SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 08 part 2. Samejima Kozo, ayah Reiji datang ke Tokyo. Tapi tampaknya Reiji tidak terlalu antusias apalagi bersemangat. Ia justru berusaha menghindar.


Hubungan ayah dan anak ini, Reiji dan Kozo-san tidak baik sejak lama. Apalagi sekarang Reiji tengah punya masalah dengan Misaki yang masih belum selesai. Tapi, bisakah Kozo-san membuka hati Reiji dan membuatnya berhasil menyelesaikan masalahnya satu demi satu?



Tidak seperti Reiji, sekt.Maiko dan Katsunori-san tampak sangat bersemangat menyambut Kozo-san. Katsunori menyesal kemarin tidak menyapa Kozo-san, karena berpikir yang dilihatnya di sisi jalan bukan Kozo-san. Saat ditanya, Kozo-san ternyata menginap di taman (berkemah) hari sebelumnya. Tapi hari ini ia mengaku akan tinggal di hotel.


“Apa Anda sudah memesan kamar?”


“Paling tidak sekali, aku ingin menginap di Stay Gold Hotel ...”


Reiji yang tadinya tidak peduli, tiba-tiba ikut bicara, “Batalkan sekarang juga!”


“EH, tapi sulit lho memesan kamar. Apalagi penerima tamu-nya tampak sangat bersahabat. Apalagi itu hotel nomer 1 di dunia kan,” protes Kozo-san.


Reiji kesal bukan main, “Kenapa kau perlu melakukan hal tidak penting seperti itu?”


“Tapi aku tidak tahu kalau ada hotel yang tidak boleh kugunakan menginap.”


Tidak punya pilihan, Reiji kemudian meminta Katsunori-san untuk mengantarkan Kozo-san ke apartemennya.


Kozo-san tampak sumringah,” Jadi aku bisa menginap di tempatmu?”


“Pulanglah ke rumah besok pagi-pagi.”


Katsunori-san dan sekt.Maiko lalu mengajak Kozo-san untuk berkeliling kantor. Reiji justru yang ditinggal sendirian. Saat akan menyusul keluar, Reiji melihat barang yang dibawa Kozo-san, seperangkat alat pembuat mie soba. Reiji pun batal untuk ikut menyusul mereka.



Siang itu, para karyawan pria mengerubungi Katsunori-san di dalam mobil sambil membawakannya makanan. Dan kali ini Katsunori-san pun sudah paham, kalau ada yang ingin diminta oleh para karyawan pria itu. Mereka ingin tahu, kenapa Reiji tampak membenci ayahnya, Kozo-san.


Dan cerita itu pun mengalir dari bibir Katsunori-san, “Saat presdir masih SMA, Kozo-san dan istrinya bercerai. Mungkin tidak tampak, tapi Kozo-san kacau dalam mengatur uang. Suatu kali, dia minum hingga mabok. Suatu saat, dia menyiapkan hadiah untuk ulang tahun istrinya. Sebuah tas dengan warna favorit istrinya. Tapi tas itu, persis sama dengan yang sudah digunakan oleh istrinya sejak lama. Dia sudah lama menikah dengan istrinya, tetapi bahkan tidak tahu kalau itu tas yang sama. Jadi istrinya merasa kecewa berat. Saat dia mencoba jadi baik, tapi semuanya justru berbalik. Suatu saat, Kozo-san minum dan mabok berat. Saat itu ia mengusir istrinya dari rumah. Dan si istri tidak pernah kembali lagi. Sejak saat itulah, presdir sangat membenci ayahnya.”


“Jadi dia ayah yang buruk ya. Tapi itu sudah 15 tahun yang lalu kan?”


“Mungkin presdir agak kekanak-kanakan juga.”



Malam itu, Kozo-san justru keluar untuk minum bersama Ieyasu. Dengan mudah mereka cocok dan dekat. Kozo-san bahkan mengajak Ieyasu untuk mengambil foto bersama, selfie. Kozo-an tampak sangat familir dengan hal itu. Dia bahkan mencari latar belakang dan sumber pencahayaan terlebih dahulu sebelum mengambil foto.


Sayangnya, foto yang diambil ternyata blur, karena goyang. Tapi menurut Ieyasu itu tetap bagus. Ia memilih kata ‘art’ untuk menggambrkan foto gagal itu. Ternyata Kozo-san pun menerimanya dengan senang.



Saat Reiji sampai apartemennya, Kozo-san sudah ada di sana lebih dulu. Kozo-san bahkan sudah asyik memipihkan tepung untuk bahan soba di atas meja. Ternyata Kozo-san juga menyetel CD rokugo (yang didapat Reiji dari Misaki). Tapi Reiji buru-buru mematikan CD itu. Reiji menanggapi ayahnya ini tetap dengan dingin.


“Aku membuat mie soba, sebentar lagi siap. Tepung bahan soba kali ini sangat baik,” ujar Kozo-san.


“Aku sudah kenyang. Kalau kubilang tidak mau, ya tidak mau!” bentak Reiji.


Sekt.Maiko buru-buru menyelematkan situasi. Ia yang maju dan mengatakan pada Kozo-san kalau ia ingin makan soba buatan Kozo-san.


“Kau tidak perlu memaksakan diri,” komentar Reiji atas sikap sekt.Maiko.


“Aku tidak memaksakan diri. Ini pertama kalinya bisa makan soba buatan Kozo-san lagi, setelah bertahun-tahun,” elak sekt.Maiko.


“Buatanku sekarang lebih baik daripada dulu.”



Reiji terbangun di tengah malam dan menemukan futon yang digelar di lantai, ternyata tidak digunakan oleh Kozo-san. Ia memilih tidur di sofa, dengan pose kaki mengapit tangan, persis seperti yang dilakukan oleh Reiji.


Reiji bangun dan mengambil air di dapur untuk minum. Ia melihat mie soba di meja, tertutup plastik tapi tetap masih enggan menyentuhnya.



Pagi berikutnya ...


Kozo-san sudah bersiap pergi. Saat Katsunori-san menawarkan untuk mengantar ke stasiun, Kozo-san menolak. Kozo-san mengaku akan jalan-jalan dulu.


Reiji pun menyusul keluar dari apartemen menuju mobilnya, “Kalau dia bilang mau jalan, tidak perlu dipaksa,” ujar Reiji.


“Reiji, jaga diri ya?” ujar Kozo-san. Ia pun berbalik dan berjalan pergi.


Reiji yang sudah masuk ke dalam mobil hanya memerhatikan ayahnya yang berjalan menjauh. Tapi Reiji tidak berkomentar apapun atau melakukan apapun.



