SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 2. Untuk kedua kalinya, Misaki pun menginap di apartemen Reiji, setelah dibujuknya usai mereka menaiki wahana kincir di taman hiburan. Meski tadinya menolak, Misaki akhirnya setuju.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, Reiji berniat mencium Misaki. Tapi, lagi-lagi Reiji gagal melakukan misinya. Saat itu Misaki—yang ternyata belum tidur—tahu dan menyadarinya. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?



Gagal melakukan misinya untuk mencium Misaki di malam sebelumnya, membuat mood Reiji hari berikutnya jadi buruk. Ia terus saja marah-marah dan mengkritik proposal yang sudah disusun oleh para karyawannya.


Para karyawan tidak bisa berbuat banyak. Mereka tidak punya pilihan lain selain memperbaiki kembali proposal-proposal itu dan mengajukannya pada Reiji. Reiji sendiri kembali ke ruangannya masih dengan perasaan kesal.



Sekt.Maiko sedang curhat pada Katsunori-san. Rupanya presdir, Reiji, masih belum tahu soal hubungan sekt.Maiko dengan presdir Wada. Sekt.Maiko sendiri bingung bagaimana caranya untuk mengatakan soal ini pada Reiji. Tapi saat Katsunori-san menawarkan bantuan, sekt.Maiko pun menolaknya.


“Aku akan mencari caranya,” ujar sekt.Maiko kemudian.



Reiji galau sendiri. Tadinya dia galau soal kata ‘love’, tapi ternyata ada kata lain yang tidak kalah membuatnya stres, yaitu ‘kiss’. Kali ini sekt.Maiko tidak terlalu menanggapi curhatan Reiji. Pikirannya masih mencari cara untuk memberi tahu Reiji soal hubungannya dengan presdir Wada.


“Aku ingin mengatakan analogi. Kalau saja, salah satu karyawan di hotelmu punya hubungan dengan sainganmu, kau pasti tidak akan setuju kan?”


“Wada kan? Kau pikir aku tidak tahu apapun?” ujar Rieji to the point.


Keterusterangan Reiji membuat sekt.Maiko kaget, “Jadi kau menyadarinya ... “


Reiji ikut kaget sendiri, “Eh benar? Kau benar suka pada Wada?”


“Anda kan baru saja bilang sendiri?”


“Itu Cuma tebakan acak. Aku tidak menyangka akan benar,” ujar Reiji kemudian.


Merasa kalau ia ketahuan, sekt.Maiko buru-buru minta agar obrolan itu tidak lagi dianggap oleh Reiji. Ia pun kemudian buru-buru pergi dari ruangan Reiji.



Seperti biasa, Reiji pulang diantar oleh Katsunori-san dan sekt.Maiko. “Pembicaraan kita tadi soal Wada, tidak masalah kan? Aku tidak masalah dengan itu. Siapapun pasanganmu, itu bukan urusanku. Aku tidak berhak ikut campur urusan pribadimu. Dan paling tidak, dia akan tahu tipe wanita seperti apa yang dia hadapi. Iya kan, Katsunori?” ujar Reiji.


“Benar!”


“Apa maksud Anda?” sekt.Maiko heran.


“Kau berhenti dari Samejima Ryokan (penginapan milik ayah Reiji), karena kau punya hubungan dengan pria beristri dan punya anak kan? Kau wanita yang terlibat pria berbahaya. Jadi itu biasa kalau kau tertarik dengan Wada. Ini waktumu untuk mendapatkan pasangan juga. Bukan waktunya untuk terlalu pemilih. Kau satu-satunya yang masih sendiri kan?”


Sekt.Maiko pun mengerti, “Terimakasih.”



Malam itu Mahiro datang dan menginap ke apartemen Misaki. Sebuah bangunan kuno yang sangat cantik, tetapi tidak memiliki kamar mandi sendiri. Mahiro begitu terkesan dengan apartemen itu dan akhirnya mengerti kenapa Misaki memilihnya.


Misaki bercerita pada Mahiro kalau ia kembali menginap di tempat Reiji, dan tidak ada yang terjadi. Misaki berpikir ini aneh, padahal mereka kencan dan bahkan Misaki sudah menginap dua kali.


“Mungkin dia memang tidak ingin melakukannya denganku?” tebak Misaki.


Tapi Mahiro justru punya imajinasi lain. Dia mengungkapkan kalau hubungan itu mungkin Cuma kamuflase saja. Kadang, ada orang kaya yang seperti itu. Mereka suka sesama jenis. Tapi mereka menikah dengan lawan jenis, hanya untuk menutupi kebenaran terhadap publik.


“Kau mungkin benar. Aku sering berpikir dia (Reiji) tidak terlalu cocok dengan wanita.”


“Tapi aku tidak merasakan aura khusus seperti itu sih,” lanjut Mahiro.


Malam itu, Mahiro benar-benar menginap di tempat Misaki. Ia memberi usul agar Misaki yang mencoba melakukannya lebih dulu.


“Itu akan aneh. Karena aku tidak mungkin melakukan itu,” elak Misaki.


“Kalau begitu, kau akan kalah kalau Cuma menunggu dan tidak mencoba melakukan apapun. Karena saat ini, laki-laki atau wanita, tidak masalah siapa yang mulai duluan,” Mahiro mencoba meyakinkan Misaki.



Sementara itu, Reiji justru menghubungi Katunori-san. Ia meminta sopirnya itu untuk datang ke apartemennya. Reiji bahkan mengijinkan Katsunori-san menggunakan kamar mandinya dan mengajaknya minum bersama. Kebaikan Reiji ini membuat Katsunori-san curiga. Tapi ia kemudian paham kalau yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Reiji adalah soal sekt.Maiko.


“Apa tidak masalah membiarkannya kencan dengan Wada? Sejujurnya aku tidak pernah mengira.”


“Kupikir Anda akan menentang itu,” komentar Katsunori-san.


“Kalau memikirkan dia (sekt.Maiko), mana yang lebih baik, mengijinkan dia kencan dengan Wada atau menentangnya? Sejujurnya, aku tidak tahu harus berbuat apa,” curhat Reiji. “Kupikir ini tanggungjawabku juga.”


“Tanggungjawab soal apa?”


“Tanggungjawab menjodohkan dia dengan seseorang, karena aku sudah membawanya dari ryokan ke perusahaan sekarang. Karena kau sudah menikah, tinggal dia saja.”


“Tapi Anda juga belum menikah,” protes Katsunori-san.


“Itu ... akan segera terjadi. Jadi tidak perlu khawatir soal aku,” elak Reiji.


“Tapi, tidak perlu khawatir soal sekt.Maiko juga.”



“Kau pasti tidak pernah berpikir akan berdua denganku seperti ini dan bicara soal ... kiss,” ujar Reiji. Ia tidur di ranjang, sementara Katsunori-san di futon yang tidak jauh dari tempat Reiji.


Reiji melanjutkan sesi curhatnya soal ‘kiss’. Tadinya ia berpikir hal paling membahagiakan adalah bisa mencium orang yang disukai. Tapi ternyata tidak. Tidak masalah, tidak mencium orang yang disukai. Karena berada di dekatnya saja sudah cukup. “Tapi Maiko menceramahiku. Katanya kasihan Misaki karena aku tidak menciumnya padahal dia sudah menginap di sini. Bahkan kedua kali dia di sini, aku tidak melakukan apapun.”


“Saya bisa mengerti apa yang Anda pikirkan,” komentar Katsunori-san, setia mendengarkan.


Reiji merasa perlu melakukan sesuatu untuk hubungannya ini dengan Misaki. Reiji punya ide. Ia berpikir untuk membuat ‘seolah-olah’ kaki ranjangnya patah hingga dia terjatuh ke arah Misaki yang tidur di futon dan ... ciuman kecelakaan pun bisa terjadi.



Malam itu pun Reiji langsung merealisasikan idenya. Setelah mencari model yang dirasa cocok, Reiji menyuruh Katsunori-san untuk mempersiapkan semua alat dan bahannya. Sekarang Reiji bekerja menyusun ranjang ‘kecelakaan-nya’ dibantu Katsunori-san. Setelah ranjang itu jadi, Reiji berpikir untuk mencobanya. Ia menyuruh Katsunori-san mencoba pertama kali, berhasil. Setelah menarik tali yang disambungkan dengan sistem ranjang ‘kecelakaan’ itu, kaki ranjang di salah satu sisi terlipat ke dalam dan Katsunori-san pun terjatuh tepat di atas futon.


Sekarang giliran Reiji. Percobaan pertama, berhasil. Reiji mendarat jatuh tepat di atas futon. Untuk pelengkapnya, Katsunori-san sekarang meletakkan sebuah baskom dengan tanda merah di salah satu sisinya—sebagai bibir—untuk percobaan.


Percobaan berikutnya, gagal. Berkali-kali Reiji mencoba, tetapi selalu saja gagal membuat bibirnya tepat mendarat di tanda merah pada baskom. Saat hampir menyerah karena kelelahan, Reiji masih kembali mencoba dan ... ia pun berhasil mendaratkan bibirnya tepat pada tanda merah pada baskom. Latihan berhasil!



Ponsel Reiji berbunyi tepat setelah latihannya berhasil. Sebuah pesan dari Misaki.


