Halo semua! Apa kabar nih, habis libur Lebaran? Mohon maaf atas semua salah dan khilaf ya. Dan juga maafkan Na, karena baru bisa muncul kembali sekarang. Terimakasih buat yang udah setia nungguin tulisan Na. Kali ini masih lanjut cerita cintanya Reiji-Misaki. Selamat membaca ^_^



SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 04 part 2. Reiji masih melanjutkan saran dari presdir Wada. Kali ini mereka melakukan perjalanan. Reiji membuat alasan untuk mencari chef baru bagi restoran hotel barunya.


Di satu kesempatan, Reiji dan Misaki mampir ke pantai. Reiji tidak menyangka kalau Misaki akhirnya tahu soal hoby-nya yang menyukai jamur dan mengatakan itu bukan hobby menjijikan, justru menyenangkan. Dan tanpa sadar, sisi kekanak-kanakan Reiji pun muncul



Chef Tanaka, kepala koki yang dituju Reiji tengah mempersiapkan masakan di dapur. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan para waiter yang membicarakan Reiji. Sepertinya sang chef sudah tidak kaget lagi dengan hal ini. Kemungkinan ada banyak hotel lain yang juga sudah menghubungi dan merekrutnya untuk bergabung.



Makan malam Misaki dan Reiji. Misaki begitu menikmati masakan sang chef, sementara Reiji berkali-kali minum anggur supaya agak mabuk. Misaki mengomentari itu dan Reiji mengatakan itu karena makanannya yang enak, hingga ia banyak minum.


“Sepertinya saya sangat suka dengan masakan Chef Tanaka,” komentar Misaki.


“Aku juga...suka.” ucapan Reiji seperti pengakuan. Tapi tahu situasinya, ia pun meralat dan mengacu pada makanan di depannya. Berbelit Reiji berusaha mengungkapkan isi hatinya pada Misaki. Tapi akhirnya yang keluar dari bibirnya hanya kekaguman pada makanan dan dekorasi meja mereka. Alkohol ternyata tidak banyak membantu.



Di kamar, Reiji meringkuk memeluk bantal sambil menelepon. Ia mengadu pada presdir Wada kalau usahanya kali ini kembali sia-sia.


Tapi presdir Wada menanggapinya dengan santai, “Masih ada kesempatan terakhir.”


“Aku masih punya kesempatan terakhir?” Reiji heran. Ia pun berdiri dari pojok kamar.


“Dia saat ini sedang memikirkan perasaanmu lagi. Padahal atmosfernya seakan mau menyatakan cinta, tapi tidak berkata apapun. Apa ini hanya salah paham?” lanjut presdir Wada.


Reiji menyimak itu semua. Ia bahkan masih sempat membuat catatan, meski presdir Wada mengatakan tidak perlu dicatat.


“Membuatnya berpikir tidak ada apapun sampai akhir, lalu persiapkan ending yang terbaik. Buket mawar,” ucapan presdir Wada ini sempat diprotes Reiji karena tampak klise. Tapi presdir Wada tetap melanjutkannya, “Jika kamu jelaskan pada resepsionis, mereka mau memesankan dan menyiapkannya untukmu. Masukkan ke bagasi mobil, lalu berikan saat kalian berpisah. Kamu harus melakukannya kali ini!”


Reiji tiba-tiba saja menjadi bersemangat, “Aku merasa aku bisa melakukannya. MAWAR!”



Hari berikutnya, Reiji dan Misaki dalam perjalanan pulang. Reiji terus saja memandangi jalanan di depannya dengan serius di belakang kemudi. Kepalanya masih dipenuhi soal mawar. Apa yang akan dilakukannya?


Di sebelah Reiji, Misaki mencoba mengajaknya bicara. Ia membahas soal tujuan mereka datang ke hotel itu, untuk menarik Chef Tanaka ke hotel mereka. Menurut Misaki, sang chef sudah mendapatkan banyak tawaran juga dari hotel lain, sehingga kemungkinan akan sulit. Tapi Reiji masih tidak bisa fokus. Ia menanggapi ucapan Misaki sekadarnya saja.


Sampai di tempat tujuan, Misaki turun. Reiji masih mencoba memberanikan diri. Mawar dalam ukuran besar sebenarnya sudah tersedia di bagasi belakang mobilnya. Saat Misaki akan pergi, Reiji mengingatkan agar Misaki memeriksa sekali lagi apakah ada barang yang tertinggal. Misaki pun menurut saja. Reiji bertarung dengan dirinya sendiri untuk menyerahkan mawar itu atau tidak. Hingga akhirnya Misaki membuyarkan perseteruan dalam hati Reiji dan pamit pergi. Reiji kembali gagal menunjukkan perasaannya pada Misaki.



Di rumahnya yang mewah, Reiji memetiki kelopak mawar itu dengan wajah merengut. Sekt.Maiko dan sopirnya hanya bisa memandangi sang bos dan mendengarkan curhatnya dengan setia.


“Aku sudah tahu bahwa mengikuti strategi Wada saja adalah hal yang konyol. Aku sudah tahu saat melakukan hal seperti anak kecil. Tapi, kupikir aku tidak bisa bilang tidak akan melakukannya. Aku berpikir saat itu aku bisa melakukannya. Kupikir jika sudah dipojokkan seperti itu, aku pasti bisa mengatakannya. Tapi aku tetap tak bisa mengatakannya. Aku selalu berpikir tidak bisa bilang karena malu. Tapi itu salah. Aku takut. Aku takut jika setelah ia tahu perasaanku, ia akan jadi membenciku. Aku takut ditolak oleh dia yang umurnya 10 tahun lebih muda. Padahal Presdir, tapi ditolak karyawan baru, Aku takut menghadapi diriku yang seperti itu. Makanya sampai akhir pun, aku tetap tak bisa mengatakan dan terus melarikan diri.”



Reiji akhirnya berhenti memetiki kelopak mawar itu. Ia duduk salah satu sudut rumahnya. Sekt.Maiko dan sopirnya Katsunori-san pun ikut bersimpuh di dekat Reiji.


Perlahan, air mata Reiji pun mengalir, “Kenapa aku tak bisa mengatakan 2 suku kata "suka"? Aku yang selama ini membesarkan perusahaan dan melampaui apapun yang menghadang. Aku yang demi memenuhi target perusahaan, sudah mengatakan "pecat" pada berpuluh-puluh orang. Kenapa padanya, dua suku kata "suka" itu tidak bisa kukatakan?”


Reiji berpaling pada dua orang karyawanya itu, “Selama ini kalian sudah membantuku. Terima kasih, ya. Tapi, aku sudah capek. Gara-gara aku menyukai dia, aku harus menghadapi diriku yang pengecut. Aku sudah capek.”


“Karena ingin Presdir bahagia, sepertinya saya telah memaksakan Anda. Maafkan saya,” kali ini sekt.Maiko yang bicara.


“Tidak. Aku berterima kasih. Tapi, mulai hari ini tolong lupakan diriku yang menyukai Shibayama Misaki,” pinta Reiji akhirnya.



Pagi berikutnya. Presdir Wada sedang memeriksa berkas di mejanya saat sekretarisnya datang dan mengatakan ada telepon dari sekt.Maiko.


“Dia bilang tolong lupakan soal tentang Presdir Samejima dan Shibayama Misaki,” ujar si sekretaris.


Presdir Wada melirik dan tersenyum, “Dia gagal, ya...”


Si sekretaris itu juga bilang kalau sekt.Maiko ingin bertemu lagi dan mengucapkan terimakasih.



Pagi ini Misaki mendapatkan telepon. Dari yang mereka bicarakan, chef Tanaka masih belum memberikan keputusan soal pilihannya. Tapi ia tampak tertarik untuk bekerja di hotel milik presdir Wada.


