SINOPSIS dorama I'm Your Destiny episode 01 part 1. Halo, Kelana kembali dengan sinopsis baru nih. Kali ini reunian-nya duo Nobuta wa Produce, bang Kamenazi Kazuya a.k Kame yang jadi Shuji sama bang Yamashita Tomohisa a.k Yamapi yang jadi Akira. Sayang, ceweknya bukan teh Nobuta a.k Horikita Maki. Tapi well, senang aja liat mereka maen drama bareng lagi kayak gini. Oh ya, satu lagi. Kelana sengaja menggunakan judul versi inggrisnya ya, untuk drama ini. Biar lebih simpel dan mudah dicari aja sih. Selamat membaca ^_^



Beethoven meninggalkan banyak sekali instrumen musik terkenal. Tak perlu dikatakan lagi, dia adalah orang yang hebat. Tapi aku bertanya-tanya apakah tidak ada orang lain yang layak dikagumi, yang seharusnya tidak kita lupakan. Seperti orang-orang yang membawa Beethoven ke dunia ini, orang tuanya. Jika orang tuanya tidak pernah bertemu, laki - laki yang dikenal sebagai Beethoven tidak akan pernah terlahir. Jika orang tua mereka tidak jatuh cinta, Edison, Einstein dan Bill Gates tidak akan pernah ada. Jika memang begitu, Aku ingin tahu seperti apa dunia kita sekarang ini?


Jika kita mempertimbangkan masa depan yang jauh, ini adalah pertemuan yang mempengaruhi nasib bumi. Ini dari hal-hal sepele kehidupan sehari-hari tidak diragukan lagi banyak hal dimulai.



“Nama saya Masaki Makoto dan aku akan bergabung dengan kalian mulai hari ini,” ujar seorang pria muda yang baru datang. Dia Masaki Makoto. Karyawan yang baru saja dipindahkan ke cabang Tokyo. Usia nyaris 30 tahun, dan tidak pernah beruntung soal hubungan dengan wanita. “Aku sudah bersama perusahaan selama 7 tahun, berbasis di cabang Shizuoka. Aku akan melakukan yang terbaik dan berharap bisa bekerja dengan kalian semua.”


Para karyawan itu menyambut gembira anggota baru mereka, Makoto. Ternyata di sana sudah lebih dulu ada juga kawan Makoto, si pria rambut cepak. Makoto memerhatikan karyawan lain di sekitarnya. Ada si bos yang sangat peduli dengan hal-hal kecil, dan yang lain tetapi tidak ada yang istimewa.


“Masaki-San, bisakah kamu minum alkohol?” tanya si karyawan wanita.


Makoto tidak yakin, “Ah, yah aku suka minum tapi tidak terlalu bisa minum banyak.”


“Hari ini adalah pesta penyambutanmu,” ujar si karyawan wanita lagi.


“Hah? aku tidak tau apa-apa tentang ini ?!” protes Makoto.


Si karyawan wanita kesal pada pria rambut cepak. Ia mengira kalau Makoto sudah diberitahu sebelumnya. Si karyawan wanita ini pun memerkenalkan dirinya sebagai Midori, satu-satunya karyawan wanita di cabang mereka itu. Midori lalu menunjukkan meja tempat Makoto bekerja dan memberikannya juga kunci laci dan lemari mejanya.


Karena meja kerjanya tepat di samping jendela, Makoto bebas melihat ke arah luar. Sejak masuk perusahaan, nol keterlambatan dan absen. Dan nol keberuntungan dengan wanita.



Sementara itu, di kantor sebelah seorang wanita berambut pendek tengah melakukan presentasi. Namanya Kogetsu Haruko. Usianya hampir 30 tahun, dan selalu tidak beruntung dengan laki-laki. Sangat sensitif dengan kata ‘menikah’.


“Dalam tindak lanjut dari survei tersebut, Respon dari lima tahun yang lalu yang dikirim ke peserta mengenai pernyataan 'Saya tidak terlalu tertarik dengan pernikahan' Mereka yang sudah menikah sekitar 10%. Sekitar 30% memiliki pasangan dan 60% tanpa pasangan. Grafik berikutnya menunjukkan ... “ Makoto melakukan presentasi dengan lancar.


Sementara Haruko melakukan presentasi soal ‘pernikahan’ dengan serius, rekan-rekan kerjanya justru membercandainya. Dan hal ini benar-benar membuat Haruko kesal.



“Hari ini kau bisa minum sendiri. Kau baik-baik saja jika pergi minum sendiri kan?” tolak Haruko dengan bosan.


“Hanya untuk hari ini, tolong. Aku punya sesuatu yang perlu dibicarakan,” pinta si cantik Yotsuya Mie pada Haruko.


“Kau bilang begitu tapi kau tidak pernah mendengar apa yang kukatakan,” keluh Haruko.


“Aku akan mendengarkan. Baiklah, habis itu aku pasti akan langsung pulang,” bujuk Mie lagi.


Haruko akhirnya melunak, “Kita lihat saja nanti.”


Tahu maksud ucapan Haruko, Mie langsung sumringah. Ia beranjak pergi tanpa menunggu ucapan lain dari bibir Haruko.



“Apa maksudmu dengan, 'nol keberuntungan dengan wanita?'” Midori mewawancarai Makoto seperti reporter.


Malam itu mereka melakukan pesta penyambutan Makoto sebagai karyawan baru. Dan kawan Makoto yang berambut cepak sudah lebih dulu cerita soal Makoto yang seringkali gagal kencan dan selalu tidak beruntung soal wanita. Pacar pertamanya sejak bekerja, mengalami kenaikan berat badan derastis. Pacar kedua Makoto usil dan suka mengambil uang di dompet Makoto.


“Aku bukan tipe yang menilai perempuan dari penampilannya,” elak Makoto.


Rekan-rekannya sok memberikan nasehat secara bergantian pada Makoto soal hubungan. Tapi tidak ada yang benar-benar didengarkan oleh Makoto. Mereka bahkan meminta Midori untuk memperkenalkan Makoto dengan kawan wanitanya.


“Aku punya pacar,” pengakuan Makoto membuat kaget rekan-rekannya yang lain. Mereka penasaran apakah kali ini pacar Makoto ‘wajar’, dan meminta Makoto menunjukkan fotonya. Makoto pun menurut. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan fotonya bersama wanita itu. “Ketika aku bertemu dengannya, aku berpikir bahwa dia benar-benar yang ditakdirkan.”


“Barusan kau bilang tidak melihat perempuan dari penampilannya,” komentar sang bos.


“Dia tiba-tiba mau kepadaku, Dia pikir aku baik,” aku Makoto.


Suasana jadi lebih riuh. Mereka masih tidak habis pikir, Makoto yang tadi sedang dibully habis-habisan karena tidak beruntung dengan wanita, ternyata malah sudah punya pacar lagi yang cantik.



Sementara itu, di sebelah ternyata ada Haruko dan Mie yang tengah minum bersama. Mie cerita soal kekasihnya yang terjadi menduakan dirinya. Dan dia adalah selingkuhan sang kekasih atau kekasih kedua.


“Tapi aku benar-benar menyukainya. Jadi aku memberinya peringatan dan aku bilang kepadanya bahwa aku akan bertahan menjadi yang 2, tapi sebaiknya dia tidak membuatku menjadi yang 3,” aku Mie.


“Apa yang kau katakan !? Putus dengan dia sekarang juga!” komentar Haruko.


“Kenapa?”


“Apakah kau pikir kita punya waktu untuk dibuang? Kita hampir 30 tahu!” ujar Haruko.


“Belum 30 kan,” elak Mie cepat.


“Jika Kau membuang waktu untuk urusan cinta tanpa tujuan kau tidak akan bisa mendapatkannya kembali nanti,” Haruko mencoba menasihati temannya ini.


Obrolan mereka terus berlanjut. Dan seperti biasa, seperti yang sudah ditebak oleh Haruko, Mie tetap tidak mau mendengarkannya. Mie masih asyik saja main-main soal cinta.


“Itu karena kau hanya melihat kesalahan orang. Jadi pilihan pasangan Kau secara bertahap menyempit,” ujar Mie pula.


“Ada baiknya memiliki pilihan sempit, jadi bisa membuat pilihan yang lebih tepat. Kau pasti kurang serius mengingat pasangan selanjutnya mungkin yang terakhir buatmu,” Haruko tidak mau kalah.


Pemilik pub itu datang lagi dan membawakan minuman baru untuk mereka. Ia minta maaf pada dua wanita ini, kalau malam itu sangat bising, karena pengunjung pub sedang ramai. Haruko bertanya pada si pemilik pub, Ootani Shouhei-san, kapan dia menikah. Ootani-san mengaku ia menikah agak terlambat, di usia 30tahunan. Karena teman-temannya rata-rata menikah di usia 20-an.


Haruko mengambil gelasnya dan kembali minum setelah mendengar pengakuan Ootani-san ini. Kalau Ootani-san yang menikah di usia 30-an saja disebut terlambat, bagaimana dengan dirinya?



Hari itu, Makoto libur. Ia bersih-bersih dan beres-beres rumahnya. Makoto melirik foto di ponselnya. Rupanya pacarnya yang cantik akan datang hari itu. Makoto juga sudah memersiapkan dua gelas anggur di meja


Setelah selesai bersih-bersih, Makoto keluar dan belanja. Ia melihat-lihat rak berisi anggur. Makoto mengambil anggur harga murah. Tapi, ia kemudian berbalik lagi, mengembalikan anggur tadi dan langsung saja mengambil botol anggur lain yang berharga mahal. Makoto tampak sangat senang hari itu.



Makoto pulang ke rumahnya. Dan betapa kagetnya Makoto saat ia melihat ada seseorang duduk di kursinya. Padahal ia yakin tadi sudah mengunci pintu dengan benar.


“Kamu siapa! apa yang kamu lakukan di sini?”


“Wanita yang kau takdirkan tidak akan datang. Sayang sekali kau telah ditipu,” ujar pria misterius itu. Ia pun mengambil remote dan menyalakan tv. Di sana ada berita tentang penangkapan seorang wanita dengan tuduhan penipuan kekasih. Dan wanita itu ... kekasih Makoto.


“Kau bohong, dia bukan wanita seperti itu!” elak Makoto, tidak percaya.


“Jika kau mau, aku bisa menceritakan laki-laki sebelumnya yang dia tipu,” ujar si pria misterius.


Makoto pun tidak bisa mengelak lagi. Ia lemas dan terduduk di lantai rumahnya, “Kenapa ini selalu terjadi kepadaku? Mengapa, hanya wanita aneh yang mendekatiku. Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk? Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk untuk membuat wanita menyimpan dendam padaku, di kehidupan sebelumnya? Apakah aku melakukan sesuatu yang mengerikan?”



