SINOPSIS dorama Married as Job episode 06 part 2. Mikuri dan Hiramasa jadi liburan bersama. Tapi sepertinya liburan mereka bakal banyak cerita. Dari ranjang kamar yang merupakan ranjang besar, sampai kotak minuman energi untuk Hiramasa. Dan ... insiden terpeleset. Bisakah Hiramasa bertahan?

Karena becandaan yang menurut Hiramasa sama sekali tidak lucu, ia pun mengomeli Mikuri. Kesal karena diomeli, Mikuri pun memilih jalan-jalan sendirin.



Mikuri mendatangi toko pernak-pernik. Tapi meski di sana, pikirannya masih memikirkan tentang Hiramasa. Prasangkaku ini...selalu menjadi alasan aku putus dengan pacar-pacarku.

Sementara itu di luar, ada sepasang kekasih yang tengah jalan. Si pria dikenali Mikuri sebagai mantan pacar di masa SMA-nya. Melihat hal itu, Mikuri buru-buru berjongkok, tidak ingin ketahuan.

Pasangan mesra yang biasanya tak membuatku iri, sekarang membuatku iri. Ini acara liburan kantor. Aku perlu sesuatu untuk menunjukkan rasa terima kasihku pada Yuri.



“Apa ini perlu diperbaiki? Kalau warnanya sekuat ini kelihatannya palsu, 'kan?” tanya si karyawan pria, bawahan Yuri, Umehara.

Yuri tampak tidak terlalu nyaman. Tidak ingin membuat rumor lagi, Yuri sedikit menjauh, “Kau benar. Alami saja.”

“Aku mengerti,” Umeharan meninggalkan catatan di meja Yuri. Aku juga dipanggil oleh Bagian Kepatuhan, tetapi aku bilang sama sekali tak ada pelecehan seksual.

Lalu si karyawan wanita mendekat. Ia menanyakan soal dokumen rapat selanjutnya. Yuri mengaku sudah mengecek dan memberikan tanda pada beberapa bagian dan akan membenarkannya sendiri saja, karena rapat mereka makin dekat.



“Akhirnya, aku membetulkan dokumen itu sendiri. Yah, itu pekerjaan, jadi aku tak punya pilihan,” curhat Yuri. Di sana ada Numata-san dan bartender.

“Setengah pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan karena tak punya pilihan,” komentar Numata-san.

“Dan setengah lainnya?”

“Keinginan pulang,” ujar Numata-san, asal. Tapi ia kemudian berubah serius, “Akan tetapi... pekerjaan sendiri bukanlah hidup, 'kan. Jika kau bisa melakukan dalam jumlah yang pantas dan hidup darinya, itu bagus, 'kan? Yuri, kau melakukan pekerjaan yang kauinginkan, 'kan?”

“Kurasa begitu. Akan tetapi belakangan ini, aku merasa dengan waktu dan usaha yang kuberikan... tidak cukup profit yang kudapatkan,” curhat Yuri.

“Jika kau mulai membahas tentang profit, kau tak bisa berbuat apa-apa.”

“Kurasa kau benar. Mungkin manusia adalah makhluk menyedihkan. Kita adalah makhluk yang menginginkan imbalan,” Yuri kembali menyesak minuman di depannya.

Obrolan Numata-san dan Yuri pun makin serius. Mereka bicara soal pekerjaan dan juga hubungan timbal balik di kehidupan sosial. Sesuatu yang agak ... rumit. (karena terjemahannya agak rumit, maaf ya, sengaja nggak Na tuliskan #ehe)



Hiramasa makan malam bersama Mikuri. Ia memuji menu makan malam mereka, salmon yang masakannya agak rumit. Mikuri minta maaf karena selama ini hanya masak menu simpel saja.

“Aku selalu berakhir dengan memprioritaskan efisiensi,” ujar Mikuri.

“Di kehidupan sehari-hari, efisiensi itu penting. Kalau aku mencari rasa setaraf restoran, aku akan mengeluarkan waktu dan biaya untuknya. Makan seperti ini berkesan karena hanya dilakukan sesekali. Dan aku benar-benar suka setiap masakan yang kau buat, Mikuri,” puji Hiramasa. (deuh si Hiramasa ini, lagi berduaan juga bahasnya soal pekerjaan terus. Nggak bisa gitu ya dikit romantis. Ah lupakan!)

Pujian Hiramasa kali ini pun berhasil membuat Mikuri tersenyum, tersipu. Aku ternyata... mudah dipuaskan. Bahkan saat ini, hanyalah acara liburan kantor. Tidak lebih atau kurang dari itu. Hanya dengan satu kalimat dari Hiramasa, kesedihanku tadi...hilang seperti sebuah kebohongan. Terima kasih, Yuri. Aku akan sepenuh hati menikmati tiap bagian dari kinmedai ini.



Obrolan Yuri dan Numata-san terhenti saat Kazami datang. Yuri yang masih kesal pada Kazami pun buru-buru pamit pergi untuk menghindar. Ia berkilah kalau besok harus berangkat lebih pagi.

Tapi sebelum benar-benar pergi, Yuri menyodorkan sebuah foto pada Kazami, “Mikuri and Hiramasa benar-benar menikmati bulan madu mereka saat ini.”

Dalam foto itu ada gambar Hiramasa dan Mikuri tengah makan malam. Ada caption juga di sampingnya, Terima kasih, Yuri Kami makan~!! (di sini Hiramasa senyumnya beda banget dari biasanya. Keliatan lebih caem, #eeeeh)

“Mereka mesra sekali, aku jadi iri,” lanjut Yuri. Tapi ia kemudian berhenti bicara saat melihat ekspresi Kazami.



Malam itu Hiramasa mandi berendam. Pintu penghubung antara kamar dan kamar mandi terbuka ini ditutup. Jadi Hiramasa bisa menikmati mandinya.

Terjadinya hal-hal tak terduga adalah kehidupan. Kau benar sekali, Guru Yuri. Kawin kontrak dan pelukan Selasa ini sama-sama tak masuk akal, tetapi...bukan hal jelek melakukan simulasi dengan jaring pengaman. Sebenarnya, aku bahkan bisa berpikir ini ideal.

Hiramasa ingat tawaran Mikuri tadi yang mengajaknya berendam bersama. Tapi Hiramasa buru-buru merasa canggung dan akhirnya memasukkan kepalanya ke dalam air.

Hal ini tidak apa-apa, karena aku lajang profesional, tetapi, bagaimana kalau aku laki-laki kejam? Orang yang problematis. Mikuri.



Sementara itu di dalam, Mikuri tengah tertegun memandangi kotak berisi minuman energi di tangannya.

Aku tak sengaja menendang tasnya dan membuat barang-barang di dalamnya tumpah. Namun, aku menemukan sesuatu yang luar biasa. Hiramasa tidak akan berani, jadi kupikir aku tak perlu menyiapkan apa pun, tetapi... Kau tidak selalu tahu apa yang ternyata baik. Apa persiapan yang kulakukan supaya aku tak khawatir akan berguna?

Mikuri buru-buru memasukkan kembali barang-barang milik Hiramasa. Ia pun beranjak ke tasnya sendiri. Mikuri mengeluarkan kotak belanjaan. Ternyata ia jadi beli pakaian dalam, seperti yang disebutkan brosur yang dibicarakannya dengan Yassan kemarin. (uwoooo ... ketahuan, hahahaha. Dan ternyata Mikuri juga punya persiapan)

Saat itu Hiramasa sudah selesai mandi. Mikuri merasa tegang kalau-kalau terjadi ... . Perlahan, pintu pembatas kamar dengan ruang berendam dibuka.



