SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 10 part 2. Sekali lagi, Moroboshi berusaha menarik perhatian Himura-sensei. Ia masih berkeras ingin membuat sisi ‘monster’ dalam diri Himura-sensei muncul. Bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tapi Himura-sensei lebih cerdas menghadapinya.


Sayangnya, rencana Moroboshi belum selesai. Karena ia masih menyimpan rencana final yang sama sekali tidak terduga dan mematikan. Apakah Himura-sensei berhasil menyelesaikan tantangan ini? (kyaaaa akhirnya bagian terakhir pun. Maaf ya, buat yang udah terlalu lama nungguin)



Moroboshi juga dibawa dengan ambulan yang lain menuju rumah sakit. Salah seorang polisi yang bersamanya, dari divisi keamanan publik tampak khawatir dengan keadaan Moroboshi ini.


Si polisi kemudian beranjak ke depan. Ia bicara dengan sopir, “Tolong perhatikan mobil di belakang. Kita mungkin saja diikuti oleh kelompok Shangri-La Crussade,” ia memperingatkan si sopir yang dijawab dengan anggukan tanda mengerti.



Himura-sensei sudah lebih dulu tiba di rumah sakit. Ia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Kekesalan di wajah mereka karena Himura-sensei pergi sendirian menemui Moroboshi perlahan hilang saat akhirnya mereka lega karena Himura-sensei baik-baik saja.


“Jadi, permainana apa yang kau lakukan dengan Moroboshi?”


Himura-sensei menjejarkan tiga buah gelas dengan warna di bagian bawahnya, “Game logika yang mempertaruhkan nyawa.”


Permainan di mulai. Pilihan pertama adalah merah. Himura-sensei lalu menyingkirkan yang hijau. Lalu saat diminta memilih lagi, antara sisanya, merah atau biru, pilihan berubah jadi biru. Saat dibuka, ternyata biru yang ‘mengandung racun’.


“Kalau kalian berpikir secara logika kemungkinannya, kalian bisa menang,” ujar Himura-sensei.


Awalnya, kemungkinan tiap gelas berisi ‘racun’ adalah sama 1/3 bagian. Saat merah dipilih pemain, hijau yang ‘tanpa racun’ kemudian disingkirkan, maka kemungkinannya berubah. Merah tetap memiliki kemungkinan 1/3, sementara biru jadi punya kemungkinan 2/3. Jadi, kalau kemudian si pemain berubah pilihan memilih biru, maka ia justru akan bertemu dengan gelas ‘beracun’, alih-alih tetap dengan pilihan merah. Artinya, kemungkinan si gelas biru justru meningkat.


“Tapi Moroboshi dan kau tidak sadarkan diri, artinya kalian berdua minum dari gelas beracun kan? Bagaimana bisa? Padahal kan Cuma ada satu gelas beracun.”



“Aku bisa membuat kemungkinannya jadi lebih besar, tapi tetap tidak bisa 100%. Aku tidak punya pilihan selain saling bunuh di waktu yang sama,” cerita Himura-sensei.


Saat Moroboshi mengatakan akan memberikan waktu dan berbalik, Himura-sensei mencampur ketiga minuman tadi dalam satu gelas dan kemudian membaginya lagi secara rata pada masing-masing gelas. Jadi, ketiga minuman mengandung racun. Jika dosis yang digunakan Moroboshi cukup untuk membunuh satu orang, kalau dibagi tiga maka dosis itu masih bisa ditoleransi oleh tubuh.


Mereka semua dibuat terkesima dengan ide yang dilakukan Himura-sensei. Tokie-san kemudian mengajak yang lain untuk keluar, memberikan waktu bagi Himura-sensei dan Alice bicara berdua saja.



“Hei, kalau aku tidak mau terlibat bahaya, maka aku tidak akan mau di dekatmu. Jadi, jangan tinggalkan aku sendirian lagi,” ujar Alice. (lebih mirip ucapan dari pacar deh, kekekeke)


“Dia mungkin sengaja memberikan kesempatan karena dia ingin bermain denganku lagi,” komentar Himura-sensei.


Alice tampak tidak suka dengan jawaban itu, “Ini sudah selesai. Tidak ada ‘lagi’. Aku pasti akan terus memburmu di mana saja. Kasus ini selesai. Kenapa kau tidak istirahat saja?” saran Alice.


Himura-sensei tampak masih terus berpikir. Ia belum bisa mengenyahkan soal Moroboshi dari dalam kepalanya. Tapi ia pun menurut saja saran Alice.


Alice berbalik hendak pergi, tapi ia berhenti, “Aku senang kau kembali dengan selamat. Sampai jumpa lagi.”



Alice keluar dari ruangan perawatan Himura-sensei. Dilihatnya seorang yang berjalan dengan jaket menutupi kepalanya. Alice curiga, tapi saat didekati ternyata dia si ahli forensik, Yasoda-san. Yasoda-san mengaku kalau ini hari liburnya. Dan dia bersama istrinya datang mengunjungi ginekologi. Tidak lupa Yasoda-san pun memamerkan foto hasil USG calon bayinya.


“Aku lihat si detektif wanita di bawah. Bagaimana Himura? Apa dia baik?”


“Dia baik, dia sedang istirahat,” jawab Alice.



Sementara itu dalam ambulan yang membawa Moroboshi,


“Mobil mencurigakan mengikuti kita,” ujar si sopir.


“Hentikan mobil sekarang,” pinta si polisi dari divisi keamanan publik itu.


Sopir bingung. Si polisi itu kemudian menodongkan senpi-nya dan sekali lagi meminta si sopir untuk menghentikan mobil.


“Letakkan senjata itu!” perintah det.Hisashi. Ternyata dia menyamar sebagai kru ambulan dan duduk di kursi depan. Ia juga menodongkan senpi pada si polisi. “Ternyata benar, kau pengkhianatnya!”


Det.Hisashi meminta si sopir untuk terus melaju. Tapi dari belakang, seseorang menembakkan senpi-nya. Moroboshi menembak si sopir hingga mereka tidak punya pilihan lain selain berhenti.



Kejadian berlangsung cepat. Setelah ambulan berhenti, pintu sampingnya dibuka. Anak buah Moroboshi yang datang dengan mobil mereka membantu Moroboshi untuk berpindah mobil. Adu tembakan tak terelakkan lagi. Lengan kanan det.Hisashi terkena tembakan oleh anak buah Moroboshi.


Saat itu si polisi divisi keamanan publik hendak bergabung dengan Moroboshi di mobilnya. Tapi ternyata ia justru dibunuh begitu saja. Mobil yang membawa Moroboshi pun berhasil meloloskan diri, sekali lagi.



Himura-sensei sendirian di kamar perawatannya. Sesekali ia menatap ke arah luar jendela, lalu beralih ke ponselnya. Dan benar saja, ponsel itu berdering tidak lama setelahnya.


Permainan berikutnya baru saja dimulai!