Saat Misaki cerita soal itu, rekan-rekan karyawan lainnnya sudah bisa paham. Tidak ada yang tidak tertarik dengan hotel milik presdir Wada, yang selama ini jadi hotel terbaik. Dan kegiatan kantor pun kembali seperti semula. Tapi mereka heran, karena hari sudah cukup siang tetapi presdir Reiji masih belum datang.



Seperti biasa Reiji berangkat ke kantor ditemani sekretaris dan sopirnya. Hari ini wajah Reiji sudah berbeda, kembali seperti Reiji yang dulu, dingin dan sadis.


“Pada dasarnya, mendiskusikannya pada Wada saja sudah salah. Aku bilang akan membawa tunangan saat pesta karena ingin menang dari Wada. Jika berjalan lancar karena strategi dia, aku harus balas budi seumur hidup,” cibir Reiji dari kursi belakang. “Sudah kuputuskan. Mulai hari ini, aku hidup dengan mencintai ikan medaka dan jamur saja. Dengan begini, aku bisa mencurahkan semua pada pekerjaan,” tegasnya pula.



Hari sudah malam saat Mahiro keluar bersama ketua tim Goro-san. Mereka baru saja rapat bersama. Ketua tim Goro mempersilahkan Mahiro untuk pulang duluan karena sudah malam.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan bersama?” Mahiro menawarkan.


“Maaf, hari ini aku sudah ada janji sebelumnya,” tolak ketua tim Goro.


Mahiro pun mencoba mengerti. Saat ketua tim Goro sudah pergi, ia menghembuskan nafas panjang. Mahiro menyukai ketua tim Goro-san, tapi masih belum berani mengungkapkan rasa sukanya itu.



Kemana Reiji pergi? Hari itu Reiji tidak berangkat ke kantor, melainkan datang lagi ke hotel tempat chef Tanaka bekerja. Tamu lain sudah pergi, tapi Reiji masih menunggu. Hingga akhirnya sang chef tidak punya pilihan selain menemui Reiji.


“Saya senang Anda datang ke sini lagi, tapi apa Anda belum dengar dari karyawan wanita yang datang ke sini beberapa waktu lalu, 'kan? Saya sudah menghubungi untuk menolak tawaran. Sudah saya putuskan untuk bekerja di Stay Gold Hotel,” ujar chef Tanaka, lugas dan jelas.


“Kenapa Anda memutuskan seperti itu?” tanya Reiji.


“Antusiasme. Saya juga tertarik dengan Samejima Hotels, tapi saya kecewa. Saya pikir saya akan lebih dibutuhkan lagi. Saat Presdir Wada datang makan di sini, saya mendapat pujian tertinggi darinya,” chef Tanaka lalu pamit pergi.


Tapi ucapan Reiji menghentikan sang chef, “Wada-san, seberapa banyak minum saat itu?”


Chef Tanaka bingung, tapi juga mengingat-ingat lagi, “Kalau tidak salah, 1 botol wine untuk 2 orang.”


Tapi Reiji masih belum menyerah. Justru inilah strateginya, “Waktu itu, kami membuka 3 botol untuk 2 orang. Hari ini saja aku sendiri minum sebotol. Biasanya aku yang hanya minum 1-2 gelas wine. Kenapa bisa minum sebanyak itu? Itu karena kekuatan masakan Tanaka-san. Maaf jika saya kurang dalam berkata. Manusia seperti saya tipe yang tidak bisa bilang suka pada sesuatu yang benar-benar disukai. Justru saya pikir tidak sopan jika memuji sesuatu hanya dengan mencobanya sekali. Makanya, saya datang dan mencobanya lagi dan dengan perilaku dan sikap seperti ini, saya pikir Anda akan memahaminya bahwa saya menyukai masakan yang dibuat Tanaka-san lebih dari siapapun. Terima kasih atas makanannya. Saya akan datang lagi.” Reiji mengambil lap dan membersihkan bibirnya, bersiap pergi.


Tapi chef Tanaka menahannya. Ia pun meraih tangan Reiji, “Anda tidak usah datang lagi ke sini. Saya akan tolak tawaran Presdir Wada,” ujar chef Tanaka sambil menjabat tangan Reiji erat.



Berita soal chef Tanaka yang akhirnya memilih Samejima hotel sampai juga pada para karyawan. Mereka memuji kemampuan sang bos untuk meyakinkan chef satu itu.


Saat itu Reiji baru saja datang bersama sekt.Maiko. Keluar dari lift, Reiji mengajak sekt.Maiko untuk berlari masuk. Sekt.Maiko menurut saja, mengikuti bos-nya berlari dan masuk ke ruangan. Sementara para karyawan hanya bisa keheranan melihat tingkah sang bos yang tidak biasanya.



Reiji masuk ke ruangannya. Ia mengintip Misaki dari balik kaca yang tertutup sebagian lalu menutupnya lebih rapat. Reiji berjongkok di balik kaca itu, galau.


Sudah siang saat Misaki masuk ke ruangan presdir. Tapi sekt.Maiko menahannya dan mengatakan kalau Reiji tengah sibuk. Akhirnya Misaki hanya menyerahkan rancangan renovasi pintu masuk dan lobi hotel yang sudah dibuatnya pada sekt.Maiko.


Sekt.Maiko masuk ke ruangan Reiji dan meletakkan berkas dari Misaki tadi di meja Reiji, “Setelah ini, saya akan memberi sekotak kue pada Presdir Wada. Apa ada pesan?”


“Bilang kalau mau tahu cara merekrut koki, kapanpun akan kuberitahu,” ujar Reiji dengan sengak.


Sementara itu telur ikan medaka di akurium milik Reiji mulai berkedut. Sepertinya mereka akan segera menetas.



Karyawan sudah berangsur-angsur pulang. Tapi Misaki masih berada di mejanya. Ajakan minum pun ditolak Misaki dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus ia bereskan.


“Kalau sudah selesai, kita ada di restoran biasanya, ya. Datang saja.”


Kedua karyawan pria ini beranjak pergi. Tapi di depan lift, mereka bertemu Katsunori-san yang datang sambil membawakan kotak makan malam. Katsunori kaget saat melihat Misako ternyata masih ada di kantor, pada karyawan lainnya sudah pulang. Misaki heran karena Katsunori-san membawakan kotak makanan, artinya Reiji masih ada di kantor.



“Air susu dibalas air tuba. Presdirmu bisa-bisanya melakukan itu padaku,” keluh presdir Wada saat bertemu dengan sekt.Maiko di tempat biasa.


“Saya benar-benar minta maaf.”


“Kalau SDM penting dirampas seperti itu, aku juga harus membalasnya, ya. Kamu juga tanggung jawab, ya,” ujar presdir Wada, kembali misterius.


“Maksudnya tanggung jawab?” sekt.Maiko heran.


“Untuk awalnya, Bbagaimana kalau kamu jadi pacarku?” tawar presdir Wada kemudian.


“Tolong hentikan candaannya,” sekt.Maiko berusaha menutupi rasa canggung yang muncul tiba-tiba.


“Tidak puas kalau denganku? Apa kamu tahu kenapa aku mau membantu Samejima-kun? Untuk mendekati kamu, tahu,” rayu sang presdir lagi.


“Anda tahu 'kan bahwa Samejima menganggap Anda sebagai rival? Aku yang merupakan sekretarisnya, sudah pasti tidak mungkin berpacaran dengan Wada-san.”


“Apa tidak apa bilang "sudah pasti"?” sindir presdir Wada.


“Bukannya banyak wanita lain yang lebih cocok dengan Wada-san?”


“Kalau tidak suka, bilang saja tidak suka,” goda presdir Wada lagi. Tapi tiap apapun jawaban sekt.Maiko selalu bisa dijadikan bahan untuk menggodanya kembali.



Misaki mencegat Katsunori-san yang baru saja keluar dari ruangan Reiji, “Permisi, Presdir masih juga belum pulang, ya?”


“Ya. Sepertinya hari ini dia akan menginap,” Katsunori-san lalu pamit pergi.



