SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 08 part 1. Kalau bicara soal ‘love story’ paling susah, maka Reiji bisa jadi juaranya. Hubungannya dengan Misaki yang masih seumur jagung ternyata harus kandas karena salah paham.


Reiji yang awalnya hanya berniat mencium Misaki justru mengacaukan semuanya dengan alat anehnya. Pertengkaran pun tidak terhindarkan lagi. Dan kata itu, ‘pecat’ akhirnya keluar juga dari mulut Reiji.



Beberapa hari setelahnya ...


Mood Reiji benar-benar kacau. Beberapa kali dia tampak melamun dan tidak bersemangat. Sekt.Maiko pun terpaksa berulangkali menegur Reiji yang tengah melamun. Sapaan dari para karyawan pun tidak lagi dipedulikan oleh Reiji. Dia melangkah lurus langsung ke ruangannya. Suasana hati Reiji benar-benar kacau.


Situasi ini pun disadari para karyawan. Sudah tiga hari sejak Misaki keluar dari kantor, dan sikap Reiji masih saja aneh. Meski sebenarnya tidak terlalu suka dengan bos yang kaku, para karyawan ternyata cukup khawatir atas keadaan Reiji. Apalagi Reiji baru kencan selama dua minggu saja. Mereka bahkan belum pegangan tangan apalagi berciuman. Mungkin belum bisa dibilang ‘pacaran’ juga.



Putusnya Reiji dan Misaki berefek pada semua. Rapat di kantor menjadi suram dan datar, kecuali Ieyasu yang tidak tahu situasi. Suasana hangout para karyawan juga terasa hampa. Mereka masing-masing memikirkan soal sang bos yang tengah patah hati. Mahiro lebih sial lagi. Sang bos yang putus, tapi ia juga mendapat imbas kencan yang tertunda dengan ketua tim Goro-san.


Sebenarnya, aku tidak terlalu suka presdir. Tapi, aku suka presdir sejak Misaki bergabung di perusahaan. Waktu saat Misaki bergabung dengan perusahaan ...


Meski tanpa kata-kata, para karyawan sepakat untuk mencari cara, agar Reiji kembali menjadi dirinya yang biasa. Kecuali si Ieyasu yang sekali lagi, tidak tahu situasi.



Sekt.Maiko meletakkan kotak makanan di depan Reiji dan membujuknya untuk makan siang. Tetapi Reiji yang terlanjur badmood, sama sekali tidak tertarik.


“Betapa bodohnya aku. Aku memecatnya saat kami bertengkar, padahal itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Aku sangat menyesal sudah mengatakan hal buruk padanya,” keluh Reiji.


“Kalau Anda menyesal, kenapa tidak mencoba menghubunginya?” saran sekt.Maiko.


“Aku mencoba menghubunginya dan mengirimi pesan, tapi tidak ada jawaban. Aku mencari alamat rumah dari resum-nya, dan berpikir untuk datang ke rumahnya. Tapi ternyata aku tidak melakukannya.”


“Anda sudah berusaha,” hibur sekt.Maiko pula.



Para karyawan pria menyogok Katsunori-san dengan kotak makan siang menu mahal. Mereka meminta Katsunori-san agar bisa membujuk Reiji, agar bisa datang ke pesta perpisahan dengan Misaki. Katsunori-san sebenarnya ragu, tapi para karyawan itu terus saja membujuknya.


Para karyawan itu bahkan memberikan ide, agar melibatkan sekt.Maiko juga. Karena jika bertemu lagi, bisa ada kemungkinana Reiji akan menarik kembali keputusannya dan memaafkan Misaki. Soal apakah Misaki akan datang, para karyawan meyakinkan kalau itu sudah jadi urusan Mahiro. Mahiro yang bertugas membujuk agar Misaki mau datang.



Misaki dan Mahiro bertemu di sebuah kafe. Misaki menyerahkan berkas-berkas klien yang ditinggalkannya, untuk kemudian diurus oleh Mahiro.


“Aku punya satu permintaan. Kami akan membuat pesta perpisahan untukmu, dan kami berharap Misaki-san akan datang,” bujuk Mahiro.


Wajah Misaki berubah sedikit keruh, “Tidak perlu.”


“Yang lain sedih, karena tidak bisa membuatkan pesta perpisahan yang layak untukmu.”


“Aku menyesal meninggalkan perusahaan dengan cara ini, tapi mau bagaimana lagi,” ujar Misaki.


Mahiro juga mengatakan kalau Reiji mungkin juga akan datang. Dia sekali lagi membujuk Misaki, kalau pertemuan di pesta itu bisa jadi cara Misaki untuk bicara baik-baik dengan Reiji.



Sekt.Maiko memberikan undangan pesta pada Reiji dan memberitahukan kalau Misaki juga sudah bersedia untuk datang. Tapi Reiji ragu, mungkin saja Misaki akan batal datang kalau ia juga datang. Tapi Sekt.Maiko meyakinkan Reiji, kalau Misaki tetap akan datang karena ingin bicara dengan Reiji.


“Tapi, kenapa ada papan sasaran—darts—di pesta?” Reiji heran.


“Itu ide Ieyasu. Dia berharap Anda bisa mendapatkan hati Misaki sekali lagi,” sekt.Maiko menjelaskan.



