalkan diri.” Hiramasa sumringah menutup telepon malam itu.


Ia pun kembali beranjak ke komputernya dan mengeprint beberapa lembar kertas. Ada tatapan puas di mata Hiramasa saat melihat lembaran-lembaran kertas itu.



Pagi berikutnya


Setelah sarapan, seperti biasa Mikuri beres-beres dapur. Saat itu Hiramasa sudah siap untuk berangkat bekerja.


“Mikuri, apa kau mau makan malam di luar malam ini?” tanya Hiramasa dengan hati-hati.


“Di luar?” Mikuri heran.


“Nanti kita bertemu di tempat di memo ini,” Hiramasa menyerahkan selembar kertas pada Mikuri. “Tolong sampai di sana jam 18:45.”


Mikuri mengiyakan saja permintaan Hiramasa tanpa bertanya lebih lanjut. Ia pun tidak lupa memberikan bekal makan siang untuk Hiramasa dan mengantarkannya seperti biasa hingga di depan pintu. “Selamat jalan!”


Mikuri menatap kertas di tangannya. Di sana tertulis tulisan tangan Hiramasa yang memintanya bertemu di depan patung gajah di taman belalai gajah.



Yuri berangkat kantor seperti biasa. Melihat Kazami datang, Yuri berusaha untuk berjalan lebih cepat. Tapi Kazami melihatnya dan langsung menyusul.


“Selamat pagi. Kau tak perlu menghindariku,” sapa Kazami.


“Aku tidak menghindarimu,” elak Yuri.


“Kau tak datang ke bar dan juga tak membalas pesan-pesanku.”


“Aku sibuk,” Yuri masih saja mencari alasan.


“Secara teknis, aku juga manusia, jadi, kalau dijauhi seperti ini, aku juga masih merasa depresi. Kalau kau tak ingin berbicara denganku lagi, aku takkan lagi mendekatimu,” protes Kazami setengah mengancam.


“Bukannya begitu...”


Tapi ucapan Yuri terpotong oleh kehadiran si gadis centil yang mengejar-ngejar Kazami. Gadis itu langsung bergelayut di lengan Kazami, membuat suasana justru makin canggung.


Saat itu salah satu bawahan Yuri yang pria datang. Melihat kesempatan melarikan diri dari situasi tidak jelas, Yuri pun segera menyeret bawahannya dan menjadikannya alasan untuk pergi menjauh dari Kazami dan si gadis centil.


Kehadiran si gadis centil kali ini benar-benar membuat Kazami kesal, “Kau membuatku marah.”


“Hore! Ada kemajuan dalam hubungan kita!” alih-alih mengkeret pergi, si gadis centil justru makin bersemangat.


Kazami menghembuskan nafas berat, makin kesal, “Aku akan memberimu julukan. Positive monster.”


“Posimon? Aku menangkap Posimon!” si gadis centil justru makin bersemangat.



Yuri masuk ke lift bersama bawahannya tadi.


“Kelihatannya lancar, ya, dengan si ganteng itu,” ujar si staf pria.


“Apanya yang lancar? Aku cukup tua untuk jadi ibunya,” elak Yuri.


“Bagus, 'kan? Rintangan seperti itu. Karena hidup kalian bisa bertemu.”


Yuri melirik sebal pada bawahannya ini.



Mikuri mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya. Tapi, ia masih saja terus memikirkan ajakan Hiramasa untuk makan malam di luar. Mikuri penasaran. Ia pun ingat soal ulang tahunnya. Saat itu Hiramasa mengaku menyesal karena tidak melakukan apapun saat ulang tahun Mikuri dan berjanji akan mengajaknya makan di luar di ulang tahunnya tahun depan. Alih-alih menunggu tahun depan, akhirnya Hiramasa mengajak Mikuri pergi makan malam, untuk alasan ini. Seperti itulah akhirnya Mikuri menyimpulkan.


Kebersamaan pertama kami. Kencan pertama kami! Apa aku harus bersikap manis? Mikuri membuka lemari dan mulai memilih baju. Satu baju dicoba, baju kedua dan ketiga ... tapi tidak ada yang pas menurut Mikuri. Terlalu antusias juga tidak bagus. Kalau bau yakitori akan menempel pada baju, maka ... Aku tak bisa memutuskan....



Hari sudah gelap saat Mikuri berjalan ke tempat ia janjian dengan Hiramasa. Mikuri melihat Hiramasa sudah menunggunya di dekat patung gajah, persis seperti yang dikatakan Hiramasa pada catatan yang diberikannya pada Mikuri tadi pagi.


“Maaf, aku telat,” sapa Mikuri saat sudah dekat.


“Tidak, pas waktunya, kok. Ayo pergi.”


Mikuri pun berjalan sambil bergandengan tangan dengan Hiramasa. Keduanya baru sadar kalau selama ini belum pernah sekalipun makan malam bersama di luar. Mereka sepakat untuk melakukannya sekali sebulan. Dan yang lebih penting, mereka belum pernah kencan.



“Ini tempatnya,” ujar Hiramasa saat mereka tiba di depan sebuah restoran.


“Sepertinya mahal...” komentar Mikuri.


Tapi Hiramasa tetap mengajaknya masuk. Tampak restoran itu mewah dengan tetamu yang duduk di tempat mereka masing-masing. Penyambut tamu menyambut Mikuri dan Hiramasa lalu menawarkan untuk menyimpan mantel mereka. Mikuri yang belum benar-benar percaya, sempat terdiam hingga Hiramasa menegurnya. Keduanya pun duduk di tempat yang ditunjukkan pelayan.


“Ini restoran terkenal. Kalau kutahu bakal begini aku akan pakai baju yang lebih bagus....” komentar Mikuri.


“Kau kelihatan imut,” puji Hiramasa.


Pelayan menyerahkan menu pada Hiramasa. Tampak ia membaca menu sambil sesekali bicara pada si pelayan tadi.


Dan sekali lagi, Mikuri dibuat takjub dengan Hiramasa. Hiramasa yang tekun dan tenang, yang cocok dengan kuil...Di suasana gemerlap ini, dia berbicara kebarat-baratan.


“Antara daging domba dan sapi, mana yang kau pilih, Mikuri?” tanya Hiramasa.


Tapi di mata Mikuri, pertanyaan tadi membuat angannya melayang tinggi. Bagi Mikuri, Hiramasa di depannya bertransformasi menjadi seorang pengeran tampan yang tengah bertanya soal pesanan makanan pada Mikuri. Hiramasa tampak sangat bersinar, tampan dan manis dengan senyumnya, membuat Mikurit tidak bisa berkata apapun.


Tapi Mikuri buru-buru menghapus angannya yang terlalu tinggi. Tunggu, bukan, bukan begitu.Hiramasa yang seperti pangeran ini agak keren, tetapi bukan itu intinya.



