SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 03 part 1. Demi menarik perhatian Shibayama Misaki, Samejima Reiji—pemilik jaringan hotel Samejima—melakukan berbagai hal yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya yang biasa.


Dan perubahan sikapnya ini awalnya dikhawatirkan oleh para karyawan. Tapi pelan-pelan mereka bisa menerima perubahan sikap Reiji yang lebih toleran dan mudah diterima. Sampai kapan Reiji akan terus seperti ini? Apakah akhirnya dia berhasil mendapatkan hati Misaki?



Saat itu karyawan kantor pusat Samejima Hotel bertemu dengan tim PR. Mereka menunjukkan proposal permintaan wawancara dari sebuah majalah terkemuka, NEWSZERO.


“Kantor Presdir tak akan menerimanya. Presdir tidak cocok dengan hal semacam wawancara penuh atau menjadi objek analisa.”


Bahkan meski pewawancaranya adalah seorang jurnalis terkenal, tawaran itu tetap ditolak.



Reiji baru saja datang ke gym saat dilihatnya Misaki juga tengah berolahraga. Ia melirik sekilas papan penanda ‘hanya untuk presdir’ di alat olahraga miliknya, yang hanya berjarak sangat dekat dengan tempat Misaki.


“Boleh aku bertanya?” tanya Reiji kemudian. “Mengenai hal yang kau katakan sebelumnya, soal nama untuk anjing. Apa nama yang terpikirkan olehmu?”


“Membicarakan kembali hal itu agak sedikit memalukan,” elak Misaki.


“Bukankah kau bilang sudah menemukan nama yang bagus?” desak Reiji. “Siapa saja akan penasaran jika menemukan sesuatu hal yang tidak jelas.”


Misaki lalu menyebut sebuah nama, ‘Gosuke’, yang membuat Reiji kaget keheranan. Misaki pun memberikan penjelasannya, “Dari Yuasa Gosuke, seorang samurai perang dari Periode Sengoku. Seorang pria dengan rasa kesetiaan tinggi, yang memberikan hidupnya untuk menepati janji pada tuannya. Juga, kurasa "Gosuke" terdengar sangat cocok untuk anjing itu.”


Reiji kembali dibuat terpesona oleh pengetahuan Misaki, “Apa kau menyukai sejarah Jepang?”


Misaki tersenyum dan mengiyakan pertanyaan sang presdir. “Aku juga memikirkan nama dari Mitologi Yunani dan karakter Kisah Shakespeare. Tapi kurasa nama huruf kanji lebih cocok untuk anjing itu.”



Para karyawan seperti biasa berkumpul usai pulang kantor. Saat itu Misaki datang terlambat dan baru saja bergabung. Mereka ternyata tengah membicarakan Misaki, yang memilih tempat tinggal tanpa fasilitas kamar mandi. Karena biasanya, wanita memilih untuk menghindari hal seperti itu.


Tapi Misaki tampak tidak terganggu, “Tempat tinggalku adalah apartemen tua berusia 40 tahun. Tapi itu hanya tampilan luarnya saja, interior kamarnya sesuai dengan harapanku. Maksudku, di dunia ini hanya ada satu ruangan seperti itu, bukan?”


“Jadi, dimana kau berendam air panas?” karyawan lain penasaran.


“Di sento milik temanku di dekat apartemen,” aku Misaki. Ia juga menyebut tentang kamar mandi di gym kantor perusahaan.


Sekarang obrolan mereka berpindah soal presdir Reiji. Misaki mengatakan kalau tadi ia bertemu dengan Reiji di gym. Mereka heran karena Misaki tidak merasa terganggu atau canggung soal itu. Karena umumnya pegawai memanfaatkan fasilitas gym itu saat presdir tidak ada di sana.


“Dia tidak seburuk dugaan kalian,” ujar Misaki.


Tapi yang lain berpikir kalau belakangan presdir memang sedikit lebih tenang. Bahkan saat Misaki mengatakan kalau presdir cukup ‘lucu’, mereka sama sekali tidak percaya.



Reiji terus saja memencet nomer lima di ponselnya. (Catatan: Nomor 5 adalah "Go" dalam Bahasa Jepang). Ia juga terus saja menggumamkan nama itu, Gosuke. “Bukankah itu nama yang sangat bagus? Terdengar ramah dan lucu, 'kan? Bagaimana jika kita mampir ke toko hewan sebelum pulang?” usul Reiji.


Katsunori-san langsung mengiyakan permintaan sang presdir. Tapi sekt.Maiko menolak mentah-mentah ide itu.


“Kenapa aku tak boleh memiliki anjing dengan nama yang manis?” protes Reiji seperti anak kecil.


“Tempo hari sudah saya katakan bahwa anda tidak cocok memelihara anjing. Katsunori-san yang mengurus anjing tempo hari itu, bukan anda,” ujar sekt.Maiko.


Tapi Reiji tetap berkeras kalau ia perlu punya anjing. Mulai dari menjaga keamanan hingga rasa santai, berbagai alasan diucapkan Reiji. Terakhir bahkan menghubungkan kepemilikan anjing dengan orang yang terlambat menikah. Tidak berhasil membantah pendapat sekretarisnya, Reiji akhirnya menyerah dan mengajak pulang.



Di rumah mewah Reiji.


“Katakan dengan jelas jika aku salah tapi, Bukankah aku dan Shibayama Misaki sudah berkencan?” tanya Reiji pada sekretarisnya. Ini membuat sekt.Maiko bingung. “Lalu kenapa dia pergi ke pusat kebugaran padahal dia tahu bagaimana perasaanku?”


Sekt.Maiko akhirnya mulai paham, “Justru sebaliknya. Dia tidak tahu soal perasaan anda, karena itu dia tidak tertekan hanya berduaan bersama anda.”


“Dia tidak menyadari perasaanku?” Reiji tidak habis pikir. “Apa benar seperti itu...?”


“Tentu saja, karena anda masih belum menyatakan perasaan padanya.”


Tapi logika Reiji sepertinya sudah sulit diajak realistis, “Bukankah aku meminum susu yang aku benci untuk membuatnya kembali bersemangat dan aku memintanya supaya kami berdua memikirkan nama untuk anjing bersama-sama? Tapi, perasaanku masih belum sampai padanya?”


Sekt.Maiko tersenyum, “Dengan cara itu, kebanyakan wanita tak menyadari rasa cinta yang ditujukan pada mereka. Terlebih dari sudut pandang antara Presdir dan pegawainya. Bahkan jika pegawai menyadari perasaan anda. Pegawai wanita yang menerima rasa cinta itu, akan berpikir bahwa hal semacam itu mustahil. Romantisme cinta tidak serta merta dimulai ketika seseorang mencintai orang lain. Orang yang anda cintai mungkin mulai mencintai anda dengan keinginannya sendiri, tapi jika tak menyatakan perasaan pada orang yang disukai maka tak akan ada perkembangan. Demi menyalakan "tombol" pada perasaannya, anda harus menyatakannya. Perasaan anda padanya.”


“Apa aku... harus melakukannya?” Reiji tampak ragu.


“Harus!”


“Sulit sekali. Itu misi yang sulit,” keluh Reiji.


“Ya. Tapi anda pasti bisa melakukannya!”



Reiji memandangi proposal yang diajukan oleh ketua tim Goro-san. Tapi beberapa di antaranya akhirnya hanya berakhir di mesin penghancur kertas. Tapi saat melihat salah satu proposal yang tertulis nama Misaki, Reiji berubah pikiran. “Aku akan mempertimbangkan proyek ini. Aku akan mengurus proses awal,” ujar Reiji.


“Apa kita perlu membentuk tim saat ini juga?” tanya Goro-san.


“Aku, kau dan juga satu orang lagi, pegawai muda dan cakap, itu saja sudah cukup,” usul Reiji.


“Bagaimana dengan orang yang mengajukan proposal ini, Shibayama Misaki? Dia tajam, memiliki keahlian bahasa yang luar biasa dan kemampuan perencanaan dan bisa segera menjadi aset untuk kita,” usul Goro-san lagi.


Reiji pura-pura sok tidak terlalu tertarik, “Jika kau yakin dia bagus, maka seharusnya tak masalah.”


Goro-san pun pamit kembali ke mejanya. Ia memanggil Misaki dan menjelaskan secara singkat proyek ini dan memintanya untuk mempersiapkan segalanya untuk rapat besok.