Sekt.Maiko masuk ke ruangan dan menyerahkan berkas yang harus diperiksa Reiji. Reiji masih penasaran soal sekretarisnya ini.


“Karena ayah, aku kena flu,” cerita Reiji.


“Apa Anda ingin pulang lebih awal?”


“Tidak, tidak seburuk itu. Saat pulang nanti dan tidur lelap, aku pasti bisa lebih baik,” Reiji mengirim sinyal untuk minta dipijat lagi.


Tapi sekt.Maiko seperti tidak menanggapinya, “Aku harap Kozo-san juga tidak kena flu.”


Reiji kesal, karena sekt.Maiko jusru mengomentari orang lain, “Tidak masalah. Dia orang yang biasa kemah di luar.”


“Presdir, bisakah Anda lebih ramah pada ayah Anda?”


“Aku mengijinkan dia menginap di tempatku semalam, itu sudah lebih dari cukup,” ujar Reiji.


“Apa Anda makan sedikit saja mie soba-nya?”


“Tentu saja tidak!” elak Reiji cepat.


“Katanya, saat Anda masih kecil, Anda sering memintanya membuatkan soba yang sangat Anda sukai.”


“Jangan bodoh! Dia melakukan hal-hal itu Cuma untuk menarik perhatianku lewat makanan!” Reiji tambah manyun.


“Presdir, apa Anda punya alasan untuk tidak memaafkan ayah Anda?” cecar sekt.Maiko lagi.


“Orang itu dengan kasar mengusir ibuku dari rumah!”


“Anda juga kasar, mengusir Shibayama Misaki dari perusahaan. Anda dan ayah Anda sama saja, itulah kenapa Anda tidak bisa memaafkannya,” ujar sekt.Maiko dengan berani.


“Jangan samakan kami!”


“Tidak. Tidak seperti Anda, Kozo-san punya keberanian. Tidak peduli Anda membencinya, dia punya keberanian untuk datang dan menemui Anda. Karena dia ingin diakui oleh putranya.”



Saat baru tiba di depan apartemen, ternyata ada Kozo-san menunggu di sana. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Reiji dengan nada tidak suka.


“Maaf. Aku ketinggalan kereta,” aku Kozo-san.


“Kenapa gunakan kebohonan bodoh itu?” sindir Reiji.


Tapi Kozo-san pura-pura tidak dengar. Ia kembali membahas soal tepung bahan soba yang sangat enak tahun ini. Ia masih berusaha membujuk Reiji untuk kembali mencoba mie soba buatannya lagi.



Reiji akhirnya membiarkan ayahnya kembali menginap. Seperti kemarin, Kozo-san membuat mie soba lagi. Kali ini sekt.Maiko ikut membantu membuat kuahnya. Sementara itu, Katsunori-san membantu menghaluskan bumbu hingga matanya terasa pedas.


“Aku juga mengundang teman, tidak masalah kan?” ujar Kozo-san minta izin pada Reiji.


“Teman?” Reiji heran. “Memangnya kau punya teman dekat di kota?”


Tidak lama kemudian bel terdengar. Dan seseorang yang sangat familiar pun masuk, Ieyasu. Melihat situasi apartemen Reiji, Ieyasu dibuat tajub. Tanpa ragu ia pun memuji apartemen itu yang tampak seperti ruangan untuk model.


Ieyasu rupanya datang sambil membawa ayam goreng. Tapi, karena mereka sedang mempersiapkan mie soba, sepertinya ayam goreng tidak akan jadi pasangan yang cocok. Ieyasu mencari dukungan dari Kozo-san. Kozo-san ragu sejenak, tapi kemudian menjawab akan mencobanya.


Ieyasu menyusul Kozo-san yang tengah mempersiapkan mie soba di atas meja. Sekt.Maiko dan Katsunori-san pun ikut bergabung. Mereka dibuat takjub dengan kemampuan Kozo-san meracik mie soba. Sementara itu, dari sofa Reiji hanya melirik saja melihat keakraban empat orang di depannya itu.



Acara masak memasak selesai. Ieyasu dibuat takjub dengan rasa soba buatan Kozo-san dan tidak ragu untuk memujinya. Katsunori-san menanggapinya dengan mengatakan kalau ayam goreng tetap tidak cocok dengan soba. Tapi Ieyasu tidak peduli, ia mencomot ayam goreng, memasukkannya ke mulut dan tetap berkeras berkomentar kalau itu cocok.


“Presdir, bagaimana, kau suka?” giliran sekt.Maiko menanyi Reiji.


Tidak punya pilihan, Reiji pun akhirnya ikut mencicipi masakan soba Kozo-san, “Rasanya agak terlalu kuat dan sulit tertelan lewat tenggorokkanku.” Reiji mencoba mencari kata yang tepat.


“Kalau begitu, kau mau aku yang memakannya?” Ieyasu mengulurkan tangan berniat mengambil soba di depan Reiji.


Tapi Reiji buru-buru menepis tangan Ieyasu dan menyuruh anak itu untuk diam. Sementara itu, sekt.Maiko dan Katsunori-san saling pandang, mereka berhasil membuat Reiji kembali merasakan masakan ayahnya itu.



Reiji baru saja mengambilkan futon saat dilihatnya, Kozo-san ternyata sudah tertidur di sofa dengan gaya seperti malam kemarin. Tadinya Reiji mau meninggalkan saja futon di lantai, tapi ia akhirnya mengambil selimut.


Reiji berniat meletakkan selimut itu di tubuh Kozo-san. Tapi saat Kozo-san menggeliat, Reiji buru-buru bersembunyi di belakang kursi. Setelah aman, Reiji kembali bangun. Tapi ia Cuma meletakkan selimut itu di atas sofa, tidak menyelimutkannya pada Kozo-san secara langsung. Takut ketahuan, Reiji buru-buru menyingkir dan kembali ke ranjangnya.


Kozo-san yang merasa kedinginan meraba ada selimut di dekatnya. Ia pun menarik selimut itu mendekat dan menyelimuti tubuhnya sendiri. Kozo-san tersenyum senang.



“Ada pesan dari Kozo-san. Dia sudah sampai di rumah,” lapor sekt.Maiko pada Reiji.


Reiji yang saat itu baru saja memandangi ikan medaka-nya berbalik. Dia pura-pura bersikap kalau badannya pegal dan memijat beberapa bagian tangannya. Kali ini taktik berhasil. Sekt.Maiko menanyakan keadaan Reiji yang tampak lelah.


“Masalah belakangan membuatku sulit tidur,” aku Reiji. “Bisakah kau lakukan itu lagi?” Reiji menunjuk kakinya. “Kalau aku bisa lelap nanti malam, pasti besok lebih baik.