Seperti biasa, Reiji naik mobil bersama sekt.Maiko dan Katsunori-san. Ia ingin memastikan status hubungannya dengan Misaki, apakah mereka masih kencan atau tidak. Tapi sekt.Maiko mengatakan ‘tidak’, karena Misaki sudah tidak bekerja di perusahaan lagi dan tidak bisa dihubungi lagi.


“Bisa dipastikan Anda telah putus dengannya,” sekt.Maiko menutup penjelasannya.


“Aku mengerti.”


“Jika Anda ingin kembali menjalin hubungan, pertama cabut pemecatan Anda terhadapnya, agar ia bisa kembali bekerja. Jika Anda serius, ada kemungkinan dia akan memaafkan Anda,” saran sekt.Maiko.


Reiji mengangguk-angguk, mengerti. Tapi ia kemudian mengganti topik pembicaraan, “Btw, apa yang terjadi dengan Wada?”


“Itu ... tidak baik. Aku minta maaf sudah membuatmu harus mendukung hal seperti ini,” ekspresi wajah sekt.Maiko berubah.


“Tidak masalah. Masih ada banyak laki-laki yang lebih baik dari Wada. Aku yakin, pasti ada pria yang jauh lebih cocok untukmu.”



Reiji sudah tiba lebih dulu di tempat pesta. Dan dia asyik bermain anak panah. Reiji bersorak senang saat mendapatkan nomer istimewa, 3-3-3. Sekt.Maiko berpikir kalau itu dibaca san-san-san. Tapi Reiji berasumsi lain, menurutnya angka itu bisa dibaca mi-san-san.


Sekt.Maiko kemudian mengusulkan agar Reiji membidik angka 1-1-7-3, yang dapat dibaca i-i-na-mi atau gelombang baik. Tapi Reiji justru berpikir ide lain, 1-3-7-3. Nomer ini dapat dibaca sebagai i-sa-na-mi- sensei. Seperti yang biasa jadi bahan obrolan Reiji dengan Misaki.



Saat itu Misaki baru saja datang. Karyawan lain antusias menyambut Misaki. Sementara Reiji justru salah tingkah, hingga beberapa kali anak panah-nya meleset dari sasaran.


Misaki pun menyapa Reiji. Reiji bertanya, apa Misaki pernah main anak-panah itu, yang dijawab ‘iya’. Reiji mengatakan kalau baginya, itu pertama kalinya dan ternyata menyenangkan. Misaki mengaku ada yang ingin dikatakannya pada Reiji, begitupula sebaliknya. Salah satu karyawan lalu meminta Reiji untuk memimpin toast.


Reiji kemudian mengambil minuman dan berdiri di atas tangga, “Hari ini aku datang saat tahu ini pesta perpisahan untuk Misaki. Tapi aku tidak ingin mengatakan selama jalan. Aku yakin, karyawan di sini juga merasakan hal yang sama. Itu jadi bukti kalau kehadiran Misaki tidak tergantikan untuk hotel Samejima. Jika Misaki mengatakan akan kembali ... aku akan menerimanya, dan kita akan membuat hotel terbaik di dunia.”


Misaki tersenyum, “Terimakasih. Ucapan Anda membuatku senang. Tapi ... aku memutuskan untuk bekerja di Stay Gold Hotels.”



Jawaban Misaki yang memilih bekerja untuk hotel milik presdir Wada itu membuat situasi yang tadinya hangat menjadi kacau. Reiji tidak menyangka kalau Misaki akan memilih hotel saingannya itu. Karyawan lain mencoba membantu. Ada yang bahkan menawarkan untuk menelepon presdir Wada untuk membatalkan penerimaan Misaki. Tapi Misaki menolak dan mengatakan keputusannya sudah bulat.


“Apa kau membenciku?” nada bicara Reiji berubah dingin.


“Tidak, aku tidak pernah.”


“Lalu kenapa kau pilih hotel milik Wada?” cecar Reiji.


“Setelah mempertimbangkan rencana masa depan mereka, lingkungan kerja dan kondisi pekerjaan, keputusanku itu pilihan yang tepat,” ujar Misaki tegas.


“Apa kau tahu tempat untuk para karyawan yang paling kubenci?”


“Sejujurnya, bekerjanya aku kembali, tidak ada hubungannya dengan Anda, Pak.”


Pertengkaran antara mereka pun terjadi lagi. Misaki menyalahkan Reiji yang lebih dulu memecatnya dan merasa pilihannya bekerja di hotel milik presdir Wada, bukan urusan Reiji. Sementara itu, Reiji sangat benci kalau Misaki memilih hotel itu. Reiji yang kesal bahkan menyuruh Misaki untuk pergi dari kota itu, supaya mereka tidak perlu bertemu lagi, sama sekali. Reiji berpikir kalau Misaki masih punya pilihan untuk bekerja di luar negeri, tetapi kenapa memilih hotel presdir Wada.


“Ada karakter di novel favoritku yang mirip seperti Anda. Tapi, Anda ribuan kali lebih menyedihkan dibanding karakter itu!” geram Misaki. Misaki pun beranjak pergi, masih dengan perasaan marah.



Karyawan lain berusaha menghentikan Misaki. Tapi kali ini, Misaki sama sekali tidak berbalik lagi. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


“Wanita egois seperti itu, aku salah pernah berusaha menahannya untuk pergi,” ujar Reiji. “Malam ini kita makan dan minum sepuasnya! Semuanya aku yang traktir!” Reiji pun mulai menenggak minumannya.