Alice menemui det.Ono dan Sakashita di lantai bawah. Mereka baru mendapat kabar dari det.Hisashi kalau Moroboshi kembali berhasil melarikan diri. Alice merasa ada yang tidak beres. Tanpa bicara apapun, dia langsung berbalik dan berlari. Tujuannya adalah ... kamar Himura-sensei.


Tiba di kamar Himura-sensei, Alice tidak menemukan orang yang dimaksud. Alih-alih, ia hanya menemukan lembaran kertas di meja dekat ranjang.


Maafkan aku yang akan mengakhiri ini sendirian. Untuk sahabat sejatiku.


Rupanya pesan dikirim oleh Moroboshi pada ponsel Himura-sensei. Ia minta bertemu dan bersedia menunggu Himura-sensei di lembah Tenma.



Sementara itu di mobil yang membawa Moroboshi.


“Onizuka, hentikan mobil di sini. Aku masih punya urusan yang belum selesai,” ujar Moroboshi pada anak buahnya itu.


“Apa yang kau rencanakan? Tolong pimpin kami!”


“Genku terbagi dan terus tumbuh!” ujar Moroboshi. “Kalau kalian percaya padaku, kalian bisa mencapai Shangri-La.”



Sementara itu tim bantuan sudah tiba di tempat ambulan Moroboshi dirampok. Det.Hisashi yang terserempet peluru di tangannya pun telah diobati. Ia memimpin anggota yang lain untuk memperkirakan ke mana Moroboshi pergi.


Sementara itu Alice menyusul ke TKP bersama det.Ono dan Sakashita. Situasi pun kembali berubah tegang karena kaburnya Moroboshi untuk kesekian kalinya ini.



Di jalanan lain, Himura-sensei sudah berada di dalam taksi yang akan membawanya ke lembah Tenma. Sesekali ia memeriksa pesan yang tadi dikirim oleh Moroboshi.


Di mobil lain, Alice terus saja memandangi pesan yang ditinggalkan oleh Himura-sensei. Ia ingat pembicaraannya dengan Himura-sensei beberapa waktu silam, soal kasus terakhir Sherlock Holmes dengan prof.Moriarty.


When I say that if I were assured of the former eventuality I would, in the interests of the public, cheerfully accept the latter


Dan sekarang Himura-sensei benar-benar menghilang.



“Kenapa kau memilih tempat ini?” pertanyaan pertama Himura-sensei saat ia sudah bertemu dengan Moroboshi di tempat perjanjian mereka.


“Karena aku bisa menghilang atau membuatmu menghilang tanpa diketahui,” ujar Morobishi. Ia kemudian melingkarkan tangannya ke lengan Himura-sensei. Tapi di dalamnya, ia menodongkan senpi.


Saat itu ada pasangan tua yang juga datang dan bertemu mereka di jalan. Pasangan itu mengingatkan Himura-sensei dan Moroboshi agar hati-hati, karena sudah sore. Tidak ingin ada yang curiga, Moroboshi memamerkan senyum terbaiknya.


Setelah berlalu, pasangan itu mulai berbisik. Mereka berpikir kalau kedua orang yang ditemuinya tadi seolah akan bunuh diri. Si pria melarang istrinya untuk berbalik. Rupanya ia mengenali wanita yang mereka temui tadi sebagai Moroboshi Sanae. Mereka kemudian sepakat untuk menghubungi nomer darurat, 911.



Det.Hisashi bergabung bersama Sakashita, det.Ono dan Alice. Mereka mendapat informasi ada saksi mata yang melihat Moroboshi Sanae di sekitar lembah Valley. Tempat ini seperti tempat yang memang sudah biasa digunakan oleh orang untuk sekedar jalan-jalan atau naik gunung. Menurut saksi itu lagi, Moroboshi datang bersama seorang pria yang tingginya sekitar 180cm.


Tanpa membuang waktu lagi, mereka langsung menuju tempat itu.



Morobishi dan Himura-sensei tiba di samping semacam bendungan besar yang mengalirkan air begitu deras. (sumprit, ini bendungannya bikin ngeri)


“Apakah kau pernah menodongkan senjata?” Moroboshi mengeluarkan senpi dari balik jasnya dan menodongkannya ke arah Himura-sensei.


Sementara Himura-sensei menanggapinya dengan santai. Ia bahkan masih sempat menyalakan rokok di bibirnya. “Pertama kalinya.”


“Tidak ada yang menyadari kalau aku menembakmu di sini,” ujar Moroboshi lagi.


“Benar. Aku juga tidak punya waktu untuk melawan balik karena kau sangat dekat denganku.”


“Kau takut?”


“Ya.”



Alice dan yang lain juga tiba di area lembah Tenma. Tapi mereka masih harus berjalan menyusuri setapak agar tiba di tempat Himura-sensei bertemu Moroboshi.


Satu per satu cerita soal Himura-sensei berseliweran di kepala Alice. Cerita soal keinginan Himura-sensei untuk melakukan pembunuhan membuat Alice makin sesak. Belum lagi ketakutan dan kekhawatiran lainnya yang dirasakan Alice. Hingga akhirnya pada mimpi yang juga dialami Alice. Ia melihat Himura-sensei berdiri di sisi jurang dalam. Dan Alice hanya bisa berteriak tanpa melakukan apapun saat melihat sahabatnya ini akhirnya terjun ke dalam jurang.



Moroboshi melemparkan senpi-nya pada Himura-sensei. “Giliranmu! Pernahkan kau menodongkan senpi pada seseorang?” yang dijawab Himura-sensei dengan gelengan. Moroboshi mengeluarkan senpi lain dari balik jasnya. “Karena sangat dekat, kau bisa membunuhku dengan satu tembakan saja. Aku akan memberikanmu kesempatan lain untuk membunuhku. Tembak aku!” tentang Moroboshi. Tapi melihat Himura-sensei tak bereaksi, ia memberikan pilihan lain, “Atau kau ingin aku melompat dari sini?” Moroboshi yang berada di sisi dekat bendungan mundur ke belakang.


“Tunggu!”


“Jangan bilang begitu! Aku tidak mau melihatmu pura-pura jadi orang baik dan menghentikanku dari mati. Yang ingin kulihat adalah karakter aslimu. Kau ingin membunuhku kan? Cepat, bebaskan monster dalam dirimu. Hari ini kau luar biasa. Tarik pelatuknya dan pergilah ke sisiku,” goda Moroboshi lagi.


Himura-sensei goyah. Sisi monster dalam dirinya menggeliat pelan. Mimpi-mimpi buruk yang selama ini selalu muncul dalam tidurnya. Keinginan terdalam dalam dirinya untuk menyarangkan pisau ke tubuh seseorang. Dan lebih banyak lagi pikiran liar lainnya.



“Kejahatan ini tidak sempurna!”


Alice dan yang lain belum sempat sampai di tempat yang dituju saat mereka dikejutkan dengan dua kali suara tembakan. Kekhawatiran menjalar cepat dalam hati Alice. Ia pun langsung bergegas berlari.