“Apa kau ingin aku memberitahumu, Mengapa kau memiliki nasib buruk seperti itu dengan wanita. Itu karena ada seseorang yang benar-benar ditakdirkan untukmu. Jadi takdir menghalangimu. Itu membuat kau kembali ke jalan yang benar.”


Makoto makin mengkeret karena rasa sedihnya. Si pria misterius ini pun jadi khawatir.


“Ah... Aku minta maaf, kita baru saja bertemu. Karena, perkataan tuan detektif seperti itu kepadaku Aku rasa aku tidak akan membuang hidupku terlebih dahulu,” ujar Makoto sambil duduk di depan pria misterius itu.


“Detektif?” si misterius heran. “Apa kau pikir detektif akan masuk kerumah korban tanpa izin? Lagipula aku masih memakai sepatu.”


“Ah, tolong lepas!” komentar Makoto spontan.


“Tidak apa-apa ini bakal hilang,” elak si pria misterius dengan cepat.


“Apa! siapa sebenarnya kau?” Makoto mulai emosi.


“Kupikir kau bisa tahu dari situasi dan atmosfer.”


“Tidak tidak... aku tidak tahu. Beritahu aku,” pinta Makoto akhirnya.


“Ya, ya, ok, ok... ini dia!” ada latar cahaya di belakang si pria misterius. “Ini dia... Tada! Aku GOD. Apa kau dengar? aku GOD. G.O.D disini!” diejanya kata-kata itu.


Merasa terancam dan tidak percaya, Makoto pun meraih pisau di dekatnya lalu mengarahkannya pada pria misterius itu, “Jika kau terus berkeliaran, Aku panggil polisi!”


Tapi si pria misterius sama sekali tidak takut, “Jangan ragu, silakan.”


Makoto pun berniat mengambil ponsel dari sakunya, tapi ternyata yang terambil justru selembar foto.



“Perempuan ini adalah takdirmu,” ujar si pria misterius lagi.


“Tidak, bukan itu. Darimana foto ini tiba-tiba ada?” Makoto tidak habis pikir.


Tapi si misterius itu tidak peduli dengan ucapan Makoto. Ia justru meneruskan kalimatnya, “Kogetsu Haruko 29 tahun. Jika kau tidak menikahinya di akhir tahun dan memiliki anak tahun depan planet ini akan dilanda bencana!” ancamnya pula.


“Ah... aku mengerti. Kau pesulap! benarkan!” Makoto masih saja mengelak.


“Dengarkan aku. Apa yang kukatakan itu sangat penting! Aku memberitahumu sesuatu yang sangat serius. Apakah tidak apa-apa jika bumi hancur karena kau? Anakmu akan menyelamatkan dunia dalam 30 tahun dari sekarang.”


“Apa yang sedang kau bicarakan?” Makoto benar-benar tidak mengerti dengan ucapan pria ini.


“Sebuah meteor yang mendekati bumi akan jatuh. Dia akan menjadi pemenang hadiah nobel perdamaian dan hadiah fisika. Apa yang dikenal sebagai penyelamat dunia.”


“Anakku dan perempuan ini?” Makoto bingung.


“Aku sedang berbicara tentang ketika dua bebek menikah seekor angsa ajaib akan lahir,” sebuah perumpamaan tidak lucu dari si pria misterius.


“Apa kamu pikir siapapun akan percaya cerita konyol seperti itu? Kau pikir aku mudah tertipu kan, Kau main-main denganku!” ancam Makoto lagi.


“Yah, mungkin aku bermain-main sedikit. Tapi aku tidak menipumu. Soalnya aku GOD!”


“Jika, yang kau katakan, Dia dan aku ditakdirkan untuk bersama bahkan jika kau meninggalkan kita, kita akan berakhir bersama? Itulah takdir, bukan?!” tantang Makoto.


Si pria misterius itu menghela nafas, “Kau adalah paling ceroboh menentang kekuatan takdir yang kuat. Jadi aku datang dengan beberapa nasihat.”


“Pokoknya, biarpun aku percaya, Aku tiba-tiba mendekati seseorang yang aku tidak tahu dan mulai berbicara tentang takdir ...” Makoto ragu.


“Dia duduk dibelakangmu,” ujar si pria misterius itu.


Makoto kaget dan nyaris terjengkang, berpikir kalau yang diucapkan pria itu benar. Tapi di belakangnya tidak ada siapa-siapa.


“Aku berbicara tentang tempat kerja barumu. Kau akan takut jika dia tiba-tiba muncul di belakangmu, kan?” tantang si pria misterius itu pula.


Tapi Makoto terus sangat mengelak. “Di belakang mejaku ada tembok, Jadi tidak ada yang duduk di belakangku.”


“Di sisi lain dari dinding. Tidak bisakah kamu melihat takdir itu memberikan kalian dorongan? Aku serahkan masa depan planet ini padamu.”


Makoto memandangi foto di tangannya itu. Baru saja ia akan bicara lagi, tapi ternyata pria misterius tadi sudah menghilang dari hadapannya. “Dia takdirku?”



Makoto sudah berangkat ke kantor seperti biasa. Ia meraba dinding di belakang mejanya, masih memikirkan soal wanita dalam foto kemarin. Saat itu rekan-rekannya datang. Mereka membawakan koran yang berisi berita soal wanita (mantan) kekasih Makoto, yang kemarin tertangkap karena penipuan.


“Keberuntunganmu dengan wanita sungguh ajaib. Siapa sangka, Dia akan menjadi penjahat.”


Tapi Makoto sudah tidak mau ambil pusing lagi soal wanita itu. Ia justru penasaran dengan kantor sebelah. Menurut rekannya ini, kantor sebelah adalah perusahaan pemasaran/iklan. Mereka melakukan riset dan membuat strategi pemasaran produk baru.


“Apakah mereka menggunakan air kita?” tanya Makoto.


“Kami sudah mencoba tapi tidak ada gunanya.” Rekan Makoto ini bicara perlahan, “Bos kita dan mereka...bertarung seperti kucing dan anjing.”


“Begitu. Yah, mungkin tidak ada gunanya tapi aku akan mencoba,” Makoto tetap bersikukuh.



Setelah memakai jaketnya, Makoto pun menuju kantor sebelah. Dia ditemui oleh Mie yang mengatakan kalau mereka tidak membeli air dari tempat Makoto bekerja. Makoto sekilas melirik ke arah ‘belakang’ meja kerjanya, di sisi lain dinding. Dan benar saja, ada wanita dalam foto kemarin, yang duduk di sana tengah bekerja. Bos perusahaan pemasaran itu pun memanggil Makoto.


“Orang-orang sering datang kesini dengan itu. Saya percaya sudah sangat jelas mengenai hal ini. Kami sudah pasti tidak akan menggunakan produk anda,” ujar si bos wanita saat Makoto menyodorkan brosurnya.


Makoto pun menarik kembali brosur itu. “Aku baru saja pindah ke kantor ini kemarin. Aku minta maaf. Ah, ngomong-ngomong apa ada sesuatu yang kurang dengan produk kami? Aku akan sangat tertarik jika mengetahuinya. Bagaimanapun, perusahaan kita berdampingan aku merasa kita saling terhubung. Kita saling bertemu setiap hari, saya merasa seperti kita memiliki sebuah hubungan. Apa aku salah?” Makoto menebar umpan.


“Aku juga berpikir seperti itu,” ujar si bos wanita tadi. “Tapi aku sama sekali tidak mengerti perasaan dari perusahaan sebelah.”


“Tolong beritahu saya mengapa begitu. Kumohon!” pinta Makoto. Rupanya umpannya kali ini mengenai sasaran.



Makoto kembali ke kantornya. Dan ternyata ... ia mendapatkan kontrak dari kantor sebelah, kalau mereka akan mencoba produk air selama satu bulan. Tentu ini membuat sang bos dan rekan-rekannya yang lain kaget luar biasa. Mereka penasaran apa yang dikatakan oleh Makoto sehingga kantor sebelah setuju. Salah satu rekannya bahkan mulai berpikir, kalau bos wanita kantor sebelah yang aneh itulah yang tertarik pada Makoto.


“Apa kau tahu kenapa dia melihatmu sebagai musuh? Itu dia masalahnya.” Tanya Makoto pada bosnya. “Sepertinya kau menutup lift ketika ada dia.”


“Heh? Aku?” sang bos bingung.


“Dia mengatakan padaku "dia pastinya telah melihatku, tapi dia terus menekan tombol tutup." Dua kali.” Lanjut Makoto.


Sang bos pun ingat saat itu, “Waktu itu aku sedang terburu-buru. Jepang sedang bertanding,” sesalnya kemudian.


Makoto pun dipuji oleh rekan-rekannya, karena baru dua hari bekerja sudah mendapatkan kontrak dari kantor sebelah. Tapi Makoto tetap waspada, karena ini belum kontrak pasti.



Makoto pulang ke rumahnya. Dan betapa kagetnya dia karena GOD si pria misterius sudah ada di sana. Makoto jelas mencak-mencak marah dikageti seperti itu.


“Seriuslah, maukah kau berhenti datang kesini tanpa diundang?” pinta Makoto.


“Baiklah, dari sekarang aku akan menelepon lewat interkom lalu datang.”


“Bukan itu masalahnya, dan lepas sepatumu!”


“Sudah kubilang, akan hilang. Kau dipuji di tempat kerja? Kenapa kau tidak mendekatinya? Kau memastikan dia duduk di belakangmu kan?” cecar pria itu.


“Ah... asal kau tahu, itu bukan berarti aku percaya semua itu,” elak Makoto.


“Tidakkah kau mengingat sesuatu ketika kau berada didekatnya? Dia adalah tangan perempuan pertama yang kau pegang, selain ibumu.”


Makoto jelas tidak percaya. Pria itu mengambil album milik Makoto dan menunjukkan foto liburannya di pantai saat berusia 5 tahun. Saat itu Makoto main membuat istana pasir dengan seorang gadis kecil. Mereka pun membuang lubang di bawahanya dan menggali, dan tangan mereka pun bersentuhan.


“Jadi, dia adalah cinta pertamamu,” ujar pria itu pula.


Pria itu pun mengambil pensil di meja kerja Makoto. Makoto mengaku itu ia beli sendiri. Tapi ternyata itu adalah pensil yang diberikan oleh seorang siswa yang duduk di belakangnya, karena Makoto tidak membawa pensil saat ujian masuk universitas. Dan siswa itu adalah Haruko. Mereka masuk di kampus yang sama, tetapi tidak pernah berinteraksi. Nomer ujian mereka pun urut, 3340 dan 3341.


Pria misterius itu pun menunjukkan bukti lain. Ada satu foto saat Makoto datang ke kuil untuk berdoa di tahun baru, ternyata wanita itu, Haruko juga ada di sana, dan terfoto. Saat berdoa, Makoto tidak sengaja terkena lemparan koin yang ternyata koin milik Haruko.


