SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 04 part 2. Sebuah pembunuhan misterius terjadi pada sosok presdir perusahaan perhiasan yang terkenal. Ia ditemukan tewas di dalam sebuah kapsul kesehatan yang disebut cocoon.


Kecurigaan pun mengarah pada orang-orang terdekat sang presdir. Termasuk adik serta sekretarisnya sendiri. Siapa sebenarnya pelaku kasus pembunuhan ini?



Malam itu, Norio memang datang ke kediaman presdir Shuichi sekitar pukul 11 malam. Saat itu ia datang untuk membicarakan desain poster untuk produk baru perusahaan mereka. Tapi presdir Shuichi tampak marah-marah dan menganggap kalau desain poster itu sampah. Ia bahkan meminta Norio untuk membuat ulang dari warna latar belakangnya.


Pertengkaran itu diakhiri dengan saran presdir Shuichi agar Norio istirahat di dalam cocoon. Ini mungkin saja bisa membantunya untuk lebih jernih berpikir dan mendapat ide baru. Norio setuju saja. Sesaat setelah ia masuk ke dalam cocoon itu, ia pun tertidur.



Norio terbangun dan menemukan pakaian yang ditinggalkannya di dekat cocoon penuh noda darah. Ia pun mencari kakaknya dan menemukan sang presdir tergeletak di lantai, tidak sadar. Norio mengguncang-guncang tubuh kakaknya itu dan sadar kalau kakaknya sudah meninggal. Tadinya ia hendak mengambil telepon dan minta bantuan. Tapi ia segera sadar dengan situasinya sekarang yang sama sekali tidak menguntungkan.


Norio kemudian membaw jasad kakaknya itu ke dalam cocoon. Karena pakaiannya sendiri penuh darah, ia mengambil pakaian kakaknya untuk dipakai. Lantai penuh darah pun dibersihkannya dengan pakaiannya tadi. Tidak lupa ia membawa serta desain poster yang ada di meja lalu beranjak pergi. Ia kaget karena sepatunya tidak ada di depan. Tapi Norio tidak berpikir lagi. Yang dia pikirkan adalah menghilangkan semua jejak yang bisa mengarahkan kecurigaan padanya.


“Itu semua yang bisa kukatakan!” ujar Norio menutup ceritanya.



Sementara itu Himura-sensei, Alice dan det.Ono menyimak wawancara itu dari ruangan sebelah.


“Dia tampak mengelak dari semuanya,” komentar det.Ono.


“Tapi kita juga tidak punya alasan menganggap dia berbohong,” balas Himura-sensei. “Sulit mengatakan kalau dia membuat cerita palsu untuk membuat investigasi kita menjadi kacau.”



Det.Hisashi mendapatkan telepon yang melaporkan kalau mereka menemukan senjata pembunuh sang presdir. Foto senjata itu pun dikirimkan. Senjata itu ditemukan di rerumputan sekitar 500m dari TKP. Selain itu ada juga dua pasang sepatu di sana. Yang satu milik presdir Dojou Shuichi.


“Tentu yang satu lagi milikku,” sambar Norio cepat. Ia pun minta izin untuk melihat gambar yang diterima det.Hisashi. Norio ternyata mengenali benda itu, “Aku tahu ini! Dia membeli patung ini saat kami pelakukan liburan perusahaan di Toba.”


“Kau tahu pemiliknya?” pertanyaan det.Hisashi ini dijawab dengan anggukan Norio.



Himura-sensei, Alice dan Sakashita mendatangi apartemen desainer Nagaike. Ia mengelak jika yang ada dalam foto adalah patung miliknya. Ia pun lalu menunjukkan miliknya yang sebenarnya. “Patung ini adalah buatan tangan. Mata dari kedua patung itu jelas berbeda. Norio mungkin ingin menuduhku. Aku tidak mau masalah lebih banyak darinya selain soal desain.”


“Kau punya masalah dengannya?” tanya Himura-sensei.


“Dia tidak punya rasa seni sama sekali. Aku membuat poster promosi untuk musim semi dengannya saat ini. Tapi karena dia, kami harus memulai dari awal lagi,” cerita desainer Nagaike.



Alice dan Himura-sensei kembali ke kediaman Himura-sensei. Alice masih berkeras kalau kawan mereka itu, Norio tidak bersalah. Lalu desainer Nagaike juga tidak bersalah.


Himura-sensei menanggapinya dengan mengatakan kalau begitu kemungkinan pelakunya adalah sang sekretaris, Sagio Yukio. “Dia membodohi dua pria,” lanjutnya.


“Tidak! Jangan katakan hal tidak bertanggungjawab seperti itu!” protes Alice.


“Ah, kalau begitu tiga pria, termasuk kamu,” Himura-sensei masih asyik mengelus-elus si kucing.


Masalah ini rupanya membuat keduanya berdebat, tidak mau kalah. Tapi obrolan mereka terhenti saat ponsel Himura-sensei berbunyi.



Himura-sensei mendapatkan info dari forensik yang menyebutkan jika bentuk senjata pembunuh dengan tanpa luka di tubuh korban, cocok. Jadi bisa dipastikan jika patung itulah senjata pembunuhnya. Tetapi semua sidik jari yang ada sudah bersih, tentu dengan sengaja.


Laporan lain datang dari detektif muda, Sakashita. Ia mendatangi tempat dibuatnya patung itu. Menurut laporan pematung, seorang pria dengan topi dan kaca mata membeli patung itu seminggu yang lalu. Dan si pembuat patung mengaku kalau ia hanya membuat dua patung saja, salah satunya memang milik desainer Nagaike.


“Artinya, orang yang memakai topi dan kaca mata membeli patung yang lain dan merupakan tersangka kasus ini,” Himura-sensei menyimpulkan.


Sakashita melanjutkan, saat ia menunjukkan gambar-gambar karyawan perusahaan Dojou, pembuat patung tidak mengenalinya.



Pengurus apartemen, Tokie-san keluar membawakan mereka teh dan makanan. Tapi baik Alice maupun Himura-sensei menanggapinya debgan dingin. Bahkan saat ditawari camilan, Alice hanya melihat sekilas dan langsung mengambil saja. Tokie-san kesal sendiri karena dua orang di depannya ini saling diam, “Hei kalian! Kalian berbeda dari biasanya. Tidak ada salam, jawaban atau reaksi apapun. Aku sudah kenal kalian lama, jadi tahu bedanya. Sesuatu yang biasanya ada kemudian hilang, akan terasa berbeda.”


Ucapan Tokie-san menjadikan ‘klik’ di kepala Himura-sensei. Pikirannya melayang, menyatukan satu demi satu puzzle kasus kali ini. Dimulai dari cocoon, lalu kumis korban yang dicukur dan alibi satu per satu orang-orang di sekitar presdir.


“Kejahatan ini tidak cantik,” komentar Himura-sensei dengan senyum misteriusnya. “Tokie, terimakasih! Semua puzzle sudah lengkap!” Himura-sensei memeluk wanita itu. “Alice, ayo ke toko oleh-oleh di Toba!” ajaknya pada Alice lalu mengambil jasnya.


Tokie hanya bisa dibuat takjub dengan perubahan mendadak kedua orang di depannya ini. Ditambah ia senyum-senyum sendiri karena dipeluk oleh pria tampan, Himura-sensei.



Semua orang sudah berkumpul di kediaman presdir Dojou Shuichi. Saat itu Himura-sensei belum datang.


“Det.Hisashi, bisakah kau jelaskan lebih dulu pada kami?” Sakashita penasaran dan bicara sambil berbisik.


“Himura adalah pria yang kadang ingin muncul dengan flamboyan—cool, jadi tunggu saja!”


Dari mereka bertiga, hanya det.Ono yang tidak benar-benar penasaran dengan rencana apa yang dibuat Himura-sensei. Ia justru tampak kesal.



“Senang bertemu kalian semua!” sapa Himura-sensei yang baru saja muncul. “Soal yang terjadi Jumat lalu, izinkan aku menjelaskan dengan imajinasiku.” Ia pun meminta senjata pembunuh—patung—dari tangan Sakashita. “Senjata pembunuh adalah patung yang dijual di Toba. Jadi, kenapa pelaku menggunakan patung ini sebagai senjata pembunuh? Jawab, Nagaike!”


Desainer Nagaika kaget, “Karena ... tersangka ingin melibatkan aku?” ujarnya tidak yakin.


“Benar, normalnya begitu. Kalau begitu, siapa yang melakukannya? Sekretaris Yukio ... “


“Aku tidak tahu,” ujar sang sekretaris pelan.


“Benarkah?” Himura-sensei tampak tidak yakin. “Baiklah. Aku akan melanjutkannya saja. Pertama, siapa ini?” Himura-sensei menunjukkan sampul bagian belakang majalah. Di sana ada gambar seorang pria dengan topi dan tanpa kumis. Orang-orang langsung menebak gambar itu sebagai presdir Dojou Shuichi. “Saat aku menunjukkan foto ini pada pemilik toko oleh-oleh, dia bilang kalau pria ini yang membeli patung satu minggu yang lalu. Kalau begitu, presdir Shuichi membeli patung dengan menyamar. Dia sengaja mencukur habis kumisnya agar bisa membeli patung itu. Karena dia adalah pria populer, dia takut ketahuan kalau dirinya presdir Dojou karena kumis uniknya. Tanpa kumis, kesannya berbeda sama sekali.” Himura-sensei menunjuk foto sang presdir di dinding sambil menutup kumisnya.



“Tapi kakak punya kumis saat aku datang,” elak Norio.


“Dia pasti memakai kumis palsu untuk menghilangkan kecurigaan,” jawab Himura-sensei.


“Jika kakak membeli senjata pembunuh, kenapa dia yang dibunuh?” kali ini wakil presdir Shuji yang bicara.


“Hal tidak terduga terjadi padanya,” ujar Himura-sensei. Ia lalu menceritakan jika malam itu Norio diminta datang untuk membuktikan alibi sang presdir. Tapi ternyata Norio melihat hal tidak terduga, yang dirancang oleh tersangka yang membunuh presdir Shuichi. Sang presdir ternyata meminta satu orang lagi selain Norio utnuk datang. Dan dia berusaha membunuh orang itu. “Dia ... “


Tapi ucapan Himura-sensei dipotong oleh sekretaris Yukio, “Tunggu! Itu semua hanya imajinasimu saja kan?”


“Bukankah kau suka?” balas Himura-sensei dengan santainya. “Tapi aku punya dasar jelas untuk mengetahui siapa tersangka pembunuh presdir Dojou Shuichi.” Himura-sensei meminta kepastian pada Norio kapan sang presdir mengecek desain posternya, dan dijawab malam itu. Padahal Norio pergi sambil membawa desain poster yang tidak disukai presdir itu. Dan tidak ada yang melihat poster itu setelahnya. Tapi ternyata ada satu orang yang secara tidak sengaja mengatakan soal poster yang baru hanya dilihat oleh sang presdir dan Norio saja. “Bagaimana dia tahu?”


“Mungkin presdir sudah bercerita pada yang lain,” sekretaris Yukio menambahkan.



“Sekretaris Yukio, kau tahu orang itu kan? Kau berusaha melindunginya?” tembak Himura-sensei langsung.


“Apa maksudmu?”


“Sekretaris Yukio, Himura-sensei sudah tahu semuanya. Kau sadar kalau insiden ini berhubungan denganmu kan?” sambung Alice.


“Cukup! Dia tidak ada hubungannya dengan insiden ini! Malam itu ... “


“Cukup!” potong sekretaris Yukio.


“Aku membunuh presdir Dojou Shuichi!” aku desainer Nagaike.



Ia pun menceritakan apa yang terjadi malam itu. Presdir Shuichi meminta desainer Nagaike untuk datang ke kediamannya ini pada pukul 11 malam. Presdir tidak mengatakan apapun. Tapi desainer Nagaike berpikir kalau mungkin saja soal sekretaris Yukio, karenanya dia memutuskan untuk mengakui semuanya di depan presdir, kalau ia punya hubungan khusus dengan sang sekretaris.


Desainer Nagaike masuk ke ruang tengah dan menemukan desain poster buatan Norio di meja, sudah dicorat-coret oleh presdir. Ia ikut kesal karena itu artinya ia pun harus bekerja dari awal lagi. Saat itu, presdir mendekati desainer Nagaike dan berniat memukulnya dengan patung. Tapi desainer Nagaike lebih cepat mengelak. Keduanya pun berkelahi. Kalah tenaga, presdir Shuichi pun terlempar ke lantai. Melihat peluang ini, desainer Nagaike mengambil patung dan memukul kepala presdir. Setelahnya ia baru sadar kalau apa yang dilakukannya ini membuat presdir kehilangan nyawa.