Bisakah aku datang ke rumahmu lagi besok malam?


Mendapat pesan itu, Reiji langsung sumringah, “Tepat waktu! Dia baru saja mengirim pesan! Sekarang jadi waktu yang tepat kan?! Kali ini aku akan benar-benar melakukannya!” ujar Reiji yakin.



Malam berikutnya. Reiji menyempatkan berbelanja setelah pulang kantor. Sekt.Maiko yang khawatir, menawarkan bantuan untuk Reiji. Tapi ditolah oleh Reiji karena ia ingin memasak bersama dengan Misaki saja.


“Daripada bicara soal itu, apa saja yang sudah terjadi antara kau dengan Wada?”


“Tidak ada yang khusus,” ujar sekt.Maiko, agak malu.


“Kalau kau punya waktu khawatir soal orang lain, khawatirkan dirimu juga,” ujar Reiji.


Sekt.Maiko pun mengerti dan pamit pergi. Malam itu ia juga punya janji temu dengan presdir Wada.



Seperti janjinya, Misaki benar datang. Reiji menawari beer atau champagne untuk Misaki yang dijawab Misaki dengan beer. Malam itu, Reiji dan Misaki memasak bersama. Sementara Misaki mempersiapkan sayur di panci, Reiji membersihkan dan membuat fillet ikan. Misaki bahkan memuji kemampuan Reiji soal satu ini. (iya lah, bang Ohno kan cinta banget tuh sama ikan, ekekeke. Hobby-nya kan mancing)


Setelah semua matang, mereka berdua pun makan malam bersama. Reiji memuji makanan di depannya itu. Tapi Misaki mengelak, karena setengah dari masakan itu juga buatan Reiji.


“Meski aku memasak, aku tidak mungkin bisa membuat rasa seenak ini. Kalau kau buka restoran, aku bisa pastikan akan datang tiap hari,” puji Reiji lagi.



Sekt.Maiko minum sendirian di bar tempat biasa mereka bertemu. Tidak lama setelahnya presdir Wada pun datang dan bergabung untuk minum. Mereka mengobrol sebentar sebelum presdir Wada pamit untuk menelepon.


“Kau bisa pergi duluan kan?” ujar presdir Wada sebelum pergi.


Sekt.Maiko melihat presdir Wada meninggalkan kunci sebuah kamar di meja. Ia pun mengerti apa maksud presdir Wada soal kunci itu.



Misaki sudah terlelap di balik selimutnya saat Reiji masih di kamar mandi. Setelah membersihkan wajah, Reiji masih sempat mengoleskan krim pelembut di bibirnya. Reiji bersiap. Saat kembali, Reiji melihat Misaki sudah terlelap, dan dia pun naik ke ranjangnya sendiri.


Sejenak Reiji ragu. Beberapa kali ia melihat ke arah Misaki. Misi kali ini harus dilakukan, apapun yang terjadi. Reiji mengambil tali yang tersembunyi di bawah bantalnya, kemudian memantapkan hati untuk melakukan misinya. Beberapa kali Reiji mengimajinasikan situasinya.



Tapi belum sempat melakukan apapun, justru Misaki yang bangun. Melihat Misaki, Reiji buru-buru memejamkan mata dan menyembunyikan lagi tali yang tadi dipegangnya di balik bantal.


Menuruti saran Mahiro, Misaki pun berniat untuk melakukannya lebih dulu. Ia beringsut ke ranjang Reiji. Misaki mendekatkan wajahnya pada Reiji, bersiap mencium. Reiji yang belum benar-benar tidur, tahu itu. Tapi ia merasa tidak nyaman hingga sedikit menghindar dan justru menarik tali yang sejak tadi dipegangnya. Kaki ranjang Reiji pun tertekuk ke dalam membuat ranjang itu ambruk. Reiji dan Misaki otomatis terjatuh ke arah futon di bawah.


“Apa itu?”


“Aku, juga tidak tahu yang terjadi,” elak Reiji.


“Apa kau membenciku?” tuduh Misaki.


“Tidak, tentu saja tidak!”


“Lalu kenapa kau menolak?” protes Misaki.


“Ini? Ini bukan alat untuk menghindarimu,” elak Reiji cepat.


“Kalau begitu, itu apa?” cecar Misaki. Ia masih memegang bahunya yang kesakitan karena jatuh tadi.


“Itu ... aku tidak tahu tali apa ini. Saat ditarik, jadi seperti ini,” Reiji mencari alasan. “Ini Katsunori! Dia membuatnya untuk mengagetkanku!” Reiji mencoba menjelaskan.


Tapi Misaki tidak bisa menerima penjelasan Reiji, “Bohong! Kenapa kau bohong?”


“Aku membuat ini untuk mengejutkanmu. Semacam ranjang kejutan. Tapi aku tidak berpikir membuatnya jadi salah baham. Benar, ini hanya salah paham,” Reiji masih berusaha memperbaiki situasi.


Tapi Misaki sudah tidak mau dengar lagi, “Presdir yang cakap dalam pekerjaan, tenang dan dewasa, seorang yang kadang terlalu langsung dan ceria. Itu kesanku terhadapmu.”


“Itu benar. Tapi, kita setuju kan kalau kau tidak memanggilku presdir saat kita Cuma berdua?”


“Kau tahu benar yang terjadi. Selain membuat ranjang ini, tidak bisakah kau pikirkan cara yang lebih baik? Kau banci! Ini pertama kalinya aku bertemu pria yang sangat banci!” suara Misaki meninggi.


Tidak terima dikatakan ‘banci’, Reiji pun naik amarahnya, “Ini juga pertama kalinya bagiku, bertemu wanita keras kepala!”


Pertengkaran keduanya pun makin panas. Reiji dan Misaki saling menyalahkan soal ciuman, soal siapa yang harusnya lebih dulu melakukan ciuman.


“Aku benar-benar kaget sekarang. Aku ingin mengubah pandanganku soal presdir yang selalu berpikiran terbuka! Aku keliru menilaimu, pria yang banci—pengecut—dan sama sekali tidak tenang apalagi dewasa!”



Tidak tahan lagi dimaki oleh Misaki, kata itu pun keluar dari bibir Reiji, “Kau diPECAT!”


“Begitu! Terimakasih untuk semuanya di waktu singkat ini!” Misaki pun beranjak ke ruangan sebelah untuk ganti bajunya. Setelahnya Misaki pun berlari keluar dari apartemen Reiji.


Reiji meminta Misaki untuk berhenti. Rapi Misaki tidak peduli lagi. Marah oleh semua yang terjadi, Reiji mengambil gambar Isanami Suyao dan Isanami Shiho yang ditempelnya di dinding lalu menyobek-nyobeknya dengan kesal.



Presdir Wada kemudian menyusul sekt.Maiko ke kamar hotel. Ia mempersilahkan sekt.Maiko untuk mandi duluan, kalau mau.


“Aku berubah pikiran. Aku tidak bisa berkencan denganmu,” ujar sekt.Maiko tiba-tiba.


Ini membuat presdir Wada kaget sekaligus heran, “Kenapa? Bukankah ini sudah terlambat untuk berubah pikiran?”


“Akhirnya, aku sadar tidak bisa menghianati Reiji. Meski dia bilang tidak masalah, tapi sebenarnya tidak begitu. Dia bukan orang yang dengan mudah mengatakan ‘silakan’. Aku minta maaf.”


Presdir Wada sama sekali tidak mengerti, “Kenapa wanita cerdas sepertimu bisa begitu peduli padanya? Sepenting apa dia bagimu? Bisa kau jelaskan padaku?”


Sekt.Maiko tersenyum, “Benar. Itu tidak bisa dikatakan dengan kata-kata saja. Orang tidak bisa begitu saja mengerti hal baik soal Reiji. Jika aku berpindah memihak padamu, Reiji tidak akan punya rekan yang melindunginya. Itulah kenapa aku perlu berada di sisinya. Itu sudah kuputuskan sejak 8 tahun silam, saat dia mengajakku bergabung.”


“Begitu sukakah kau pada Reiji?”


“Ya, aku suka dia. Sangat menyukainya,” aku sekt.Maiko pula.



Setelah mulai tenang, Reiji mengumpulkan kembali sobekan kertas yang tadi dibuangnya lalu ditata di meja. Sayangnya, satu bagian kertas itu tidak ada, bagian tengah.


Reiji tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya berbaring di sofa dengan tangan terapit kedua kakinya yang tertekuk. Air mata perlahan mengalir di pipi Reiji.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Kyaaaa ... bang Ohno patah hati. Sini, Bang. Ke pelukan adek aja, kekekeke #dilemparSandal. Terus terang, Na bisa nonton bang Ohno akting jadi detektif atau semacamnya, yang karakternya dingin cool gitu. Jadi nonton dia di sini dengan karakter seperti ini, rasanya jadi fresh aja. Ya maaf deh, Na nggak nonton varshow-nya Arashi sih. Tapi sepertinye leader Arashi ini memang raga gokil gimanaaaaa gitu ya.

Bening Pertiwi 13.02.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 1. Pertemuan Reiji bersama Misaki dengan presdir Wada dan wanitanya rupanya menguak rahasia Reiji. Setelah tahu alasan Reiji mendekatinya, Misaki yang terluka dan kesal memilih untuk pergi. Dan hubungan mereka pun terancam bubar.