Karena melihat Mikuri tampak tidak terlalu fokus, akhirnya Hiramasa langsung saja memesan menu. Dalam pikirannya, ia sudah memersiapkan segalanya dengan baik.


Jadi, selain mencari pekerjaan, Hiramasa ternyata juga mencari restoran keren yang ingin dijadikannya tempat kencan makan malam dengan Mikuri. Ia sempat memesan beberapa tempat, tapi terlanjur penuh. Hingga akhirnya Hiramasa menemukan tempat yang tepat ini. Bahkan Hiramasa sempat lebih dulu melakukan survey ke restoran itu siangnya.


Semuanya berjalan baik sampai saat ini.



Pesanan makanan mereka pun datang. Tanpa butuh waktu lama, Hiramasa dan Mikuri pun menyantap makanan di piring masing-masing. Dan seperti beritanya, makanan di restoran itu benar-benar enak.


Ini sangat, sangat enak. Akan tetapi...dari tadi Hiramasa diam saja. Dia hanya makan, dan terkadang tersenyum bahagia. Mengerikan. Ada apa di balik kelakuan Hiramasa yang seperti pangeran? Mikuri menyantap makanannya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Hiramasa, menunggu Hiramasa bicara. Tapi ternyata tidak ada yang dikatakan.


Makan malam selesai. Dan kini di depan mereka adalah makanan penutup. Hiramasa mengumpulkan keberaniannya dan akhirnya bicara.


“Alasan kita datang ke sini hari ini adalah untuk membicarakan masa depan. Aku tak tahu ukuranmu, jadi aku belum punya cincin, tetapi Mikuri, Ayo kita masukkan namamu di kartu keluarga secara resmi lalu menikah,” ujar Hiramasa.


Mikuri kaget dengan ucapan Hiramasa yang tiba-tiba ini, “Kupikir Anda tak berniat menikah....”


“Kupikir itu sesuatu yang takkan pernah terjadi padaku. Namun, sejak bertemu denganmu, Aku berubah. Aku melakukan simulasi perhitungan. Kalau kita menikah, kita tak lagi memerlukan kontrak kerja. Gaji yang saat ini kubayarkan padamu bisa digunakan untuk biaya hidup atau simpanan.” Hiramasa mengeluarkan kertas berisi catatan keuangan yang telah disusunnya. “Antara menikah atau tidak, dalam tiga dan lima tahun...selisihnya sebesar ini. Dengan uang ini, kita bisa beli rumah tua, atau di masa depan, dengan satu bahkan dua anak, bagaimanapun caranya bisa kita atasi. Ini datanya.”



“Dengan kata lain, kuputuskan, menikah itu...akan menguntungkan bagi kita berdua. Dengan begitu...” ucapan Hiramasa dipotong oleh Mikuri.


“Tunggu sebentar. Sebelum membuat rencana masa depan seperti rumah dan anak-anak, Kenapa Anda berpikir untuk mendaftarkannya? Pemicunya.”


“Pemicunya adalah... dipecat. Ah... tentu saja, aku berniat memberi tahumu setelah aku mendapatkan pekerjaan baru.”


“Anda dipecat... jadi Anda melamar?” nada suara Mikuri sedikit lebih tinggi.


“Bukan hanya itu alasannya. Kurasa pernikahan itu lebih logis,” elak Hiramasa.


“Kalau kita menikah, Anda tidak harus membayar gaji, dan bisa memanfaatkan jasaku secara gratis, jadi itu logis....Begitu maksudnya, 'kan?” cecar Mikuri.


Hiramasa bingung, “Apa... kau tak suka padaku?”


“Itu...eksploitasi cinta!” tegas Mikuri.


“Kalau saling suka, kalau saling cinta, kita bisa melakukan segalanya...”


“Anda pikir itu baik?” kali ini Mikuri benar-benar marah. “Aku, Moriyama Mikuri...dengan tegas menentang eksploitasi cinta!”


BERSAMBUNG


Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :


Lama nggak buat sinopsis, ternyata kecepatan nulis Kelana agak melambat nih. Tapi semoga nggak mengecewakan ya.


Ok, kembali ke cerita .... Ending episode 10 ini memang nggak banget. Lamaran yang harusnya sukses, justru gagal total. Oh Hiramasa ...


Pertama, lamaran ini sama sekali nggak romantis. Atau gagal romantis saat Hiramasa mengeluarkan kertas-kertas berisi catatan keuangan yang ia buat. Iya sih, Hiramasa itu orang yang kaku. Tapi ya masa ada gitu ... orang melamar kok pakai catatan keuangan gitu.


Kedua, karena catatan keuangan itu, akhirnya lamaran berubah jadi salah paham. Niat hati Hiramasa ingin menikahi Mikuri secara resmi karena memang sayang, ternyata diterima berbeda oleh Mikuri.


Ketiga, Mikuri juga agak keras kepala. Memang sih, kalau menikah dan tidak lagi digaji, artinya kerjanya gratis. Tapi ya ... namanya keluarga kan gitu ya. Masak sih semua harus dinilai dengan uang. Nah, si Mikuri ini masih money-oriented banget lah. Jadi, nggak bisa melihat niat baik Hiramasa. Ditambah lagi, Mikuri sudah keburu negatif thinking saat tahu, Hiramasa melamar setelah dipecat. Padahal niat Hiramasa melamar murni karena sayang, bukan karena ia nggak mau lagi menggaji Mikuri. Rumit.


Ok, ... memang kedua orang ini punya problem ‘sulit berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan dan pikiran masing-masing’. Jadi ya ...gitu deh. Tapi tenang aja, masih ada satu episode lagi kok, episode terakhir. Kira-kira, gimana endingnya ya?


Couple ini memang couple keren di season musim dingin lalu. Nggak heran, kalau Mikuri yang diperankan oleh Aragaki Yui pun menyabet sejumlah penghargaan. Dan lagi ... mas Hiramasa—yang ternyata imut ini—pun jadi kebagian lebih banyak job lagi. Musim semi ini nanti pun dia sudah ada di list pemeran drama tayang.


Ah ya ... setelah ini Na akan selesaikan dulu sinopsis Married as Job sampai ep 11, atau sampai selesai. Nah, sambil nunggu drama musim semi tayang+muncul subtitle-nya nanti, Na akan buat preview drama apa saja yang akan muncul di musim semi.


Hosh! Hosh! Capek juga lama nggak nulis, kekekekeke. Sekali lagi, selamat membaca ^_^

Bening Pertiwi 14.13.00
Read more ...
Halo semua, ini Kelana

Sebelumnya mohon maaf atas keterlambatan upload sinopsis terbaru.