Desainer Nagaike yang panik mencari ke seisi rumah. Ia melihat pakaian yang dikenalnya ada di meja dekat cocoon. Karenanya, ia yakin kalau Norio ada di dalam cocoon itu. Sadar kalau Norio tidak tahu apapun soal kedatangannya, desainer Nagaike pun memanfaatkan kesempatan. Ia mengambil pakaian Norio untuk mengelap darah di sekitar jasad presdir. Setelahnya ia membawa serta patung yang digunakan tadi beserta sepatu milik Norio yang ada di depan pintu. Di perjalanan, desainer Nagaike baru sadar kalau patung itu bukan miliknya, karena bentuk matanya berbeda. Ia pun membuang patung itu dan sepatu Norio di pinggir jalan.


“Bagaimana dengan kumis? Apa kau mengambilnya juga sebagai hadiah?”


“Saat kami berkelahi, kumis itu lepas dan menempel di jas-ku. Aku membuangnya di tempat sampah,” aku desainer Nagaike.


Yang jadi masalah sekarang, kenapa presdir Shuichi sengaja membeli patung yang sama dengan milik desainer Nagaike?



“Ia butuh itu untuk triknya,” lanjut Himura-sensei. Ia pun meminta Alice yang melanjutkan.


“Rencana awal presdir Shuichi adalah membawa jasad Nagaike dari tempatnya setelah dibunuh. Dan dia berniat meninggalkan patung yang dibelinya di tempat Nagaike dan membawa pulang milik Nagaike. Dengan demikian, Nagaike akan tampak dibunuh oleh seseorang di rumahnya sendiri. Dalam perkiraan waktu kematian, presdir Shuichi ada di rumahnya. Dan dia menggunakan Norio untuk membuktikan alibinya. “


“Rencana sempurna,” komentar Norio. “Aku tidak tahu kakak membuat rencana seperti itu. Tapi kenapa dia harus membunuh Nagaike?”


“Presdir Shuichi sadar kalau dia kalah memperebutkan sekretaris Yukio. Dan motivnya adalah cemburu pada Nagaike.”



“Bagi kakak, itu mungkin hal besar,” komentar wakil presdir Shuji. “Sekretaris Yukio adalah wanita istimewa baginya.”


Dengan pengakuan ini, terbukti siapa yang membunuh presdir Shuichi. Polisi pun meminta Nagaike turut ke markas.


“Itu pembelaan diri kan?!” sekretaris Yukio masih protes. Ia masih tidak terima.


“Pembunuhan tidak terencana dan mengabaikan jasad. Menyesal sekali dia tetap harus diadili,” det.Ono menjelaskan.



Polisi, Himura-sensei dan Alice berbalik pergi tapi terhenti oleh ucapan sekretaris Yukio.


Suaranya tampak frustasi, “Apa kau senang?” sindirnya pada Himura-sensei. “Karena kau, hidup kami berubah derastis.”


“Aku tidak punya pilihan selain melakukan ini,” balas Himura-sensei.


“Kalau begitu, hidupmu menyedihkan!”


Himura-sensei tidak berkomentar lagi dan berbalik pergi. Alice tadinya akan ikut serta, tapi ia justru berbalik melihat sekretaris Yukio lagi.


“Yukio, jangan mengelak lagi. Kau bilang padaku saat terakhir kali. Saat aku mendengar itu, aku bersyukur sekali. Maaf, aku tidak tahu harus bicara apa lagi padamu. Aku akan mencari tahu itu,” sesal Alice.


“Arisugawa, kau pria baik.”



Alice dan Himura-sensei kembali ke kediaman Himura-sensei. Himura-sensei menceritakan soal foto yang ditunjukkan wakil presdir padanya. Foto itu foto seorang wanita dengan anak kecil. Dan wajah wanita itu sangat mirip dengan sekretaris Yukio. Itulah yang membuat Yukio spesial bagi presdir. Karena presdir merasa seperti melihat ibunya dalam diri Yukio.


“Jadi, siapa yang kau lihat dalam diri Yukio? Tebakanku ... cinta pertamamu,” goda Himura-sensei pada Alice.


“Salah!” elak Alice cepat.


“Benar? Tapi aku yakin kau benar-benar terlibat secara emosional dengannya.”


“Itu cerita lama yang tidak pernah kukatakan pada siapapun. Tapi kenangan buruk itu yang membuatku punya alasan terus menulis,” lanjut Alice.


“Novel jadi pelindungmu. Itulah cocoon-mu,” komentar Himura-sensei.


“Mungkin,” Alice tida bisa mengelak lagi. Ia tersenyum dan melihat ke arah Himura-sensei, “Bagaimana denganmu? Kau juga punya kan?”


“Sisi lain diriku yang jadi alasan penelitianku.”



Sementara itu di jalanan, para pengikut Sangri La Crussade berdemo. Mereka membagi-bagikan selebaran pada setiap orang yang lewat dan meminta pemerintah yang korup untuk membebaskan pemimpin mereka, Moroboshi Sanae yang tidak bersalah.


Di sisi lain jalan, seorang anak SMA tampak menyaksikan semua itu. Bahkan saat para anggota Shangri La Crussade memaksa pejalan kaki menerima selebaran mereka. Wajah cerianya perlahan berubah dingin, penuh kebencian.


BERSAMBUNG


SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 05 part 1


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.03.00
Read more ...

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 04 part 1. Pada episode 3 yang lalu, Himura-sensei dan Alice dihadapkan pada kasus mayat yang menghilang dan dapat bersuara. Suara dari kematian.


Kali ini, investigasi yang dilakukan oleh Himura-sensei dan Alice malah membawa mereka pada penemuan sesosok jasad dalam ‘cocoon’. Bagaimana kasus kali ini bisa terjadi?



Himura-sensei dan Alice makan malam di sebuah restoran mewah. (ni dua orang mencurigakan deh. Hmmm). Bukannya menikmati makanan, keduanya justru asyik melihat tamu di sekeliling dan mulai mengomentari mereka. Tamu pertama adalah seorang pria yang tengah makan malam dengan seorang wanita cantik.


Himura-sensei mulai melakukan analisisnya. Jas pria itu adalah merk terkenal asal Inggris, dan melihat dari cara pria itu memakai pisau makan, dia adalah seorang ahli bedah. Kemudian wanita di depan pria itu. Dari make-upnya, dia adalah seorang perawat. Alice bingung. Himura-sensei lalu menjelaskan, wanita itu selalu memakai masker saat bekerja, karenanya dia menggambar alis dengan sangat hati-hati. Dan dia secara tidak sengaja mengecek pembuluh darah pelayan yang membawakan mereka minuman, karena kebiasaannya sebagai seorang perawat.


“Mereka bukan pasangan suami istri,” Himura-sensei menutup kesimpulannya.


“Ayolah! Mereka pasti pasangan suami istri!” protes Alice.


Tapi Himura-sensei tidak setuju. Ia pun menunjukkan ada bekas cincin di jari pria itu. Dan saat ini pasangan itu akan segera putus.


“Apa kau punya alasan kuat?



“Jangan nilai orang hanya dari penampilannya saja,” ujar Alice.


“Bukannya itu yang kita lakukan malam ini kan?” Himur-sensei lalu menunjuk seorang pria berumur di belakang Alice. Dilihat dari pakaiannya, dia adalah pria kaya. Selain itu, pria itu memiliki kumis yang unik, biasanya jadi ciri khas seorang ahli perhiasan yang kaya.


“Bingo!” ujar Alice. Ia menjelaskan kalau pria itu adalah presdir dari toko perhiasan Dojou, namanya Dojou Shuichi. Alice mengenalinya karena pria itu sering muncul di TV. Dan fakta kalau pria itu mengagumi seniman Salvador Dali, karenanya dia memiliki kumis unti seperti itu. “Dia banyak membicarakan dirinya sendiri. Satu-satunya yang kutahu, dia masih sendiri dan mencari wanita idealnya. Dia kakak dari Yoshizumi Norio, teman sekelas kita di kampus.”


“Kenapa nama keluarganya beda?” Himura-sensei heran.


“Pasti ada kisah panjang di balik itu.”


Ide kalau presdir Dojou yang masih mencari wanita ideal dibantah oleh Himura-sensei. Karena baru saja ia melihat seorang wanita cantik baru saja datang dan menuju meja tempat presdir Dojou berada.


Alice berbalik melihat orang yang dimaksud Himura-sensei itu. Dan ia tertegun, terdiam. Wanita itu mirip dengan seseorang di masa lalunya.


Himura-sensei melihat perubahan sikap Alice itu, “Kupikir dia tipe idealmu juga. Dia memiliki ciri-ciri yang serupa dengan karakter wanita di novelmu.”


Dan seperti dugaan Himura-sensei tadi, keributan mulai terjadi di meja seberang. Meja yang berisi dokter bedah yang perawat yang tengah makan malam, mereka mulai bertengkar.



Sebuah kasus terjadi. Himur-sensei dan Alice diminta datang ke TKP, sebuah apartemen mewah. Det.Hisashi memperkenalkan kedua orang itu sebagai adik sekaligus wakil presdir Dojou Shuji dan sekretaris presdir yang cantik, Sagio Yukio. Ternyata beberapa hari yang lalu, presdir Dojou Shuichi makan malam dengan sekretarisnya. Kedua orang ini disebutkan sebagai orang pertama yang menemukan korban.


Wakil presdir Shuji mengaku kalau dia tidak bisa menghubungi kakaknya, presdir Shuichi. Karenanya, dia datang ke apartemen yang merupakan tempat tinggal kedua sang presdir bersama sekretaris presdir, Yukio. Kedua berkeliling mencari keberadaan presdir Shuichi, tapi tidak ada tanda-tanda siapapun. Yukio lalu minta agar bisa melihat benda ‘itu’, karena presdir sering bercerita padanya. Wakil presdir Shuji pun setuju mengajak sekretaris Yukio untuk melihatnya.


Benda itu berbentuk seperti telur besar dan disebut cocoon. Isinya adalah cairan khusus, dimana jika ada yang masuk maka ia akan terapung. Saat ada di dalamnya, rasanya seperti berada di dalam rahim ibu. Keduanya masuk ke ruangan yang dimaksud. Saat cocoon dibuka ternyata ... presdir Shuichi ada di sana, dalam keadaan tidak bernyawa.


“Apa Anda makan malam dengan presdir Jumat kemarin?” tanya det.Hisashi kemudian.


“Ya. Bagaimana kau tahu?” sekretaris Yukio heran.


“Kami ada di sana, kebetulan,” Alice yang menjawab.


“Apa kau punya hubungan khusus dengan presdir?”


Sekretaris Yukio heran, “Dia bos dan saya karyawannya. Hanya itu.”


“Sepertinya dia punya perasaan khusus padamu,” kali ini Himura-sensei yang bicara.


Sekretaris Yukio tidak terima kalau ia dituduh begitu. Alice buru-buru mengoreksi itu juga.


Tapi Himura-sensei tidak peduli, “Jika kau punya hubungan khusus dengannya, kau mungkin punya alasan untuk membunuh. Itu kemungkinan.”


“Itu tidak mungkin!”


“Tugas kamu menghilangkan satu per satu ketidakmungkinan itu,” sambung det.Hisashi.


Mereka kini beralih pada wakil presdir Shuji. Ia mengaku kalau hubungannya dengan kakaknya baik-baik saja. Saat ini mereka tengah membangun rencana pengembangan usaha baru.



Saat itu det.Ono baru saja datang. Ia memberikan laporan investigasi kalau menurut karyawan lain, presdir Shuchi sangat baik pada sekretaris Yukio. Tapi ada rumor juga yang menyebutkan kalau sekretaris Yukio punya hubungan khusus dengan desain perhiasan di perusahaan mereka, namanya Nagaike.


“Kuharap ada wanita semenarik dia di kantor kita,” komentar det.Hisashi tanpa sadar. Ia kemudian menyadari tatapn sinis det.Ono. “Ah Ono, kau juga wanita menarik,” ralatnya kemudian.


“Aku mengerti kalau laki-laku suka tipe wanita seperti itu,” balas det.Ono. “Aku tidak bawa-bawa perasaan pribadi pada investigasi!” det.Ono lalu beranjak pergi.


Rupanya Himura-sensei dan Alice juga mendengarkan percakapan itu. Hanya Himura-sensei yang serius mendengarkan, sementara Alice terus saja menatap ke arah sekretaris Yukio.


“Kau dengar itu, Alice? Jangan bawa-bawa perasaan pribadi dalam penyelidikan!” ujar Himura-sensei di telinga Alice yang masih tetap menatap ke arah sekretaris Yukio.