Tapi Misaki belum menyerah. Pelan, ia membuka ruangan sekt.Maiko. Tapi di depan pintu ruangan Reiji, Misaki berhenti. Misaki mengetuk pintu itu.


“Presdir? Sebentar lagi ikan medakanya menetas, kan? Kalau boleh, aku ingin melihatnya bersama.”


Misaki menunggu, tapi tidak ada jawaban apapun dari Reiji. Reiji sendiri bingung akan membukakan pintu itu atau tetap diam saja. Tapi akhirnya Reiji mengambil pilihan kedua. Tangannya terulur membukakan pegangan pintu untuk Misaki.



Reiji meletakkan makan malamnya. Dan kini ia duduk bersebelahan dengan Misaki, menunggu ikan medaka-nya menetas.


“Katanya Chef Tanaka akan kerja di perusahaan kita, ya,” Misaki mencoba mulai pembicaraan. “Bagaimana cara Anda membujuknya?”


“Tidak ada yang khusus, kok,” ujar Reiji datar, tidak tampak antusias.


Misaki makin tidak enak melihat presdirnya seperti itu, “Saya telah membuat Presdir marah, ya?”


“Tidak, kok. Kenapa berpikir begitu?” Reiji hanya melirik sekilas.


“Tidak. Sejak pergi bertemu Chef Tanaka, Anda seperti menghindari saya.”



Tapi obrolan mereka teralihkan saat Reiji melihat ikan medaka-nya menetas dan berseru girang. Kedua orang ini lalu memperhatikan ikan medaka yang keluar dari telur mereka satu per satu.


“Lucu sekali, ya,” puji Misaki.


Reiji pun terbawa suasana. Tidak sadar, hingga ia pun berucap, “Aku suka kamu.”


Misaki tertegun mendengar ucapan Reiji. Pun saat Reiji sadar akan ucapannya, ia heran sendiri. Keduanya Cuma saling pandang, salah tingkah.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 05 part 1


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Sekali lagi, Na minta maaf ya, sudah membuat kalian menunggu lama untuk lanjutan sinopsis satu ini. Efek liburan panjang, hahahaha. Oh ya, drama-drama musim panas juga sudah mulai tayang ya. Na belum ngecek semua sih. Tapi semoga ada yang menarik untuk diikuti ^_^


 
Bening Pertiwi 14.59.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 04 part 1. Frustasi karena usahanya mendekati Shibayama Misaki terancam gagal, Reiji mengasingkan diri dengan alasan perjalanan bisnis. Sebenarnya dia hanya pergi menginap di gunung dan asyik masyuk dengan hobinya, mengambil foto jamur langka.


Sekt.Maiko yang tidak tega melihat bosnya seperti ini menghubungi presdir Wada Hideo. Dan malam itu, Reiji mendengarkan semua saran dari presdir Wada. Apakah saran dari presdir Wada kali ini akan berhasil bagi Reiji dan Misaki?



Sudah 8 tahun aku bekerja sebagai sekretaris Presdir. Pertama kali bertemu yaitu 10 tahun lalu. Saat itu, aku masih memanggilnya 'Reiji-san'.


Setelah lulus SMA di Shizuoka, aku bekerja sebagai pelayan di Penginapan Samejima. Reiji-san adalah anak tunggal pemilik penginapan. Reiji-san bersekolah di sekolah khusus para pebisnis hotel di Inggris. Ia dipaksa pulang saat masih sekolah karena bisnis ayahnya yang hampir bangkrut. Sejak Reiji-san pulang, penginapan berubah drastis. Untuk memotong biaya pekerja yang tinggi, ia mem-PHK banyak pegawai veteran. Di sisi lain, ia mengeluarkan biaya besar untuk periklanan dan renovasi kamar yang semakin menua.


“Selama 2 bulan saja, apa kamu bisa diam?”


Tanpa menunggu 2 bulan, tamu pun kembali datang. Berkat inovasi Reiji-san, penginapan Samejima yang baru terlahir kembali menjadi penginapan yang sulit direservasi. Penginapan dan hotel seluruh negeri yang mendengar kabar ini datang meminta tempatnya dibangun ulang. Reiji-san memutuskan untuk menjalankan bisnis hotel impiannya dan melanjutkan persiapan independen.



Yang telah menghancurkan suasana tenang Penginapan Samejima tidak lain adalah aku. Selingkuh. Sebuah cinta yang terlarang.


Karena ketahuan selingkuh dengan salah seorang pegawai di penginapan, Maiko akhirnya mengundurkan diri. Saat akan pergi, Katsunori-san mencegatnya dan menawarkan akan mengantar sampai stasiun. Maiko pun setuju. Tapi saat masuk ke dalam mobil, Maiko menyadari ada Reiji di kursi belakang.


“Setelah berhenti, kamu mau ke mana?” sapa Reiji.


“Belum saya putuskan.”


“Kamu mau jadi sekretarisku?” tawar Reiji tanpa basa-basi.


Maiko kaget, “Kenapa saya?”


“Sambil bekerja dengan sempurna sebagai pelayan, kamu juga berpacaran tanpa disadari siapapun. Energi dan kemampuan menjadwal yang hebat. Untuk perusahan baru yang akan kubangun, kamu adalah SDM yang kubutuhkan.”


Maiko pun melirik ke arah Katsunori-san. Katsunori-san mengatakan kalau ia juga akan bergabung bersama Reiji.


Sejak itu, 8 tahun berlalu. Aku semakin ingin balas budi terhadap Presdir. Saat mengetahui Presdir jatuh cinta dengan Shibayama Misaki, aku terkejut sekaligus senang. Aku ingin Presdir yang telah menolongku jadi bahagia. Jika ingin balas budi, inilah saatnya. Menundukkan kepala pada Wada-san yang merupakan rival Presdir juga, karena aku ingin Presdir bahagia.


Sekt.Maiko mengecek jam tangannya. Sepertinya ini sudah waktunya presdir datang.



Sekt.Maiko menyambut Reiji yang baru turun dari mobilnya. Saat dikatakan kalau pekerjaan menumpuk karena Reiji liburan, Reiji menolak itu. Dia mengatakan kalau kemarin bukan liburan.


“Sepertinya Wada-san senang dipanggil "master" oleh Presdir,” ujar sekt.Maiko setelah meletakkan cangkir kopi di meja Reiji.


Tapi tentu Reiji tidak akan mau mengakuinya, “Saat itu, aku sedang tidak sehat. Mungkin karena aku makan jamur aneh.”


“Wada-san bilang ia memberitahu Presdir kunci keberhasilan.”


“Belum tentu cara Wada itu cocok denganku,” Reiji masih saja terus mengelak.


“Kita tidak akan tahu cocok atau tidaknya jika tidak mencoba,” bujuk sekt.Maiko lagi.


Reiji beralih ke pekerjaannya. Dia menghindari berdebat dengan sekretarisnya itu karena tahu akan kalah. Bahkan saat sekt.Maiko mengusulkan agar Reiji mencoba dulu, Reiji justru menunjukkan wajah merajuknya lengkap dengan mulut manyun.



Hari sudah beranjak petang. Kantor pun sudah sepi. Tinggal Misaki sendirian. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Misaki beranjak pergi. Tapi di depan lift, Reiji menyusulnya.


“Tunggu, Warna kesukaanmu apa?” tanya Reiji tiba-tiba.


“Hijau...” ujar Misaki yang kebingungan.


“Oh, begitu,” Reiji mengangguk mengerti dan berbalik lalu pergi.



“Anda tidak mampir ke gym? Bukankah hari Rabu jadwal Anda pergi ke gym?” tanya Katsunori-san heran, saat melihat Reiji hari itu memilih pulang.


Tapi yang menjawab justru sekt.Maiko, “Hari ini tak boleh bertemu Shibayama Misaki lagi. Ini strategi Wada-san.”


Katsunori-san mengangguk mengerti. Tapi Reiji di kursi belakang justru yang pesimis. Ia membuang muka dan melihat ke luar.