“Aku iri padamu, Misaki-san. Presdir dan bahkan direktur menaruh perhatian padamu. Padahal kita dipekerjaan diwaktu bersamaan, aku merasakan perlakuan yang berbeda,” curhat Mahiro yang duduk di depan Misaki.


Misaki sendiri tidak terlalu peduli hal itu. Ia bahkan berpikir kalau Mahiro Cuma ingin menggodanya saja. Dan seperti biasa, si Ieyasu ikutan nimbrung obrolan dua orang karyawati ini. Tapi pada akhirnya ia Cuma ingin narsis dan membuat dirinya yang tampak paling penting dan keren. Dan seperti biasa, Misaki sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan obrolan rekan-rekannya ini.



Telepon di meja sekt.Maiko berdering, dari sekretaris presdir Wada. Sang sekretaris lalu memberikan telepon itu pada presdir Wada.


“Halo? Apa malam ini kau punya waktu?” ujar presdir Wada di seberang.


“Maksud anda atasanku, Samejima?”


“Bukan. Maksudku kau, Maiko-chan,” elak presdir Wada.


“Aku minta maaf.Ku rasa aku tak bisa menerima undangan semacam itu,” sekt.Maiko berusaha tetap sopan menolak ajakan itu.


Tapi presdir Wada masih belum menyerah, “Ada seorang wanita bernama Shibayama Misaki di perusahaan kalian, 'kan? Apa tanggapanmu jika ku katakan aku ingin berkonsultasi soal dia?”


Sekt.Maiko kaget, “Bukankah lebih baik anda bicara pada Samejima dibanding denganku?”


“Ya, tapi sulit untuk meminta Samejima-kun datang dan bicara, 'kan? Sebelum secara resmi berkonsultasi dengannya, aku ingin mendengar pendapatmu dulu,” bujuk presdir Wada lagi.



Malam itu sekt.Maiko benar-benar menemui presdir Wada di sebuah bar. Ia ditawari minuman, tapi menolak dengan alasan masih bekerja. Tapi setelah dibujuk, akhirnya sekt.Maiko mau minum cocktail yang direkomendasikan oleh presdir.Wada.


“Bagaimana anda tahu tentang pegawai kami, Shibayama Misaki?” sekt.Maiko to the point.


“Terkadang saat sedang merindukan Paris, aku sering tinggal di hotel tempat dia bekerja. Disanalah kami berkenalan.”


“Apa yang ingin anda konsultasikan denganku?”


“Aku menginginkan dia bekerja di perusahaanku...apa hal itu mungkin,” ujar presdir Wada juga dengan langsung.


Sekt.Maiko dibuat kaget, “Presdir Samejima Reiji tak akan pernah melepaskan dia.”


Presdir Wada heran, karena selama ini Reiji bukanlah tipe orang yang terlalu peduli dengan pegawainya. Tapi sikap aneh sekt.Maiko lalu ditangkap oleh presdir Wada hingga ia menebak kalau si Shibayama Misaki ini adalah tipe presdir Reiji.


“Aku tidak pernah mengatakan apapun,” elak sekt.Maiko, meski sudah ketahuan.


“Tapi kurasa dia terlalu tangguh bagi Samejima-kun,” ujar presdir Wada kemudian. “Butuh keahlian level tertentu untuk bisa memenangkan seorang wanita seperti Shibayama Misaki.”


Sekt.Maiko diantar keluar oleh sekretaris presdir Wada. Sekretaris itu berkomentar jika sudah cukup lama presdir Wada tidak terlihat santai saat minum. Dari sana juga sekt.Maiko mendapat informasi kalau presdir Wada sudah berpisah dengan kekasihnya yang pernah diperkenalkan pada Reiji saat pertemuan asosiasi hotel beberawa waktu silam.



Berbeda dari biasanya, kali ini Reiji tampak sangat bersemangat. Ia membuat sebuah paket yang isinya majalah. Dan setelah membuka majalah itu, Reiji pun berteriak girang. Ternyata majalah itu adalah majalah khusus jamur. Dan salah satu foto Reiji yang berhasil mengabadikan sebuah jamur yang cukup langka ternyata berhasil masuk dan diterbitkan oleh majalah itu.


“Aku berhasil!”



Pagi berikutnya, Reiji sudah ngomel-ngomel pada sekt.Maiko. Sekt.Maiko meminta Reiji untuk mundur saja dari usahanya mendapatkan Misaki. Dia berpikir kalau usaha Reiji hanya akan sia-sia saja, kalau hanya menunjukkan majalah tentang jamur itu.


“Bukankah wanita menyukai pria yang memiliki sisi tidak terduga? Bukankah ada sisi berbeda yang jika diungkap akan membuat seseorang lebih menarik?”


“Saya tidak melarang anda melakukannya. Hanya saja, jika menurut anda bisa memenangkan hatinya dengan menunjukan foto ini, anda salah,” sekt.Maiko mencoba menjelaskan.


Tapi dasar Reiji yang sudah dibutakan cinta, dia tetap saja berkeras akan menunjukkan majalah itu pada Misaki. Reiji bahkan sudah mengandai-andai jawaban Misaki setelahnya. Tapi sekt.Maiko berpikir sebaliknya, bagaimana jika ternyata respon Misaki tidak sesuai dengan dugaan Reiji.


“Bukankah memalukan jika seorang presdir tak bisa mengatakan hal sederhana seperti itu?” tantang Reiji.



Reiji melakukan rapat bersama ketua tim Goro-san dan juga Misaki. Setelah presentasi dan evaluasi, Reiji masih sempat-sempatnya mencoba menarik perhatian Misaki dengan menunjukkan majalah jamur-nya. Sayangnya usaha itu tetap sia-sia, karena Misaki sama sekali tidak tertarik. Rapat sudah selesai, dan Reiji pun keluar ruang rapat.


Saat itu, ketua tim Goro-san bertanya pada Misaki soal pertemuannya dengan presdir Goro, pemilik Stay Gold Hotel. Reiji yang mendengar itu ikut menguping di luar.


“Lebih kepada hubungan antara klien dan pegawai hotel tempat kerjaku sebelumnya,” elak Misaki.


“Tapi Wada-san bilang kalian berdua pernah dua kali pergi makan bersama.”


Misaki tertawa, “Dia terlalu membesar-besarkan. Kami memang pernah dua kali makan bersama di sebuah restoran di Paris tapi...”



Mendengar obrolan itu, Reiji kesal luar biasa. Belum selesai ucapan Misaki, Reiji memilih kembali ke ruangannya. Ia pun mulai ngomel-ngomel seperti biasa. Dan kali ini mengumpat Misaki yang pernah jalan bersama presdir Wada di Paris. Katsunori-san kaget mendengar berita itu. Tapi sekt.Maiko tampak tidak banyak bereaksi, membuat Reiji heran. Baru setelah ditegur Reiji, sekt.Maiko pun menunjukkan ekpsresi kagetnya.


“Pernah makan bersama tidak berarti, aku bertaruh setelahnya mereka bahkan berciuman,” ujar Reiji.


Sekt.Maiko menolak ide itu. Tapi Katsunori-san justru memperburuk suasana dan membuat kemarahan Reiji makin meningkat.


“Setelah seorang pria minum alkohol, entah apa yang akan terjadi saat dia cipika-cipiki dengan seorang wanita muda? Dia akan berubah menjadi serigala. Dan dari semua orang, kenapa harus Wada!? Di Paris pula! Aku yakin dia tak akan puas hanya dengan sekali ciuman. Jangan-jangan...!” pikiran Reiji sudah semakin liar saja.


“Presdir Wada bukan pria mata keranjang,” bela sekt.Maiko.


Reiji heran, “Kau memihak Wada?”


Sekt.Maiko gelagapan menanggapi tududah presdir-nya itu, “Bukan begitu.”


“Kali ini tak akan kumaafkan!” ujar Reiji yang kesal luar biasa. Ia pun mengatakan semakin benci pada presdir Wada. Reiji manyun, merajuk seperti biasanya.



Bahkan setelah sampai rumah, Reiji masih saja terus merajuk, “Aku tak peduli di masa lalunya dia pergi makan dengan siapa. Tapi dari semua orang, kenapa harus Wada? Kenapa dia dan Wada makan bersama di Paris?”


Sekt.Maiko berusaha memperbaiki situasi, “Ini hanya tebakan saja, tapi mungkin dia berniat merekrutnya? Mungkin Presdir Wada mengakui keahliannya dan mengundangnya untuk bekerja padanya. Namun, dia tidak menerimanya dan lebih memilih bekerja di Samejima Hotel. Jika seperti itu yang terjadi, apa perasaan anda akan berubah?”