Sekt.Maiko pun paham yang dimaksud oleh Reiji. Dan tanpa ragu, dia mengiyakan permintaan Reiji untuk datang ke apartemennya nanti malam.



Saat Reiji kembali dari kamar mandi, sekt.Maiko baru saja membuatnya makan malam. Reiji mengatakan akan makan nanti. Dia pun langsung tiduran di ranjang. Paham dengan gesture tubuh Reiji, sekt.Maiko pun mendekat. Tanpa ragu ia kemudian mulai memijat kaki Reiji.


“Kudengar dari Wada, kau menolaknya?”


“Ya. Sepertinya saya memang tidak bisa mengkhianati Anda.”


“Cuma itu? Apa ada yang lain?” pancing Reiji lagi.


“Kubilang padanya kalau saya menyukai Anda,” ujar sekt.Maiko tanpa ragu.


Reiji yang tiduran langsung bangun dan duduk. Dia tidak menyangka kalau sekt.Maiko mengakui hal itu tanpa canggung atau apapun.


“Karena Anda sudah seperti keluarga bagiku,” aku sekt.Maiko lagi.


Jawaban sekt.Maiko makin membuat Reiji kalah kabut, “Tapi aku tidak pernah berpikir ide membuat keluarga (menikah) denganmu. Butuh delapan tahun untuk kupahami. Tidak ada wanita lain yang bisa membuatku nyaman selain kamu. Bagaimana? Bagaimana kalau kita kencan?” ujar Reiji tanpa ragu. Ia mendekatkan wajahnya di depan wajah sekt.Maiko.


Tapi ekspresi sekt.Maiko sama sekali tidak berubah, tetap datar, “Presdir, hentikan membuat orang terlibat dengan patah hatimu.”


“Aku memang patah hati, tapi pijatanmu menyembuhkan,” elak Reiji.


Sekt.Maiko menarif nafas, “Anda tertarik pada wanita yang bersikap baik. Anda dalam situasi rapuh untuk jatuh cinta. Bahkan kalau nenek-nenek yang memijat pun, Anda akan jatuh cinta. Anda hanya melarikan diri dari rasa sakit patah hati.”


“Aku tidak melarikan diri!” elak Reiji cepat. “Aku hanya mengikuti jejak ayahku, mencari kemungkinan cinta baru.”


“Anda salah besar. Mudah membuatku selalu berasa di sisi Anda, menerima kekurangan Anda. Aku Cuma pelarian. Jadi, berhentilah berpikiran terlalu jauh karena kebaikanku. Hadapi kekurangan Anda, dan berjuanglah untuk orang yang benar-benar Anda sukai. Untuk mengatasi rasa benci Anda, ayah Anda berhasil membuka hati Anda. Sekarang giliran Anda,” saran sekt.Maiko. Ia pun berdiri dan beranjak pamit.



Tidak ingin kehilangan kesempatannya lagi, Reiji pun berganti pakaian. Ia memilih jas dengan dasi berwarna hijau, warna kesukaan Misaki. Reiji berjalan keluar apartemen sambil menelepon. Ia melakukan pemesanan kamar untuk malam itu.


Alih-alih memanggil sopirnya atau naik mobil sendiri, Reiji memilih naik taksi. Tujuannya adalah satu tempat khusus.



Seorang tamu baru saja berbalik pergi saat Reiji tiba di meja penerima tamu. Di sana ada Misaki yang tengah bertugas.


“Apa benar, penerima tamu akan mendengarkan apa yang kukatakan?” tanya Reiji ragu.


“Hanya untuk tamu yang menginap di hotel kami,” ekspresi wajah ramah Misaki berubah dingin.


“Kalau begitu ... bisa kan dengarkan aku?” Reiji mengeluarkan kunci dari balik sakunya. Kunci kamar hotel itu, Stay Gold Hotel dengan nomer 333 (angka ini bisa dibaca juga sebagai misa-san).


Tidak punya pilihan, Misaki pun mengiyakan. “Apa yang bisa dibantu?”


“Aku putus dari kekasihku belum lama ini. Apa ada cara supaya kami bisa bersama lagi?”


“Bagaimana dengan melupakan cinta lama dan berpindah ke cinta baru?” saran Misaki.


“Bukan itu yang kutanyakan. Aku ingin tahu cara agar ‘kita’ bisa kembali bersama lagi,” desak Reiji.


“Sepertiku akan sulit.”


“Kau katakan, kau akan membantuku kan? Penerima tamu bukankah seharusnya tidak mengatakan ‘aku tidak bisa membantu Anda’, kan?”


“Tolong hentikan ini!” pinta Misaki agak berbisik. Ia mulai terganggu oleh sikap Reiji.


Saat itu supervisor Misaki datang berniat membantu. Reiji yang tidak mau melibatkan orang lain pun memilih pergi.



“Selamat malam,” Reiji menunggu hingga Misaki selesai jam kerja dan segera menyusulnya.


Tidak suka diikuti terus oleh Reiji, Misaki pun mengancam akan lapor polisi. Reiji meminta maaf, sikapnya yang keras kepala ini menurun dari ayahnya. Misaki kesal karena Reiji kembali menyalahkan orang lain.


“Dia (ayahku) datang ke tempatku kemarin. Kuharap kau bisa juga makan mie soba buatannya. Tunggu! Aku hanya ingin mengembalikan ini padamu,” Reiji menyerahkan CD rokugo yang sempat dipinjamkan Misaki padanya.


“Tidak masalah. Kau tidak perlu repot mengembalikannya.”


“Tidak. Karena ini salah satu favoritmu,” elak Reiji.


Misaki pun berbalik dan berniat pergi. Dia tidak ingin bicara lagi dengan Reiji.



“Tunggu, katakan satu hal. Apa kau benar menyukaiku?” pertanyaan ini membuat Misaki heran. Tapi Reiji tetap melanjutkan. “Di waktu singkat kita kencan. Kutanya, apa saat itu kau menyukaiku?”


“Tentu. Kalau tidak, aku tidak mungkin kencan dengan Anda.”


“Tidak. Kau tidak serius!” tuduh Reiji.


Misaki kesal, “Kau meragukanku?”


“Penulis Jerman terkenal, Geothe mengatakan ‘Jika kau tidak bisa mencintai kekurangan orang yang kau cintai, kau tidak mungkin bisa mengatakan aku cinta padamu’. Itu artinya kau tidak benar-benar menyukaiku.”


“Tolong hentikan tuduhan palsu ini!”


“Tapi benar kan? Kau tidak menerima kekuranganku. Menurut teori Goethe tadi, artinya kau tidak benar-benar mencintaiku,” lanjut Reiji. “Semua sikap keras kepalamu itu, aku tidak menerimanya.”