“Dia berharap untuk bertemu seseorang dan menikah,” ujar pria itu pula. “Dia menulis harapannya di papan dan meninggalkannya di sana. Kau tidak menyadarinya sama sekali.” Makoto pun dimarahi lagi, karena justru membuang-buang koin keberuntungan itu.


“Boleh aku berterus terang denganmu Sebenarnya dia adalah tipeku,” aku Makoto kemudian.


“Tentu saja. Syukurlah. Baguskan!”


“Jika nasibku, bukan tipeku, Aku pikir aku akan sedih. Tapi bersamanya, kurasa tidak apa-apa,” Makoto mulai melunak.


“Makanya, besok kau harus menemuinya.”


“Tapi...Aku rasa akan lebih baik jika mengambil waktu yangbenar, Dengan hormat dan hati-hati mendekatinya,” Makoto menyusun strategi.


“Apakah kau sudah lupa? Jika kau tidak bersamanya di akhir tahun bumi akan hancur. Perlu kau tahu, ini bukanlah permainan,” ujar si pria itu, serius. Ia pun kemudian menghilang.



Haruko juga baru saja pulang. Saat itu ibunya tengah memersiapkan makan malam. Haruko pun memberikan pesanan ayahnya. Dan seperti biasa, kedua orang tua Haruko itu bertengkar hal sepele tidak perlu.


“Kudengar Kaori-chan di sebelah sudah menikah,” pancing ibu Haruko. Ia ingin tahu soal pasangan Haruko. Tapi sepertinya Haruko tetap saja cuek. “Kau bisa membawa pulang pacar,” ujar ibu Haruko akhirnya.


“Jika punya, aku akan bawa,” Haruko buru-buru pergi untuk mandi menghindari pertanyaan tidak ada habisnya satu itu. (sumprit ya, ini pertanyaan paling ngeselin sepanjang masa. Yakali, kalau satu pertanyaan ini sudah terjawab, dikiranya pertanyaan akan selesai? Nggak! Karena pertanyaan2 lain akan segera menyusul kemudian. Jangan tanya cem gini, kecuali situ mo ditanya ‘kapan mati?! Jelas. Elaaah si Kelana malah curhat)


Ayah Haruko pun menegur istrinya soal pertanyaan tadi. Dan seperti tipikal orang tua lainnya, mereka selalu ribut soal jodoh anaknya.


Haruko bersiap mandi. Tapi ia terhenti sebentar saat menemukan ada selembar rambut putih di kepalanya.



“Sebentar lagi meteor akan jatuh. Semuanya, selamat tinggal!” ujar si penyiar berita.


Tampak seorang pria tua tengah memerhatikan siaran tv itu. Ia menjadi ketakutan saat gedoran di pintunya makin keras. Kenapa kau tidak menikahinya? Kau bilang dia adalah takdirmu! Ini semua salahmu. Masaki Makoto, kau didalam kan. Ini salahmu! Dan setelahnya sebuah sinar terang makin mendekat. Meteor jatuh ke bumi, tepat di kamar Makoto.


Ledakan meteor membangunkan Makoto. Ternyata ia hanya bermimpi soal meteor yang jatuh itu.



Setelah bersiap, Makoto berangkat bekerja seperti biasa. Ia mengantarkan air mineral ke kantor sebelah. Di sana ia sudah disambut sang bos wanita. Makoto melirik sekilas ke meja Haruko. Wanita itu tidak ada di mejanya.


Kemana Haruko? Rupanya ia ada di ruangan lain, tengah melakukan presentasi untuk proyek mereka berikutnya.



Makoto melanjutkan pekerjaannya. Ia menawarkan produk air mineral mereka ke tempat lain. Ada beragam respon orang terhadap tawaran itu. Ada yang tidak peduli soal air yang digunakan, karena yang mereka nikmati adalah tehnya. Hingga seorang wanita yang merasa tidak adil harus membeli air mineral, padahal udara dan sinar matahari bisa dinikmati secara gratis.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di I'm Your Destiny episode 01 part 2.


Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :


Yatta! Sinopsis baru nih. Dan ... ada bang Kame sama bang Yamapi. Aiiiih ... . Sebenarnya perjuangan juga untuk menyelesaikan bagian pertama sinopsis ini #ehe. Tapi akhirnya selesai juga. Semoga Na bisa terus konsisten nulis ya. Selamat membaca ^_^


 
Bening Pertiwi 13.03.00
Read more ...

Percaya takdir? Mungkin reuni dua cogan ini juga salah satu takdir keren yang nggak boleh dilewatkan. Yup, yang pernah nonton atau pernah baca sinopsis-nya, pasti tahu dong kalau dua cogan ini, Yamashita Tomohisa a.k Yamapi dan Kamenashi Kazuya a.k Kame pernah main dorama bareng 12 tahun lalu, judulnya Nobita wa Produce. Btw, Na juga nulis sinopsisnya lho. Nah, kali ini mereka main drama barenga lagi. Ok, kenalan dulu dengan salah satu dorama (calon) keren nih.



 


Boku, Unmei no Hito desu a.k I’m Your Destiny


Penulis naskah : Kaneko Shigeki (Sekai Ichi Muzukashii Koi, Kyou wa Kaisha Yasumimasu)


Tayang : pukul 22.00 mulai Sabtu, 15 April 2017


Jaringan TV : NTV


Website resmi : www.ntv.co.jp/boku-unmei



Sinopsis :


Masaki Makoto yang berusia 29 tahun dipindahkan dari perusahaan di Shizuoka ke Tokyo. Dia tidak beruntung dengan wanita dan kesulitan kencan, hinga selalu putus. Suatu hari, pria misterius yang menyatakan dirinya ‘god’ a.k Kami-sama, tiba-tiba muncul di depan Makoto. Dia mengatakan pada Makoto, ‘Aku khawatir kau ditipu’, merujuk pada wanita yang tengah dikencaninya sekarang. Makoto jelas marah, tapi si pria misterius ini menyalakan TV. Di sana ada berita tentang penangkapan seorang wanita karena melakukan penipuan, wanita ini adalah kekasih Makoto. Makoto pun menyesali nasib buruknya.


Si pria misterius tadi lalu mengatakan, ‘Itu karena kau punya belahan jiwa yang sebenarnya. Kau belum menyadarinya, tapi hanya dinding yang memisahkan kalian dan kau harus jatuh cinta.’ Pria itu lalu menunjukkan foto wanita bernama Kogetsu Haruko. Tapi Makoto tidak mengenal wanita tadi. Si pria misterius mengatakan, meski Makoto tidak menyadarinya, tapi mereka pernah beberapa kali bertemu—di pantai saat Makoto berusia 5 tahun, di tempat ujian masuk universitas, di kuil saat kunjungan tahun baru. Dan sekarang wanita itu bekerja di kantor yang ada di sebelah kantor Makoto. Dan mereka masih tidak saling mengenal ataupun tahu nama satu sama lain.


Kogetsu Haruko, nyaris 30 tahun dan tidak beruntung soal pria. Dia berharap punya kekasih yang bertanggungjawab dan berpikir, ‘Ayo buat orang berikutnya adalah cinta terakhir’.


Makoto skeptis soal takdirnya, yang dikatakan oleh si pria misterius tadi. Hari berikutnya, Makoto ternyata naik lift yang sama dengan Haruko. Tapi, dia merusak pertemuan pertama mereka dengan ‘Aku adalah pria takdirmu’. Tapi menurut Haruko, pengakuan itu menjijikan dan menolaknya. Itulah awal kisah cinta mereka dari pertemuan bencana. Setelah ini, Makoto masih terus berusaha meyakinkan Haruko kalau ia adalah takdirnya.



Pemeran


Kamenashi Kazuya sebagai Masaki Makoto


Karyawan perusahaan yang menjual air kemasan. Kisah cinta masa lalunya kacau tapi berubah derastis setelah bertemu pria misterius yang mengaku sebagai ‘god’. Dia terkesan dengan kata ‘god’ dan mulai memperjuangkan wanita yang jadi takdirnya.


Kimura Fumino sebagai Kogetsu Haruko


Dia bekerja di kantor yang ada di sebelah kantor Masaki Makoto. Dia orang yang realistis, bersikap setelah berpikir. Sekarang dia nyaris 30 tahun dan dia mulai waspada dengan kata’pernikahan’.


Nanao sebagai Yotsuya Mie


Teman baik Kogetsu Haruko, dan teman minum yang sering berbagi senang dan sedih. Dia menikmati hidup bebasnya dan punya banyak hobi. Meski dia selalu mengatakan apa yang dipikirkannya, dia tidak bisa membenci dan bisa mengatasi masalah jarak dalam hubungan.


Tanabe Seiichi sebagai Karasuda Shokichi


Kepala departemen tempat Makoto bekerja. Dia adalah bos luar biasa yang selalu mengawasi segala sesuatu di sekelilingnya bahkan hal-hal yang tidak disadari orang lain. Dan akhirnya, dia terlibat dalam kisah cinta Makoto.


Yamashita Tomohisa sebagai Pria Misterius ‘god’


Pria yang mengaku dirinya sebagai ‘god’ dan muncul tiba-tiba di depan Masaki Makoto. Dia meyakinkan Makoto kalau Kogetsu Haruko adalah wanita yang ditakdirkan untuk Makoto dan cinta itu sangat penting untuk dunia. Meski dia terlibat dalam kisah cinta Makoto, masih belum jelas tujuan dia sebenarnya.


Cr. All English text from www.jdramas.wordpress.com


Kelana hanya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia


Posting at www.elangkelana.net



Kelana’s note :


Mimpi apa, bisa lihat dua cogan ini ada di satu drama. Ya ... sayangnya sih, nggak ada mbak Nobuta a.k Horikita Maki yang melengkapi mereka. Meski ceweknya ganti, tapi tetap asyik disimak kan? Iya dong!!!


Kalau Yamapi reuni sama Kame, maka mbak Nanao reuni juga sama mbak Kimura Fumino. Yang Na tahu, mereka pernah main di drama Siren, bareng bang Matsuzaka Toori juga. Tapi, perannya mereka jadi musuh. Nah di sini, eh mereka malah jadi sahabat. (btw, Nanao ini cantik banget sih)


Oh ya, penulis naskah drama ini sama dengan penulis drama Sekai Ichi Muzukashii Koi. Na juga pernah buat sinopsis drama ini. Jadi, memang menjanjikan buat ditonton. Romance-nya nggak terlalu manis—sampai buat diabet—, tapi dapet feelnya #ehe. Yup, setelah nonton dua episode pertama, drama ini cukup menjanjikan. Kimura Fumino dengan rambut pendek cukup manis juga.


Oh ya, peran mas Yamapi di sini kan semacam dewa cinta ya? Atau apalah namanya. Entah dia itu semacam ‘dewa’ beneran, atau ‘god’ atau malah ... entah. Belum jelas. Tapi dia bertugas menyatukan Makoto sama Haruko. Nah, Na kan sempat tuh baca-baca di forum, ada yang menyimpulkan kalau si Yamapi ini dari masa depan, dan adalah anak dari Makoto-Haruko. Jadi, dia datang ke masa kini untuk menyatukan kedua orang tuanya? Well, masih belum jelas sih. Jadi, mending nonton aja. Oke?