Karena domain ini hampir expired, jadi ada beberapa hal yang harus Kelana urus terlebih dahulu. Intinya, posting akan tertunda untuk beberapa waktu, karena Na akan beres-beres blog terlebih dahulu. Semoga segera beres dan Na bisa posting kembali seperti biasa.

Mohon dimaklumi dan terimakasih.
Bening Pertiwi 10.53.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Married as Job episode 10 part 1. Mikuri tidak sengaja melihat Hiramasa berjalan dengan Igarashi ke sebuah restoran. Dan ternyata itu hanya salah paham. Karena Hiramasa sengaja datang ke resto itu untuk membelikan bahan makanan untuk Mikuri.


Pertengkaran mereka malam itu membuat Hiramasa memberanikan diri memastikan perasaannya. Dan dia sadar kalau Mikuri ... sudah cemburu. Buatku, kau sudah menjadi seseorang yang tak bisa kulepaskan begitu saja. Dalam diakhiri dengan ucapan ... maukah kau bersamaku hingga pagi, oleh Hiramasa.



Yang kami butuhkan bukan membangun kembali sistem yang ada, melainkan saling mengutarakan perasaan kami yang sesungguhnya.


Hiramasa menemani Mikuri berbelanja. Yang sebenarnya hanya membeli daun bawang. Sepanjang perjalanan pulang, mereka pun bergandengan tangan sambil sesekali saling memandang dan melempar senyum satu sama lain.


Sampai di rumah, Mikuri pun segera membuatkan makan malam untuk mereka. Soba istimewa untuk makan malam berdua.



Sambil makan malam, rupanya Hiramasa sudah memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Bersama hingga pagi hari. Aku mengatakannya begitu saja, tetapi Apa yang akan kami lakukan sampai pagi, ya?


Imajinasi Hiramasa pun berulah. Dari asyik mengisi sudoku sampai pakai. Bermain wii dengan Mikuri. (semacam game balapan) atau bahkan memainkan RoBoHoN sampai pagi. (Robohon semacam ponsel yang bisa diubah jadi robot mainan)


Semuanya menyenangkan, tetapi saat ini itu semua bukan hal yang utama. Aku memang bilang sampai pagi, tetapi Sejauh apa dia berharap?



Setelah makan malam, Mikuri pun beres-beres. Dia berniat membuang bungkus bekas bahan makanan dengan lebih dulu mengikatnya dengan karet gelang. Tapi benda elastis itu ternyata terlempar ke bawah. Dan pikiran Mikuri pun sampai ke sana.


Kupikir Hiramasa tak akan berinisiatif. Yang artinya hanya tidur berdampingan hingga pagi hari? Itu saja sudah cukup baik.



Sementara itu di kamar, Hiramasa makin panik. Ia masih saja khawatir apa yang harus dilakukannya nanti. Hiramasa membongkar-bongkar laci mejanya, mencari sebuah benda.


Hiramasa ingat, kalau musim panas tahun lalu Hino-san pernah memberikannya suatu benda. Menurut Hino-san, itu adalah produk terbaru dari perusahaan adiknya. Saat itu Hiramasa menerimanya saja tanpa banyak komentar dan langsung memasukkannya ke dalam sakunya tanpa curiga sama sekali. (Na nggak yakin sih, barang yang dicari Hiramasa ini apaan. Tapi sepertinya sih semacam ko***m)


Hiramasa makin panik. Saat itu, meski aku tak berpengalaman, aku berpura-pura tenang dan membawanya pulang. Kelihatannya mungkin terjadi jika situasinya begini. Aku harus bagaimana? Aku pergi sejauh-jauhnya. Aku paham prosesnya. Akan kucari di Google lagi untuk memastikan...



Tapi ketukan Mikuri di pintu menghentikan kegiatan Hiramasa. Ia pun segera kembali duduk di ranjangnya kemudian mempersilahkan Mikuri masuk. Saat itu Mikuri juga membawa bantalnya sendiri. Mikuri lalu duduk dengan canggung di sebelah Hiramasa.


Mikuri pun memegang tangan Hiramasa, lalu menggenggamnya erat. Hiramasa mencuri pandang ke arah Mikuri. Senyum yang tercipta di antara mereka adalah senyum canggung.


Tapi, bencana sebenarnya baru saja dimulai!



Hiramasa tidur lurus di balik selimutnya. Sementara Mikuri memiringkan tubuhnya ke arah Hiramasa.


“Seperti aroma tubuhmu,” komentar Mikuri.


“Aku sudah mandi, sih,” ujar Hiramasa.


“Aku suka. Menenangkan. Apa kita takkan bersenang-senang?” tanya Mikuri kemudian.


Hiramasa kaget, “Maaf, aku belum pernah melakukannya sebelumnya.”


“Kalau dipikir-pikir, siapa yang menciptakan, sih? Kenapa memakai kata itu?” komentar Mikurin kemudian. Tangan Mikuri pun beraksi.


“Itu... geli,” ujar Hiramasa. Tapi yang tampak hanya RoBoHon.


“Ini namanya bersenang-senang,” ujar Mikuri. Dan yang muncul adalah boneka babi. “Anda coba juga.”


Hiramasa setuju, “Kalau begitu, permisi...” gambar RoBoHon bergerak-gerak karena guncangan.


Suara Mikuri yang mendesah kaget membuat Hiramasa menyesal dan minta maaf. Tapi Mikuri mengatakan tidak masalah.


Jadi begini rasanya. Setelah itu...Itu, kalau begini seharusnya berlanjut ke hal itu, tetapi bagaimanapun, aku hanya setengah niat.


(pada ngerti kan ini adegan apaan? Gambarnya Cuma gambar RoBoHon goyang-goyang sama boneka babi kok, jadi aman. Cuma suaranya aja yang seru-seru bikin terbayang. Hahahaha ... gomene!)



Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Hiramasa menyambar jaketnya dan berlari keluar apartemen. Dia berteriak sepanjang jalan, hingga akhirnya berhenti di sisi jembatan.


Benar-benar bencana! Kenapa aku mengembalikan Turbo Lingkar (minuman energi) ke Hino?! Makanya aku membencinya. Kegagalan yang kutakutkan. Aku yang pengecut. Makanya aku menjaga jarak sebagai lajang profesional. Membangun tembok, dan tetap di zona aman, sendiri. Selalu... sendiri. Hiramasa makin frustasi pada dirinya sendiri.


Tapi ia kemudian ingat pada Mikuri. Pada genggaman tangannya bersama Mikuri, genggaman tangan kekasih. Bagaimana perasaan Mikuri saat ini? Boleh saja melarikan diri. Bahkan jika melarikan diri itu memalukan, bertahan itu lebih penting. Aku takkan menerima bantahan atau sangkalan apa pun tentang hal ini. Akan tetapi bukan di sini. Kau tak bisa melarikan diri dari orang yang penting bagimu. Kalau tak mau kehilangan orang itu, tak peduli betapa tak kerennya, bahkan jika tak enak dipandang.