Membujuk Reiji tidak pernah mudah, “Perasaanku tak akan pernah berubah.”


“Bagaimana jika anda pastikan langsung darinya?” usul sekt.Maiko kemudian.


“Aku harus bertanya padanya?” Reiji berbalik badan.


Dan bujukan sekt.Maiko kali ini berhasil meluluhkan Reiji. Reiji berniat akan memecat Misaki besok, jadi ia berniat menanyai semua detailnya lebih dulu.



Hari berikutnya, Reiji benar-benar memanggil Misaki dan minta penjelasan.


Tanpa merasa takut atau apapun, Misaki mengiyakan semuanya. Ia mengaku benar pernah makan malam dengan presdir Wada tahun lalu. Saat itu presdir Wada berkali-kali mengundangnya untuk datang dan bekerja di Stay Gold Hotel. Reiji penasaran kenapa Misaki menolak tawaran itu.


“Itu karena aku tertarik dengan cara Samejima Hotel mengelola hotel mereka,” aku Misaki.


“Ini kali pertama aku mendengarnya,” kemarahan Reiji perlahan meredup.


“Tidak, Pak. Aku mengatakannya pada anda saat wawancara pekerjaan. Sebelum bergabung dengan manajemen Samejima Hotel aku menginap di kelima hotel anda. Aku terkesan dengan pemanfaatan setiap lokasi hotel dan keunikannya.”


“Tapi hotel Wada menempati peringkat terbaik di dunia 5 tahun berturut-turut. Bukankah lebih menguntungkan untuk bekerja disana?” pancing Reiji, ingin tahu reaksi Misaki yang sebenarnya.


“Setiap orang memiliki standar penilaian masing-masing. Untukku, aku senang bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki kesempatan menjadi No. 1 di masa depan dibanding bekerja di perusahaan yang saat ini menempati No. 1.”


Reiji berbalik membelakangi Misaki. Dia menahan senyum bahagianya dan berusaha bicara tetap dengan wibawa, “Begitu. Apa kau sangat menyukai Samejima?” dan jawaban ‘iya’ dari Misaki membuat senyum Reiji makin lebar.



Reiji makan siang ditemani sekt.Maiko dan Katsunori-san. Dengan lahap Reiji memakan menu sirip ikan hiu di depannya. Sementara sekt.Maiko berkali-kali melirik sebal pada Reiji sambil mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Reiji tidak mendengarkan ucapannya, padahal semua dugaannya benar.


“Kemarin, tanpa ragu anda mengatakan membenci dia dan akan memecatnya,” keluh sekt.Maiko.


“Dimana ada orang bodoh yang akan memecat seorang pegawai berbakat?” ujar Reiji, masih asyik dengan makanannya.


Perasaan Reiji sedang senang-senangnya. Belum lagi ditambah fakta kalau wanita yang disukainya sangat senang bekerja di perusahannya, dan lagi dia menolak tawaran dari presdir Wada, saingan Samejima Hotel.


Sebuah ide terlintas di kepala Reiji. Ia menghentikan makannya dan bicara serius, “Aku mengerti sekarang. Yang sebenarnya dia sukai bukan perusahaanku. Yang sebenarnya dia suka adalah aku.” (abaikan Reiji yang sok pede ini)


Sekt.Maiko mengernyit heran, “Apa yang membuat anda berpikir begitu?”


Reiji mulai mengocah hal tidak jelas soal film Totoro dan Studio Ghibli. Ia menganalogikannya dengan perusahaannya. “Dengan kata lain, dia yang suka pada hotel yang aku dirikan sudah pasti dia juga suka padaku. Kenapa aku tak menyadari hal sesederhana ini sebelumnya? Maiko, yang kau sebut sebagai tombol cinta miliknya sudah menyala bahkan sebelum dia bekerja untukku. Tidak perlu bersusah payah menempuh resiko. Jika aku bekerja dengan baik seperti yang ku lakukan sebelumnya perasaanya akan serta merta menghampiriku.”


Jelas kesimpulan ini ditolak mentah-mentah oleh sekt.Maiko, “Tidak ada waktu untuk bereksperimen! Waktu anda hanya dua bulan hingga pesta.”


Tapi Reiji tetap saja sok pede, “Jika aku menambah ritme bekerjaku, maka tak akan ada masalah. Aku akan mengumumkan proyek baru!”



Pertemuan di kantor hari berikutnya,


“Akhirnya, Samejima Hotel memutuskan untuk memulai pembangunan hotel ke-6 yang sudah lama dinantikan. Sejauh ini, dari penelitianku, seleksi akan berfokus pada wilayah potensial untuk bisnis di pusat Tokyo dan target pembukaan dipatok tahun depan,” Reiji mulai presentasinya.


Proyek ini disambut meriah oleh para staf. Tapi untuk proyek ini, akan ditangani langsung oleh Reiji. Dan seperti biasa, Reiji mengatakan moto perusahaannya, Target... Kecepatan Penuh... Dua bulan! Yang lebih heboh lagi, Reiji meyakini kalau ia bisa menyelesaikan tahap awal proyek ini hanya dalam dua minggu dan kemudian meralatnya menjadi dua hari saja.


“Pak, bagaimana dengan proyek renovasi hotel di Kyoto?” tanya ketua tim Goro-san.


“Ku serahkan padamu untuk menambah anggota tim,” ujar Reiji yang langsung diiyakan oleh ketua tim Goro-san dan beberapa karyawan lain yang bersedia untuk bergabung.



Tanpa membuang lebih banyak waktu, Reiji langsung memulai proyeknya. Pemilihan tempat dilakukan sendiri dan secara langsung. Setelah memperkirakan tempat yang akan dituju, Reiji benar-benar mendatangi tempat-tempat yang dimaksud.


Reiji melakukan survei ke sebuah tempat ramai, tempat banyak orang berlalu-lalang di depan Stasiun Shinagawa. Tempat berikutnya yang dikunjungi Reiji adalah sebuah tempat lapang yang masih kosong. Kemungkinan tempat ini yang diincarnya untuk dijadikan tempat hotel ke-6.



Pulang ke rumah pun, Reiji masih terus bekerja hingga larut malam. Dan paginya, ia terkantuk-kantuk hingga nyaris melewatkan mobil yang menjemputnya.


“Bukankah mustahil menekan proyek ini hanya dalam dua hari?” tegur sekt.Maiko pagi itu.


“Dua hari jelas mustahil. Seharusnya tiga hari,” jawab Reiji, masih keras kepala.


Di kantor, Reiji bertemu dengan tim pengembang. Mereka membahas rencana pengembangan hotel baru itu. Selesai rapat, Reiji masih melanjutkan mempelajari rancangan hotel baru di dalam ruangannya.


Sementara itu di luar, tim yang dipimpin oleh ketua tim Goro-san juga sudah melanjutkan pekerjaan mereka untuk proposal sebelumnya. Gosip tentang rencana hotel baru dan pemilihan tempat juga sudah sampai pada mereka. Para karyawan sudah sangat tertarik dengan hotel baru yang rencananya akan dibangun di tengah kota.


Tapi ... bagaimana dengan perjuangan cinta Reiji?


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 03 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.51.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 02 part 2. Samejima Reiji marah besar saat tahu karyawan yang pernah dipecatnya, Matsuda-san ternyata dicarikan tempat kerja baru di hotel milik saingannya, Stay Gold Hotel.


Tapi saat tahu kalau orang yang bertanggungjawab atas pekerjaan baru ini adalah Shibayama Misaki, kemarahan Reiji mengendur. Meski begitu, dia beradu argumen dengan Misaki. Sayangnya Misaki lebih unggul kemudian.



Huru-hara ini akhirnya membuat para staf berpikir untuk menghubungi bos Saty Gold Hotel, Presdir Wada agar membatalkan penerimaan terhadap Matsuda-san. Reiji ternyata mengintip dari balik pintu ruangannya. Perdebatan dengan sekretarisnya membuat Reiji akhirnya mengambil keputusan yang sangat tidak ‘Reiji banget’.


“Sekarang ,aku akan pergi menemui Wada, untuk menyampaikan salam,” ujar Reiji keluar dari pintu sebelah. Ini membuat para karyawan keheranan. “Meminta dia mengurus seorang mantan pegawai. Juga dengan kerendahan hati memberikan sekotak kue, itu adalah tanggungjawab pimpinan.” Reiji lalu mengajak sekretarisnya pergi.


Para karyawan itu hanya bisa menganga tak percaya dengan sikap Reiji yang berubah sama sekali.



