SINOPSIS dorama I'm Your Destiny episode 03 part 1. Masaki Makoto, 30 tahun. Pertarungannya mendapatkan hati wanita takdirnya, Kogetsu Haruko baru saja dimulai. Dan saingan beratnya adalah seorang pria bernama Sadaoka, yang musim panas kali ini semakin memesona dan populer di kalangan para wanita.



Pagi Makoto dimulai dari sapaan Sadaoka yang tiba-tiba datang dan mengajaknya minum bersama. Makoto jelas tidak bisa menolak. Dari sana, Makoto sadar kalau Sadaoka adalah saingan yang berat. Seseorang yang benar-benar akan popouler di antara para wanita.


Sampai di ruangan, Makoto sudah disambut pertanyaan dari rekan-rekannya. Rupanya mereka melihat saat Makoto disapa Sadaoka tadi. Makoto Cuma bilang kalau itu kenalannya. Tapi rekan-rekannya curiga, karena Makoto tampak melihat pria itu dengan sangat serius.


“Aku bisa melihat dengan jelas api kebencian,” ujar salah satu rekan Makoto.


Makoto akhirnya menjelaskan alasannya. Sadaoka adalah lawannya saat pertandingan baseball di SMA. Dan karena pukulan yang dibuat oleh Sadaoka, tim Makoto kalah. Obrolan pun berlanjut.



Sementara itu, di kantor sebelah, Haruko sedang meeting bersama tim dan rekan-rekannya. Setelah meeting selesai, tinggal Mie dan Haruko yang masih berada di ruangan.


“Melihat grafik, Itu membuatku memikirkan Sadaoka-kun,” komentar Mie. “Semua orang mencari orang seperti ini. Tapi orang yang sempurna tidak ada, jadi kita menyerah. Tapi Sadaoka-kun, menyentuh semua titik di hexagon. Dia tidak menonjol pada satu titik pun, Tapi mereka semua di atas rata-rata. Ini tidak sering terjadi Kamu menemukan seorang pria Dengan heksagon yang indah,” Mie terus saja memuji Sadaoka.


“Jika Kamu berpikir begitu tinggi tentang dia Kenapa kamu tidak mengajaknya keluar?” tanya Haruko dengan bosan.


“Apa yang kamu katakan! Sadaoka-kun jelas-jelas menyukaimu. Aku menyemangatimu,” elak Mie cepat. “Aku tidak berpikir dia orang jahat.”


“Tapi jujur saja Aku tidak begitu tahu,” ujar Haruko lagi.


“Aku mengerti. Serahkan padaku. Yang lebih cocok untuk Haruko, Hari ini Aku akan menentukan jawabannya, Dengan mataku sendiri!”



Malam itu, Haruko dan Mie minum bersama Sadaoka dan juga Makoto. Obrolan tadinya berjalan lancar. Hingga saat makanan datang, ternyata Makoto punya selera yang berbeda dengan Mie. Dan mereka pun berdebat.


Berbeda dengan Makoto, Sadaoka justru mendapat banyak pujian dari Mie. Ia benar-benar jadi pusat perhatian dalam obrolan mereka malam itu.



“Sadaoka-kun, sangat bijaksana bukan? Dia juga ahli memasak daging. Dia meminta lebih banyak minuman. Pada waktu yang tepat,” komentar Mie saat Sadaoka pamit pergi untuk mengambil minuman lagi.


“Apakah kamu masih marah?” tanya Makoto hati-hati. Ia mengacu pada perdebatan mereka tadi soal makanan.


“Aku tidak terlalu marah,” elak Mie pula. “Aku hanya mengatakan betapa luar biasa Sadaoka-kun.”


Merasa tidak enak, Haruko mengalihkan pembicaraan, “Jadi apa yang kamu lakukan pada hari libur?”


Makoto berpikir, “Eh ... baik, saya bersih-bersih dan mencuci.”


“Aku sedang berbicara tentang minatmu?”


“Minatku? Minatku ... erm berbagai hal ...” Makoto tidak yakin.


Obrolan mereka terhenti saat Sadaoka kembali. Dan ternyata dia kembali dengan memakai wig, kaca mata hitam dan gitar di tangan. Sadaoka mulai berdendang. Jelas ini membuat Mie dan Haruko berteriak girang.


Coo coo coo. Hujan air mata adalah ...Coo coo coo. Kaki kita menjadi basah ...Topi sutra, 1, 2, 3 ... Masukkan banyak kebencian dan kesedihan. Tutupi dengan syal. 1, 2, 3. Seekor merpati terbang keluar. Topi sutera, 1, 2, 3. Masukkan banyak kebencian dan kesedihan. Tutupi dengan syal 1, 2, 3. Seekor merpati terbang keluar. Coo, coo.



“Selamat datang di rumah, Makoto,” dewa menyambut Makoto yang baru pulang sambil memainkan gitar dan bernyanyi. “Lagu ini terkenal.”


“Apa? Apa kamu ingin berkelahi denganku?” komentar Makoto dengan kesal. Moodnya benar-benar buruk malam itu.


“Aku mengerti, Kamu tidak suka musik folk?”


“Ini tidak ada hubungannya dengan genre. Dan juga, Bisakah kamu berhenti santai menggunakan nama pertamaku!” protes Makoto lagi.


Tapi dewa sama sekali tidak peduli dengan komentar Makoto, “Makoto, seperti Sadaoka-kun, Kamu harus membuat musik sekutumu.


“Aku harus menulis dan menyanyikan Laguku sendiri juga maksudmu?”


“Bernyanyi tidak cukup untuk membuat musik menjadi sekutumu. Ada hal lain yang harus Kamu lakukan, bukan? Tidakkah kamu memberitahunya bahwa, Kamu akan menyukai musik klasik. Bagaimana dengan itu? Kamu membeli CD yang begitu mahal, Tapi kamu masih belum membukanya.” Dewa menunjukkan CD musik klasik yang dibeli Makoto.


“Itu karena aku sibuk akhir-akhir ini,” elak Makoto.


“Tidakkah kamu mengerti caranya meluangkan waktu? Untuk mengetahui gairah/passion seseorang, Bisa menggerakkan hati mereka. Baiklah, dalam seminggu, Hafalkan semua ini Lagu dan komposer.”


“Apa?! Itu jelas tidak mungkin.”


Tapi dewa jelas tidak mendengarkan, “Ada 100 lagu. Jika Kamu menghafal 20 lagu sehari, Kamu bisa melakukannya dalam 5 hari.”


“Jangan membuatnya terdengar begitu mudah!” protes Makoto lagi.


“Kebahagiaan tidak datang kepada mereka yang tidak bisa mencintai musik.”


“Jadi, jika Aku menghafal itu semua, Aku bisa menemukan kebahagiaan kan?” Makoto menyimpulkan.


“Beri aku nama dan komposer lagu ini,” ujar dewa, setelah menyetel salah satu lagu dari CD milik Makoto.


Makoto berpikir, “Aku pernah mendengarnya sebelumnya ...”


“Ini 'The Wedding March' oleh Mendelssohn. Apakah Kamu atau Sadaoka-kun? Yang mendengar lagu ini bersamanya. Jawabannya adalah... Sisanya 99 lagu dan komposer, Saat kamu sudah hafal semua. Itu secara alami akan membimbingmu.”


“Kamu mengatakan yang sebenarnya bukan?” Makoto ragu.



“Komponis Mussorgsky. 'Pictures at an Exhibition' Benar, Mussorgsky,” gumam Makoto.


Ia mengikuti saran dewa dan mulai menghafal lagu-lagu di CD musiknya. Makoto menggunakan headset sepanjang perjalanannya ke kantor. Bahkan di kantor pun, Makoto tetap terus menghafal. Ia memanfaatkan waktunya di sela-sela kegiatannya.



Makoto sudah duduk di balik mejanya, saat kedua rekannya yang baru datang heboh. Salah satu dari mereka mengaku beruntung pagi itu, 'keberuntungan yang cukup’. Sementara yang lain mengaku mendapat 'Keberuntungan besar'.


“Apa ini, 'Keberuntungan pagi?'” Makoto heran.


“Di perusahaan sebelah, mereka memiliki seorang karyawan bernama Yotsuya Mie. Orang yang tinggi, ramping dan wangi luar biasa. Dengan sangat hormat kami memanggilnya 'Menara wangi'. Jika dia di lift denganmu di pagi hari Itu 'Keberuntungan besar'. Jika Dia tidak disana, tetapi ada aroma yang tersisa itu disebut 'sedikit beruntung'. Jika Anda melewati seseorang di jalan yang wanginya sama, itu 'keberuntungan berlanjut'. Pada hari ketika Kamu mendapatkan 'Keberuntungan besar', Kamu pasti akan mendapatkan kontrak. Dia dikenal sebagai ... 'Fragrance Venus'.”


“Kaulah satu-satunya yang diizinkan masuk dan keluar dari pintu sebelah. Mohon untuk berhubungan baik dengan Yotsuya Mie-san, secepatnya.”


Tapi Makoto tidak terlalu terkejut, “Ah, kemarin, Aku kebetulan pergi minum bersamanya.”


Diberitahu seperti itu, kedua rekannya ini langsung heboh. Mereka kesal karena Makoto tidak menelepon mereka. Makoto mengelak kalau ia tidak tahu, kalau kedua rekannya ini sangat tertarik.


“Bisakah kamu menyebarkannya sedikit keberuntungan itu kepada kita?”


“Ah, tapi Aku pikir, itu sebagai hasil dari kemarin, mereka membenciku,” ujar Makoto.


Obrolan para pria ini membuat kesal satu-satunya karyawan wanita di kantor Makoto.



“Kemarin, semua menjadi jelas kan? Tanpa ragu Dia adalah Sadaoka-kun,” ujar Mie, mendekati Haruko di jam istirahat mereka.


“Tolong jangan membuat keputusan tentang hidupku!” protes Haruko.


“Sebagai perbandingan, pria takdirmu ... tidak ada apa-apanya. Jika dibandingkan dengan Sadaoka, semua jadi jelas. Ketertarikan, sikap positif, humor dan sejenisnya, dia sangat rendah. Hanya 'takdir' yang secara tidak normal nilainya tinggi. Ini dikenal sebagai bentuk 'teleskop' Atau tipe 'topi runcing'. Ini adalah formasi grafik yang merusak.” Mie mulai mengoceh tidak jelas.


“Sejak kapan kamu menjadi seorang kritikus?” pertanyaan sarkas Haruko.


Tapi ia tidak menyerah meyakinkan Haruko, “Begini, takdir hanya menyenangkan di awal. Tapi kalau menyangkut pernikahan, pergi ke kota, Dan bertemu seseorang secara kebetulan, itu akan jadi masalah.”