Adegan berikutnya ...Mikuri mengipasi Hiramasa yang tertidur di lantai.

“Aku sedikit terlalu memaksakan diri. Sekarang aku baik-baik saja. Aku sudah tenang. Silakan mandi,” ujar Hiramasa kemudian.

Ternyata Hiramasa terlalu lama berendam, hingga tubuhnya jadi terlalu panas. Mikuri pun membantu mengipasinya hingga Hiramasa sedikit lebih baik. Baru setelahnya, Mikuri beranjak mandi.



Mikuri berendam di bak mandi sambil memandangi langit. Rupanya tempat mandi itu langsung berhubungan dengan luar dan mereka bisa langsung menikmati malam sambil berendam.

Apa tak apa-apa, ya? Apa aku bisa memasuki ruang hati Hiramasa?

Dan Mikuri tidak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya kali ini.



Selesai mandi, Mikuri kembali masuk ke dalam. Ia menemukan Hiramasa sudah tertidur di bawah selimut. Setelah meletakkan handuknya, Mikuri pun menyusul masuk ke bawah selimut. Mikuri sempat melihat ke arah Hiramasa yang membelakanginya.

Apakah Hiramasa sudah benar-benar tidur? Mikuri sempat mengulurkan tangannya hendak menyentuh Hiramasa. Tapi ia mengurungkan niatnya itu dan menarik tangannya kembali dan berusaha memejamkan mata.

Ternyata Hiramasa masih belum tertidur. Tanganku mati rasa. Namun, akan buruk hasilnya jika aku sembarangan bergerak dan terjadi salah paham. Ini liburan kantor. Jika aku sembarangan bergerak akan terjadi pelecehan seksual. Itu bencana. Bagaimana laki-laki di dunia bisa tidur seranjang dengan perempuan? Aku seharusnya mencari di Google sebelumnya. Tidak tahan lagi, Hiramasa pun bergerak. Sekarang ia telentang, sementara Mikuri pura-pura tidur.



Mikuri merasakan ranjangnya bergetar. Ia sudah siap dengan apa yang terjadi. Apalagi ada bayangan yang menutupinya. Tetapi ... ranjang kembali tenang? Mikuri mengintip sebentar dan akhirnya melihat kalau Hiramasa ternyata memilih bangun.

Hiramasa memakai penutup mata dan telinga, lalu tidur di dekat meja makan. Sempurna. Dengan penutup kuping dan penutup mata, aku benar-benar tak merasakan keberadaan Mikuri. Aku berhasil tidur. Aku berhasil. Lajang profesional berhasil melewatinya!



Pagi berikutnya

Mikuri menulis di cermin penuh uap. Pakaian dalam baru tidak berhasil. Suatu pagi di musim gugur.

Apa yang kulakukan sendirian? Kalau kuingat-ingat, kata-kata "ayo menikah" dan "ayo berpacaran," lalu "ayo berpelukan" dan pelukan di muka semuanya adalah tuntutan satu arahku. Aku yakin dia menerimanya karena dia baik, tetapi...selalu dan selalu inisiatif dariku. Aku lelah.

Mikuri mulai frustasi dengan situasi yang dialaminya ini. Ia pun menghapus jejak tulisan di cermin itu, menampilkan wajah lelah Mikuri. (hmmmm ... jadi nih, Mikuri tu beneran suka ya sama Hiramasa?)



“Sarapan ini juga enak,” puji Hiramasa

Tapi Mikuri tidak tampak bersemangat. Ia Cuma bilang kalau itu lumayan saja. Tapi makan pagi mereka terganggu oleh kedatangan mantan pacar Mikuri.

“Mikuri? Benar-benar kau!” ujar si pria.

Mikuri kaget. Tapi ia pun memperkenalkan pria itu sebagai teman sekelasnya saat SMA, pada Hiramasa.

“Aku mantan pacarnya!” ujar si pria itu.

“Apa kau harus mengatakannya?” protes Mikuri. Ia merasa tidak enak dengan Hiramasa.

“Dia merepotkan, 'kan? Bawel sekali... Yah, tetapi dia bukan orang yang jahat. Dulu, saat kami pergi ke kafe di Shibuya, dia mulai menceramahiku!” ujar si pria lagi.

Mikuri makin kesal, “Jangan berbicara hal-hal yang tak perlu!”

Tapi Hiramasa tetap saja tidak menunjukkan ekspresi apapun. “Aku duluan. Silakan kalian mengobrol!” ujarnya kemudian pamit pergi.

Mikuri tidak habis pikir dengan sikap Hiramasa ini.

“Yang pasti tipe laki-lakimu benar-benar sudah berubah!” ujar si pria mantan pacar.

Mikuri menahan perasaan kecewanya yang dalam, “Tidak berubah. Aku hanya baru menyadarinya.”



Yuri menyapa Kazami yang ditemuinya di depan gedung, “Selamat pagi. Maaf tentang semalam. Aku terlalu kejam. Aku minta maaf.”

“Kenapa kau berubah pikiran?” tanya Kazami.

“Aku tak menyangka kau akan bereaksi begitu. Kupikir kedekatanmu dengan Mikuri mulai berbahaya. Aku bukan orang yang baik. Bahkan di umur segini, aku tak paham perasaan orang lain.”

“Aku sendiri pun tak begitu memahaminya,” aku Kazami. “Jika aku terlihat kaget... mungkin karena itu. Bahkan di usiaku sekarang, aku tak memahami perasaanku sendiri.”

“Merepotkan, ya. Aku bertanya-tanya... apa yang sebenarnya kucari,” ujar Yuri pula.

“Jangan tanya padaku.”

(jadi waktu Yuri menunjukkan foto pada mesra Mikuri dan Hiramasa, ekspresi wajah Kazami benar-benar kaget dan tampak sangat terluka)



Mikuri dan Hiramasa dalam perjalanan pulang. Saat ini mereka ada di dalam kereta. Tapi Mikuri justru masih memikirkan insiden sarapan tadi pagi.

Pada saat itu...Kupikir dia akan membelaku. Tapi ternyata yang terjadi, sama sekali jauh dari perkiraan Mikuri. Alih-alih membela Mikuri, Hiramasa justru tidak berkomentar apapun. Dia juga tidak menunjukkan ekspresi apapun, malah memilih pergi.



Mikuri melirik Hiramasa yang ada di sebelahnya. Jika saat ini aku memintanya menggandeng tanganku, dia pasti memarahiku. Kalau aku membantahnya, dia akan terlihat kesusahan dan tak punya pilhan selain mengulurkan tangannya. Namun, apa yang kumau bukan karena dia terpaksa. Apa yang kuinginkan dari Hiramasa?

Mikuri makin frustasi memikirkan hubungannya dengan Hiramasa. Semuanya jadi terasa aneh.



Tapi ternyata yang dipikirkan Hiramasa, jauh dari apa yang dipikirkan Mikuri.

Aku lelah, tetapi liburan ini menyenangkan. Hirasama ingat soal pria yang mengaku mantan pacar Mikuri saat sarapan tadi. Dia bahkan tidak membuatku kesal. Karena aku merasa aku lebih mengenal Mikuri. Aku tahu. Senyum manisnya, kehangatannya, juga kebaikannya. Ada sedikit gerakan di bibir Hiramasa, ia tersenyum.

Hiramasa melirik ke arah Mikuri yang ada di sebelahnya. Kalau kugenggam tangannya sekarang apa reaksinya, ya? Saat liburan ini usai, hubungan kami hanya akan menjadi majikan dan pekerja, dan berpelukan seminggu sekali.