Hiramasa pun mengambil keputusan. Ia sudah yakin untuk kembali. Hiramasa segera bangkit dan berjalan pulang lagi.



Hiramasa pun pulang kembali ke rumah. Ia menemukan Mikuri bergelung di bawah selimut. Hiramasa berpikir kalau Mikuri sudah tidur.


Tapi ternyata Mikuri belum tidur. Ia pun bangun menyambut Hiramasa, “Bagaimana bisa tidur? Anda meninggalkanku di sini.”


“Maafkan aku. Aku takkan melarikan diri lagi.”


Lalu kami berpelukan, berciuman, dan entah bagaimana melewati tembok itu.



Mikuri bangun lebih dulu dan mengecup pipi Hiramasa, “Selamat. Ini hari ulang tahunmu.” Lanjut Mikuri saat melihat kebingungan di wajah Hiramasa. (masak bangun tidur udah pakai kaca mata gitu?). Mikuri pun kembali menenggelamkan kepalanya di sisi Hiramasa.


Hiramasa tersenyum lega. Pagi yang baru datang di tahun ketiga puluh enamku.



Pagi itu Yuri berangkat ke kantor seperti biasa. Tapi memandangi papan iklan besar di seberang jalan mengingatkannya pada insiden semalam bersama Kazami.


Saat menangi, Kazami menghalangi pandangan orang-orang dari melihat Yuri. Setelahnya Kazami pun menawaran untuk mengantar Yuri pulang. Selama perjalanan di taksi, keduanya hanya saling diam. Bahkan setelah taksi itu menurunkan Yuri, mereka hanya saling bertukar ucapan selamat malam.


Lamunan yang nyaris sama juga dirasakan oleh Kazami. Dia kantornya, Kazami masih juga memikirkan Yuri dan insiden semalam.



Numata-san datang menyapa Hino-san dan heran karena Hiramasa belum datang. Menurut Hino-san, Hiramasa menelepon akan datang agak siang. (cieee, yang males berangkat kerja)


Numata sudah meyakinkan diri untuk mengatakannya pada Hiramasa. Tapi saat Hiramasa sudah ada di hadapannya, Numata justru tidak bisa mengatakan apapun. Apalagi saat itu wajah Hiramasa tampak sangat cerah ceria.


“Cuaca hari ini bagus, hari yang menyenangkan,” komentar Hiramasa sambil menunggu kopinya selesai.


“Menurutku berawan,” komentar Hino-san, heran.


“Udaranya juga segar,” lanjut Hiramasa.


“Ada kejadian apa?” Hino-san penasaran.


“Tidak ada yang istimewa. Kalau aku harus bilang, hari ini aku berumur 36 tahun,” ujar Hiramasa. Senyum masih saja belum menghilang dari wajah Hiramasa.


“Selamat ulang tahun!” ujar Hino-san lagi. Ia mengingatkan Numata-san kalau ada yang ingin disampaikan pada Hiramasa.


“Tidak hari ini,” tolak Numata-san, cepat. Numata-san malah berlutut di depan Hiramasa, mengatakan ia tidak sanggup mengatakannya pada Hiramasa.


Hiramasa yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, tidak memerhatikan Numata-san. “Kopi ini juga enak,” ujar Hiramasa sambil menghirup aroma kopinya. (pas ngomong kalimat ini, om Gen manis bangeeeetttt #diabetes)


Hino-san yang bingung dengan sikap rekan-rekannya hari itu. Hiramasa yang terus-terusan tersenyum tanpa alasan yang jelas. Numata-san yang tampak frustasi karena suatu hal. Hingga Kazami yang terus melamun di depan jendela tanpa merespon apapun pertanyaannya.



Hari itu Mikuri memasak makanan dengan gembira. Yang dipikirkannya hanya satu orang, yakni Hiramasa. Dan hasil masakan Mikuri kali ini benar-benar luas biasa. Tidak hanya jenis makannya saja yang menggoda, tapi juga tampilannya penuh garnis manis yang benar-benar menggugah selera.


“Sekali lagi, selamat ulang tahun,” ujar Mikuri pada Hiramasa malam itu. Mereka pun makan malam bersama sambil sesekali saling curi pandang satu sama lain.



Selesai makan malam, Mikuri pun seperti biasa membereskan meja. Ia melirik ke arah Hiramasa yang duduk di sofa dengan televisi menyala dan buku sudoku di tangannya.


Hiramasa sedang menungguku. Dia buka buku sudoku, tetapi belum mengisi satu kotak pun. Dia hanya menunggu aku selesai bekerja.


Dan imajinasi Mikuri pun mulai. Dia berlari ke sebuah tebing yang tinggi dan kemudian meneriakkan, ‘Hiramasa terlalu menggemaskan!’



Dan lamunan Mikuri buyar saat Hiramasa menegurnya, “Mikuri, apa pekerjaanmu sudah selesai?”


“Belum,” ujar Mikuri canggung.


Hiramasa mengerti. Ia pun berbalik dan berniat kembali ke sofa. Tapi sebuah pelukan dari Mikuri menghentikan langkah Hiramasa.


“Aku bohong! Aku sudah selesai. Bukankah terlalu menggemaskan?” ujar Mikuri dari punggung Hiramasa.


“Mestinya aku yang bilang begitu,” protes Hiramasa.


“Aku benar-benar mau berteriak dari tebing, Hiramasa benar-benar... benar-benar menggemaskan!"”


Hiramasa heran, “Bilang seorang laki-laki menggemaskan itu...”


Mikuri pun melepaskan pelukannya lalu berdiri di depan Hiramasa, “Menggemaskan adalah pujian terbaik! Kalau bilang "keren," saat melihat sisi tak kerennya, Anda mungkin kecewa. Akan tetapi, kalau "menggemaskan"... Apa pun yang Anda lakukan, semuanya menggemaskan. Anda dulu sebelum rasa gemas.”



Hiramasa pun mengerti maksud Mikuri. Ia pun mengajak Mikuri untuk duduk di sofa, “Aku ada satu permintaan. Apa kau bisa berhenti bekerja di tempat Kazami? Bukannya aku curiga, tetapi saat aku membayangkan kalian hanya berdua di tempatnya, aku tak bisa tak cemburu.” (ecieeee, jadi ceritanya Hiramasa juga cemburu juga nih)


Mikuri tersenyum, “Aku mengerti. Itu adalah pekerjaan sampingan untuk membiayai perawatan gigiku, dan pembayarannya sudah lunas, jadi aku akan berhenti.”


Mikuri dan Hiramasa saling pandang. Dan sebuah pelukan jadi penutup kebersamaan mereka malam itu.



Mikuri datang ke tempat Kazami seperti biasa. Tapi kali ini ia pamit pada Kazami untuk berhenti bekerja.