Haruko memilih tidak mau berkomentar lagi. Ia tahu pasti, Mie tetap berkeras soal Sadaoka.



Masaki masih bertugas. Ia menelepon pelanggan yang sempat ia datangi sebelumnya. Sambil menunggu dijawab, tidak sengaja ada musik klasik diputar. Dan dalam sekejap ia bisa mengenali lagu itu, Offenbach, 'Heaven and Hell'


Ini menarik perhatian atasannya, “Masaki-kun, Kamu tahu musik klasik?”


“Ah, tidak tidak juga, Baru-baru ini saya berkecimpung di dalamnya sedikit.”


“Ini sering dimainkan dalam acara olahraga. Tapi aku tidak berpikir bahwa judul lagu ceria itu adalah 'Heaven and Hell'! Tetapi acara olahraga Adalah neraka bagiku. Aku benci suara pistol start.”


“Beberapa orang memang seperti itu, bukan?” komentar Makoto.


Obrolan mereka terhenti saat suara di seberang telepon menyapa balik Makoto. Sayangnya, kontrak yang ditanyakan oleh Makoto ternyata dibatalkan oleh perusahaan sebelah.


Mendapat penolakan seperti itu, Makoto pun akhirnya mengerti maksud dewa kalau musik adalah sekutunya. Artinya, musik bisa jadi tanda-tanda dari situasi yang akan terjadi atau akan dia alami.



Masaki sudah hampir pulang saat telepon di mejanya kembali berbunyi. Dari Kogetsu-san yang ternyata mengabari kalau keluarganya setuju untuk berlangganan air dari perusahaan tempat Makoto bekerja.


“Bila Anda punya waktu, Bisakah saya menjelaskannya kepada Anda? Saya bisa datang besok atau lusa?” Makoto menawarkan.


“Baiklah, bisakah kamu datang ke rumahku besok sore?” ujar Kogetsu-san.


Makoto sempat kaget saat Kogetsu-san mengundangnya ke rumah. Kogetsu-san pun menawarkan kalau di kafe saja. Tapi Makoto mengelak dan mengatakan tidak masalah datang ke rumah.



Dalam perjalanan pulang ke rumah, Makoto sempat membeli makan malam. Saat itu sebuah mobil melintas di belakangnya. Terdengar suara musik klasik dari sana.


“'Triumphant March' oleh Verdi,” komentar Makoto dengan yakin. Makoto sudah berhasil menghafal banyak lagu dari CD musik klasiknya dan makin mahir menebak judul serta komposernya.



“Kamu terlalu dini untuk bersemangat. Hal yang sebenarnya adalah besok,” komentar dewa saat menyambut Makoto pulang masih mendengarkan lagu-lagu dari CD-nya.


“Aku tahu itu,” ujar Makoto.


“Kenapa kamu mengintip ke kantornya?” tanya dewa lagi. Dia mengacu pada sikap Makoto tadi sepulang kantor, yang justru mengintip ke kantor sebelah.


“Jika Aku tiba-tiba tiba di rumahnya, dia akan panik.”


“Harta karunmu berasal dari hal-hal seperti itu,” ujar dewa lagi. “Aku mengatakan bahwa, secepatnya kau harus dapatkan kontaknya,” saran dewa.


Makoto tidak yakin, “Dia akan memberikannya padaku hanya dengan bertanya padanya.”


Dewa langsung menyodorkan kartu kuning di depan wajah Makoto, “Kamu benar-benar tidak bisa mengatakan itu. Kamu bahkan belum mencobanya. Bahkan jika dia tidak memberitahumu miliknya, kamu setidaknya harus memberikannya milikmu.”


“Lain waktu Aku akan mendapatkannya, Ok?” Makoto mencoba negosiasi. “Aku tidak tahu apakah aku akan menemuinya besok.”


“Apakah kamu idiot?! Kemarin sore, di depan kotak makan siang, Kamumendengar 'Triumphant March'. Bukan? Tentu Kamu akan menemuinya!”


Makoto berpikir lagi, “Apa itu maksudmu? Musik menjadi sekutuku? Bukan hanya kebetulan saja aku mendengar lagu itu. Ini memiliki makna?”


“Hidup lebih menyenangkan jika kamu berpikir seperti itu. Jika Kamu tidak mendapatkan kontaknya besok, lain kali itu akan menjadi kartu merah!” ancam dewa lagi.


Malam itu, Makoto pun menulis. Ia ingin agar Haruko tidak kaget saat datang ke rumahnya.



Hari berikutnya, Makoto benar datang ke rumah keluarga Kogetsu. Ia dijamu di meja dapur oleh pasangan Kogetsu. Nyonya Kogetsu menyeloroh saat melihat Makoto memerhatikan cetak tangan yang dipajang tidak jauh dari meja makan.


“Ini adalah cetak tangan besar bukan. Apakah Anda tahu pegulat sumo Daikaiyama?” tanya nyonya Kogetsu.


“Ah iya, dia baru saja pensiun.”


“Putriku adalah penggemar berat nya,” cerita nyonya Kogetsu. Ia pun mengambil salah satu foto keluarga dan menunjukkannya pada Makoto. “Ini putriku Haruko. Sejak Daikaiyama pensiun, Dia sedang dalam suasana hati yang buruk.”


“Sungguh, ah, dia sangat cantik,” puji Makoto, canggung.


“Itu diambil saat dia datang dari upacara umur, Sudah lebih dari 10 tahun. Kita punya beberapa gambar yang lebih baru bukan?”


Kedua pasangan Kogetsu ini pun langsung heboh. Mereka lalu mengambil album dan mencoba menunjukkan foto-foto Haruko pada Makoto. Pada salah satu foto, Kogetsu-san terhenti. Ia melihat foto putri mereka, Haruko bersama seorang anak kecil lain di pantai dan merasa kalau anak kecil itu mirip dengan Makoto.


“Sekarang setelah Anda menyebutkannya, ya, memang begitu. Sebenarnya, ini Saya,” komentar Makoto, meski hanya melihat foto itu sekilas.


Pasangan Kogetsu pun kaget. Mereka tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu.



Tepat saat itu, Haruko baru saja tiba di rumah dan kaget menemukan Makoto ada di rumah mereka, “Apa yang sedang kamu lakukan?!”


Makoto juga kaget, “Maafkan saya. Karena tidak memberitahumu lebih dulu.”


Tapi kedua orang tua Haruko tampak belum paham, kenapa Makoto tiba-tiba saja minta maaf. Mereka justru asyik menunjukkan foto masa kecil Haruko yang bersama Makoto kecil.


Haruko menjelaskan kalau Makoto adalah kenalan yang bekerja di sebelah kantornya. Makoto pun kembali minta maaf. Haruko yang kesal justru berbalik dan bersiap pergi lagi dengan alasan belanja, membuat Makoto makin tidak enak hati.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, Makoto pun mengejar Haruko ke depan. Ia berniat memberikan kertas yang sudah dipersiapkannya semalam pada Haruko. Tapi urung dilakukan.


“Maaf tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan,” ujar Makoto, menghentikan Haruko di depan pintu.


“Ini pekerjaan bukan. Tidak perlu meminta maaf.”


“Ibumu tertarik dengan produk kami dan jadi ...” Makoto masih berusaha menjelaskan.


“Jika orang tuaku menginginkannya, maka itu tidak masalah,” potong Haruko cepat.


“Kamu suka sumo kan? Teman sekelasku adalah mantan pegulat,” Makoto mencoba mencari perhatian Haruko.


“Kamu sedang bekerja sekarang, bukan?” sindirnya. Ia pun benar-benar beranjak pergi.



Makoto pulang ke apartemennya sendiri dengan perasaan kacau. Situasi antara dirinya dan Haruko, bukan jadi lebih baik justru makin kacau.


Makoto mencoret-coret sejumlah catatan, “100 lagu hafal! Hei, apakah kamu mendengarkan? Hei! Keluar. Demi kebaikanmu!” ia mencari-cari si dewa. Tapi, malam itu dewa sama sekali tidak muncul.



Atasan Makoto mengumpulkan anak buahnya. “Jumat depan. Akan ada pertemuan bisnis. Berkumpul dengan karyawan kantor sebelah. Seperti yang kalian ketahui, mulai bulan ini mereka telah mengambil sebuah kontrak dengan kita. Atas nama persahabatan, untuk saat ini kita akan minum bersama.”


Tapi reaksi anak buahnya beragam. Ada yang berpikir kalau itu tidak ada gunanya. Tapi karyawan lain yang ngefans pada Mie, jelas bersemangat karena mereka akan punya kesempatan bertemu Mie.


“Partisipasi tidak diwajibkan, Tolong datang jika kamu mau. Terima kasih!” ujar sang atasan lagi.


Karyawan fans Mie bersemangat. Mereka sudah berpikir bagaimana caranya, agar Mie nanti duduk di antara mereka. Mereka berpikir kalau pengaturan tempat duduk sangat penting.



Malam yang direncanakan pun tiba. Seluruh anggota Welcome water lengkap datang. Tapi ... dari kantor sebelah yang datang ternyata hanya sang bos wanita. Ia tampak tidak nyaman dengan situasi itu. Tapi ia berusaha kerasa menutupinya.


Sementara itu, dua orang fans Mie menarik sang bos sedikit menjauh. Mereka protes karena situasinya justru kacau seperti ini. Dan mereka curiga kalau karyawan lainnya memang tidak akan datang.


Sementara itu, Makoto yang sejak tadi menahan nafas akhirnya justru bisa bernafas lega. Ia lega. Kalau karyawan itu tidak datang, artinya ia juga tidak akan bertemu Haruko. Situasi antara mereka masih canggung karena insiden kemarin.



Setelah memastikan tidak ada orang lain lagi yang datang, acara minum bersama pun dimulai. Karena hanya sedikit orang, mereka pun berbagi meja lebih longgar. Makoto pun pindah ke meja seberang.


“Bolehkah Aku bertanya sesuatu yang sedikit aneh?” tanya si karyawan wanita pada Makoto. “Apakah Kamu percaya pada takdir?”


Makoto kaget ditanya seperti itu, “Takdir? Aku kira Aku percaya.”


“Sungguh?!” si karyawan wanita makin bersemangat. “Sebenarnya Aku pikir takdir itu menarikku ke arah seseorang. Seperti yang kamu tahu, warna kesukaanku adalah merah gelap. Orang ini memakai kaus kaki merah gelap setiap hari.”


“Kaus kaki merah gelap ...” Makoto berpikir dan mencari. Dan ia menemukan kalau si pemakai kaos kaki merah gelap adalah rekannya yang botak.