Hari itu seperti biasa Misaki berolahraga di gym. Ia melirik sepeda di sampingnya, yang ada tanda ‘khusus presdir’, tapi sepeda itu kosong. Reiji yang biasa ada di sana, hari itu tidak datang. Alih-alih Reiji, Misaki justru ditemani oleh Ieyasu.


Dan seperti biasa, Ieyasu mulai bercerita soal dirinya. Narsisnya pun kumat. Tapi Ieyasu bisa melihat perubahan sikap Misaki. Ia heran karena hari itu presdir pun tidak datang.


“Tidak. Aku seperti biasanya,” ujar Misaki saat ditanya apa mood-nya sedang buruk. Misaki kembali melirik sepeda di sebelahnya yang kosong.



Reiji sudah kembali ke rumahnya. Tapi ia masih saja memikirkan strategi yang disebutkan presdir Wada saat mereka ada di tenda.


“Apa maksudnya menanyakan warna kesukaan pada pasangan?” Reiji heran.


“Pertanyaan itu tidak ada maksud apapun. Karena pertanyaannya tidak berarti, makanya jadi berarti.”


“Aku tidak mengerti yang kamu bicarakan,” protes Reiji.


Presdir Wada bangun dari tidurannya, “Ia akan memikirkan terus kenapa dirinya ditanya mengenai warna kesukaan. Memikirkan itu terus berarti ia juga terus memikirkan dirimu semalaman.”


“Dengan begitu, ia akan salah paham bahwa dia menyukai diriku?” Reiji mendadak bersemangat.


“Jangan cepat menyimpulkan. Dengan menanyakan hal ini, kita bisa mengukur seberapa besar ia punya minat terhadap dirimu. Esoknya, jika dia tanya warna kesukaanmu, berarti ada harapan besar untukmu,” lanjut presdir Wada.


Reiji menulis dalam buku catatannya, “Kalau dia tidak datang bertanya?”


“Sayang sekali, mungkin kamu akan dianggapsebagai lelaki aneh yang bertanya hal aneh. Secepatnya tarik tanganmu.”



Pagi itu Reiji masuk kantor seperti biasa, cool dan tidak terlalu menanggapi karyawannya. Meski sebenarnya ia masih penasaran dengan reaksi Misaki terhadap pertanyaan kemarin. Saat Reiji ada di pantry, ternyata Misaki menyusulnya.


“Presdir, Eh... Mengenai pertanyaan warna kesukaan saya kemarin, Itu maksudnya apa, ya?” tanya Misaki yang penasaran.


Reiji berbalik sambil menahan senyum bahagianya. Ternyata langkahnya kali ini sukses. Setelah berhasil menguasai diri dan kembali cool, Reiji berbalik. “Itu, ya? Tidak maksud apa-apa, kok. Tidak usah dipikirkan.”



Reiji langsung ngacir kembali ke ruangannya. Melihat sang presdir tampak sangat gembira, sekt.Maiko pun menyusul ke dalam.


“Bagaimana ini...Ternyata ada tanggapan positif dari strategi Wada.”


Sekt.Maiko ikut sumringah dengan kabar dari bosnya ini, “Bukankah itu bagus?”


“Jangan-jangan, jika menjalankan sesuai strategi master, aku bisa melakukannya? Akan kulakukan!” tegas Reiji semakin tertarik dan bersemangat.



Hari-hari kerja berjalan seperti biasanya. Reiji kembali disibukkan dengan telepon dan juga menandatangani berkas-berkas yang disodorkan oleh sekt.Maiko. Reiji bahkan menyempatkan diri membaca buku bisnis yang ditulis oleh presdir Wada sambil makan kue manis. Hal yang sangat jarang dilakukan.


Bahkan saat keluar dan melewati para karyawannya, Reiji tampak sangat sumringah. Reiji juga memandangi ikan-ikan dalam akuariumnya dengan senyum yang terus saja terkembang.



Para karyawan ternyata menyadari mood Reiji hari itu. Mereka sadar benar jika sang presdir sepertinya tengah senang. Dugaan demi dugaan pun muncul. Hingga akhirnya salah satu dari mereka menyebut soal ikan medaka, ikan peliharaan presdir yang sudah saatnya bertelur. Hobi yang dilakukan Reiji sejak lama, memelihara ikan.


Mahiro, si pegawai wanita selain Misaki, tiba-tiba nyeletuk. Ia mengaku sempat melihat sebuah majalah saat bersih-bersih ruang presdir. Rekan-rekannya langsuh heboh dan menebak kalau itu majalah porno. Tapi Mahiro mengatakan tidak benar. Ia justru menyebutkan sebuah judul majalah tentang jamur langka. Rekannya yang lain kemudian mengatakan kalau selama kunjungan di cabang Hakone, ia tahu presdir Reiji selalu menyempatkan diri ke bukit belakang hotel. Mungkin itu alasannya, jamur.


Mahiro melanjutkan kalau saat membuka majalah itu, ia juga menemukan salah satu halaman ditandai. Ternyata ada sebuah foto dengan label yang menunjukkan kalau Samejima Reiji-lah yang mengambil fotonya. Tapi rekan-rekannya tidak percaya dan berpikir kalau itu mungkin saja nama yang sama.


Selama rekan-rekannya ngobrol, Misaki hanya diam dan menyimak saja. Ia tidak bicara atau berkomentar apapun.



Malam itu Reiji menemui presdir Wada di restorannya. Reiji menceritakan soal Misaki yang bertanya balik soal pertanyaan ‘warna’ hari sebelumnya. Reiji mengaku pertanyaan itu diajukan oleh Misaki saat masih pagi, sekitar 9.20, belum lama setelah masuk jam kerja.


“Kalau cepat, berarti dia sudah penasaran sekali setelah memikirkannya semalaman,” ujar presdir Wada. Ia pun mengajak Reiji untuk bersulang. “Lalu, kamu menjawab apa?”


“Karena aku tidak menyangka akan ditanya seperti itu, kujawab, "Tidak ada maksud apa-apa. Tidak usah dipikirkan."”


Presdir Wada tidak menyangka dengan jawaban Reiji, “Hei, Samejima-kun. Jangan-jangan kamu punya bakat percintaan, ya? Semakin dapat jawaban tidak jelas, seharusnya pikirannya juga semakin penuh dengan pertanyaan itu.” puji presdir Wada. “Tanpa disadari, dirimu selalu terbayang. Ini akan jadi situasi terbaik. Biasanya hal ini disebut "pengabaian". Lalu, jika kamu bisa melakukan sesuai strategi yang dicatat di gunung waktu itu, tidak salah lagi dia akan jadi milikmu.”


Reiji juga ikutan sumringah, “Aku bisa mempercayaimu, 'kan?”


Presdir Wada tentu saja langsung menyombongkan dirinya. Ia lalu menyarankan Reiji untuk memakai fashion/aksesoris dengan warna hijau. Dengan begitu, ia akan semakin membuat Misaki penasaran hingga akhirnya Misaki bisa jatuh cinta. Keduanya pun bersulang.



Misaki pulang kerja sendirian. Iseng ia mampir ke sebuah toko buku langsung ke bagian rak majalah. Yang dicarinya adalah ... majalah tentang jamur. Rupanya Misaki penasaran dengan obrolan rekan-rekannya tadi di kantor.


Saat membuka-buka majalah, Misaki menemukan sebuah foto dan nama di bawahnya, Samejima Reiji. Ternyata obrolan tadi soal Reiji yang mengirimkan salah satu foto jamur langka dan dimuat di majalah adalah benar.



Reiji memandangi lagi list saran dari presdir Wada. Berduaan di luar tempat kerja, dengan membuat situasi seperti urusan pekerjaan tapi sebenarnya hanya menginap semalam di luar. Baginya ide ini akan sangat sulit untuk diwujudkan.