Para karyawan tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti kemauan Reiji. Hanya Ieyasu yang kembali tidak tahu situasi dan justru asyik bermain anak panah.



Sekt.Maiko memapah Reiji yang mabok, pulang ke apartemennya. Dan Reiji pun masih saja terus mengomel tentang Misaki. Seperti biasa, sekt.Maiko menanggapinya dengan santai. Ia tahu persis bagaimana menghadapi Reiji yang sedang kacau seperti ini.


Reiji menuduh sekt.Maiko marah padanya. Tapi sang sekretaris mengelak dan mengatakan kalau ia hanya kasihan pada Misaki, karena sikap Reiji tadi. Reiji tidak terima. Menurutnya, yang seharusnya dikasihani adalah dirinya. Reiji tetap tidak mau mengalah. Meski sekt.Maiko mengatakan ucapan Reiji tadi terhadap Misaki sudah sangat kasar.


“Karena dia sudah berhenti dari perusahaan, dia bebas memilih bekerja di manapun.”


“Kau memihaknya?” tuduh Reiji.


“Saya selalu berada di pihak Anda.”


Reiji desperate sendiri. Ia kesal karena hatinya sudah dibuat kacau oleh Misaki. Tapi tanggapan sekt.Maiko tetap saja dingin.


“Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba saja aku menciummu?” tantang Reiji. Ia kini berada hanya beberapa senti dari wajah sekt.Maiko.


Tapi ekspresi sekt.Maiko tidak berubah. Wajahnya tetap saja datar seperti biasa.


Reiji kesal sendiri. Ia pun menarik wajahnya menjauh, “Aku merasa sulit melakukannya dengan Misa-san. Tapi, denganmu, tampak mudah saja,” keluhnya kemudian.


“Tentu saja. Itu karena kau tidak punya perasaan apapun padaku,” jawab sekt.Maiko santai.



Reiji mengunjungi presdir Wada di kantornya. Reiji menebak kalau saat ini presdir Wada merasa malu. Yang dimaksud Reiji adalah ‘perburuan’ Shibayama Misaki untuk menjadi karyawan di Say Gold Hotel.


Tapi presdir Wada menanggapinya dengan santai, “Kau yang keliru. Dia (Misaki) yang datang sendiri dan memintaku untuk mempekerjakannya.”


“Kebohongan yang mudah ditebak,” cibir Reiji.


“Aku tidak mendekatinya sama sekali. Aku justru kaget karena dia berhenti bekerja di hotelmu.” Presdir Wada bahkan minta penekanan dari sekretarisnya juga. “Aku tanya padanya, ‘tidakkah Reiji akan sedih kalau kau bekerja pada kami’? Dan dia mengatakannya dengan wajah sedih. Jika bisa, dia ingin bekerja lebih lama lagi di Samejima hotel yang disukainya. Sepertinya kau salah mengurusnya. Jika kau memolesnya dengan benar, dia akan jadi permata yang bersinar.


“Tidak. Sejak awal, dia tidak tampak berharga. Dia Cuma batu biasa,” komentar Reiji.


“Sejak awal, memang salah membuat Misaki bekerja di dalam kantormu. Cara terbaik memanfaatkan kemampuannya adalah mempekerjakannya di garis depan untuk menerima tamu. Ini disebut juga ‘wajah’ hotel, ‘penerima tamu’. Saat dia datang ke perusahaanku, posisi rangking 1 di dunia akan aman dalam 10 tahun ke depan.”


Reiji kesal, “Cepat atau lambat, kau tidak akan sadar kalau kau sudah jatuh dari posisi teratas.”



Presdir Wada menyusul Reiji yang sudah akan pergi, “Kudengar kau akan membuat hotel baru di Tokyo.”


“Ya. Dan itu akan jadi hotel nomer satu dunia,” sombong Reiji.


“Apa kau sudah dengar dari Maiko-chan? Dia memutus hubungan denganku karenamu.”


“Bukankah kau yang menolaknya?” tanya Reiji balik.


“Jangan bodoh. Alasan aku dekat denganmu ... karena itu cara untuk mendekatinya.”


“Aku mendukung keputusan Maiko untuk kencan denganmu. Kalau kau menyalahkanku, kau menggonggong pada pohon yang salah.” (kira-kira artinya, kau menyalahkan orang yang salah)


Presdir Wada tersenyum dan melanjutkan ucapannya dengan tenang, “Dia menolakku dan mengatakan kalau dia menyukaimu.”


Reiji tertegun dengan ucapan presdir Wada.


“Dengan begini, kau masih mengelak ini bukan salahmu? Satu-satunya hal yang kuhargai darimu adalah ... kau masih bisa punya sekretaris menarik sepertinya selama bertahun-tahun, tanpa ada kecelakaan.”


“Tentu saja!”


“Sayangnya, kau memperlakukan Maiko-chan dengan cara yang salah juga. Sebutan yang paling cocok untuknya itu bukan sekretaris presdir ... tapi kekasih.”


Reiji kehabisan kata-kata.


“Kau hanya tidak tahu bagaimana spesialnya waktu bersama wanita seperti itu. Dengan kata lain, kau di bawah pria pada umumnya,” presdir Wada lalu berbalik pergi.



“Kenapa Maiko memandang remeh aku?” kali ini Reiji hanya bersama sopirnya, Katsunori-san.