Btw, Na kecantol lagi sama drama NTV ya? Ya ampun, ini nggak sengaja lho. Serius! Entah nggak tahu gimana, nggak Cuma season ini pun, drama-dramanya NTV selalu nyantol sama Na. Dan kalau di pulau seberang, selera Na juga drama-drama tvN. Nah loh?


Semoga sub-nya lancar #sungkemSamaSubbernim. Dan apakah Na pengen buat sinopsis drama ini? Mungkin. Na masih bingung sih, mau buat yang ini apa yang satu lagi. Ok deh, semoga Na dapat pencerahan, mau buat yang mana. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ^_^

Bening Pertiwi 14.44.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Married as Job episode 11 part 2 end. Duh, maaf ya guys. Bagian terakhir dari sinopsis drama satu ini malah lama. #tjurhat. Tapi ya selamat membaca aja #ehe


Kesepakatan Mikuri dan Hiramasa untuk menjalankan ‘rumah tangga’ sebagai perusahaan bersama ternyata tidak berjalan lancar begitu saja. Ada saja masalah yang terjadi antara keduanya. Mikuri bahkan sempat begitu sedih dan berpikir untuk mundur saja. Kali ini giliran Hiramasa yang akan menarik Mikuri dari persembunyiannya.



Mikuri baru keluar dari kamar mandi saat Hiramasa sudah menunggunya di ruang makan. Rupanya tadi Mikuri mengerjakan pekerjaannya di kamar mandi. Rapat pertanggungjawaban ketiga manajemen bersama perusahaan 303.


Sudah satu minggu Hiramasa dan Mikuri berbagi tugas manajemen rumah. Tapi ternyata situasi tidak berjalan seperti harapan. Mikuri merasa ini sulit. Meski mereka berbagi tugas, kalau ada tugas salah satu yang tidak dibereskan, Mikuri merasa bersalah.


Mikuri melanjutkannya ucapannya, “Soal makanan, Walaupun aku yang bertanggungjawab, Maaf kalau kau tidak merasa puas.”


“Tidak, aku tidak akan menyalahkanmu,” elak Hiramasa cepat.


“Haruskah aku hentikan saja pembagian tugas ini?” usul Mikuri tiba-tiba, “Seperti berbagi rumah, Kita akan melakukan semuanya masing-masing. Bahkan kita akan masak nasi dan bersih-bersih masing-masing.”


“Tapi kalau itu terjadi, Ada kemungkinan tak satupun ruang bersama akan dibersihkan,” potong Hiramasa.


Mikuri menarik napas berat, “ Semua pekerjaan rumahtangga, Aku yang akan mengerjakannya. Tapi itu sukarela. Karena itu hanya bersifat sukarela, Kalau aku merasa, "Ah, aku tidak mau masak nasi hari ini”, Aku tidak akan melakukannya. Kalau aku bilang "Aku tidak mau bersih-bersih", Aku tidak akan bersih-bersih. Karena bersifat sukarela, Kau tidak boleh bilang "Apa tidak ada nasi?" Kau tidak boleh bilang "Ruangannya sangat kotor" Itu karena aku melakukannya dengan sukarela, Itu bukan pekerjaanku.” (Mikuri ini agak keras kepala deh ya)


“Mikuri-san, Arah ceritanya...” Hiramasa makin tidak mengerti maksud Mikuri.


Air mata nyaris mengalir di pipi Mikuri, “Bagaimana kalau kita berhenti sekarang juga? Hiramasa-san, Kau merasa kerepotan, kan? Kalau seperti ini terus. Sebelum kau hidup bersamaku, Gajimu pasti cukup untuk meminta asisten rumahtangga dari agen luar untuk datang seminggu sekali. Kalau kau hidup sendiri. Baik tentang kompensasi pekerjaan ibu rumahtangga atau semacamnya, Tak akan ada yang "kepandaian" mengatakan hal itu padamu. Hiramasa-san, wanita yang akan menerima lamaranmu dengan senang hati, Pasti banyak sekali. Jadi itu hal yang normal. Tidak akan ada yang membuatmu kerepotan.” Mikuri beranjak dari kursinya dan kembali mengurung diri di kamar mandi.



Hiramasa tidak habis pikir dengan ucapan Mikuri ini. Ia beranjak mendekati burung emprit yang kini ada di dalam sangkar. Hiramasa mengingat masa-masa ia masih bersikap begitu tertutup pada Mikuri.


Mikuri-san menutup pintunya. Suatu hari, Mungkin aku masih sama dengan aku yang tertutup. Kalau itu terjadi, Aku.. Tahu cara untuk membukanya.


Lalu saat perlahan-lahan Mikuri mencoba mendekati Hiramasa. Usaha demi usaha yang dilakukan Mikuri hingga akhirnya sekarang Hiramasa tidak lagi menjadi sosok yang sangat tertutup.


Terus dan terus terulang kembali.. Tanpa kenal lelah, Kau terus mengetuknya. Tidak ada orang lain, Dialah Mikuri-san.



Mikuri benar-benar menangis sambil memeluk lututnya di dalam kamar mandi yang sempit. Sementara itu, di luar Hiramasa mendekat dan mengetuk pintu kamar mandi. Hiramasa mengajak Mikuri bicara, tapi juga tidak memaksa Mikuri membuka pintu. Hiramasa akhirnya memilih duduk di depan pintu dan mulai bicara.


“Menghindari dan terus menghindari kerepotan, Kalau aku terus menghindarinya sampai pada batasnya, Berjalan dan makan juga akan jadi merepotkan. Bahkan untuk bernapas, Itu juga akan jadi merepotkan. Bukankah aku akan lebih dekat dengan batas kematian? Untuk bertahan hidup, Itu juga akan jadi merepotkan. Jadi sendirian atau berdua sama saja. Masing-masing punya kerepotan yang berbeda. Jalan yang manapun, Walaupun merepotkan, Bukankah kalau kita bersama, Kita pasti bisa mengatasinya? Kita akan mendiskusikannya, Saat tidak memungkinkan, Kita bisa melakukannya di waktu yang lain. Bahkan kalau ada kecurangan demi kecurangan, Bagaimanapun caranya, Bukankah kita bisa mengatasinya? Bukankah tidak ada yang tidak bisa kita lakukan bersama?”


Hiramasa berhenti bicara. Kepalanya menoleh ke arah pintu yang tetap tertutup. Di dalam, ternyata Mikuri juga mendengarkan ucapan Hiramasa.


Hiramasa kembali melanjutkan kalimatnya, “ Mikuri-san,Walaupun kau sendiri bilang kalau itu bukanlah hal yang normal, Bagiku, Sekarang sudah terlalu jauh. Aku sudah tau sejak lama. Itu bukan masalah yang besar. Kalau orang-orang menghakimi kita, Kita.. Sejak awal memang sudah tidak normal. Sekarang sudah terlalu jauh. Aozora, Aku akan menantikannya dengan senang hati. Selamat malam.” Hiramasa pun beranjak bangun dan pergi.


Saat semuanya tidak berjalan lancar, Seseorang akan menunggu, Seseorang akan percaya, Aku tidak boleh kehilangan arah, Ayo kita bangun lagi, Satu persatu. Ayo kita bangun lagi, Walaupun perlahan-lahan.



Hari bazar di Aozora pun akhirnya tiba. Para pedagang sudah bersiap di stand masing-masing. Keributan hari itu membuktikan kalau para pedagang bersemangat menjajakan dagangan mereka pada tiap pengunjung yang datang.


Tapi sekelompok pedagang pria berlarian mendekati Mikuri. Mereka melaporkan kalau selebaran untuk bazar Aozora ini hilang. Pedagang yang lain mengatakan kalau selebaran itu ditumpuk dan diletakkan di belakang mobil. Dan saat mobil berjalan, selebaran itu pun terbawa angin. Hingga hanya tersisa selembar.


Tidak mau acaranya kacau, Mikuri pun mengambil selebaran yang tinggal satu lembar itu. Ia berniat mengkopi selebaran itu lalu berlari keluar.



Dari arah lain tampak Yuri-san bersama Numata-san datang ke area bazar itu. Mereka berdua menyapa Mikuri dengan riang.


“Maaf Yuri-chan, Aku mau pergi,” sesal Mikuri, karena belum bisa membalas sapaan kedua orang tadi dengan layak. Mikuri pun langsung berlari pergi.


Dari arah lain datang Hiramasa. Dia bertanya soal Hino-san. Dan seperti biasa, anaknya Hino-san mengalami demam jadi ia tidak bisa datang. Saat ditanya oleh Hiramasa, Yuri mengatakan kalau ia tadi bertemu Mikuri. Tapi sepertinya Mikuri sedang terburu-buru, jadi langsung pergi saja.


“Aku berharap bisa berlari seperti Mikuri-san,” komentar Hiramasa.


“Pemikiran macam apa itu?” protes Yuri-san.


“Itulah cinta.” Komentar Numata-san.



Yuri-san dan Numata-san memilih duduk di salah satu area bazar itu.


“Aku jadi sangat ketakutan. Aku lebih berkecil hati dengan usiaku sendiri daripada berkencan. Apakah akan lebih baik kalau kami berteman saja? Aku tidak bisa melakukannya dengan mudah,” curhat Yuri-san.


“Aku juga punya rasa berkecil hati. Karena aku selalu dicampakkan. Aku tidak mengirimkannya pesan kepastian. Aku menghindari dan terus menghindarinya untuk mengulur waktu,” balas Numata-san, dengan curhatnya juga.


“Kita adalah orang dewasa yang tidak berguna. Apa yang bisa kita lindungi?” komentar Yuri-san. Lalu ide itu pun muncul, “Kenapa kau tidak mengirimkan pesan saja? Aku juga akan mengirimkannya. Kalau berakhir dengan hasil menyedihkan, Tolong pungut tulangku,” ujar Yuri-san, yakin.


“Baiklah, pungut juga tulangku,” Numata-san setuju dengan ide Yuri-san ini soal mengirim pesan.



Dua orang bawahan Yuri-san tengah berjalan menuju area bazar juga. Di salah satu sudut jalan, mereka menemukan banyak kertas berserakan. Keduanya pun memutuskan untuk mengambil kertas-kertas itu.


Dari arah lain, tampak Mikuri masih berjalan dengan cepat, “Mesin fotokopinya kehabisan toner, Benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku akan ke tempat lain yang bisa memfotokopi.” Dan Mikuri melihat kedua karyawan tadi, “Selebarannya!” seru Mikuri saat melihat selebaran yang dicarinya ada pada kedua karyawan tadi. “Aku berimakasih pada kalian, bawahan Yuri-chan.” Mikuri lalu pamit pergi.