Sementara itu, Tokie-san juga merasakan hal yang sama. Gelas yang dipegangnya tiba-tiba meluncur jatuh dan pecah. Perasaannya kacau.



Alice dan yang lain sampai di tebing yang dituju. Tapi tidak ada siapapun di sana. Mereka hanya menemukan batang rokok menyala yang nyaris habis. Alice mengenalinya sebagai milik Himura-sensei. Ia yakin, tadi Himura-sensei memang benar ada di tempat itu.


“Himura dan Moroboshi yang harusnya ada di sini, ternyata tidak ada.”


Alice berteriak di sisi tebing. Ia tidak tahu harus bicara atau melakukan apapun lagu. Yang bisa dilakukannya hanya berteriak memanggil nama Himura. Alice jatuh terduduk di bibir tebing, kehilangan seorang sahabat.



Alice pulang ke kediaman Tokie-san. Kekhawatiran wanita tua itu dijawab Alice dengan gelengan kepala, membuatnya tak lagi bisa menahan air mata yang menganak sungai. Himura-sensei tidak ditemukan lagi.


Teman terbaikku menghilang. Aku tidak menulis buku berdasarkan fakta. Itulah kenapa aku tidak akan mengatakan pada siapapun tentang insiden yang sudah diselesaikan oleh Himura. Aku bisa menciptakan dunia seperti apapun yang kuingingkan. Aku bisa menulis cerita abadi. Tapi, kita hidup di dunia nyata, bukan dunia fantasi. Kita harus menerima semua hal, bahkan yang terburuk sekaipun. Selanjutnya, aku tetap menulis. Aku tetap menulis kisah abadi.



Kehidupan berjalan normal kembali. Kasus baru kembali muncul. Det.Hisashi, Sakashita dan si ahli forensik Yasoda-san bertugas seperti biasa. Tapi ada yang hilang dari biasanya. Tidak ada Himura-sensei yang biasanya mereka ajak bicara.


Akemi kembali belajar di kelasnya, di kampus. Kehidupan kampus berjalan normal. Kuliah terus dilakukan. Yang berbeda, tidak ada lagi dosen dengan rambut acak-acakan di kelas mereka, Himura-sensei.



Seperti biasa, Alice tetap setia berkunjung ke kediaman Tokie-san. Saat itu gelas yang dibawa Tokie-san meluncur jatuh, tapi Alice sigap menangkapnya.


Seseorang baru saja datang dan membuka pintu. Seseorang yang mereka kenal. Bahkan si kucing pun tahu, ia menyambut orang yang baru saja datang itu.


THE END


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Halooo ... ah, akhirnya sampai di episode terakhir ya. Endingnya? Silahkan disimpulkan sendiri. Apakah sama dengan ending dari cerita Sherlock Holmes-prof.Moriarty, atau berbeda sama sekali.


Oh ya, sebenarnya ada satu part lagi dari serial ini yang ditayangkan di sebuah stasiun TV (bukan stasiun tv asal serial ini tayang). Semacam versi SP atau alternatif ending. Kisahnya tentang masa kuliah Himura-sensei dan Alice. Sayangnya, meski udah nunggu cukup lama, ternyata nggak ada yang buat sub-nya, hiks. Jadi, mohon maaf sekali, karena Na nggak akan buat ending alternatif ini. Maaf ya. Dimaafkan kan? Eeeeeh nggak? Aduh, bentar, ngumpet dulu dari ... timpukan sendal, kekekekeke ^_^


Sambil nyelesaikan sinopsis bagian terakhir dari Kaito Yamaneko juga, Na juga sudah mempersiapkan sinopsis baru. Ehm ... tapi kali ini Na mau rehat dulu dari sinopsis per-detektifan. Jadi ...


Na mau ucapkan terimakasih banyak untuk teman-teman dan reader semua yang setia dan sabarrrr banget menunggu postingan Na, yang mood nulisnya nggak bisa ditebak. Sampai jumpa di sinopsis lainnya ya ^_^ jangan bosan mampir ke blog ini.

Bening Pertiwi 15.08.00
Read more ...

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 10 part 1. Alice berhasil diselamatkan dari sekapan Moroboshi dan rekan-rekannya. Tapi ini semua belum selesai. Moroboshi kembali menghilang. Dan sebuah ancaman muncul bersama beberapa lembar foto.


Ancaman itu menyebutkan jika target selanjutnya adalah wanita yang paling dekat dengan Himura-sensei. Siapa dia? Dan bagaimana Himura-sensei bersama Alice bisa menyelamatkan wanita ini?



Naluri membawanya Himura-sensei mengejar sekelebat orang yang berjalan menjauh darinya, Moroboshi Sanae. Bayangan itu tersenyum mengejek ke arah Himura-sensei.


Sayangnya, Himura-sensei tak berhasil menemukan wanita itu. Hanya jejak kosong yang ditinggalkannya. Tapi kali ini Himura-sensei yakin benar, kalau Moroboshi Sanae benar-benar serius dengan ancamannya.



Setelah membaca pesan yang ditinggalkan Moroboshi, Alice menghubungi det.Hisashi. Tanpa banyak bertanya pun, det.Hisashi langsung mengiyakan permintaan Alice ini, melindungi para wanita.


“Moroboshi memberikan surat ancaman soal target berikutnya. Pergilah dan lindungi Kijima Akemi serta Shinomiya Tokie secepat mungkin!” perintah det.Hisashi pada det.Ono dan Sakashita.


Tapi saat mereka berbalaik, det.Hisashi menghentikan det.Ono dan memintanya tetap berada di markas.


“Menurut Alice, mungkin juga kau target berikutnya.”



Akemi berjalan pulang bersama kedua temannya. Mereka masih asyik membicarakan kelas sore yang lagi-lagi dibatalkan oleh Himura-sensei. Mereka heran sendiri karena belakangan Himura-sensei sering sekali membatalkan kelasnya.


Tiba-tiba sekelompok pria dan wanita berjas mengelilingi mereka. Disusul kemunculan Sakashita yang mengatakan kalau mereka perlu membawa Akemi ke markas kepolisian. Akemi tidak bertanya lebih banyak dan mengiyakan saja permintaan Sakashita. Ia berjalan dengan pengawalan ketat para polisi itu.


“Apa yang terjadi?” salah satu teman Akemi heran.


“Entah. Tapi aku tidak mau punya pacar seorang detektif,” komentar yang lain kemudian.


Selain Akemi, det.Hisashi juga sudah menjemput Tokie-san. Tapi Tokie-san terus saja ribut dan bertanya soal apa yang terjadi, membuat det.Hisashi cukup kesal.



Dan sekarang, tiga wanita yang disebutkan dalam surat ancaman dari Moroboshi sudah berkumpul, Akemi, Tokie-san dan det.Ono. Tokie-san dan Akemi dibuat terkejut dengan foto-foto ancaman dari Moroboshi itu.