Seperti sebelumnya. Tak apa-apa jika seperti sebelumnya.



Aku menyerah. Aku lelah. Aku takkan melakukan apa-apa lagi. Aku takkan meminta apa-apa lagi. Mikuri menahan air mata yang sudah nyaris meleleh di pipinya.

Saat liburan ini usai...kami akan kembali ke kehidupan tenteram kami. Satu stasiun lagi.

Kali ini yang dipikirkan oleh Mikuri dan Hiramasa nyaris sama, Kalau saja kami tak pernah sampai di sana. Kalau saja kami tak pernah sampai di sana.

Mikuri pun menghapus air mata di pipinya. Tapi Hiramasa sama sekali tidak tahu hal ini.



Kereta berhenti. Ada pemberitahuan kalau mereka sudah sampai di pemberhentian terakhir di Mishima. Mereka yang akan melanjutkan perjalanan diminta pindah kereta.

Mikuri kembali ke mode cerianya, “Ayo kita turun!”

Alih-alih mengikuti Mikuri, Hiramasa justru memegang tangan Mikuri. Ia lalu mendekatnya wajah ke wajah Mikuri, lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. Tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya.

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :

Kyaaaaa!!! Akhirnya. Butuh 6 episode sampai couple satu ini akhirnya ciuman. Ya ampun, mahal banget sih ciumannya, sampai selama ini. Ehm ... meski acara di penginapan gagal, tapi akhirnya hubungan Mikuri dan Hiramasa ada perkembangan juga. Kira-kira habis ini apa lagi ya? Tambah mesra atau malah makin kacau?

Makin kesini, Kelana makin kesirep pesonanya om Hoshino Gen deh, kekekeke. Lagu-lagunya dia ternyata easy listening juga. Mana kalau senyum, lumayan manis juga. Na capek liat cowok ganteng di drama seberang, jadi di sini cukup liat cowok manis aja udah cukup, kekeke

 
Bening Pertiwi 14.19.00
Read more ...
SINOPSIS dorama Married as Job episode 06 part 1. Mikuri dan Hiramasa sepakat untuk menjadi kekasih. Mereka berpelukan tiap hari Selasa. Dan karena kecurigaan Yuri, Mikuri dan Hiramasa akhirnya sepakat untuk bersikap mesra di depan Yuri. Tapi ternyata situasi menjadi tidak terduga.

Selasa pagi diawali dengan menaruh sampah daur ulang. Seperti biasa, aku menyiapkan bekal makan siangnya. Dan seperti biasa, aku menyiapkan sarapan.



Melihat Hiramasa, yang dulu berganti pakaian sebelum keluar kamar, berjalan-jalan dalam piamanya, membuatku bahagia. Kebahagiaan ini...apa mirip dengan menjinakkan kapibara liar, ya? Aku ingin membelainya. Aku ingin membelainya, tetapi dia mungkin akan lari, jadi aku tak bisa mendekatinya!

Setelah Hiramasa pergi kerja, aku melanjutkan rutinitasku merapikan rumah, mencuci baju, dan menyedot debu. Sebagai tambahan, sekali dalam seminggu ada bersih-bersih besar. Di waktu istirahat makan siangku, aku pergi ke dokter gigi, berbelanja, pulang ke rumah, mengangkat jemuran, menyetrika dan memasak makan malam.



Setelah membereskan sisa makan malam, aku menyiapkan sampah yang akan dibuang besok. Itu adalah pekerjaanku sebagai pekerja bayaran. Pekerjaanku.

Selesai membereskan makan malam, Mikuri melihat Hiramasa tengah menonton televisi. Ingat masih punya teh, Mikuri pun membuatnya satu cangkir untuk Hiramasa. Dan Mikuri ... duduk di sebelah Hiramasa di sofa.

Mikuri mengingatkan Hiramasa kalau hari itu hari Selasa, hari pelukan. Tapi karena Sabtu kemarin mereka sudah pelukan saat ingin pamer kemesraan di depan Yuri, Hiramasa menolak. Tapi Mikuri berkeras kalau mereka perlu pelukan lagi. Tapi Hiramasa berkeras kalau mereka tidak perlu pelukan, karena itu menyalahi pekerjaan. Dan Mikuri tidak menyerah membujuk. Akhirnya Hiramasa menyerah dan kembali berpelukan dengan Mikuri.



Yuri dipanggil oleh atasannya soal pelecehan seksual. Ia heran, karena tidak pernah merasa mengalaminya. Tapi atasannya mengatakan kalau ia pelakunya.

“Rabu lalu, kau bilang anak buahmu, Umehara Natsuki, ganteng.”

Menurut pelapor, yang dikatakan Yuri setelah berkomentar kalau Umehara ganteng adalah Yuri ingin menyayanginya. Yuri jelas mengelak. Karena memang bukan itu yang terjadi. Ia membantah kalau cerita itu berubah di tengah.

“Tsucchi yang telat menonjol, teliti, dan tekun... tak akan berlaku seperti itu, ya 'kan?” ujar atasannya yang juga wanita itu.

Yuri heran. Ia penasaran siapa yang telah melaporkannya soal pelecehan seksual ini. Tapi atasannya menolak memberitahukan hal itu.

“Kau tidak pernah cuti melahirkan atau cuti urusan anak. Bagi kami, kau adalah cahaya harapan dalam karier. Supaya kau tidak tersandung hal-hal aneh, hati-hati juga dengan penyalahgunaan kekuasaan.”

“Sudah kubilang, aku tak melakukannya!” elak Yuri lagi.



Dan malam itu Yuri melanjutkan curhatnya di rumah Hiramasa. Sementara Yuri curhat sambil minum bir, Hiramasa dan Mikuri duduk bersimpuh di depannya. (ini mirip anak yang lagi dimarahi sama emaknya, kekekeke) Laporan lain mengatakan kalau Yuri terus saja menyalahkan anak buahnya yang wanita. Karena itu mereka kasihan melihat si anak buah itu.

“Namun bukan berarti aku ingin jadi wanita tua yang rewel! Aku tak punya pilihan lain karena kalimat yang ditulisnya benar-benar buruk! Sesungguhnya, akan lebih cepat kalau aku mengerjakannya saja sendiri, tetapi kalau aku mengambil pekerjaannya, itu tak baik juga untuknya, 'kan? Meski aku jadi wanita tua rewel yang tak kusukai, belum lagi tuduhan wanita tua yang gila seks, aku benar-benar muak!” curhat Yuri lagi.

Sementara itu Mikuri dan Hiramasa hanya duduk dengan tenang menyimak semua curhatan Yuri.

“Bisakah kau tidak menambahkan gelar wanita tua tukang mengeluh? Aku hanya ingin sedikit mengomel sementara aku di sini,” ujar Yuri lagi.



Puas dengan curhatnya, Yuri pun mengalihkan pembicaraan. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, “ Oke, ini tujuan kedatanganku. Beberapa tahun ini aku sudah mengumpulkan poin kartu kreditku dengan giat, dan akhirnya terkumpul 50.000 poin!”

“Selamat!” ujar Mikuri dan Hiramasa dengan canggung.

“Dan aku menukarkannya...dengan ini!” Yuri menyodorkan tiket itu di depan Mikuri dan Hiramasa.

“Tiket gratis penginapan pasangan?” Hiramasa bingung. Tapi ia kemudian paham. “Ini permohonan izin untuk cuti Mikuri? Silakan, ambil cuti dan berlibur berdua.”

“Bukankah ini jelas-jelas untuk kalian berdua?! Pergilah berbulan madu berdua!” perintah Yuri.