Diantar sopir dan sekretarisnya, Reiji tiba di depan Stay Gold Hotel. Dia diterima langsung oleh presdir Wada. Dengan sikap tiba-tiba ini, presdir Wada juga curiga, jangan-jangan Reiji punya rencana.


“Tentu saja tidak. Sebagai mantan atasan, hal ini sudah sewajarnya,” Reiji memaksakan senyumnya.


Sekt.Maiko lalu meminta kedua presdir itu untuk berjabat tangan. Lalu dia sendiri mengambil foto keduanya. Presdir Wada tampak tersenyum seperti biasa. Sementara itu Reiji tampak sangat memaksakan senyumnya.



Kantor pusat Samejima Hotel heboh. Para karyawan itu membuka email mereka dan melihat foto yang tadi diambil oleh sekt.Maiko. Tampak presdir Wada dan presdir Reiji bersalaman dengan wajah tersenyum.


“Foto ini seperti Obama dan Putin!”



Reiji kembali ke kantornya. Di depan lift, ditemuinya salah satu karyawannya memarahi karyawan yang lain karena terlambat. Orang yang terlambat mengaku kalau itu bukan salahnya, karena itu masalah kereta yang mengalami penundaan. (kemungkinan keterlambatan kereta di Jepang sangat kecil. Sehingga alasan terlambat karena kereta sepertinya akan sulit diterima di sana )


“Ada apa, Maruta? Maafkan saja dia,” ujar Reiji.


“A... apa anda yakin, Pak?” sang karyawan hanya bisa bengong mendengar ucapan Reiji yang sama sekali tidak terduga ini.



Di kesempatan lain, Reiji juga terus menguping pembicaraan para karyawannya. Saat itu salah satu karyawan mengatakan kalau di luar sedang hujan. Beberapa dari mereka mengaku tidak membawa payung karena berpikir hari akan cerah.


Tahu ada kesempatan, Reiji mengambil setumpuk payung dari ruangannya dan membawanya keluar. “Kalian semua beruntung. Ada banyak stok payung di lokerku. Silakan gunakan sesuka kalian.”


Para karyawan kembali dibuat terkejut oleh sikap sang presdir, sekaligus senang. Reiji yang kembali ke ruangannya masih terus menguping obrolan para karyawan. Ia benar-benar ingin bersikap baik pada para bawahannya itu. Sayangnya, orang yang dingin dicuri perhatiannya, Misaki, justru tidak mengambil payung yang disediakan oleh Reiji karena sudah membawa payung sendiri.



Reiji berjalan keluar dari kantornya. Di depan, ia melihat dua anak kecil tengah meletakkan anjing di dalam kardus. Anjing itu rupanya tidak punya rumah. Tanpa ragu, Reiji pun mengambil anjing itu dan mengatakan pada dua anak tadi, kalau ia akan memeliharanya. Selain kedua anak tadi yang dibuat senang oleh Reiji, ada karyawannya juga yang melihat semua itu.


Tidak lama setelahnya, Misaki juga keluar dari kantor. Sayangnya Misaki tidak terlalu tertarik apalagi terkesan dengan sikap Reiji yang berbaik hati mengambil anjing itu. Misaki hanya menyapa sekadarnya dan berlalu pergi. Bahkan Reiji hanya dibuat bengong karen lagi-lagi usahanya menarik perhatian Misaki, kembali gagal.



Para karyawan makan malam bersama di sebuah restoran. Dan tema obrolan mereka malam itu adalah sang bos, presdir Reiji.


Dari Reiji yang tiba-tiba saja begitu perhatian, memberikan payung untuk mereka. Reiji yang menraktir jus saat makan siang. Lalu Reji yang perhatian dan mengingatkan agar karyawannya tidak sakit. Reiji yang memaafkan keterlambatan salah satu karyawannya. Hingga Reiji yang berbaik hati mau memelihara anjing yang tidak punya rumah. Mereka berpikir sikap Reiji berubah sejak kasus Matsuda-san.



Reiji pulang ke rumah mewahnya bersama sekt.Maiko dan sopir Katsunori-san. Sekt.Maiko memuji sikap Reiji belakangan terhadap karyawan. Ia tampak lebih baik di depan paran karyawan, dan tentu saja di depan Shibayama Misaki.


“Presdir, saya tak mau berpikiran buruk tapi, apa mungkin anda kehilangan ketertarikan padanya?” tanya sekt.Maiko hati-hati.


Tapi Reiji ternyata memikirkan hal lain, “Aku tahu! Sebenarnya aku bukan ingin terlihat sebagai pria toleran. Yang perlu ku lakukan hanya berbincang dengannya! Apa saja boleh selama tidak berhubungan dengan pekerjaan. Tidak, jika dia ingin bicara, tak masalah meski kami harus membicarakan Wada. Saat ini, sebaliknya aku tidak ingin bersikap tergesa-gesa padanya. Itulah yang aku inginkan.”


“Pak, hal yang anda maksud itu disebut kencan,” ujar sekt.Maiko menyimpulkan. “Bukankah lebih baik jika anda mengajaknya kencan?”


“Hal itu tidak mudah,” Reiji mengelak cepat.


Sekt.Maiko lalu menceritakan kalau Misaki punya jadwal bertemu perusahaan pemasaran di hari Sabtu, artinya dia masuk kerja di hari libur. Tapi Reiji mengelak kalau ia tidak punya pekerjaan hari itu. Menurut sekt.Maiko, bukan hal aneh kalau Reiji yang seorang presdir datang ke kantornya sendiri. Tapi Reiji terus saja menyebutkan alasan.


“Bukankah ini kesempatan yang anda tunggu untuk melakukan percakapan santai dengannya?” bujuk sekt.Maiko lagi.



Dan benar saja seperti yang diceritakan oleh sekt.Maiko. Hari itu Sabtu, hari libur kantor tapi Shibayama Misaki tetap masuk seperti biasa. Dia bertemu dengan dua orang perwakilan dari perusahaan pemasaran.


Kantor benar-benar tampak sepi. Tidak ada pegawai lain yang datang ke kantor hari itu. Misaki menjelaskan semua detail yang diminta klien itu dengan lancar soal fasilitas apa saja yang diberikan hotel. Termasuk fasilitas khusus untuk anak-anak.



Hari itu, masih pagi. Reiji akhirnya memutuskan mengikuti saran sekretarisnya. Ia membawa serta anjingnya untuk jalan-jalan. Tapi Reiji tampak kesulitan mengajak anjing itu berjalan, karena si anjing terus saja berputar-putar di kaki Reiji.


“Berapa lama dia akan sampai ke kantor?” sekt. Maiko bersama sang sopir menunggu dalam mobil Mereka memerhatikan Reiji yang tengah berjalan di depan, agak kesulitan.


“Dengan kecepatan ini, aku yakin akan memakan waktu satu setengah jam,” ujar Katsunori-san, si sopir.


“Dia memilih berjalan kaki padahal kita bisa mengantarnya hingga ke dekat kantor.Aku sama sekali tak mengerti,” komentar sekt.Maiko.


Katsunori-san menanggapinya sebagai bentuk usaha Reiji karena tidak mau berbohong soal perasaannya. Padahal sebenarnya usaha ini, berjalan-jalan di hari libur lewat depan kantor sebenarnya juga modus alias bohong. Belum lagi jalan-jalan bersama anjing.


Setelah beberapa lama berjalan, Reiji menelepon sekt.Maiko, “Mengikutiku dari belakang terasa tidak nyaman, jadi kalian pulang saja.” ujar Reiji kemudian.


“Tapi anda akan pulang dengan apa?” sekt.Maiko khawatir.


“Aku sedang mengajak anjing jalan-jalan. Jadi sudah tentu aku akan pulang dengan berjalan kaki. Jangan khawatirkan soal itu,” pinta Reiji lagi.


Sekt.Maiko hanya mengiyakan permintaan bosnya itu. Ia dan Katsunori-san saling pandang sebelum akhirnya setuju untuk pulang dan tidak mengikuti Reiji lagi.



Reiji sudah sampai di depan gedung kantornya. Tapi belum ada tanda-tanda kehadiran Misaki sama sekali. Ia bahkan menggendong si anjing yang teru saja ribut. Hingga saat nyaris menyerah dan berbalik pulang, Reiji dikejutkan dengan kehadiran Misaki.


“Aku ada pertemuan dengan perusahaan pemasaran,” ujar Misaki saat ditanya oleh Reiji.