“Moroboshi ingin mengendalikanku,” ujar Himura-sensei.


“Dia bilang padaku ingin melihat karakter asli dari Himura,” sambung Alice.


“Det.Hisashi, tidakkah kau pikir ancaman ini Cuma ancaman belaka? Moroboshi mungkin Cuma ingin main-main dengan Himura-sensei?” ujar det.Ono. “Dan lagi, aku bukan wanita terdekat Himura Hideo. Dan tidak ada alasan aku menjadi targetnya.”


“Aku meminta agar dijadikan asisten Himura-sensei, tapi ditolak,” cerita Akemi pula. “Jadi aku bukan wanita terdekat Himura-sensei.”


“Kalau begitu, itu aku,” Tokie-san justru senyum-senyum sendiri. “Karena aku tinggal satu atap dengannya.”


“Tokie-san, kau harusnya tidak senang!” komentar Alice.


Meski begitu, det.Hisashi tetap berkeras kalau mereka bertiga lebih aman berkumpul di sana. Saat det.Ono memberikan saran kalau dia saja yang jadi umpan, det.Hisashi menolak mentah-mentah ide itu.



Saat itu salah seorang polisi dari biro keamanan publik datang dan marah-marah. Ia tampak tidak suka karena det.Hisashi bertindak tanpa memberikan laporan pada mereka.


“Prioritasku lebih dulu mengamankan ketiga wanita ini,” ujar det.Hisasahi menjelaskan.


Tapi polisi itu tetap tidak suka. Ia lalu meminta Alice untuk sekali lagi mengatakan semua yang ia tahu soal Moroboshi. Meski agak kesal, Alice pun menurut saja. Karena bagi Alice, dia sudah mengatakan semua yang ia tahu pada polisi.


Tidak ada yang tahu saat itu kalau Himura-sensei diam-diam keluar dari ruangan.



Himura-sensei masih memikirkan siapa yang sebenarnya dimaksud oleh Moroboshi sebagai ‘wanita terdekatnya’. Ia ingat saat pertama bertemu di penjara, Moroboshi pernah bilang kalau ia akan selalu dekat dengan Himura-sensei. Lalu ada Tokie-san, pemilik dan pengurus apartemen tempat Himura-sensei tinggal selama ini.


“Maaf sudah melibatkanmu dalam bahaya.”



Dan ingatan Himura-sensei berpetualang pada saat pembicaraannya dengan Alice.


“Asisten detektif hebat tidak terelakkan selalu dalam bahaya,” ujar Alice.


“Kalau saat itu terjadi apa-apa padamu, aku tidak tahu seperti apa aku.”


Alice teringat dengan ucapan Moroboshi yang mengatakan kalau Moroboshi ingin membebaskan monster dalam diri Himura-sensei dengan cara membunuhnya. Tapi Alice berusaha jauh-jauh menghapus ingatan itu, “Dr.Watson tidak mati dengan mudah. Selain itu, saat aku tersudut, Holmes selalu menolongku. Benar kan?” Alice menganalogikan dirinya seperti karakter Dr.Watson dan serial Sherlock Holmes.


“Mereka punya hubungan apa? Bukan Cuma detektif dan asistennya kan,” tanya Himura-sensei.


“Tentu saja tidak. Mereka saling mempertaruhkan hidup satu sama lain. Lebih dari sahabat. Apa namanya ... “


“Bagaimana dengan hubungan kita?” tanya Himura-sensei. (ya ampun, ini kalau cowok sama cewek mah biasa. Tapi karena mereka cowok, jadi geli aja kkkk). “Detektif dan asisten?”


“Itu ... tentu saja bukan. Menurutmu?” Alice ragu.


“Seseorang yang kukenal,” jawab Himura-sensei asal.


“Kau menyakiti perasaanku. Tidak ada kalimat lain? Sahabat dari universitas atau semacam itu,” saran Alice.


“Kau juga. Bisakah kau katakan sesuatu dengan cara seorang penulis?” tantang Himura-sensei.


Alice sok berpikir, “Rekan seperjalanan dalam satu perahu. Kau selali naik perahu dengan jiwa kuat. Tapi kadang aku selalu khawatir kalau kau akan bersikap menghancurkan kapal dengan kapak. Itulah kenapa aku naik perahu bersamamu dan selalu mengawasimu.”


“Aku janji padamu. Aku tidak akan membahayakanmu!” tegas Himura-sensei.



Alice sudah selesai bicara dengan polisi dari biro keamanan publik. Dan dia baru sadar kalau Himura-sensei sudah tidak ada di ruangan itu. Alice berpikir mungkin saja Himura-sensei pergi ke area merokok.


Alice juga ingat pembicaraannya dengan Himura-sensei beberapa waktu yang lalu,


“Kalau kau dan aku seperti Holmes dan Watson, Moroboshi pasti prof.Moriarty. Dia adalah musuh terbesar Holmes yang sama cerdasnya dengan dia. Figurnya seperti tulang. Aku takut padanya,” cerita Alice. “Moriarty tidak melakukan kejahatan langsung, tapi dia membuat anak buahnya yang melakukannya. Sama seperti Moroboshi.”


“Aku mengerti.”


“Holmos dan Moriarty seperti dua sisi koin. Mereka saling melengkapi. Mereka bertarung satu lawan satu. Judul novelnya ‘The Final Problem’. Aku ingat dialognya. Holmes bicara pada Moriarty, "When I say that if I were assured of the former eventuality I would, in the interests of the public, cheerfully accept the latter".”


“Apa yang terjadi di akhir novel itu?”


“Mereka berdua jatuh ke dalam jurang,” cerita Alice.


“Holmes mati tanpa mengatakan apapun pada Watson?”


“Dia meninggalkan catatan. Katanya ‘untuk teman terbaikku’. Kalimat picisan untuk seorang detektif.


“Kalau begitu, apa aku perlu menulis seperti itu juga?” tantang Himura-sensei.


“Ini ide buruk!” protes Alice.



Himura-sensei pulang ke tempat tinggalnya. Setelah pintu dibuka, ia disambut si kucing manis yang selalu menemaninya di sana. Dan seseorang juga telah menunggu di sana.


“Wanita terdekat Himura Hideo, seperti kuperkirakan itu kau,” komentar Himura-sensei.


Wanita itu, Moroboshi tersenyum, “Kau harusnya tahu sejak pertama kali kita bertemu. Kita sangat mirip, atau ... sama?”


“Apa yang kau inginkan?”


“Aku bisa merasakan ... “ Moroboshi mengendus aroma tubuh Himura-sensei. “Keinginan untuk membunuhku.” Ia kemudian berbalik. “Aku bisa mengontrol orang dengan mudah. Aku bersenang-senang dengan hal itu sejak kecil. Jadi, aku tidak perlu boneka untuk dimainkan. Karena aku bisa bermain dengan orang-orang di sekitarku seperti boneka. Mereka melakukan apapun yang kusuruh. Mereka bahkan melakukan kejahatan untukkku. Saat aku lelah mengoleksi boneka hidup, aku bertemu denganmu. Aku tertarik bermain dengan Himura-Hideo. Aku ingin mengontrolmu.