Tentu saja Mikuri dan Hiramasa kaget dengan ide Yuri ini. Mereka berusaha untuk tidak menerima tiket itu. Hiramasa beralasan masih harus bekerja.

Dan imajinasi Yuri pun beraksi

Yuri berdiri di depan kelas penuh mahasiswa, seperti dalam sebuah kelas di kampus, “Untuk hal-hal seperti ini, pergilah saat kau bisa! Kapan kau akan pergi? Sekarang, 'kan? (katanya ini parodi acara tv, Hayashi Osamu, "Now, right?") Saat berpikir "suatu saat nanti, suatu saat nanti," lalu kalian punya anak. Kalian tidak bisa berlibur selama tiga tahun. Lalu anak kedua lahir. Dan keadaan sulit untuk tiga tahun berikutnya.”

Mikuri mengangkat tangannya untuk bertanya, “Kami tidak berencana punya anak...”

“Kalian naif! Jika hidup berjalan sesuai rencana, aku sudah menikah di umur 27 tahun. Nasibku menjadi wanita rewel atau wanita yang melakukan pelecehan seksual, siapa yang pernah mengira? Mengerti? Terjadinya hal-hal tak terduga adalah kehidupan. Dan kalian tahu? Ini karena aku tak tahu apakah hubungan kalian berdua baik atau tidak yang membuatku memilih liburan berdua ini. Sebenarnya, aku akan memilih sesuatu seperti makanan kelas atas atau resor spa solo.”



“Meski begitu, karena kalian berdua...” ucapan Yuri dipotong oleh Hiramasa.

Sepertinya Hiramasa tidak ingin masalah ini makin berlarut-larut, “Kami menerima... dengan senang hati.”

“Bagus. Kalau begitu, aku pulang!” ujar Yuri senang.

Mikuri menyeret Hiramasa menjauh sedikit, “Apa tak apa-apa?”

“Tak ada pilihan lain.”



Mikuri bertemu dan makan siang bersama dengan Yassan. Ia bercerita soal rencana liburannya dengan Hiramasa ke pemandian air panas.

Yassan langsung tertarik dan menebak-nebak kelanjutannya. Dari mandi bersama dan saling menggoda lalu berlanjut ke ranjang besar. Tapi Mikuri buru-buru mengelaknya semua, karena nanti di sana kamar mereka adalah ranjang terpisah.

“Menjadi lebih dari sekadar teman tetapi bukan kekasih itu... hangat, menyenangkan, dan pas, mungkin?” ujar Mikuri.

“Bagaimana dengan pakaian dalam? Yang imut? Atau kau lebih suka yang seksi?” Yassan masih belum menyerah. Ia bahkan menunjukkan brosur yang didapatnya dari stasiun.

“Kau beruntung ada rumah orangtuamu, 'kan?” Mikuri mengalihkan pembicaraan.

“Benar sekali! Kupikir aku tidak benar-benar suka tinggal di rumah, tetapi jika itu tak ada, aku tak mungkin punya rumah sekarang, 'kan?” ujar Yassan pula.

“Kau tidak selalu tahu apa yang ternyata baik. Yassan, ayo makan sampai kenyang hari ini. Aku traktir,” ujar Mikuri. Di depan mereka memang sudah ada sederet makanan enak, nyaris memenuhi meja.

“Ini bagus! Imut tetapi tak berlebihan. Pakaian dalam untuk menginap,” Yassan masih asyik dengan brosur pakaian dalam di tangannya. “Ini imut. Diskon 30% saat pembukaan toko.”

“Murah sekali!” seru Mikuri. Ia ikut-ikutan tertarik. “Tunggu, aku tak ingin beli ini.”

(baby Hirari bingung ngeliat emaknya sama tante aneh lagi ngobrol, kekekeke)



Hiramasa menceritakan soal rencana liburannya pada Hino-san saat makan siang bersama. “Kekhawatiranku adalah di malam hari.”

“Malam?” Hino-san memikirkan sesuatu.

Hiramasa masih khawatir soal kamar mereka. Aku penasaran, apa aku bisa tidur, ya? Meski kamar ranjang ganda, tetapi aku tak pernah sekali pun tidur sekamar dengan perempuan.

“Kalau seserius itu, nanti akan kuberikan sesuatu yang bagus untukmu,” janji Hino-san.

Hiramasa minta agar Hino-san tidak mengatakan apapun pada Numata-san, karena pasti akan ada kekacauan. Sayangnya Numata-san terlanjur tengah menguping obrolan mereka dari balik kursi.

Sementara itu, Numata-san akhirnya berhasil lolos dari ruang istirahat. Dia melihat Kazami-san menuju Hiramasa dan Hino-san. Berpikir tahu situasinya, Numata-san menahan Kazami-san agar tidak mendekati Hiramasa. Kazami Cuma bisa heran dengan sikap aneh Numata-san ini.



Hari cuti sekaligus hari berangkat liburan.

Kalau kuberitahu Kazami bahwa Mikuri dan aku akan pergi liburan, dia pasti cemburu. Lalu meskipun ini liburan, sebenarnya hanya acara kantor. Mari kita apresiasi jasa pekerja kita sebesar mungkin.

Hiramasa memandangi kotak yang diberikan Hino-san padanya. Ada stiker smile berwarna kuning di sampulnya. Hiramasa masih belum mengerti apa isi kotak itu. Ia kemudian memasukkannya ke dalam tasnya sendiri, karena Mikuri sudah memanggil dari luar dan mereka akan bersiap berangkat.



Mikuri dan Hiramasa sudah duduk dalam kereta. Meski tidak menuju Kyoto, mereka merasa kalau perjalanan ini seperti akan ke Kyoto.

“Maaf, apa kau keberatan aku duduk di sebelahmu? Aku tak bisa tenang kecuali menghadap ke arah jalannya kereta,” pinta Hiramasa. Rupanya ia tadinya duduk menghadap berlawanan dengan arah kereta.

“Oh, aku juga seperti itu,” Mikuri lalu menyingkirkan tas di sebelahnya dan membiarkan Hiramasa duduk di sana sebagai gantinya.

“Terima kasih. Liburan kali ini adalah untuk mengapresiasi jasamu. Terima kasih untuk segalanya,” ujar Hiramasa.

Mikuri merasa canggung, “Tak perlu, aku juga. Terima kasih atas perhatianmu.”



Tiba di tempat tujuan, mereka disambut hujan. Dengan payung transparan, Hiramasa dan Mikuri menyusuri jalanan menuju penginapan mereka. Tempatnya sangat cantik dengan jembatan penuh bunga di kanan kirinya. Mereka juga melewati hutan bambu yang menjulang tinggi dan menghijau cantik di sekelilingnya. Mikuri bahkan masih sempat mengambil beberapa gambar.

Setelah berjalan beberapa lama, Hiramasa dan Mikuri pun sampai di penginapan yang dimaksud. Dan apa yang akan terjadi setelah ini? (tempatnya ... uwaaaaa, bikin mupeng banget, serius. Jepang memang sangat serius ya soal layanan wisata mereka)



Petugas kamar mengantar Hiramasa dan Mikuri ke kamar mereka. Baru saja Mikuri akan memuji kamar itu, tapi ucapannya terhenti saat ia dan Hiramasa melihat ranjang di kamar itu adalah ... ranjang besar, dan bukan ranjang terpisah.

“Maaf, kami memesan kamar ranjang terpisah ....” protes Hiramasa pada petugas kamar.

“Kami menerima pemberitahuan perubahan....”



“Kenapa kau memutuskannya sendiri?” protes Mikuri. Ia menelepon Yuri yang tengah berada di kantornya.