“Terima kasih untuk segalanya. Senang bisa mempekerjakanmu,” ujar Kazami.


“Apa rasanya mempekerjakan pekerja rumah tangga?”


Kazami berpikir sebentar, “Memudahkanku, tetapi kupikir aku juga bisa melakukannya sendiri.”


“Kazami, apa kau tak bisa berpacaran saja dengan seseorang yang tak mau menikah?” usul Mikuri kemudian.


“Apa ada seseorang seperti itu?”


“Seperti Yuri. Dia dulu mungkin menginginkannya, tetapi sekarang.... Dia bilang dia tak bisa membayangkan hidup bersama dengan orang lain. Kalau kau mencari orang seperti itu...” tapi ucapan Mikuri dipotong oleh Kazami.


“Aku tak secara khusus mencari pacar. Saat ini ada seorang wanita yang terus saja mengajakku kencan.” Kazami bercerita soal si centil Igarashi. “Dia bahkan tak mengenalku. Apa yang dicarinya?”


Mikuri tersenyum, “Kau mau terhubung secara emosi, 'kan? Bukan hanya dari penampilan. Kau mau dilihat sebagai dirimu sendiri. Kalau begitu, apa kau sudah lihat wanita itu yang sebenarnya? Kenapa kau tak coba melihatnya satu kali?” saran Mikuri lagi.



Hiramasa makan siang bersama Hino-san. Mereka heran, karena tidak biasanya Numata-san mengambil cuti bekerja. Sepertinya Hino-san menyadarinya, kalau Numata-san sedang tidak sehat.


“Dulu aku juga selalu memikirkan hal itu. Kalau aku tiba-tiba pingsan di rumah, siapa yang akan menemukanku?”


“Sekarang kau bisa tenang, ya. Ada istrimu, 'kan. Pernikahan juga sedikit mirip alat keselamatan. Jika sesuatu terjadi pada salah satu dari kalian, meski berat ditanggung sendiri, entah bagaimana kalian bisa menyelesaikannya bersama. Seperti satu bentuk kebijaksanaan untuk bertahan. Apa... aku baru saja mengatakan sesuatu yang baik?” komentar Hino-san.



Numata-san mengunjungi dokter hari itu. Dan menurut pemeriksaan, ternyata ada beberapa luka di lambung Numata-san. Dokter menyarankan agar Numata-san tidak terlalu stres. Bahkan memintanya juga untuk istirahat total lebih dulu.


Setelah selesai bertemu dokter, Numata-san duduk-duduk di luar. Ia merasa aneh, karena tidak berangkat kerja. Tapi ingat situasi kesehatannya saat ini, ia memang memerlukan istirahat.



Mikuri seperti biasa datang ke toko milik Yassan. Kali ini ia bahkan mengendong si imut Hirari. (ya ampun, ni baby imut manis banget sih. baby-nya siapaaaa!)


“Jangan menghela napas, Hirari jadi khawatir. Bukannya kau sangat bahagia?” tanya Yassan.


“Maaf. Ada banyak hal yang terjadi....” tapi Mikuri menghentikan ucapannya. Ia justru memikirkan hal lain. Kalau jujur, aku seperti menyombongkannya, jadi aku takkan melakukannya, tetapi aku benar-benar bahagia! Itu helaan kebahagiaan! Sekarang aku bisa masuk acara itu.


Mikuri pun mulai berhayal. Kali ini ia berhayal bisa datang ke sebuah acara TV yang mendatangkan para pengantin baru. Hiramasa dan Mikuri saling memperkenalkan diri. Mereka kemudian bercerita soal kehidupan mereka. Dari berpelukan, menghabiskan malam bersama di sofa, berciuman sebelum tidur dan menghabiskan waktu seharian di rumah saat libur. Keduanya pun saling pandang dengan senyum malu-malu.


Pelukan harian, ciuman harian...Ini adalah kehidupan pribadi yang dimasuki waktu kerja. Sedikit rasa curang, dan bahagia.



Siapa yang mengira dunia di balik tembok seperti ini? Pernikahan adalah satu bentuk kebijaksanaan untuk bertahan.


Sepertinya kebiasaan berhayal juga mulai menular pada Hiramasa. Di rumah, Hiramasa mengambil minuman kemudian memilih duduk menghadap terasnya. Di luar, seperti biasa ada dua burung emprit yang mampir. Tampaknya kedua burung itu adalah pasangan.


Saat ada angin kencang yang menerpa, salah satu emprit bergeser dan seolah melindungi pasangannya. Hiramasa memerhatikan sikap burung emprit itu dan mulai memikirkan sesuatu.


Tapi suara ponsel membuyarkan lamunan Hiramasa. Dari Numata-san, yang mengatakan akan datang karena ada yang ingin dibicarakannya dengan Hiramasa.



Kazami bersama Igarashi datang ke pameran. Igarashi tadinya berpikir kalau Kazami tidak akan datang. Tapi, Kazami menuruti saran Mikuri untuk mencoba ‘kencan’ dengan Iagarashi.


“Kupikir akan menyenangkan jika pergi bersama laki-laki yang baik,” ujar Igarashi.


“Jadi kau memanfaatkanku....”


“Kau marah?” tanya Igarashi yang dijawab oleh Kazami dengan kata tidak.


Mereka pun berkeliling mengomentari barang-barang yang dipamerkan pada pameran budaya itu.


Dari arah lain, ternyata datang juga Yuri bersama seniornya. Igarashi menangkap perubahan ekspresi Kazami. Kazami menjelaskan kalau mereka bekerja di gedung yang sama. Mereka berempat pun berkeliling bersama, mengagumi lebih banyak lagi pameran. Tapi setelah beberapa lama, mereka pun berpisah dan jalan dengan pasangan masing-masing.


Tapi satu hal yang tidak bisa dibohongi satu sama lain, Kazami maupun Yuri saling curi pandang, melihat satu sama lain.



“Mereka seperti suami-istri yang keren.”


“Mereka bukan suami-istri,” elak Yuri.


“Kau benar-benar mengenalnya, ya. Mereka cocok,” komentar yang diiyakan juga oleh Yuri. “Akan tetapi, yang laki-laki memperhatikanmu, lho. Apa hubungan kalian?”


“Tidak ada. Dia 17 tahun lebih muda,” Yuri tampak tidak nyaman ditanyai seperti itu. Seolah ia diinterogasi oleh seniornya itu.



Yassan mengeluh soal selai sayur jualannya, yang katanya belum ada satupun yang terjual.


“Kenapa kau tidak memasang papan iklan di pintu masuk jalan ini? Di toko roti di sudut,” saran Mikuri.


“Oh, benar! Itu toko roti, jadi beberapa orang pasti ingin selai,” Yassan setuju.