“Kau ingin aku melakukan apa?”


“Kau berpikir kalau kau ingin membunuh seseorang. Aku akan memenuhi keinginan itu. Targetnya adalah ... aku. Aku menyusun jebakan lain untuk membuatmu lebih serius. Sesuatu akan terjadi di markas kepolisian perfektur Kyoto. “



Alice masih mencari Himura-sensei. Ia bahkan mencari hingga ruangan khusus merokok. Tapi Himura-sensei tetap tidak ada. Pun meski Alice mencoba menghubungi ponsel Himura-sensei, tidak tersambung. Sekilas, Alice melihat seorang petugas kebersihan lewat. Ada tato yang tampak sedikit di tangannya. Alice kemudian mengenalinya sebagai tato Shangri-La Crussade, dan pria ini adalah Onizuka, anak buah Moroboshi.


Tapi belum sempat Alice mengejar Onizuka, sebuah bom kecil meledak tidak jauh dari tempatnya. Untung saja Alice sempat menghindar dan hanya ada banyak serpihan serta asap di sekitarnya. Kantor polisi heboh karena bom ini.



“Boom!” goda Moroboshi, membuat Himura-sensei lebih waspada. “Aku ingin melihat mata itu. Duduklah! Kita mulai permainannya,” pinta Moroboshi lagi.


Di atas meja sudah ada tiga buah gelas wine dengan kaki berwarna berbeda. Moroboshi pun memeluk satu botol wine yang memang sudah dipersiapkan. Ia meminta Himura-sensei menuangkan wine itu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama.


“Apa kita menunggu satu tamu lain ... atau tidak,” Himura-sensei menuang wine ke dalam ketiga gelas tadi.


Moroboshi kemudian memamerkan sebuah kapsul kecil transparan dengan serbuk putih di dalamnya. Ia mengatakan kalau itu adalah “Goddess of magic”, ekstrak tanaman beracun yang berhubungan dengan Hecate, Aconitum. “Dosisnya cukup untuk membunuh satu orang. Aku akan menuangkannya ke dalam salah satu gelas. Kau hanya perlu memilih salah satu tanpa melihatnya. Sebuah permainan sederhana.”


“Bagaimana kau buktikan kalau itu racun asli?” tantang Himura-sensei.


Moroboshi tersenyum, “Kau pikir aku pakai tipuan murahan? Kalau perlu aku bisa memberikan racun ini juga pada kucingmu.”


“Jangan!” sambar Himura-sensei cepat. Rupanya ia benar-benar sayang pada si kucing.


“Kau tampak tertarik. Kau sangat tertarik untuk bisa membunuhku dengan wine beracun. Kau bisa memenuhi mimpimu untuk membunuh seseorang. Monster yang bernama ‘keingingan membunuh’ yang terkunci dalam dirimu akhirnya bebas.” Moroboshi bangkit. Ia melepas dasi milik Himura-sensei dan menutupkannya ke mata Himura-sensei. Setelahnya Morobishi menuangkan racun yang dibawanya pada salah satu gelas, baru membuka kembali penutup mata Himura-sensei.



“Bagaimana perasaanmu? Kau terlalu tertarik untuk tetap tenang kan?” goda Moroboshi di depan Himura-sensei. “Pilihlah salah satu!”


“Kau tampak sangat bahagia.”


“Aku juga sangat tertarik, sama sepertimu. Mungkin aku terbunuh olehmu atau mungkin aku bisa membunuhmu?”


“Kalau begitu, kita Cuma butuh dua gelas. Kenapa kau bawa tiga?” Himura-sensei mengulur waktu.


“Kau punya dua kesempatan memilih gelas. Misalnya kau pilih gelas merah, dan aku punya pilihan biru atau hijau. Aku akan memilih gelas tanpa racun dan minum di depanmu. Dengan seperti itu, aku akan buktikan kalau ada gelas tanpa racun. Dan salah satu dari sisanya pasti beracun. Kau bisa pilih sekali lagi,” Moroboshi menjelaskan panjang lebar.


Seperti biasa, Himura-sensei mengelus degunya dengan tangan, “Peraturan yang menarik.”


“Menyedihan membiarkan kesempatan membunuhku adalah keberuntungan. Semua permainan punya ciri khasnya. Pikir dengan serius, kau bisa membunuhku. Pikir dan pikirkan ... “



“Melihatmu berpikir serius seperti ini, sangat menarik. Aku akan berikan kau waktu!” Moroboshi lalu berdiri dan membelakangi Himura-sensei. Ia menyenandungkan beberapa nyanyian untuk mengulur waktu bagi Himura-sensei. Puas bersenandung, Moroboshi pun berbalik. Ia melihat Himura-sensei masih serius berpikir, “Apa sudah kau putuskan?”


“Aku pilih gelas merah,” ujar Himura-sensei kemudian.


“Kenapa?”


“Hanya mengikuti intuisiku.”


Morobishi tersenyum, “Aku tahu gelas mana yang tidak ada racunnya.” Ia pun mengambil gelas biru dan minum dari situ. “Sekarang tinggal merah yang tadi kau pilih, atau biru. Salah satunya mengandung racun. Dan aku tahu mana yang beracun. Kau tetap memilih gelas merah atau pindah ke gelas biru. Mana yang kau suka? Kau membunuhku atau kau terbunuh olehku?”



“Merah atau biru ... “ Moroboshi masih terus menggoda Himura-sensei.


Himura-sensei akhirnya mengambil keputusan, “Aku ingin melihatmu mati. Aku ganti gelas biru.”


Moroboshi tersenyum. Ia akhirnya mengambil gelas merah, lalu gelas biru diambil Himura-sensei. Mereka pun melakukan toast sebelum akhirnya menandaskan wine dalam gelas masing-masing.


“Berapa lama sampai racunnya bereaksi?” tanya Himura-sensei.


“Tidak lama,” ujar Moroboshi.


“Kau sangat tenang.”


Pandangan Moroboshi mulai berkunang-kunang. Ia sadar, kalau dirinya sudah meminum wine beracun. Himura-sensei berdiri dan menghubungi det.Hisashi dengan ponselnya. Sementara itu, Moroboshi mencoba menggapi Himura-sensei sebelum akhirnya ambruk di pelukan Himura-sensei.


“Tolong panggil ambulan juga,” ujar Himura-sensei. Tangannya tiba-tiba melemas dan ponsel itu pun jatuh di lantai. Himura-sensei bersama Moroboshi ambruk di lantai. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran penuh, Himura-sensei sempat berbisik di telinga Moroboshi. Ia pun sempat mengelus kepala si kucing, sebelum kucing itu beranjak pergi.