“Aku juga akan memanggilnya "Yuri-san",” ujar si karyawan wanita.


“Jangan! Itu adalah nama samaranku,” cegah si karyawan pria. Dengan sedikit malu-malu ia pun mengaku, “Aku meminjam nama Tsuciya-san tanpa izin untuk aplikasi gay.”


Si karyawan wanita kaget, “Apa? Kau gay?”


Si karyawan pria mengangguk tapi meminta pada si karyawan wanita untuk merahasiakan hal itu. “Aku tak punya keberanian untuk menunjukkannya. Aku berkenalan dengan seseorang di aplikasi gay, Dia sangat cocok denganku. Walaupun aku yakin dia pasti kerja di sekitar sini, Tapi dia tidak akan pernah menemuiku. Aku yakin dia bilang padaku kalau dia akan mati...” dan pesan itu pun datang. Sebuah pesan gambar, gerbang tempat bazar Aozora, yang meminta si karyawan pria untuk datang.



Mikuri kembali berlari ke area bazar. Ia menyerahkan selebaran tadi dan meminta para pedagang pria untuk segera membagikan selebaran itu secepatnya.


Mikuri masih ngos-ngosan karena berlarian tadi. Ia tengah berusaha mengatur nafasnya kembali saat melihat Hiramasa ada di depan toko milik Yassan.



Tampak Hiramasa tengah melayani pembeli saat Mikuri mendekat. Mikuri menegur Yassan karena justru melamun padahal banyak pembeli yang datang.


Dari arah lain, ternyata datang Hino-san yang langsung menyapa Hiramasa, “Kaget, kan? Anakku demam itu bohong,” aku Hino-san akhirnya.


“Apa kau Hino-san?” tanya Mikuri.


“Mikuri-chan? Akhirnya aku bertemu denganmu.. Aku kira tidak akan bisa bertemu denganmu selamanya,” komentar Hino-san.


Hino-san pun menjabat tangan Mikuri. Tampak ia sangat sumringah. Terutama karena soal ‘takdir terbalik’. Saat ia berencana untuk pergi, ternyata anaknya malah demam. Sekarang sebaliknya, saat ia tidak berencana pergi, ternyata anaknya malah baik-baik saja dan kini ia berada di area bazar Aozora itu.


Dari arah lain, datang juga seorang wanita dengan dua anak di gandengannya. Hino-san memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya, pada Hiramasa dan Mikuri.


“Salam kenal. Aku istrinya Hino.”



Numata-san menyindir Yuri-san yang tidak juga mengirimkan pesannya. Padahal tadi Yuri sendiri yang punya ide itu.


“Berikan padaku, Biar aku saja yang mengirimnya..,” ujar Numata-san dan mereka berdua pun berebut ponsel Yuri.


Dan dari arah lain ternyata datang bartender bersama Kazami-san. Yuri kaget, karena ia bahkan belum mengirim pesannya. Tahu situasinya, bartender tadi lalu menyeret Numata-san menjauh dengan alasan mengajaknya bicara.



Dua bawahan Yuri-san ini akhirnya tiba di komplek bazar Aozora.


“Kau tidak tahu wajahnya?” tanya si karyawan wanita.


“Dia tidak pernah mengganti fotonya. Ciri-cirinya adalah nori senbei berukuran besar. (Nori senbei: Kue beras yang dilapisi nori]” si karyawan pria menunjukkan kua beras yang ada di tangannya.



Yuri-san dan Kazami-san akhirnya punya waktu bicara berdua.


“Dia bilang "Aku bertengkar dengan Yuri-san". Positive monster itu yang mengakuinya sendiri,” cerita Kazami.


“Itu julukan yang hebat. Gadis itu bilang apa?”


Dia adalah wanita 50 tahunan yang beruntung. Aku tidak ingin bertengkar sekali lagi. Lalu dia bilang, Menurutku Onee-san itu menyukaimu, Kazami-san. Kalian berdua orang dewasa yang seperti orang bodoh. Itulah yang dia katakan.”


“Itu sebabnya kau datang?” tanya Yuri-san lagi.


“Bahkan tanpa cerita seperti itu, Setelah aku banyak dicampakkan, Aku tidak bisa menunjukkan wajah ini,” ujar Kazami-san.


“Apa kau datang karena ada peluang berhasil?”


“Sampai di sana, Masih ada harapan,” ujar Kazami lagi.


“Jadi begitu, ya? Kalau tidak ada apapun, Kau tidak bisa bergerak, kan? Orang dewasa memang merepotkan. Saat mencapai usia ini, Kita bisa merasakan suasana dan membuat hubungan bagaimanapun itu. Walaupun kita berkencan satu sama lain secara tidak sengaja, Aku tidak melakukannya.”


“Aku.. Suka padamu, Yuri-san,” potong Kazami-san cepat. “Aku ingin mengatakannya dengan benar.”


“Aku juga suka padamu. Bukan Kazami-kun sebagai keponakanku. Walaupun aku tidak memahami itu sebelumnya, Apakah tidak apa-apa kalau aku mencoba jujur pada perasaanku saat ini? Saat aku tidak bisa melihatmu, Aku merasa kesepian,” Yuri-san akhirnya mengakui semuanya.


Kazami pun menarik Yuri-san dalam pelukannya. Keduanya tersenyum setelah akhirnya jujur pada perasaan masing-masing. Kazami melepaskan pelukannya. Ia menatap serius ke dalam mata Yuri-san. Perlahan wajahnya mendekati wajah Yuri-san.


Tapi tangan Yuri-san menahan Kazami, “Tiba-tiba?”


Kazami tersenyum. Ia pun akhirnya tidak jadi mendaratkan bibirnya ke bibir Yuri. Alih-alih, ia mencium kening Yuri-san dengan sayang.



Hiramasa tengah memilah-milah dan memasukkan sampah ke tong sesuai jenisnya saat Mikuri mendekat.


“Maaf, kau sampai melakukan pekerjaan seperti ini,” ujar Mikuri.


“Tidak apa-apa. Mikuri-san, kau sangat populer, ya?” komentar Hiramasa.


“Untuk bisa datang sampai sejauh ini, Aku telah melalui jalan yang sangat panjang.”


“Kau ingin melakukannya lagi, kan?” tebak Hiramasa.


Mikuri berhenti sebentar, berpikir, “Tergantung kondisinya, ya. Negosiasi adalah hal yang paling penting. Ini adalah sebuah penemuan. Saat aku masih pegawai magang, Aku sering menyarankan ini itu pada atasanku. Entah sepertinya cara ini lebih efisien, Atau kenapa anda tidak melakukannya dengan cara ini? Tapi di sisi lain, Aku tidak ingin melakukan hal seperti itu. Akhirnya dia bilang merasa terganggu, Lalu aku diberhentikan. Aku merasa "kepandaian" ku tidak disukai di manapun aku berada. Di pekerjaan Aozora ini, Aku merasa lebih diterima dengan baik. Mungkin masih ada pekerjaan yang bisa ku lakukan dengan "kepandaian" ku,” curhat Mikuri.


“Kalau kau "pandai", Memangnya kenapa?” ucapan Hiramasa ini membuat Mikuri tertegun. “ Aku mengerti arti dari kata-kata itu. Kalau kau "pandai", Bukankah mungkin rekanmu mengatakannya karena merasa terlihat kecil? Aku tidak pernah melihat Mikuri-san berkecil hati. Aku tidak pernah sekalipun merasa kalau kau "pandai".”


Mikuri terdiam oleh ucapan Hiramasa. Dan tanpa kata-kata, ia langsung menghambur dan memeluk Hiramasa dengan erat.



Hiramasa yang dipeluk seperti itu kaget. Ia ragu harus balas memeluk atau tidak, “Itu.. Mikuri-san? Semua orang di sini, Sedang melihat kita.” Ujar Hiramasa. Dan memang benar, saat itu nyaris sebagian besar orang tengah memerhatikan Mikuri dan Hiramasa berpelukan.


Tapi Mikuri tidak peduli. Ia justru makin erat memeluk Hiramasa, “Terimakasih.”


“Untuk apa kau berterimakasih?” Hiramasa heran.


“Aku sangat menyukaimu,” ujar Mikuri.


Hiramasa pun akhirnya membalas pelukan Mikuri itu. Ia pun balas memeluk Mikuri dengan erat.


Dari semuanya yang mengikat kami. Dari rasa sakit yang tak terlihat ini, Suatu hari nanti pasti terbebaskan. Walaupun terkadang aku menangis, Aku berharap bisa tersenyum.



Semua orang menikmati area bazar itu dengan gembira. Yuri-san dan Kazami-san berpandangan sambil melempar senyum.


Sementara itu, si karyawan pria akhirnya menemukan orang yang dicarinya. Dengan ciri kue beras besar di tangan. Dan orang itu adalah ... Numata-san. Hino-san pun bersenang-senang dengan keluarganya. Bersama istrinya, ia bergantian menyuapi anak-anak mereka. Sementara itu si karyawan wanita pun asyik bicara dengan bartender. Mereka semua menikmati momen santai bersama di area bazar Aozora itu.


Selesai dengan Hiramasa, Mikuri pun bergabung dengan yang lain. Yuri memeluknya dengan erat. Tampak keduanya tengah bergembira dengan kebahagiaan masing-masing.


“Yuri-chan, pasti terjadi sesuatu yang bagus, ya?” pertanyaan Mikuri ini hanya dijawab dengan senyum oleh Yuri-san.



Malamnya...


“Mulai sekarang, apa yang harus kita lakukan?” tanya Mikuri.


“Aku merasa semuanya berjalan baik. Dengan atau tanpa mendaftarkan pernikahan,” ujar Hiramasa.


“Bagaimana kalau aku mencari pekerjaan dengan serius?” ide Mikuri.


“Ini sudah sesuai, Tidak ada pilihan lain kecuali merubah gaya hidup. Pencarian akan terus berlanjut.”


Mikuri punya ide, “Apakah kau mau menghidupkan hari berpelukan lagi? Kalau sibuk, aku cenderung melupakannya. Saat kita bertengkar, Bagaimana seharusnya aku menyentuhmu? Karena aku sangat kehilangan itu.”


Hiramasa setuju dengan ide ini. “Apa aku boleh juga ... “ ucapan Hiramasa menggantung.


Mikuri tersenyum, paham maksud Hiramasa dan mengatakan iya.


“Aku tidak bilang setiap malam, Kalau kau memelukku sebelum tidur, Aku pasti akan melihat mimpi indah,” ujar Mikuri pula.


Hiramasa pun kembali mengusulkan soal mereka perlu pindah rumah. “Kita membutuhkan kamar untuk Mikuri-san, Kamar yang juga bisa ditempati tempat tidur double bed. Mungkin dengan tempat tidur yang berbeda (dengan yang sekarang), Kita bisa tidur lebih nyenyak.” (maksudnya satu ranjang, gitu)


“Itu... Bisa kita negosiasikan,” balas Mikuri. “Aku akan membangunkanmu setiap pagi. Saat itu, Ciuman selamat paginya...”