Himura dan Alice menuju TKP tempat korban presdir Shuichi ditemukan. Forensik menunjukkan foto korban saat ditemukan di dalam cocon itu. Kepalanya dipukuli dengan benda tumpul berkali-kali. Perkiraan kematian adalah antara pukul 11 malam hingga 2 pagi di hari Jumat. Penyelidikan belum membuat mereka menemukan benda yang digunakan untuk membunuh. Selain itu, forensik juga menemukan jejak darah di ruang tengah. Artinya presdir dibunuh di ruang tengah baru dimasukkan dalam cocoon. Selain itu, kumis unik presdir juga dicukur bersih.


Kemungkinan pelaku sengaja memasukkan korban ke dalam cocoon untuk mengulur waktu penemuan. Belum jelas kenapa pelaku mencukur bersih kumis korban. Selain itu hanya pakaian dalam korban saja yang ada dalam keranjang di dekat cocoon. Sementara itu pakaian dan sepatu korban hilang. Pelaku tidak membawa uang atau benda berharga. Kemungkinan pelaku adalah orang yang punya kebencian besar terhadap korban, seorang yang dikenalnya.



Keributan yang terjadi di ruang tengah menarik perhatian Himura-sensei dan Alice. Teryata polisi tengah mewawancarai Yoshizumi Norio, seorang manager periklanan. Ternyata Norio ini teman sekelas Himura-sensei dan Alice di universtias dan merupakan adik dari korban, presdir Shuichi. Ia merasa tersudut akibat pertanyaan polisi padanya.


Baru setelah Alice yang mencoba bicara, Norio sedikit tenang, “Kak Shuji dan aku adalah keluarga presdir yang masih ada. Kami saudara tiri. Presdir memperlakukan kamu dengan baik, aku sangat bersyukur dengan itu. Tolong aku, aku tidak membunuh kakakku,” Norio berkeras.


“Baiklah, aku percaya padamu,” ujar Alice.


“Kalau kau tidak membunuh kakakmu, kau harus menceritakan semuanya pada kami,” sambung Himura-sensei.



Polisi menunjukkan sebuah foto korban pembunuhan pada Moroboshi (pimpinan kelompok Shangri-La Crussade). Korban adalah mantan anggota kelompok Shangri-La Crussade.


Moroboshi hanya sekilas melihat foto itu, dan ia pun langsung tahu, “Pembunuhnya adalah remaja laki-laki. Dia sangat tertarik dengan kejahatannya. Dan dia akan melakukannya lagi.”


“Jangan main-main lagi!” bentak si polisi makin tidak sabar. Ia minta agar Morohishi segera memberikan mereka informasi yang berguna.


Tapi Moroboshi hanya menanggapinya dengan senyum tipis, “Aku sekarang ada di sini, di balik jeruji penjara.”



Det.Ono mendekati det.Hisashi di lorong. Ia protes karena det.Hisashi mengijinkan Himura-sensei untuk menemui Moroboshi Sanae, yang merupakan orang dalam catatan hitam polisi. Harusnya dia tidak melakukan kontak apapun dengan dunia luar.


“Jangan sebut Himura-sensei sebagai orang luar, karena dia banyak membantu kita,” elak det.Hisashi. “Morohishi itu berbahaya. Jika kita bisa mencampur obat berbahaya seperti Himura dan dia, mungkin bisa jadi perubahan kimit. Aku tidak bisa mengingkari kalau itu juga berbahaya. Tapi kita tidak akan tahu kecuali mencobanya.”



Himura-sensei ikut pulang ke apartemen Alice. Sementara Alice sudah sibuk dengan bacaannya, Himura-sensei masih saja berjalan bolak-balik.


“Apa aku perlu bicara sesuatu?” Alice akhirnya tidak sabar dengan tingkah Himura-sensei itu.


“Jangan diam, katakan sesuatu. Seperti biasa, katakan apapun. Katakan!”


Alice pun mulai bicara, “Kalau tersangka mengincar posisi presdir, itu pasti Shuji atau Norio. Tapi sepertinya Norio tidak bohong pada kita. Dan jika yang disebutkan det.Ono benar, pertengkaran presdir dengan desainer Nagaike karena sekretaris Yukio, mungkin jadi penyebab insiden ini. Tapi ini mungkin saja bukan salah sekretaris Yukio.


“Baiklah, diam!”


“Tadi kau minta aku bicara!” protes Alice.


Tapi Himura-sensei sudah asyik dengan pemikirannya sendiri, “Kenapa tersangka membawa baju korban kalau dia ingin pergi secepat mungkin? Kenapa tersangka menyembunyikan jasad korban di cocoon? Kenapa tersangka mencukur habis kumis korban? Kenapa?” Himura-sensei akhirnya menjatuhkan dirinya ke sofa.



Himura-sensei tenggelam dalam cairan. Bayangan dirinya yang melakukan pembunuhan dengan kejam kembali muncul dalam mimpi. Setelahnya ia terbangun di dalam cocoon dengan tangan berlumuran darah. Himura-sensei kemudian benar-benar terbangun dan menemukan dirinya ada di apartemen Alice.


“Kau mengerang dalam tidur. Perlu kubangunkan kalau terjadi lagi?” tawar Alice.


“Silahkan, pelan-pelan saja.”



Alice kembali menekuri tulisan calon novel di laptopnya. Tapi pikiranya justru mengangkasa pada sang sekretaris cantik, Sagio Yukio. Ingatannya kembali pada masa sekolahnya, saat ia memberikan surat pada gadis cantik yang disukainya. Sayangnya, kisah itu berakhir tragis. Alice tidak pernah tahu apa yang terjadi setelahnya.



Alice dibuat heran saat bangun pagi, di mejanya sudah berisi sarapan. Himura-sensei sendiri menyiapkan minum dan perlengkapan makan lainnya. Alice duduk sambil memandangi Himura-sensei dengan takjub. Himura-sensei sendiri ikut duduk di depan Alice, mengeluarkan dasi yang tadi ia selipkan di saku dan menopang wajah dengan tangan.


“Ini seperti sarapan untuk pengantin baru,” komentar Alice.


“Aku merasa seperti istrimu,” balas Himura-sensei. “Jangan pandangi aku terus! Waktu pengantin baru selesai! Apa kau bodoh?! Makan sebelum dingin!”


“Apa kau tahu kalau aku ... “ ucapan Alice tidak selesai.


(aiiiiih ... adegan ini so sweet banget deh. Lihat bromance mereka berdua ini bikin gemes. Nggak Cuma kompak saat kamera on, saat kamer off pun mereka ternyat juga kompak lho)



Akemi dan teman-temannya tengah menunggu dosen mereka, Himura-sensei. Salah satu kawannya menunjukkan gambar sang profesor rambut berantakan, Himura-sensei dan meminta Akemi untuk mewarnainya.


Teman Akemi bercerita, kalau saat pesta perjodohan ia bertemu seorang polisi dari perfektur Kyoto yang bercerita soal profesor yang membantu kepolisian. Tapi ia tidak mau menyebut nama sang profesor itu. Akemi dan teman-temannya menebak kalau itu pasti Himura-sensei. Karena meski banyak profesor tamu di universitas mereka, hanya Himura-sensei yang merupakan ahli kriminal yang tentu banyak berpartisipasi dalam investigasi kepolisian.


Tapi Akemi sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai ia tidak sadar spidol merahnya sudah membuat gambar ‘si profesor rambut berantakan’ mereka jadi berdarah. Obrolan mereka berhenti saat Himura-sensei benar-benar datang dan berniat memulai kuliah hari itu.



Polisi bersama Himura-sensei dan Alice menemui desainer perhiasan, Nagaika Shinsuke. Saat ditanya, desainer Nagaike mengaku kalau dirinya menyukai sekretaris Yukio. Polisi pun jadi penasaran, apakah presdir Shuichi juga tahu hal itu.


“Presdir hanya peduli pada perasaan Yukio. Tidak ada yang tahu siapa yang disukai Yukio. Dan itu tidak ada hubungannya dengan insiden ini,” ujar desainer Nagaike.


“Maksud anda, anda bukan kekasih Yukio?” Alice urun bicara.


“Jangan tanyakan pertanyaan aneh seperti itu!” protes desainer Nagaike. Ia pun kemudian pamit pergi.


(aaaaa ... reuni Light sama pengacara Mikami, dari Death Note. Tapi kali ini mereka bukan jadi kawan)



“Alice, pertanyaan bodoh apa itu?!” protes det.Ono.


“Aku hanya perlu merasa bertanya, maaf,” sesal Alice.


Setelah desainer Nagaike pergi, mereka kembali bicara soal kasus itu. Seperti yang lain, desainer Nagaike juga tidak punya alibi saat kejadian. Baik wakil presdir Shuji, manager iklan Norio maupun sekreataris Yukio, mereka juga tidak punya alibi. Semua orang mungkin saja jadi tersangka.



Alice, Himura-sensei dan yang lain keluar dari ruangan wawancara. Mereka bertemu sekretaris Yukio di luar. Tanggap dengan hal itu, secara halus Himura-sensei mengusir det.Ono dan det.Hisashi untuk pergi lebih dulu.



Setengah dipaksa oleh Himura-sensei, Alice pun mengajak sekretaris Yukio bicara. Kini mereka ada di salah satu toko perhiasan Dojou. Alice belum bisa bicara, karena Himura-sensei masih asyik memperhatikannya. Akhirnya Alice juga mengusir Himura-sensei untuk pergi dari sana.


Sekretaris Yukio menunjukkan sebuah perhiasan bernama White Rose. Menurutnya perhiasan itu didesain oleh desainer Nagaike. Ia pun memuji perhiasan itu. Tadinya mereka membahas soal perhiasan dan juga Nagaike, sampai Alice akhirnya bicara hal lain.


“Kau mirip dengan cinta pertamaku,” ujar Alice.


“Apa?” Yukio kaget. “Memang banyak yang mirip denganku. Seperti gadis tetangga. Presdir juga bilang begitu.”


“Bukan begitu maksudku,” elak Alice. Cerita itu pun dimulai. “Aku menulis surat cinta untuk pertama kalinya.” Alice kemudian memberikan surat itu pada gadis cantik yang disukainya dan berjanji untuk bertemu lagi. Tapi ternyata gadis itu tidak datang hari berikutnya dan hari-hari lainnya. Alice kemudian bertanya pada gurunya. Dari gurunya Alice tahu kalau gadis itu mencoba bunuh diri. Gadis itu akhirnya kembali ke sekolah setelah sekian lama. Tapi Alice tidak lagi bertanya soal suratnya atau kenapa gadis itu mencoba bunuh diri. Mereka lulus dari sekolah tanpa pernah bicara lagi.


“Jika kau bisa bicara dengannya saat itu, apa yang akan kau katakan?” Yukio bersimpati.


“Entahlah. Aku masih mencari jawabannya. Ah, kenapa denganku?” Alice heran sendiri. “Aku tidak pernah cerita soal ini pada siapapun. Sekarang aku telalu cerewt. Maaf.”


“Kupikir dia sangat bahagia bisa berada di hatimu. Dia membuatmu seperti ini sekarang. Alice, kau ... “ ucapan Yukio terpotong.


Telepon Alice berbunyi, dari Norio. Ia mengajak Alice untuk bertemu secepat mungkin sambil mengajak serta Himura-sensei. Sementara Alice bicara di telepon, ternyata Yukio menguping pembicaraan itu.



Norio tengah menghindar dari kejaran polisi saat Himura-sensei dan Alice datang. Ia menunjukkan pakaian penuh darah. Tapi ia mengaku kalau bukan dirinya yang membunuh presdir.


Saat itu ternyata polisi menemukan mereka semua. Polisi mengajak Norio untuk ikut mereka ke markas. Norio tidak bisa mengelak lagi apalagi saat polisi melihat pakaian penuh darah yang dibawanya.


Norio sempat berbalik melihat ke arah Alice dan Himura-sensei, “Aku baik-baik saja. Aku lega sekarang,” ujarnya sebelum pergi bersama para polisi itu.


BERSAMBUNG


SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 04 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.09.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 03 part 2. Yamane diminta oleh seorang pengusaha untuk mencari seorang wanita. Ternyata wanita itu adalah seorang mata-mata. Si mata-mata wanita mengajak Yamane untuk bekerjasama dengannya.


Setelah memecahkan kode yang diberikan oleh wanita itu, sekarang Yamane menemuinya di area pabrik. Apa yang mereka rencanakan?



Yamane menemui Anri di tempat yang direncanakan. Tanpa basa basi Akamatsu Anri menanyakan soal kerjasama dengan Yamane. Bukannya setuju, Yamane ternyata datang bersama seseorang, Takigawa.