“Oh, begitu. Terima kasih sudah bekerja di hari libur,” ujar Reiji dengan canggung.


“Anda sendiri, Pak?”


“Seperti yang kau lihat, Aku sedang jalan-jalan dengan anjing,” Reiji kembali mencoba menarik perhatian Misaki. “Melihat anjing yang malang aku merasa tidak tega dan membawanya pulang bersamaku. Kurasa aku pria yang terlalu baik tapi...”


Tapi Misaki sudah lebih dulu tertarik dengan si anjing hingga tidak terlalu memerhatikan ucapan sang presdir. Puas menyapa si anjing, Misaki pun pamit pergi.



Usaha Reiji nyaris gagal hingga akhirnya ia kembali memanggil Misaki.


“Aku ... punya sesuatu yang ingin ku katakan padamu. Jika kau tidak keberatan, bisakah kau dan aku...kita berdua memikirkan nama anjing ini?” Reiji mencari alasan. “Dia masih belum memiliki nama. Aku membeli buku ensiklopedia nama tapi. Aku kesulitan menemukan nama yang cocok.”


Misaki heran, “Kenapa aku?”


“Karena...kau boleh juga.” Reiji gelagapan mencari alasan yang tepat, hingga dia hanya mengatakan hal tidak penting.


Misaki tersenyum mengerti, “Aku mengerti. Aku akan menemukan nama yang bagus hingga Hari Senin nanti.”


Misaki lalu minta izin untuk mengambil foto si anjing. Tapi Reiji justru mengusulkan agar Misaki berfoto bersama si anjing dan dia yang mengambil gambar mereka. Misaki setuju lalu memberikan ponselnya pada Reiji.


Sangat senang, Reiji justru mengambil foto tidak fokus pada si anjing. Ia justru fokus pada wajah Misaki. Beberapa foto diambil Reiji dengan ponsel Misaki. Ia pun mengusulkan agar mengambil juga dengan ponselnya—sebagai alasan untuk mendapatkan foto Misaki. Tapi Misaki menolak dan mengatakan sudah cukup.



Reiji melanjutkan jalan-jalannya. Ia berhenti di dekat perahu yang bersandar, masih senyum-senyum karena pertemuannya tadi dengan Misaki. Tapi dua orang anak yang kemarin meletakkan anjing di dalam kardus mendatanginya bersama seorang wanita. Wanita itu mengaku sebagai pemilik si anjing dan meminta kembali anjing itu dari Reiji.


Merasa punya janji, Reiji enggan melepaskan si anjing. Karena anjing itulah alasan ia bisa berbicara dengan Misaki. Reiji bahkan bersedia membayar berapapun untuk anjing itu. Sayangnya si empunya berkeras mengambil anjing itu. Dan dengan terpaksa Reiji pun harus merelakannya.


“Jika janji itu jadi tak berguna, pikirkan saja rencana lain,” saran salah satu anak.


“Rencana lain... apa itu?” tanya Reiji.


“Kau harus memikirkannya sendiri. Yang tahu apa hal yang akan menyenangkan wanita itu bukan kami. Tapi kau, Oji-san!” ujar salah satu bocah itu. Mereka berdua lalu beranjak pergi dengan senyum-senyum, berhasil mengejek Reiji.



Reiji kembali ke kantor. Ia mengacak-acak kotak di dalam ruangannya, mencari sesuatu. Saat itu senja sudah mulai menjelang. Tapi Reiji tidak menemukan yang ia cari. Reiji memutuskan menyerah. Di depan kantor, sudah datang Katsunori-san yang datang menjemputnya.


“Oh... maaf,” Reiji menyesal sudah meminta supirnya itu pulang tapi sekarang minta dijemput lagi.


“Sama sekali tidak.”



Hari lain


Jam makan siang sudah datang. Kali ini para karyawan kompak untuk makan siang bersama. Tahu ada kesempatan, Reiji buru-buru menyusul mereka di depan lift dan mengatakan akan bergabung. Beberapa karyawan bereaksi khawatir, akan terjadi insiden seperti saat pesta untuk karyawan baru sebelumnya. Tapi Reiji tampak tidak peduli.


Reiji bersama para karyawan akhirnya makan bersama di sebuah restoran China. Seperti yang lalu, suasana agak kaku. Tapi, setelah selesai makan, Reiji mengeluarkan tempat kecil buatan Matsuda-san dari sakunya. Ia sengaja mengangkat tinggi-tinggi benda itu, agar anak buahnya menyadari.


Sedikit terbata, Reiji mulai bicara, “Oh... Terserah pada Matsuda. Tapi jika dia masih ingin bekerja bersama kita, maukah kau mengatakan padanya untuk kembali?” sebenarnya Reiji mengatakan ini pada Misaki. Tapi seolah mengatakan pada semuanya.


Mendengar semua itu, para karyawan tersenyum senang dan lega. Mereka bahkan mengucapkan terimakasih pada Reiji.


“Juga katakan hal sama pada penyambut tamu itu,” lanjut Reiji. “Ya, tidak adil jika hanya Matsuda yang diperbolehkan kembali. Tapi...! Ini adalah proyek rahasia. Aku minta kalian untuk tak membocorkan masalah ini pada staf di Hakone.”


Para karyawan itu mengiyakan permintaan sang bos. Mereka mengangguk mengerti dan setuju untuk tutup mulut.



Dan usaha Reiji sepertinya berhasil. Matsuda-san dan si penerima tamu, Dazai-san akhirnya kembali ke hotel di Hakone. Mereka disambut hangat oleh manager hotel dan juga para karyawan lainnya.


Sementara itu, Reiji memerhatikan mereka dari lantai atas, “Hal semacam itu membuat mereka sebahagia ini?” pertanyaan Reiji yang diiyakan oleh sekretarisnya.


Para karyawan yang sedang reuni itu pun melihat bos mereka di lantai atas. Lalu memberikan senyum dan hormat pada Reiji yang dibalas Reiji dengan sedikit anggukan.



Reiji sudah di pintu depan bersiap pulang. Saat itu si penerima tamu yang baru kembali bekerja yang mengantarkannya. Ia merasa sangat berterimakasih karena sudah diijinkan untuk bekerja kembali. Reiji bahkan bertanya soal bayi si penerima tahu itu. Disebutkannya jika bayinya baru lahir dua hari silam, tetapi ia kesulitan mencarikan nama untuknya.


Reiji teringat sesuatu. Ia pun mengambil buku ensiklopedia nama yang sempat dibelinya. (tadinya untuk mencari nama anjing). Reiji pun memberikan buku itu pada di penerima tamu.


“Anda baik sekali bersusah payah memberikan ini pada seseorang seperti saya,” si penerima tamu sangat terkesan dengan sikap bos-nya yang sama sekali berbeda ini.


“Jangan pikirkan soal itu. Tugas pimpinan untuk peduli pada setiap pegawainya benarkan?” ujar Reiji masih dengan canggung.



Obrolan para karyawan masih seputar bos mereka, Samejima Reiji yang belakangan berubah total. Dan si narsis Ieyasu pun mengatakan kalau si bos berubah setelah makan siang bersamanya. Ide ini jelas ditolak mentah-mentah oleh karyawan lainnya.


Mereka sudah tidak heran dengan kenarsisan karyawan satu ini dan memilih mengabaikannya saja. Daripada mendengarkan ocehan Ieyasu yang lebih banyak bualannya, para karyawan ini memilih melanjutkan saja pekerjaan mereka.



“Bisa tolong tanda tangan?” pinta Mahiro pada ketua tim Goro-san. Karyawati satu ini justru berusaha menarik perhatian sang ketua tim.


“Tentu, berikan padaku,” ujar ketua tim Goro-san.


Tapi dasar Mahiro yang ke-geer-an, dia langsung terlalu bahagia diberi senyum oleh ketua tim Goro-san. Mahiro menyusul Misaki yang tengah mempersiapkan rapat di ruangan sebelah dan pamer soal senyum ketua tim Goro-san.


“Kau punya seseorang seperti itu? Seseorang di dalam perusahaan yang bisa membangkitkan semangatmu saat kau melihatnya?” tanya Mahiro.


Misaki berpikir, “Tidak terpikirkan siapapun,” ujarnya kemudian.


“Sayang sekali jika kau tidak punya. Itu satu-satunya yang membuat hari-hari kita yang membosankan menjadi berwarna. Jangan abaikan perkataanku. Aku serius,” rajuk Mahiro kemudian yang hanya ditanggapi Misaki dengan senyum saja.