Reiji kemudian bicara soal sekt.Maiko yang selalu ada untuknya, bahkan saat Misaki meninggalkannya. Reiji perlahan mulai menyadari pentingnya sekt.Maiko untuknya. Ia bahkan sempat berpikir kalau Misaki tidak benar-benar menyukainya.


“Di sisi lain, Maiko tahu persis sisi baik dan buruk Anda, lalu selalu mendukung Anda.”


“Jadi dia benar-benar menyukaiku?” Reiji menyimpulkan.


“Saya percaya dia orang yang bahkan akan tetap setia di sisi Anda hingga mati,” ujar Katsunori-san. Ia kemudian tidak sengaja melihat seseorang sedang melintas di jalan, tapi tidak yakin siapa orang itu.



Reiji memberi makan ikan medaka-nya sambil melirik ke arah ruangan sekretaris. Di sana, sekt.Maiko yang sadar sedang diperhatikan mendekai Reiji dan bertanya soal hasil pertemuan dengan presdir Wada. (ekspresi Reiji waktu ketahuan lagi memperhatikan itu ... krik krik banget, hehehehe)


Reiji mengaku kalau seperti biasa, presdir Wada selalu berhasil menemukan kelemahan Reiji. Sekt.Maiko menyarankan agar tidak perlu terlalu dipikirkan.


“Aku tidak memikirkannya, tapi setiap kali bertemu ... rasanya energi dan staminaku seperti tersedot,” cerita Reiji.


Sekt.Maiko kemudian menyadari kalau wajah Reiji tampak lebih merah. Ia bahkan mengulurkan tangan dan menempelkannya ke dahi Reiji, membuat Reiji kaget. Reiji berpikir kalau mungkin ini gara-gara ia baru bertemu presdir Wada. Dan lagipula ia tidak pernah demam selama 10 tahun terakhir.


“Tapi Anda benar-benar panas. Saya ambilnya termometer,” sekt.Maiko lalu berbalik pergi.


Tidak ada perubahan ekspresi pada wajah sekt.Maiko. Berbeda dengan Reiji yang justru makin tersipu. Ini semua karena ucapan presdir Wada tadi, soal sekt.Maiko.



Reiji akhirnya istirahat di apartemennya. Sekt.Maiko bahkan membuatkan bubur untuk Reiji yang tengah berbaring di ranjangnya. Sekt.Maiko khawatir kalau Reiji tidak bisa tidur. Reiji mengaku sedang banyak pikiran, jadi sulit tidur.


“Mungkin karena lelah perasaan yang Anda sembunyikan,” ujar sekt.Maiko. Ia pun minta izin untuk memijat kaki Reiji. Ia mengaku, ibunya dulu melakukan itu juga (memijat) saat dirinya sakit. Dan karena dipijat, ia jadi bisa tidur lelap.


Tapi Reiji tampak canggung, “Aku tidak mandi tadi sore. Jadi kakiku ... mungkin kotor.”


“Jangan pikirkan itu. Santai saja dan tidurlah,” ujar sekt.Maiko kemudian. (kalau dilihat, care-nya sekt.Maiko ini lebih mirip seorang ibu deh)



Reiji baru saja membuat bubur untuk sarapan saat ponselnya berbunyi, dari presdir Wada. Saat itu presdir Wada tengah asyik bermain dengan wanitanya di kolam renang. Presdir Wada menelepon balik, karena malam sebelumnya Reiji sempat menelepon tapi ia tidak merespon.


“Itu bukan masalah besar. Aku Cuma mau bilang, aku jadi pria kelas satu,” pamer Reiji membuat presdir Wada bingung. “Kau yang bilang padaku kan? Pria yang tidak tahu menikmati waktu bersama Maiko, adalah pria kelas rendah.”


“Kau bicara seolah sempat tidur dengannya,” presdir Wada tersenyum.


“Tidak, aku tidak tidur dengannya. Saat aku tiduran di ranjang, dia minta izin untuk memijat kakiku. Bagaimana menggambarkannya ... itu seperti mimpi.”


“Kau bercanda kan?” presdir Wada terkejut. “Dia wanita yang tidak kau kencani dan dia tiba-tiba saja memijat kakimu. Itu ribuan kali lebih sulit daripada mengajaknya ke ranjang.”


“Eh, benarkah?” Reiji ikut terkejut.


“Jangan bilang, kau tidak sempat cuci kaki,” tebak presdir Wada.


“Bagaimana kau tahu?”


“Oh, my God! Reiji ... kali ini aku mengaku kalah. Kau menang!” puji presdir Wada. “Kau berhasil mendapat apa yang diimpikan oleh pria, yang disebut dengan Muraoki Maiko.”



Reiji berangkat ke kantor seperti biasa. Sekt.Maiko yang bersamanya khawatir soal keadaan Reiji. Reiji mengatakan kalau ia masih sedikit demam tapi sudah lebih baik.


“Kalau aku tidur lelap lagi nanti malam, pasti akan jauh lebih baik. Karenamu aku bisa tidur semalam, terimakasih.”


“Anda ingin aku melakukannya (memijat kaki) lagi?” sekt.Maiko menawarkan.


“Oh, itu tergantung keadaan tubuhku nanti malam,” elak Reiji.


“Baiklah. Katakan saja kalau perlu.”



Di ruangan kantor, seorang pria berambut putih sedang membagi-bagikan makanan untuk para karyawan. Kotak tempat makanan itu tertulis ‘Samejima Ryokan’—penginapan Samejima. Pria itu ternyata adalah Samejima Kozo, ayah Reiji.