Situasi tidak terduga di pesta membuat Reiji dan Misaki perang dingin. Misaki pulang sendiri ke apartemennya. Sementara Reiji berkeras tidak mau menghubungi Misaki lebih dulu. Hingga akhirnya Reiji menyerah dan menghubungi Misaki lebih dulu. Tidak butuh waktu lama hingga keduanya akhirnya berbaikan. Reiji mengajak Misaki untuk bertemu. Misaki setuju bertemu dan memutuskan datang ke apartemen Reiji.



Karena Misaki akan datang, Reiji menyempatkan diri untuk belanja beberapa makanan. Dengan cepat ia pun mengatur makanan itu di piring yang ditata rapi di meja makan. Reiji juga sempat mengatur lampu ruangan menjadi lebih redup tapi akhirnya membuatnya terang kembali.


Misaki datang dengan pakaian santai dan dibuat takjub dengan apartemen Reiji. Reiji mengatakan kalau ia menyewa apartemen itu. Meski begitu, Misaki tetap berpikir kalau apartemen itu menakjubkan. Misaki rupanya juga datang dengan makanan yang ia beli. Tapi Reiji sudah menyiapkan semuanya di atas meja. Bahkan Reiji pun sempat membelikan salah satu makanan kesukaan Misaki, Matsumaezuke.


“Ini bukan masalah. Aku hanya mengeluarkan isi lemari es-ku dan mengaturnya,” ujar Reiji menyembunyikan fakta kalau ia baru berbelanja.



Reiji dan Misaki pun makan malam bersama. Dari cerita Misaki, Reiji tahu kalau nama ‘Gosuke’ adalah nama yang disukai oleh kakek Misaki. Nama itu adalah nama salah seorang samurai terkenal. Selain itu, kesukaan Misaki terhadap sejarah Jepang dan Rakugo (semacam standup comedy), juga dipengaruhi oleh kakeknya. Termasuk keinginan Misaki bekerja di hotel, itu juga karena kakeknya.


“Kalau begitu aku harus berterimakasih pada kakekmu. Jika bukan karena dia, kau tidak akan datang dan bekerja di perusahaan,” ujar Reiji.


Misaki kemudian menebak kalau Reiji juga terinspirasi ayahnya saat membangun perusahaannya sekarang. Tapi Reiji mengelak. Menurut Reiji, ayahnya justru menolak ide Reiji soal manajemen perusahaan. Merasa obrolan menjadi suram, Reiji pun mengalihkan pembicaraan. Ia mengajukan apakah mereka perlu membuka botol sampagne baru lagi atau tidak. Tapi Misaki mengatakan kalau ia harus pulang.


Reiji mengiyakan hal itu dan menawarkan untuk memanggil taksi. Tapi dalam hati Reiji tidak benar-benar setuju. Ia pun mengajukan pilihan lain untuk Misaki, yakni menginap di apartemennya. Apalagi besok libur.


“Kalau kau tidak nyaman kita berada di satu ruangan, aku bisa membuat tenda di luar dan tidur di dalam kantong tidur,” Reiji menawarkan.


Misaki ragu. Ia Cuma tidak nyaman karena harus menginap secara tiba-tiba. Tapi Reiji mengaku tidak masalah dengan hal itu. Misaki pun akhirnya setuju untuk tinggal dan menginap di apartemen Reiji.



Misaki baru saja keluar dari kamar mandi saat Reiji sudah berada di balik selimutnya. Reiji tidur di ranjangnya sendiri. Sementara sebuah kasur diletakkan di dekat ranjang milik Reiji, untuk tidur Misaki. Misaki baru saja akan menyusup ke balik selimut saat dilihatnya Reiji masih terbangun. Reiji sendiri terus saja senyum-senyum karena melihat Misaki ada di sebelahnya.


Misaki dibuat takjub saat melihat gambar Isanami-sensei dan istrinya—buatan Reiji—dipasang di dinding. Misaki berucap ‘Isanami Suyao’—oyasuminasai sebelum menarik selimutnya. Reiji pun membalasnya dengan ‘Isanami Shiho’, masih sambil terus tersenyum.


Meski Misaki sudah tidur, Reiji masih belum bisa memejamkan matanya. Senyum terus saja terkembang di wajah Reiji, saat dilihatnya Misaki sudah terlelap tidak jauh darinya.



Saat kembali masuk kerja, Misaki menceritakan kalau ia menginap di tempat Reiji, pada Mahiro. Dan lagi, tidak ada yang terjadi pada mereka malam itu.


“Aku juga sudah bersiap, tapi ... “


“Mungkinkah dia sangat menghargaimu?” tanya Mahiro kemudian. “Biasanya laki-laki itu serakah seperti serigala kan? Alasan kenapa tidak ada yang terjadi, artinya dia mengirimkan pesan yang mengatakan ‘Aku tidak ingin kau berpikir aku pria serakah’. Artinya dia pria yang menghormati wanita.”


Misaki tersenyum, “Ya, itu lebih baik daripada dugaan kalau ia tidak tertarik padaku,” balas Misaki. Misaki pun bertanya apakah ada yang terjadi pada Mahiro saat perjalanan bisnis bersama ketua tim Goro-san sebelumnya.


“Kau bisa tahu ya?” Mahiro tersipu.


“Kata ‘bahagia’ tertulis jelas di wajahmu dengan huruf besar,” balas Misaki.



Cerita soal Misaki yang menginap juga dikatakan Reiji pada sekt.Maiko. Seperti Mahiro, sekt.Maiko juga heran karena tidak terjadi apapun malam itu.


“Paling tidak, kau menciumnya?”


Reiji kesal, “Paling tidak kau menghargai, kalau aku bisa membuatnya menginap semalam di tempatku. Aku membuatnya tinggal padahal dia sudah mau pulang,” sombong Reiji.


“Kalau dia menginap dan kau tidak melakukan apapun, lebih baik tidak usah membuatnya tinggal,” sindir sekt.Maiko.


Perdebatan bos dan sekretaris ini pun berlanjut. Mereka sekarang bicara soal kiss. Sekt.Maiko berpikir, kalau Misaki mau menginap, artinya dia sudah siap kalau ada ‘kiss’. Hingga akhirnya sekt.Misaki berhasil menebak kalau Reiji belum pernah berciuman, meski Reiji mengelak hal itu.


Karena perdebatan ini tidak ada ujungnya, sekt.Maiko akhirnya mengalihkan pembicaraan. Ia menunjukkan sebuah artikel pada Reiji. Di artikel itu disebutkan ada tiga tempat favorit para wanita untuk dicium oleh kekasihnya untuk pertama kali. Tempat ketiga adalah rumah kekasih, tempat kedua adalah pantai berpasir di malam hari. Dan tempat pertama : kincir sambil melihat pemandangan malam.


Reiji pun dapat ide. Ia mengambil teropong dari lacinya. Dilihatnya arah luar. Dari ruangan kantornya, Reiji bisa melihat sebuah kincir raksasa di sana, “Kutebak, tempat ketiga adalah tempat yang paling tidak menghargai Misa-san. Aku akan memilih tempat pertama, untuk pekerjaan dan juga cinta. Untuk memberikan Misa-san kenangan ciuman pertama, itu tugas Samejima Reiji kan?”



Mahiro membagikan makanan oleh-oleh perjalanan bisnis sebelumnya pada rekan-rekan kerjanya. Pujian pun mengalir dari para karyawan lain. Tampak Mahiro juga sangat bersemangat hari itu. wajahnya berseri-seri karena banyak bicara dengan ketua tim Goro-san. Pembicaraan pun bergeser soal gaji.


“Pria memang suka bicara soal uang ya,” komentar Mahiro.


Obrolan berlanjut. Tapi tidak dengan Ieyasu. Ia yang baru saja mengambil minum dari pantry melihat sekeliling.


Aku suka Mahiro-chan. Semua orang yang punya perasaan itu akan percaya diri tidak akan kalah. Tapi situasinya sekarang berbeda. Dia (Mahiro) suka pada ketua tim Goro-san. Sementara Goro-san juga tampak membuat hati untuknya. Saat itu, apa yang harus dilakukan Miura Ieyasu? Menyerah soal wanita yang tidak mungkin kumenangkan dan memperjuangkan wanita lain sebagai pelarian. Itulah gaya Ieyasu. Ieyasu kemudian melihat ke arah Misaki yang tengah asyik dengan pekerjaannya.



Ieyasu kemudian mengambil makanan oleh-oleh Mahiro-Goro-san lalu memberikannya pada Misaki. Misaki berterimakasih. Ieyasu pun memberikan bagiannya juga pada Misaki, bermaksud menggoda. Bahkan Ieyasu mengedipkan sebelah matanya pada Misaki.


Target, full speed, two months. Susun targetmu, dengan kecepatan tinggi dan raih dalam dua bulan. Dan untuk level gadis seperti Misaki-chan, tidak butuh dua bulan. Dua hari juga cukup. Ujar Ieyasu dalam hati.