“Mikuri-san, kalau kau memintanya, Aku akan melakukannya,” ujar Hiramasa pula. (ehem ehem, eh tapi kata temen Na, ena-ena)


“Di hari minggu, Tolong bangunkan aku, Hiramasa-san,” pinta Mikuri pula.


“Setelah itu?” pancing Hiramasa.


“Bisa dinegosiasikan,” ujar Mikuri.


Hiramasa menggeser duduknya. Pelan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mikuri. Dan tanpa canggung, Hiramasa pun mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. Mereka berciuman.



(jadi, tadi mereka berdua sedang membahas rencana masa depan mereka nantinya. Tapi eh tapi, bentuknya malah kayak semacam main game. Jadi, Hiramasa ini melempar dart ke lingkaran yang sudah berisi beberapa partisi dengan rencana masa depan mereka)


Apa yang harus dilakukan di masa depan?


Lemparan pertama tepat mengenai ‘pesta pernikahan’. Hiramasa dan Mikuri saling melirik malu. Tapi mereka akhirnya melangsungkan pesta pernikahan dan pemotretan penuh angin, di atap sebuah gedung. Diantara banyaknya jalan, Kau bisa memilih jalan yang kau inginkan atau tidak bisa memilihnya.


Lemparan dart kedua ternyata tepat pada ... punya banyak anak.


Hiramasa dan Mikuri pun saling menatap dengan malu. Dan dalam imajinasi mereka, keduanya punya lima anak. Dua anak terbesar ada di meja makan tengah duduk sambil bermain. Dua anak lainya lain tengah berlarian keliling rumah, karena dikejar-kejar oleh Hiramasa yang akan memakaikannya pakaian. Sementara Mikuri juga tengah mengganti baju si bungsu. Walau setiap jalan merepotkan dari hari ke hari,


Lemparan dart ketiga ternyata jatuh ke bapak rumah tangga. Mikuri melirik Hiramasa, ragu apakah Hiramasa benar bisa melakukannya atau tidak. Dalam imajinasi mereka, tampak Mikuri yang pergi berangkat bekerja, sementara Hiramasa melepasnya berangkat. Setiap jalan memiliki hari-hari yang indah.


Dan lemparan berikutnya ada pada kata berpisah. Melihat itu, Mikuri dan Hiramasa buru-buru mengelaknya. Mereka tidak berniat untuk berpisah. Bahkan walaupun ada hari untuk melarikan diri, Berikutnya juga tidak kalah jelek, melarikan diri. Hiramasa dan Mikuri juga buru-buru mengelaknya. Carilah jalan yang lain. Lalu kembali lagi. Hari yang baik maupun hari yang buruk.



Mikuri dan Hiramasa tengah beres-beres rumah. Sepertinya mereka benar-benar akan pindah apartemen.


“Hiramasa-san, Gawat! Kemarin adalah hari selasa! Sudah lewat enam jam. Ayo kita simpan saja!” ujar Mikuri.


Tapi Hiramasa tidak setuju, “Ayo kita lakukan!”


Dan keduanya pun akhirnya berpelukan erat. Mikuri tersenyum dalam pelukan Hiramasa. Seperti biasanya sekali lagi, Ayo kita mulai dari hari selasa!


TAMAT


Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :


Yeeeeee .... akhirnya sinopsis ini selesai juga. Maaf ya, minna ...kalau lama selesainya. Banyak yang terjadi dan banyak yang Na lakukan. #ehe.


Tapi semoga setelah ini Na bisa rutin nulis lagi yeeee


Sampai jumpa di sinopsis baru. Eh ya, ada ide nggak, enaknya nulis apa nih buat proyek baru?

Bening Pertiwi 14.18.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Married as Job episode 11 part 1. Lamaran romantis yang sudah dipersiapkan Hiramasa di sebuah restoran mewah ternyata justru menimbulkan malapetaka. Terjadi salah paham (lagi) antara keduanya. Hiramasa yang super logis berusaha menjelaskan dengan angka, tabel dan data seperti biasa. Tapi, Mikuri justru menganggapnya sebagai eksploitasi cinta. Dan sekarang, hubungan mereka kembali merenggang.



Malam itu, situasi benar-benar canggung. Setelah berganti pakaian tidur, Hiramasa bergegas ke kamarnya dan hanya mengatakan selamat malam saja.. Sementara Mikuri masih menyelesaikan membereskan dapur.


Aku sangat senang dilamar oleh orang yang paling ku sukai. Walaupun aku merasa senang, Kenapa aku merasa galau? Kegalauan macam apa ini?



Beberapa hari berlalu.


Tidak seperti hari-hari kemarin, saat Mikuri tidur bersama Hiramasa, kini ia kembali menggelar futonnya di ruang tamu. Setelah mematikan lampu, tidak butuh waktu lama, Mikuri langsung menyusup di balik selimutnya. Tapi Mikuri tidak bisa tidur. Pikirannya masih terus saja mengangkasa.


Hari ini...Hari selasa. Mikuri ingat soal hari pelukan, saat Hiramasa pernah mengatakan padanya, kalau mereka bisa pelukan tidak hanya di hari selasa saja. Tapi, di hari lain pun tidak msalah. Sejak itu, hari berpelukanpun menghilang. Karena kami melakukannya berdasarkan perasaan setiap hari. Kalau perasaan kami menghilang. Bahkan tidak ada pegangan tangan. Tentu saja. Wanita "pandai" sepertiku yang mengacaukan lamaran yang sudah lama ku tunggu. Tentu saja akan diabaikan. Setiap kali aku ingin mengatakannya, Kegalauan yang ku rasakan ini, Aku tidak bisa mengatakannya.. Satu sama lain.


Tidak hanya Mikuri saja yang masih terus berpikir. Dalam diamnya pun, Hiramasa masih memikirkan soal ucapan Mikuri. Hiramasa memandang foto saat mereka makan bersama di liburan, dengan tatapan sedih.



Hiramasa membuka bekal makan siangnya di kantor. Semuanya masih tetap sama dan lengkap seperti biasa. Tapi Hiramasa terus saja memikirkan ucapan Mikuri soal ‘eksploitasi cinta’.


Dia sudah mengatakan hal yang sangat mengejutkan. Kalau di dalam hatinya dia menyukaiku, Aku mengira tentu saja dia akan menerima lamaranku. Sampai kapan aku akan terus egois seperti ini?



Yuri menghabiskan malamnya di bar. Sudah berkali-kali ia curhat pada si bartender soal berita gembiranya, ia diangkat jadi manager. Dan si bartender pun sudah mulai bosan mendengar cerita itu berulang kali. Saat itu Kazami datang, menyelamatkan si bartender yang langsung menyapanya dengan riang.


“Yuri-san, aku sudah dengar kau merayakan kenaikan jabatanmu,” ujar Kazami yang langsung mengambil tempat duduk di sebelah Yuri.


“Sejak tadi, kau sudah menceritakan hal yang sama 10 kali,” si bartender ikut nimbrung.


“Baru 5 kali, kan?” elak Yuri.


“Aku datang untuk membantu mendengarkanmu,” ujar Kazami pada si bartender. Kemudian ia memasan minuman yang biasanya. Kazami kembali beralih pada Yuri, “Selamat karena kau sudah dipromosikan jadi manager.”


“Bagaimana bisa aku merayakannya? Tanggungjawabnya juga bertambah jadi segunung. Saat aku jadi manajer wanita pertama di area metropolitan, Anginnya juga semakin kuat,” curhat Yuri panjang lebar.


“Akhirnya kerja kerasmu sampai saat ini mendapat pengakuan,” komentar Kazami. “Selamat. Traktir aku segelas minuman.”


“Baiklah, yang paling mahal?” tawar Yuri yang diiyakan oleh Kazami. Yuri lalu beralih pada sang bartender, “Yama-san, Hitung totalnya aku akan mentraktir segelas bir untuk Kazami-kun.”


“Total?” Kazami heran.


“Karena besok aku harus bangun lebih pagi, Aku harus pulang. Kazami-kun. Apa hari minggu kau ada waktu?”



Mikuri mendatangi salah satu toko untuk menawarkan acara bazar yang akan diadakan oleh perkumpulan pedagang. Ia pun menyerahkan brosur yang sudah dibuat. Tapi si pemilik toko yang sudah cukup tua, tampak tidak terlalu suka ditanya-tanya oleh Mikuri. Ia meminta Mikuri untuk menjelaskan lagi secara lebih rinci, apa yang harus dilakukannya. Ia enggan membaca brosur yang sudah dipersiapkan oleh Mikuri. Mikuri bahkan dibentak-bentak oleh si pemilik toko. Mikuri serba salah. Ia ingin bekerja cepat supaya upah kecilnya sesuai dengan jam kerjanya, tapi situasinya sulit kalau pedagangnya saja seperti itu.


Selesai dengan tugas tadi, Mikuri mendatangi ketua perkumpulan pedagang. Sekarang gantian ia yang komplain. Di satu sisi, Mikuri ingin melakukan semua pekerjaannya dengan baik. Tetapi karena upahnya yang kecil, Mikuri harus bisa menggunakan waktu seefisien mungkin, agar gajinya sesuai. Sementara tidak semua pedagang di area itu mudah diajak kerja sama. Mikuri jadi serba salah.


Mikuri berjalan pulang sambil melamun. Ah, ini hanya rasa galau. Baik Aozora atau pernikahan juga. Kegalauan ini, Penyebab kegalauan ini ... Mikuri memejamkan mata, berpikir. Hingga ia akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan hatinya.



Malam itu, Mikuri dan Hiramasa makan malam seperti biasa. Tapi setelah makan, Mikuri menahan Hiramasa dan mengajaknya bicara.


Hiramasa mengerti, “Kalau aku terlalu memaksa untuk melakukan hal yang tempo hari...”


Tapi ucapan Hiramasa dipotong oleh Mikuri, “Sudah lama aku memikirkannya. Tentang kompensasi pekerjaan ibu rumah tangga. Aku sudah melihat mereka bekerja dengan upah yang paling kecil.”


“Maaf, pembicaraan ini...” Hiramasa bingung.


“Sekarang aku melakukan kerja sambilan. Area perbelanjaan Yassan meminta bantuanku untuk Aozora (semacam bazar). Dengan upah 930 Yen per jam, Ini adalah upah minimum di Yokohama-shi. Maaf karena aku melakukannya diam-diam. Aku berniat membantu mereka sebentar. Karena di sana hanya ada pria saja, Hiramasa-san pasti membencinya. Maafkan aku,” sesal Mikuri.


Hiramasa memegang gagang kacamatanya, “Itu cukup mengejutkan.”


“Maafkan aku!” Mikuri menunduk minta maaf.