“Dia memiliki nama yang sama dengan Anjing orangtuaku,” lanjut si karyawan wanita. “Restoran kari favorit kami sama. Ulang tahun kami hanya berbeda dua hari. Ponsel kami berbeda warnanya tapi modelnya sama. Aku golongan darah A dan dia O, yang merupakan kompatibilitas terbaik.”


“Karena ini takdir, maka aku mendukungmu!” ujar Makoto kemudian.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di I'm Your Destiny episode 03 part 2.


Pictures and written by Kelana

Bening Pertiwi 13.16.00
Read more ...

SINOPSIS dorama I'm Your Destiny episode 02 part 2. Masaki Makoto—30 tahun—sering gagal soal cinta. Dan atas saran seorang pria yang mengaku dewa, ia mengejar wanita yang dikatakan sebagai takdirnya, Kogetsu Haruko. Tapi, alih-alih mendekati Haruko, Makoto justru sibuk dengan ayah Haruko.



Makoto sudah nyaris emosi saat Dewa mengatakan kalau saat itu Sadaoka tengah tertidur di samping Haruko. Padahal maksudnya, Sadaoka dan Haruko minum bersama di bar, dan Sadaoka nyaris tertidur di sana.


“Tapi memang benar begitu, mereka minum bersama, dan sangat dekat. Dan biasanya dia akan langsung pulang ke rumah, Jarang sekali dia keluar begitu telat.”


“Ngomong-ngomong kau ada di pihak siapa?” Makoto kesal lagi.


“Emm... 6:4 untukmu kukira,” aku dewa lagi, justru membuat Makoto makin dongkol.


Entah serius atau bercanda, yang jelas dewa mengatakan kalau Makoto tidak perlu terlalu terburu-buru. Kedekatan Makoto sekarang dengan ayah Haruko juga ada untungnya.


“Tapi yang penting bukan apakah ayahnya menyukaiku, tapi apakah dia menyukaiku, benarkan?” pertanyaan sarkas Makoto.


“Tujuannya bukanlah untuk berkencan dengannya, tapi untuk menikah, memiliki anak dan menyelamatkan bumi,” elak dewa lagi.



Haruko baru tiba di rumah dan menemukan ayahnya tertidur di meja makan. Ia terpekik karena terkejut saat melihat kartu nama Makoto ada di meja, depan ayahnya. Ini membuat ayahnya terbangun. Ibu Haruko yang baru selesai mandi pun ikut bergabung.


“Kau cukup telat ya,” komentarnya melihat Haruko baru pulang.


“Ya, aku ngorbol dengan Mie,” aku Haruko.


Ibunya pun menawari Haruko teh. Tapi Haruko menolak dan mengatakan akan membuatnya sendiri.



Hari berikutnya. Haruko menunjukkan kartu nama Makoto dan bertanya apa maksudnya dan kenapa benda itu ada di rumahnya.


Makoto tidak tampak kaget sama sekali. Dia justru mencoba menjelaskannya dengan tenang, “Aku sedang melakukan sales trip dan aku juga terkejut nama di kartu bisnis yang diberikan padaku adalah Kogetsu (ayah Haruko). Aku bertanya-tanya apakah dia ayahmu.”


“Benarkah itu kebetulan?”


“Apakah kau kira bahwa aku pergi menemui ayahmu, karena aku sengaja?! Bukankah itu menguntit?” pertanyaan sarkas dari Makoto. Tapi ia kemudian kembali membahas soal takdir, kalau mereka memang selalu dipertemukan oleh takdir.


“Bahkan jika itu benar-benar kebetulan. Tolong jangan bicara tentang takdir,” protes Haruko.


“Ini benar-benar hanya berbicara tentang kemungkinan. Apakah kebetulan benar-benar datang? Satu demi satu seperti ini?”


Kali ini giliran Makoto bertanya soal konser musik klasik. Ia penasaran kenapa Haruko berdiri. Haruko mengaku kalau ada temannya yang bermain dalam konser itu. Itu jelas berbeda dengan alasan Makoto. Saat mendengar musik itu, Makoto kemudian teringat di masa SMA-nya. Saat itu Makoto yang kalah pada pertandingan penentuan bisball tengah tertunduk sedih sambil menutupi wajahnya dengan topi, dan ternyata Haruko-lah orang yang menyemangatinya. Tadinya Makoto berpikir kalau Haruko berdiri karena alasan yang sama dengannya.


“Apakah tidak biasa bertepuk tangan? Di akhir pertunjukan? Tidak ada situasi seperti itu yang bisa dianggap takdir,” elak Haruko.



Tapi Makoto tidak menyerah. “Saat sesuatu yang misterius terjadi, untuk menyangkalnya dan kau menemuiku? Apakah itu menyenangkan? Bila sesuatu yang tidak dapat kau perhitungkan terjadi apa kau benar-benar merasa cemas? Ketika aku berumur 5 tahun... Saat pertama aku bertemu denganmu. Ada sebuah pelangi besar dilangit. Kau menunjuk ke pelangi dan berkata. 'Aku akan menikahi orang pertama yang lewat ke bawah pelangi.' Makanya setelah itu, setiap ada pelangi muncul, aku akan berlari. Bahkan jika aku sedang bermain dengan teman, atau belanja dengan ibuku Ketika pelangi muncul, aku akan berlari sekuat tenaga. Aku bertekad untuk menjadi orang pertama yang lewat di bawahnya. Yah, tentu saja begitu aku mulai berlari, aku kehilangan pandangannya. Aku tidak pernah meragukan kata-katamu sedikit pun. Bahkan sekarang, aku masih sedikit percaya. Bagaimanapun, ini membuat hidup sedikit lebih menyenangkan.”


Tapi usaha Makoto belum benar-benar membuahkan hasil. Haruko memang ingat dengan kenangan masa kecilnya, saat bermain pasir di pantai. “Tidak apa-apa menikmati sendiri. Aku hanya bilang, jangan melibatkanku. Permisi,” ia pun memilih beranjak pergi.



Suasana makan malam keluarga Kogetsu. Kogetsu-san meminta istrinya memersiapkan cangkir untuknya. Ia mengaku butuh itu, karena di kantornya baru saja memasang ‘penyedia air’. Kogetsu-san pun menceritakan kalau mereka bisa membuat apa saja, seperti teh atau sup miso.


“Kita bisa menggunakan salah satu untuk di rumah. Mau punya satu?” Kogetsu-san menawarkan pada istrinya.


Haruko yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan orangtuanya akhirnya buka mulut, “Kita tidak membutuhkannya, kita punya pemurni air.”


Tapi Kogetsu-san masih belum menyerah untuk promosi. Ia mengaku senang, karena saat mengambil air dari galon, maka akan muncul suara glug glug seperti bernafas.


Haruko lama-lama kesal dengan obrolan orang tuanya. Selesai makan, ia pun beranjak lebih dulu. Ibunya bertanya soal makan malam besok. Tapi Haruko mengatakan kalau ia punya rencana makan di luar. Mendengar jawaban putri mereka, Kogetsu-san mengusulkan kalau ia dan istrinya juga makan di luar saja besok.



Malam itu Makoto belum pulang. Ia memandangi kertas di mejanya. Ada banyak coretan di sana. Beberapa perusahaan yang sudah menolak tawarannya. Dan beberapa yang lain masih memertimbangkannya. Lalu Cuma ada satu yang sudah positif menerima tawarannya.


Makoto menghela nafas berat. Ia memandangi pengumuman soal bonus yang tertempel di dinding, “Apa yang sedang kulakukan!”



Hari berikutnya. Makoto sudah memersiapkan peralatan dan juga memasangkan galon dari perusahaannya ke kantor Kogetsu-san. Tampak Kogetsu-san begitu puas setelah mencoba minum dari sana, dingin maupun panas. Karyawan yang lain juga tampak antusias. Setelahnya Makoto juga memasang beberapa galon lain di kantor itu.


“Terima kasih sudah menggunakan jasa kami,” ujar Makoto pada Kogetsu-san.


“Aku mungkin bertanya lagi secara pribadi,” Kogetsu-san berbisik ke telinga Makoto. “Istriku, dia ingin satu juga. Jadi kami mempertimbangkannya untuk di rumah. Tapi kami hanya mempertimbangkannya, tolong jangan berharap terlalu banyak.”


Tapi diberitahu seperti itu saja, Makoto sudah sumringah, “Silakan hubungiku, jika kau memutuskan.”



Keberuntungan Makoto masih berlanjut hari itu. Setelah mengantar barang ke kantor Kogetsu-san, kontrak berikutnya datang dari kantor sebelah, tempat Haruko bekerja. Mereka yang tadinya baru mencoba selama satu bulan, akhirnya menandatangani kontrak langganan air minum dari perusahaan Makoto. Bos Haruko tampak sangat bersemangat saat menceritakan kalau karyawannya ternyata juga suka dengan air minum dari tempat Makoto.


“Aku membeli teh lezat pada waktu makan siang. Kau mau? Aku punya kue juga?”


“Ah, tidak tidak, teh saja cukup,” tolak Makoto.


“Aku membelinya terlalu banyak, jadi jangan sungkan. Itu karena salah satu karyawan kami ulang tahun hari ini,” ujar sang bos lagi.


Dan saat mereka berpaling, tampak para karyawan wanita itu tengah memberikan hadiah dan ucapan pada Haruko yang hari itu tengah berulang tahun. Makoto tertegun mengetahuinya. Ia teringat dengan ucapan dewa, kalau uang kali ini bisa jadi senjata ampuh untuk memenangkan hati Haruko.



“Apa rencanamu hari ini? Haruskah kita pergi makan enak? kita bisa mengundang Sadaoka-kun juga,” ujar Mie yang sengajat mendekat ke meja Haruko.


“Tidak ada rencana khusus. Tolong jangan, itu memalukan. Aku terlalu tua untuk merayakan ulang tahun,” tolak Haruko.


“Dan kupikir aku akan mentraktirmu.”


“Aku punya hadiah dan pikiran itu lebih dari cukup,” ujar Haruko lagi. “Perasaanmu sangat dihargai.”



Sementara itu, Makoto juga diberi ucapan selamat dari rekan-rekannya. Ternyata ia berhasil mendapatkan 10 kontrak baru yang paling bagus. Sang bos pun memberikan amplop bonusnya.