Reiji berjalan keluar dari lift dan berpapasan dengan Misaki. Saat itu keinginannya untuk disapa Misaki pun berhasil. Reiji tampak sangat senang dan penasaran. Tapi ia tetap memasang wajah se-cool mungkin.


“Sepertinya anda sudah menemukan pemilik anjing itu,” ujar Misaki.


“Oh... benar.”


“Aku ikut senang untuk anjing itu, tapi aku sedikit kecewa. Aku sudah memikirkan beberapa nama yang sangat bagus...nama yang cocok untuk anjing itu,” ujar Misaki lalu pamit pergi.



Reiji asyik mengotak-atik laptopnya. Saat itu sekt.Maiko yang datang bahkan dihalangi saat ingin tahu apa yang dilakukan Reiji. Tapi sang sekretaris lebih tahu dari siapapun soal bos-nya ini.


“Presdir, tolong berhenti mencari anjing hanya agar Shibayama Misaki bisa menamainya.”


“Aku hanya mencari tahu jenis-jenis anjing,” elak Reiji.


“Jujur saja, memelihara anjing tidak cocok untuk anda. Anda belum pernah membesarkan anjing sebelumnya, 'kan?”


“Sudah ku katakan aku tahu, 'kan?” elak Reiji.


“Sebelum mencari di website anjing, ada sesuatu yang harus anda lakukan. Segeralah ajak dia berkencan,” saran sekt.Maiko.


“Jika saja melakukannya semudah bicara!” Reiji merajuk.


Sekt.Maiko kembali mengingatkan, “Jika anda terlalu santai, maka akan terlambat untuk pesta. Sebelum menyadarinya, waktu dua bulan sudah berlalu.”


“Aku tahu! Kau menjengkelkan sekali!” Reiji manyun-manyun pada sekretarisnya itu, membuat sekt.Maiko keheranan. (ngambeknya Reiji unyuuuuu)



Ketua tim Goro-san menemui presdir Wada dan minta maaf soal Matsuda-san.


Tapi presdir Wada menanggapinya dengan santai, “Tidak masalah. Dia memberiku sekotak kue sebagai ucapan permintaan maaf. Selain itu, ada orang lain di Samejima Hotel yang aku inginkan.”


Ketua tim Goro keburu ge-er, “Bisa beri aku waktu sedikit lebih lama untuk berpikir?”


“Oh, bukan kau. Shibayama Misaki.”


“Kenapa kau bisa tahu dia?” ketua tim Goro-san tidak menyangka kalau nama itu yang keluar.


“Karena orang pertama yang tertarik padanya adalah aku. Saat di Paris... “ ujar presdir Wada dengan senyum penuh arti.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 03 part 1


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Ada yang tanya, sebenarnya presdir Wada ini jahat atau baik? Na sendiri belum punya jawabannya. Ntar simpulkan sendiri aja ya, setelah simak episode-episode berikutnya.

Bening Pertiwi 15.07.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 02 part 1. Kehidupan damai dan membosankan Samejima Reiji, bos jaringan hotel Samejima, mendadak berubah karena kehadiran sang karyawan baru. Mulanya Reiji hanya ingin menjadikannya wanita yang bisa diajak ke pesta asosiasi hotel. Tapi semuanya berubah.


Semangat Reiji mendadak sirna saat sekretarisnya melaporkan kalau wanita incarannya, Shibayama Misaki ternyata sudah punya pacar. Dan lagi, pria itu adalah seorang pria Belgia bernama Gabriel.



Rasa campur aduk membuat Reiji keluar dan menghampiri Misaki di mejanya. Tapi melihat tatapan Misaki, Reiji tidak berkutik.


“Aku pinjam...stepler,” hanya itu yang keluar dari bibir Reiji.


Meski bingung, Misaki pun memenuhi permintaan sang bos. Ia mengambilkan stapler dan memberikannya pada Reiji. Setelahnya Reiji langsung berbalik kembali ke ruangannya, tanpa berkata apapun lagi.



Canggung, kesal, marah dan ... campur aduk perasaan Reiji. “Mana mungkin aku bisa menanyakannya,” keluh Reiji di depan sekretarisnya.


“Jika anda memikirkan pandangan pegawai lain, panggil saja dia kemari,” saran sekt.Maiko.


“Itu bukan ide bagus!” elak Reiji cepat. “Apa pegawai mau menuruti atasan yang memanggil anak buahnya ke kantornya hanya untuk menanyakan apa dia punya pacar atau tidak? Seorang pemimpin yang berambisi menjadi hotel terbaik di dunia tidak boleh melakukan hal memalukan seperti itu!” Reiji menyetapler dokumen di tangannya berkali-kali.


Sekt.Maiko terdiam sebentar, “Lalu kenapa kita tak bertanya Miura Ieyasu? Aku mendengar soal ini dari Miura.” Sekt.Maiko menjelaskan kalau Ieyasu ini salah satu karyawan Reiji yang sekarang sudah bekerja di tahun kedua.


Reiji pun mengintip keluar dari ruangannya dan mengerti yang dimaksud oleh sekretarisnya itu. Dia tampak terkesan dengan si Ieyasu ini yang tampak begitu mudah bergaul dan akrab dengan semua orang.


“Masalahnnya adalah bagaimana cara anda mendekati dia?”



Obrolan di antara para karyawan masih seputar Matsuda-san, seorang petugas kebersihan yang dipecat Reiji sebelumnya. Yang bertugas untk mencarikan pekerjaan baru untuk Matsuda-san adalah Misaki. Dan menurut Misaki, lamaran untuk pekerjaan baru Matsuda-san sudah disampaikan dan tinggal menunggu jawaban.


Obrolan mereka berubah sedikit mello. Menurut para karyawan, Matsuda-san ini salah satu karayan yang paling mengesankan. Pernah pada suatu acara ulang tahun perusahaan, Matsuda-san membagi-bagikan kantong kecil buatan tangan untuk para karyawan yang lain.



Jam makan siang


Sementara rekan-rekannya masih asyik mengobrol, Ieyasu beberapa kali melihat jam tangannya. Dan setelah tepat masuk waktu makan siang, dia langsung ngacir menuju lift.


Belum sempat lift tertutup, Reiji tiba-tiba saja menyusul masuk lift juga. Ieyasu berdiri dengan canggung di dekat bosnya ini. Tapi akhirnya ia berusaha menyapa dengan sipan. Obrolan soal rencana makan siang dan tempatnya pun jadi tema mereka.


“Sejak pagi tadi aku ingin mencoba makan di restoran Cina Gia,” aku Ieyasu.


“Kebetulan. Sejak pagi aku juga ingin makan masakan Cina,” ujar Reiji pula.



Trik ini rupanya membuat Reiji berhasil makan siang dan bicara dengan Ieyasu. Dengan basa-basi, Reiji bertanya soal para karyawan baru, apa mereka bisa beradaptasi dengan baik di tempat kerja atau tidak.


Tapi dasar Ieyasu, dia justru berpikir soal dukungan pada dua karyawan baru. Hiroma Mahiro atau Shibayama Misaki. Menurut Ieyasu, karyawan lain lebih suka dengan Mahiro yang lebih ceria. Tapi ada juga yang berpikir kalau Misaki adalah pekerja keras.


“Soal pegawai baru... Apa benar bahwa dia punya pacar orang luar negeri?” Reiji bicara senormal mungkin agar tidak dicurigai.


Dan Ieyasu pun mengiyakan itu. Ia mengaku pernah mendengar Misaki bicara di telepon dalam bahasa Prancis. Dan di situ, Ieyasu mendengar kata ‘Belgia’ dan ‘Gabriel’. Artinya info ini Cuma spekulasi si Ieyasu saja. Reiji nyaris kesal dibuatnya. Tapi Ieyasu mengaku sangat yakin.


“Menurutku kau hanya menyebarkan informasi tidak jelas,” komentar Reiji, kecewa.


“Tenang saja, Pak. Hari ini, akan kupastikan masalah ini!” ujar Ieyasu yakin. “Aku akan pergi minum-minum dengan pegawai lain. Jadi jika dia punya masalah dengan pacarnya, ‘Cepat, putus saja dengannya!’ Akan ku katakan itu padanya. Tapi, kenapa anda peduli soal Misaki-chan?” Ieyasu mulai curiga.


Reiji mencari alasan, “Untuk menciptakan tempat kerja dimana pegawai bisa berkonsentrasi pada pekerjaan mereka... itu juga pekerjaan presdir!” tapi Reiji mengingatkan kalau ini adalah misi rahasia antara dia dan Ieyasu saja.