“Untuk mencari tahu apa informasimu benar, aku menyelidiki perusahaannya. Dan ternyata sangat bersih. Aku bahkan tak bisa menemukan 'Geo' dalam Mafia Georgia. Perusahaannya adalah perusahaan perdagangan terbaik,” ujar Yamane.


“Tidak mungkin,” Akamatsu Anri a.k Cecilia tidak suka.


“Tapi bukankah ini bagus? Meski dia tahu segalanya, dia masih tetap ingin bersamamu.”


Takigawa pun memegang tangan Cecilia. Ia minta pada Cecilia agar mereka berbaikan dan bisa mulai lagi dari awal.


“Kau luar biasa! Undang aku ke pernikahan kalian!” puji Yamane. Ia bahkan menepuk-nepuk pundak Takigawa. Yamane kemudian beranjak pergi membiarkan mereka berdua.



Takigawa masih saja terus membujuk Cecilia. Saat itu, Kadomatsu ternyata juga mengintip. Ia marah pada Yamane karena menyerahkan Cecilia pada Takigawa.


“Akan kubuatkan ramen untukmu. Mari bicarakan bersama. Ayo pulang,” ajak Yamane. Ia berusaha menghibur si Kadomatsu ini.


Kadomatsu kemudian teringat akan kadonya. Kado yang berisi gelang yang sama seperti miliknya, gelang keberuntungan yang tadinya ingin ia berikan pada Cecilia. Tanpa peduli panggilan Yamane, Kadomatsu berbalik. Tapi saat sudah dekat, ia justru melihat Cecilia tengah ditodong dengan senpi dan dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Takigawa.



Cecilia dibawa ke gedung milik Takigawa. Di sana sudah menunggu para tukang pukul Takigawa.


“Jadi kau sungguh mata-mata Serpent? Serahkan kartu kuncinya. Karena ulahmu transaksi penting jadi tertunda. Kau pikir siapa yang dirugikan?!” bentak Takigawa.


“Jadi kau memang menghasilkan uang lewat pencucian uang,” sindir Cecilia.


Takigawa mengambil kunci yang disembunyikan Cecilia di balik bajunya. Ia lalu mengakses komputer dan dalam waktu singkat, tampilan di layar berubah menjadi proses transaksi dari uang virtual menjadi uang nyata lewat pencucian uang.


Cecilia melanjutkan bicara, “Hari ini, 'kan? Waktumu untuk memindahkan uang 1 milyar yen itu. Kau berencana membawanya menggunakan kapal, memasukkannya ke dalam tong sake, 'kan? Terlebih, kau memiliki 100 kontainer kosong sebagai kamuflase. Tidak bagus jika uang tunaimu bisa ditemukan dengan mudah.”


“Kau terlalu banyak tahu!” Takigawa menodongkan senpi ke arah Cecilia.



Selamat malam, selamat malam, sayang. Tahan airmata di pipi. Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring dari speaker di ruangan itu. Nyanyian sumbang dari Yamaneko.”Semuanya, terima kasih sudah bekerja di akhir pekan. Ini Detektif Pencuri Misterius Yamaneko. Takigawa, kami sudah mengambil uang 1 milyar yen yang kau dapatkan secara ilegal. Sangat merepotkan mencari satu tong berisi uang di antara 100 tong sake. Tapi, jika aku sangat mudah!”


“Periksa apa benar ucapannya! Sekarang!” perintah Takigawa pada anak buahnya.


Anak buahnya di pelabuhan benar memeriksa kontainer dan tong yang dimaksud. Tapi mereka tidak menemukan kecurigaan apapun. Sampai seseorang menyemprotkan gas tidur pada mereka semua. (ini trik psikologi. Saat katanya sudah dicuri, si pemilik otomatis akan mengecek tempat penyimpanan. Nah saat itu, secara nggak langsung dia ngasih tahu si pencuri lokasi sebenarnya)


“Fantastik!” Yamane memandang girang pada tong berisi uang di depannya itu.


Teriakan Takigawa diabaikan, karena semua anak buahnya sudah pingsan.



“Untuk kalian semua yang sudah bekerja keras. Selamat malam!” ujar Yamane lagi. Ternyata suara itu adalah rekaman. Dan yang bertugas memutar rekaman adalah Katsumura.


Saat ini Katsumura di ruang kemanan gedung itu. Sebelum beraksi, Katsumura melumpuhkan para petugas keamanan. Sekarang ia tinggal melanjutkan tugasnya sesuai petunjuk yang diberikan Yamane padanya.


Menyusup masuk ke dalam kargo dagang dan siapkan gas tidur lewat ventilasi udara. Mainkan audio dari perekam di ruang keamanan, lalu sebarkan gas tidur


Katsumura lalu memencet tombol di tangannya. Gas tidur seketika memenuhi ruangan tempat Takigawa dan anak buahnya berada. Mereka berebut keluar ruangan, tapi pintu sudah dihalangi oleh Katsumura.


Ikat pelakunya sementara mereka tidur. Kumpulkan semua barang bukti. Yamaneko


Setelah yakin kalau korbannya sudah tertidur, Katsumura melepas penghalang pintu itu. Tapi betapa kagetnya dia karena di dalam sudah dihadang anak buah Takigawa yang siap memukulinya. Ternyata ventilasi di ruangan itu tidak tertutup, sehingga gas dengan mudah keluar ruangan dan orang yang di dalamnya tidak tertidur.



Flash back ...


Yamane membujuk Katsumura untuk kembali menyamar jadi dirinya, seperti kasus-kasus sebelumnya. Jelas kali ini Katsumura menolak. Karena dari pengalaman yang sudah, ia selalu sial dan selalu jadi kambing hitam dalam setiap aksi Katsumura. Tapi kali ini Mao juga meyakinkannya dan berjanji akan ikut mengawasi. Dijanjikan Mao seperti itu, Katsumura tidak bisa menolak.


Sekarang


Mao yang ada di truk melihat ke arah monitor. Ia baru sadar kalau dirinya lupa menutup lubang ventilasi, hingga gas tidur tentu tidak akan berpengaruh.


Katsumura berusaha kembali menutup pintu ruangan itu. Ia menahannya sekuat tenaga, “Mao!!!” teriaknya frustasi.



Satu orang ternyata tidak cukup untuk menahan pintu ruangan itu. Anak buah Takigawa berhasil memaksa keluar dan memojokkan Katsumura dengan beragam senjata. Nyaris saja nyawa Katsumura jadi taruhan kalau tidak ada yang datang.


“Jatuhkan senjata kalian!” perintah Sakura yang baru datang.


“Sakura-chan?” Katsumura heran.



Yamane baru saja merapikan tong-tong ke dalam truk. Ia yakin kalau semuanya berhasil. Tapi teriakan yang terdengar dari alat komunikasinya membuatnya mengerti kalau Katsumura gagal (lagi). Dan benar saja, dari arah lain muncul Takigawa yang berjalan bersama anak buahnya. Takigawa akhirnya mengenali Yamane sebagai Yamaneko.


“Bukankah kau orang Jepang?” Yamane bicara serius. “Kenapa?”


“Kenapa aku menjadi kaki tangan mafia, melakukan pekerjaan yang akan menodai reputasi Jepang? Jawabannya sederhana. Karena aku muak dengan negara ini. Kau tahu apa panggilan dunia pada Jepang? Surga mata-mata. Semua orang membocorkan informasi sebanyak yang mereka mau. Semua orang hanya tertarik pada diri sendiri. Negara ini hanya kebun binatang berisi monyet bodoh. Meski itu sudah lama berakhir,” aku Takigawa dengan santainya.


“Sampah sepertimu tidak seharusnya bicara soal negara ini!” gertak Yamane. “Meski harus berkompromi, semangat Jepang menuntutmu untuk menyadari prinsip yang kau miliki! Kau yang hanya bias melihat wajah luar negara ini takkan tergerak dengan slogan samurai! Keadilan, keberanian, kebajikan, kehormatan, kesungguhan hati! Menghormati, loyalitas! Di masa lalu, mereka menggabungkan karakter itu ke dalam diri mereka. Tapi kita... Tak ada yang tersisa pada kita sehingga kita melupakannya. Meski begitu, masih ada orang-orangN di negara ini dengan jiwa samurai! Mereka ada!”


“Bicara apa kau?”


“Apa yang ada di dalam dirimu? Esensi dirimu! Aku tanya prinsip apa yang kau miliki!” Yamane menarik senpi yang dipegang Takigawa dan mengarahkannya pada kepalanya sendiri. “Aku percaya pada negara ini. Aku percaya pada warga negara ini! Itulah esensi diriku!” mereka berebut senpi hingga satu letusan terdengar dan mengarah ke jalan.


Takigawa melepaskan diri dari cengkeraman Yamane. Ia kemudian menodongkan senpi pada Yamane dan meminta anak buahnya untuk menghabisi Yamane. Setelahnya ia sendiri beranjak pergi.



Takigawa mengemudikan truk dengan Cecilia yang ada di sebelahnya dengan tangan terborgol. “Sial. Karena kau dan Yamaneko...” ia masih terus saja mengumpat. “Jika uang satu milyar itu aman, maka tak masalah.”


Tapi sesosok manusia membuat Takigawa harus mengerem truknya dengan cepat. Mereka dicegat oleh det.Sekimoto. Ia minta agar bisa melihat isi muatan yang dibawa oleh Takigawa. Dengan linggis, tutup tong itu pun dibuka dan isinya adalah ... sake.


“Sake ini kelihatannya enak,” komentar det.Sekimoto.


“Apa-apaan ini...” Takigawa heran dengan yang terjadi sebenarnya.



Bagaimana kabar Yamane?


Dengan mudah ia melumpuhkan ketiga anak buah Takigawa dan sekarang meninggalkannya di belakang kontainer. Sementara dirinya menyalakan mesin kapal. Yamane menoleh ke belakang kapa. Di sana ada dua buah koper. Yamane tersenyum karena ia berhasil mendapatkan hartanya, satu milyar yen tunai (sekitar 119 milyar rupiah)



“Mencuri sake tidak cukup sebagai kejahatan. Akan kutambahkan kejahatan pencucian uang,” det. Sekimoto menunjukkan sebuah flash disk. “Kau diretas sementara menerima uang.”


Det.Sekimoto lalu membawa Takigawa keluar truk dan memberikan kunci agar Cecilia bisa melepas borgolnya. “Serahkan ini pada polisi. Cepat pergi dari sini!” perintahnya pada Cecilia.


“Apa kau juga bagian dari Yamaneko...” Cecilia penasaran.


Det.Sekimoto terdiam sebentar, “Bicara apa kau? Yamaneko adalah musuhku!”


Cecilia mengerti maksud ucapan itu. Ia tersenyum kemudian beranjak pergi dari sana.



Sakura berhasil membawa Katsumura keluar dengan selamat dan ia juga menjelaskan kalau dirinya mengikuti Katsumura.


“Aku tak bisa berhenti memikirkan wanita bernama Rikako itu. Bukan itu saja. Kau selalu ada di lokasi insiden yang melibatkan Yamaneko. Sekarang pun kudengar Yamaneko ada di dekat sini. Apa hubunganmu dengannya? Katakan padaku!” desak Sakura.


“Aku tak tahu apa pun,” elak Katsumura. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Sakura.


Sementara itu, kertas catatan yang dibuat Yamane untuk Katsumura terjatuh. Kadomatsu yang melihatnya kemudian mengambilnya. Tahu isi catatan itu, Kadomatsu berbalik dan berlari.



Yamane bertemu dengan Cecilia lagi di tempat tadi pertama mereka bertemu. Keduanya saling mengucapkan terimakasih karena rencana berjalan lancar. Dan yang lebih penting, uang yang diincar pun berhasil didapatkan.


“Tapi tujuanmu sebenarnya bukanlah uang. Kau ingin menghancurkan mafia Georgia dengan menemukan bukti pencucian uang. Benarkan?” tebak Yamane.


Cecilia tersenyum, “Jika kau melihatnya seperti itu, maka pemain paling penting hari ini adalah Mao, 'kan? Jika bukan karena keahliannya, kita takkan bisa mencuri data. Tapi, tak ada yang menduga bahwa Takigawa tidak tertidur. Kapan kau mengganti tongnya? Kau harus memonitor pergerakannya untuk bisa melakukan hal itu.”


Yamane menunjukkan sebuah alat pelacak. Rupanya saat tadi sore, Yamane menepuk punggung Takigawa, ia juga menyelipkan alat pelacak di sana. “Untuk mengerti prilaku target, dan menemukan cara terbaik untuk mencuri. Itu cara kerjaku.”


“Pencuri Misterius Yamaneko memang hebat,” puji Cecilia.