“Aku menerima telepon konfirmasi dari penginapan dan saat mereka bilang kamar ranjang ganda, kubilang "Jangan itu." Tolong ganti ranjang besar!” ujar Yuri-san. “Apa masalahnya? Kalian selalu tidur bersama, 'kan?”

“Kami ti...” protes Mikuri terputus. “...dur bersama. Ya.” Ujar Mikuri akhirnya.



Mikuri dan Hiramasa lalu menemui petugas penginapan dan minta ganti kamar. Tapi sepertinya semua kamar ranjang terpisah sudah terisi. Hirasama akhirnya meminta Mikuri untuk menyerah saja dan tidak perlu memaksa lagi.

Mikuri hanya bisa menghembuskan nafas berat. Ia teringat dengan pacar SMA-nya. Pacar SMA Mikuri adalah orang yang sangat mudah protes. Apabila apa yang diberikan tidak sesuai dengan yang ia minta, maka ia tidak segan meminta ganti dengan sedikit memaksa. Dan akhirnya Mikuri hanya bisa minta maaf dan berusaha memaklumi pacarnya itu.

Mikuri lalu memikirkan kalau waktu itu adalah Hiramasa. Hiramasa lebih tenang. Saat ada sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, Hiramasa akan menanggapinya dengan tenang dan berpikir positif. Dan yang jelas, tidak memaksa minta ganti hingga membuat masalah lain.

Bahkan di angan-angan pun tetap menyenangkan.



Mikuri sadar dari lamunannya saat Hiramasa menegurnya dan mengajaknya kembali ke kamar. Mikuri masih memikirkan soal pacar SMA-nya saat ia kemudian sadar mengenal sebuah suara.

Tidak jauh dari mereka, ada pasangan kekasih. Si pria tengah protes pada pegawai penginapan soal menu makanan. Meski pacarnya sudah minta agar mereka menerima saja, si pria tidak mau tahu dan tetap protes tanpa tahu diri.

Mikuri mengenali pria yang tengah protes itu. Dia adalah pacar masa SMA Mikuri dulu. Sadar kalau mengenalnya, Mikuri buru-buru mengajak Hiramasa untuk pergi dari sana.

“Aku tak tahu laki-laki tadi, tetapi rasa toleran perempuan yang berpacaran dengannya patut dipertanyakan juga, ya?” komentar Hiramasa. Rupanya ia juga ikut memperhatikan pasangan tadi.



Kenapa ya dulu aku berpacaran dengannya?

Sebelum festival sekolah, orang-orang sedikit demi sedikit mulai berpasangan. Di saat seperti itu, dia mengajakku pacaran. Dia keren, dan bukan orang jahat. Kupikir tak apa-apa berpacaran dengannya. Namun, cara pandang kami tak begitu sama.

Banyak sifat Kaoru (nama si pria) yang membuat Mikuri kesal. Selain karena tidak toleran terhadap sesuatu, Kaoru juga banyak memaksakan kehendaknya sendiri serta tidak terlelu peduli dengan sekitarnya. Ia benar-benar membuat Mikuri kesal.

Akhirnya, aku diputuskan karena "bersamamu tidak asyik.”



Di kamar, Mikuri dan Hiramasa asyik dengan lamunan mereka masing-masing. Mikuri kemudian mengajak Hiramasa untuk mengambil foto mesra lalu dikirimkan pada Yuri. Hiramasa setuju dengan ide Mikuri ini.

Sementara Mikuri pergi mencari minuman dingin, Hiramasa mengecek tasnya. Ia melihat dan membuka kotak yang diberikan Hino-san padanya. Isinya ... minuman penambah tenaga, [Ekstrak ular pit viper]. Hiramasa lalu menelepon Hino-san untuk protes.

“Waktu itu kau bilang khawatir tentang malam hari, 'kan?” ujar Hino-san.

“Bukan kekhawatiran semacam itu! Kukira ini produk yang bisa membuat tidur nyenyak atau semacamnya,” protes Hiramasa.

“Itu sangat mahal, jadi jangan sia-siakan, ya. Ciao!” Hino-san tidak peduli dengan protes Hiramasa.

Hiramasa makin pusing. Apalagi minuman energi itu adat tiga buah sekaligus.

 



Hiramasa yang kaget dengan kedatangan Mikuri buru-buru menyembunyikan kotak minuman energi itu di bawah ranjang. Mikuri pun menyodorkan minuman dingin pada Hiramasa.

“Ini memang ranjang besar, tetapi jika sebesar ini, seperti tidur dalam kelompok besar. Kupikir kita bisa tidur tanpa ada masalah. Seperti duduk bersama di sofa. Ditambah lagi, pegasnya kelihatannya bagus. Kupikir kita takkan terganggu oleh gerakan masing-masing,” Mikuri bahkan mencoba telentang di ranjang, membuat Hiramasa kaget. Mikuri merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah selimut, “Di bawah ini ada sesuatu...” dan berniat melihatnya.

Tapi Hiramasa mencegah cepat, “Ah, jangan! Ada ular pit viper ... [mamushi].” Tapi Hiramasa buru-buru meralatnya, “Serangga. Ada serangga.[mushi]. Itu serangga yang cukup kuat, jadi sebaiknya tak usah dilihat.”

“Ayo telepon petugas kamar!” Mikuri beranjak ke meja telepon.

“Tidak usah... ini bukan masalah besar,” sergah Hiramasa lagi. Tapi Mikuri tidak mendengarnya dan tetap berusaha menelepon. Hiramasa akhirnya mengambil kesempatan mengambil kotak minuman energi itu dari balik selimut,berguling di lantai dan melemparkan kotak itu hingga jatuh jauh di bawah kursi.



“Ah, dia lari. Serangganya lari. Di dekat kakimu!” Hiramasa mengingatkan.

Takut dan kaget, Mikuri pun melangkah mundur. Tapi lantai yang tidak rata membuatnya nyaris terjatuh. Sigap Hiramasa menyambar tubuh Mikuri, berniat menolong. Tapi, lantai yang licin membuat Hiramasa ikut terpeleset dan keduanya pun terjatuh dalam posisi ... Hiramasa berada tepat di atas Mikuri, sangat dekat, nyaris berciuman. (kkkkk, posisinya aduhai. Kalau di drakor biasanya sih lanjut romantisnya. Tapi ... ini jdrama, jadi sabar ya)

Sadar posisi mereka masing-masing, Hiramasa segera menyingkir cepat. “Ini tak bisa dihindari!”

“Aku tahu, tak apa-apa,” Mikuri pun buru-buru bangun.

“Itu bukan pelecehan seksual,” ujar Hiramasa lagi.

“Ini kecelakaan. Anda aman.”

Tapi kekhawatiran di wajah Hiramasa makin menjadi. Meski belum dua jam kami sampai di sini, pada akhirnya ... apa misi liburan kantorku bisa terwujud dengan aman?

Mikuri juga memikirkan hal itu. Keringat Hiramasa benar-benar banyak dan entah kenapa, aku juga...

Hiramasa dan Mikuri baru sadar, kalau ternyata ruangan mereka ... sangat panas.



Petugas hotel minta maaf karena ternyata pendingin ruangan di kamar Hiramasa dan Mikuri tidak bekerja dengan baik. Ia pun kemudian mempersilahkan Hiramasa dan Mikuri pindah ke kamar lain.

“Ini kamar terbaik, tetapi baru pagi ini kami menerima pembatalan reservasi. Kami takkan meminta tambahan biaya. Ini adalah kamar yang terhubung dengan kamar mandi di luar ruangan. Semoga liburan Anda menyenangkan.”