“Itulah kenapa kau memecatku dan kisah ini berakhir,” Misaki menyimpulkan.


“Ini bukan akhir. Karena cinta kita belum mulai. Ini baru mulai sekarang. Setelah kita putus, aku bertarung dengan diriku sendiri. Dan aku menyadari sesuatu. Aku hidup tanpa tahu kekuranganku sendiri. Kalau aku tidak menyadari kekuranganku, maka aku tidak akan bisa menerima kekuranganmu juga. Tapi tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah memahami kekuranganku sekarang. Jadi tidak akan masalah, kalau kau juga menerima kekuranganku. Bisakah kau terima itu? Agar cinta kita bisa mulai lagi?” bujuk Reiji lagi.


“Cinta kita sudah masa lalu.” Misaki berbalik, berjalan pergi.



“Tunggu! Aku menerima kekuranganku. Aku juga siap menerima kekuranganmu. Jika kau tidak mau menerima kekuranganku, artinya kau lebih tidak toleran dibanding aku. Apa itu tidak masalah?”


“Aku tidak peduli!”


“Lihat, keras kepalamu ... aku menerimanya. Kau mau kemana? Apa kau mau melarikan diri?”


“Bukankah Anda terlalu memaksakan kehendak?” tantang Misaki.


“Pemaksaan kehendak menguntungkan agar perusahaan bisa sukses. Tapi itu tidak menguntungkan untuk urusan cinta. Apa yang akan kau lakukan? Menerimanya ... atau melarikan diri?”


Misaki menyerah dengan keras kepala Reiji. Ia pun berbalik lagi. “Baik, aku punya syarat. Syarat pertama, aku ingin Anda pulang.”


“Baik, aku akan menuruti syaratmu.”


“Aku akan kirim email untuk syarat berikutnya.”


“Bisakah kau telepon saja?” pinta Reiji.


Tapi Misaki yang kesal berbalik pergi.


“Baik. Kau bisa mengirim email saja. Aku terima syaratmu.” Reiji hanya bisa menyaksikan Misaki yang berjalan pergi. “Hati-hati di jalan. Isanami Suyao!”


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 09 part 1


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


 
Bening Pertiwi 14.12.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 08 part 1. Kalau bicara soal ‘love story’ paling susah, maka Reiji bisa jadi juaranya. Hubungannya dengan Misaki yang masih seumur jagung ternyata harus kandas karena salah paham.


Reiji yang awalnya hanya berniat mencium Misaki justru mengacaukan semuanya dengan alat anehnya. Pertengkaran pun tidak terhindarkan lagi. Dan kata itu, ‘pecat’ akhirnya keluar juga dari mulut Reiji.



Beberapa hari setelahnya ...


Mood Reiji benar-benar kacau. Beberapa kali dia tampak melamun dan tidak bersemangat. Sekt.Maiko pun terpaksa berulangkali menegur Reiji yang tengah melamun. Sapaan dari para karyawan pun tidak lagi dipedulikan oleh Reiji. Dia melangkah lurus langsung ke ruangannya. Suasana hati Reiji benar-benar kacau.


Situasi ini pun disadari para karyawan. Sudah tiga hari sejak Misaki keluar dari kantor, dan sikap Reiji masih saja aneh. Meski sebenarnya tidak terlalu suka dengan bos yang kaku, para karyawan ternyata cukup khawatir atas keadaan Reiji. Apalagi Reiji baru kencan selama dua minggu saja. Mereka bahkan belum pegangan tangan apalagi berciuman. Mungkin belum bisa dibilang ‘pacaran’ juga.



Putusnya Reiji dan Misaki berefek pada semua. Rapat di kantor menjadi suram dan datar, kecuali Ieyasu yang tidak tahu situasi. Suasana hangout para karyawan juga terasa hampa. Mereka masing-masing memikirkan soal sang bos yang tengah patah hati. Mahiro lebih sial lagi. Sang bos yang putus, tapi ia juga mendapat imbas kencan yang tertunda dengan ketua tim Goro-san.


Sebenarnya, aku tidak terlalu suka presdir. Tapi, aku suka presdir sejak Misaki bergabung di perusahaan. Waktu saat Misaki bergabung dengan perusahaan ...


Meski tanpa kata-kata, para karyawan sepakat untuk mencari cara, agar Reiji kembali menjadi dirinya yang biasa. Kecuali si Ieyasu yang sekali lagi, tidak tahu situasi.



Sekt.Maiko meletakkan kotak makanan di depan Reiji dan membujuknya untuk makan siang. Tetapi Reiji yang terlanjur badmood, sama sekali tidak tertarik.


“Betapa bodohnya aku. Aku memecatnya saat kami bertengkar, padahal itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Aku sangat menyesal sudah mengatakan hal buruk padanya,” keluh Reiji.


“Kalau Anda menyesal, kenapa tidak mencoba menghubunginya?” saran sekt.Maiko.


“Aku mencoba menghubunginya dan mengirimi pesan, tapi tidak ada jawaban. Aku mencari alamat rumah dari resum-nya, dan berpikir untuk datang ke rumahnya. Tapi ternyata aku tidak melakukannya.”


“Anda sudah berusaha,” hibur sekt.Maiko pula.



Para karyawan pria menyogok Katsunori-san dengan kotak makan siang menu mahal. Mereka meminta Katsunori-san agar bisa membujuk Reiji, agar bisa datang ke pesta perpisahan dengan Misaki. Katsunori-san sebenarnya ragu, tapi para karyawan itu terus saja membujuknya.


Para karyawan itu bahkan memberikan ide, agar melibatkan sekt.Maiko juga. Karena jika bertemu lagi, bisa ada kemungkinana Reiji akan menarik kembali keputusannya dan memaafkan Misaki. Soal apakah Misaki akan datang, para karyawan meyakinkan kalau itu sudah jadi urusan Mahiro. Mahiro yang bertugas membujuk agar Misaki mau datang.



Misaki dan Mahiro bertemu di sebuah kafe. Misaki menyerahkan berkas-berkas klien yang ditinggalkannya, untuk kemudian diurus oleh Mahiro.


“Aku punya satu permintaan. Kami akan membuat pesta perpisahan untukmu, dan kami berharap Misaki-san akan datang,” bujuk Mahiro.


Wajah Misaki berubah sedikit keruh, “Tidak perlu.”


“Yang lain sedih, karena tidak bisa membuatkan pesta perpisahan yang layak untukmu.”


“Aku menyesal meninggalkan perusahaan dengan cara ini, tapi mau bagaimana lagi,” ujar Misaki.


Mahiro juga mengatakan kalau Reiji mungkin juga akan datang. Dia sekali lagi membujuk Misaki, kalau pertemuan di pesta itu bisa jadi cara Misaki untuk bicara baik-baik dengan Reiji.