“Detektif Pencuri Misterius, Yamaneko,” ralat Yamane. Ia pun berbalik dan beranjak pergi.


Dari sudut lain, rupanya ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka. Dia Kadomatsu.



“Hei! Kenapa kau mempercayaiku?”


Pertanyaan Cecilia menahan langkah Yamane. Ia pun berbalik, “Kau tak pernah menipu seseorang. Itu yang kudengar.”


“Dari siapa?” Cecilia heran.


Tapi Yamane melihat sebuah titik laser merah di tubuh Cecilia dan memintanya menunduk. Tapi Cecilia kalah cepat karena Kadomatsu sudah lebih dulu menubruknya hingga mereka terjatuh.



Yamane sigap menyeret Kadomatsu dan Cecilia ke tempat yang lebih tersembunyi. Ternyata Kadomatsu tertembak. Yamane menutupkan tangannya ke tubuh Kadomatsu yang terlanjur berlumur darah.


“Cecilia-san...Syukurlah kau baik-baik saja.” Kadomatsu bicara patah-patah. “Sebenarnya aku ingin membantumu lebih cepat tapi...Aku... Karena aku tak berguna...Maaf. Aku sudah banyak menyusahkan. Ini memang jimat keberuntungan,” Kadomatsu menunjukkan gelang di tangannya. “Karena wanita yang kucintai sedang menatapku.”


“Hal bodoh apa yang kau bicarakan. Kubilang berhenti bicara!” bentak Yamane. Kali ini bukan wajah konyol yang ditunjukkannya, melainkan wajah khawatir.


“Tolong jangan tunjukkan wajah seperti itu,” Kadomatsu masih saja bicara. Ia tidak suka melihat wajah sedih yang nyaris menangis dari Cecilia. “Wajah tersenyum lebih cocok untukmu, Tersenyum.”


“Hei! Senyum! Senyum!” bentak Yamane pada Cecilia juga.


“Aniki-kakak,” kali ini Kadomatsu bicara pada Yamane. “Tak apa. Terima kasih banyak. Cecilia-san. Bahagialah. Itu... Aku...” Kadomatsu terkulai dan tidak bicara lagi.


“Kadomatsu! Kenapa kau sok keren begini. Jangan bercanda. Hei! Bangun! Jadilah pria menyebalkan dengan lelucon payah! Jangan main-main denganku! Kami... Berkat orang sepertimu bisa tersenyum.” Yamane terus saja mengguncang tubuh Kadomatsu yang sudah kaku.



Tapi tiba-tiba saja Sakura datang dan mengacungkan senjata pada mereka semua. Melihat hal itu, sigap Cecilia menyerang Sakura. Ia berhasil mengunci Sakura di tanah. Tapi Yamane menghentikan usaha Cecilia ini dan mengatakan kalau pelakunya bukan Sakura.


Cecilia mengalah dan memilih pergi. Yamane melihat kado yang jatuh di dekat tubuh Kadomatsu lalu mengambilnya. Ia pun beranjak pergi, meninggalkan begitu saja jasad Kadomatsu dan Sakura yang nyaris pingsan.



Ditinggal pergi oleh Yamane seperti itu membuat ingatan Sakura melayang pada dua tahun silam. Saat itu, ia yang merupakan detektif baru menemukan ayahnya yang sudah tidak bernyawa di sebuah gedung terbengkalai.


Dari arah lain tampak si topeng kucing, Yamaneko melihatnya. Tapi Yamaneko tidak menolong ataupun bicara apapun, melainkan beranjak pergi begitu saja.



Sakura datang ke markas seperti biasa esok harinya. Tapi ia masih mengenakan penyangga leher akibat insiden kemarin. Di kursi atasannya, ia melihat sesosok pria yang tidak dikenalinya.


“Kau datang kemari tanpa sedikitpun rasa malu setelah melarikan diri dari TKP pembunuhan,” sindir pria itu.


“Kau siapa?” Sakura balas menatap pria itu dingin.



Yamane kembali ke bar. Ia mengenakan kemeja putih dan jas hitam. Asap rokok juga mengepul di depannya. Ditambah gelas berisi minuman. Tidak ada Yamane yang konyol seperti biasanya. Kali ini Yamane tampak begitu bersedih.


Sementara itu, Mao duduk di tangga memperhatikan Yamane. Ia pun diam saja, tidak mengatakan apapun pada Yamane, seperti memberikan waktu bagi Yamane untuk sendirian dulu.



Det.Sekimoto menemui rekannya, politikus Todo Kenichiro. Todo-san mengucapkan terimakasih karena det.Sekimoto sudah mengurus kasus Takigawa. Rupanya ini cara mereka untuk menghancurkan mafia Gorgia, memanfaatkan Takigawa dan Yamenko sekaligus.


“Tolong jangan berpikir buruk tentangku.” Elak Todo-san. “Karena hal ini, Tokyo menjadi tempat yang lebih menyenangkan sebagai tempat tinggal. Yuuki-sensei juga akan senang.” Todo-san lalu membalik layar monitor di mejanya.


Di sana muncul sebuah gambar, sosok bertopeng. “Lama tak bertemu, Sekimoto.”


Tatapan det.Sekimoto berubah dingin, “Akhirnya kita bertemu, Yuuki-san.”



Kembali ke tahun 2013


Pertarungan antara det.Sekimoto dan Yamane di atap gedung akhirnya membuat Yamane tersudut. Det.Sekimoto bahkan berhasil merebut senpi yang tadi dibawa Yamane dan mengacungkannya pada Yamane.


“Apa yang kau inginkan? Balas dendam pada Yuuki? Itu takkan mengubah apa pun!” bentak det.Sekimoto.


“Berisik! Katakan yang harus kulakukan!” balas Yamane.


Det.Sekimoto menawarkan sebuah ide, “Mari ambil kembali negara ini dari Yuuki.”


BERSAMBUNG


Sampai jumpa SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 04 part 1


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.08.00
Read more ...
SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 03 part 2. Yamane diminta oleh seorang pengusaha untuk mencari seorang wanita. Ternyata wanita itu adalah seorang mata-mata. Si mata-mata wanita mengajak Yamane untuk bekerjasama dengannya.

Setelah memecahkan kode yang diberikan oleh wanita itu, sekarang Yamane menemuinya di area pabrik. Apa yang mereka rencanakan?



Yamane menemui Anri di tempat yang direncanakan. Tanpa basa basi Akamatsu Anri menanyakan soal kerjasama dengan Yamane. Bukannya setuju, Yamane ternyata datang bersama seseorang, Takigawa.

“Untuk mencari tahu apa informasimu benar, aku menyelidiki perusahaannya. Dan ternyata sangat bersih. Aku bahkan tak bisa menemukan 'Geo' dalam Mafia Georgia. Perusahaannya adalah perusahaan perdagangan terbaik,” ujar Yamane.

“Tidak mungkin,” Akamatsu Anri a.k Cecilia tidak suka.

“Tapi bukankah ini bagus? Meski dia tahu segalanya, dia masih tetap ingin bersamamu.”

Takigawa pun memegang tangan Cecilia. Ia minta pada Cecilia agar mereka berbaikan dan bisa mulai lagi dari awal.

“Kau luar biasa! Undang aku ke pernikahan kalian!” puji Yamane. Ia bahkan menepuk-nepuk pundak Takigawa. Yamane kemudian beranjak pergi membiarkan mereka berdua.



Takigawa masih saja terus membujuk Cecilia. Saat itu, Kadomatsu ternyata juga mengintip. Ia marah pada Yamane karena menyerahkan Cecilia pada Takigawa.

“Akan kubuatkan ramen untukmu. Mari bicarakan bersama. Ayo pulang,” ajak Yamane. Ia berusaha menghibur si Kadomatsu ini.

Kadomatsu kemudian teringat akan kadonya. Kado yang berisi gelang yang sama seperti miliknya, gelang keberuntungan yang tadinya ingin ia berikan pada Cecilia. Tanpa peduli panggilan Yamane, Kadomatsu berbalik. Tapi saat sudah dekat, ia justru melihat Cecilia tengah ditodong dengan senpi dan dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Takigawa.



Cecilia dibawa ke gedung milik Takigawa. Di sana sudah menunggu para tukang pukul Takigawa.

“Jadi kau sungguh mata-mata Serpent? Serahkan kartu kuncinya. Karena ulahmu transaksi penting jadi tertunda. Kau pikir siapa yang dirugikan?!” bentak Takigawa.

“Jadi kau memang menghasilkan uang lewat pencucian uang,” sindir Cecilia.

Takigawa mengambil kunci yang disembunyikan Cecilia di balik bajunya. Ia lalu mengakses komputer dan dalam waktu singkat, tampilan di layar berubah menjadi proses transaksi dari uang virtual menjadi uang nyata lewat pencucian uang.

Cecilia melanjutkan bicara, “Hari ini, 'kan? Waktumu untuk memindahkan uang 1 milyar yen itu. Kau berencana membawanya menggunakan kapal, memasukkannya ke dalam tong sake, 'kan? Terlebih, kau memiliki 100 kontainer kosong sebagai kamuflase. Tidak bagus jika uang tunaimu bisa ditemukan dengan mudah.”

“Kau terlalu banyak tahu!” Takigawa menodongkan senpi ke arah Cecilia.



Selamat malam, selamat malam, saying. Tahan airmata di pipi. Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring dari speaker di ruangan itu. Nyanyian sumbang dari Yamaneko.”Semuanya, terima kasih sudah bekerja di akhir pekan. Ini Detektif Pencuri Misterius Yamaneko. Takigawa, kami sudah mengambil uang 1 milyar yen yang kau dapatkan secara ilegal. Sangat merepotkan mencari satu tong berisi uang di antara 100 tong sake. Tapi, jika aku sangat mudah!”

“Periksa apa benar ucapannya! Sekarang!” perintah Takigawa pada anak buahnya.

Anak buahnya di pelabuhan benar memeriksa kontainer dan tong yang dimaksud. Tapi mereka tidak menemukan kecurigaan apapun. Sampai seseorang menyemprotkan gas tidur pada mereka semua. (ini trik psikologi. Saat katanya sudah dicuri, si pemilik otomatis akan mengecek tempat penyimpanan. Nah saat itu, secara nggak langsung dia ngasih tahu si pencuri lokasi sebenarnya)

“Fantastik!” Yamane memandang girang pada tong berisi uang di depannya itu.

Teriakan Takigawa diabaikan, karena semua anak buahnya sudah pingsan.



“Untuk kalian semua yang sudah bekerja keras. Selamat malam!” ujar Yamane lagi. Ternyata suara itu adalah rekaman. Dan yang bertugas memutar rekaman adalah Katsumura.

Saat ini Katsumura di ruang kemanan gedung itu. Sebelum beraksi, Katsumura melumpuhkan para petugas keamanan. Sekarang ia tinggal melanjutkan tugasnya sesuai petunjuk yang diberikan Yamane padanya.

Menyusup masuk ke dalam kargo dagang dan siapkan gas tidur lewat ventilasi udara. Mainkan audio dari perekam di ruang keamanan, lalu sebarkan gas tidur

Katsumura lalu memencet tombol di tangannya. Gas tidur seketika memenuhi ruangan tempat Takigawa dan anak buahnya berada. Mereka berebut keluar ruangan, tapi pintu sudah dihalangi oleh Katsumura.

Ikat pelakunya sementara mereka tidur. Kumpulkan semua barang bukti. Yamaneko

Setelah yakin kalau korbannya sudah tertidur, Katsumura melepas penghalang pintu itu. Tapi betapa kagetnya dia karena di dalam sudah dihadang anak buah Takigawa yang siap memukulinya. Ternyata ventilasi di ruangan itu tidak tertutup, sehingga gas dengan mudah keluar ruangan dan orang yang di dalamnya tidak tertidur.



Flash back ...

Yamane membujuk Katsumura untuk kembali menyamar jadi dirinya, seperti kasus-kasus sebelumnya. Jelas kali ini Katsumura menolak. Karena dari pengalaman yang sudah, ia selalu sial dan selalu jadi kambing hitam dalam setiap aksi Katsumura. Tapi kali ini Mao juga meyakinkannya dan berjanji akan ikut mengawasi. Dijanjikan Mao seperti itu, Katsumura tidak bisa menolak.

Sekarang

Mao yang ada di truk melihat ke arah monitor. Ia baru sadar kalau dirinya lupa menutup lubang ventilasi, hingga gas tidur tentu tidak akan berpengaruh.

Katsumura berusaha kembali menutup pintu ruangan itu. Ia menahannya sekuat tenaga, “Mao!!!” teriaknya frustasi.