Hari berikutnya, Ieyasu terus saja mengekor Misaki. Berkali-kali ia memuji penampilan Misaki, tapi Misaki tampak tidak terlalu peduli. Ieyasu bahkan mengajak Misaki untuk naik kincir, tapi langsung ditolak oleh Misaki. Ieyasu tetap tidak menyerah mendekati Misaki. Tapi ia tidak tahu, kalau kekasih Misaki—Reiji—memerhatikan semua tingkah lakunya yang mendekati Misaki.



Hari berikutnya, Ieyasu sudah mengekor Reiji yang baru saja datang. Tawaran bantuan dari Ieyasu untuk membawakan tasnya ditolak Reiji. Reiji mengkritik Ieyasu yang terlalu banyak ngobrol selama jam kerja, terutama dengan Misaki. Tapi bukannya tahu diri, Ieyasu malah keburu ge-er.


Ieyasu justru curhat soal dirinya. Tadinya dia ingin mengejar Mahiro. Tapi sekarang dia berubah pikiran dan ingin mengejar cinta Misaki karena Misaki tampak kesepian. Dalam hati kemarahan Reiji sudah di ubun-ubun, karena dialah kekasih Misaki.


Reiji kesal dan menyuruh Ieyasu menyerah saja, karena wanita seperti Misaki bukanlah tipe yang mudah untuk ditaklukkan. Meski begitu, Ieyasu tidak menyerah. Dia justru mencari dukungan Reiji untuk bisa mendapatkan Misaki. Reiji yang kesal akhirnya menyuruh Ieyasu diam.



Alih-alih langsung masuk ruangannya, pagi itu Reiji berhenti di ruang karyawan, “Mulai hari ini, ada peraturan baru. Sampai sekarang, aku masih menoleransi hal itu. Tapi dengan perubahan bisnis sekarang, mulai sekarang, kalian semua dilarang punya hubungan romantis dengan teman kantor.”


Karyawan dibuat kaget dengan peraturan baru yang tiba-tiba ini. Tidak terkecuali Mahiro.


Tapi Mahiro tidak bisa lagi menahan diri, “Kecuali anda? Itu tidak adil!” protes Mahiro, membuat Reiji batal masuk ruangannya. “Presdir dan Misaki berkencan!” teriak Mahiro kemudian.


Fakta ini membuat Reiji terdiam. Begitu juga para karyawan lain. Tidak terkecuali Misaki yang sejak tadi diam saja di tempat duduknya. Ieyasu pun tidak berhasil membuat mulutnya tertutup, saking kagetnya.


Pelan, Reiji mulai menguasai diri, “Kenapa tidak ada yang kaget dengan itu?”


Para karyawan hanya bisa terdiam. Mereka memilih seolah melakukan pekerjaan masing-masing, seperti tidak pernah dengar fakta ini. Saat ditanya pun, ketua tim Goro-san mengaku tidak tahu menahu, meski agak curiga.


Reiji menarik nafas, “Kalau begitu, aku tidak bisa memaksakan peraturan baru yang kukatakan tadi. Aku menariknya lagi.” Reiji pun beranjak masuk ke ruangannya.


Sementara itu Misaki tetap duduk terdiam di mejanya. Karyawan lain justru mengerubungi Mahiro yang asal bicara. Mereka khawatir kalau Mahiro akan dipecat oleh Reiji karena masalah ini.



Para karyawan pria membawakan menu belut untuk Katsunori-san, membuatnya merasa tidak enak. (di Jepang, belut itu menu enak dan mewah. Aiiih, jadi pengen). Mereka mencari tahu informasi soal Reiji dari Katsunori-san.


Para karyawan itu juga ingin tahu, sejak kapan Reiji menyukai Misaki. Soalnya sejak awal Misaki masuk, mereka sudah merasa heran. Reiji tampak berubah sejak itu. Mereka kemudian sepakat untuk tetap pura-pura tidak tahu, karena mood Reiji sedang baik tiap hari.



Mahiro makan malam bersama Misaki. Ia sangat menyesal dan minta maaf atas apa yang terjadi tadi. Tapi Misaki sepertinya tidak terlalu memikirkannya. Mahiro mengeluh, kalau pada akhirnya peraturan itu tidak diberlakukan, Reiji sebenarnya tidak perlu membuat peraturan itu.


Mahiro pun kemudian cerita pada Misaki, soal hal baik saat perjalanan bisnis kemarin. “Ketua tim Goro-san berjanji kalau kami akan minum bersama,” sekarang giliran Mahiro yang tersipu.


“Kalau begitu, kerja kerasmu terbayar saat perjalanan bisnis kemarin,” komentar Misaki.


“Tapi soal yang dikatakan presdir, kalau dari sudut pandangmu, pasti kau kesal mendengarnya ya?” Mahiro pun menyimpulkan kalau sikap Reiji ini seolah mengatakan ‘jangan ganggu wanitaku’. “Aku benar, dia sangat menghargaimu kan? Tapi itu pasti memalukan.”



Pagi berikutnya.


Berkali-kali Ieyasu melirik meja kerja di sebelahnya, milik Misaki—yang masih kosong. Huru-hara ini sepertinya menyelesaikan masalah. Satu-satunya yang tersisa hanya satu masalah. Itu benar. Aku. Sejak awal, orang yang ingin kubuat terkesan bukan Mahiro atau Misaki, tapi presdir. Dan kemudian, saat aku mendekai wanitanya presdir ... itu membuatku dalam masalah. Kecuali aku melakukan sesuatu, dia mungkin akan punya alasan untuk memecatku. Aku adalah pria yang merubah kemalangan jadi peluang. Itulah gaya Ieyasu.


Dia pun melangkah dengan tegak ke arah ruangan Reiji.



Reiji tengah asyik melihat dari teropongnya saat Ieyasu masuk. Ia kesal karena karyawannya satu ini suka seenaknya saja. Reiji bahkan menolak untuk bicara pada si Ieyasu ini. Tapi dasar, si Ieyasu ini sepertinya nggak ngerti situasi. Ia berkeras tetap mencari celah untuk mendapatkan perhatian Reiji.


“Apa Anda sedang melihat ke arah taman bermain?” tanya Ieyasu penasaran.


“Kenapa kau berpikir begitu?”


“Ingat, aku pria yang tahu banyak hal.” Baru saja Reiji akan mengusir Ieyasu lagi, tapi Ieyasu buru-buru menyodorkan tiket ke taman hiburan. “Jika Anda suka, gunakan tiket ini. Pemandangan malam dari kincir sangat luar bisa. Aku secara khusus merekomendasikan ini.”


“Kau mengajak Misaki ke taman bermain?” Reiji makin tidak suka.


“Meski aku mengajaknya, dia menolak. Artinya dia benar-benar menyukai Anda, Bos. Jadi percaya dirilah!”


“Bisakah kau berjanji tak memberikan ide aneh lagi?” pinta Reiji. “Jadi kau benar-benar menyerah soal dia?”


“Tidak ada menyerah atau apapun karena sejak awal dia memang bukan tipeku. Jadi Anda tidak perlu khawatir.”


“Kau benar-benar ingin dipecat ya?!” Reiji kesal.


“Bos, bisakah kau izinkan aku mulai lagi seperti saat pertama kali bekerja di sini. Seharusnya tidak seperti ini,” sepertinya Ieyasu benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan sang bos.


“Lain kali bawa surat pengunduran dirimu!”


Ieyasu kemudian pamit pergi. Menurutnya, itu artinya Reiji memaafkannya dan masih mengijinkannya bekerja. (ni anak emang nggak pernah paham situasi deh ya)



Malam itu Reiji dan Misaki benar-benar datang ke taman bermain. Dengan sok cool, Reiji mengatakan kalau ia ingin memenuhi harapan Misaki untuk naik kincir. Padahal sebenarnya dirinyalah yang tampak sangat tertarik dan bersemangat untuk naik wahana putar itu.


“Karena melihatnya dari ruanganku tiap hari, aku penasaran seperti apa kantor kalau dilihat dari sini,” ujar Reiji.


Misaki sendiri hanya bisa tersenyum. Ia sudah maklum dengan sikap Reiji yang tiba-tiba saja berubah jadi kekanak-kanakan saat hanya berdua dengannya. Misaki pun mengekor Reiji yang sudah berjalan lebih dulu memasuki wahana putar itu.



Sementara Reiji kencan dengan Misaki, sekt.Maiko minum di bar milik presdir Wada. Tidak lama setelahnya presdir Wada juga bergabung.


“Hubungi saja aku, kalau kau sendirian di sini. Aku akan datang,” tawar presdir Wada.


“Aku tidak bisa, karena kau orang sibuk,” elak sekt.Maiko.


“Mantan kekasih yang kuajak di pesta tempo hari Cuma teman sekarang. Jangan cemburu,” presdir Wada menjelaskan tanpa diminta.


“Dia cantik,” komentar sekt.Maiko.


“Maaf. Aku Cuma mau membuatmu cemburu,” presdir Wada menawarkan minuman lain pada sekt.Maiko. Dia juga berjanji akan tetap di sana sampai semua salah paham terselesaikan.



Kincir berjalan pelan ke atas. Dari satu titik, Misaki mengatakan pada Reiji kalau mereka sudah bisa melihat kantor sekarang. Reiji kesulitan melihat dari arahnya dan akhirnya berpindah ke sisi Misaki.