“Sebagai gantinya, kita bisa bilang selai ini cocok sekali dengan roti di sana, dan memasang poster yang merekomendasikan kombinasi ini,” lanjut Mikuri. “Maaf, aku berbicara tanpa diminta lagi.”


Tiba-tiba Yassan mendapatkan sebuah ide, “Ayo ikut denganku!” ajaknya pada Mikuri.



Yassan mengajak Mikuri untuk datang ke sebuah balai pertemuan. Di sana ada banyak pedagang yang tokonya juga terletak di sekitar toko milik keluarga Yassan. Yassan memperkenalkan Mikuri sebagai teman SD-nya yang punya banyak ide.


Pertemuan itu sebenarnya pertemuan rutin para pemilik toko, yang rata-rata adalah generasi kedua atau ketiga. Tapi kenyataannya mereka lebih banyak hanya berkumpul dan minum-minum saja. Dan bahkan membicarakan hal-hal tidak penting.


Mikuri pun mengusulkan, kalau mereka membuat pasar di luar agar orang-orang mau datang dan membeli barang-barang mereka. “Hal itu bisa menarik minat keluarga, dan pelanggan yang biasanya hanya pergi ke supermarket, mungkin teringat kembali ada toko-toko hebat ini di distrik perbelanjaan. Maafkan pemikiran amatirku.”


Tapi rupanya ide Mikuri disambut dengan baik. Mereka berpikir untuk membuat semacam pasar terbuka atau bazar di depan kuil. Jadi, orang-orang tua yang ingin berpartisipasi juga bisa ikut. Mereka pun mulai memikirkan produk apa saja yang akan ditawarkan. Obrolan pun semakin kacau.


Mikuri berusaha menengahi. Ia mengusulkan kalau mereka perlu menentukan akan menjual apa saja, agar tidak ada persaingan antara toko. Selain itu, harga yang ditawarkan juga serendah mungkin. Karena tujuan utamanya adalah mempublikasikan kembali distrik perbelanjaan mereka, maka sebaiknya memang tidak mengeruk banyak untung


“Mikuri, apa kau mau ikut membantu?”


BERSAMBUNG


Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :


Akhirnya, sodara-sodara ... ada perkembanga cukup berani dan cepat dalam hubungan Hiramasa dan Mikuri. Dan malam itu ... #ehe. Yeeeee, Hiramasa sukses menghancurkan tembok tinggi yang selama ini menghalanginya. Waaah, pokoknya di episode ini, om Gen menang banyak deh.

Bening Pertiwi 14.15.00
Read more ...

Yuhuuuu ... ! Ini bagian ketiga dari preview drama musim dingin 2017. Pada umumnya, drama-drama ini akan mulai tayang pertengahan januari atau awal februari. Beberapa di antaranya bahkan masuk antrian berurutan. Jadi, buat yang udah punya kecengan drama, maksudnya inceran drama, siapin kuota dulu ya, sambil nunggu drama-drama musim dingin ini tayang. Yuk deh cek dulu bagian ketiganya. Selamat membaca!




Super Salaryman Saenai-shi


Tayang: pada 21.00 mulai Sabtu, 14 January 2017


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Fukuda Yuichi (Yuusha Yoshihiko Series, Uchuu no Shigoto, Watashi no Kiraina Tantei)


Karya asli: Chuunen Salaryman Saenai-shi oleh Fujiko F Fujio


Genre: Comedy


Pemeran: Tsutsumi Shinichi, Koizumi Kyoko, Muro Tsuyoshi, Kaku Kento, Hayami Akari, Nakamura Tomoya, Shimazaki Haruka, Takahashi Katsumi, Sato Jiro, Sasano Takashi, Yokoyama Ayumu, Fukushima Mariko, Tomiyama Eriko, Kanazawa Miho


Sinopsis:


Saenai (Tsutsumi Shinichi) yang berusia 52 tahun adalah pegawai paruh baya biasa. Suatu hari, dia dipaksa memakai pakaian super oleh pria tua aneh (Sasano Takashi) dan berubah jadi superman. Dengan istri yang menyebalkan, Enko (Koizumi Kyoko) dan dua anak (Shimazaki Haruka, Yokoyama Ayumu), Saenai terjebak antara dunia yang damai dan masalah. Hidup pun tidak seterusnya baik hanya jadi superman. Apa sebenarnya keadilan, damai dan kebahagiaan?


Website: www.ntv.co.jp/saenai




Honjitsu wa, Ohigara mo Yoku


Tayang: pada 22.00 mulai Sabtu, 14 January 2017


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskah: Taniguchi Junichiro


Karya asli: Honjitsu wa, Ohigara mo Yoku oleh Hamada Maha


Genre: karir


Pemeran: Higa Manami, Hasegawa Kyoko, Watanabe Dai, Ishibashi Renji, Yachigusa Kaoru (guest star), Hayami Mokomichi, Funakoshi Eiichiro, Oishi Goro, Ishii Masanori, Abe Megumi, Tachibana Nozomi, Inoue Jun, Dan Jiro, Masu Takeshi


Sinopsis:


Imagawa Atsushi (Watanabe Dai), teman sejak kecil dari seorang office lady Ninomiya Kotoha (Higa Manami), ternyata menikah. Dia datang ke resepsi pernikahan itu dengan suasana hati yang buruk. Tapi, dia mendengar suatu pidato yang keren dalam resepsi itu. Ucapan selamat dari seorang yang terkenal, Kuon Kumi (Hasegawa Kyoko). Terinspirasi oleh pidatonya, Kotoha menjadi murid Kumi dan mulai belajar berbicara. Atsusi kemudian memutuskan untuk menjadi wakil dalam pemilihan dan Kotoha yang mempersiapkan pidatonya. Bisakah pidato buatan Kotoha menggerakkan dunia?


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/ohigara


 



Gin to Kin


Tayang: pada 00.20 mulai Minggu, 8 January 2017


Stasiun TV: TV Tokyo


Penulis naskahs: Yamaoka Junpei (Sniffer, Gurame, Juken no Cinderella), Nemoto Nonji (Otokomeshi, Night Hero Naoto, Hatsukoi Geinin)


Karya asli: Gin to Kin oleh Fukumoto Nobuyuki


Pemeran: Ikematsu Sosuke, Lily Franky, Makita Sports, Usuda Asami, Murakami Jun


Sinopsis:


Morimoto Tetsuo (Ikematsu Sosuke) adalah orang tidak berguna yang tidak bisa menahan diri dari judi. Dia selalu kalah hingga akhirnya jatuh miskin. Suatu hari, Tetsuo bertemu Hirai Ginji (Lily Franky), seorang penyuap berpengaruh yang mengontrol dunia bawah tanah. Tertarik pada Ginji dan ingin mendapatkan yang banyak, Tetsuo memutuskan jadi orang bernama Kin untuk mengungguli Gin dan mulai terlibat dengan dunia bawah tanah.