Tapi lagi-lagi Hiramasa dan Mikuri dibuat syok karena kamar baru mereka lebih parah. Ada kamar mandi terbuka di teras, yang langsung terhubung dengan kamar mereka yang beranjang besar. Ini lebih mengkhawatirkan dibanding kamar yang tadi.

Tapi Mikuri berupaya berpikir positif, “Kita beruntung dapat kamar yang indah ini, ya!”

“Tidak, tidak, tidak...Kamar ini aneh, 'kan? Kamar ini tidak cocok untuk liburan kantor,” elak Hiramasa.

“Tapi ini kamar terbaik. Dan semua kamar lain penuh,” ujar Mikuri.

“Kalau begitu, aku akan pergi ke kamar mandi besar di bawah,” Hiramasa memutuskan.

“Sayang sekali, dong! Kalau pintu gesernya ditutup, kita bisa masuk seperti biasa, dan harga kamar ini mungkin lebih dari 100.000 yen. Kita tak biasanya bisa tinggal di kamar seperti ini, jadi ayo kita nikmati sepuasnya,” bujuk Mikuri lagi.

Belum selesai obrolan mereka, petugas hotel datang lagi. Ia mengatakan akan memberikan barang yang tertinggal di ruangan sebelumnya. Mikuri yang di dekat pintu tadinya mau menerima barang itu. Tapi petugas hotel melewatinya dan langsung memberikan kotak itu pada Hiramasa, lengkap dengan ekspresi wajah mencurigakan.



Mikuri heran sekaligus penasaran, “Apa itu?”

“Ini tak ada hubungannya denganmu,” ujar Hiramasa.

“Karena kita sudah di sini, bagaimana kalau berendam bersama?” usul Mikuri.

Kaget dengan ide Mikuri, kotak di tangan Hiramasa pun terjatuh hingga pembungkusnya terbuka. Hiramasa buru-buru menerkamnya, menghindarkannya dari Mikuri. “Jangan lihat! Jangan seenaknya bercanda seperti mengajak berendam bersama. Ini hanya hubungan kerja, dan pelukan di hari Selasa. Bahkan saat ini, hanyalah acara liburan kantor. Tidak lebih atau kurang dari itu. Yang benar saja, kau selalu berkata hal-hal gila seperti itu.” Hiramasa berusaha membungkus kembali kotak di tangannya sambil mengomel pada Mikuri.

Mikuri pun keluar dari ruangan mereka dengan kesal, “Aku dimarahi.”

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana


Kelana’s note :

Kekekeke ... kira-kira, kotak berisi minuman energi itu bakalan berguna nggak ya? Tapi melihat Hiramasa yang sangat kaku dan terlalu logis begitu sih sepertinya nggak banyak harapan. Tapi, yang namanya lelaki ya tetap lelaki kan ya. Sepintar atau selogis apapun dia, lelaki tetaplah serigala #ups. Ini kata bang Irie Naoki lho, di drama Itazura na Kiss.

Sampai jumpa di bagian kedua.
Bening Pertiwi 14.28.00
Read more ...
SINOPSIS dorama Married as Job episode 05 part 2. Mikuri yang datang ke rumah Kazami pagi-pagi mengejar Kazami dan memberikan payung untuknya. Tanpa diduga, Yuri melihat adegan ini. Khawatir terhadap Mikuri, Yuri tidak tenang bekerja. Dia pun pulang cepat demi bisa menemui Mikuri. Tidak ingin membuat Yuri khawatir, Mikuri dan Hiramasa bersandiwara jadi pasangan romantis. Apakah mereka akan berhasil kali ini?



Setelah mengantar Yuri yang mau pulang ke pintu, Mikuri kembali masuk. Keduanya berniat bicara. Tapi masih sempat berdebat soal tempat duduk antara bos dan bawahan.

“Kalau begitu selain pelukan, bagaimana kalau kita menyediakan "waktu kencan"?” usul Mikuri.

Sebagai kekasih, keduanya sepakat kalau posisi mereka setara. Jadi, keduanya bisa duduk bersebelahan di sofa dan bahkan nonton tv bersama.

Mikuri melanjutkan ucapannya, “Yuri itu tipe orang yang tak percaya perkataan orang lain. Apa yang dia lihat dan rasakan itu mutlak. Apa pun yang kita katakan, dia akan bilang "Kau berbohong, 'kan?" Jika bukan cerita yang persuasif, kita takkan bisa meyakinkannya.”

Hiramasa dan Mikuri kemudian sepakat akan melakukan berbagai cara untuk bisa meyakinkan Yuri, kalau mereka benar pasangan. Kalau mereka baik-baik saja.



Kazami menyapa Yuri di depan gedung. Saat itu ia sudah mau akan pulang. Sementara Yuri baru saja datang bekerja di hari libur untuk mengganti jam kerja yang ditinggalkannya kemarin.

Yuri masih tampak kesal pada Kazami, “Waktu itu kau benar-benar lihai melarikan diri. Kalau kau hanya menyewa Mikuri untuk bersih-bersih dan tak merasa bersalah sedikit pun, kau bisa saja langsung cerita.”

“Kalau kau bilang begitu... aku memang merasa bersalah. Karena aku suka Mikuri,” ujar Kazami-san, lalu pamit pergi.



Mikuri dan Hiramasa juga sudah sampai di gedung mereka. Keduanya mengintip dari sudut gedung. Di dalam, Yuri yang baru datang tengah menunggu pintu lift terbuka. Setelah memastikan Yuri masuk, Mikuri dan Hiramasa pun beranjak ke taman yang ada di depan gedung.

Mikuri menatap karpet dan bekal makan mereka, “Godard Japan ada di lantai 19 Dia pernah mengatakannya. Sembari menunggu kopinya jadi, melihat taman hijau adalah hiburannya saat bekerja. Yuri adalah pecinta kopi, jadi kupikir kita punya tiga kesempatan di sore hari saja.”

Sementara itu Hiramasa menggunakan teropong. Ia melihat tempat yang ditunjuk oleh Mikuri, “Apa dia bisa melihatnya dari atas sana?”

“Karpet ini adalah oleh-oleh Yuri dari Turki untukku. Tidak ada yang lain yang bermotif seperti ini. Dia seharusnya langsung tahu saat melihatnya. Ayo kita bersikap seperti pasangan mesra!”

Dari tempat kerja Yuri, memang tampak di bawah ada pasangan tengah duduk di atas karpet. Sayangnya, Yuri menjatuhkan sesuatu hingga ia pun kehilangan momen melihat Hiramasa dan Mikuri di bawah sana. Bisakah Mikuri dan Hiramasa kali ini berhasil?



Setelah menggelar karpet dan makanan piknik, Hiramasa dan Mikuri duduk bersebelahan. Suasana begitu tenang di hari libur.

“Dulu keluargaku sering pergi piknik juga berkemah. Belakangan ini hanya aku yang tidak ikut, sih,” cerita Mikuri.

“Aku hanya pernah satu kali piknik. Saat aku kelas 3 SD. Ayahku bekerja di pabrik dan jarang mendapat hari libur,” ujar Hiramasa.

“Saat itu pasti kenangan membahagiakan bagi Anda.”

Tapi wajah Hiramasa menunjukkan keraguan, “Ibuku membuat soba genting untuk bekal makan siang. Itu makanan khas Yamaguchi. Di restoran, mereka akan menggunakan genting, genting untuk atap, menaruh soba di atas genting yang sangat panas bersama potongan telur dadar dan daging sapi asin-manis di atasnya. Ibuku...membawa soba untuk bekal makan siang sebagai kejutan. Namun ayahku marah dan berkata "Kenapa kita harus makan soba yang sudah apak di luar ruangan?" Dan ini bukan soba teh.”