“Ah yang itu ya? Tampak bersinar ya?” komentar Reiji.


“Sinar itu dari cahaya akuarium di kantormu kan?” mereka pun membahas soal ikan Medaka milik Reiji.


Tapi situasi tiba-tiba berubah canggung. Reiji yang merasa tidak enak berasa terlalu dekat, akhirnya kembali ke kursinya di seberang.



Presdir Wada melanjutkan minum bersama sekt.Maiko. “Lalu, untuk apa kau minum?”


“Aku sendiri tidak tahu.”


Presdir Wada tersenyum, “Aku yakin, kau tipe yang membiarkan rambut terurai jika sedang riang.”


“Aku tidak ingat itu.”


“Itu karena kau tidak punya seseorang yang mengajakmu minum kan?”


Obrolan kedua orang ini pun terus berlanjut. Pelan, presdir Wada merayu sekt.Maiko. Sepertinya dia memang serius dengan sang sekretaris. Tangan presdir Wada pun terulur, merangkul pinggang sekt.Maiko.



Satu putaran telah selesai. Sayangnya Reiji masih belum punya kesempatan untuk mencium Misaki. Ia pun berharap satu putaran lagi dengan alasan ingin melihat lagi ruangannya.


“Tapi, bukankah ini Cuma buka sampai jam 9 saja kan?” Misaki mengingatkan.


“Ah benar,” Reiji baru sadar. Tidak punya pilihan, mereka berdua pun turun. Di bawah, Reiji bertanya soal rencana Misaki selanjutnya. Ia pun mengajak Misaki untuk minum di tempatnya. Bahkan mengajak Misaki untuk menginap.


“Tapi, besok ada pekerjaan,” elak Misaki.


Reiji tidak menyerah, “Aku akan mengantarkanmu pulang besok pagi, bagaimana?”



Misaki pun menurut dan ikut bersama Reiji. Kali ini Misaki yang sudah lebih dulu tertidur di balik selimutnya. Reiji yang masih menggosok gigi teringat soal ciuman. Betapa ia ingin mencium Misaki.


Keluar dari kamar mandi, Reiji mendekati Misaki yang sudah tertidur. Sesaat dia ragu. Tapi Reiji pun mendekatkan wajahnya ke wajah Misaki, bersiap mencium. Sayangnya, gerakan Misaki membuat Reiji justru batal menciumnya. Reiji kesal pada diri sendiri. Ia pun berbalik ke ranjangnya, dan terus memandang serius ke langit-langit apartemen. Sementara itu, pelan mata Misaki terbuka. Rupanya ia belum benar-benar tertidur. Tapi Misaki tampak kecewa, karena Reiji tidak juga berani menciumnya.



Sementara itu di tempat lain, ada dua orang yang tengah asyik berciuman. Mereka adalah presdir Wada dan sekt.Maiko. Yang satu saingan Reiji dalam pekerjaan, yang lain sekretaris kepercayaan. Bagaiman Reiji akan menyikapi hal ini nantinya?


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.53.00
Read more ...

Hai-hai-hai! Ini bagian ketiga dari preview drama summer 2016 kali ini. Nah, udah nemu drama seru buat diikuti? Kalau belum, cek juga bagian berikutnya ini ya ^_^




Toki o Kakeru Shoujo


Tayang: Pada pukul 21.00 mulai Sabtu, 9 July 2016


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Watabe Ryohei (Tokyo Sentimental, Yume o Ataeru)


Karya asli: Toki o Kakeru Shoujo oleh Tsutsui Yasutaka


Genre: sains fiksi


Pemeran: Kuroshima Yuina, Kikuchi Fuma, Takeuchi Ryoma, Yoshimoto Miyu, Nekoze Tsubaki, Nonami Maho, Aran Kei, Taguchi Hiromasa, Komatsu Kazushige, Yui P, Takahashi Katsumi, Furuhata Seika, Miura Toko, Yagi Rikako, Ishii Momoka, Igarashi Hinata, Kato Shigeaki, Takahata Atsuko


Sinopsis:


Yoshiyama Mihane (Kuroshima Yuina) adalah siswa kelas tiga SMA yang belum menemukan mimpinya meski dia akan ujian akhir tahun depan. Suatu hari sepulang sekolah, dia mendapati kemampuan berpindah waktu setelah membaui aroma lavender saat membersihkan lab sains. Sejak itu, kejadian beragam terjadi tiap hari. Dan kemudian peneliti Ken Sogoru (Kikuchi Fuma), yang mengembangkan obat untuk perjalanan waktu, datang ke masa depan dan menemukan identitas teman ekcil Mihane, Fukamachi Shohei. Mihane jatuh cinta padanya, tapi mulai melupakan hari-hari lalu.


Website: www.ntv.co.jp/tokikake




Kibougaoka no Hitobito


Tayang: Pada pukul 22.00 mulai Sabtu, 16 July 2016


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskah: Okada Yoshikazu (Kiseki no Hito, Boku no Tsuma to Kekkon Shite Kudasai, Saigo kara Nibanme no Koi Series)


Karya asli: Kibougaoka no Hitobito oleh Shigematsu Kiyoshi


Genre: keluarga


Pemeran: Sawamura Ikki, Wakui Emi, Sakurada Hiyori, Ninomiya Keita, Ito Kazue, Rokkaku Seiji, Miyakawa Ichirota, Nakajima Hiroko, Yatsui Ichiro, Iwamoto Masuyo, Hiraizumi Sei, Terawaki Yasufumi


Sinopsis:


Tajima (Sawamura Ikki) hidup bahagia dengan istrinya Keiko (Wakui Emi), putri mereka Mika (Sakurada Hiyori) dan putra mereka Ryota (Ninomiya Keita) di Tokyo. Tapi suatu hari, Keiko diketahui menderita kanker stadium akhir dan akan meninggal dalam tiga bulan. Keiko adalah matahari dalam keluarganya. Sekarang dia pergi, ada lubang besar dalam keluarga ini. Tajima mencoba hidup seolah tidak ada yang berubah dan memaksa tersenyum, tapi kemudian sadar kalau itu tidak mungkin.


Suatu hari, dia mengajak anak-anaknya untuk pergi ke Kibougaoka, tempat tumbuh ibu mereka, Keiko untuk membuat kenangan. Mereka akhirnya tiba di rumah lama Kaiko. Tajima bertanya pada anak-anaknya, apa mereka mau tinggal di sana dan keduanya setuju. Tajima mulai kehidupan barunya di Kibougaoka, tapi ...


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/kibougaoka




Kenja no Ai


Tayang: Pada pukul 22.00 mulai Sabtu, 20 Agustus 2016


Stasiun TV: WOWOW


Penulis naskah: Sawa


Karya asli: Kenja no Ai oleh Yamada Eimi


Genre: cinta dan balas dendam


Pemeran: Nakayama Miho, Takaoka Saki, Ryusei Ryo, Asari Yosuke, Kusamura Reiko, Asaka Mayumi, Enoki Takaaki, Tanabe Seiichi, Asami Himeka, Uehara Miku, Kawashima Ririka, Kobayashi Rino, Uchida Kenshi


Sinopsis:


Takanaka Mayuko (Nakayama Miho) adalah editor di majalah literasi. Dia bertemu secara rahasia dengan Sawamura Naomi (Ryusei Ryo) tanpa diketahu orang tuanya, Yuri (Takaoka Saki) dan Ryoichi (Tanabe Seiichi).


Naomi bergantung pada Mayuko dan selalu mencarinya. Ini adalah ‘balas dendam’ Mayuko sejak 20 tahun silam. Mayuko yang berusia 13 tahun hidup bahagia bersama orang tuanya, (Asaka Mayumi, Enoki Takaaki) dan Sawamura Ryoichi, seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah rumah di tanah keluarga mereka. Tapi cinta pertamanya ini dicuri oleh Asakura Yuri, seorang tetangga baru yang jadi teman pertamanya. Mayuko kemudian tahu kalau Yuri menginginkan semua yang dia punya. Suatu musim dingin setelah dewasa, Yuri tiba-tiba mengatakan kalau dia hamil anak Ryoichi dan menikah. Mayuko berada di sana untuk menyaksikan kelahiran anak Yuri dan memberi nama bayi itu dengan Naomi.


Website: www.wowow.co.jp/dramaw/kenja


 



Non Mama Hakusho


Tayang: Pada pukul 23.40 mulai Sabtu, 13 Agustus 2016


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskah: Ban Kazuhiko (Tokyo Zenryoku Shojo, Deka Wanko Series, Hunter)


Karya asli: Non Mama to Iu Ikikata ~ Kodomo ga Nai Onna wa Dame desu ka? oleh Kayama Rika


Genre: pekerjaan


Pemeran: Suzuki Honami, Kikuchi Momoko, Watanabe Makiko, Minamisawa Nao, Hamada Takahiro, Miura Yutaro, Sakamoto Atsuhiro, Masuda Shuichiro, Konda Yoshimasa, Satoi Kenta, Uchiyama Rina, Takahashi Katsunori


Sinopsis:


Doi Reiko (Suzuki Honami) nyaris 50 tahun, bercerai dan tidak punya anak. Dia adalah manager di agensi iklan sedang di Tokyo. Di era saat harus memilih bekerja atau memiliki anak, Reiko memilih tidak punya anak dan kehilangan usia mudanya. Tapi waktu berubah. Sekarang waktunya bagi ibu-ibu yang bekerja untuk mendapat promosi. Wanita seperti Reiko yang bukan seorang ibu merasa kesal. Di masyarakat, problem baru mendeskriminasi wanita hamil dan wanita tidak punya anak, tapi tidak ada solusi. Di tempat kerjanya, Reiko dipersulit oleh atasan dan bawahannya.