Website: www.tv-tokyo.co.jp/gintokin


Preview: Gin to Kin Teaser




Dansui!


Tayang: pada 00.55 mulai Minggu, 22 January 2017


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Yoshida Erika (Heroine Shikaku)


Karya asli: Dansui! oleh Kiuchi Tatsuya


Genre: olahraga


Pemeran: Matsuda Ryo, Miyazaki Shuto, Anzai Shintaro, Akazawa Tomoru, Sato Hisanori, Ozawa Ren, Kuroba Mario, Ikeoka Ryosuke, Hirose Tomoki, Kaminaga Keisuke, Saito Kyohei, Nasuda Yudai, Tsukayama Hisanao, Sakurai Keisuke, Kamimura Kaisei, Oura Ryuichi, Moro Morooka


Sinopsis:


Klub renang putra SMA Higashigaoka hanya punya anggota kelas tiga – dengan ketua Sakaki Shuhei (Matsuda Ryo), Shinozuka Daiki (Miyazaki Shuto) dan Koganei Haruyoshi (Akazawa Tomoru). Mereka menerima siswa baru dengan tujuan agar punya anggota lain.


Website: www.ntv.co.jp/dansui




Onna Joshu Naotora


Tayang: pada 20.00 mulai Minggu, 8 January 2017


Stasiun TV: NHK


Penulis naskah: Morishita Yoshiko (Watashi o Hanasanaide, Tenno no Ryoriban, Tonbi)


Genre: sejarah


Pemeran: Shibasaki Kou, Sugimoto Tetta, Zaizen Naomi, Maeda Gin, Kobayashi Kaoru, Miura Haruma, Takahashi Issei, Yagira Yuya, Kanjiya Shihori, Muro Tsuyoshi, Ukaji Takashi, Fukikoshi Mitsuru, Kariya Shunsuke, Denden, Kakei Toshio, Nakamura Baijaku, Shunputei Shota, Onoue Matsuya, Asaoka Ruriko, Abe Sadao, Nanao, Suda Masaki, Ichihara Hayato, Inoue Yoshio, Hanafusa Mari, Takahashi Hikaru, Wada Masato, Komatsu Kazushige


Sinopsis:


Pada masa Sengoku, Ii Naomori (Sugimoto Tetta), kepala keluarga Ii di Totomi (saat ini dikenal dengan barat Shizuoka), terbunuh dalam perang. Tidak ada pewaris pria kecuali seorang putri (Shibasaki Kou). Menggunakan nama yang maskulin, Naotora menjadi pemimpin kastil di masa kacau ini. Tapi, pada vassal tidak bisa menyembunyikan kekecewaan mereka. Mereka berpikir tidak ada satupun wanita yang bisa melakukan itu. Saat ada tiga kekuatan utama, klan Imagaya dari provinsi Suruga, klan Takeda dari provinsi Kai dan klan Tokugawa dari provinsi Mikawa, menunggu kekusaan, kekuasaan Naotora dipertanyakan. Satu-satunya hal yang dapat Naotora andalkan di tempat ini, yang penuh pengaruh militer, adalah kecerdasannya sendiri dan keberaniannya. Dia bergabung dengan rekan-rekannya untuk mengurus provinsi, membuat pertahanan dan membangun pondasi untuk masa depan. Motivasinya adalah cinta untuk tunangannya yang pernah dijanjikannya pada saat mereka masih kecil.


Website: www.nhk.or.jp/naotora


 



Daibinbo


Tayang: pada 21.00 mulai Minggu, 8 January 2017


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskah: Adachi Naoki (Furenabaochin, Underwear, Shitsuren Chocolatier)


Genre: Comedy


Pemeran: Koyuki, Ito Atsushi, Narita Ryo, Kamiyama Tomohiro, Uchida Rio, Imai Shunta, Nozawa Shiori, Kamiyama Tomohiro, Takito Kenichi, Okuda Eiji


Sinopsis:


Perusahaan tempat Saegusa Yuzuko (Koyuki), seorang ibu dengan dua anak (Imai Shunta, Nozawa Shiori), bekerja mendadak bangkrut. Dia kehilangan pemasukan dan tabungannya. Saat dia nyaris menyerah, Yuzuko dihubungi secara tiba-tiba oleh pengacara Kakihara Shinichi (Ito Atsushi). Tapi dia berpikir kalau pengacar aitu orang asing. Kakihara sebenarnya adalah teman masa SMA-nya. Penampulannya mungkin tidak terlalu meyakinkan, tapi dia punya firma hukum dengan pemasukan lebih dari 10 billion yen. Dia menyukai Yuzuko sejam SMA dan berpikir untuk menghubunginya lagi setelah tahu situasinya. Meski Kakihara mengatakan ada rahasia di balik kebangkrutan perusahaan, Yuzuko lebih pedulu dengan pencarian kerja daripada mencari alasan kenapa ia dipecat. Inverstigasi Kakihara menemukan kemungkinan sejumlah 3 billion yen yang ditarik bersamaan. Tanpa disadar, ternyat Yuzuko sudah terlibat untuk mengungkap rahasia itu.


Website: www.fujitv.co.jp/daibinbo




A Life ~ Itoshiki Hito


Tayang: pada 21.00 mulai Minggu, 15 January 2017


Stasiun TV: TBS


Penulis naskah: Hashibe Atsuko (Fragile, Ghostwriter, Boku Series)


Genre: Medical, romance


Pemeran: Kimura Takuya, Takeuchi Yuko, Matsuyama Kenichi, Kimura Fumino, Nanao, Emoto Akira, Tanaka Min, Kobayashi Takashi, Oikawa Mitsuhiro, Asano Tadanobu


Sinopsis:


Saat Okita Kazuaki (Kimura Takuya) mulai bekerja menjadi dokter, dia dipaksa untuk mengundurkan diri dari rumah sakit. Dia meninggalkan kekasihnya Danjo Mifuyu (Takeuchi Yuko) dan pergi ke amerika sendirian. 10 tahun kemudian dia kembali sebagai ahli bedah dengan keahlian luar biasa untuk menolong mantan gurunya, (Emoto Akira). Gurunya ini adalah ayah dari mantan pacarnya. Saat Okita pergi, Mifuyu menikah dengan temannya sendiria Masao (Asano Tadanobu), yang merupakan direktur rumah sakit. Yang lebih parah, teman inilah yang membuat Okita keluar dari rumah sakit 10 tahun silam. Okita harus menghadapai semuanya untuk menyelamatkan gurunya. Tapi dia tidak pernah menyerah oleh cinta, keinginan, persahabatan, kecemburuan ataupun harga diri. Okita mungkin canggung, tapi dia menangani pasien dengan sepenuh hati. Cara hidupnya membuat orang-orang yang bekerja di rumah sakit bertanya pada diri sendiri soal perawat kesehatan yang sebenarnya.