Tapi Hiramasa tidak menunjukkan marah atau kesalnya, ia justru tersenyum, “Karena aku juga diam saat aku dipecat, Kita seri. Lalu ... “


“Aku juga bisa tetap bekerja dengan upah 2000 Yen per jam. Aku pikir ada saatnya aku tidak bisa tetap bertahan dengan upah yang kecil,” lanjut Mikuri.


Hiramasa mulai mengerti arah pembicaraan Mikuri, “Apa kau juga meminta untuk bekerja dengan upah di atas jumlah itu?”


“Ya, Itulah titik kegalauanku. Dengan kata lain, Hal seperti ini.” Mikuri mengambil papan dan spidol. “Sampai sejauh itu.. Biaya hidup ibu rumah tangga = upah tertinggi Aku sudah menemukan rata-ratanya.”


“Aku mengerti keberanianmu untuk menjelaskannya,” puji Hiramasa.


“Kalau kita menikah, Aku akan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Jaminan biaya hidup, Dengan kata lain, Menurutku sama dengan menerima upah minimum. Tapi karena upah minimumnya adalah upah minimum terkecil, Walaupun kau memberiku makan, Aku bisa bekerja diam-diam. Tapi ada batasnya. Tapi itu berarti atasan tidak boleh terlalu mendominasi? Kalau atasannya baik, tingkat stressnya kecil, Aku bisa bekerja tanpa masalah. Walaupun upahnya kecil, Mungkin tidak jadi masalah. Dengan kata lain, Itu tergantung atasannya. Kalau di perusahaan umum, Ada banyak orang dan perpindahan pegawai, Kenaikan jabatan, bonus dll. Ada juga sistem yang mengevaluasi pegawai secara objektif. Tapi dalam kasus pasangan suami-istri, Ini satu lawan satu. Kalau suami tidak melakukan evaluasi, Istri tidak akan dievaluasi oleh siapapun. Dengan kata lain, Kompensasi dari pekerjaan ibu rumah tangga sepenuhnya. Adalah upah pokok ini ditambah.. Evaluasi pegawai (Kasih sayang). Akan disebut seperti itu.” (yaelah neng, masak pernikahan kayak perusahaan gini sih. kkkk ... dasar Mikuri)


“Tapi, kasih sayang tidak bisa diukur,” elak Hiramasa.


“Itu benar. Itu adalah unsur yang sangat tidak stabil. Dengan kemauan atasan, Kapanpun itu bisa saja jadi nol . Dalam kasus itu, Upah minimum akan terus berlanjut, kan? Aku tidak punya batas atas dalam jam kerja. Kalau kau melakukannya, Ini bisa menjadi perusahaan hitam. Sebagai pegawai di lingkungan kerja ini Apakah kau bisa melakukannya atau tidak, Aku sangat cemas. Aku sangat senang dilamar olehmu. Hiramasa-san, itu bukan berarti aku tidak mau menikah denganmu ... “


Tapi kali ini Hiramasa tidak sepakat dengan pemikiran Mikuri. Ia pun meminta papan yang tadi dipegang Mikuri, “Pertama-tama, Apakah kau pegawainya? Suami adalah atasannya, Istri adalah pegawainya. Ada yang salah dari situ. Seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang baik yang mendukung keluarga. Kalau kau berpikir begitu, Baik suami maupun istri adalah Manajemen bersama. Dari sudut pandang ini, Kenapa kita tidak membangun kembali hubungan kita? Ini bukan hubungan kerja Ini adalah pembangunan ulang sistem baru. Kalaupun ada sistem kasih sayang, Ku rasa kita tidak memerlukannya,” usul Hiramasa. (cieeee kali ini Hiramasa lumayan bener nih)


“Sepertinya itu bukan suatu hal yang mudah,” Mikuri berpikir.


“Aku tak tahu apakah akan berhasil atau tidak,” lanjut Hiramasa.


“Aku akan melakukannya!” tegas Mikuri kemudian.



Di hari yang lain,


Dengan mempertimbangkan rumah sebagai sebuah perusahaan. Sebagai pertanggungjawaban manajemen bersama, Untuk melanjutkan komunikasi manajemen, Usulan yang diajukan Hiramasa diterima oleh Mikuri. Rapat pertanggungjawaban pertama manajemen bersama perusahaan 303.


Hiramasa menyodorkan dua lembar informasi soal perusahaan, “Pekerjaan di perusahaan A hampir sama dengan yang sekarang, Gajinya 90% dari gaji sekarang. Sedangkan perusahaan B adalah perusahaan baru. Gaji keduanya juga cukup stabil.”


Tapi Mikuri sudah paham hal ini, “CEO Hiramasa, Kau tertarik dengan perusahaan B, kan?


“Sebelumnya, aku sudah memilih perusahaan A, Sekarang, aku sedikit merasakan ingin bisa melakukan lebih banyak hal baru. Tapi, kalau itu terjadi gaji karyawannya hanya setengah dari gaji yang sekarang.”


“Kalau memang gajinya berkurang, Mau bagaimana lagi. Aku juga akan mengimbanginya dengan bekerja di luar,” ujar Mikuri.


“Di luar?” Hiramasa heran.


“Tapi karena upah pekerjaanku dari area perbelanjaan hanya 3000 Yen per hari, Aku memperkirakan waktu kerjanya sampai 3,2 jam dalam sehari. Itu tidak akan cukup untuk semuanya. Itu sebabnya, Ini adalah pekerjaan sebagai penulis di Majalah Kota. Sebagai penulis aku akan pergi ke area perbelanjaan, Sambil menulis artikel liputannya, Aku juga bisa menyesuaikannya dengan pekerjaan di Aozora.


“Ini adalah strategi untuk mendapatkan upah dari luar, kan?” lanjut Hiramasa.


“Tapi karena pekerjaan ini adalah pekerjaan penuh waktu, Waktu untuk pekerjaan rumah tangga di rumah ini akan berkurang. “


“Pekerjaan yang akan CEO Mikuri lakukan, Itu juga pekerjaan dari Perusahaan 303 ini. Ayo kita bekerjasama dan menyukseskannya. Sebagai bagian dari kerjasama berbagi rumah, Aku akan membantu melakukan pekerjaan rumahtangga,” ujar Hiramasa kemudian.


Dan mereka pun membagi jatah pembagian tugas mengurus rumah. Dengan begini, Pembagian jatah bagian ruangan untuk kedua tim akan dibentuk. Pertempuran pembagian jatah pekerjaan rumahtangga sudah dimulai. Lebih dari ini, Pertempuran panjang akan berlangsung secara perlahan.



Seperti yang diminta, Kazami datang ke tempat Yuri pada hari Minggu. Setelah duduk dan menyajikan minuman, Yuri memberikan hasil pemeriksaan medisnya.


“Ini adalah hasil pemeriksaan medis menyeluruh milikku tahun ini. Lihatlah, Aku mengalami penurunan kepadatan tulang. Jumlah yang tercatat setiap tahun terus mengalami peningkatan. Hormon kewanitaanku juga menurun. Mataku juga melemah, Aku juga tidak boleh cepat lelah.”


“Apakah kau mengetes perasaanku?” potong Kazami.


“Saat kau mengatakannya di apartemenmu waktu itu, Walaupun aku berpikir sejenak kalau mungkin kau cuma main-main, Kau serius mengatakannya padaku, kan?”


“Sangat disayangkan kalau aku mengatakannya secara terang-terangan,” sesal Kazami.


“Aku benar-benar sangat terkejut. Itu buruk untuk jantungku. Karena sampai sekarang aku hidup dengan sangat keras, Sekarang ini, aku tidak bisa memikirkan hubungan cinta yang sesaat. Itu sebabnya aku ingin bicara baik-baik denganmu, Kazami-kun. Saat Kazami-kun lahir, Aku berumur 17 tahun. Saat Kazami-kun berumur 20 tahun, aku berumur 37 tahun. Akhirnya saat Kazami-kun berumur 40 tahunan, Aku sudah berumur 60 tahun. Sampai kapanpun, Kazami-kun akan tetap jadi keponakanku.”


“Hari ini, aku sudah merasakannya saat kau menunjukkan penampilan seperti ini. Apakah kau menunjukkan wajah aslimu agar aku melihatnya? Apa karena itulah kau menyebutku keponakanmu? Apa kau berkencan dengan duda beranak satu itu?” cecar Kazami.


“Itu sudah berakhir. Karena yang Tajima-kun cari adalah.. Seseorang yang bisa menjadi ibu untuk anaknya. Dengan kata lain, Penyebabnya bukanlah pria lain.”


“Memang tidak ada peluang untuk diriku sendiri. Aku memahaminya dengan baik,” Kazami memutar-mutar minuman di tangannya.


“Ayo kita minum lagi di bar Yama-san,” pinta Yuri.


“Aku tidak pernah menganggap Yuri-san adalah bibiku. Kita akhiri saja sampai di sini. Rasakan saja perlahan-lahan,” ujar Kazami akhirnya.


(yah, tante Yuri ini mo nolak aja ribet banget sih. hhhh )



Setelah Kazami pergi, Yuri melanjutkan minum sendirian. Ia memutar-mutar anggur dalam gelas itu, kemudian menyesapnya sedikit.


“Enak sekali.”



Mikuri melanjutkan pekerjaannya memersiapkan bazar seperti biasa. Tapi kali ini ia juga sekaligus mencari bahan untuk liputannya. Mikuri pun memperkenalkan diri sebagai penulis dari majalah kota.


Setelah berkeliling, Mikuri seperti biasa datang ke toko milik Yassan. “Aku sangat lapar. Kare sayuran Yassan adalah yang terbaik. Aku akan memakannya setiap hari!” puji Mikuri.


“Karena Mikuri selalu memujinya, itulah yang membuatnya jadi sangat berharga.”


“Itu karena aku mendapatkan makanan gratis,” ujar Mikuri dengan jujurnya.


“Maaf, karena hanya inilah caraku membalas kebaikanmu.”


“Bagaimana pesanan selainya?” tanya Mikuri kemudian.


“Ada segunung masalah yang harus dibereskan, Lokasi pengolahan juga bermasalah. Aku tidak bisa mengandalkan dapur Tanaka selamanya. Orangtuanya juga punya pekerjaan mereka sendiri, kan?” curhat Yassan.


Keduanya pun saling tersenyum, karena memang banyak hal yang harus mereka lakukan. Sementara mengobrol, Yassan juga tengah menyuapi Hikari. Si bayi manis ini makan dengan lahapnya. (ni anak siapa sih, imut manis banget. Minta banget dibawa pulang #emesssssh)



Rapat pertanggungjawaban kedua manajemen bersama perusahaan 303.


“Setelah mencoba selama 2 minggu, Bagaimana kalau kau katakan pendapatmu dengan jujur?” tanya Hiramasa.