Sekt.Maiko memberikan undangan pesta pada Reiji dan memberitahukan kalau Misaki juga sudah bersedia untuk datang. Tapi Reiji ragu, mungkin saja Misaki akan batal datang kalau ia juga datang. Tapi Sekt.Maiko meyakinkan Reiji, kalau Misaki tetap akan datang karena ingin bicara dengan Reiji.


“Tapi, kenapa ada papan sasaran—darts—di pesta?” Reiji heran.


“Itu ide Ieyasu. Dia berharap Anda bisa mendapatkan hati Misaki sekali lagi,” sekt.Maiko menjelaskan.



Seperti biasa, Reiji naik mobil bersama sekt.Maiko dan Katsunori-san. Ia ingin memastikan status hubungannya dengan Misaki, apakah mereka masih kencan atau tidak. Tapi sekt.Maiko mengatakan ‘tidak’, karena Misaki sudah tidak bekerja di perusahaan lagi dan tidak bisa dihubungi lagi.


“Bisa dipastikan Anda telah putus dengannya,” sekt.Maiko menutup penjelasannya.


“Aku mengerti.”


“Jika Anda ingin kembali menjalin hubungan, pertama cabut pemecatan Anda terhadapnya, agar ia bisa kembali bekerja. Jika Anda serius, ada kemungkinan dia akan memaafkan Anda,” saran sekt.Maiko.


Reiji mengangguk-angguk, mengerti. Tapi ia kemudian mengganti topik pembicaraan, “Btw, apa yang terjadi dengan Wada?”


“Itu ... tidak baik. Aku minta maaf sudah membuatmu harus mendukung hal seperti ini,” ekspresi wajah sekt.Maiko berubah.


“Tidak masalah. Masih ada banyak laki-laki yang lebih baik dari Wada. Aku yakin, pasti ada pria yang jauh lebih cocok untukmu.”



Reiji sudah tiba lebih dulu di tempat pesta. Dan dia asyik bermain anak panah. Reiji bersorak senang saat mendapatkan nomer istimewa, 3-3-3. Sekt.Maiko berpikir kalau itu dibaca san-san-san. Tapi Reiji berasumsi lain, menurutnya angka itu bisa dibaca mi-san-san.


Sekt.Maiko kemudian mengusulkan agar Reiji membidik angka 1-1-7-3, yang dapat dibaca i-i-na-mi atau gelombang baik. Tapi Reiji justru berpikir ide lain, 1-3-7-3. Nomer ini dapat dibaca sebagai i-sa-na-mi- sensei. Seperti yang biasa jadi bahan obrolan Reiji dengan Misaki.



Saat itu Misaki baru saja datang. Karyawan lain antusias menyambut Misaki. Sementara Reiji justru salah tingkah, hingga beberapa kali anak panah-nya meleset dari sasaran.


Misaki pun menyapa Reiji. Reiji bertanya, apa Misaki pernah main anak-panah itu, yang dijawab ‘iya’. Reiji mengatakan kalau baginya, itu pertama kalinya dan ternyata menyenangkan. Misaki mengaku ada yang ingin dikatakannya pada Reiji, begitupula sebaliknya. Salah satu karyawan lalu meminta Reiji untuk memimpin toast.


Reiji kemudian mengambil minuman dan berdiri di atas tangga, “Hari ini aku datang saat tahu ini pesta perpisahan untuk Misaki. Tapi aku tidak ingin mengatakan selama jalan. Aku yakin, karyawan di sini juga merasakan hal yang sama. Itu jadi bukti kalau kehadiran Misaki tidak tergantikan untuk hotel Samejima. Jika Misaki mengatakan akan kembali ... aku akan menerimanya, dan kita akan membuat hotel terbaik di dunia.”


Misaki tersenyum, “Terimakasih. Ucapan Anda membuatku senang. Tapi ... aku memutuskan untuk bekerja di Stay Gold Hotels.”



Jawaban Misaki yang memilih bekerja untuk hotel milik presdir Wada itu membuat situasi yang tadinya hangat menjadi kacau. Reiji tidak menyangka kalau Misaki akan memilih hotel saingannya itu. Karyawan lain mencoba membantu. Ada yang bahkan menawarkan untuk menelepon presdir Wada untuk membatalkan penerimaan Misaki. Tapi Misaki menolak dan mengatakan keputusannya sudah bulat.


“Apa kau membenciku?” nada bicara Reiji berubah dingin.


“Tidak, aku tidak pernah.”


“Lalu kenapa kau pilih hotel milik Wada?” cecar Reiji.


“Setelah mempertimbangkan rencana masa depan mereka, lingkungan kerja dan kondisi pekerjaan, keputusanku itu pilihan yang tepat,” ujar Misaki tegas.


“Apa kau tahu tempat untuk para karyawan yang paling kubenci?”


“Sejujurnya, bekerjanya aku kembali, tidak ada hubungannya dengan Anda, Pak.”


Pertengkaran antara mereka pun terjadi lagi. Misaki menyalahkan Reiji yang lebih dulu memecatnya dan merasa pilihannya bekerja di hotel milik presdir Wada, bukan urusan Reiji. Sementara itu, Reiji sangat benci kalau Misaki memilih hotel itu. Reiji yang kesal bahkan menyuruh Misaki untuk pergi dari kota itu, supaya mereka tidak perlu bertemu lagi, sama sekali. Reiji berpikir kalau Misaki masih punya pilihan untuk bekerja di luar negeri, tetapi kenapa memilih hotel presdir Wada.


“Ada karakter di novel favoritku yang mirip seperti Anda. Tapi, Anda ribuan kali lebih menyedihkan dibanding karakter itu!” geram Misaki. Misaki pun beranjak pergi, masih dengan perasaan marah.



Karyawan lain berusaha menghentikan Misaki. Tapi kali ini, Misaki sama sekali tidak berbalik lagi. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


“Wanita egois seperti itu, aku salah pernah berusaha menahannya untuk pergi,” ujar Reiji. “Malam ini kita makan dan minum sepuasnya! Semuanya aku yang traktir!” Reiji pun mulai menenggak minumannya.


Para karyawan tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti kemauan Reiji. Hanya Ieyasu yang kembali tidak tahu situasi dan justru asyik bermain anak panah.



Sekt.Maiko memapah Reiji yang mabok, pulang ke apartemennya. Dan Reiji pun masih saja terus mengomel tentang Misaki. Seperti biasa, sekt.Maiko menanggapinya dengan santai. Ia tahu persis bagaimana menghadapi Reiji yang sedang kacau seperti ini.