Tapi dasar teman-temannya tidak peka. Mereka sudah buru-buru mengusulkan ide kalau mereka akan makan BBQ malam itu. Padahal meski Makoto mengaku kalau ia sudah punya rencana soal uang bonus itu, mereka tidak mendengarkan. Mereka tetap berkeras, kalau kebahagiaan dibagi bersama. Artinya, Makoto harus menraktir teman-temannya. (ini toh alasan salah satu rekan Makoto malas mencari kontrak baru, soalnya pasti ditodong macam-macam gini ya)


Bukan Cuma tidak mendengarkan protes Makoto, mereka bahkan sudah bertindak cepat. Saat Makoto mengecek amplopnya, ternyata sudah kosong. Karena mereka sudah memesan tempat di salah satu resto BBQ yang bagus. Makoto benar-benar spechless dan tidak bisa berbuat atau berkomentar apa-apa lagi.



Malam itu, mereka benar-benar makan BBQ. Sementara rekan-rekannya yang lain sumringah menunggu daging dimasak, Makoto hanya bisa terdiam di mejanya. Ia beberapa kali meneguk minuman, tidak bisa berbuat apapun. Dan semua komentar rekan-rekannya benar-benar membuat Makoto dongkol dalam hati.


Tidak bisa berbuat apapun lagi, Makoto akhirnya menghembuskan nafas berat, “Baiklah, pakailah semua!”


Dan pesta berlanjut.



Kemana Haruko malam itu? Menolak tawaran Mie untuk makan malam bersama, Haruko justru datang ke sebuah resto sendirian. Ia tampak begitu menginginkan makanan di sana. Setelah memesan, Haruko pun mengambil tempat duduk. Setelah pesanan datang, Haruko masih sempat memotret makanan itu dan baru mulai makan.


Selesai makan, Haruko pun datang ke bar tempat ia biasa minum bersama Mie dan yang lain. Pemilik bar heran karena Haruko datang sendiri. Tapi Haruko memang ingin minum sendiri malam itu. Selesai minum, Haruko berjalan pulang sendirian. Di jalan, ia melihat sejumlah bunga. Haruko melirik bunga yang juga didapatnya dari teman-teman kantornya tadi. Hingga ...



Hujan tiba-tiba turun. Haruko pun bergegas mencari tempat berteduh. Ia baru saja membuka ponselnya saat dari seberang seseorang memanggil namanya. Ada Makoto juga juga ternyata sudah selesai pesta BBQ. Melihat Haruko berteduh, Makoto pun langsung punya ide. Makoto berlari ke supermarket terdekat dan membeli sebuah benda.


“Silakan,” Makoto menyodorkan payung pada Haruko. “Ah, aku harus mentraktir BBQ untuk orang. Jadi aku hanya punya sedikit kembalian. Sebenarnya, aku ingin memberimu sesuatu yang lebih baik. Hari ini ulang tahunmu, kan? Aku mengunjungi kantormu saat makan siang dan...” tapi Haruko buru-buru pergi. “Eh, tunggu. Tolong gunakan ini.”



Langkah Haruko terhenti. Ia menoleh ke belakang. DI seberang jalan, ternyata ada sekelompok atlet tengah merayakan ulang tahun salah satu rekan mereka, namanya Haruo. Sementara itu, Makoto berdiri di samping Haruko dengan payung terbuka.


“Itu kebetulan juga, kan?” tanya Haruko.


“Ya, itu kebetulan saja. Terkadang terjadi hal itu pada hari ulang tahun seseorang kau kebetulan mendengar seseorang dengan nama yang sama menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun.' Itu kebetulan yang kadang terjadi. Sungguh aneh ya?” komentar Makoto pula.



Haruko melihat taksi mendekat. Ia pun segera pergi untuk mencegatnya. Makoto pun ikut memayungi Haruko hingga ia membuka pintu taksi.


“Terima kasih untuk payungnya. Aku akan pulang kerumah,” ujar Haruko, berusaha sopan. “Selamat malam.”


Ditinggal Haruko seperti itu, Makoto tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa melambaikan tangan, melepas kepergian Haruko.


Sementara itu, taksi baru saja berjalan belum jauh saat Haruko meminta si sopir untuk berhenti. Haruko melihat ke arah luar. Ternyata supermarket tempat Makoto tadi membelikannya payung, memiliki gambar pelangi di atas pintunya dan bernama ‘Rainbow’. Haruko kaget, sekaligus tertawa geli sendiri, membuat sang sopir heran. Tapi Haruko kemudian meminta sopir berjalan lagi.



Makoto pulang ke rumah dengan sumringah. Ia menemukan dewa tengah menghias rumahnya. Makoto kesal karena si dewa ini bersikap seenaknya saja dan mulai mencopoti hiasan-hiasan di sana.


“Jika itu akan berubah seperti itu, aku lebih suka kau memberi tahuku sebelumnya. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan uang,” curhat Makoto.


“Jika aku sudah memberitahumu sebelumnya, itu tidak akan berhasil seperti itu. Takdir ini menjadi kenyataan, karena usaha yang kau lakukan.”


“Jadi begitu. Tapi pada akhirnya, dia sepertinya terlihat senang,” ujar Makoto lagi.


“Maukah aku memberitahumu sesuatu? sebagai hadiah atas kerja kerasmu? Didalam taksi, dia mendapat email ulang tahun dari Sadaoka-kun. Sainganmu bisa menghubungi dia kapan pun dia mau. Kau bahkan tidak memiliki kontaknya. Dengan kata lain, ini bukan waktunya kau untuk duduk diatas kemenanganmu,” dewa membuat kebahagiaan Makoto hancur seketika.


Dalam taksi, Haruko benar mendapat pesan dari Sadaoka. Di sana ada foto Sadaoka dengan gitar dan kaca mata. Lalu di bawah gambar itu pada pesan berisi lirik lagu yang diminta oleh Haruko bersama ucapan ulang tahun. Dan Haruko pun tersenyum senang mendapatkan hadiah seperti itu.


“Hadiah yang kau berikan padanya tidaklah buruk, tapi apa yang akan diingatnya sebelum dia tidur malam ini adalah hadiah yang diberikan Sadaoka padanya. Itu sayang sekali ya,” lanjut dewa lagi.


Dan malam itu, Haruko memang benar mendendangkan lagu yang diberikan oleh Sadaoka tadi saat ia mandi.



Pagi berikutnya. Sadaoka tiba-tiba mendatangi Makoto di depan gedung dan menyapanya.


“Apakah kau ingin datang untuk minum malam ini?” tawar Sadaoka.


“Eh, kenapa?” Makoto heran.


“Kita pernah berjanji sebelumnya, kan?”


“Ah, benar. Aku pikir tidak apa-apa,” Makoto pun setuju.


“Jika jadi pergi, bisakah aku mendapatkan nomormu? Aku akan mengundang Haruko juga. Sampa ketemu,” lanjut Sadaoka sebelum beranjak pergi.


Apa kau tahu mengapa dia saingan yang tangguh? Musim semi ini, dia menuju menjadi yang paling populer yang pernah dia alami dalam hidupnya. Bahkan saat biasa, dia 3 kali lebih populer darimu. Kau mengerti, jika kau berusaha setengah-setengah, kau tidak memiliki kesempatan. Hati-hati ya.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di I'm Your Destiny episode 03 part 1.


Pictures and written by Kelana

Bening Pertiwi 13.28.00
Read more ...

SINOPSIS dorama I'm Your Destiny episode 02 part 1. Masaki Makoto, hampir 30 tahun. Kurang beruntung soal wanita dan hubungan. Hidupnya berubah saat seseorang yang mengaku GOD datang dan mengatakan kalau ada seorang wanita bernama Kogetsu Haruko yang ditakdirkan untuknya. Sejak saat itu, Makoto pun mendekati Haruko.


(yasalaaaam, maafkan Kelana ya, Guys. Tulisan ini kembali tertunda cukup lama, karena dunia nyata sedang butuh perhatian ekstra. Ok, ini sudah kembali normal ritmenya, jadi semoga Kelana bisa nulis lagi ya, #ehe)



Batter yang membuat hit terakhir, Panggilannya Sadaoka-kun. Setelah bertahun-tahun, dia akan segera bersatu kembali dengannya. Dia akan merasa, itu seperti takdir. Jadi kali ini, kau harus benar menghadapi sainganmu.


“Tentu saja... Aku tidak akan kalah padanya dua kali.”


Diperingatkan soal saingan untuk mendapatkan Haruko yang muncul dari masa lalu, Makoto pun menjadi waspada. Apalagi pria ini dulu pernah mengalahkannya dalam sebuah pertandingan bisball di SMA-nya. Dan Makoto bertekat tidak mau main-main lagi. Ia tidak ingin kalah padanya dua kali.



Makoto senyum-senyum di depan papan pengumuman di belakang mejanya. Ia memerhatikan pengumuman di sana, yang menyatakan ‘bonus 100.000 yen akan diberikan pada karyawan yang membawa kontrak baru dalam satu bulan’.


Rekan kerjanya mendekat. Paham maksud Makoto, rekannya mengingatkan kalau hal itu mustahil. Selama ini tidak pernah ada yang berhasil mendapatkan kontrak baru dalam satu bulan, sebanyak itu. Rekannya yang lain ikut nimbrung. Ia mengatakan, kalaupun mereka bisa mendapatkan kontrak itu, maka tidak akan ada gunanya, karena di kantor mereka itu tidak ada yang namanya menang atau kalah. Mereka berpikir semuanya dilakukan bersama-sama. Tapi Makoto tidak setuju dengan ide ‘bersama-sama’ itu. Ia tetap berpikir bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan 10 kontrak baru dalam satu bulan. Makoto yang over semangat pamit pergi.



Makoto naik lift dan di sana ia bertemu dengan Haruko dan temannya, Mie. Makoto sumringah, tapi menyapa mereka dengan canggung.


“Waktu itu sangat menakjubkan ya. Dengan banyaknya orang disana, hanya kita yang berdiri,” Makoto mencoba memecahkan kecanggungan.


“Apakah kau pernah bertemu Haruko sebelumnya?” tanya Mie balik.


“Ya, di konser musik klasik,” Aku Makoto.


“Teman sekolahku bermain disana,” sambung Haruko.


Makoto terkesan oleh fakta yang diungkapkan Haruko. Mie bertanya apakah Makoto suka musik klasik juga. Makoto mengaku tidak suka, hanya kebetulan mendapatkan tiketnya. Tapi ia melanjutkan kalau ia mulai menyukai musik klasik dan bahkan membeli CD-nya. Semua jelas modus untuk mendapatkan perhatian Haruko.


Lift sudah sampai di lantai bawah. Mie memersilahkan Makoto keluar dulu. Tidak punya pilihan, Makoto pun menurut saja. Setelah itu, giliran Haruko yang digoda habis-habisan oleh Mie.


“Hei hei! Dalam situasi ini 'Haruko' and 'musik klasik' berarti sama,” ujar Mie pula. Tapi Haruko malah menganggap itu menjijikan.