“Bolehkah aku bicara jujur? Walaupun aku tidak memperoleh banyak pendapatan, Persentase pembagian pekerjaan rumahtangga untukku terlalu banyak. Tapi aku menyetujuinya. Itu sebabnya Hiramasa-san lupa melakukan bagianmu. Sudah terlambat untuk melakukannya, Lalu pembagian tugas yang kau dapatkan sangat sedikit, kan? Dibandingkan denganku beban pekerjaan rumahtanggamu lebih sedikit. Ada kalanya aku merasa begitu.”


“Maaf,” sesal Hiramasa.


“Bagaimana dengan Hiramasa-san?” tanya Mikuri selanjutnya.


“Bolehkah aku bicara jujur? Mikuri-san, aku mengkhawatirkan penurunan kualitas kebersihanmu. Debu menumpuk di sudut ruangan dan noda di cermin.”


“Sejujurnya aku.. Aku tidak terlalu teliti. Terutama dalam menyapu sekeliling ruangan dengan tipe persegi,” aku Mikuri dengan jujur. “Tapi, sampai sekarang, karena itu adalah pekerjaanku, Aku harus melakukannya dengan sempurna. Kalau seperti itu kasusnya, Aku akan berkonsentrasi penuh. Tapi sejujurnya, kalau tingkat kebersihan tidak mengganggu kelangsungan hidup, Menurutku, kita masih bisa bertahan hidup. Karena tak sesuai dengan harapanmu, Aku minta maaf,” sesal Mikuri. “Kalau memang sangatmengkhawatirkan, tempat itu akan menjadi bagian untuk Hiramasa-san. Sebagai gantinya, aku akan mengerjakan yang lain..”


“Tidak, tambahkan saja ke bagianku,” ujar Hiramasa kemudian.


Dan pembagian pekerjaan rumah tangga pun berubah lagi. Kali ini bagian Hiramasa jadi makin banyak.



Hiramasa makan siang bersama Hino-san. Ia heran melihat bekal makan siang Hiramasa yang sangat sederhana.


“Apa istrimu bukan ibu rumahtangga sepenuhnya?” tanya Hino-san yang penasaran.


“Sampai beberapa waktu lalu memang begitu. Sekarang dia penulis majalah kota, Mengadakan acara, sekaligus ibu rumahtangga,” cerita Hiramasa.


“Pantas saja aku merasa jumlah laukmu berkurang. Berbeda dengan bekalku, Lihatlah!”


“Apa maksudmu itu kebetulan?” Numata-san ikut nimbrung. “ Menurutku dalam kasus ini, Tsuzaki-kun dan Mikuri-san, Kalian saling menyukai satu sama lain, kan? Kalian sangat bergairah, kan?”


“Karena mereka sudah menikah, sudah sewajarnya mereka bergairah, kan?” tanya Hino-san.


“Hino-kun, Tentu saja ada waktu yang tidak wajar. Di dunia ini, Bahkan masih ada permasalahan gelap yang tak terlihat,” ujar Numata-san.


Alih-alih mengelak, Hiramasa justru bercerita, “ Aku tidak tahu apakah itu gairah atau bukan, Tapi aku menyukainya. Namun, ada hal yang tak bisa aku lakukan hanya dengan menyukainya. Aku menyadarinya. Sejujurnya sekarang, kami bekerjasama melakukan simulasi, Untuk pembagian pekerjaan rumahtangga.”


“Kalian mengerjakan pekerjaan rumahtangga bergantian?”


“Sejujurnya, memang merepotkan. Kalau bisa, aku tidak mau melakukannya,” ujar Hiramasa. Ponselnya berbunyi. Ada pesan dari Mikuri yang memintanya untuk menanak nasi malam nanti, karena Mikuri kemungkinan akan pulang sedikit terlambat.



Hiramasa baru selesai membersihkan kamar mandi saat Mikuri pulang.


“Maaf aku pulang telat. Itu karena aku harus menyelesaikan sisa pekerjaan di area perbelanjaan. Ayo kita segera makan malam,” ajak Mikuri.


Hiramasa baru ingat soal nasinya, ternyata ia belum memasak nasi. Hiramasa lalu mengajak Mikuri untuk makan di luar saja. Berkali-kali ia membuat alasan agar Mikuri tidak tahu soal nasinya.


Mikuri curiga ada sesuatu. Ia pun beralih pada burung pipit yang kini ada dalam sangkar, “Burung pipitnya, Pero! Peroko! Peroko jatuh ke bawah!” tunjuk Mikuri.


Hiramasa heran, “Sejak kapan mereka punya nama?” tapi ia juga mengikut arah telunjuk Mikuri, “Dia tidak jatuh..”


Melihat ada kesempatan, Mikuri berlari ke dapur. Dan Hiramasa pun terlambat mengikutinya. Saat dibuka, ternyata tempat nasi kosong.


“Aku sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Karena aku bukan anak kecil, Tidak ada gunanya kau menyembunyikannya.”


“Maaf. Aku hanya...” elak Hiramasa.


“Aku akan membeli nasinya,” ujar Mikuri.


“Biar aku saja,” sergah Hiramasa.


Tapi Mikuri tetap berkeras, “Tidak apa-apa, Lagian aku sudah pakai mantelku. Akulah yang bertanggungjawab atas makanan, Karena aku minta tolong padamu, Akulah yang salah. Aku pergi dulu,” ujar Mikuri dengan kesal.



Kazami makan malam bersama si centil, Igarashi.


“Hari ini, kurasa aku akan bicara baik-baik denganmu. Aku pasti tidak akan menyukaimu, Igarashi-san,” aku Hiramasa.


“Pasti?”


“Menurutku kau dan aku mirip. Kalau kau mau dimanfaatkan oleh seorang pria, Aku akan mempertimbangkan untuk memanfaatkanmu. Karena pria dan wanita memiliki derajat yang sama, Seharusnya kau menikmatinya dengan nyaman. Kau tidak berpikir begitu, kan?”


“Kalau kau memahaminya, Cerita itu terlalu cepat. Apa menurutmu kita benar-benar tidak cocok?” cecar Igarashi.


“Sebelumnya, aku sudah jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam beberapa puluh tahun terakhir. Aku merasa diriku sendiri lucu, saat sedang memikirkan seseorang,” cerita Kazami.



Yuri minum bersama dua bawahannya itu. Setelah mengantar Horiuchi yang mabuk ke dalam taksi, Yuri berjalan bersama bawahannya yang lain.


“Tidak biasanya dia mabuk,” komentar Yuri.


“Aku juga cukup mabuk. Masalah pria tampan itu, Apakah kau tidak bisa melewati rintangannya? Kalau kau menyukainya, Kau harus melewatinya.”


“Kalau aku masih muda, ya,” ujar Yuri.


“Kalau begitu, Kau tidak perlu memikirkan ini itu. Sebelumnya aku sudah pernah bilang, kan? Kalau aku, Orang yang ku sukai, Walaupun aku rindu padanya, Aku tak bisa menemuinya. Aku cemburu. Aku iri padamu. Di dunia ini, Orang-orang bisa berkencan dengan bebas,” curhat si pria.


Yuri hanya bisa melihat dengan heran. Dia tidak mengatakan apapun.



Numata-san minum di bar seperti biasa. Ia mengotak-atik ponselnya, heran karena Yuri tidak membalas pesannya. Ia berpikir apakah Yuri masih bekerja.


“Perusahaan kami sudah lama berantakan sejak minggu lalu. Akhirnya aku bisa datang ke sini,” cerita Numata-san.


“Apa sangat gawat?”


“Gawat sekali. Oasis bagi hatiku hanyalah percakap an di LINE,” ujar Numata-san pula.



Masalah makan malam hari itu benar-benar membuat hubungan Mikuri-Hiramasa makin buruk. Setelah berganti piyama, Hiramasa menuju kamarnya sendiri. Ia melihat Mikuri masih sibuk dengan laptopnya, tapi juga tidak berani bicara apapun.


Meski di depan laptop, Mikuri sebenarnya juga tidak benar-benar bekerja. Ia memikirkan dirinya dan situasi mereka yang sedang tidak baik itu. Hari ini adalah hari terburuk bagiku. Kalau tidak ada ruang, Sifat asliku akan segera muncul. Kurang ajar dan angkuh. Mikuri yang "pandai". Aku benci diriku sendiri. Orang yang rendah diri itu, Adalah aku. Wanita yang Hiramasa-san cintai, Adalah wanita yang mengerjakan pekerjaan rumahtangga dengan sempurna, selalu tersenyum lembut, seorang istri idaman. Karena sebutir nasi, orang yang bersikap mengerikan seperti itu bukanlah seorang wanita. Aku ingin dipilih, aku ingin diakui. Namun, aku ingin jadi lebih dan lebih jauh dari diriku sendiri. Air mata pun meleleh di pipi Mikuri.


Di kamar, Hiramasa juga tidak bisa tidur. Ia memandangi fotonya bersama Mikuri saat mereka liburan bersama.



“Apakah kau orang yang baik?” tanya Igarashi, tiba-tiba duduk di depan Yuri.


“Tapi kelihatannya masih ada kursi kosong yang lain,” ujar Yuri.


Onee-san—kakak—dan Kazami-san, Seperti apa hubungan kalian? Walaupun perbedaan usia kalian 17 tahun, Bukankah kalian memiliki hubungan cinta?” cecar Igarashi ini.


“Hampir setahun ini, Aku mengenalnya dengan baik.”


“Saat kau mencapai usia 50 tahunan, Kau bermain mata dengan seorang pria muda. Bukankah itu sia-sia? Terlalu banyak titik yang harus diperbaiki, dari mana aku harus meletakkan tinta merah? Lebih tepatnya usiamu 49 tahun. Tapi kalau dibulatkan, Itu sama saja. Kau adalah wanita yang menghasilkan uang dari kosmetik anti-aging,” sindir Igarashi lagi.


“Tidak ada wanita yang ingin dinilai tua lebih cepat. Kau sudah berhasil, Menilai masa muda seseorang, ya,” ujar Yuri, tidak kalah pedas.


“Onee-san, itu karena usiaku setengah usiamu,” ujar Igarashi dengan bangganya.


“Aku tidak akan kecewa, Kalau kau memang merasa begitu. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu sebagai seorang wanita. Di negara ini, Ada banyak fakta seperti itu. Sekarang, kau tidak boleh menilai sesuatu sepotong-potong. Setelah ini, di masa depan yang akan kau tuju, kaulah yang akan membodohi dirimu sendiri. Bukankah mungkin itu menyakitkan, kan? Kita dikelilingi oleh banyak kutukan. Kau juga akan merasakan salah satunya. Jangan kutuk dirimu sendiri. Kau harus melarikan diri dengan cepat dari kutukan yang mengerikan itu,” saran Yuri kemudian.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di bagian terakhir Married as Job episode 11 part 2 ya ^_^


Pictures and written by Kelana

Bening Pertiwi 14.18.00
Read more ...