Reiji menuduh sekt.Maiko marah padanya. Tapi sang sekretaris mengelak dan mengatakan kalau ia hanya kasihan pada Misaki, karena sikap Reiji tadi. Reiji tidak terima. Menurutnya, yang seharusnya dikasihani adalah dirinya. Reiji tetap tidak mau mengalah. Meski sekt.Maiko mengatakan ucapan Reiji tadi terhadap Misaki sudah sangat kasar.


“Karena dia sudah berhenti dari perusahaan, dia bebas memilih bekerja di manapun.”


“Kau memihaknya?” tuduh Reiji.


“Saya selalu berada di pihak Anda.”


Reiji desperate sendiri. Ia kesal karena hatinya sudah dibuat kacau oleh Misaki. Tapi tanggapan sekt.Maiko tetap saja dingin.


“Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba saja aku menciummu?” tantang Reiji. Ia kini berada hanya beberapa senti dari wajah sekt.Maiko.


Tapi ekspresi sekt.Maiko tidak berubah. Wajahnya tetap saja datar seperti biasa.


Reiji kesal sendiri. Ia pun menarik wajahnya menjauh, “Aku merasa sulit melakukannya dengan Misa-san. Tapi, denganmu, tampak mudah saja,” keluhnya kemudian.


“Tentu saja. Itu karena kau tidak punya perasaan apapun padaku,” jawab sekt.Maiko santai.



Reiji mengunjungi presdir Wada di kantornya. Reiji menebak kalau saat ini presdir Wada merasa malu. Yang dimaksud Reiji adalah ‘perburuan’ Shibayama Misaki untuk menjadi karyawan di Say Gold Hotel.


Tapi presdir Wada menanggapinya dengan santai, “Kau yang keliru. Dia (Misaki) yang datang sendiri dan memintaku untuk mempekerjakannya.”


“Kebohongan yang mudah ditebak,” cibir Reiji.


“Aku tidak mendekatinya sama sekali. Aku justru kaget karena dia berhenti bekerja di hotelmu.” Presdir Wada bahkan minta penekanan dari sekretarisnya juga. “Aku tanya padanya, ‘tidakkah Reiji akan sedih kalau kau bekerja pada kami’? Dan dia mengatakannya dengan wajah sedih. Jika bisa, dia ingin bekerja lebih lama lagi di Samejima hotel yang disukainya. Sepertinya kau salah mengurusnya. Jika kau memolesnya dengan benar, dia akan jadi permata yang bersinar.


“Tidak. Sejak awal, dia tidak tampak berharga. Dia Cuma batu biasa,” komentar Reiji.


“Sejak awal, memang salah membuat Misaki bekerja di dalam kantormu. Cara terbaik memanfaatkan kemampuannya adalah mempekerjakannya di garis depan untuk menerima tamu. Ini disebut juga ‘wajah’ hotel, ‘penerima tamu’. Saat dia datang ke perusahaanku, posisi rangking 1 di dunia akan aman dalam 10 tahun ke depan.”


Reiji kesal, “Cepat atau lambat, kau tidak akan sadar kalau kau sudah jatuh dari posisi teratas.”



Presdir Wada menyusul Reiji yang sudah akan pergi, “Kudengar kau akan membuat hotel baru di Tokyo.”


“Ya. Dan itu akan jadi hotel nomer satu dunia,” sombong Reiji.


“Apa kau sudah dengar dari Maiko-chan? Dia memutus hubungan denganku karenamu.”


“Bukankah kau yang menolaknya?” tanya Reiji balik.


“Jangan bodoh. Alasan aku dekat denganmu ... karena itu cara untuk mendekatinya.”


“Aku mendukung keputusan Maiko untuk kencan denganmu. Kalau kau menyalahkanku, kau menggonggong pada pohon yang salah.” (kira-kira artinya, kau menyalahkan orang yang salah)


Presdir Wada tersenyum dan melanjutkan ucapannya dengan tenang, “Dia menolakku dan mengatakan kalau dia menyukaimu.”


Reiji tertegun dengan ucapan presdir Wada.


“Dengan begini, kau masih mengelak ini bukan salahmu? Satu-satunya hal yang kuhargai darimu adalah ... kau masih bisa punya sekretaris menarik sepertinya selama bertahun-tahun, tanpa ada kecelakaan.”


“Tentu saja!”


“Sayangnya, kau memperlakukan Maiko-chan dengan cara yang salah juga. Sebutan yang paling cocok untuknya itu bukan sekretaris presdir ... tapi kekasih.”


Reiji kehabisan kata-kata.


“Kau hanya tidak tahu bagaimana spesialnya waktu bersama wanita seperti itu. Dengan kata lain, kau di bawah pria pada umumnya,” presdir Wada lalu berbalik pergi.



“Kenapa Maiko memandang remeh aku?” kali ini Reiji hanya bersama sopirnya, Katsunori-san.


Reiji kemudian bicara soal sekt.Maiko yang selalu ada untuknya, bahkan saat Misaki meninggalkannya. Reiji perlahan mulai menyadari pentingnya sekt.Maiko untuknya. Ia bahkan sempat berpikir kalau Misaki tidak benar-benar menyukainya.


“Di sisi lain, Maiko tahu persis sisi baik dan buruk Anda, lalu selalu mendukung Anda.”


“Jadi dia benar-benar menyukaiku?” Reiji menyimpulkan.


“Saya percaya dia orang yang bahkan akan tetap setia di sisi Anda hingga mati,” ujar Katsunori-san. Ia kemudian tidak sengaja melihat seseorang sedang melintas di jalan, tapi tidak yakin siapa orang itu.



Reiji memberi makan ikan medaka-nya sambil melirik ke arah ruangan sekretaris. Di sana, sekt.Maiko yang sadar sedang diperhatikan mendekai Reiji dan bertanya soal hasil pertemuan dengan presdir Wada. (ekspresi Reiji waktu ketahuan lagi memperhatikan itu ... krik krik banget, hehehehe)


Reiji mengaku kalau seperti biasa, presdir Wada selalu berhasil menemukan kelemahan Reiji. Sekt.Maiko menyarankan agar tidak perlu terlalu dipikirkan.


“Aku tidak memikirkannya, tapi setiap kali bertemu ... rasanya energi dan staminaku seperti tersedot,” cerita Reiji.


Sekt.Maiko kemudian menyadari kalau wajah Reiji tampak lebih merah. Ia bahkan mengulurkan tangan dan menempelkannya ke dahi Reiji, membuat Reiji kaget. Reiji berpikir kalau mungkin ini gara-gara ia baru bertemu presdir Wada. Dan lagipula ia tidak pernah demam selama 10 tahun terakhir.


“Tapi Anda benar-benar panas. Saya ambilnya termometer,” sekt.Maiko lalu berbalik pergi.