Mie heran, karena Haruko tampak sangat tidak menyukai si pria tadi, Makoto.


“Bukan tidak menyukainya, aku hanya tidak punya waktu untuk dialihkan olehnya,” ujar Haruko sambil menyantap nasi kare di depannya.


Tapi Mie tidak sepakat dengan Haruko. Dia justru berpikir kalau itu bisa jadi jalan pintas untuk menikah. Jelas Haruko tidak setuju. Karena jalan pintas biasanya berakhir kacau atau bahkan hilang.


“Makanya, jika sebuah jalan terbuka, kau harus mengambilnya tanpa takut. Kadang, kau bisa tahu itu salah jalan tanpa harus mencoba berjalan,” saran Mie kemudian. “Sebuah perasaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Setelah berkencan dengan pria-pria tanpa harapan bisakah kau bangga dengan akalmu? Jika perasaanmu berkata 'tidak', mungkin sebaliknya dia orang yang tepat untukmu,” cecar Mie lagi.



Hari itu Makoto memulai misinya untuk mendapatkan kontrak baru. Ia datang ke satu demi satu kantor untuk menawarkan produk mereka. Sayangnya, dari semua yang didatangi nyaris semua menunjukkan ketidaktertarikan pada tawaran Makoto. Tapi Makoto tidak menyerah.



Sadaoka baru keluar dari kantornya saat ia melihat Haruko di seberang dan memanggilnya. Setelah dipanggil pun Haruko langsung bisa mengenali pria itu, Sadaoka, pria yang satu sekolah dengannya dulu. Haruko mengaku kalau ia bekerja di lantai delapan. Pun Sadaoka yang mengaku baru dipindahkan ke lantai 8 di gedung seberang. Ternyata mereka sudah tidak bertemu sejak 8 tahhun silam, sejak tahun terakhir di universitas. Sadaoka memberikan kartu namanya pada Haruko, ia bekerja di perusahaan perdagangan.


“Kau sama sekali tidak berubah,” puji Sadaoka.


Tapi Haruko menggeleng cepat, “Aku berubah tahu. Beberapa hari lalu aku menemukan uban, Aku langsung menariknya!”


“Aku punya 2 atau 3 tumbuh disekitar sini,” ujar Sadaoka juga dengan sumringah.


Dari arah lain, tampak Makoto mendekat. Ia mengenali pria itu sebagai Sadaoka, yang sedang bicara dengan Haruko. Makoto pun mencoba menyapa. Sadaoka mengira kalau Makoto bekerja di perusahaan yang sama dengan Haruko. Tapi Haruko mengoreksi cepat, kalau Makoto bekerja di perusahaan sebelah.


“Kau tidak ingat aku?” tanya Makoto.


“Eh, kau tahu aku?” Sadaoka heran. “Ah, kita berada di kelas yang sama di tahun pertama. Akiyoshi!” tebak Sadaoka yang dijawab gelengan oleh Makoto. “Tapi aku benar-benar mengenalmu, kan?”


“Pada preliminaries prefektur musim panas kita saling berhadapan,” Makoto memberikan klu.


“Eh? Kau si pitcher?” dan Sadaoka salah tebak nama lagi.


Makoto tidak punya pilihan selain menyebutkan namanya sendiri.


“Jadi, kau bekerja di sebelah perusahaan Haruko?” tanya Sadaoka kemudian.


“Aku baru dipindahkan kesini beberapa hari yang lalu,” aku Makoto.


“Aku tidak akan pernah melupakan pukulan itu,” lanjut Sadaoka. Makoto merasa itu wajar. “Tapi permainan itu adalah pertama dan terakhir kalinya memukul.”


Makoto kaget, “Benarkah?”


“Sadaoka-kun selalu duduk di bangku cadangan,” Haruko menimpali.


“Hari itu, salah satu pemain inti terluka, Dan orang yang akan menggantikannya lengannya terluka. Itu murni kebetulan. Aku sama sekali tidak merasa ada harapan. Mereka mengira tidak ada yang bisa memukulnya,” lanjut Sadaoka.


“Sebagai lawanmu, ini mungkin aneh untuk dikatakan. Tapi kupikir kau melakukannya cukup baik,” komentar Makoto.


“Itu kebetulan juga.”


“Apa kebetulan berlanjut seperti itu?” tanya Makoto lagi.


“Kau tahu, Masaki-kun, karena kau adalah pitcher yang bagus, Aku tidak mengira aku bisa memukul bola sama sekali. Aku hanya mengira, dan tiba-tiba memukulnya,” Sadaoka pun memraktekkan gaya memukulnya.


“Ya, setelah pertandingan kau mengatakannya, 'Tuhan baseball tersenyum kepadaku.'” Sambung Haruko.


“Heh, aku bilang begitu? Memalukan banget!” Sadaoka pun menawari Makoto untuk pergi minum kapan-kapan. Makoto setuju saja.



Makoto sampai ke rumahnya saat hari sudah gelap. Saat itu si Dewa muncul. Tapi Makoto tidak tampak terkejut sama sekali. Dewa berpikir kalau Makoto sudah terbiasa. (well, gais sepertinya Na nggak akan pakai istilah God lagi ya. Tapi diganti jadi Dewa aja deh, biar gampang #ehe. Semoga nggak pada bingung ya)


Makoto mendadak serius. Ia bertanya soal Sadaoka. Makoto berpikir kalau si Dewa inilah yang membuat Sadaoka bisa memukul dengan baik saat pertandingan dulu.


“Aku bukan Dewa baseball!” elak si dewa cepat. “Apa kau pikir aku membantunya untuk bisa memukul bola di pertandingan? Aku tidak punya waktu untuk itu!”


“Kau datang kesini, setiap malam pasti kau punya waktu,” protes Makoto.


“Dia mungkin hanya tiba-tiba mengatakan itu, karena akhirnya dia bisa bermain, dia berusaha lebih keras dari yang lain. Sederhananya, dia membuat hit dengan keahliannya sendiri.”


“Jadi sederhananya, aku kalah dalam hal kemampuan,” Makoto menyimpulkan. “Kuharap aku tidak bertanya.”


Obrolan berubah. Kali ini mereka kembali membahas cara mendapatkan hati Haruko. Makoto berpikir kalau yang paling penting adalah Cinta dan kesungguhan. Tapi dewa mengatakan bukan. Karena yang paling penting adalah ... uang.


“Di kantormu menawarkan bonus, kan? Jika kau mendapatkannya, uang bisa menjadi senjata yang kau gunakan, untuk membuatnya melihatmu,” ujar dewa lagi.


“Tunggu sebentar. Kau tahu berapa banyak tabungan yang kumiliki ?!” tantang Makoto.


“Tentu, dengan uang segitu, kau bahkan tidak bisa membeli sepasang kaus kaki,” si dewa pamer kaus kakinya sambil menggerakkan jempol kakinya.


“Hah, aku sudah cukup banyak kaus kaki!” ujar Makoto kesal.


“Mau aku beritahu berapa banyak tabungan Sadaoka?” tantang dewa balik.


“Aku tidak ingin tahu! Aku akan merasa seperti tidak akan menang,” Makoto kesal.


“Uang akan memungkinkan kau untuk bergerak kapan saja. Tapi jika itu bukan dari kerja kerasmu maka itu tidak akan berarti,” saran dewa lagi.


“Jika aku mendapat 10 kontrak penjualan baru itu akan menjadi caranya, kan? Aku hanya harus melakukannya!” ujar Makoto serius.


“Dia saingan yang lebih sulit dari yang kau pikirkan!”



Makoto memandangi pengumuman bonus untuk 10 kontrak baru di dinding belakang meja kerjanya. Tekadnya sudah bulat. Ia harus berhasil.


Hari itu, Makoto kembali melakukan pekerjaannya. Ia keluar dan mendatangi satu per satu perusahaan lain untuk menawarkan produk air mineral mereka. Beragam cara dan upaya dilakukan Makoto. Dari memberikan bonus sampai mengekor si pemilik perusahaan dan meminta waktu untuk bicara. Makoto benar-benar serius kali ini.


 


Rupanya gelagat Makoto pun menjadi perbincangan rekan-rekan sekantornya. Dan mereka tahu alasan Makoto begitu bersemangat beberapa hari belakangan, demi bonus untuk kontrak baru. Tapi ada salah satu rekan kerjanya yang nyinyir dan mengaku tidak mau repot harus seperti Makoto, kalau Cuma ingin bonus. Ia pun pamit pergi duluan.


Rekan Makoto yang lain pun membicarakan pria tadi. Meski kelihatan cuek dan nyinyir, si karyawan tadi sebenarnya salah satu yang terbaik. Dia juga pernah mendapatkan sejumlah kontrak besar dari tempat-tempat yang tidak terbayangkan sama sekali. Bahkan dari perusahaan saingan. Sayangnya, si karyawan ini tidak konsisten dengan semangatnya. Sekarang saja, tidak banyak yang dilakukannya.



Sadaoka selesai membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang. Ia memandang keluar jendela dan melihat Haruko—yang ada di gedung seberang lantai yang sama—juga sedang beres-beres bersiap pulang. Tampak Haruko sedang bicara dengan Mie.


Sementara itu di seberang ...


“Maaf Haruko, pesta minumnya dibatalkan. Ternyata tiba-tiba ada perjalanan bisnis ke luar negeri itu kejam, kan? Itu jelas saja bohong. Saat mereka menggunakan kata 'di luar negeri' mereka pikir kita tidak punya pilihan selain menerimanya,” curhat Mie sambil mengomel.


“Bukankah kau yang menyuruhku untuk tidak berprasangka pada pebisnis?” Haruko mengingatkan.



Makoto ditelepon oleh rekannya dan ditanya apa ia sudah selesai. Tapi Makoto mengatakan belum dan masih menunggu.


“Cepatlah, selesaikan segera dan kembali,” ujar si rambut cepak lagi.


“Aku juga ingin,” sesal Makoto. Ia bicara dengan suara pelan sambil melihat ke sekitar, menunggu orang yang tadi ditawarinya produk mereka.



Haruko dan Mie baru keluar dari kantor saat melihat Sadaoka sudah menunggu mereka di luar. Mereka sedang bicara soal minuman yang akan dipilih.


“Selamat malam. Aku pikir kita bisa pergi minum,” sapa Sadaoka.


“Maaf. Kita baru saja mau pergi minum,” tolak Haruko. Ia mengacu pada dirinya dan Mie.


Tapi Mie paham situasi. Ia pun mengajak Sadaoka untuk bergabung sekalian. Mie minta izin pada Haruko. Dan dengan sedikit bujukan, Haruko pun setuju kalau Sadaoka bergabung dengan mereka untuk minum malam itu.