Satu orang ternyata tidak cukup untuk menahan pintu ruangan itu. Anak buah Takigawa berhasil memaksa keluar dan memojokkan Katsumura dengan beragam senjata. Nyaris saja nyawa Katsumura jadi taruhan kalau tidak ada yang datang.

“Jatuhkan senjata kalian!” perintah Sakura yang baru datang.

“Sakura-chan?” Katsumura heran.



Yamane baru saja merapikan tong-tong ke dalam truk. Ia yakin kalau semuanya berhasi. Tapi teriakan yang terdengar dari alat komunikasinya membuatnya mengerti kalau Katsumura gagal (lagi). Dan benar saja, dari arah lain muncul Takigawa yang berjalan bersama anak buahnya. Takigawa akhirnya mengenali Yamane sebagai Yamaneko.

“Bukankah kau orang Jepang?” Yamane bicara serius. “Kenapa?”

“Kenapa aku menjadi kaki tangan mafia, melakukan pekerjaan yang akan menodai reputasi Jepang? Jawabannya sederhana. Karena aku muak dengan negara ini. Kau tahu apa panggilan dunia pada Jepang? Surga mata-mata. Semua orang membocorkan informasi sebanyak yang mereka mau. Semua orang hanya tertarik pada diri sendiri. Negara ini hanya kebun binatang berisi monyet bodoh. Meski itu sudah lama berakhir,” aku Takigawa dengan santainya.

“Sampah sepertimu tidak seharusnya bicara soal negara ini!” gertak Yamane. “Meski harus berkompromi, semangat Jepang menuntutmu untuk menyadari prinsip yang kau miliki! Kau yang hanya bias melihat wajah luar negara ini takkan tergerak dengan slogan samurai! Keadilan, keberanian, kebajikan, kehormatan, kesungguhan hati! Menghormati, loyalitas! Di masa lalu, mereka menggabungkan karakter itu ke dalam diri mereka. Tapi kita... Tak ada yang tersisa pada kita sehingga kita melupakannya. Meski begitu, masih ada orang-orang\N di negara ini dengan jiwa samurai! Mereka ada!”

“Bicara apa kau?”

“Apa yang ada di dalam dirimu? Esensi dirimu! Aku tanya prinsip apa yang kau miliki!” Yamane menarik senpi yang dipegang Takigawa dan mengarahkannya pada kepalanya sendiri. “Aku percaya pada negara ini. Aku percaya pada warga negara ini! Itulah esensi diriku!” mereka berebut senpi hingga satu letusan terdengar dan mengarah ke jalan.

Takigawa melepaskan diri dari cengkeraman Yamane. Ia kemudian menodongkan senpi pada Yamane dan meminta anak buahnya untuk menghabisi Yamane. Setelahnya ia sendiri beranjak pergi.



Takigawa mengemudikan truk dengan Cecilia yang ada di sebelahnya dengan tangan terborgol. “Sial. Karena kau dan Yamaneko...” ia masih terus saja mengumpat. “Jika uang satu milyar itu aman, maka tak masalah.”

Tapi sesosok manusia membuat Takigawa harus mengerem truknya dengan cepat. Mereka dicegat oleh det.Sekimoto. Ia minta agar bisa melihat isi muatan yang dibawa oleh Takigawa. Dengan linggis, tutup tong itu pun dibuka dan isinya adalah ... sake.

“Sake ini kelihatannya enak,” komentar det.Sekimoto.

“Apa-apaan ini...” Takigawa heran dengan yang terjadi sebenarnya.



Bagaimana kabar Yamane?

Dengan mudah ia melumpuhkan ketiga anak buah Takigawa dan sekarang meninggalkannya di belakang kontainer. Sementara dirinya menyalakan mesin kapal. Yamane menoleh ke belakang kapa. Di sana ada dua buah koper. Yamane tersenyum karena ia berhasil mendapatkan hartanya, satu milyar yen tunai (sekitar 119 milyar rupiah)



“Mencuri sake tidak cukup sebagai kejahatan. Akan kutambahkan kejahatan pencucian uang,” det. Sekimoto menunjukkan sebuah flash disk. “Kau diretas sementara menerima uang.”

Det.Sekimoto lalu membawa Takigawa keluar truk dan memberikan kunci agar Cecilia bisa melepas borgolnya. “Serahkan ini pada polisi. Cepat pergi dari sini!” perintahnya pada Cecilia.

“Apa kau juga bagian dari Yamaneko...” Cecilia penasaran.

Det.Sekimoto terdiam sebentar, “Bicara apa kau? Yamaneko adalah musuhku!”

Cecilia mengerti maksud ucapan itu. Ia tersenyum kemudian beranjak pergi dari sana.



Sakura berhasil membawa Katsumura keluar dengan selamat dan ia juga menjelaskan kalau dirinya mengikuti Katsumura.

“Aku tak bisa berhenti memikirkan wanita bernama Rikako itu. Bukan itu saja. Kau selalu ada di lokasi insiden yang melibatkan Yamaneko. Sekarang pun kudengar Yamaneko ada di dekat sini. Apa hubunganmu dengannya? Katakan padaku!” desak Sakura.

“Aku tak tahu apa pun,” elak Katsumura. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Sakura.

Sementara itu, kertas catatan yang dibuat Yamane untuk Katsumura terjatuh. Kadomatsu yang melihatnya kemudian mengambilnya. Tahu isi catatan itu, Kadomatsu berbalik dan berlari.



Yamane bertemu dengan Cecilia lagi di tempat tadi pertama mereka bertemu. Keduanya saling mengucapkan terimakasih karena rencana berjalan lancar. Dan yang lebih penting, uang yang diincar pun berhasil didapatkan.

“Tapi tujuanmu sebenarnya bukanlah uang. Kau ingin menghancurkan mafia Georgia dengan menemukan bukti pencucian uang. Benarkan?” tebak Yamane.

Cecilia tersenyum, “Jika kau melihatnya seperti itu, maka pemain paling penting hari ini adalah Mao, 'kan? Jika bukan karena keahliannya, kita takkan bisa mencuri data. Tapi, tak ada yang menduga bahwa Takigawa tidak tertidur. Kapan kau mengganti tongnya? Kau harus memonitor pergerakannya untuk bisa melakukan hal itu.”

Yamane menunjukkan sebuah alat pelacak. Rupanya saat tadi sore, Yamane menepuk punggung Takigawa, ia juga menyelipkan alat pelacak di sana. “Untuk mengerti prilaku target, dan menemukan cara terbaik untuk mencuri. Itu cara kerjaku.”

“Pencuri Misterius Yamaneko memang hebat,” puji Cecilia.

“Detektif Pencuri Misterius, Yamaneko,” ralat Yamane. Ia pun berbalik dan beranjak pergi.

Dari sudut lain, rupanya ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka. Dia Kadomatsu.



“Hei! Kenapa kau mempercayaiku?”

Pertanyaan Cecilia menahan langkah Yamane. Ia pun berbalik, “Kau tak pernah menipu seseorang. Itu yang kudengar.”

“Dari siapa?” Cecilia heran.

Tapi Yamane melihat sebuah titik laser merah di tubuh Cecilia dan memintanya menunduk. Tapi Cecilia kalah cepat karena Kadomatsu sudah lebih dulu menubruknya hingga mereka terjatuh.



Yamane sigap menyeret Kadomatsu dan Cecilia ke tempat yang lebih tersembunyi. Ternyata Kadomatsu tertembak. Yamane menutupkan tangannya ke tubuh Kadomatsu yang terlanjur berlumur darah.

“Cecilia-san...Syukurlah kau baik-baik saja.” Kadomatsu bicara patah-patah. “Sebenarnya aku ingin membantumu lebih cepat tapi...Aku... Karena aku tak berguna...Maaf. Aku sudah banyak menyusahkan. Ini memang jimat keberuntungan,” Kadomatsu menunjukkan gelang di tangannya. “Karena wanita yang kucintai sedang menatapku.”

“Hal bodoh apa yang kau bicarakan. Kubilang berhenti bicara!” bentak Yamane. Kali ini bukan wajah konyol yang ditunjukkannya, melainkan wajah khawatir.

“Tolong jangan tunjukkan wajah seperti itu,” Kadomatsu masih saja bicara. Ia tidak suka melihat wajah sedih yang nyaris menangis dari Cecilia. “Wajah tersenyum lebih cocok untukmu, Tersenyum.”

“Hei! Senyum! Senyum!” bentak Yamane pada Cecilia juga.

“Aniki-kakak,” kali ini Kadomatsu bicara pada Yamane. “Tak apa. Terima kasih banyak. Cecilia-san. Bahagialah. Itu... Aku...” Kadomatsu terkulai dan tidak bicara lagi.

“Kadomatsu! Kenapa kau sok keren begini. Jangan bercanda. Hei! Bangun! Jadilah pria menyebalkan dengan lelucon payah! Jangan main-main denganku! Kami... Berkat orang sepertimu bisa tersenyum.” Yamane terus saja mengguncang tubuh Kadomatsu yang sudah kaku.



Tapi tiba-tiba saja Sakura datang dan mengacungkan senjata pada mereka semua. Melihat hal itu, sigap Cecilia menyerang Sakura. Ia berhasil mengunci Sakura di tanah. Tapi Yamane menghentikan usaha Cecilia ini dan mengatakan kalau pelakunya bukan Sakura.

Cecilia mengalah dan memilih pergi. Yamane melihat kado yang jatuh di dekat tubuh Kadomatsu lalu mengambilnya. Ia pun beranjak pergi, meninggalkan begitu saja jasad Kadomatsu dan Sakura yang nyaris pingsan.



Ditinggal pergi oleh Yamane seperti itu membuat ingatan Sakura melayang pada dua tahun silam. Saat itu, ia yang merupakan detektif baru menemukan ayahnya yang sudah tidak bernyawa di sebuah gedung terbengkalai.

Dari arah lain tampak si topeng kucing, Yamaneko melihatnya. Tapi Yamaneko tidak menolong ataupun bicara apapun, melainkan beranjak pergi begitu saja.



Sakura datang ke markas seperti biasa esok harinya. Tapi ia masih mengenakan penyangga leher akibat insiden kemarin. Di kursi atasannya, ia melihat sesosok pria yang tidak dikenalinya.

“Kau datang kemari tanpa sedikitpun rasa malu setelah melarikan diri dari TKP pembunuhan,” sindir pria itu.

“Kau siapa?” Sakura balas menatap pria itu dingin.



Yamane kembali ke bar. Ia mengenakan kemeja putih dan jas hitam. Asap rokok juga mengepul di depannya. Ditambah gelas berisi minuman. Tidak ada Yamane yang konyol seperti biasanya. Kali ini Yamane tampak begitu bersedih.

Sementara itu, Mao duduk di tangga memperhatikan Yamane. Ia pun diam saja, tidak mengatakan apapun pada Yamane, seperti memberikan waktu bagi Yamane untuk sendirian dulu.



Det.Sekimoto menemui rekannya, politikus Todo Kenichiro. Todo-san mengucapkan terimakasih karena det.Sekimoto sudah mengurus kasus Takigawa. Rupanya ini cara mereka untuk menghancurkan mafia Gorgia, memanfaatkan Takigawa dan Yamenko sekaligus.

“Tolong jangan berpikir buruk tentangku.” Elak Todo-san. “Karena hal ini, Tokyo menjadi tempat yang lebih menyenangkan sebagai tempat tinggal. Yuuki-sensei juga akan senang.” Todo-san lalu membalik layar monitor di mejanya.

Di sana muncul sebuah gambar, sosok bertopeng. “Lama tak bertemu, Sekimoto.”

Tatapan det.Sekimoto berubah dingin, “Akhirnya kita bertemu, Yuuki-san.”



Kembali ke tahun 2013

Pertarungan antara det.Sekimoto dan Yamane di atap gedung akhirnya membuat Yamane tersudut. Det.Sekimoto bahkan berhasil merebut senpi yang tadi dibawa Yamane dan mengacungkannya pada Yamane.

“Apa yang kau inginkan? Balas dendam pada Yuuki? Itu takkan mengubah apa pun!” bentak det.Sekimoto.

“Berisik! Katakan yang harus kulakukan!” balas Yamane.

Det.Sekimoto menawarkan sebuah ide, “Mari ambil kembali negara ini dari Yuuki.”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 04 part 1

Bening Pertiwi 08.30.00
Read more ...
SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 03 part 1. Na akhirnya kembali!!! Tsaaah ... setelah dedek lepi sempat menginap tempat service, akhirnya sekarang sudah kembali. Semoga nggak sakit lagi ya, #puk #puk. Meski agak kesel juga sih diPHP mulu sama mas2 servisan, huh!