Para karyawan pun memuji Kozo-san sebagai ayah Reiji. Rupanya karena ketua tim Goro-san mengenali Kozo-san, sehingga tadi di depan kantor ia tidak diusir pergi oleh keamanan. Kozo-san pun sangat berterimakasih pada mereka. Ketua tim Goro-san mengaku pernah menginap di Samejima Ryokan, karenanya ia kenal dengan Kozo-san.


Salah satu karyawan lain juga mengaku pernah menginap, tetapi tidak mengenali Kozo-san. Kozo-san memahaminya. Karena meski dirinya adalah pemilik penginapan, kadang dia melakukan hal-hal remeh seperti mengatur sepatu tamu di pintu masuk atau menawarkan souvenir pada tamu. Hal-hal ini yang biasanya dilakukan oleh karyawan tapi ternyata dilakukan sendiri oleh Kozo-san.


“Kami pernah nyaris bangkrut. Tapi sekarang, meski aku tidak berbuat banyak, penginapan berjalan dengan baik, itu karena putraku.”



Saat itu Reiji baru saja masuk dan seluruh karyawan spontan mengucapkan salam selamat pagi. Sadar ada Kozo-san di sana, sekt.Maiko dan sopir Katsunori-san pun memberikan salam secara khusus.


Hanya Reiji yang tampak kaget dan kurang suka dengan kedatangan ayahnya itu, “Apa yang kau lakukan di sini?!”


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 08 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Bening Pertiwi 14.12.00
Read more ...

Musim panas itu musimnya ... ehm. Biasanya sih musim panas itu identik dengan drama tema horor ya. Entah kenapa para hantu di Jepang lebih suka keluar musim panas #ups. Tapi kali ini pilihan Na nggak jatuh dengan tema horor. Melainkan balik lagi dengan tema favorit Kelana, suspense. Seperti apa serunya suspense pilihan Na kali ini, Cek berikut yuk!




Soshite, Daremo Inakunatta (Lost ID)


Format: Renzoku


Genre: Crime, suspense


Jaringan tayang : NTV


Mulai tayang : Minggu, 17 Juli 2016


Waktu tayang: pukul 22.30


Lagu tema : Oni oleh CreepHyp


Penulis naskah : Hata Takehiko


Produser : Ito Kyo, Suzuki Akino, Watanabe Hirohito, Yagi Kinya


Sutradara : Sato Toya, Kubota Mitsuru, Tanaka Mineya


Musik : Kimura Hideakira, Suzuki Masato


Biar lebih lengkap, simak juga para pemerannya berikut ini.


 


Fujiwara Tatsuya sebagai Todo Shinichi


Seorang peneliti pengembang sistem elektronik yang bekerja di sebuah perusahaan besar. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil dan dia dibesarkan oleh ibunya, Makiko. Karir maupun kehidupan hubungannya berjalan lancar. Tapi suatu hari, seorang pria dengan nama sama dengannya ditangkap polisi. Ini membuat hidupnya kacau dan mulai hancur.



Nikaido Fumi sebagai Kuramoto Sanae


Tunangan Todo Shinichi. Dia sangat realistis dan benar-benar ingin menikah. Dia sangat bahagia dengan rencana pernikahannya dengan Shinichi yang dianggapnya pasangan ideal. Tapi Shinichi mulai berubah saat terlibat kasus dan Sanae pun mulai tidak mempercayainya lagi.



Tamayama Tetsuji sebagai Osanai Tamotsu


Teman sekelas Todo Shinichi saat di universitas dan masih jadi teman baiknya hingga kini. Dia dadalah birokrat karir di kementrian Komunikasi dan punya keinginan besar untuk mengubah dunia korup ini. Dia cepat tanggap dengan situasi Shinichi dan membantunya meski itu mengancam posisinya. Tetapi, fakta tersembunyi lain rupanya menunggu untuk diungkap.



Inoo Kei sebagai Kusaka Eiji


Pemilik dan bartender bar ‘KING’, bar tempat Todo Shinichi biasa mampir di perjalanan dari kantor ke rumah. Dia membuat orang merasa nyaman dengan tampilannya dan sikap baiknya yang disukai pelanggan. Tapi kehidupan pribadinya benar-benar misterius.



Endo Kaname sebagai Todo Shinichi (palsu)


Pelaku penganiayaan wanita di Niigawa. Seorang pria misterius dengan nama depan dan nama belakang sama, Todo Shinichi.



Mimura sebagai Nagasaki Haruka


Teman sekelas Todo Shinichi saat universitas dan pernah kencan dengannya. Saat tahu situasi Shinichi, dia segera datang membantunya. Dia menyemangati Shinichi dengan baik tapi ternyata masih menyimpan perasaan terhadap Shinichi.



Jinbo Satoshi sebagai Onizuka Takao


Detektif di divisi keamanan publik Tokyo Metropolitan Police Department (Tokyo MPD). Banyak sikapnya yang melawan aturan dan sering dianggap kasar oleh orang-orang di sekitarnya. Detektif yang punya cara kerja sendiri, dia akan melakukan berbagai cara untuk menangkap si pelaku.



Tsurumi Shingo sebagai Saijo Shinji


Pimpinan firma hukum Saijo. Dia adalah orang yang sangat haus uang sehingga mau saja menerima kasus apapun dengan bayaran besar. Dia menangani kasus ‘Todo Shinichi’ yang ditangkap karena tuduhan penganiayaan terhadap seorang wanita, tapi kliennya ini sangat misterius.