Malam itu Reiji makan malam sendirian di rumah mewahnya. Tapi ia tak berhenti menatap ponsel, menunggu kabar dari Ieyasu. Kabar itu pun datang. Ieyasu mengirim pesan kalau misi akan segera dimulai lengkap dengan foto Misaki yang tengah termenung, agak jauh. Beberapa kali Reiji mendekatkan tampilan foto Misaki dengan penasaran.


Waktu berlalu. Ponsel Reiji kembali berbunyi saat ia tengah mencuci piring. Tapi Reiji dibuat kecewa karena ternyata hanya laporan perkembangan penyelidikan, lengkap dengan foto Ieyasu.


Meski sudah berada di balik selimut, Reiji masih saja mengecek ponselnya. Ieyasu melapor kalau misi berhasil, tapi baru akan memberikan laporan besok pagi.



Reiji nyaris saja mengamuk kalau saja Ieyasu tidak mengiriminya foto Misaki. Dalam foto baru itu, tampak wajah Misaki yang lebih dekat. Misaki tersenyum sambil menutupi sebagian wajahnya dengan tangan.


Wajah kesal Reiji berubah seketika. Bukan lagi marah atau kesal. Tapi wajah ... mupeng.




“Anda kurang tidur?” tanya sekt.Maiko saat menuangkan kopi ke gelas di meja Reiji.


“Aku kesulitan tidur,” aku Reiji.


Saat itu kepala Ieyasu nongol dari balik pintu dan minta izin untuk masuk. Ia mengaku ingin membicarakan soal proyek mereka. Reiji meminta agar dilakukan dengan cepat. Tapi dasar Ieyasu, ia pun meminta sekt.Maiko untuk keluar. Sekt.Maiko tampak kaget dan melirik ke arah Reiji untuk minta persetujuan. Reiji pun mengangguk menyetujuinya.


“Dan bisa tolong buatkan aku kopi? Gula dan krimer masing-masing dua sendok teh,” pinta Ieyasu pada sekt.Maiko. Dia mulai ngelunjak.



Dari luar, tampak kalau Ieyasu menutup dinding kaca ruang presdir. Ini membuat rekan-rekan kerjanya bertanya-tanya. Dan ini jadi obrolan menarik mereka. Ada yang berpikir kalau mungkin saja Ieyasu akan segera dipromosikan. Tapi ada juga yang berpikir tidak mungkin, karena promosi dipertimbangkan sesuai lama masa kerja.


Mereka baru sadar kalau Misaki tidak tampak dari tadi. Salah satu dari mereka mengatakan kalau Misaki pergi menemui Matsuda-san kembali.



Misaki menemui Matsuda-san di sebuah kafe. Tampak Matsuda-san sangat senang karena sudah dibantu untuk mendapatkan pekerjaan kembali.


“Sangat disayangkan aku harus meninggalkan Samejima Hotel. Tahun ini aku bisa mendapat pekerjaan kembali tanpa menemui kesulitan, terima kasih atas bantuannya,” ujar Matsuda-san.


Misaki tersenyum, “Diantara para tamu tetap kami, Sepertinya ada banyak dari mereka yang kembali ke Hakone setiap tahun karena keberadaanmu disana,” cerita Misaki.


Matsuda-san tampak sangat senang diberitahu hal ini oleh Misaki. Ia merasa tersentuh dan penting, meski ia hanyalah seorang petugas kebersihan. Matsuda-san lalu menyodorkan kantong kecil buatan tangannya lagi. Salah satunya ia minta diberikan kepada presdir. Matsuda-san juga mengucapkan terimakasih dan titip salam untuk para karyawan yang lain.



Dengan kopi di depannya, Ieyasu mulai laporannya. Tapi ia mengawalinya dengan sedikit berbelit, membuat Reiji sedikit kesal.


“Yang ingin ku ketahui adalah, jika pegawai baru itu memiliki pacar orang Belgia,” desak Reiji makin tidak sabar.


“Apa aku harus melaporkannya sekarang?” akhirnya Ieyasu mulai bicara lebih serius, “Setengah dari tebakanku benar. Pria yang bicara dengannya via telpon adalah orang Belgia bernama Mirco. Soal Gabriel, sepertinya aku salah dengar. Tapi, hal luar biasa bahwa aku bisa menebak pria yang dia ajak bicara adalah orang Belgia, 'kan?” ujar Ieyasu sok bangga.


“Pria bernama Mirco itu, siapa dia?”


“Mereka sama-sama bekerja di hotel di Paris. Dia mantan pacarnya.”


“Mantan pacar?” Reiji mulai tertarik.


Ieyasu lalu menceritakan obrolannya malam itu. Misaki mengaku kalau ia sudah putus dari pacarnya itu. Meski begitu, si mantan rupanya masih saja terus menghubungi Misaki seperti seorang penguntit. Bahkan mengatakan ‘kau tidak bisa melakukan apapun, meski sudah kembali ke Jepang’. Untuk membuat si mantan ini menyerah, akhirnya Misaki mengaku kalau ia sudah punya pacar baru dan meminta untuk tidak menghubungi lagi. Setelah mendengar kebohongan ini, si mantan pun akhirnya berhenti menghubungi Misaki.


“Dia sudah memutus hubungan dengan mantan pacarnya dan sekarang dia berusaha keras untuk fokus pada pekerjaan. Jadi tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan,” Ieyasu menutup ceritanya.


“Begitu,” bibir Reiji tertarik sedikit, ia merasa lega.



Malam itu, seperti biasa Reiji diantar pulang oleh sekretaris dan sopirnya. Meski tahu kalau Misaki sudah putus dari pacarnya, ternyata ini masih belum membuat Reiji lega. Masih ada yang mengganjal dalam pikirannya.


“Apa bagusnya? Hingga belakangan ini, Dia berkencan dengan pria asing, 'kan?”


“Kenapa dengan hal itu?” sekt.Maiko heran.


“Kau pikir aku bisa menerima wanita seperti itu setelah tahu yang sebenarnya?” Reiji ngambek. Ia memandangi malam dengan wajah ditekuk dari kursi belakang mobilnya.



“Bagaimanapun, ku putuskan membatalkan rencana untuk membawanya ke pesta,” ujar Reiji. Ia sudah sampai di rumah mewahnya bersama sekt.Maiko yang masih menemaninya bicara.


“Anda yakin akan membatalkan rencana itu?”


“Hingga saat ini, apa pernah aku menarik kembali keputusanku?” tantang Reiji.


“Anda menyerah karena alasan yang sangat konyol,” sindir sekt.Maiko.


Rupanya Reiji masih belum bisa menerima kalau sebelumnya Misaki pernah kencan dengan pria asing. Menurutnya, kalau mantan Misaki adalah orang Jepang, Reiji merasa lebih baik.


Sekt.Maiko lalu mengaku kalau sebelumnya ia juga pernah kencan dengan seorang pria Hawaii. Reiji memang tidak tahu itu. Tapi menurut sekt.Maiko, bukan hal aneh kalau wanita Jepang saat ini pernah kencan dengan pria asing.


Tapi Reiji masih tetap berkeras dengan rasa tidak sukanya. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Yang jelas Reiji sama sekali tidak suka dengan fakta kalau Misaki pernah kencan dengan pria asing. “Bagaimanapun, ide soal mengencani pria asing adalah hal yang sulit diterima.”


“Tapi dia berada di Paris selama 3 tahun, mau bagaimana lagi jika dia jatuh cinta dengan pria asing.”


Reiji makin nyinyir, “Aku bertaruh dia dan pria Belgia itu setiap hari berciuman di jalan-jalan di Paris. Di cafe terbuka juga. Bahkan di stasiun kereta api. Bahkan saat orang melihat, mereka tidak ragu untuk berciuman.”


“Pikiran anda terlalu jauh,” ujar sekt.Maiko lagi.


“Lalu apa? Dia akan menganggap aku aneh?” Reiji mulai merajuk.


“Bukan aneh... tapi tidak toleran. Pria yang mempersoalkan masa lalu pasangannya, tak bisa memaafkan isu-isu remeh, sayangnya tidak populer.”


“Lagi-lagi kau membawa soal "tidak populer"?” Reiji makin ngambek.


“Seorang wanita akan berusaha mencari tahu batas toleransi seorang pria. Ingin mempercayakan diri mereka pada seorang pria yang lapang dada, yang selalu percaya diri dan memiliki toleransi tinggi. Inilah harapan para wanita.”


“Jangan menguji rasa toleransiku,” elak Reiji.