Det.Hisashi mengatakan kalau Himura-sensei dan Morobishi ada di kediamana Tokie-san. Ia menjelaskan situasinya sepertinya tidak terlalu baik, karena Himura-sensei meminta untuk dipanggilkan ambulan juga. Det.Ono dan yang lain bergegas untuk pergi. Alice pun ikut. Tapi ia meminta Tokie-san dan Akemi untuk menunggu saja di markas.


Polisi yang sejak tadi menunggu mereka, dari biro keamanan publik pun ikut bergabung. “Kami akan membawa Moroboshi. Kami tidak akan membiarkan dia lolos lagi!”


Tapi det.Hisashi memikirkan sesuatu. Ia merasa ada yang tidak beres. Det.Hisashi kemudian keluar ruangan, tidak lewat pintu seperti yang lain, tapi ia lewat pintu lain. Det.Hisashi merencanakan sesuatu.



Himura-sensei dibawa dengan ambulan. Bersamanya ada juga Alice dan det.Ono. Tampak Alice sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya ini.


“Apa apa Himura? Bangun dan katakan semuanya! Kenapa kau pergi sendirian untuk bertemu dengannya? Hei!” Alice kemudian menyadari ada gerakan. “Himura! Kau bangun?!” ekspresi histerisnya berubah menjadi kelegaan.


“Kau berisik sekali,” keluh Himura-sensei.


“Bodoh! Kau membuatku khawatir!”


“Biro keamanan publik membawa Moroboshi. Dia dibawa ke rumah sakit lain dengan keamanan ekstra,” det.Ono memberitahu.


“Himura, ini selesai,” ujar Alice lagi.


Himura-sensei baru sadar kalau tidak ada det.Hisashi bersama mereka. Det.Ono mengatakan kalau det.Hisashi tiba-tiba saja menghilang, tidak bersama mereka. Dan Himura-sensei pun teringat ucapan polisi yang pernah dicurangi oleh Moroboshi, ada pengkhianat di kepolisian.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di bagian terakhir dari SINOPSIS Himura and Arisugawa nanti ya ^_^


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Hehehehe. Maaf ya, postingan satu ini agak terlambat dari jadwal biasanya. Penasaran dengan bagian terakhirnya? Hmmm ... OK OK, sampai jumpa di bagian terakhir sinopsis satu ini ya.

Bening Pertiwi 15.07.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 09 part 2. Lima tembakan diarahkan ke tubuh Yamane oleh Katsumura. Tapi empat di antaranya tertahan rompi anti peluru. Salah satunya mengenai pinggang Yamane. Atas bantuan Sakura, Yamane pun berhasil keluar dari kediaman Yuuki Tenme dan bertahan.


File tentang latar belakang kehidupan Yamane dikirim oleh Katsumura ke apartemen Sakura. Perlahan, Sakura mulai mengenal siapa sebenarnya Yamaneko. Apakah ini juga akan mengubah pandangan Sakura terhadap Yamaneko?



Katsumura kembali datang ke stray cat-bar. Disambut kepanikan Mao, tapi Katsumura justru bersikap dingin pada mereka.


“Kupikir sebaiknya aku bicara secara langsung. Yamaneko-san sebentar lagi akan mati. Aku menembaknya. Ah, Mao-chan. Aku juga ingin kau mendengar ini.”


“Kau bohong, 'kan? Menembak Yamaneko. Kau bohong, 'kan?” Mao histeris. “Berhenti bercanda! Katakan bahwa itu bohong!” desak Mao lagi.


Tapi dengan kasar Katsumura justru menghempaskan Mao hingga Mao terjatuh di dekat kursi. Rikako-san yang hendak menolong pun dihadiahi todongan senpi. “Tolong jangan bergerak. Maaf, Mao-chan. Aku ingin kau tenang dan dengarkan aku. Bisa buatkan aku minuman? Apa ya... Wiski kesukaan Yamaneko-san tidak buruk. “ Katsumura lalu duduk di kursi tinggi depan bar. Melihat gelagat mencurigakan Rikako-san yang seolah akan mengambil sesuatu, Katsumura pun mengingatkannya. “Sebaiknya jangan lakukan apa pun. Jariku cukup cepat. Setidaknya duduklah di sofa, itu menggangguku.” Dan cerita itu pun mengalir dari bibir Katsumura, “Hanya karena kau tahu aku membunuh, tak berarti kepribadianku berubah. Bagiku, membunuh adalah rutinitas harian. Seperti memakai sepatu.”



Katsumura lalu menjelaskan semuanya. Kalau yang memintanya melakukan ini semua adalah Yuuki Tenmei. Dan ia pun punya nama alias, Chameleon.


“Kau mengkhianati kami!” tuduh Mao.


“Menilai yang terjadi, memang ya. Tapi, hari-hari yang kulalui bersama kalian, bagiku semuanya nyata. Setiap hari sangat menyenangkan, menegangkan, dan sedikit menakutkan. Masa yang sungguh menyenangkan dengan banyak sekali tawa.”


“Jika seperti itu, lalu kenapa?” kali ini Rikako-san yang bicara.


Katsumura tersenyum, “Karena ini pekerjaanku.”


Saat ditanya alasan kenapa ia tidak langsung melakukan tugasnya sejak awal, Katsumura mengatakan kalau ia diminta mengawasi sampai ada perintah langsung. Sewajarnya, Katsumura melakukan pengawasan dari jauh, tapi ia memilih bergabung dan berinteraksi dengan tim Yamaneko.


“Ada dua alasan. Satu adalah kepribadianku. Bagaimana mengungkapkannya... Misalnya kau memiliki bunga yang kau besarkan dengan sangat hati-hati. Kau menyiramnya setiap hari, bicara padanya setiap hari, kau menyayanginya seperti anak kecil. Saat bunga itu mekar sempurna, kau menghancurkannya. Bagiku, itu adalah kebahagiaan. Dengan cara yang sama, menjadi teman dari targetku adalah kesenangan sekaligus penderitaan. Selagi melakukan ini, aku mulai berpikir untuk tak menyakitinya, tak ingin membunuhnya dan aku mulai menaruh empati. Dan saat tiba pada klimaksnya, aku membunuhnya. Rasanya sangat luar biasa hingga menjadi candu. Bukankah itu aneh?” (serius deh, pemikiran Katsumura ini ngeri banget sih)


“Alasan satunya?”


“Karena targetku adalah Yamaneko. Dia orang spesial untukku. Dia sudah melupakannya tapi, dulu sekali, dia dan aku pernah berada di tempat yang sama.”


“Tempat yang sama?” Rikako-san heran.


“Barak pelatihan mata-mata,” ujar Katsumura.


Dan bayangan masa kecil Yamane pun diputar kembali. Saat itu, Yamane kecil yang gagal berlatih menembak dibantu oleh anak laki-laki lainnya. Lalu anak laki-laki ini juga yang memeringatkan Yamane kalau mereka yang diambil kemungkinan dibunuh. Dia adalah Katsumura kecil.