 


Kuroki Hitomi sebagai Todo Makiko


Ibu Todo Shinichi yang sangat baik, yang membesarkan Shinichi sendirian setelah suaminya meninggal. Dulunya dia seorang perawat. Tapi dia mengalami kecelakaan hingga sekarang harus berada di kursi roda. Dia sangat yakin pada Shinichi. Tapi kadang, hal mencurigakan muncul dalam ekspresi wajahnya.


 


Shison Jun sebagai Itsuki Keita



Konno Hiroki sebagai Saito Hiroshi



Ono Nonoka sebagai Nishino Yayoi



Sakurai Hinako sebagai Kimiie Saori



Koichi Mantaro sebagai Baba



Hiromi sebagai Tajima Tatsuo



Chart




Plot


Todo Shinichi yang berusia 32 tahun bekerja di L.E.D, sebuah perusahaan pengembang sistem komputer besar. Dia adalah pengembang sistem yang berbakat, yang menciptakan software yang bisa menghapus data apapun yang sudah beredar di internet. Shinichi baru saja memperkenalkan tunangannya, Kuramoto Sanae yang akan dinikahinya, pada ibunya, Makiko, dan semuanya berjalan dengan baik.


Suatu hari, tanpa terduga dia dipanggil oleh perusahaan dan dituduh mengambil identitas orang bernama Todo Shinichi. Di perusahaan, setiap 13 digit nomer pribadi terhubung dengan data kependudukan. Disebutkan jika pemilik nomer ini adalah pria dengan nama depan dan belakang yang sama. Tetapi memiliki wajah berbeda, dan beberapa hari silam baru ditangkap karena tuduhan penganiayaan terhadap wanita. Shinichi diminta untuk tinggal di rumah, karena dia tidak teridentifikasi. Saat dia bicara dengan temannya saat di universitas, Osanai Tamotsu—yang bekerja di kementerian Komunikasi—dia diberi tahu kalau data yang menunjukkan keberadaannya tidak ditemukan di manapun.


Untuk mencari tahu kasus ini, Shinchi pergi ke Niigata, dimana Shinichi palsu ditangkap. Tempat itu juga tempatnya dulu saat masih di universitas. Dengan bantuan temannya Nagasaki Haruka, Saito Hirosi dan yang lain, Shinichi tahu kalau informasi pribadinya telah di-hack. Dia adalah korban pencurian informasi pribadi. Dengan software yang dikembangkannya, dia berhasil menemukan nama dan data dari Shinichi palsu. Percaya diri dengan bukti yang didapatnya, Shinichi meninggalkan Niigata dan merayakannya dengan Osanai di bar yang dimiliki oleh Kusaki Eiji. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu kalau situasi lebih buruk sudah menunggunya.


Ini kesalahan sistem di negara? Atau ini perbuatan seseorang? Shinichi harus berjuang untuk mendapatkan identitasnya kembali melawan musuh tak tampak dan penghianatan teman yang dipercayainya. Dia juga dicurigai oleh orang-orang sekitarnya hingga banyak insiden misterius terjadi.


Cr. All English text from www.jdramas.wordpress.com


Kelana hanya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia


Posting at www.elangkelana.net


Kelana’s note :


NTV lagi guys ternyata. Ya ampun, kenapa Na selalu ‘terjebak’ sama drama suspense’nya NTV terus ya. Bukan berarti drama tv lain nggak bagus ya, Cuma kok ya kebetulan selalu gini. Nggak ada niat harus nonton NTV juga sih. Cuma ya ... pas aja. Duh si Na ribet banget sih.


Btw, Na tertarik buat sinopsis dramanya nih. Om Tatsuya Fujiwara emang juwara-nya kalau peran beginian. Dari peran baik sampai peran jahat super, dia selalu berhasil memerankannya dengan baik. Na selalu suka dengan akting si om satu ini, keren abis lah. Dia kalau akting total banget. Bisa rasanya pengen meluk, bahkan bisa bikin yang nonton pengen mukul tu wajah saking keselnya. Bisa banget.


Aaaaah di sini perannya dari ‘pelarian’ yang dikejar-kejar orang. (lalu baper, inget perannya di Death Note. Di endingnya death note, dia akhirnya mati dibunuh malaikat kematiannya sendiri. Tapi rasanya kok pengen meluk gitu. Duh )

Bening Pertiwi 14.36.00
Read more ...

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 2. Untuk kedua kalinya, Misaki pun menginap di apartemen Reiji, setelah dibujuknya usai mereka menaiki wahana kincir di taman hiburan. Meski tadinya menolak, Misaki akhirnya setuju.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, Reiji berniat mencium Misaki. Tapi, lagi-lagi Reiji gagal melakukan misinya. Saat itu Misaki—yang ternyata belum tidur—tahu dan menyadarinya. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?



Gagal melakukan misinya untuk mencium Misaki di malam sebelumnya, membuat mood Reiji hari berikutnya jadi buruk. Ia terus saja marah-marah dan mengkritik proposal yang sudah disusun oleh para karyawannya.


Para karyawan tidak bisa berbuat banyak. Mereka tidak punya pilihan lain selain memperbaiki kembali proposal-proposal itu dan mengajukannya pada Reiji. Reiji sendiri kembali ke ruangannya masih dengan perasaan kesal.