Tidak ada perubahan ekspresi pada wajah sekt.Maiko. Berbeda dengan Reiji yang justru makin tersipu. Ini semua karena ucapan presdir Wada tadi, soal sekt.Maiko.



Reiji akhirnya istirahat di apartemennya. Sekt.Maiko bahkan membuatkan bubur untuk Reiji yang tengah berbaring di ranjangnya. Sekt.Maiko khawatir kalau Reiji tidak bisa tidur. Reiji mengaku sedang banyak pikiran, jadi sulit tidur.


“Mungkin karena lelah perasaan yang Anda sembunyikan,” ujar sekt.Maiko. Ia pun minta izin untuk memijat kaki Reiji. Ia mengaku, ibunya dulu melakukan itu juga (memijat) saat dirinya sakit. Dan karena dipijat, ia jadi bisa tidur lelap.


Tapi Reiji tampak canggung, “Aku tidak mandi tadi sore. Jadi kakiku ... mungkin kotor.”


“Jangan pikirkan itu. Santai saja dan tidurlah,” ujar sekt.Maiko kemudian. (kalau dilihat, care-nya sekt.Maiko ini lebih mirip seorang ibu deh)



Reiji baru saja membuat bubur untuk sarapan saat ponselnya berbunyi, dari presdir Wada. Saat itu presdir Wada tengah asyik bermain dengan wanitanya di kolam renang. Presdir Wada menelepon balik, karena malam sebelumnya Reiji sempat menelepon tapi ia tidak merespon.


“Itu bukan masalah besar. Aku Cuma mau bilang, aku jadi pria kelas satu,” pamer Reiji membuat presdir Wada bingung. “Kau yang bilang padaku kan? Pria yang tidak tahu menikmati waktu bersama Maiko, adalah pria kelas rendah.”


“Kau bicara seolah sempat tidur dengannya,” presdir Wada tersenyum.


“Tidak, aku tidak tidur dengannya. Saat aku tiduran di ranjang, dia minta izin untuk memijat kakiku. Bagaimana menggambarkannya ... itu seperti mimpi.”


“Kau bercanda kan?” presdir Wada terkejut. “Dia wanita yang tidak kau kencani dan dia tiba-tiba saja memijat kakimu. Itu ribuan kali lebih sulit daripada mengajaknya ke ranjang.”


“Eh, benarkah?” Reiji ikut terkejut.


“Jangan bilang, kau tidak sempat cuci kaki,” tebak presdir Wada.


“Bagaimana kau tahu?”


“Oh, my God! Reiji ... kali ini aku mengaku kalah. Kau menang!” puji presdir Wada. “Kau berhasil mendapat apa yang diimpikan oleh pria, yang disebut dengan Muraoki Maiko.”



Reiji berangkat ke kantor seperti biasa. Sekt.Maiko yang bersamanya khawatir soal keadaan Reiji. Reiji mengatakan kalau ia masih sedikit demam tapi sudah lebih baik.


“Kalau aku tidur lelap lagi nanti malam, pasti akan jauh lebih baik. Karenamu aku bisa tidur semalam, terimakasih.”


“Anda ingin aku melakukannya (memijat kaki) lagi?” sekt.Maiko menawarkan.


“Oh, itu tergantung keadaan tubuhku nanti malam,” elak Reiji.


“Baiklah. Katakan saja kalau perlu.”



Di ruangan kantor, seorang pria berambut putih sedang membagi-bagikan makanan untuk para karyawan. Kotak tempat makanan itu tertulis ‘Samejima Ryokan’—penginapan Samejima. Pria itu ternyata adalah Samejima Kozo, ayah Reiji.


Para karyawan pun memuji Kozo-san sebagai ayah Reiji. Rupanya karena ketua tim Goro-san mengenali Kozo-san, sehingga tadi di depan kantor ia tidak diusir pergi oleh keamanan. Kozo-san pun sangat berterimakasih pada mereka. Ketua tim Goro-san mengaku pernah menginap di Samejima Ryokan, karenanya ia kenal dengan Kozo-san.


Salah satu karyawan lain juga mengaku pernah menginap, tetapi tidak mengenali Kozo-san. Kozo-san memahaminya. Karena meski dirinya adalah pemilik penginapan, kadang dia melakukan hal-hal remeh seperti mengatur sepatu tamu di pintu masuk atau menawarkan souvenir pada tamu. Hal-hal ini yang biasanya dilakukan oleh karyawan tapi ternyata dilakukan sendiri oleh Kozo-san.


“Kami pernah nyaris bangkrut. Tapi sekarang, meski aku tidak berbuat banyak, penginapan berjalan dengan baik, itu karena putraku.”



Saat itu Reiji baru saja masuk dan seluruh karyawan spontan mengucapkan salam selamat pagi. Sadar ada Kozo-san di sana, sekt.Maiko dan sopir Katsunori-san pun memberikan salam secara khusus.


Hanya Reiji yang tampak kaget dan kurang suka dengan kedatangan ayahnya itu, “Apa yang kau lakukan di sini?!”


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 08 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.12.00
Read more ...

Musim panas itu musimnya ... ehm. Biasanya sih musim panas itu identik dengan drama tema horor ya. Entah kenapa para hantu di Jepang lebih suka keluar musim panas #ups. Tapi kali ini pilihan Na nggak jatuh dengan tema horor. Melainkan balik lagi dengan tema favorit Kelana, suspense. Seperti apa serunya suspense pilihan Na kali ini, Cek berikut yuk!




Soshite, Daremo Inakunatta (Lost ID)


Format: Renzoku


Genre: Crime, suspense


Jaringan tayang : NTV


Mulai tayang : Minggu, 17 Juli 2016


Waktu tayang: pukul 22.30


Lagu tema : Oni oleh CreepHyp


Penulis naskah : Hata Takehiko


Produser : Ito Kyo, Suzuki Akino, Watanabe Hirohito, Yagi Kinya


Sutradara : Sato Toya, Kubota Mitsuru, Tanaka Mineya


Musik : Kimura Hideakira, Suzuki Masato


Biar lebih lengkap, simak juga para pemerannya berikut ini.


 


Fujiwara Tatsuya sebagai Todo Shinichi


Seorang peneliti pengembang sistem elektronik yang bekerja di sebuah perusahaan besar. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil dan dia dibesarkan oleh ibunya, Makiko. Karir maupun kehidupan hubungannya berjalan lancar. Tapi suatu hari, seorang pria dengan nama sama dengannya ditangkap polisi. Ini membuat hidupnya kacau dan mulai hancur.