Sekt.Maiko memberi saran untuk pergi mencari chef untuk restoran di hotel baru mereka. Apalagi Misaki-lah yang memberikan nama restoran itu ‘Gosuke’. Ide menggaet chef Tanaka dari Suruga Excellent Hotel pun muncul. Meski menyebalkan, sang chef dikenal hebat dalam masakannya. Tapi Reiji khawatir jika itu membuat karyawan lain heran jika ia langsung menunjuk Misaki. Apalagi Reiji tidak ingin karyawan lain tahu soal nama ‘Gosuke’ yang dipilih, sebenarnya adalah saran dari Misaki.


“Buat saja undian yang hanya bisa dia yang dapat,” ujar sang sopir, Katsunori-san. Ia pun menjelaskan dengan trik sulap sederhana hal itu bisa dilakukan. Katsunori-san mengaku sebelum bekerja di penginapan Samejima dulu, dia adalah pemain sulap jalanan.


Kali ini Reiji setuju dengan ide Katsunori-san. Dengan arahan dari Katsunori-san, Reiji pun membuat kotak ‘ajaib’-nya sendiri. Setelah yakin kalau benda itu bekerja, Reiji pun siap untuk tahap berikutnya.



Ketua tim Goro-san memberitahu staf lainnya jika presdir akan pergi untuk mencari chef restoran mereka dan meminta salah satu karyawan untuk ikut dalam perjalanan bisnis yang menginap semalam itu. Tapi reaksi para karyawan tidak tampak senang. Mereka membayangkan malam yang kaku dan membosankan karena harus menemani presdir sekaku Reiji.


Ketua tim Goro-san menjelaskan kalau mungkin saja dengan pemilihan melibatkan karyawan, maka mereka pun akan ikut bertanggungjawab atas berlangsungnya restoran baru nantinya.



Reiji keluar dengan kotak di tangannya. Ia meminta para staf berbaris untuk mengambil undian. Giliran pertama adalah Ieyasu. Saat mengambil kertas, Ieyasu bersorak girang menemukan cap Samejima Hotel di kertas itu. Tapi kesenangannya langsung hilang saat diberitahu kalau semua kertas ada cap-nya dan bukan dia pemenangnya.


Reiji masih berusaha berwajah se-cool mungkin saat giliran berikutnya adalah Mahiro. Sama seperti Ieyasu, kertas yang diambil Mahiro juga bukan yang dimaksud. Berikutnya giliran Misaki. Sebelum Misaki memasukkan tangan dalam kotak, Reiji menggeser panel di sisi kotak sehingga isi kotak berubah. Misaki mengeluarkan kertas yang diambilnya dan ternyata ada tulisan ... pemenang di dalamnya. Artinya Misaki yang akan menemani Reiji mencari chef restoran baru mereka.


“Akhir minggu ini, reservasi tempat untuk 2 orang. Untuk jadwal rinci, akan kuhubungi nanti!” ujar Reiji kemudian. Ia pun berbalik ke ruangannya lagi.


Saat baru masuk di ruangan sekretaris, Reiji sudah bersorak girang. Ia bahkan melakukan tos dengan kedua karyawannya di sini. Reiji kemudian masuk ke ruangannya sendiri masih dengan sumringah. Dipeluknya akuarium yang ada di sana. Senyum Reiji makin lebar terkembang.



Misaki tengah mengambil minum di pantry saat Mahiro menyusul. Mahiro khawatir karena Misaki akan melakukan perjalanan bisnis dan menginap semalam di hotel yang sama dengan presdir. Tapi Misaki mengaku tidak akan ada masalah, karena ia juga memang ingin mencicipi masakan sang chef incaran, chef Tanaka.


Ieyasu pun menyusul kedua karyawan wanita ini. Dan seperti biasa, pikiran Ieyasu sudah lebih dulu kacau dan terlalu jauh. Tapi baik Misaki maupun Mahiro tidak terlalu peduli pada ucapan Ieyasu ini.


“Setelah dipikir-pikir, kamu pernah bilang kalau Presdir itu iseng,” ujar Mahiro kemudian.


Misaki tersenyum, “Aku bilang begitu karena kalian terlalu takut padanya.”


Tapi Ieyasu nyamber saja, “Rasa hormat jadi kagum, lalu tanpa disadari berubah jadi cinta.”


Tentu saja ide ini ditolak oleh Misaki. Mereka kemudian membahas lagi tentang betapa beruntungnya Misaki karena menang undian, tidak seperti Ieyasu yang sombong tetapi selalu gagal.


“Jika terjadi sesuatu, hubungi aku, ya. Aku akan segera menyusul!” pesan Mahiro kemudian.



List berikutnya yang ada di catatan milik Reiji, Transportasi pakai mobil kecil yang lucu. Jangan pakai mobil mewah atau sports car tapi pakai mobil kecil yang lucu.


Reiji dibuat heran dengan ide dari presdir Wada itu. Presdir Wada memberikan alasan jika orang akan lebih cepat akrab di ruang yang sempit. Selain itu, mobil kecil bisa jadi sisi lain Reiji yang hanya akan dilihat oleh Misaki. Reiji tidak membantah lagi ide presdir Wada itu.



Pada hari yang dijanjikan, Reiji datang dengan mobil kecil lucunya. Sementara Misaki sudah menunggu di sisi jalan.


“Presdir yang menyetir?” tanya Misaki yang sudah duduk di sebelah Reiji.


“Ya... Tidak usah khawatir. Sejak dapat SIM, aku tidak pernah kecelakaan atau ditilang. Mengenai Suruga Excellent Hotel, sepertinya tahun depan hak manajemennya akan berpindah ke pihak asing.” Reiji lagi-lagi bicara soal pekerjaan.


“Oh, begitu. Kalau begitu, ada kemungkinan dia akan menerima ajakan kita.”


“Iya. Tergantung cara merayunya juga,” ujar Reiji yakin. Perjalanan itu akan jadi perjalanan panjang mereka.



Flash back Reiji dan presdir Wada di dalam tenda. Kali ini mereka asyik menikmati ramen panas.


Presdir Wada menyarankan agar selama perjalanan mereka melewati daerah dengan pantai yang memiliki matahari senja yang bagus. Tapi Reiji menganggap ide itu konyol dan terlalu klise.


Presdir Wada lalu mengibaratkan batu dan spons. Spons dianggap lebih bisa menyerap air. Seorang karyawan yang melakukan aktivitas bersama sang presdir, karyawan yang tadinya kaku dan gugup, perlahan akan melunak seperti spons saat melihat sisi lain sang presdir. “Kalau hanya itu, tidak cukup. Lupakan kedewasaan dan jadilah anak-anak.” Lanjut presdir Wada. Ia pun menjelaskan, dengan menunjukkan sisi lain presdir yang polos seperti anak-anak, itu akan lebih mudah membuat hati Misaki nantinya berubah jadi lembut.


Reiji masih bingung maksudnya menjadi anak-anak. Presdir Wada lalu memberi saran agar Reiji mengatakan saja apa yang dia lihat nanti di pantai dengan suara lantang, persis seperti anak-anak.



Dan perjalanan sore itu pun persis dilakukan seperti saran presdir Wada. Saat melewati pantai, Reiji menghentikan mobilnya dan mengajak Misaki untuk mampir sebentar. Misaki menurut saja dan tidak menolak.


“Lautnya biru, ya!” ujar Reiji dengan suara lantang. Ini menarik perhatian Misaki. Reiji pun melanjutkan ucapannya dengan bertanya soal makanan kesukaan Misaki yang dijawab dengan Acar Matsumae. Reiji juga meminta Misaki untuk bicara dengan lantang karena mereka terutup suara ombak pantai.


“Kalau makanan kesukaan Presdir?” tanya Misaki kemudian.


“Aku? Aku suka masakan telur.”


“Bukan jamur?”


Reiji heran. Misaki lalu menceritakan kalau ia melihat majalah jamur dan menemukan ada foto jamur langka yang diambil oleh Reiji, ada dalam majalah itu.