Mereka bertiga pun minum di bar tempat biasa Mie dan Haruko datang. Sadaoka berpikir kalau Haruko sudah menikah. Dan ini membuat Mie penasaran dengan masa lalu Haruko. Mie pun bertanya seperti apa Haruko saat di SMA.


“Dia sangat populer,” ujar Sadaoka.


“Jangan bilang yang tidak-tidak!” elak Haruko.


“Di buku tahunan kelulusan, rangking 'Siapa yang akan menjadi istri terbaik' dia di no.1 dengan tulisan yang sangat besar,” Sadaoka melanjutkan.


“Benarkah begitu?!” Mie terkejut. “Itu sangat ironis dengan bagaimana dia sekarang.”


“Sebenarnya, dia pernah menolak ku sekali,” curhat Sadaoka kemudian. Membuat Mie makin penasaran. “Setelah hari olahraga di tahun ke 3 kami, Aku mengumpulkan keberanian dan mengajaknya kencan. Dia sedang sibuk dengan ujian masuk universitas dan bilang 'maaf'. Bagaimanapun, aku ingin dia mengatakan apakah dia menyukaiku atau tidak.”


“Dia bisa saja mengatakan 'Tentu setelah ujian selesai.’,” timpal Mie kemudian.


“Sebenarnya, aku tertarik padanya beberapa saat setelah kami masuk universitas,” lanjut Sadaoka pula.


Obrolan pun terus berlanjut. Kali ini Mie yang bertanya pada Haruko, apa pendapatnya soal Sadaoka. Sadaoka tampak tertarik dan penasaran juga.


Haruko tampak berpikir sebelum menjawab, “Aku tidak terlalu ingat.”


Jelas jawaban ini membuat Mie dan Sadaoka kecewa. Obrolan pun berlanjut. Sadaoka mengaku kalau dia senang berada di sekitar Haruko, rasanya selalu menyenangkan. Karena Haruko selalu membawa energi positif bagi orang-orang di sekitarnya.


“Itulah mengapa semua orang ingin menikahinya...jadi ironis bagaimana dia berakhir,” komentar Mie, kembali menggoda Haruko.


Haruko kesal dan berniat pergi. Tapi Mie menahannya dan mengatakan kalau ia hanya bercanda. Mereka pun melanjutkan minum dan memesan menuman baru lagi.



“Kau akan mendaftarkan kontraknya! Aku sudah membicarakannya dengan atasan, dan menyetujuinya. Aku belum memberimu kartu bisnis ku,” ujar seorang pria.


Makoto menerima kartu nama itu dan terkejut karena namanya adalah Kogetsu.


“Itu nama yang tidak biasa ya. Aku sudah lama bekerja tapi, Aku belum pernah bertemu seseorang dengan nama keluarga yang sama,” ujar Kogetsu-san pula.


“Apakah kau, mempunyai anak perempuan?” tebak Makoto, belum yakin.


“Kenapa kau bisa tahu?!”


“Ah, hanya terlihat sepertinya memang begitu.”


Kogetsu-san makin kaget, “Kau bisa melihat sesuatu? Seperti arwah atau semacamnya?”


“Ah, tidak tidak. Itu hanya naluri penjual,” elak Makoto cepat. Ia tidak mau membuat masalah.



“Sadaoka boleh juga,” komentar Mie saat ia hanya berdua dengan Haruko.


“Kau tertarik padanya?”


“Bukan begitu. Maksudku untukmu,” elak Mie. Ia berpikir kalau Sadaoka cocok untuk Haruko, terutama karena ia pria realistik. “Penampilan dan pekerjaannya tidak buruk, tidak seperti mantan pacarmu yang asal-usulnya tidak menjadi perhatian. Dia memenuhi semua persyaratan.”


“Hal yang harus dikatakan dalam situasi ini adalah 'Kau cocok satu sama lain.',” ujar si pemilik bar, ikut nimbrung.



“Apa yang kalian bicarakan?” saat itu Sadaoka baru kembali.


Mie seperti biasa menjawab asal. Dan itu membuat Haruko kesal juga.


“Kenapa Haruko belum menikah?” tanya Sadaoka to the point.


“Jika ada seseorang, aku ingin...” Haruko tampak berpikir.


“Kau belum punya pacar?” tebak Sadaoka lagi.


Dari obrolan mereka, Sadaoka juga punya masalah yang sama. Ia ingin segera menikah tapi tidak punya pasangan. Dan ternyata, mereka single dalam kurun waktu yang sama, sekitar 2 tahun terakhir.


“Jadi, kenapa kalian tidak bersama?!” saran Mie.


Haruko kaget. Sementara Sadaoka langsung mengiyakan. Ini membuat Haruko kesal. Tapi Sadaoka mengatakan kalau itu Cuma bercanda. Obrolan pun berlanjut. Mereka pun memesan minuman lagi dan berbagi traktiran.



Kogetsu-san membubuhkan cap pada kotraknya dengan perusahaan Makoto. Ia pun mulai curhat, “Ah... Mungkin esok hari Aku menandatangani surat nikah putriku seperti ini. Dengan caranya sendiri yang akan membuatnya sedih, tapi jika begini terus, kupikir dia mungkin akan selalu sendirian. Sayang sekali bukan. Tidak apa-apa. Aku yakin dia akan menemukan seseorang yang baik. Kau sudah menikah?”


“Ah, belum ... “ Makoto kaget tiba-tiba ditanya seperti itu.


“Bagaimana dengan anak perempuanku?” pertanyaan Kogetsu-san membuat Makoto makin kaget. Tapi ia buru-buru meralatnya dan mengatakan kalau itu Cuma bercanda. “Kau orang yang sangat serius ya.”


“Orang sering marah padaku karena tidak bisa bercanda,” ujar Makoto.


“Bagaimana kalau kita pergi minum?” tawar Kogetsu-san kali ini, tampak serius.



Mie, Haruko dan Sadaoka masih melanjutkan obrolan mereka. Kali ini mereka membahas soal festival sekolah dan salah satu band-nya yang membawakan musik folktale. Haruko mengatakan kalau band itu punya musik mereka sendiri dan berpakaian aneh. “Mereka bernyanyi tentang perdamaian dunia.”


Sadaoka ikut menimpali. Dalam band itu tidak ada yang memainkan gitar. Mereka Cuma pegang gitar dan pura-pura memainkannya. “Aku tidak tahu kenapa tapi, aku bermain dengan sangat baik.”


“Sehari setelah kelulusan, mereka meminjam tempat dan mengadakan pertunjukan reuni. Bahkan saat aku melihat merpati di taman, mengingatkanku akan lagu itu. 'Burung merpati penyihir itu bersiap untuk berdamai.'” Haruko berdendang sedikit.


Dan ternyata Sadaoka juga tahu lirik itu. Haruko mengaku ia juga kadang mendendangkannya saat sedang mandi. Haruko pun meminta Sadaoka untuk menyanyikannya. Ide yang disetujui juga oleh Mie. Bahkan pemilik bar menawarkan untuk mengambilkan gitar bagi Sadaoka.


“Heh, disini? Itu tidak mungkin,” elak Sadaoka. “Aku hampir lupa liriknya.”



Malam itu Makoto berakhir dengan pergi minum bersama Kogetsu-san. Bahkan saat Kogetsu-san minta tambah minuman, Makoto tidak keberatan lagi menemaninya.


“Aku harap aku punya karyawan sepertimu. Hari-hari ini, jika aku meminta mereka untuk minum, mereka menolaknya. Beberapa dari mereka bahkan tidak lepas perhatiannya dari layar komputer, dan hanya mengatakan 'aku tidak bisa',” curhat Kogetsu-san pula.


“Itu tidak sopan,” komentar Makoto.


“Dibandingkan denganmu hari ini dengan pria paruh baya yang baru saja kau temui, menganggapnya serius dan keluar untuk minum. Kuharap anak perempuan ku bisa menemukan seseorang sepertimu. Aku tidak bercanda, aku bersungguh-sungguh!”


Makoto terdiam sejenak sebelum menjawab, “Terima kasih banyak!”



Makoto tiba di rumah dan sepi. Tapi ia kembali dibuat kaget oleh dewa yang muncul tiba-tiba di depannya lalu duduk di sebelahnya.


“Ada masalah apa?! Kenapa reaksimu begitu?”


“Aku lelah, beri aku istirahat,” protes Makoto.


Dewa mulai membahas soal yang Makoto lakukan hari itu. Alih-alih mendekati Haruko, ia justru sibuk dengan ayah Haruko. “Ketika kau sedang mendekati ayahnya, sainganmu terus-menerus mengumpulkan poin. Seperti ini. Kerching, kerching.”


“Poin apanya?”


“Sekarang, dia sedang di sisinya dan tidur dengan gembira. Dia tertidur,” dewa menyandarkan kepalanya di bantal yang ada di pangkuan Makoto.


“Kau pasti bohong!”



Haruko, Mie dan Sadaoka sudah pindah ke bar lain. Saat itu Sadaoka tampak setengah tertidur. Sementara para wanita mulai mengobrolkannya.


“Dia pria yang baik, bukan?” ujar Mie.


“Karena dia mentraktir kita, kan.”


“Bukan itu,” elak Mie cepat. “Yah, itu juga. Kukira dia cocok denganmu.”


Saat itu Sadaoka yang terkantuk-kantuk terbangun. “Woah, apa aku tertidur sebentar tadi?”


Haruko membecandainya soal tidur kemudian beranjak bangun dan pergi.


“Ini kedua kalinya Haruko datang bersamaku untuk bertemu pria,” ujar Mie pada Sadaoka saat tinggal mereka berdua saja. “Sudah sejak lama aku tidak melihatnya (Haruko) begitu menyenangkan.”


“Yang hanya kulihat darinya ketika SMA yaitu saat dia selalu tersenyum,” ujar Sadaoka.


“Berbagai hal menyakitkan terjadi saat usianya 20-an. Dia memiliki nasib buruk dengan pria,” Mie mulai membahas soal Haruko. “Begitu dia mulai pacaran dengan mereka, mereka berhenti bekerja dan menjadi parasit, atau ternyata mereka punya istri. Kurasa dia tidak mengira dia akan melakukan semacam kesalahan itu sendiri. Jadi, itu mengejutkannya, dan dia sekarang menjadi sangat berhati-hati.”


“Tentu saja, aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya untuk memiliki kisah cinta seperti itu,” komentar Sadaoka.


“Bolehkah aku jujur?” tanya Mie kemudian. “Tidakkah kau pikir kau ingin melindunginya?”