Website: tokai-tv.com/nonmama




HOPE ~ Kitai Zero no Shinnyuu Shain


Tayang: Pada pukul 21.00 mulai Minggu 17 July 2016


Stasiun TV: Fuji TV


Penulis naskah: Tokunaga Yuichi (Specialist, Umi ni Furu, Tantei no Tantei)


Karya asli: Misaeng oleh Yoon Tae Ho (webtoon) and Jung Yoon Jung (drama)


Genre: pekerjaan kantor


Pemeran: Nakajima Yuto, Endo Kenichi, Seto Koji, Yamamoto Mizuki, Kiriyama Akito, Magy, Nakamura Yuri, Maruyama Tomomi, Matsuda Kenji, Matsuzawa Kazuyuki, Toyama Toshiya, Sakurada Dori, Yashiba Toshihiro, Kaji Masaki, Watanabe Kunito, Yamauchi Takaya, Asaka Mayumi, Kazama Morio


Sinopsis:


Ichinose Ayumu (Nakajima Yuto) bermimpi untuk menjadi pemain shogi profesional, tapi ayahnya meninggal saat SMA. Setelah lulus SMA, dia tidak masuk universitas. Dia bekerja paruh waktu sambil tetap mengejar mimpinya. Tapi ia tetap gagal dalam test pemain shogi profesional.


Karena di bawah usia 23 tahun adalah batas waktu untuk test, ini kesempatan terakhir bagi Ayumu yang berusia 22 tahun. Tapi satu hari sebelum tes, ibunya (Asaka Mayumi) pingsan karena kelelahan dan dibawa ke rumah sakit. Ayumu gagal test lagi dan menghabiskan waktunya untuk bekerja paruh waktu. Khawatir soal anaknya, ibunya meminta kenalan untuk bisa ikut tes karyawan di sebuah perusahaan. Ini adalah bekerja sebagai intern selama satu bulan. Kinerjanya akan dilihat untuk memastikan apakah diterima atau tidak.


Ingin menghargai ibunya, Ayumu memulai masa percobaannya meski ragu. Tapi dia punya kekurangan hingga mendapat label negatif dari bosnya. Ayumu tidak punya pilihan selain berkompetisi. Jika kali ini dia gagal, maka dia tidak akan jadi apapun.


Website: www.fujitv.co.jp/hope




Debusen


Tayang: akhir Agustus 2016


Stasiun TV: Hulu


Penulis naskah: Ban Kazuhiko (Deka Wanko Series, Hunter)


Karya asli: Debusen oleh Ando Yuma


Genre: komedi sekolah


Pemeran: Morita Kanro, Ikegami Sarii, Shibasaki Yuina, Fuchino Yuto


Sinopsis:


Gendut dan jelek, Fukushima Mitsuru (Morita Kanro) terlilit hutang karena kesukaannya bercosplay. Dia menemukan jasad Fukushima Mitsuko, seorang guru wanita dengan nama dan wajah mirip dengannya saat berniat bunuh diri di gunung Fuji. Mitsuko tampak kaya, dari barang-barang yang ditinggalkannya. Jadi Mitsuru mulai hidup baru sebagai seorang guru SMA wanita dengan semangat Mitsuko. Tapi lingkungan kerjanya seperti lukisan neraka, sangat buruk seperti pembunuhan itu biasa.


Mitsuru mencari kesempatan untuk melarikan diri, tapi kemudian memutuskan untuk memperbaiki siswa-siswanya karena kesalahpahaman. Dan ada masalah lain yang tidak bisa dihindarinya. Dia muncul sebagai guru wanita. Jika dia ketahuan menyamar jadi wanita, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Dan dia masih pria normal dengan keinginan seksual dan otak kotor oleh fantasi tiap hari.


Website: drama-debusen.com




Aogeba Toutoushi


Tayang: Pada pukul 21.00 mulai Minggu, 17 July 2016


Stasiun TV: TBS


Penulis naskah: Izumi Yoshihiro (Death Note, Gokuaku Ganbo, Kurokouchi)


Karya asli: Brass Band Kids Rhapsody & Brass Band Kids Odessey oleh Ishikawa Takako


Genre: sekolah


Pemeran: Terao Akira, Tabe Mikako, Mackenyu, Murakami Nijiro, Kitamura Takumi, Taiga, Sano Gaku, Ishii Anna, Kentaro, Yamoto Yuma, Minakami Kyoka, Okazaki Sae, Takahata Yuta, Omi Toshinori, Masu Takeshi, Ishizaki Koji


Sinopsis:


Higuma Koichi (Terao Akira), mantan pemain saxophone yang menyerah soal musik karena efek kecelakaan, jadi penasehat dari sebuah band kecil (Ishii Anna, Kentaro, Yamoto Yuma, Minakami Kyoka, Okazaki Sae) di sebuah SMA yang nyaris bangkrut. Dia harus berurusan dengan masalah siswanya (Mackenyu, Murakami Nijiro) yang kehilangan mimpi mereka berkebalikan dengan keinginan orang tua dan guru menjadi musisi profesional. Jalan itu tidka mudah baginya. Tapi, Higume mendapatkan kembali mimpinya, mulai melatih band. Meski awalnya sulit, siswa-siswa itu mulai menunjukkan keseriusan pada musik.


Website: www.tbs.co.jp/aogeba-toutoshi




Juken no Cinderella


Tayang: Pada pukul 22.00 mulai Minggu, 10 July 2016


Stasiun TV: NHK BS Premium


Penulis naskahs: Yamaoka Junpei (Tsuribaka Nisshi, Sakura, GTO (2014)), Takei Aya (Smoking Gun, Kazoku no Urajijou, Karamazov no Kyoudai), Takeda Juri (Rikon Bengoshi, Lunch no Joou)


Karya asli: Juken no Cinderella oleh Wada Hideki


Pemeran: Koizumi Kotaro, Kawaguchi Haruna, Yamaguchi Sayaka, Yamada Yuki, Matsuo Satoru, Kawahara Kazuma, Endo Nina, Harada Kana, Kojima Kazuya, Hakamada Yoshihiko, Tomita Yasuko


Sinopsis:


Igarashi Toru (Koizumi Kotaro) berusia 38 tahun dan kharismatik, mantan guru di sekolah persiapan terkenal, hanya punya kesempatan hidup satu tahun. Suatu hari, dia bertemu Endo Maki (Kawaguchi Haruna), yang sekolah paruh waktu karena bekerja paruh waktu. Ingin lulus SMA agar dapat pekerjaan yang lebih baik, Maki minta pada Igarashi untuk mengajarinya agar lulus ujian. Ini membuat Igarasi yang kehilangan harga diri sebagai guru dan keinginan mengajar menjadi bersemangat lagi. Memutuskan untuk membuat Maki layak masuk universitas Tokyo dan kembali ke dunia, dia mempersiapkan Maki untuk lolos ujian masuk tahun depan.


Website: www.nhk.or.jp/pd/juken




Soshite, Daremo Inakunatta


Tayang: Pada pukul 22.30 mulai Minggu, 17 July 2016


Stasiun TV: NTV


Penulis naskah: Hata Takehiko (Dandarin)


Genre: Suspense


Pemeran: Fujiwara Tatsuya, Nikaido Fumi, Tamayama Tetsuji, Inoo Kei, Shison Jun, Konno Hiroki, Endo Kaname, Ono Nonoka, Sakurai Hinako, Mimura, Koichi Mantaro, Jinbo Satoshi, Hiromi, Tsurumi Shingo, Kuroki Hitomi


Sinopsis:


Todo Shinichi (Fujiwara Tatsuya) seorang pengembang sistem software yang bekerja di sebuah perusahaan besar. Dikaruniai ketampakan, cerdas, keluarga, teman dan tunangan Kuramoto Sanae (Nikaido Fumi), dunianya tiba-tiba hancur saat pria dengan nama sama dengannya, (Endo Kaname) ditangkap polisi. Kehidupan Shinichi diambil alih seluruhnya dan dia harus bertarung dari bawah untuk mendapatkan hidupnya kembali.


Website: www.ntv.co.jp/soshitedaremo



Cr. All English text pada pukul www.jdramas.wordpress.com


Kelana hanya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia


Posting at www.elangkelana.net

Bening Pertiwi 14.51.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 06 part 2. Keputusan Misaki untuk menerima cinta Reiji membuat sang bos begitu gembira. Reiji tidak berhasil menyembunyikan kegembiraannya bahkan saat di kantor. Padahal Reiji sepakat dengan Misaki, kalau hubungan mereka tidak perlu diketahui oleh publik.