Sekt.Maiko sedang curhat pada Katsunori-san. Rupanya presdir, Reiji, masih belum tahu soal hubungan sekt.Maiko dengan presdir Wada. Sekt.Maiko sendiri bingung bagaimana caranya untuk mengatakan soal ini pada Reiji. Tapi saat Katsunori-san menawarkan bantuan, sekt.Maiko pun menolaknya.


“Aku akan mencari caranya,” ujar sekt.Maiko kemudian.



Reiji galau sendiri. Tadinya dia galau soal kata ‘love’, tapi ternyata ada kata lain yang tidak kalah membuatnya stres, yaitu ‘kiss’. Kali ini sekt.Maiko tidak terlalu menanggapi curhatan Reiji. Pikirannya masih mencari cara untuk memberi tahu Reiji soal hubungannya dengan presdir Wada.


“Aku ingin mengatakan analogi. Kalau saja, salah satu karyawan di hotelmu punya hubungan dengan sainganmu, kau pasti tidak akan setuju kan?”


“Wada kan? Kau pikir aku tidak tahu apapun?” ujar Rieji to the point.


Keterusterangan Reiji membuat sekt.Maiko kaget, “Jadi kau menyadarinya ... “


Reiji ikut kaget sendiri, “Eh benar? Kau benar suka pada Wada?”


“Anda kan baru saja bilang sendiri?”


“Itu Cuma tebakan acak. Aku tidak menyangka akan benar,” ujar Reiji kemudian.


Merasa kalau ia ketahuan, sekt.Maiko buru-buru minta agar obrolan itu tidak lagi dianggap oleh Reiji. Ia pun kemudian buru-buru pergi dari ruangan Reiji.



Seperti biasa, Reiji pulang diantar oleh Katsunori-san dan sekt.Maiko. “Pembicaraan kita tadi soal Wada, tidak masalah kan? Aku tidak masalah dengan itu. Siapapun pasanganmu, itu bukan urusanku. Aku tidak berhak ikut campur urusan pribadimu. Dan paling tidak, dia akan tahu tipe wanita seperti apa yang dia hadapi. Iya kan, Katsunori?” ujar Reiji.


“Benar!”


“Apa maksud Anda?” sekt.Maiko heran.


“Kau berhenti dari Samejima Ryokan (penginapan milik ayah Reiji), karena kau punya hubungan dengan pria beristri dan punya anak kan? Kau wanita yang terlibat pria berbahaya. Jadi itu biasa kalau kau tertarik dengan Wada. Ini waktumu untuk mendapatkan pasangan juga. Bukan waktunya untuk terlalu pemilih. Kau satu-satunya yang masih sendiri kan?”


Sekt.Maiko pun mengerti, “Terimakasih.”



Malam itu Mahiro datang dan menginap ke apartemen Misaki. Sebuah bangunan kuno yang sangat cantik, tetapi tidak memiliki kamar mandi sendiri. Mahiro begitu terkesan dengan apartemen itu dan akhirnya mengerti kenapa Misaki memilihnya.


Misaki bercerita pada Mahiro kalau ia kembali menginap di tempat Reiji, dan tidak ada yang terjadi. Misaki berpikir ini aneh, padahal mereka kencan dan bahkan Misaki sudah menginap dua kali.


“Mungkin dia memang tidak ingin melakukannya denganku?” tebak Misaki.


Tapi Mahiro justru punya imajinasi lain. Dia mengungkapkan kalau hubungan itu mungkin Cuma kamuflase saja. Kadang, ada orang kaya yang seperti itu. Mereka suka sesama jenis. Tapi mereka menikah dengan lawan jenis, hanya untuk menutupi kebenaran terhadap publik.


“Kau mungkin benar. Aku sering berpikir dia (Reiji) tidak terlalu cocok dengan wanita.”


“Tapi aku tidak merasakan aura khusus seperti itu sih,” lanjut Mahiro.


Malam itu, Mahiro benar-benar menginap di tempat Misaki. Ia memberi usul agar Misaki yang mencoba melakukannya lebih dulu.


“Itu akan aneh. Karena aku tidak mungkin melakukan itu,” elak Misaki.


“Kalau begitu, kau akan kalah kalau Cuma menunggu dan tidak mencoba melakukan apapun. Karena saat ini, laki-laki atau wanita, tidak masalah siapa yang mulai duluan,” Mahiro mencoba meyakinkan Misaki.



Sementara itu, Reiji justru menghubungi Katunori-san. Ia meminta sopirnya itu untuk datang ke apartemennya. Reiji bahkan mengijinkan Katsunori-san menggunakan kamar mandinya dan mengajaknya minum bersama. Kebaikan Reiji ini membuat Katsunori-san curiga. Tapi ia kemudian paham kalau yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Reiji adalah soal sekt.Maiko.


“Apa tidak masalah membiarkannya kencan dengan Wada? Sejujurnya aku tidak pernah mengira.”


“Kupikir Anda akan menentang itu,” komentar Katsunori-san.


“Kalau memikirkan dia (sekt.Maiko), mana yang lebih baik, mengijinkan dia kencan dengan Wada atau menentangnya? Sejujurnya, aku tidak tahu harus berbuat apa,” curhat Reiji. “Kupikir ini tanggungjawabku juga.”


“Tanggungjawab soal apa?”


“Tanggungjawab menjodohkan dia dengan seseorang, karena aku sudah membawanya dari ryokan ke perusahaan sekarang. Karena kau sudah menikah, tinggal dia saja.”