Nikaido Fumi sebagai Kuramoto Sanae


Tunangan Todo Shinichi. Dia sangat realistis dan benar-benar ingin menikah. Dia sangat bahagia dengan rencana pernikahannya dengan Shinichi yang dianggapnya pasangan ideal. Tapi Shinichi mulai berubah saat terlibat kasus dan Sanae pun mulai tidak mempercayainya lagi.



Tamayama Tetsuji sebagai Osanai Tamotsu


Teman sekelas Todo Shinichi saat di universitas dan masih jadi teman baiknya hingga kini. Dia dadalah birokrat karir di kementrian Komunikasi dan punya keinginan besar untuk mengubah dunia korup ini. Dia cepat tanggap dengan situasi Shinichi dan membantunya meski itu mengancam posisinya. Tetapi, fakta tersembunyi lain rupanya menunggu untuk diungkap.



Inoo Kei sebagai Kusaka Eiji


Pemilik dan bartender bar ‘KING’, bar tempat Todo Shinichi biasa mampir di perjalanan dari kantor ke rumah. Dia membuat orang merasa nyaman dengan tampilannya dan sikap baiknya yang disukai pelanggan. Tapi kehidupan pribadinya benar-benar misterius.



Endo Kaname sebagai Todo Shinichi (palsu)


Pelaku penganiayaan wanita di Niigawa. Seorang pria misterius dengan nama depan dan nama belakang sama, Todo Shinichi.



Mimura sebagai Nagasaki Haruka


Teman sekelas Todo Shinichi saat universitas dan pernah kencan dengannya. Saat tahu situasi Shinichi, dia segera datang membantunya. Dia menyemangati Shinichi dengan baik tapi ternyata masih menyimpan perasaan terhadap Shinichi.



Jinbo Satoshi sebagai Onizuka Takao


Detektif di divisi keamanan publik Tokyo Metropolitan Police Department (Tokyo MPD). Banyak sikapnya yang melawan aturan dan sering dianggap kasar oleh orang-orang di sekitarnya. Detektif yang punya cara kerja sendiri, dia akan melakukan berbagai cara untuk menangkap si pelaku.



Tsurumi Shingo sebagai Saijo Shinji


Pimpinan firma hukum Saijo. Dia adalah orang yang sangat haus uang sehingga mau saja menerima kasus apapun dengan bayaran besar. Dia menangani kasus ‘Todo Shinichi’ yang ditangkap karena tuduhan penganiayaan terhadap seorang wanita, tapi kliennya ini sangat misterius.


 


Kuroki Hitomi sebagai Todo Makiko


Ibu Todo Shinichi yang sangat baik, yang membesarkan Shinichi sendirian setelah suaminya meninggal. Dulunya dia seorang perawat. Tapi dia mengalami kecelakaan hingga sekarang harus berada di kursi roda. Dia sangat yakin pada Shinichi. Tapi kadang, hal mencurigakan muncul dalam ekspresi wajahnya.


 


Shison Jun sebagai Itsuki Keita



Konno Hiroki sebagai Saito Hiroshi



Ono Nonoka sebagai Nishino Yayoi



Sakurai Hinako sebagai Kimiie Saori



Koichi Mantaro sebagai Baba



Hiromi sebagai Tajima Tatsuo



Chart




Plot


Todo Shinichi yang berusia 32 tahun bekerja di L.E.D, sebuah perusahaan pengembang sistem komputer besar. Dia adalah pengembang sistem yang berbakat, yang menciptakan software yang bisa menghapus data apapun yang sudah beredar di internet. Shinichi baru saja memperkenalkan tunangannya, Kuramoto Sanae yang akan dinikahinya, pada ibunya, Makiko, dan semuanya berjalan dengan baik.


Suatu hari, tanpa terduga dia dipanggil oleh perusahaan dan dituduh mengambil identitas orang bernama Todo Shinichi. Di perusahaan, setiap 13 digit nomer pribadi terhubung dengan data kependudukan. Disebutkan jika pemilik nomer ini adalah pria dengan nama depan dan belakang yang sama. Tetapi memiliki wajah berbeda, dan beberapa hari silam baru ditangkap karena tuduhan penganiayaan terhadap wanita. Shinichi diminta untuk tinggal di rumah, karena dia tidak teridentifikasi. Saat dia bicara dengan temannya saat di universitas, Osanai Tamotsu—yang bekerja di kementerian Komunikasi—dia diberi tahu kalau data yang menunjukkan keberadaannya tidak ditemukan di manapun.


Untuk mencari tahu kasus ini, Shinchi pergi ke Niigata, dimana Shinichi palsu ditangkap. Tempat itu juga tempatnya dulu saat masih di universitas. Dengan bantuan temannya Nagasaki Haruka, Saito Hirosi dan yang lain, Shinichi tahu kalau informasi pribadinya telah di-hack. Dia adalah korban pencurian informasi pribadi. Dengan software yang dikembangkannya, dia berhasil menemukan nama dan data dari Shinichi palsu. Percaya diri dengan bukti yang didapatnya, Shinichi meninggalkan Niigata dan merayakannya dengan Osanai di bar yang dimiliki oleh Kusaki Eiji. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu kalau situasi lebih buruk sudah menunggunya.


Ini kesalahan sistem di negara? Atau ini perbuatan seseorang? Shinichi harus berjuang untuk mendapatkan identitasnya kembali melawan musuh tak tampak dan penghianatan teman yang dipercayainya. Dia juga dicurigai oleh orang-orang sekitarnya hingga banyak insiden misterius terjadi.


Cr. All English text from www.jdramas.wordpress.com


Kelana hanya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia


Posting at www.elangkelana.net


Kelana’s note :


NTV lagi guys ternyata. Ya ampun, kenapa Na selalu ‘terjebak’ sama drama suspense’nya NTV terus ya. Bukan berarti drama tv lain nggak bagus ya, Cuma kok ya kebetulan selalu gini. Nggak ada niat harus nonton NTV juga sih. Cuma ya ... pas aja. Duh si Na ribet banget sih.


Btw, Na tertarik buat sinopsis dramanya nih. Om Tatsuya Fujiwara emang juwara-nya kalau peran beginian. Dari peran baik sampai peran jahat super, dia selalu berhasil memerankannya dengan baik. Na selalu suka dengan akting si om satu ini, keren abis lah. Dia kalau akting total banget. Bisa rasanya pengen meluk, bahkan bisa bikin yang nonton pengen mukul tu wajah saking keselnya. Bisa banget.


Aaaaah di sini perannya dari ‘pelarian’ yang dikejar-kejar orang. (lalu baper, inget perannya di Death Note. Di endingnya death note, dia akhirnya mati dibunuh malaikat kematiannya sendiri. Tapi rasanya kok pengen meluk gitu. Duh )

Bening Pertiwi 14.36.00
Read more ...