Website: www.tbs.co.jp/ALIFE


Preview: A Life ~ Itoshiki Hito Teaser




Rakuen


Tayang: pada 22.00 mulai Minggu, 8 January 2017


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskah: Shinozaki Eriko (Mare, Chi no Wadachi, Kami no Tsuki)


Karya asli: Rakuen oleh Miyabe Miyuki


Genre: Mystery


Pemeran: Nakama Yukie, Kuroki Hitomi, Kaho, Kaneko Nobuaki, Matsuda Miyuki, Ishizaka Koji (guest star), Kobayashi Kaoru


Sinopsis:


Saat kasus pasangan Doisaki (Kobayashi Kaoru, Matsuda Miyuki) yang membunuh putri 5 tahun mereka dan menyembunyikan tubuhnya di rumah selama 16 tahun dilaporkan, ibu rumah tangga menghubungi Maehata Shigeko (Nakama Yukie), seorang penulis. Wanita ini mengatakan kalu putranya yang berusia 12 tahun mungkin memiliki kemampuan untuk melihat kenangan orang dan bisa membuat ilustrasinya. Ilustrasi itu menunjukkan seorang gadis cilik dengan situasi seperti kasus Daisakis. Shigeko melakukan investigasi tidak sepenuh hati. Tapi, saat itu ada anak mudah meninggal dalam kecelakaan. Seiko (Kaho), putri kedua dari keluarga Doisaki diceritakan oleh pengacara orang tuanya (Kuroki HItomi) untuk berhubungan dengan mereka saat siswi SMA ditahan oleh seseorang.


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/rakuen




Onna no Naka ni Iru Tanin


Tayang: pada 22.00 mulai Minggu, 8 January 2017


Stasiun TV: NHK BS Premium


Penulis naskah: Yoshimoto Masahiro (Keishichou Zero-gakari, Bokura Playboys, Kageri Yuku Natsu)
Karya asli: Onna no Naka ni Iru Tanin oleh Ide Toshiro


Genre: Crime suspense


Pemeran: Seto Asaka, Omi Toshinori, Ishiguro Ken, Kino Hana, Itaya Yuka, Komoto Masahiro, Morioka Yutaka, Nishiyama Mayuko, Nakamura Tomoya, Mihiro, Sasaoka Sasuke, Shono Rin


Sinopsis:


Tanuma Yuriko (Seto Asaka) adalah ibu rumah tangga yang tinggal dengan suaminya Kazuo (Omi Toshinori), dua anaknya dan ibu mertuanya Hatsue. Suatu hari Saori (Nishiyama Mayuko), istri dari teman Kazue, Kusumoto Masafumi (Ishiguro Ken) dicekin hingga meninggal dan mengatakan kalau dia berselingkuh dengannya. Yuriko dicurigai membunuh Saori. Sadar tidak bisa menghindar, Kazuo mengaku telah membunuh dan berusaha menyerahkan diri. Tapi, Yuriko menahannya. Yuriko memutuskan menyembunyikan kejahatan suaminya untuk melindungi keluarganya yang damai. Sebelum Yuriko menyadarinya, orang asing mulai melakukan sesuatu untuk melindungi keluarga tersayangnya...


Website: www.nhk.or.jp/pd/onnanonaka




Shikaku Tantei Higurashi Tabito


Tayang: pada 22.30 mulai Minggu, 22 January 2017


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Fukuhara Mitsunori (Makanai-so, Ofukou-san, Teen Court)


Karya asli: Tantei Higurashi Tabito no Sagashimono oleh Yamaguchi Kozaburo


Genre: Detective


Pemeran: Matsuzaka Tori, Tabe Mikako, Hamada Gaku, Kinami Haruka, Sumida Moeno, Ueno Tatsuya, Shishido Kavka, Kitaoji Kinya


Sinopsis:


Higurashi Tabito (Matsuzaka Tori) adalah penyelidik yang kehilangan keempat inderanya, kecuali penglihatan. Dia adalah detektif luar biasa yang kemampuan terbaiknya menemukan sesuatu. Matanya bisa melihat hal-hal yang tidak tampak bagi orang biasa, seperti aroma, rasa, suhu, berat dan rasa sakit. Permintaan terus saja datang ke agensinya untuk mencari berbagai hal yang tidak dapat ditemukan dengan cara biasa. Tapi, yang paling dicari oleh Tabito sendiri adalah cinta atau ...


Website: www.ntv.co.jp/tabito


Related: Shikaku Tantei Higurashi Tabito Drama Special




Kanjou 8-go Sen


Tayang: pada 23.30 mulai Minggu 15 January 2017


Stasiun TV: Fuji TV 2


Penulis naskah: Akutsu Tomoko (Teddy Go!)


Karya asli: Kanjou 8-go Sen oleh Hatano Tomomi


Genre: Romance


Pemeran: Kawaei Rina, Kurashina Kana, Kanjiya Shihori, Matobu Sei, Ono Yuriko, Hotta Akane, Tanaka Kei, Miura Takahiro, Horii Arata, Sugino Yosuke, Mashima Hidekazu


Sinopsis:


Ogikubo, Hachimanyama, Chitose Funabashi, Futako Tamagawa, Kaminoge and Denen Choufu ... 8 jalur kereta yang menghubungkan enam kota. Meski jaraknya dekat, harus mengganti kereta untuk mengikuti rutenya. Ada wanita (Kawaei Rina, Kurashina Kana, Kanjiya Shihori, Matobu Sei, Ono Yuriko, Hotta Akane) hidup di tiap kota dengan masalah cinta seperti cinta bertepuk sebelah tangan, kekerasan rumah tangga dan perselingkunga. Seperti tetangga yang akrab, hubungan mereka pun terhubung begitu saja. Mereka hanya bisa melihat keberadaan yang lain mungkin karena hubungan wajar ini dan kenapa tidak bisa semuanya baik-baik saja. Mereka khawatir pada banyak hal tetapi tetal berharap menjalani hidup dengan baik.


Website: otn.fujitv.co.jp/kanjo8gosen


 


Cr. All English text from www.jdramas.wordpress.com


Kelana hanya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia


Posting at www.elangkelana.net



Kelana’s note :


Yang menarik dan rekomended? Hmmmm ada Dansui! Buat yang pengen nonton roti sobek di mana-mana, hahaha. A Life, buat yang suka genre medical drama, apalagi yang main om Kimura Takuya. Rakuen ... karena premisnya keren. Dan yang pasti akan masuk list pertama donlotan dan tontonan season ini adalah ... Tabito Higurashi-nya bang Matsuzaka Toori.

Bening Pertiwi 14.08.00
Read more ...