Satu buah rahasia baru terungkap. Si polisi mesum, det.Sekimoto ternyata anggota Yamaneko. Dan dia adalah seorang agen ganda? Kira-kira, dia ini bisa dipercaya nggak ya? Di episode tiga ini, kamu juga akan melihat sisi lain dari seorang Yamane. Si konyol yang sebenarnya misterius.



Kembali ke suatu hari di tahun 2013 (episode 1) setelah Yamane berhasil melarikan diri dari sergapan kelompok yang menyekapnya. Sekarang mereka berhadapan di atap gedung, Yamane dan det.Sekimoto. (adegan atap gedung, Na jadi kangen sama death note deh, adegan Light kan banyak di atap tuh)

Yamane berteriak kesal karena merasa dihianati oleh Sekimoto. Kali ini senpi diacungkannya ke arah Sekimoto meminta penjelasan, dimana Yuuki.

“Yuuki Tenmei sudah mati. Itu yang aku tahu!” bentak Sekimoto tidak kalah keras.

“Berhenti main-main denganku!” alih-alih mencarik picu senjatanya, Yamane justru menyerang Sekimoto.

Keduanya saling serang dan saling pukul di atap gedung. Hingga akhirnya Sekimoto terpojok, tangan Yamane sudah mencengkeram erat lehernya.



Masa kini

Perkelahian ini ternyata juga dilakukan di bar milik Rikako-san. Tapi sekarang keduanya melakukannya dengan alat-alat mainan dari balon.

“Apa-apaan mereka, terlihat seperti sedang bermain,” komentar Katsumura melihat kedua orang ini.

Rikako-san yang kesal mengeluarkan senjata mirip bazooka. Ditembakkanya ke arah kedua orang itu, dan keluarlah jaring membuat kedua orang ini akhirnya berhenti. Rikako beralasan kalau sampah terbakar akan dikumpulkan besok, jadi dia berpikir untuk membunganya sekalian.

“Jangan perlakukan aku seperti sampah! Kalau dia beda lagi!” teriak Det.Sekimoto dan Yamane bersamaan. Benar-benar kekanak-kanakan.

“Awalnya kenapa mereka berkelahi?” Katsumura penasaran.



Kali ini Mao yang menjelaskan. Yamane dan det.Sekimoto bertengkar soal sebutan. Det.Sekimoto tidak suka dipanggil ‘pak tua’ dan minta dipanggil ‘kakak’. Tapi dengan entengnya Yamane menolak permintaan itu. Det.Sekimoto makin tidak terima karena sikap Yamane yang sama sekali tidak menghormatinya.

“Di sini kau tak memiliki andil apa pun!” teriak Yamane. Ia mengambil gelasnya dengan alat seperti tangan dan minta diisi kembali.

Det.Sekimoto tidak terima dikatakan demikian, “Wah, dia mengatakannya. Aku terluka sekali. Kau pikir berapa banyak aku mendukungmu dari balik layar? Setiap kali Yamaneko berkeliaran meski orang-orang berpikir dia seniman melarikan diri, saat semuanya semakin dekat, aku menggunakan kecerdikanku sebagai detektif!”

Pada penyergapan di episode 1, det.Sekimoto menyuruh anak buahnya menuju ruangan lain yang sama sekali jauh dari tempat Yamane berada. Ini dilakukannya agar Yamane punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dan melarikan diri. Semuanya ini ditunjukkan dalam gambar kartun yang konyol.

Masih di episode satu, det.Sekimoto juga sempat bertarung dengan Yamaneko. Demi tugas, keduanya tampak bertarung serius. Tapi sebenarnya tanpa melukai satu sama lain. Sementara itu, Katsumura yang masuk dalam tim justru membuat masalah hingga Sakura (si polisi wanita yang cantik) curiga padanya. (semuanya dalam gambar kartun, #krik #krik)

“Maaf,” sesal Katsumura.

“Jika minta maaf saja cukup, maka polisi tak diperlukan!” bentak det.Yamane. Dia masih belum puas memaki.

Pertengkaran masih terus berlanjut. Det.Sekimoto protes tiap kali Yamane melepas topengnya saat beraksi. Nantinya, ialah yang harus membereskan ini dan mengancam si penjahat agar tidak membocorkan identitas Yamane.

Tapi bukannya tertarik pada isi ceritanya, Yamana justru tertarik pada gambar kartun yang ditunjukkan oleh det.Sekimoto itu. Ia mengomentari sosok pria yang mirip yakuza.

“Pokoknya, sekarang kau tahu kehidupan berat yang kujalani. Jadi panggil aku Kakak mulai saat ini!” tegas det.Sekimoto

Jelas Yamane menolak ide ini. Ia masih berkeras tidak mau menyebut ‘kakak’. Dan keduanya sekarang siap kembali bertengkar. Sementara Katsumura, Rikako-san dan Mao hanya menonton pertunjukkan gratis dari mereka berdua ini.



Tapi pertengkaran mereka terhenti saat ada pria yang masuk ke bar itu. Namanya Takigawa-san. Pria ini bertanya apakah mereka adalah biro detektif Yamaneko. Tadinya Yamane hendak menjelaskannya, tapi buru-buru dipotong oleh det.Sekimoto yang memukul Yamane lalu meminta tamu ini untuk duduk.

Takigawa mengatakan ia ingin minta bantuan untuk mencari seseorang. Ia menunjukkan sebuah foto yang disebutnya sebagai kekasihnya, namanya Akamatsu Anri. Akamatsu Anri bergabung di perusahaan milik Takigawa setengah tahun silam. Seorang wanita yang cantik dan ramah. Karena memiliki hobby yang sama, keduanya langsung cocok. Tapi satu minggu yang lalu, Akamatsu tiba-tiba menghilang. Takigawa khawatir kalau Akamatsu terlibat insiden.

Yamane penasaran dan mengambil foto yang ditunjukkan Takigawa. Ia kaget melihat wanita dalam foto itu. Yamane mengenalnya.



Belum sempat bilang apapun, det.Sekimoto sudah mengajak Yamane bicara rahasia. Det.Sekimoto juga menyadari, wanita dalam foto itu adalah orang yang sama dengan staf hotel pada aksi Yamaneko di episode 2.

“Jangan katakan pada yang lain. Tapi jika kita ulur sedikit, kita bisa mendapatkan imbalan lebih banyak,” ujar det.Sekimoto dengan misteriusnya.

Kali ini Yamane dan det.Sekimoto langsung sepakat. Mereka memasang wajah iblis. Keduanya langsung mengiyakan permintaan Takigawa untuk mencari wanita itu.



Yamane bernyanyi riang sambil berjalan ke dalam mobil mereka. Tapi Yamane kaget luar biasa saat melihat Mao ada di dalam truk itu juga. (si Mao ini nggak sekolah ya jadinya?)

Masih dengan wajah tenangnya, Mao berkata, “Aku ingin kau mengatakan sesuatu padaku. Pada akhirnya siapa yang membunuh Hosoda-san, masih belum diketahui, 'kan?”

“Yah, itu benar.”

“Aku bisa mempercayaimu, 'kan?” Mao bertanya pada Yamane, tapi seolah ia ingin menegaskan pada dirinya sendiri.

“Kau harus mencari tahu soal itu sendiri. Apa aku membunuhnya atau tidak. Cari tahu dengan kelima indramu,” ujar Yamane dengan wajah serius.



Yamane dan Mao mendatangi hotel dan minta tolong staf hotel untuk memanggilkan Akamatsu Anri. Tapi staf hotel heran dan mengatakan kalau tidak ada staf yang bernama Akamatsu Anri. Saat itu ponsel Yamane berbunyi, dari Katsumura.

“Berita buruk. Aku menyelidiki latar belakang Akamatsu Anri, dia tak terdaftar pada register keluarga manapun. Akamatsu Anri tidak ada!” lapor Katsumura yang saat itu ada di depan gedung informasi kependudukan.



Todo Kenichiro tengah berkeliling melakukan kampanye dalam rangka pencalonannya menjadi gubernur Tokyo. Tapi sebenarnya, dia tengah berbicara dengan det.Sekimoto.

Det.Sekimoto melapor pada Todo-san kalau Takigawa Manabu datang menemui mereka. (Takigawa, pria yang minta tolong dicarikan kekasihnya yang hilang)

“Dia pintar, pria muda terkemuka. Aku mengandalkanmu,” komentar Todo-san.

“Pria yang ditinggal kabur kekasihnya memang luar biasa. Apa rencanamu kali ini?” sindir det.Sekimoto.

“Aku tak ingin kau salah paham. Karena yang memperkenalkan Takigawa-kun tak lain adalah Yuuki-sensei.”

Ucapan Todo-san kali ini membuat ekspresi wajah det.Sekimoto berubah. Ia tampak marah mendengar nama itu.



Katsumura kembali ke bar saat semunya berkumpul di kamar Mao. Mereka sedang memeriksa ulang rekaman cctv di hotel (kasus pada episode 2). Dari salah satu cctv, tampak Akamatsu Anri datang dengan pakaian kasual kemudian ganti baju di toilet. Itu artinya jelas kalau dia bukan staf hotel itu, alias pegawai palsu.

Rekaman selanjutnya adalah saat det.Sekimoto menangkap Shunichi-san, bos yakuza. Saat itu Akamatsu Anri yang mengantarkannya. Dan saat berbalik, Akamatsu bicara ke arah cctv. Saat diterjemahkan, kira-kira ucapannya ‘Kita akan segera bertemu, Yamaneko-san.’. Yamane jadi ingat wanita misterius yang meneleponnya saat ia dan Katsumura ada di apartemen Hosoda-san. (episode 2)

Rekaman berikutnya menunjukkan saat wanita itu mendatangi kamar Nakaoka Taichi dan kemudian diperlisahkan untuk masuk ke dalam.



Hari masih pagi saat Yamane mengejar Nakaoka Taichi yang tengah olahraga. Kedua anak buah si boz yakuza ini nyaris melumpuhkan Yamane jika saja Yamane tidak menunjukkan foto si wanita. Sekarang mereka berdiri di sisi sungai, mengobrol.

“Dia wanita panggilan. Berasal dari sebuah klub yang tak bisa dimasuki kecuali memiliki status jelas,” Taichi-san menjelaskan. “Jangan salah sangka. Dia seperti rekanku dalam percakapan.”

Yamane tersenyum sarkas, “Lelucon macam apa yang kau lontarkan? Hanya untuk bicara, wanita di sekitar sini sudah cukup, 'kan?”

“Tamunya adalah anggota politisi dan komunitas bisnis berpengaruh. Jika tak memiliki pendidikan yang layak, maka tak bisa bekerja di sana. Jika soal itu, dia luar biasa. Aku harus kembali ke Kyoubukai (kelompok Yakuza yang tadinya dipimpin anaknya, Nakaoka Shunichi) juga idenya dia. Sampaikan salamku padanya.” Taichi-san memberikan sebuah kartu nama pada Yamane.



Yamane melakukan panggilan telepon. Setelah mengatakan sandinya, Hummercrab Terumi Doll, suara di seberang langsung mengerti maksudnya. Yamane minta Akamatsu Anri untuk datang ke kamar 201 di Kitaura Quarter Terrace.

“Apa maksudnya 'Hummercrab Terumi Doll'?” protes Katsumura. Ia lebih kesal lagi karena Yamane menggunakan alamat apartemennya untuk mengundang Akamatsu Anri dan bukan tempat Yamane saja.

“Dasar bodoh! Bagaimana jika orang jahat berkumpul? Jika mereka mengingat rumahku bukankah mereka akan mulai berkumpul di sana?”

Katsumura makin kesal, “Sama saja dengan apartemenku!”

Tapi Yamane buru-buru berdiri dan memegang pundak Katsumura dengan wajah serius, “Tenang saja. Kau bisa!”

“Aku tak mengerti maksudmu mengatakan 'Kau bisa!'.”



Hari sudah menjelang sore saat wanita yang mereka tunggu, Akamatsu Anri ternyata tidak datang. Yamane dan Katsumura memutuskan meninggalkan apartemen Katsumura itu. Tapi di jalan, rupanya mereka diikuti oleh seseorang. Dengan triknya, Yamane berhasil melumpuhkan orang itu.

“Menjadi idiot. Menjadi super idiot. Jika aku telanjang, kau bisa datang dan melihatku. Datang dan lihat diriku yang sesungguhnya. Jadilah orang bodoh seperti itu!” teriak Yamane sambil mengunci orang yang tadi mengikutinya itu.

“Apa-apaan itu?”

“Perkataan Inoki.” (Antonio Inoki seorang Pegulat Jepang)



Pria itu terbangun dari pingsannya di bar Rikako-san, dalam keadaan terikat. Ia heran dengan orang-orang yang ada di hadapannya ini. Yamane memperkenalkan dirinya sebagai ‘Detektif Pencuri Misterius Yamaneko’.