“Jijik, ya?” tanya Reiji spontan.


“Tidak, kok,” Misaki menggeleng cepat. “Justru sebaliknya. Menurut saya, itu hobi yang hebat.”


Kebahagiaan Reiji langsung naik ke ubun-ubun dipuji seperti itu oleh Misaki. Kali ini Reiji langsung berlarian menuju pantai tanpa alas kaki. Setelah mencelup air, karena kedinginan, Reiji pun buru-buru berbalik. Benar-benar sikap kekanak-kanakan tanpa pura-pura. Misaki pun melihat semua itu dengan senyum terkembang di wajahnya.



Malamanya, setelah mandi, Reiji langsung menelepon presdir Wada. Ia menceritakan kalau semua sarannya dilakukan dan berjalan lancar.


“Aku masih belum dengar strategi setelah ini,” ujar Reiji.


Presdir Wada tersenyum di ujung telepon, “Kamu tinggal melakukan satu hal, 'kan?” ia mengusulkan agar setelah ini Reiji dan Misaki makan malam, lalu Reiji mengaku cinta pada Misaki.


“Apa aku bisa melakukannya?” Reiji sempat ragu.


Presdir Wada lalu memberi saran agar Reiji mabuk dulu supaya bisa mengatakan perasaannya pada Misaki. “Dengar, wanita seperti Shibayama Misaki akan berdebar jika melihat hati lelaki yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya tanpa mabuk. Lelaki seperti Samejima-kun justru membangkitkan rasa keibuannya jika kamu mabuk. Aku yakin pasti efektif.”


“Aku dapat pencerahan!” Reiji jadi lebih bersemangat.


“Jangan cuma dapat pencerahan. Lakukan dengan tegas!”


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 04 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.58.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 03 part 2. Reiji melakukan berbagai usaha untuk menarik perhatian Shibayama Misaki. Dan programnya kali ini adalah dengan menunjukkan kesungguhannya dalam mengelola grup Samejima Hotel.


Lauching proyek baru untuk hotel ke-6 sudah dilakukan beberapa hari yang lalu. Bahkan Reiji rela bergadang beberapa malam untuk mengebut bagian awal proyek ini. Tapi ternyata usahanya belum menunjukkan hasil apapun. Misaki sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan lebih pada usaha Reiji. Bagaimana nasib cinta Reiji?



Reiji ngamuk-ngamuk di kantornya, karena usahanya tampak sia-sia. “Bayanganku soal perasaan Shibayama Misaki yang serta merta menghampiriku sama sekali tidak terjadi!”


“Tentu saja tidak,” komentar sekt.Maiko. “Karena cara pendekatan yang menguras tenaga dan pikiran ini salah. Dia mungkin melihat anda sebagai atasan. Tapi melihat anda secara romantis sebagai lawan jenis, itu lain cerita.”


“Lalu untuk apa waktu tiga hari ini?” keluh Reiji lagi. “Bukankah aku bekerja siang malam hanya untuk melakukan pekerjaan seorang pegawai?”


“Sekarang masih belum terlambat. Anda harus mengungkapkan padanya soal perasaan anda padanya,” saran sekt.Maiko lagi.


Tapi Reiji menolak ide itu. Saat ditanya kenapa, Reiji mengaku kalau itu akan memalukan.


“Tentu saja terasa memalukan. Tapi tidak ada cara lain untuk mengatasi rasa malu itu!” tegas sekt.Maiko.


Reiji pun speechless. Ia tidak bisa mendebat ucapan sekretarisnya itu lagi.



Misaki rapat bersama Mahiro, Ieyasu dan ketua tim Goro-san. Goro-san mengecek persiapan desain lobi baru mereka dan Misaki mengatakan akan segera siap dalam satu minggu. Goro-san juga mengingatkan bahkan setelah itu mereka masih akan ada rapat lagi dengan managet hotal di Kyoto.


Setelah Goro-san pergi, tinggalah tiga karyawan muda yang masih berada di ruang rapat.


“Misaki-san, bukankah menurutmu ada sedikit keajaiban kenyataan Direktur Shirahama Goro masih lajang? Karena, selain dari penampilan, dia ahli dalam pekerjaan dan sangat bersahabat. Membuat penasaran saja,” curhat Mahiro pada Misaki.


Tapi Misaki tidak terlalu tertarik dengan itu. Apalagi si Ieyasu yang sangat hoby nimbrung. Ia mulai narsis dan menyombongkan soal dirinya. Mahiro sudah tidak heran dengan sikap si Ieyasu ini. Ia kemudian kembali membahas soal Goro-san, dan menganalogikannya seperti sebuah hotel.


Misaki tetap menanggapinya dengan santai dan bijak, “Tapi manusia dan hotel berbeda jadi, meski jika ada masalah, suatu hari kau pasti bisa mengatasinya karena kau mencintainya, 'kan? Jadi tidak perlu merasa takut. Kau mengerti?”



Bahkan sampai rumah pun, Reiji masih saja melamun. Ia memikirkan ucapan sekretarisnya tadi di kantor.


Sekarang masih belum terlambat. Anda harus mengungkapkan perasaan anda padanya.


Reiji menghela napas berat, “Sulit sekali.”



Misaki dan Mahiro sedang di pantry saat Otonashi Shizuo-san memamerkan foto istrinya yang ternyata sangat cantik. Para karyawan bahkan tak menyangka kalau Shizuo-san bisa punya istri secantik itu. Mereka berpikir jika dia mantan model. Tapi Shizuo-san mengatakan kalau istrinya itu dulu adalah seorang pembawa papan ronde di area tinju. Tidak lupa mereka juga memuji putranya yang tampak manis.


Obrolan di kantor makin hangat. Karena di antara para karyawan, lainnya masih single. Dan hanya Shizuo-san yang sudah berkeluarga. Mereka berharap juga bisa dapat istri cantik meski penampilan biasa. Obrolan ini ternyata didengar juga oleh Reiji, hingga ia memanggil Shizuo-san ke ruangannya.



Shizuo-san takut-takut masuk ke ruangan Reiji. Ia khawatir akan dipecat karena selama lima tahun bekerja, ini pertama kalinya ia dipanggil dan masuk ke ruangan presdir.


“Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kukonsultasikan padamu,” Reiji mulai bicara. “Di hotel yang sedang dibangun sekarang, aku mempertimbangkan soal konsep bridal. Namun, diantara pegawai disini, hanya kau seorang yang sudah menikah. Jadi, sebagai seniorku dalam hal membangun pernikahan bahagia, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu.”


Shizuo-san tidak menyangka jika ternyata sang bos justru bicara hal lain, bukan pemecatannya, “Tapi... Saya tidak pantas dipanggil senior.”


Reiji melanjutkan bicara, “Menurut apa yang ku dengar, kau berhasil mendapatkan istri yang cantik?”


“Yah, maafkan saya jika merasa bangga, tapi, Setiap malam saat pulang ke rumah, dan melihat wajah istri saya, Saya merasa beruntung, dan berpikir "Syukurlah ini bukan sekedar mimpi".”


“Sekilas, sepertinya kau terlambat menikah melebihi aku... Atau apa aku salah?” tembak Reiji lagi.


Perlahan, Shizuo-san bicara lebih lancar dan tidak takut-takut lagi, “Sangat terlambat. Saya bahkan tak bisa menatap langsung mata wanita saat berbincang dengan mereka.”


“Lalu, bagaimana kau bisa menikahi seorang wanita cantik?”