“Saat itu, aku disingkirkan dan Yamaneko bertahan. Jadi aku sedikit iri. Sepertinya aku memang memiliki sebuah kebencian. Tapi aku juga terlibat karena lulus tes bakat. Jika soal pistol dan bela diri, aku yang terbaik,” lanjut Katsumura.


“Kau menjual keahlian itu dan menjadi pembunuh?” Rikako-san menyimpulkan.


“Yah, memang begitu. Aku sangat gugup saat bertemu Yamaneko-san untuk kali pertama. Aku khawatir apa dia tahu soal identitas asliku. Tapi dia tak menyadari apa pun. Kau dan Hosoda-san juga dengan cepat menerimaku. Aku sangat senang. Yah, meski akhirnya aku menyakiti Hosoda-san.” Cerita ini akhirnya keluar dari mulut Katsumura juga. “Pembunuh Hosoda-san... Itu aku. Saat itu sekitar tiga hari setelah Yamaneko-san pura-pura membunuhnya. Aku memanggilnya ke dermaga itu dengan umpan bahwa aku akan memberitahukan padanya soal Yuuki Tenmei. Kukatakan pakaian yang dia pakai tiga hari sebelumnya adalah petunjuknya, dan dia datang memakai pakaian itu tanpa curiga sedikit pun. Petunjuk terbodoh yang pernah ada, 'kan? Tapi, meski dia menelannya mentah-mentah, dia sungguh orang baik.” Dan empat peluru pun bersarang di tubuh Hosoda-san.


Belum cukup menghabisi Hosoda-san, target Katsumura berikutnya adalah Cecilia. Sayangnya Katsumura kurang ahli dengan senapan, dibanding senpi jarak pendek. Saat itu Kadomatsu Tatsuro menyadarinya dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Alhasil, Kadomatsu-lah yang kemudian meninggal.


“Hasil yang cukup bagus. Yamaneko-san sangat marah saat itu. Bagiku bisa membuat Yamaneko-san seperti itu, itu membangkitkan semangatku.”



“Aku juga sangat berterima kasih pada kalian berdua. Kalian bahkan mengadakan pesta ulang tahun untukku.”


Tapi ucapan Katsumura makin membuat emosi Rikako-san. Kemarahan di wajah Mao pun perlahan berubah menjadi tangis yang menganak sungai di kedua pipinya. Pesta dan juga kebersamaan yang mereka rayakan saat ulang tahun Katsumura ternyata Cuma omong kosong saja.


“Apa itu juga membuatmu senang saat kau membunuh orang? Aku ragu apa Yamaneko sungguh tak menyadari bahwa kau adalah Chameleon,” sindir Rikako-san.


Senyum separuh kembali terbit di wajah Katsumura, “Jika menyadarinya, dia akan mengurusku lebih awal, 'kan? Karena aku datang untuk membunuhnya. Meski tahu soal itu dan masih mengundangmu kemari...”


“Bukankah karena dia ingin percaya padamu?” Mao pun ikut bicara. “Kau datang untuk membunuhnya tapi bersama dengan kami di sini mungkin bisa mengubah hatimu. Bukankah itu yang ingin dia percayai?”


“Jika benar, maka tak berjalan seperti yang dia rencanakan.”


“Benarkah? Sungguh tak ada yang berubah? Bertemu Yamaneko dan bertemu kami, tidak ada yang berubah?” Mao masih berusaha mencari celah untuk melunakkan Katsumura. “Lalu kenapa saat itu kau menangis? Kenapa kau menangis dengan tatapan bahagia? Bertemu denganmu mengubah diriku. Aku berpikir persahabatan hanya ada di manga atau anime. Tapi aku bertemu orang-orang yang bisa membuatku berpikir persahabatan itu ada dan bahagia memanggil mereka teman. Katsumura-san, bukankah kau juga menganggap kami sebagai temanmu?”



Tapi usaha Mao sama sekali tak membuat Katsumura berubah pikiran, “Maaf, Mao-chan. Aku tak seperti yang kau pikirkan. Baiklah, kurasa sekarang waktunya mengucapkan salam perpisahan.”


Katsumura lalu menyeret Mao dan Rikako-san ke kamar atas lalu mengikatnya. Tidak lupa ia juga menumpahkan minyak di sekitar mereka.


“Katsumura. Apa esensi dirimu?” tanya Rikako-san.


“Apa, ya? Kurasa membunuh. Selamat tinggal.” Katsumura menyalakan pemantik api dan beranjak pergi meninggalkan Rikako-san dan Mao di kamar itu, mulai dikelilingi api.



Sakura menemukan Yamane terseok-seok berusaha berjalan di depan apartemennya, nyaris ambruk.


“Apa yang kau lakukan? Jika bergerak dengan kondisimu sekarang—“ Sakura berusaha menahan Yamane.


“Aku harus cepat. Atau mereka...” ucapan Yamane terputus dan tubuhnya pun kembali ambruk di pelukan Sakura.



Kobaran api makin lama makin besar. Mao dan Rikako terjebak di dalamnya.


“Kenapa dia melakukan ini?” Mao sudah nyaris menangis.


“Tenang saja. Aku pasti akan menyelamatkanmu.”


Mereka berdua saling membantu melepas ikatan masing-masing. Tapi, tahu situasi makin sulit diperkirakan, Rikako-san meminta Mao untuk melepas ikatannya dulu dan pergi saja. Tapi Mao jelas menolak ide ini.


“Mao, tolong dengarkan aku! Kita akan bertahan. Tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Aku bersamamu. Biar kulihat wajahmu. Sejak kau bergabung bersama kami, kau menjadi esensi diriku. Mao, maaf ya.” Rikako-san lalu memeluk Mao seperti memeluk putrinya sendiri.



Sakura berhasil memaksa Yamane kembali ke apartemennya. Ia pun menghubungi seseorang. Tapi wajah kecewa ditunjukkannya di depan Yamane, “Bar dan seluruh bangunan terbakar habis. Apa itu ulah Katsumura-senpai? Aku tak percaya senpai melakukannya. Aku mengenalnya sejak kuliah. Kenapa?”


Masalahnya, Yamane pun tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Sakura itu.



Pagi berikutnya,


Sakura tertidur di kursi, tidak jauh dari ranjangnya. Tapi saat membuka mata, Sakura dibuat kaget karena Yamane sudah tidak ada di sana. Ranjangnya pun sudah rapi dan bersih kembali.


Lalu, di atas meja ada mi yang telah diseduh. Di bawahnya ada pesan yang ditinggalkan Yamane untuk Sakura.



Katsumura asyik menikmati ramen di kamar hotelnya. Ia pun membuka laptop dan mencari berita.