“Lalu, apa anda benar-benar akan menyerah soal dia?”


“Untuk kesekian kalinya, ya, aku yakin! Saat ku katakan berhenti, aku akan berhenti!”


Merasa ucapannya sudah tidak didengarkan lagi oleh si bos, sekt.Maiko memilih pamit pulang. (susah kali ya punya bos kayak gini)



Misaki baru selesai di pemandian. Setelah menghabiskan botol susunya, ia mengenakan lipgloss-nya kembali. Misaki memandangi tempat kecil pemberian Matsuda-san yang digunakannya sebagai tempat lipgloss itu. Ada yang tengah dipikirkan oleh Misaki soal Matsuda-san.



Reiji baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah. Seperti sudah kebiasaan, Reiji membuka lemari es-nya. Dan di sana, masih ada sederet susu botol yang sempat dibelinya. Reiji mengulurkan tangan hendak mengambil salah satunya, ragu dan akhirnya batal mengambil susu. Reiji akhirnya terduduk di lantai depan lemari es-nya. Hatinya masih kacau, memikirkan soal Misaki.



Pagi berikutnya, Reiji berangkat ke kantor seperti biasa. Tapi kali ini, di mobil Reiji lebih banyak diam. Sekt.Maiko dan sopirnya pun hanya saling pandang dan lirik ke arah Reiji. Tapi Reiji hanya balas meriki sekilas dan tetap tidak mengatapan apapun.


Reiji justru asyik memandangi ponselnya. Ia terus saja menggerak-gerakan foto Misaki yang kemarin dikirimkan oleh Ieyasu padanya. (Reiji galau, kekekekeke)



Kantor heboh. Karyawan ribut karena tahu kalau Matsuda-san ternyata diterima bekerja di Stay Gold Hotel, hotel milik presdir Wada, saingan dari hotel Samejima. Ada yang berpikir kalau itu bukan masalah bagi mereka, lantaran Matsuda-san sudah tidak jadi karyawan mereka lagi.


“Cara berpikir umum seperti itu tidak berlalu untuk presdir kita,” ujar yang lain.


Mereka pun seperti biasa merumpikan si bos, Samejima Reiji. Reiji dikenal terlalu sensitif soal saingannya, hotel milik presdir Wada. Selain itu, Reiji juga dikenal sangat mudah memecat karyawannya hanya karena satu kesalahan kecil saja.


“Bukankah lebih baik menghentikannya sebelum presdir tahu?” usul yang lain. “Proses penerimaan kerja Matsuda-san di Gold Hotel.”


Sayangnya itu sudah terlambat. Apalagi dalam beberapa hari ke depan akan ada wawancara oleh sebuah majalah dengan bintang tamu kedua presdir hotel, presdir Wada Hideo dan presdir Samejima Reiji.



Dan benar saja, wawancara itu memang telah dijadwalkan. Reiji bersama sekretarisnya datang lebih dulu. Reiji protes karena kursinya tampak lebih kecil. Tapi sekt.Maiko berkeras mengatakan kalau itu sama saja.


Tidak lama setelahnya, presdir Wada datang dan menyapa Reiji dengan hangat. “Oh ya, soal pegawai dari hotelmu, Matsuda-san, 'kan? Kau tak keberatan dia bekerja pada kami, 'kan? Yah, aku mendengar sesuatu. Bahwa dia cukup dihormati dan pegawai yang setia. Tapi kenyataannya, kau memecatnya tanpa ragu?” sindir presdir Wada.


Reiji berusaha tersenyum dan mengendalikan diri, “Aku tak percaya, kau mengicar seorang pegawai yang menerima tanggungjawab besar dari kami.”


Dan perdebatan keduanya pun tak terhindarkan lagi. Presdir Wada terus saja memojokkan Reiji dan membuatnya tampak konyol. Yang paling parah menyindir soal peringkat hotel Samejima yang berada pada posisi 17. Tapi Reiji mengoreksinya cepat, kalau itu peringkat 13.


“Apa kau bisa mewujudkan impian masuk Top 10 tahun depan?” sindir presdir Wada lagi.


“Jika kau punya masalah, sekaranglah waktu yang tepat untuk mengatakannya,” balas Reiji lagi.


“Aku hanya bercanda. Kau tahu, wanita membenci pria yang tidak toleran.”


Tapi Reiji menanggapinya dengan serius, “Yang sungguh aku benci adalah orang yang terus mengatakan"Aku hanya bercanda".”


Presdir Wada bahkan sempat memuji sekt.Maiko membuat sang sekretaris tersipu. Tapi lirikan Reiji membuat sekt.Maiko langsung mengembalikan sikap angkuhnya.


Saat itu staf dari majalah baru saja datang. Dan tanpa canggung, presdir Wada segera menyapa wanita itu dan memujinya. Hal yang sama sekali sulit dilakukan oleh Reiji dan hanya bisa dilirik kesal oleh Reiji.



Reiji kembali ke kantor sambil ngamuk-ngamuk. Ia ingin tahu siapa yang bertanggungjawab mencarikan pekerjaan baru untuk Matsuda-san. Saat itu karyawan lain mengkeret ketakutan. Tapi Misaki dengan berani mengakui kalau itu dirinya. Kaget karena ternyata orang itu adalah Misaki, Reiji meminta Misaki masuk ke ruangannya.


Reiji minta penjelasan pada Misaki kenapa Matsuda dipilihkan oleh milik presdir Wada. Misaki mengatakan kalau melihat kepribadian Matsuda-san, maka hotel itu sesuai untuknya. Yang sebenarnya ingin diketahui oleh Reiji, kenapa harus hotel milik presdir Wada, saingannya.


“Meski niatmu sesederhana karena ingin mendukungnya, itu akan memberi kerugian dan masalah besar pada kita!” protes Reiji.


Tapi Misaki sama sekali tidak tampak takut. Ia tetap berusaha memberikan argumen sebaik mungkin pada Reiji. Misaki memberikan kantong kecil pemberian Matsuda-san pada Reiji. Ia mengatakan kalau meski dipecat, Matsuda-san masih tetap menunjukkan rasa hormat dan terimakasihnya pada Reiji.


“Tolong jangan ganggu kehidupan Matsuda-san lagi!” pinta Misaki tegas. “Saya harap anda mengerti. Permisi.” Pamit Misaki kemudian.



Reiji makin kesal. Ia sebal pada sikap berani Misaki, padahal dia adalah karyawan baru.


“Tapi argumennya cukup bagus,” bela sekt.Maiko.


“Apa yang harus ku lakukan. Tinggal dua bulan sebelum pesta tapi, dia sepenuhnya membenciku,” rajuk Reiji kemudian.


Sekt.Maiko heran, “Eh? Presdir, bukankah anda mengatakan akan mundur dari rencana itu?”


“Ya, tangan kananku mundur, tapi tidak dengan tangan kiriku,” Reiji akhirnya tidak bisa mengatakan ‘tidak’ lagi.


“Jadi anda masih belum menyerah?” sindir sekt.Maiko.


“Target... Kecepatan penuh... Dua bulan. Sekali memutuskan sesuatu, aku akan menempuh kesulitan apa pun demi mencapai tujuanku. Dan ITU adalah cara Samejima Reiji menjalankan bisnis,” ujar Reiji sok cool.


“Sayang sekali, Pak. Nampaknya dia juga melihat anda sebagai pria tidak toleran.”


“Maaf sudah mengecewakan!” Reiji memamerkan wajah kekanak-kanakan. Ia bahkan menaikan salah satu kakinya.


Tapi sekt.Maiko masih belum menyerah memberikan saran, “Pertama, tolong tutup mata anda (artinya: abaikan) masalah Matsuda-san. Dan mulai sekarang berhenti mempermasalahkan hal-hal kecil. Selalu bereaksi dengan senyuman, apapun yang terjadi dan cobalah berpikiran terbuka.”


“Apa aku bisa melakukannya?” Reiji tampak tidak yakin.


“Ini bukan masalah kesanggupan. Lakukan saja. Dengan begitu, dia akan mempertimbangkan kembali penilaiannya pada anda.”


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 02 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Salah satu hal yang membuat Na bertahan nonton drama ini adalah karena muka oon-nya bang Ono. Duh, Bang, kamu imut syekaleeeee apalagi ditambah muka oon itu. Inget umur, Bang. Kekekeke. Ah jadi kangen sobat Na nih, yang ngefans sama bang Ono. Mana ya, dia?


 
Bening Pertiwi 15.06.00
Read more ...