“Sebenarnya, saya tak pernah mengatakan pada istri saya bahwa saya mencintainya,” ucapan Shizuo-san ini membuat Reiji terkejut. “Tentu saja, saya ingin mengatakan perasaan saya padanya. Tapi sangat susah sekali mengungkapkannya. Meski memiliki seorang putra, Keita yang saat ini kelas 1 SD, Sebenarnya, dia adalah putra dari pernikahan istri saya sebelumnya. Sejak pertama kami bertemu, saya sudah menganggap Keita sebagai anak sendiri. Perasaan itu muncul secara alami untuk Keita. Saya bisa mengatakan, "Kau manis sekali. Aku menyukaimu, nak. Aku menyayangimu." Dan bagi istri saya, sepertinya dia lebih bahagia karena saya memuji putra yang dia besarkan sepenuh hati, dibanding memuji dirinya. Jadi justru dia yang melamar saya dan mengatakan, "Mari membangun rumah tangga yang baik."”


Reiji tidak benar-benar mendengarkan seluruh cerita Shizuo-san itu. Yang benar-benar ada dalam pikirannya sekarang ini adalah, bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan. “Aku mengerti. Jadi ada juga cara seperti itu. Kerja bagus! Aku menerima banyak masukan bagus darimu.”


“Apa ini berhubungan dengan konsep bridal untuk hotel berikutnya?” Shizuo-san penasaran.


“Tentu saja. Tapi detailnya masih rahasia.”



Malam itu seperti biasa, Reiji datang ke gym. Ia berada di atas treadmil sambil melirik ke arah pintu masuk, menunggu Misaki. Dan seperti dugaan Reiji, Misaki juga datang ke sana. Misaki duduk di salah satu tempat melakukan pemanasan.


Reiji berhenti dari treadmill-nya dengan baik, tidak seperti sebelumnya yang nyaris jatuh. Ia pun berusaha duduk di salah satu balon. Tapi karena grogi, Reiji justru terjatuh ke lantai, di depan Misaki. Meski begitu, Reiji tetap bersikap cool dan Misaki pun tidak menertawakannya. (serius, ini sebenarnya lucu lihat Reiji jatuh gitu. Na aja ketawa ngakak, bisa-bisanya si Misaki ini Cuma ngeliatan tanpa ekspresi atau ketawa sama sekali, kekekeke)


Reiji buru-buru bangun dan kembali berusaha duduk di atas balon. Kali ini berhasil. “Aku sudah memilih lokasi untuk hotel baru kau sudah tahu soal itu?”


“Ya, aku sudah mendengarnya,” aku Misaki.


“Kurasa aku akan kembali mengunjungi lokasi hotel. Tapi jika kau tertarik, apa kau bersedia ikut bersamaku?” tawar Reiji.


Misaki senang mendapat tawaran seperti itu, “Apa boleh aku ikut?”


“Tentu saja.”



Hari yang direncanakan pun tiba. Katsunori-san sudah bersiap di belakang kemudi, tegang. Sekt.Maiko juga di kursi sebelahnya, tidak kalah tegang. Reiji pun terdiam di kursi belakang.


“Presdir, ini saatnya, 'kan? Semoga anda berhasil,” ujar sekt.Maiko.


Tidak lama setelahnya, Misaki keluar dari gedung itu. Sigap Katsunori-san membukakan pintu belakang mobil.


“Permisi. Sungguh aku boleh ikut?” tanya Misaki, meyakinkan.


“Masuklah. Kita tidak boleh membuang waktu,” ujar Reiji, sok cool.



Perjalanan itu bagi Reiji dan kedua staf khususnya di kursi depan benar-benar menegangkan. Selama beberapa lama mereka semua bahkan hanya terdiam. Reiji lalu punya ide jika mereka main Shiritori (sambung kata). Tapi karena kaget, mereka semua mengganggap ide Reiji itu konyol. Tahu idenya terdengar aneh, Reiji memutuskan untuk menarik kembali idenya.


Tapi tiba-tiba saja Misaki menyebutkan sebuah kata. Kaget, sekt.Maiko hanya terdiam tidak melanjutkan, padahal itu gilirannya. Katsunori-san pun menegur sekt.Maiko dan memintanya menyebut kata lanjutan. Giliran berikutnya adalah Katsunori-san yang dilanjut oleh Reiji.


Pada putaran berikutnya giliran Misaki. Ternyata kata yang keluar dari bibir Misaki adalah. Kumbang macan leher merah menyala! Kalimat yang sempat diucapkan Reiji saat mengomentari pakaian Misaki beberapa waktu sebelumnya. Misaki tampak senang karena akhirnya bisa mengingat nama serangga itu.


Reiji kaget karena ternyata Misaki masih ingat dengan nama serangga itu. Reiji memalingkan wajah, senyum-senyum sendiri. (ecieeeeee ... jatuh cinta tu gini ya, banyakan senyumnya)



Reiji mengajak Misaki berkeliling calon hotel mereka yang akan direnovasi. Sambil berkeliling, Misaki mengajukan idenya yang langsung disetujui saja oleh Reiji tanpa banyak protes. Mereka pun sampai di lantai atas, tepat di tempat yang rencananya akan dibuat restoran.


“Aku berencana merubahnya menjadi restoran Prancis,” ujar Reiji.


“Jika restoran Prancis, aku memiliki beberapa kenalan yang layak menjadi koki kepala,” usul Misaki.


“Kau benar. Memilih koki adalah hal yang sangat penting. Ku rasa restoran ini akan menjadi keunggulan hotel ini. Aku sudah mengantongi nama untuk restorannya. Namanya"Gosuke". Restoran Prancis, Gosuke.”


Misaki kaget, “Kurasa nama itu hanya cocok untuk anjing.”


Tapi Reiji tetap tak tergoyahkan, “Sama seperti Yuasa Gosuke yang melayani tuannya, aku ingin restoran ini mendukung keberadaan hotel ini. Aku ingin mewujudkan hal itu. Dan juga, aku suka nama itu. Hingga saat ini, tidak ada nama lain yang menarik hatiku. Nama yang kau pikirkan dengan susah payah, aku merasa nama itu manis. Bagaimanapun, nama Gosuke ini...Aku menyukainya!” (cieeee Reiji nembak dengan kalimat terselubung nih ceritanya)


Misaki tersenyum mendengar penjelasan bosnya itu, “Aku senang sekali anda menyukainya.” (kalimat Misaki ini juga berkesan kalau ia menerima pernyataan cinta Reiji, tidak secara langsung)


Reiji memandangi Misaki dengan serius, “Mari buat hotel yang bagus. Apa kau mau membantuku?”


Yang dijawab Misaki tanpa ragu, “Tentu saja, Pak!”



Sepanjang perjalanan pulang, Reiji terus saja memandang ke luar jendela dengan senyum-senyum. Ia tidak banyak bicara tapi terus saja tersenyum. Sementara itu Misaki juga melakukan hal yang sama, melihat ke luar mobil tapi dengan tatapan biasa???


Di kursi depan, sekt.Maiko dan Katsunori-san rupanya juga memahami yang terjadi pada bos mereka. Pasti ada hal baik yang terjadi. Keduanya pun ikut tersenyum tertahan.



Kembali ke kantor


Reiji melepas label di papan hotel-nya. Kali ini ada tulisan Tokyo. Yang artinya hotel ke-6 mereka telah siap untuk dibangun dalam waktu dekat.


“Ini bukan tujuan, tapi permulaan. Mulai besok, mari incar posisi sebagai hotel terbaik dunia!” ujar Reiji yang disambut gembira juga oleh para karyawannya.



Malam itu mereka mengadakan pesta. Meski semua karyawan tampak bergembira, Reiji tampak tidak terlalu antusias. Berkali-kali ia memandang ke arah Misaki. Bahkan meski obrolan berjalan dengan lancar, pikiran Reiji tidak tertuju pada mereka.


“Ah Presdir! Aku punya pertanyaan,” ujar Mahiro kemudian. “Kenapa anda belum menikah?”


Reiji terkejut ditanyai seperti itu, “Yah... Kurasa sekarang sudah waktunya bagiku untuk menikah.”


“Jadi, anda sudah memiliki calon istri, 'kan?” Mahiro menjadi lebih bersemangat. Tapi Reiji mengelak mengakui apapun. “Oh, di antara kandidat potensial, wanita seperti apa yang akan anda pilih?”