Yamane menunjukkan foto si pria ini bersama Akamatsu di ponselnya dan minta penjelasan. Tapi pria ini menolak. Dengan mudah Yamana menebak kalau si pria jatuh cinta pada Akamatsu Anri. Meski begitu, pria ini tetap menolak bicara.

Dan mereka semua pun diperdengarkan suara sumbang Yamane. Yang lain sudah hafal dan paham sehingga biasa saja. Tapi pria ini protes dan mengatakan kalau Yamane buta nata. Kata terlarang yang terucap ini membuat Yamane kesal luar biasa. Ia minta bantuan Katsumura untuk melepas sepatu dan kaos kaki si pria.

Rikako-san memberikan Yamane sebuah alat. Pria ini ketakutan, karena alat itu mirip stunt gun. Tapi setelah dibuka ternyata ... benda berputar dan akan terasa geli jika digerakkan di telapak kaki. Yamane memaksa pria ini bicara dengan cara menggelitiki kakinya.

Pria ini pun menyerah, “Aku Kadomatsu Tatsuro. Cecilia-san adalah temanku!” pria ini juga mengaku tengah mencari Akamatsu Anri a.k Cecilia ini.

Karena Cecilia menghilang juga dari club tempatnya bekerja. Si pria sengaja mengikuti Yamane dan Katsumura karena berpikir mungkin mereka tahu sesuatu. Mereka semua kecewa karena ternyata si pria ini, Kadomatsu tidak punya info apapun soal Akamatsu Anri a.k Cecilia ini.

Tapi Rikako-san menunjukkan foto milik Cecilia dan men-zoom pada kalung yang dikenakannya, “Kalung ini. Dewi yang terlihat seperti seekor ular. Yang berarti "Serpent" dalam bahasa Latin. Nama dari Geng Asia yang sangat terkenal di Tokyo.”



Katsumura mengundang Sakura datang ke apartemennya. Katsumura pun menunjukkan foto si Cecilia ini.

“Serpent adalah geng mafia Asia yang mendominasi dunia bawah tanah Tokyo. Karena belakangan mafia Georgia Rusia sedang menanjak, kekuatan Serpent menjadi lemah. Aku akan mencari tahu soal wanita ini,” janji Sakura.

Keduanya lalu canggung. Tapi Katsumura mengalihkan pembicaraan soal ayah Sakura yang meninggal ketika sedang bertugas, mengejar Yamaneko dua tahun silam.

“Saat itu tepat setelah aku menjadi seorang detektif dan aku orang pertama yang menemukannya. Saat itu aku melihat Yamaneko melarikan diri dari TKP. Aku takkan pernah melupakan pemandangan itu, dan perasaan saat tubuh ayahku perlahan menjadi dingin.” Situasi kembali canggung. Sakura lalu menawarkan agar ia membuatkan teh.

Saat itu ponsel Katsumura berbunyi, dari Rikako-san. Rikako-san meminta Katsumura untuk datang dan bertemu malam nanti. Di belakang, Sakura ternyata menguping pembicaraan ini.

Mendengar pembicaraan itu, imajinasi Sakura langsung meliar. Ia tampak berusaha menyembunyikan kecemburuannya. Beberapa kali Sakura bahkan bicara seolah menjelaskan padahal hanya ingin meyakinkan pada dirinya sendiri kalau nama ‘Rikako’ yang baru saja disebut oleh Katsumura, belum tentu wanita.

Tapi akhirnya Sakura terjebak dalam imajinasinya sendiri, “Apa boleh jika aku tak bisa menerima kenyataan? Jika seperti ini, aku akan pergi untuk Liburan Patah Hati. Jadi hari ini aku pulang saja,” dengan canggung Sakura mengambil tasnya dan buru-buru pergi. (adegan ini lucu, serius. Jadi mending tonton sendiri ya. Image ‘devil’ teh Nanao waktu maen di Siren benar-benar musnah setelah main kocak di dorama satu ini)

Dari tadi Katsumura Cuma bisa dibuat bengong oleh sikap Sakura. Ia tidak benar-benar mengerti maksud wanita di depannya ini. “Ah, soal Cecilia! Tolong cari tahu!” Katsumura mengingatkan.

“Iya!” teriak Sakura dengan suara keras dan kasarnya.



Takigawa kembali datang ke bar. Yamane pun melaporkan hasil penyelidikannya terhadap wanita bernama Akamatsu Anri atau Cecilia ini.

Nama aslinya Cecilia Wan dari Taiwan. Seorang wanita panggilan di sebuah klub rahasia khusus anggota. Sepertinya dia juga seorang mata-mata untuk geng mafia Asia Serpent. Ada kemungkinan Cecilia ini ingin menggali informasi soal perusahaan perdagangan milik Takigawa-san. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan soal Serpent. Saat ini Serpent sedang berusaha menghancurkan musuh mafia Georgia dari Rusia. Apalagi ternyata perusahaan milik Takigawa sering melakukan perdagangan dengan Rusia.

Meski begitu, Takigawa menolak jika perusahaannya punya hubungan dengan mafia. Kadomatsu pun mengiyakan hal itu. Apalagi ia tidak percaya kalau Cecilia-nya melakukan hal-hal mencurigakan seperti itu.

“Sebentar! Sejak kapan kau jadi akrab dengan kami hingga kemari sesukamu?!” bentak Yamane melihat Kadomatsu mengenakan seragam hitam putih dan mengambilkan minuman untuk mereka.

Kadomatsu pun memangil Yamane dengan sebutan ‘aniki’-kakak. Ini membuat Yamane tersipu. Apalagi ditambah provokasi dari Rikako-san. Obrolan mereka terhenti saat ponsel Yamane berbunyi. Ia masih sempat mengomel soal tim baseball kesukaannya, Yomiuri Giants.



“Terima kasih atas informasi yang tak berguna itu, Yamaneko-san. Kau mengingatku?” ujar suara di seberang.

Wajah Yamane berubah serius, “Kami baru saja membicarakanmu. Akamatsu Anri. Tidak, atau kau lebih suka dipanggil Cecilia Wan?”

Mendengar nama ini, orang-orang langsung heboh. Takigawa dan Kadomatsu berebut ikut bicara pada Cecilia. Yamane akhirnya mengeluarkan jaring dan membuat mereka tertahan di dalam bar. Sementara ia sendiri keluar dari bar untuk bicara lebih leluasi dengan Cecilia.

“Langsung saja ke intinya, kau mau bekerja sama denganku?” Cecilia menawarkan.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

Tapi Cecilia tidak percaya, “Kurasa kau mengerti. Apa akhirnya kau tahu hubungan Serpent dengan mafia Georgia? Jika tertarik, datang ke perhentian bus nomor 3 di Stasiun Fujikita besok pagi pukul 8. Detailnya akan kujelaskan nanti.” Cecilia menutup telepon.



Hari berikutnya, Yamane benar menunggu di tempat yang dimaksud. Tapi ia kesal karena Kadomatsu mengikutinya. Saat itu Kadomatsu masih terikat jaring hingga akhirnya Yamane membantu melepasnya. Sekarang gantian Kadomatsu yang memuji penyakit kaki Yamane. Kadomatsu memberi saran agar diobati dengan cuka.

“Hei, Paman!” seorang anak kecil mendekati mereka.

“Bukan Paman tapi Abang!” protes Yamane dan Kadomatsu bersamaan.

“Seorang wanita memberikan ini padaku,” anak kecil itu menyerahkan bungkusan lalu berlari pergi tanpa menghiraukan panggilan Yamane maupun Kadomatsu lagi.

Yamane menrima tas kertas itu. Di dalamnya ia menemukan sebuah buku berjudul ‘Bushido’, buku yang selama ini selalu dibawa oleh Yamane. Ia juga menemukan sebuah kertas dengan banyak angka di sana.



“Jadi begitu,” Yamane masih asyik mencorat coret kertas penuh angka itu dan sesekali membuka buku untuk mencocokkan. Sementara itu kakinya ia rendam dalam larutan cuka.

Kode itu pun berhasil dipecahkan. Perusahaan Takigawa menggunakan mata uang virtual untuk meloloskan pencucian uang mafia Rusia. Mari curi satu milyar yen yang mereka hasilkan secara ilegal!

“Mata uang virtual itu apa?” Rikako-san masih belum mengerti.

“Uang yang bisa digunakan secara online (semacam bit coin kali ya),” kali ini Katsumura yang menjelaskan. “Karena tak memiliki sumber pengeluaran, mata uang itu tak memiliki nilai sendiri, tapi jika melakukan transaksi keuangan online, maka bisa dicairkan menjadi uang tunai. Di Rusia dilarang menggunakan mata uang virtual tapi di Jepang, masih belum ada hukum yang mengatur soal itu.

Rikako-san menyimpulkan artinya mereka melakukan pencucian uang kotor mereka di Jepang. Saat ditanya apa Yamane mau bekerja sama dengan wanita itu, Yamane jelas menolak. Ia mengaku tidak percaya pada mata-mata.

“Cecilia-san takkan mengkhianatimu, Abang. Aku jamin,” Kadomatsu ikut bicara.

Yamane heran karena Kadomatsu masih saja datang ke bar mereka. Kadomatsu mengatakan kalau ia akan ada di sana sampai bisa memastikan kalau Cecilia baik-baik saja.

“Dengar, ya. Kenapa kau jatuh cinta dengan wanita itu?”

“Berkat dia, aku bisa menjadi diriku yang sekarang,” Kadomatsu berubah bersemangat. “Sejak masih muda, aku selalu kesulitan dan gugup berada di dekat orang lain. Sama seperti hari yang sangat panas.” Yang lain hanya mengangguk-angguk. “Kalian tak perlu setuju semudah itu.”

Kadomatsu meneruskan ceritanya, “Setiap kali bicara pada seseorang, aku selalu gugup dan bicara berputar-putar. Tapi Cecilia-san memberikan ini untuk ulang tahunku,” ia memamerkan gelang di tangannya. “Karena ini batu keberuntungan, maka aku juga akan beruntung. Lalu aku bisa jadi diriku sendiri! Menemukan seseorang yang kucintai dan hanya melihatnya tertawa sudah membuatku senang. Karena itu, kebahagiaan Cecilia-san juga kebahagiaanku.”

Yamane tertawa mendengar penjelasan Kadomatsu, “Tidak, tidak. Itu pasti barang yang diiklankan di belakang majalah. Yang mengatakan 'Lihat, aku memiliki pacar' atau 'Aku memenangkan lotre'. Itu barang murahan, 'kan?”



“Berkat benda ini, dia memiliki seseorang yang mendukungnya dan memberinya keberanian,” sambung Katsumura. Ia tertawa. “Aku baru saja melihat iklannya di majalah ini. Gelang yang sama, 'kan?” Katsumura menunjukkan iklan gelang dalam majalah yang baru dilihatnya itu.

Tapi Kadomatsu tidak percaya, “Bukan! Gelang ini sungguh memiliki keberuntungan dari Dewa!” ia tetap saja berkeras. “Tapi! Tapi! Tapi! Aku mendapatkan banyak teman dengan ini!”

“Yang kau maksud itu kami?” Yamane menyimpulkan. Ia masih asyik menyuap mi ramen ke mulutnya. “Aku mengerti! Sebagai teman, biar kuberi nasehat. Kau sudah ditipu.”

“Tapi aku mendapatkan ini dari Cecilia-san. Aku tak merasa dia sudah menipuku. Dia tak pernah menipu siapa pun,” Kadomatsu masih saja berkeras.



Det.Sekimoto mengajak Yamane bertemu di atap gedung. Kali ini mereka bicara hal serius.

“Yuuki terlibat dalam kasus Akamatsu Anri. Jika berjalan lancar, kita mungkin bisa sampai pada Yuuki,” ujar det.Sekimoto.

“Jangan terburu-buru. Kau masih tak mengatakan padaku soal hubungan seperti apa yang mungkin terjadi dengan seseorang,” elak Yamane.

“Sekarang kau merasa rendah diri?” sindir det.Sekimoto. “Bukan berarti aku tak bisa mempercayaimu. Hanya saja aku harus melakukannya dengan sangat hati-hati. Untuk saat ini, ikuti saja saran Akamatsu Anri.”

Tapi Yamane tampak tidak suka, “Kau pikir hanya dengan menyebutkan nama Yuuki, kau bisa memerintahku untuk melakukan apa pun?” ujarnya lalu berbalik dan berjalan pergi.

“Lakukanlah. Itulah cara hidup kita!”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 03 part 2.
Bening Pertiwi 08.28.00
Read more ...