“Jadi seharusnya menggunakan soba teh?”

“Ya. Ibuku dari Kagoshima, jadi dia tidak kenal betul masakan itu. Ayahku adalah orang yang tidak bisa berkompromi saat sedang marah, jadi dia berkata "Aku tak mau memakannya". Tak ada yang bisa kulakukan, jadi aku terus saja berkata "enak, enak" sendirian dan mati-matian memakan soba dari kotak bekal bertumpuk itu. Kenangan hari itu bagai neraka. Sejak saat itu, aku belum bisa lagi makan soba genting. Sebagai seorang anak aku penasaran kenapa ibuku tidak menceraikan ayahku. Maaf menceritakan cerita sedih seperti ini.”

Mikuri menyimak cerita Hiramasa dengan tenang, “Tidak, ini malah membuatku bahagia.”

“Cerita dari neraka ini?”

“Maksudku, aku bahagia karena bisa mendengar cerita Anda,” Mikuri buru-buru meralatnya. “Saat aku bertemu orangtua Anda, kupikir mereka menyenangkan. Mereka serasi.”

“Oh, ya? Zaman dulu bercerai tidak semudah sekarang. Mereka tidak bisa berpisah karena mereka punya anak, aku,” lanjut Hiramasa.

“Kalau begitu, itu hasil yang sangat baik. Putra yang menyelamatkan orangtuanya dari perpisahan,” komentar Mikuri.

“Bukan putra yang menahan ibunya?”

“Jika akhirnya mereka tidak berpisah, bukankah itu lebih baik? Tak apa-apa untukku jika dia bahagia.



Tiba-tiba Hiramasa ingat kalau hari itu hari ulang tahun ibunya. Mikuri pun menyarankan agar Hiramasa menelepon an memberikan ucapan selamat.

“Aku tak pernah melakukannya,” elak Hiramasa.

Tapi Mikuri memaksanya. Mikuri pun mengecek ponselnya sendiri. Ternyata ada panggilan tak terjawab dari kawannya, Yassan.

“Kau sebaiknya menelepon dia kembali, 'kan?” saran Hiramasa kemudian.

“Anda benar. Anda juga jangan lupa meneleponnya, ya,” Mikuri lalu berdiri dan agak menjauh untuk kembali menghubungi Yassan.



Menuruti saran Mikuri, Hirasama pun menelepon ibunya. Di seberang, ibunya tergopoh-gopoh mengangkat telepon. Hal yang tidak biasa dari putranya.

“Hari ini...hari ulang tahun Ibu, 'kan? Selamat ulang tahun,” ujar Hiramasa ragu.

Ibu Hiramasa kaget tapi kemudian tersenyum, “Mikuri pasti memintamu meneleponku. Kau memang berubah setelah menikah....Mikuri ada di situ?”

“Ya. Dia sekarang sedang menelepon. Kami ada di taman,” aku Hiramasa.

“Piknik?”

“Sepertinya begitu,” Hiramasa kemudian sadar sesuatu. Saat itu ia melihat ada bayangan di jendela, tempat kantor Yuri berada. Ia berusaha memanggil Mikuri, tetapi Mikuri tengah asyik menelepon. Akhirnya bayangan di atas pun pergi. Dan Hiramasa yang sempat tidak fokus, kembali mendengarkan ucapan ibunya di seberang.

“Apa kau ingat saat kita bertiga pergi piknik?” tanya ibu Hiramasa. Ayah Hiramasa sempat menegurnya, karena membahas hal-hal lama. Tapi Ibu Hiramasa tidak peduli dan terus bicara pada putranya itu. “Saat kita makan soba genting di perjalanan pulang.”

“Di perjalanan pulang?” Hiramasa heran.



Setelah agak jauh dari Hiramasa, Mikuri pun menelepon Yassan. Meski sempat ragu, Yassan akhirnya mengangkat telepon Mikuri. Mikuri sempat khawatir karena Yassan tadi tidak segera menjawab teleponnya.

Setelah didesak Mikuri, akhirnya Yassan pun bicara, “Sebenarnya bukan urusan, tetapi... aku baru saja memasukkannya ke kantor pemerintah. Formulir cerai. Itu saja. Aku ingin mendiskusikannya denganmu saat kita bertemu, tetapi aku tak mau merusak suasana. Jadi aku tak mengatakannya.”

“Seharusnya kau mengatakannya!” potong Mikuri.

Yassan menahan tangis sambil berjongkok dan memandangi putri kecilnya, Hirari, “Aku terus saja mengatakan hal-hal tak berguna. Bahkan orangtuaku dan orang-orang di sekelilingku benar-benar menentang perceraian. “Apa yang kaupikirkan saat kau sudah punya anak? Itu hanya perselingkuhan. Maafkan dan lupakan." Namun, aku tak bisa begitu saja memaafkannya. Aku bahkan tak tahan memandang wajahnya. Apa menurutmu aku salah? Apa kaupikir aku berpikiran sempit? Apa kaupikir... aku harus bertahan demi anakku? Apa kaupikir perselingkuhan itu salahku? Membesarkan Hirari... mengurus rumah. Aku berniat melakukan yang terbaik. Namun, apa salahku?” tangis Yassan akhirnya pecah. Hirari seperti tahu suasana hati ibunya pun ikut menangis.

Mikuri menarik nafas sebelum bicara, “Kau tak melakukan kesalahan apa pun. Yassan, kau melakukannya dengan baik.”

“Apa kaupikir aku membuat Hirari tak bahagia?”

“Itu tidak benar!” elak Mikuri cepat. “Dan bagi Hirari, senyumanmu akan membuatnya lebih bahagia. Kau tidak salah, Yassan. Aku di pihakmu, oke? Tak peduli apa yang orang lain katakan, aku selalu di pihakmu, oke?” Mikuri berusaha menghibur.



Selesai menelepon, Mikuri kembali menemui Hiramasa. Ia menceritakan soal Yassan. Saat seseorang sudah punya anak, maka keputusan diambil tidak hanya untuk diri sendiri lagi. Tapi dalam situasi Yassan, perceraian bukan pilihan yang buruk. “Jadi dia melakukannya... bercerai. Maaf, aku mengatakan hal yang sangat berbeda dengan yang tadi kukatakan.”

“Alasan ibuku tidak bercerai mungkin bukan hanya karena anaknya. Tadi di telepon kami membicarakan piknik itu. Tampaknya di perjalanan pulang dari neraka...kami makan soba genting.”

Jadi setelah pulang piknik itu, ayah Hiramasa mengajak istri dan anaknya mampir ke restoran yang menyajikan soba genting. Tapi saat itu Hiramasa tertidur, sehingga ia tidak ingat. Dan momen itu ternyata jadi momen yang menyenangkan bagi ibu Hiramasa.

“Bagiku itu kenangan terburuk, tetapi bagi ibuku, itu adalah soba terlezat seumur hidupnya. Mungkin ada cerita lain yang aku tak tahu,” Hiramasa menutup ceritanya.

“Mungkin Yassan dan suaminya... tidak punya banyak kenangan seperti itu. Aku ingin mereka berdua bahagia. Aku bilang pada Yassan bahwa aku di pihaknya. Itu saja yang bisa kukatakan,” ujar Mikuri kemudian.



“Di masa sulit, memiliki seseorang yang mendukungmu bisa membantu,” sambung Hiramasa. “Aku tak pernah punya seseorang seperti itu,” dan Hiramasa ingat kalau Numata-san juga pernah mengatakan hal seperti itu padanya. Tapi Hiramasa yakin kalau Numata-san pasti salah paham seperti biasanya.