Reiji gelagapan. Ia tidak bisa memilih. “Jika ada kandidat potensial, maka hanya ada satu orang.”


Obrolan mereka pun beranjak pada pacar dan sebagainya. Mahiro bercerita kalau ia punya teman dekat yang bekerja sebagai karyawan baru di sebuah perusahaan. Setelah sebulan bekerja disana, presdir perusahaan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama dan belum lama ini mereka bertunangan.


“Bikin iri saja, 'kan? Benarkan, Misaki-san?”


Misaki tidak tampak terkejut diberi pertanyaan seperti itu. Ia berpikir sebentar. Justru Reiji yang tiba-tiba penasaran dengan apa jawaban Misaki.


“Bagiku, hal itu menjijikkan,” ujar Misaki kemudian, membuat Reiji kaget luar biasa.


“Eh... Kenapa?” Mahiro heran.


“Karena, hanya sebulan setelah seorang pegawai baru bergabung, presdir perusahaan melihatnya dengan konflik cinta, 'kan? Yah, hal seperti itu membuat bulu kudukku berdiri. Itu menjijikan,” ulang Misaki lagi.


Reiji tidak tahan lagi mendenga ucapan Misaki itu. Ia nyaris saja meledak. Mondar-mandir masuk keluar ruangannya, membuat sekt.Maiko khawatir. Tidak tahan lagi dengan kesalnya, Reiji menyuruh semua karyawannya untuk bubar. Acara makan-makan malam itu pun ditutup buru-buru.



Sekt.Maiko baru saja selesai mencuci semua peralatan makan saat ponselnya berdering. “Halo, hari ini terima kasih. Perasaannya agak memburuk. Ya. Karena dia sudah bekerja keras tanpa waktu istirahat. Tolong katakan pada yang lain untuk tidak usah khawatir. Terima kasih sudah menelpon.”


Sekt.Maiko berjalan keluar dari pantry menuju ruangan presdir dan menemukan sang bos tengah terduduk di lantai. Ia hanya sempat mengatakan kalau ketua tim Goro-san menelepon karena khawatir.



“Dia bilang hal seperti itu menjijikkan. Seorang presdir perusahaan memiliki hubungan dengan pengawai baru adalah hal menjijikkan, dia mengatakan itu. Dia mengatakannya dua kali. “Itu menjijikkan",” rengek Reiji. Ia memeluk lututnya persis anak kecil sambil duduk di lantai, di belakang kursinya.


Sekt.Maiko mendekati sang bos, “Masih ada waktu sebelum pesta Asosiasi Perhotelan. Kita lanjutkan pertemuan perjodohan. Jangan berhenti berusaha untuk menemukan wanita selanjutnya, Presdir.”


Tapi Reiji tidak mendengarkan ucapan sekretarisnya, “Aku akan pergi melakukan perjalanan bisnis mulai besok.”


“Perjalanan bisnis? Kemana?” sekt.Maiko bingung.


“Ke suatu tempat dimana tak seorangpun bisa menyakitiku.”



Malam itu Misaki pulang bersama Mahiro. Mereka masih membahas soal teman Mahiro yang kencan dengan bosnya.


“Aku ragu apa temanmu sungguh bahagia. Karena akhirnya dia mendapatkan pekerjaan tapi meski begitu, dia akhirnya harus menikah dan tak bisa menjalankan rutinitas pekerjaan yang dia inginkan. Sangat disayangkan.”


“Kurasa dia sangat bahagia,” komentar Mahiro. “Jujur, aku iri padanya. Bukan berarti aku bekerja supaya bisa menikah. Tapi tidak berarti juga aku tak mengharapkannya sementara bekerja. Aku hanya berpikir pasti akan bagus jika aku bisa menikah di usia 20-an sambil terus bekerja. Bagaimana denganmu, Misaki-san?”


“Bagiku...Aku ingin membangun hotelku sendiri. Aku tak tahu akan butuh waktu berapa lama. Tapi itu impianku sejak kecil.”


Mahiro dibuat terkagum-kagum oleh impian Misaki, “Oh, jika impianmu terwujud, aku akan tinggal dihotelmu, pasti.”



Hari berikutnya Reiji benar-benar pergi dengan alasan perjalanan bisnis. Pekerjaan di kantor pun dipegang oleh sekt.Maiko. Para karyawan pun melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Tapi sekt.Maiko ternyata menghubungi presdir Wada dan minta untuk bertemu.


“Maaf saya mengganggu anda di jam sibuk,” ujar sekt.Maiko saat bertemu presdir Wada.


“Aku merasa sangat beruntung terlahir sebagai pria karena kau mengundangku.”


“Saya punya permintaan besar,” ujar sekt.Maiko tanpa basa basi. “Ini soal atasanku, Samejima...”


“Soal presdir mudamu. Ada apa dengan dia?” presdir Wada heran.



Malam itu Reiji tengah asyik melihat-lihat foto hasil perburuan jamurnya di kamera, dalam sebuah tenda. Tapi suara berisik langkah di luar tenda mengusik Reiji. Ia pun mencari-cari teropongnya lalu mengintip dari sedikit lubang pintu tenda itu.


Seseorang mendekat, yang kemudian dikenali Reiji sebagai presdir Wada. Dia menurunkan teropong Reiji, “Samejima-kun, ada sesuatu yang ingin ku diskusikan denganmu.”



Keduanya duduk di depan api unggun. Reiji menuang kopi untuk dirinya sendiri dan tak berniat memberikannya pada presdir Wada. Presdir Wada mengaku kalau sekt.Maiko yang memberitahunya keberadaan Reiji sekaligus mencaritakan secara umum masalah Reiji.


“Kurasa kau sudah dengar bahwa hubunganku cukup akrab dengan Shibayama Misaki. Dia bilang merasa jijik pada seorang presdir yang mendekati pegawai baru, 'kan?”


“Jadi kau kemari untuk merendahkanku?” tuduh Reiji.


Presdir Wada tersenyum, “Dengar. Sekarang aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Mudah untuk memenangkan hati seorang wanita yang mengucapkan kalimat seperti itu. Kau tanya kenapa dia mengatakan kalimat semacam itu, untuk membuat pertahanan di sekelilingnya, dan untuk membuatnya berhenti berharap. Secara insting dia tahu ada resiko jika terjatuh dalam situasi seperti itu. Shibayama Misaki jelas tipe wanita seperti itu. Aku jamin.”


Tapi Reiji keburu pesimis, “Masalahnya bukanlah dia tipe wanita seperti apa. Sejak awal dia sudah mengatakan hubungan cinta antara presdir dan pegawai baru adalah hal mengerikan.”


“Karena itu ku katakan padamu. Mudah untuk memenangkan hati seorang wanita yang mengucapkan kalimat seperti itu,” presdir Wada menyombongkan diri. “Kau pikir siapa aku? Aku seorang ahli romantisme kantor. Sejauh ini, kau pikir berapa banyak pegawai baru yang sudah ku dekati? Sebulan setelah seorang pegawai baru bergabung? Jangan membuatku tertawa, aku tak bisa menunggu hingga sebulan. Untukku, waktu paling cepat adalah seminggu,” pamernya pula. “Siapa yang menjadikan posisi pekerjaan sebagai penghalang cinta? Kebetulan saja wanita yang kau sukai adalah anak buahmu. Apa salahnya hal itu? Sebelum seorang presdir, kita adalah seorang laki-laki.”


Tiba-tiba saja Reiji menangis, membuat presdir Wada keheranan. Reiji rupanya terkesan dengan ucapan presdir Wada bahkan minta izin memanggilnya ‘guru’. Tanpa ragu kemudian Reiji mempersilahkan presdir Wada duduk di kursinya yang lebih nyaman bahkan membuatkannya kopi.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 04 part 1


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


 
Bening Pertiwi 14.54.00
Read more ...