Sadaoka berpikir sebentar, “Aku akan berbohong jika aku mengatakan 'aku sama sekali tidak berpikir seperti itu'.”


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di I'm Your Destiny episode 02 part 2.


Pictures and written by Kelana

Bening Pertiwi 13.23.00
Read more ...

PREVIEW Summer Drama 2017 part 3. Haloooo .... akhirnya tiba di part 3 alias part terakhir dari rangkaian review summer dorama 2017. Nah, udah ketemu dengan dorama yang menarik hati atau belum nih? Masih bingung milih? Ok deh, kalau gitu Na tambahin biar tambah bingung di part 3 ini, hehe #devilSmile


 



Ecchan


Tayang: pada 18.05 mulai Sabtu, 15 July 2017


Stasiun TV: NHK


Penulis naskah: Sakurai Tsuyoshi (Bakumatsu Gurume Bushimeshi, Omotesando Koukou Gasshoubu!, Genkai Shuraku Kabushikigaisha)


Karya asli: Ecchan oleh Shishi Bunroku


Genre: Period love comedy


Pemeran: Santamaria Yusuke, Kadowaki Mugi, Ishida Nicole, Hirao Nanaka, Horiuchi Keiko, Ando Tamae, Murakawa Eri, Minemura Rie, Yano Masato, Hashimoto Atsushi, Konno Misako, Oshima Yoko, Okamoto Kenichi, Aijima Kazuyuki, Nishimura Masahiko, Kataoka Ainosuke (narrator)


Sinopsis:


Tokyo 1935. Yanagi Etsuko (Hirao Nanaka)—10tahun—adalah gadis kecil yang menyukai lagu. Ayahnya, Kantaro (Santamaria Yusuke), seorang penulis lagu, masih tidak bisa melupakan istrinya yang sudah meninggal. Melihat ayahnya seperti itu, Etsuko mencari calon pengantin ayahnya sekaligus calon ibunya. Target pertamanya adalah gurunya, Muraoka Masako (Murakawa Eri) yang diminta kencan dengan ayahnya. Tapi itu tidak berjalan dengan baik. Orang berikutnya yang menarik perhatiannya adalah seorang penjual Ikebe Kyoko (Kadowaki Mugi) yang ditemuinya di supermarket. Etsuko tertarik dengan Kyoko dan menyayanginya seperti ibunya sendiri. Tapi saat itu, kakak perempuan Kentaro Tsuruyo (Minemura Rie) memperkenalkannya dengan Kusakabe Kaoru (Ishida Nicole), seorang putri pemilik bank yang sangat cantik yang juga pemilik modal dari perusahaan suaminya, (Aijima Kazuyuki)


Website: www.nhk.or.jp/jidaigeki/etchan




Uchi no Otto wa Shigoto ga Dekinai


Tayang: pada 22.00 mulai Sabtu, 8 July 2017


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Watanabe Chiho (Beppin-san, Go-nin no Junko, Tatakau! Shoten Girl)


Genre: Career, family


Pemeran: Nishikido Ryo, Matsuoka Mayu, Sato Ryuta, Dan Mitsu, Yabu Kota, Imoto Ayako, Eguchi Noriko, Yoshimoto Miyu, Yagyu Miyu, Yashiki Hiroko, Abe Shohei, Kasamatsu Sho


Sinopsis:


Kobayashi Tsukasa (Nishikido Ryo) yang tampan punya latar belakang pendidikan dan pendapatan yang bagus. Dia seharusnya jadi suami ideal. Tapi suatu hari, istrinya Sayaka (Matsuoka Mayu) mengetahui rahasianya. Tsukasa selalu kesulitan dalam pekerjaannya. Tapi Tsukasa tidak ingin Sayaka, yang percaya kalau ia suami terbaik, tahu kalau faktanya sebaliknya. Tapi sejumlah kesalahan membuat Tsukasa makin tersudut. Saat Tsukasa akan berhenti, dia tahu kalau Sayaka hamil. Dia tidak ingin membuat Sayaka sedih, dia memutuskan akan bekerja lebih baik lagi.


Website: www.ntv.co.jp/shigotogadekinai




Miyazawa Kenji no Shokutaku


Tayang: pada 22.00 mulai Sabtu, 17 June 2017


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskah: Ikeda Natsuko (Suna no Tou, Algernon ni Hanabata o (2015), Alice no Toge)


Karya asli: Miyazawa Kenji no Shokutaku oleh Uonome Santa


Genre: Biographical


Pemeran: Suzuki Ryohei, Ishibashi Anna, Yamazaki Ikusaburo, Ichikawa Mikako, Yanagisawa Shingo, Okayama Hajime, Takezai Terunosuke, Inowaki Kai, Inukai Naoki, Kanno Misuzu, Hirata Mitsuru


Sinopsis:


Pada 1921, Miyazawa Kenji (Suzuki Ryohei) yang masih muda pergi dari keluarganya yang kaya dan datang ke Tokyo. Selama delapan bulan tinggal dan bekerja di Tokyo, dia tidak bisa melupakan adiknya tersayang Toshi (Ishibashi Anna). Suatu hari di akhir musim panas, dia mendapat telegram tidak terduga yang mengatakan kalau adiknya sakit dan dia diminta pulang. Kenji pulang ke rumah dan menemukan adiknya baik-baik saja. Dia telah dibohongo oleh ayahnya Masajiro (Hirata Mitsuru) yang mengkhawatirkannya. Kenji tidak bisa menemukan sesuatu yang menarik baginya. Tapi dia mulai menyadari kalau dia senang saat membuat kroket yang pernah dicobanya di Tokyo bersama keluarganya.


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/kenji




Plage ~ Wakeari Bakari no Sharehouse


Tayang: pada 22.00 mulai Sabtu, 12 August 2017


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskahs: Oura Kota (Heat, Shomuni (2013)), Yoshida Yasuhiro (Cold Case)


Karya asli: Plage oleh Honda Tetsuya


Genre: Mystery


Pemeran: Hoshino Gen, Naka Riisa, Mashima Hidekazu, Nakamura Yuri, Shibukawa Kiyohiko, Suga Shikao, Ishida Yuriko


Sinopsis:


Seorang salesman 32 tahun, Yoshimura Takao (Hoshino Gen) gagal dalam pekerjaannya di agensi perjalanan dan membuatnya lebih buruk, dicerca oleh wanita yang dia suka. Dia kemudian ditangkap untuk sesuatu yang tidak diketahuinya dan dihukum. Takao pun dipecat dari perusahaannya. Kemudian apartemen tempat tinggalnya terbakar. Takao dibawa untuk tinggal bersama di cafe bernama ‘Plage’ di lantai dasar. Sewanya 50.000 yen, jadwal bersih-bersih, hanya dibatasi gorden untuk ruang pribadi tetapi dengan makanan enak. Takao mulai tinggal disana sampai pekerjaan barunya diputuskan. Tapi dia terlibat keributan dengan penghuni lainnya, (Naka Riisa, Mashima Hidekazu, Nakamura Yuri, Shibukawa Kiyohiko).


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/plage




Yaneura no Koibito


Tayang: pada 23.40 mulai Sabtu, 3 June 2017


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskah: Ouki Shizuka (Kurofuku Monogatari, Karamazov no Kyoudai, Tsugunai)
Genre: Love suspense


Pemeran: Ishida Hikari, Imai Tsubasa, Miura Rieko, Matsuzawa Kazuyuki, Otomo Karen, Takahashi Futo, Hayata Ryusei, Katsumura Masanobu, Takahata Atsuko


Sinopsis:


Ibu rumah tangga Saijo Kinuka (Ishida Hikari) pindah ke rumah gaya eropa di Kamakura dengan suaminya Makoto (Katsumura Masanobu), putrinya Honoka (Otomo Karen) dan anak laki-laki setelah kematian ayah mertuanya. Ini karena istri kedua ayah mertuanya Chizuko (Takahata Atsuko). Karena tinggal satu atap dengan ibu mertuanya, Kinuka memutuskan shift. Itu adalah rumah yang ingin dia penuhi dengan bunga-bunga dari kelas merangkai bunga untuk keluarganya.


Suatu hari pesta penyambutan, mantan kekasih Kinuka Seno Itsuki (Imai Tsubasa) tiba-tiba muncul meski mereka sudah berpisah 18 tahun silam. Dia bilang dikejar hutang dan meminta Kinuka untuk menutupinya. Kinuka takut dan menolaknya tapi dia menghilang. Hal-hal aneh mulai terjadi. Makanan di kulkas yang hilang, cucian suaminya yang hilang dan dia mendengar suara violin dari peringatan pernikahannya. Saat Kinuka naik ke loteng karena suara musik, dia menemukan Seno memainkan violin. Dia tinggal di sana secara rahasia dan mulai memerhatikan keluarga itu. Kinuka mulai menemukan rahasia keluarganya dan bahkan temannya Suganuma Kyoko (Miura Rieko). Kinuka pun tersudut dan perasaannya pada Seno kembali. Kemudian insiden tidak terduga terjadi.


Website: tokai-tv.com/yanekoi




Utsubokazura no Yume


Tayang: pada 23.40 mulai Sabtu, 5 August 2017


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskahs: Fujii Kiyomi (Renai Jidai, Take Five, Kuro no Onna Kyoushi), Nakamura Yukari (Keiji 110 kg Series)


Karya asli: Utsubokazura no Yume oleh Nonami Asa


Pemeran: Shida Mirai, Otsuka Nene, Kokusho Sayuri, Matsumoto Toshio, Haba Yuichi, Matsubara Chieko


Sinopsis:


Saito Mifuyu (Shida Mirai)—18 tahun—seorang gadis sederhana yang tumbuh di Nagano. Setelah ibunya meninggal, ayahnya membawa kekasihnya ke rumah. Mifuyu tiba di Tokyo karena undangan adik sepupu ibunya, Kashimada Naoko (Otsuka Nene) untuk datang ke rumahnya. Rumah itu dipenuhi kemewahan yang bahkan tidak pernah dia bayangkan. Berpikir akan menguntungkan, Mifuyu mulai mencari cara untuk kerasan di keluarga Kashimada dan dalam prosesnya membuatnya berubah jadi gadis yang bisa melakukan apapun demi mencapai tujuannya.