“Bagiku, orang itu Yuri,” ujar Mikuri.

“Kalian berdua dekat.”

“Ya. Aku selalu menjadi kesayangannya.”

Keduanya pun baru ingat lagi soal Yuri. Hiramasa menggunakan teropongnya untuk melihat ke tempat kerja Yuri. Tapi ternyata lampu sudah dipadamkan. Apakah kali ini mereka gagal lagi menunjukkan kemesraan di depan Yuri?



Mikuri berpikir kalau mereka perlu ke lobi untuk mencegat Yuri dan pura-pura berlari mendekat lalu berpelukan. Hiramasa pun setuju dengan ide itu.

“Itu atau ... Kita katakan yang sejujurnya pada Yuri. Kita mencoba melakukan semua ini untuk memperdaya Yuri. Tak baik, 'kan? Seperti mengkhianatinya. Setelah semua ini. Maafkan aku. Aku membuat Anda menemaniku, bahkan mengambil hari libur Anda yang berharga. Bahkan membuat Anda mengusulkan sesuatu yang tak biasa, yaitu berpelukan di lobi,” sesal Mikuri tiba-tiba.

“Aku samar-samar menyadari kekonyolan rencana ini, tetapi... Jika kau mengatakan yang sebenarnya pada Yuri, mungkin akan jadi lebih mudah untukmu, tetapi, apa tidak akan lebih berat untuk Yuri? Kalau Yuri tahu kebenarannya, dia harus membohongi adiknya, Sakura (ibu Mikuri). Berarti, Yuri akan menanggung perasaan bersalah kita. Perasaan bersalah kita seharusnya hanya ditanggung oleh kita sendiri, 'kan? Oleh kita berdua,” ujar Hiramasa. Ia menolak ide Mikuri untuk bicara jujur pada Yuri.

Mikuri merasa kali ini Hiramasa benar-benar berbeda. “Hiramasa, Bolehkah aku memeluk Anda? Dengan semua rasa terima kasihku.”

“Hari ini bukan hari Selasa,” elak Hiramasa.

“Tolong, di muka,” pinta Mikuri lagi.

Hiramasa pun mengijinkan Mikuri untuk memeluknya. Tidak lupa ia juga mengelus kepala Mikuri dengan sayang.

“Jika sesuatu terjadi, Hiramasa... Aku di pihak Anda,” bisik Mikuri.



Keasyikan berpelukan membuat Mikuri dan Hiramasa tidak sadar ada yang mendekat dan memerhatikan mereka.

“Apa yang kalian lakukan?” sapa Yuri-san tidak jauh dari sana. “Sepertinya aku melihat karpet yang kukenal...dan ternyata kalian sedang berduaan di taman.”

Kaget, Mikuri dan Hiramasa langsung melepaskan pelukan mereka. Keduanya mencoba menjelaskan. Tapi Yuri sudah keburu pergi dan mengatakan tidak akan mengganggu mereka. Bahkan mengucapkan selamat bersenang-senang.

Tadinya Hiramasa berniat mengejar Yuri untuk menjelaskan semuanya. Tapi Mikuri melarangnya dan mengatakan kalau percobaan mereka kali ini ... berhasil. (yeaaaaay ... pelukan yang so sweet)



“Aku tak seharusnya mengganggu pengantin baru, ini konyol,” curhat Yuri pada bartender.

Saat itu Numata-san baru saja datang dan kemudian menyapa Yuri. Ia pun duduk di sebelah Yuri. Si bartender baru tahu kalau mereka berdua saling kenal. Kali ini Numata-san datang sendirian, tidak bersama Kazami-san.

Yuri bersyukur tidak perlu bertemu Kazami. Tampak kalau Yuri sangat membenci Kazami. “Kau harus waspada di dekatnya!”

Sementara itu, Numata-san mengirimkan pesan pada Kazami. Aku tak sengaja bertemu Yuri, kami sekarang minum bersama. Apa yang kaukatakan padanya? Dia sangat marah!

Mendapat pesan seperti itu dari Numata-san, Kazami-san hanya tersenyum.



Terima kasih, ya. Aku dan Hirari akan berjuang!

Mikuri mendapatkan pesan dari Yassan. Ada gambar Yassan dan Hirari bersama simbol love di depannya. Mereka tampak tersenyum. Melihat hal itu, Mikuri juga lega. Paling tidak, ia bisa sedikit membantu temannya ini untuk lebih tenang menghadapi masalah yang tengah dihadapinya.



Malam itu Hiramasa membantu Mikuri mempersiapkan makan malam. Setelah menuangkan air rebusan mie, uapnya membuat kaca mata Hiramasa berembun sehingga tidak terlihat. Mikuri hanya tersenyum kemudian membantu Hiramasa membersihkan embun di kaca matanya itu.

Mikuri pun melanjutkan persiapan makan malam. Selain mempersiapkan mie, keduanya juga mempersiapkan pelengkap lain. Mikuri tengah memotong-motong telur dadar tipis-tipis. Ini menyenangkan. Rasanya seperti menghapus semua rasa bersalah, sangat menyenangkan Kalau setiap minggu hari liburku seperti ini, bukankah cukup untuk membuatku bahagia?



Yuri-san melanjutkan obrolan malam itu bersama Numata-san dan bartender. Setelah Yuri yang curhat, sekarang giliran sang bartender yang curhat.

Numata-san sudah hafal saat sang bartender mulai bercerita. Itu pasti tentang mantan istrinya. Cerita yang sama, lagi dan lagi.



Menu makan malam mereka sudah jadi. Mie dengan potongan telur dadar dan daging di atasnya. (Na nggak yakin sih, ini mie biasa. Atau malah soba? Ya intinya, gitu lah)

“Enak!” seru Mikuri dan Hiramasa bersamaan.

Kami bukan suami-istri ataupun teman. Ini hanya hubungan kerja, ditambah kekasih untuk dipeluk tiap Selasa. Bagi kami ini menyenangkan karena tidak pasti.



Akan tetapi, kenapa...jadi seperti ini?

Mikuri dan Hiramasa tidur satu ranjang? Apa yang terjadi?!

BERSAMBUNG – sampai jumpai minggu depan ya #ehe

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Hahahaha ... ada yang kena spoiler? Atau tergoda nonton langsung?

Dorama satu ini rating tiap episodenya selalu naik lho. Sepertinya nggak Cuma i-fans aja yang suka, karena j-fans pun suka dorama satu ini. Pasangan yang lucu dan menggemaskan. Yang Na suka dari mereka adalah, perubahan sikap dan pertambahan kedewasaan yang nggak lebay dan natural banget. Jadi, mereka sama-sama berubah jadi lebih baik. Hmmmm ... baru setengah jalan sih ya. Masih ada banyak lagi kejadian lucu bin menggemaskan antara pasangan ini.

Jadi orang tua itu nggak mudah lho. Bahkan Yassan yang mantan yankee aja pusing. Mungkin itu pesan yang ingin disampaikan drama ini. Kalau jadi orang dewasa, terutama jadi orang tua itu adalah tanggung jawab besar. Nggak semua orang punya kesempatan jadi orang tua. hmmmm .... Na jadi kepikiran kapan kejombloan ini berakhir #eh #curcol

Hiramasaaaa eh, om Hoshino Gen ... daku padamu! #eaaaaa

OH YA, SELAMAT HARI IBU

UNTUK SELURUH IBU YANG ADA DI DUNIA INI ^_^ WE LOVE U
Bening Pertiwi 14.26.00
Read more ...