Selanjutnya berita. Tadi malam terjadi kebakaran di sebuah bar di Wilayah Kitaura, Tokyo. Dari bangunan yang terbakar habis ditemukan jasad Houshou Rikako-san dan Takasugi Mao-san. Polisi dan petugas pemadam kebakaran sedang menyelidiki penyebab kebakaran.


Katsumura tersenyum mengetahui soal berita itu. Ia sudah merencanakan semuanya. Dan kini, ia siap untuk misi selanjutnya. (uaaaaaa jadi Rikako sama Mao nggak selamat nih?)



Kemana Yamane? Ia nongkrong di atap sebuah gedung sambil menikmati ramen panas di tangannya. Selesai makan, Yamane pun berdiri menatap langit dan hamparan hutan beton di depannya.


Yamane mulai bernyanyi. Mari menuju langit, Dan berjalan. Sehingga air mata, Tidak menetes. Aku ingat Hari musim semi itu. Malam kesunyian!



Katsumura melenggang santai dari kamarnya. Ia mengeluarkan anak kunci dan melapor para petugas resepsionis untuk check out. Sampai seseorang menghentikannya, dengan menodongkan senpi ke arah perut Katsumura. Dia Cecilia Wang.


“Jadi kau Chameleon!”


Katsumura berbalik melihat orang yang dikenalnya ini, lalu tersenyum. (ya ampun, gimana Na nggak meleleh kalau dikasih penjahat yang super cute dg senyum kucing gini #butuhOksigen)



Malam itu Sekimoto berada di selnya, sampai seorang polisi membukakan pintu dan menyuruhnya keluar. Sekimoto kemudian sadar kalau polisi ini adalah Yamane yang menyamar. Keduanya berjalan dengan santai di lorong sampai seorang polisi memergoki keduanya. Mereka masih sempat memberikan hormat sebelum memaksa polisi betulan tadi mengejar mereka.


Keduanya berhasil sembunyi di sebuah ruangan. Jadi tadi Yamane membuat si polisi pingsan lalu mengambil seragamnya untuk menyusup masuk. Kini ia sudah memakai pakaiannya kembali. Yamane mengeluarkan topeng kucingnya sendiri dan menyerahkan satunya pada Sekimoto.


“Kenapa punyaku berbeda warna?!” protes Sekimoto.


Tapi Yamane tidak peduli dan buru-buru mengajak Sekimoto segera pergi.



Lobby gedung kepolisian heboh. Banyak pria-pria berjas hitam yang memakai topeng Yamaneko dari kertas. Suara berisik mereka membuat det.Inui kesal luar biasa.


“Kami dengar mereka sedang syuting film hari ini!”


Tapi orang-orang ini justru menghalangi det.Inui yang sedianya akan mengejar Yamaneko. Baru setelah dilihat lebih dekat, det.Inui mengenali pria-pria ini sebagai anggota geng Kyobukai. Mereka bertingkah seperti ini untuk membantu Yamane, karena Yamane pernah menolong bos mereka. Suasana makin kacau saat pemantik api milik Yamane pun mengeluarkan suara nyanyiannya yang sumbang ke seluruh gedung.



Yamane dan Sekimoto sampai di atap gedung. Sekimoto ragu untuk melompat. Beberapa kali ia maju mundur. Tidak sabar, Yamane akhirnya mendorong Sekimoto yang kemudian terjatuh tepat di atas mobil dengan kasur sebagai pelembutnya.


“Jangan bergerak!” suara Sakura menghentikan Yamane yang akan melompat. “Jadi teringat dulu. Kali ini aku takkan ragu. Aku akan menangkapmu.”


Yamane berbalik, tanpa menutup wajahnya dengan topeng lagi, “Terima kasih sudah menyelamatkanku. Memberiku tempat beristirahat. Sampai nanti!” Yamane menjatuhkan diri.


Peluru yang dilepaskan Sakura pun hanya menembus udara kosong. Det.Inui menyusul Sakura kemudian. Dan mereka hanya dihadiahi ‘say hai’ dari Yamane yang sudah berada di atap mobil yang membawanya pergi.



“Padahal aku baru saja dapat SIM!” keluh si sopir saat tahu kedua penumpangnya sudah tidak berada di atap lagi dan duduk di kursi belakang. Dia gadis yang pernah ditolong Yamane, Yuna. (lihat episode 1)


“Kau masih SMA, 'kan?” Sekimoto heran.


“Usiaku 20 tahun. Mengulang kelas 2 tahun,” aku Yuna. (19 tahun berdasar usia internasional)


“Baguslah punya kenalan gadis berandalan,” komentar Yamane.


Yuna kesal, “Kau menghinaku?”


“Kami memujimu,” ujar Yamane dan Sekimoto bebarengan.



Cecilia berhasil memaksa Katsumura ke sebuah tempat sepi. Cecilia menuduh Katsumura yang membunuh kakaknya. Dan Katsumura baru sadar, kalau Cecilia ini ternyata adik dari anak perempuan yang berhasil lolos hingga tahap akhir pelatihan bersama Yamane.


“Kalau tak salah kakak tiri. Dia melalui banyak sekali kendala untuk menjadi mata-mata lalu dia mengabaikan misinya dan kembali pada keluarganya,” sindir Katsumura.


“Sungguh bodoh. Takkan kumaafkan!” geram Cecilia.


Perkelahian di antara mereka pun tidak terabaikan lagi. Beberapa serangan saja dan Cecilia ternyata berhasil dilumpuhkan oleh Katsumura. Senpi yang tadi dipegang Cecilia pun beralih ke tangan Katsumura.


Kini Katsumura menodongkan senpi itu pada Cecilia, “Berbahagialah dengan kakakmu di kehidupan selanjutnya!” diiringi suara tembakan yang bergema.



Suara panggilan telepon membuat Katsumura teralihkan perhatiannya dari Cecilia, “Yamaneko-san? Jadi dia berhasil bertahan. Maaf, akan segera kusingkirkan,” ujar Katsumura. Ia pun beranjak pergi.


Cecilia hanya bisa terduduk di lantai. Darah segar merembes di antara kemeja putihnya. Ia memandangi gelang yang pernah diberikan Kadomatsu padanya. “Yamaneko. Kuserahkan padamu.” Dan tangannya terkulai lemah.



“Katsumura adalah Chameleon?” Sekimoto tidak percaya.


“Jadi kau sungguh tak tahu.”


“Tentu saja tidak,” ujar Sekimoto cepat. “Jadi, apa yang akan kita lakukan?”


“Sudah jelas, 'kan? Pertandingan ulang. Meow!” sudut bibir Yamane terangkat.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di episode terakhir Kaito Yamaneko part 1 ya ^_^


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Uwaaa ... tinggal episode terakhir ya ternyata. Dan sedikit spoiler, akan ada kejutan lain muncul di episode terakhir nanti, termasuk sosok Yuuki Tenmei yang sebenarnya. Bisakah Yamane menyelamatkan orang-orang di sekitarnya?

Bening Pertiwi 15.13.00
Read more ...