Pada kencan pertama, Reiji-lah yang menentukan tempat kencan, akuarium. Sekarang giliran Misaki yang mengajak Reiji menonton sebuah acara (semacam standup komedi gitu lah). Setelah menonton, Misaki pun mengajak Reiji ke sebuah restoran yang selama ini sering didatangi oleh Misaki, sendirian. Tidak mau memilih menu sendiri, Reiji pun memilih menu yang sama seperti Misaki.


Pelan, Reiji menceritakan soal pesta asosiasi pengusaha hotel akhir pekan depan dan ia mengajak Misaki untuk datang. Tapi tanpa terduga, Misaki langsung menolaknya tanpa ragu karena sudah punya rencana lain untuk datang ke dokter gigi dan penata rambutnya. Perdebatan antara keduanya tak terhindarkan. Reiji beranggapan kalau pesta asosiasi pengusaha hotel lebih penting, sementara Misaki tidak bersedia karena akan sulit mendapatkan janji temu dengan dokter gigi dan penata rambutnya kalau janji kali ini dibatalkan. Perdebatan merembet hingga nama Gosuke yang pernah disebutkan Misaki yang akhirnya sekarang jadi nama restoran di hotel baru mereka.


“Kau mau kalau hubungan kita dirahasiakan dari karyawan lain. Karena aku setuju, sekarang giliranmu yang setuju dengan kemauanku,” protes Reiji.


“Tapi ini pesta asosiasi hotel. Kalau seperti ini, artinya aku mencampurkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi,” elak Misaki.


“Ini pekerjaan!” ujar Reiji akhirnya tegas. “Sebagai presdir pada karyawannya, aku mengajakmu utnuk datang. Apa kau masih mau menolak juga?” tidak mau mendengar protes lain dari Misaki, Reiji pun mengatakan kalau ia juga mengajak Ieyasu untuk datang juga.


Misaki pun tidak punya pilihan lain, “Baiklah. Karena ini pekerjaan, aku tidak punya pilihan lain. Aku akan membatalkan janjiku untuk akhir pekan nanti.”



Reiji mengomel seperti biasanya di depan sekt.Maiko, masih soal Misaki. Perdebatan mereka malam itu rupanya masih menyisakan perang dingin.


“Jadi, Anda tidak bicara dengannya sejak malam itu?”


“Aku bukan anak-anak. Saat kamu berpisah, kukatakan padanya untuk hati-hati di jalan,” elak Reiji.


“Anda tidak mengantarkannya pulang?”


“Bukan situasi yang tepat.”


Reiji dan Misaki pun sama sekali tidak bertukar pesan sejak perdebatan itu. Sekt.Maiko merasa kalau itu mulai mengkhawatirkan.


Mulanya, Reiji berpikir kalau ada yang salah dengan ponselnya. Tapi saat diperiksa di toko ponsel, tidak ditemukan kerusakan apapun.


“Kenapa tidak Anda duluan yang mengirim pesan padanya?”


“Karena aku yang terakhir mengirim pesan, sekarang giliran dia!” Reiji makin manyun. Egonya tinggi. Bahkan saat sekt.Maiko mengatakan tidak ada aturan soal siapa yang mengirim pesan duluan, Reiji kembali mendebatnya.



Ieyasu menyusul Reiji yang akan makan siang. Ia begitu gembira karena mendengar dari Misaki, ia juga diajak untuk datang ke pesta asosiasi pengusaha hotel bersama Reiji. Dan kenarsisan si Ieyasu ini sudah sampai ubun-ubun, ia berpikir kalau Reiji benar-benar berniat menjadikannya sebagai tangan kanan.


Reiji kesal. Bukan hanya karena waktu menuju makan siangnya yang terganggu, tapi juga karena terpaksa harus mengajak Ieyasu juga ke pesta akhir pekan ini. Tapi Reiji tidak punya pilihan lain. Toh akhirnya Misaki juga mau ikut ke pesta itu, meski mereka sempat berdebat.



Reiji sedang berada di pusat kebugaran sendirian saat Misaki datang. Kencan terakhir yang tidak berjalan baik membuat situasi keduanya menjadi canggung.


Tapi Misaki mendekati Reiji dan menyodorkan sebuah tempat, “Ini yang kujanjikan kemarin.”


Reiji bingung. Tapi ia juga menerima benda itu dan melihat isinya. Ternyata CD yang seperti acara pada kencan terakhir mereka. A Selection of Best Rakugo Performances. “Terimakasih.”



Sepulang dari kantor, Reiji langsung memutar CD yang diperolehnya dari Misaki. Sesekali ia tersenyum. Dan tidak lama setelahnya Reiji tertawa lepas mendengarkan CD itu. Selesai mendengarkan, Reiji pergi mandi. Tapi ia juga masih menunggu pesan dari Misaki.


Keluar dari kamar mandi, Reiji akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu pada Misaki. Aku tertawa keras. Ini pertama kalinya aku tertawa keras bahkan sejak aku pertam pindah ke apartemen ini. Pesan terkirim. Reiji pun meletakkan ponselnya di meja dan duduk bersila di ranjang, menunggu jawaban Misaki.


Di seberang, Misaki pun membuka ponselnya dan melihat pesan dari Reiji. Misaki tersenyum membaca pesan itu. Ia pun kemudian mulai mengetikkan pesan balasan. Aku juga selalu tertawa di ruanganku tiap kali mendengarkannya. Luar biasa bisa membuat kita tertawa lagi meski telah berkali-kali mendengarnya.


Bahagia mendapat balasan dari Misaki, Reiji pun segera mengetikkan balasan. Kalau aku masih punya lagi, bisa pinjamkan juga untukku. Maaf mengganggumu tengah larut malam. Selamat malam.


Balasan dari Misaki pun datang tidak lama setelahnya. Tentu saja. Aku akan pilihkan yang menarik untukmu. Selamat malam.



Tidak puas hanya bertukar pesan, Reiji pun memencet nomer Misaki. Tidak butuh waktu lama hingga suara Misaki terdengar menyapa dari seberang juga. “Apa kau tahu cara mengatakan ‘Oyasuminasai’ dari belakang?”


“Tidak,” ujar Misaki di seberang.


“Isanami Suyao.”


Misaki tersenyum mendengar ucapan Reiji. Mungkin dia berpikir ini lelucon, “Seperti nama seorang novelis.”


Dan obrolan mereka pun berlanjut. Reiji dan Misaki dengan mudah membuat rangkaian cerita dari tokoh fiksi Isanami-sensei ini. Dari insomnia hingga kebiasaan buruk bergerak saat tidur. Cerita berlanjut juga tentang istri Isanami-san, Isanami Shiho-san yang jago memasak. Dst ...


Obrolan tokoh fiksi Isanami Suyao ini ternyata bisa melelehkan dinding beku di antara Reiji dan Misaki. Keduanya asyik mengobrolkan tokoh fiksi ini hingga tidak sadar waktu sudah sangat larut. Misaki mengingatkan kalau ini sudah pukul 3 pagi.


Reiji melirik jam. Ia mengerti, “Akan buruk kalau kita tidak segera tidur,” ujarnya.


Keduanya pun saling berbalas salam. Tapi bukan ‘oyasumasai’ seperti biasa. Melainkan Isanami Suyao dan Isanami Shiho.


Dan saat Isanami Shiho dibaca dari belakang jadi ... "Hoshi... minasai.” Yang artinya lihatlah bintang-bintang. Penasaran, Reiji pun keluar dari apartemennya. Dari sana, langit terlihat gelap tapi penuh bintang kecil bertaburan.



“Aku salah paham tentang kegunaan ponsel sampai sekarang. Mengirim foto dan video games, masih ada banyak hal menarik untuk dilakukan, bicara dengan seseorang lewat ponsel. Orang tidak mengerti itu. Karena memang jarang ada pembicaraan dengan ponsel sekarang kan?” Reiji curhat. Ia asyik membuat coretan pada kertas yang ada di depannya.


Sekt.Maiko yang penasaran mencoba melihat, tapi Reiji buru-buru menarik dan menutupinya. Reiji mengatakan kalau itu gambar novelis Isanami Suyao-sensei. Tapi sekt.Maiko berpikir belum pernah mendengar nama itu. Reiji tidak hanya membuat gambar Isanami Suyao-sensei saja, tetapi juga gambar istrinya, Isanami Shiho.



Tidak hanya menggambarnya saja, Reiji bahkan mewarnai gambar pasangan Isanami yang tadi dibuatnya di kantor. Kemudian mengirimkannya pada Misaki.


Di apartemennya, Misaki membuka gambar kiriman itu dan tersenyum. Dia lebih tua dari yang kupikirkan. Aku harap Isanami-sensei akan panjang umur.


Mendapat balasan seperti itu, hati Reiji makin berbunga-bunga. Rasa sukanya pada Misaki pun semakin dan terus saja bertambah.



Hari berikutnya, Reiji menghubungi presdir Wada. Presdir Wada dibuat terkejut karena ternyata Reiji berhasil mengajak Misaki untuk diajak datang ke pesta asosiasi pengusaha hotel. Reiji tampak sedikit sok dan menyombongkan diri. Di seberang, presdir Wada pun tidak mau kalah.


“Tolong hati-hati, jangan sampai kau tunjukkan sisi menyedihkanmu, ok?” ujar presdir Wada.


“Kau juga begitu, temanku!” tegas Reiji.