Website: tokai-tv.com/utsubokazura


 



Izakaya Fuji


Tayang: pada 00.20 mulai Minggu, 9 July 2017


Stasiun TV: TV Tokyo


Penulis naskahs: Nemoto Nonji (Gin to Kin, Otokomeshi, Hatsukoi Geinin), Yamada Akane (Kichijoji dake ga Sumitai Machi desu ka? Jikou Keisatsu Series), Awashima Zuimaro, Imanishi Yuko


Karya asli: Izakaya Fuji oleh Kuriyama Keisuke


Pemeran: Nagayama Kento, Omori Nao, Iitoyo Marie, Tateishi Ryoko, Suwa Taro, Hirata Atsuko, Yo Kimiko, Nakamura Genki, Murakami Jun, Shinohara Ryoko (bintang tamu), Osugi Ren (bintang tamu), Shiina Kippei (bintang tamu), Mizukawa Asami (bintang tamu), Nagayama Yoko (bintang tamu), Tezuka Toru (bintang tamu), Ono Nonoka (bintang tamu), Oto Takuma (bintang tamu), Kishitani Goro (bintang tamu), Yamamoto Mirai (bintang tamu), Matsuo Takashi (bintang tamu)


Sinopsis:


Nishio Eiichi (Nagayama Kento) datang sendirian ke Tokyo untuk mengejar mimpinya. Dia adalah aktor muda yang selalu jadi mayat tiap kali muncul di drama. Suatu hari, Nishio masuk ke pub kecil bernama Fuji di Nakameguro dan melihat aktor Omori Nao (Omori Nao), yang terkenal sedang minum di sana. Nishio ingat kalau penting dia datang untuk berinteraksi dengan Omori dan selebriti lain yang biasa datang ke Fuji.


Website: www.tv-tokyo.co.jp/izakaya_fuji




Gomen, Aishiteru


Tayang: pada 21.00 mulai Minggu, 9 July 2017


Stasiun TV: TBS


Penulis naskah: Asano Taeko (Dakara Kouya, Utsukushiki Wana, Ten no Hakobune)


Karya asli: I’m Sorry, I Love You oleh Lee Kyung-Hee


Genre: Romance


Pemeran: Nagase Tomoya, Yoshioka Riho, Sakaguchi Kentaro, Onishi Ayaka, Daichi, Yamaji Kazuhiro, Kusamura Reiko, Rokkaku Seiji, Ikewaki Chizuru, Nakamura Baijaku, Otake Shinobu, Lee Soo-hyuk


Sinopsis:


Okazaki Ritsu (Nagase Tomoya) ditinggalkan ibunya saat masih kecil dan tinggal di pinggiran. Dunia pinggiran adalah satu-satunya tempatnya. Suatu hari, pada situasi aneh, Ritsu menyelamatkan Mita Rinka (Yoshioka Riho). Pertemuan ini mengubah takdir mereka. Ritsu kemudian mengalami kecelaan dan luka di kepala. Tidak ada yang tahu kalau ia bisa bertahan. Ingin menemukan ibunya, Ritsu pun mulai mencari. Dia menemukan Hyuga Reiko (Otake Shinobu) dari informasi yang dimilikinya. Tapi dia menemukan ibu yang dikira sudah mengabaikannya, menunjukkan cinta yang sangat besar pada anaknya Satoru (Sakaguchi Kentaro). Dia terkejut dengan kekayaan mereka dan kebahagiaan, membuat perasaannya kacau. Dia pun bertemu Rinka lagi. Rinka menyukai teman kecilnya Satoru sementara Ritsu mencari cinta karena dia tidak pernah dicintai sejak kecil. Rinka perlahan membuatnya tersentuh dan tidak kesepian lagi. Satoru mendapatkan semua cinta ibunya tanpa tahu rasa iri Ritsu. Dan Reiko menyayangi Satoru tanpa tahu kalau putranya ada di sekitarnya. Sekarang hidup mereka saling terhubung.


Website: www.tbs.co.jp/gomen_aishiteru




Keishichou Ikimono-gakari


Tayang: pada 21.00 mulai Minggu, 9 July 2017


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskah: Tanaka Shinichi (Shachoushitsu no Fuyu, Medical Team Lady Da Vinci no Shindan, Kaiki Renai Sakusen)


Karya asli: Okura Takahiro


Genre: Investigative


Pemeran: Watabe Atsuro, Hashimoto Kanna, Miura Shohei, Hasegawa Tomoharu, Ishikawa Ren, Kiyohara Sho, Yokoyama Daisuke, Denden, Terajima Susumu, Asano Atsuko


Sinopsis:


Sudo Tomozo (Watabe Atsuro)—48tahun—mantan asisten inspektur di divisi investigasi satu Departemen Kepolisian Metro Tokyo terluka saat bertugas dan ditarik dari investigasi. Dia kemudian dipindahkan ke departemen tak penting, departemen yang mengurus tanaman dan hewan yang mengurus hewan-hewan peliharaan dari tersangka atau orang hilang. Di sini dia bertemu Usuki Keiko (Hashimoto Kanna)—22 tahun—lulusan pengobatan hewan yang sangat suka hewan. Sudo kesal dengan Keiko yang lebih menyukai hewan dibanding manusia. tapi, kemunculan hewan yang tertinggal di TKP adalah petunjuk baginya. Dia menggunakan ini untuk melakukan observasi. Dan akhirnya, Sudo serta Keiko menjadi partner untuk menyelesaikan kasus.


Website: www.fujitv.co.jp/ikimono




Hanzai Shokogun Season 2


Tayang: pada 22.00 mulai Minggu, 11 June 2017


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskahs: Shinozaki Eriko (Rakuen, Copyface, Kami no Tsuki), Taniguchi Junichiro (Honjitsu Ohigara mo Yoko, Keiji no Manazashi)


Karya asli: Shokogun Series oleh Nukui Tokuro


Genre: Suspense


Pemeran: Tamayama Tetsuji, Tanihara Shosuke, Watabe Atsuro, Komoto Masahiro, Mimura, Tsuruta Mayu, Sakurada Hiyori, Kaname Jun, Kimura Tae, Nomaguchi Toru, Tezuka Satomi, Itao Itsuji, Kobayashi Yutaka, Aijima Kazuyuki, Ryu Raita


Sinopsis:


Satu tahun yang lalu, wanita yang dicintai oleh dua pria terbunuh. Mantan detektif Muto Takashi (Tamayama Tetsuji) adalah kakaknya yang mencintai wanita itu seperti ayahnya sejak orang tua mereka meninggal. Teman baiknya, Kaburagi Wataru (Tanihara Shosuke), seorang detektif senior sebenarnya kekasih wanita itu dan wanita itu satu-satunya yang dicintai Kaburagi dalam hidupnya. Kaburagi meyakinkan Muto untuk melupakan masa lalu. Tapi, Kaburagi sendiri yang melewati batas dan terlibat dalam balas dendam.


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/hanzaishokogun




Akira to Akira


Tayang: pada 22.00 mulai Minggu, 9 July 2017


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskah: Maekawa Yoichi (Shizumanu Taiyo, Shitamachi Rocket (WOWOW))


Karya asli: Akira to Akira oleh Ikeido Jun


Pemeran: Mukai Osamu, Saito Takumi, Koizumi Kotaro, Tanaka Rena, Kaku Kento, Kinoshita Houka, Horibe Keisuke, Matsushige Yutaka, Takimoto Miori, Nagashima Toshiyuki, Kamikawa Takaya (bintang tamu), Omi Toshinori, Ishimaru Kanji


Sinopsis:


Pada April 1986, pengenalan dilakukan Bank Sangyo Chuo untuk karyawan baru. Kegiatan puncaknya adalah adu strategi keuangan antara dua tim. Pemimpin kedua tim itu adalah Kaido Akira (Mukai Osamu) dan Yamazaki Akira (Saito Takumi) yang keduanya lulusan universitas Tokyo. Sebagai putra dari salah satu perusahaan besar di Jepang, Kaido lahir dalam hidup yang mudah dan punya masa depan cerah sebagai calon pimpinan perusahaan. Di sisi lain, si jenius Yamazaki mengalami kesulitan setelah perusahaan ayahnya bangkrut dan keluarganya harus melarikan diri di malam hari. Mereka berdua bergabung di bank yang sama. Faktanya, hidup mereka pernah berhubungan sebelumnya. Tapi mereka tidak tahu fakta ini. Kaido dan Yamazaki saling menantang sebagai teman baik sekaligus rival. Dan saat takdir terkuak ...


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/akira




Aishitetatte, Himitsu wa Aru


Tayang: pada 22.30 mulai Minggu, 16 July 2017


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Kuwamura Sayaka (Sukina Hito ga Iru Koto, Koinaka)


Karya asli: Akimoto Yasushi


Genre: Mystery


Pemeran: Fukushi Sota, Kawaguchi Haruna, Kaku Kento, Suzuki Kosuke, Shirasu Jin, Yashiba Toshihiro, Saeki Daichi, Emoto Tokio, Yamamoto Mirai, Horibe Keisuke, Endo Kenichi, Okae Kumiko, Suzuki Honami


Sinopsis:


Pegawai magang di bidang hukum, Okumori Rei (Fukushi Sota) bersiap menikah saat dia disudutkan oleh seseorang soal rahasia masa lalu. Delapan tahun silam, saat musim panas di tahun ketiga SMA, Rei membunuh ayahnya Kosuke (Horibe Keisuke) dan membuatnya seolah menghilang demi melindungi ibunya Akiko (Suzuki Honami) dari KDRT. Ini jadi rahasia antara mereka. rei berniat menjadi pengacara dan tidak mau terlalu terlibat dalam dengan siapapun. Itu sampai di bertemu Tachibana Saya (Kawaguchi Haruna) di sekolah hukum. Saya seperti cahaya yang menerangi hidup Rei dan mereka pun jatuh cinta. Tapi, setelah pernikahan Rei dan Saya diputuskan, Rei mulai menerima pesan misterius yang tahu rahasianya.


Website: www.ntv.co.jp/aishitetatte



Cr. All English text from www.jdramas.wordpress.com


Kelana hanya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia


Beberapa informasi mungkin masih belum lengkap atau masih keliru, akan diupdate selanjutnya.


Posting at www.elangkelana.net




Kelana’s note :


Ada dua drama yang cukup menarik bagi Na di part 3 ini. Yang pertama, Uchi no Otto wa Shigoto ga Dekinai. Cerita soal suami dan istri yang sepertinya bakalan seru nih. Dan yang kedua, drama om Hoshino Gen (lagi) nih, judulnya Plage ~ Wakeari Bakari no Sharehouse. Sepertinya Na kepincut senyumnya om Hoshino Gen yang ahjussi rasa opaa, eeeeeeh ... salah kamar ya.


Kalau ada yang tanya, season ini Na akan buat sinopsis apa, sejujurnya Na belum memutuskan. Kita lihat aja ya, nanti. Gimana drama itu tayang, apakah menarik atau nggak buat disimak dan yang paling penting ... subtitle-nya lancar. Sungkem deh sama subber-sensei, #ehe

Bening Pertiwi 11.12.00
Read more ...