Hari yang dijadwalkan untuk pesta pun tiba. Sekt.Maiko sudah datang bersama Ieyasu. Mereka masih menunggu Misaki yang belum datang. Ieyasu mulai ribut karena Misaki belum juga datang.


Tidak lama setelahnya, Misaki pun tiba dengan dres gelap sederhana, “Maaf sudah membuatmu menunggu.”


“Kau telat, Misaki-chan. Orang baru harusnya datang satu jam lebih awal dari jadwal bertemu kan,” ceramah Ieyasu.


Tapi sekt.Maiko buru-buru menengahi dan mengatakan kalau tidak ada aturan seperti ini. Mereka pun masuk ke ruangan pesta, menemui Reiji yang sudah ada di dalam.



Sementara Ieyasu dan Misaki masuk, sekt.Maiko berada di luar. Dari arah lain, presdir Wada tampak datang dengan dua orang wanita yang bergelayut di masing-masing tangannya. Sepertinya ia sangat gembira. Sekt.Maiko hanya menatap presdir Wada dingin.


“Mantan kekasihnya yang ada di sebelah kanan,” ujar sekretaris presdir Wada yang tiba-tiba saja sudah menjejari sekt.Maiko.


“Oh jadi itu tipe yang disukai presdir Wada,” komentar sekt.Maiko.



Pesta pun dimulai. Seorang wanita berumur tapi tampak glamor berdiri di tengah panggung dan memperkenalkan diri sebagai ketua asosiasi pengusaha hotel untuk tahun ini. Sambutan pun berlanjut, meski tidak semua orang di ruangan itu benar-benar mendengarkan.


Reiji berdiri di sebelah Misaki. Ia heran karena tidak melihat Ieyasu. Misaki mengatakan kalau Ieyasu pergi untuk mengambil minuman. Kemana Ieyasu sebenarnya?


Ieyasu rupanya menemui presdir Wada. Ia memperkenalkan diri sebagai karyawan masa depan Samejima Hotel. Rupanya Ieyasu tertarik dengan warna coklat kulit presdir Wada dan ingin tahu dari salon mana ia mendapatkannya.


Dipuji seperti itu, tentu saja presdir Wada makin naik. Ia mengatakan kalau warna itu didapatkannya dari mandi cahaya matahari di luar negeri, secara alami di pulau Cebu dan Maldives. Ieyasu tidak menyia-nyiakan ini dan minta kontak presdir Wada. Tapi presdir Wada rupanya tidak terlalu tertarik dan justru malah mengalihkan pembicaraan.



Sekt.Maiko menyusul masuk ruangan pesta. Dan tatapannya kembali bertemu dengan tatapan presdir Wada yang tengah asyik merayu wanitanya. Merasa tidak nyaman, sekt.Maiko pun memilih pergi keluar.


“Jangan anggap aku orang jahat. Yang menolak tawaranku kan kamu?” presdir Wada menyusul sekt.Maiko keluar ruangan.


Ucapan presdir Wada ini menghentikan langkah sekt.Maiko. Tapi saat ia berbalik dan berniat bicara, rupanya presdir Wada sudah keburu pergi. (kisah cinta si sekretaris ini rumit juga sih)



Ketua asosiasi pengusaha hotel, Takada-san bicara pada Reiji. Wanita ini tampak sangat membanggakan aksesoris yang dikenakannya. Reiji hanya tersenyum sekadarnya saja, tidak terlalu tertarik. Sementara Misaki hanya menyimak dalam diam.


Sementara Reiji bicara dengan pengusaha hotel lain, Ieyasu bicara dengan Misaki. Ia justru membahas soal jimat keberuntungan yang pernah diberikan Reiji padanya. Ieyasu mulai sok membanggakan diri kalau dirinya adalah karyawan favorit sang bos. Tapi Misaki sendiri sebenarnya tidak benar-benar paham, maksud dari perkataan Ieyasu ini.



Tidak ingin waktunya dengan Misaki diganggu, Reiji mengusir Ieyasu dengan menyuruhnya mengambil makanan. Saat itu presdir Wada mendekat bersama wanitanya.


“Kalian berdua tampak simpel ya?” sapa presdir Wada. “Misaki-chan, apa kabarmu?”


“Saya baik, terimakasih.”


“Berapa lama sejak kita bertemu ya?”


“Mungkin satu tahun,” ujar Misaki juga.


Presdir Wada lalu mengkritik Reiji dan Misaki yang tidak berdiri berdekatan, padahal mereka kencan. Reiji menengahi dan mengatakan kalau ia sudah cerita soal hubunganya dengan Misaki pada presdir Wada juga. Presdir Wada lalu membahas soal Reiji yang akhirnya punya kekasih. Ia bahkan mengungkit soal wanita yang pernah dikenalkannya pada Reiji dulu.


“Samejima-kun sudah bekerja keras dua bulan ini,” lanjut presdir Wada.


Misaki heran, “Apa maksudnya ‘bekerja keras’?”


“Kau tidak tahu? Dia mengencanimu supaya dia punya pasangan di pesta ini. Iya kan?” ujar presdir Wada tak bisa dikendalikan lagi.


“Bukan ... bukan seperti itu,” elak Reiji cepat saat melihat wajah kecewa Misaki.


Presdir Wada dan wanitanya tampak (pura-pura) terkejut karena Misaki tidak tahu, “Ini karena kami terus saja mengejeknya karena tidak punya pacar. Kami keterlaluan ya?”


Mendengar semua ini, Misaki pun memilih pamit pergi.



Reiji mengejar Misaki keluar dan mencoba menjelaskannya. “Kau keliru.”


“Itulah kenapa kau begitu putus asa. Akhirnya jelas bagiku, kenapa kau begitu ingin mengajakku untuk datang ke pesta ini.”


“Tidak ... kau keliru. Ini berbeda dengan apa yang dia katakan,” elak Reiji.


“Kau memberikan Ieyasu jimat keberuntungan karena ingin di menang dalam permainan jankenpon kan. Karena kau tidak ingin aku pergi untuk perjalanan bisnis. Kau membuatku jijik!” Misaki lalu berbalik pergi.



Reiji tidak punya pilihan lain selain kembali ke pesta. Saat itu tepat musik dan lampu dinyalakan, saatnya dansa. Presdir Wada berdansa denganwanitanya. Sementara Ieyasu berdansa dengan wanita lain yang tadi datang bersama presdir Wada. Dan karena tidak punya pasangan, Reiji pun terpaksa berdansa dengan ketua asosiasi pengusaha hotel, Takada-san.


“Dia lebih baik dari yang kukira. Dia sangat percaya diri,” puji Takada-san.


Meski berdansa dengan Takada-san, Reiji tampak sangat tidak menikmatinya. Ia Cuma bergerak begitu saja, tetapi pandangannya entah kemana. Dan ejekan dari presdir Wada pun kembali terdengar.



Keluar dari ruangan pesta selesai dansa, Reiji sudah ditunggu oleh sekt.Maiko. Sekt.Maiko melapor kalau Misaki sudah pergi. Reiji tampak tidak terlalu peduli dengan hal itu.


“Ini malapetaka,” cerita Reiji.



Pulang ke apartemen, Reiji masih terus saja ngomel-ngomel. Sekt.Maiko memberi saran agar Reiji menghubungi lebih dulu. Tapi Reiji menolak karena tidak tahu harus bicara apa.


Sementara itu, Misaki sudah pulang juga ke apartemennya sendiri. Dalam ruangan gelap, Misaki terduduk di kamarnya. Beberapa kali ia memandang ponsel yang ia letakkan di meja. Misaki menunggu ada panggilan masuk di sana. Tapi tidak ada yang terjadi.



Tapi Reiji akhirnya berubah pikiran. Setelah sekt.Maiko pergi, Reiji mengambil ponselnya dan menelepon Misaki. Di seberang, Misaki juga belum tidur dan masih dengan cepat menjawab telepon dari Reiji.


Sambil duduk di lantai, Reiji bicara, “Isanami Suyao-sensei akan mengadakan konferensi pers. Itu tentang permintaan maaf. Sepertinya dia agak kejam pada istrinya, Shiho-san. Dia merasa sangat menyesal. Dalam konferensi itu, dia mengatakan akan menyelesaikan dan memperbaiki kebiasaan tidurnya yang kacau.”


Mendengar cara Reiji minta maaf, Misaki pun perlahan luluh, “Shiho-san, istrinya juga mengadakan konferensi pers permintaan maaf. Dia sangat menyesal karena emosi tanpa bicara baik-baik.”


Obrolan soal Isanami Sensei dan Isanami Shiho pun terus berlanjut. Reiji dan Misaki benar-benar berbaikan dengan cara yang unik.


Ponsel adalah penemuan terbaik manusia. Kami mulai kencan, meski berada di tempat berbeda. Dengan begini, aku bisa merasakan lagi kebahagiaan itu. Bisa bicara denganmu.


Reiji tiba-tiba saja lalu mengajak Misaki untuk bertemu. Reiji awalnya ragu dengan ide ini. Tapi tanpa terduga, Misaki juga setuju untuk bertemu.


“Kita akan bertemu?” Reiji masih tidak percaya.


“Ya. Tapi kita tidak akan berdansa kan?” ujar Misaki dengan senyum terkembang.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 1


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.48.00
Read more ...