“Tapi Anda juga belum menikah,” protes Katsunori-san.


“Itu ... akan segera terjadi. Jadi tidak perlu khawatir soal aku,” elak Reiji.


“Tapi, tidak perlu khawatir soal sekt.Maiko juga.”



“Kau pasti tidak pernah berpikir akan berdua denganku seperti ini dan bicara soal ... kiss,” ujar Reiji. Ia tidur di ranjang, sementara Katsunori-san di futon yang tidak jauh dari tempat Reiji.


Reiji melanjutkan sesi curhatnya soal ‘kiss’. Tadinya ia berpikir hal paling membahagiakan adalah bisa mencium orang yang disukai. Tapi ternyata tidak. Tidak masalah, tidak mencium orang yang disukai. Karena berada di dekatnya saja sudah cukup. “Tapi Maiko menceramahiku. Katanya kasihan Misaki karena aku tidak menciumnya padahal dia sudah menginap di sini. Bahkan kedua kali dia di sini, aku tidak melakukan apapun.”


“Saya bisa mengerti apa yang Anda pikirkan,” komentar Katsunori-san, setia mendengarkan.


Reiji merasa perlu melakukan sesuatu untuk hubungannya ini dengan Misaki. Reiji punya ide. Ia berpikir untuk membuat ‘seolah-olah’ kaki ranjangnya patah hingga dia terjatuh ke arah Misaki yang tidur di futon dan ... ciuman kecelakaan pun bisa terjadi.



Malam itu pun Reiji langsung merealisasikan idenya. Setelah mencari model yang dirasa cocok, Reiji menyuruh Katsunori-san untuk mempersiapkan semua alat dan bahannya. Sekarang Reiji bekerja menyusun ranjang ‘kecelakaan-nya’ dibantu Katsunori-san. Setelah ranjang itu jadi, Reiji berpikir untuk mencobanya. Ia menyuruh Katsunori-san mencoba pertama kali, berhasil. Setelah menarik tali yang disambungkan dengan sistem ranjang ‘kecelakaan’ itu, kaki ranjang di salah satu sisi terlipat ke dalam dan Katsunori-san pun terjatuh tepat di atas futon.


Sekarang giliran Reiji. Percobaan pertama, berhasil. Reiji mendarat jatuh tepat di atas futon. Untuk pelengkapnya, Katsunori-san sekarang meletakkan sebuah baskom dengan tanda merah di salah satu sisinya—sebagai bibir—untuk percobaan.


Percobaan berikutnya, gagal. Berkali-kali Reiji mencoba, tetapi selalu saja gagal membuat bibirnya tepat mendarat di tanda merah pada baskom. Saat hampir menyerah karena kelelahan, Reiji masih kembali mencoba dan ... ia pun berhasil mendaratkan bibirnya tepat pada tanda merah pada baskom. Latihan berhasil!



Ponsel Reiji berbunyi tepat setelah latihannya berhasil. Sebuah pesan dari Misaki.


Bisakah aku datang ke rumahmu lagi besok malam?


Mendapat pesan itu, Reiji langsung sumringah, “Tepat waktu! Dia baru saja mengirim pesan! Sekarang jadi waktu yang tepat kan?! Kali ini aku akan benar-benar melakukannya!” ujar Reiji yakin.



Malam berikutnya. Reiji menyempatkan berbelanja setelah pulang kantor. Sekt.Maiko yang khawatir, menawarkan bantuan untuk Reiji. Tapi ditolah oleh Reiji karena ia ingin memasak bersama dengan Misaki saja.


“Daripada bicara soal itu, apa saja yang sudah terjadi antara kau dengan Wada?”


“Tidak ada yang khusus,” ujar sekt.Maiko, agak malu.


“Kalau kau punya waktu khawatir soal orang lain, khawatirkan dirimu juga,” ujar Reiji.


Sekt.Maiko pun mengerti dan pamit pergi. Malam itu ia juga punya janji temu dengan presdir Wada.



Seperti janjinya, Misaki benar datang. Reiji menawari beer atau champagne untuk Misaki yang dijawab Misaki dengan beer. Malam itu, Reiji dan Misaki memasak bersama. Sementara Misaki mempersiapkan sayur di panci, Reiji membersihkan dan membuat fillet ikan. Misaki bahkan memuji kemampuan Reiji soal satu ini. (iya lah, bang Ohno kan cinta banget tuh sama ikan, ekekeke. Hobby-nya kan mancing)


Setelah semua matang, mereka berdua pun makan malam bersama. Reiji memuji makanan di depannya itu. Tapi Misaki mengelak, karena setengah dari masakan itu juga buatan Reiji.


“Meski aku memasak, aku tidak mungkin bisa membuat rasa seenak ini. Kalau kau buka restoran, aku bisa pastikan akan datang tiap hari,” puji Reiji lagi.



Sekt.Maiko minum sendirian di bar tempat biasa mereka bertemu. Tidak lama setelahnya presdir Wada pun datang dan bergabung untuk minum. Mereka mengobrol sebentar sebelum presdir Wada pamit untuk menelepon.


“Kau bisa pergi duluan kan?” ujar presdir Wada sebelum pergi.


Sekt.Maiko melihat presdir Wada meninggalkan kunci sebuah kamar di meja. Ia pun mengerti apa maksud presdir Wada soal kunci itu.



Misaki sudah terlelap di balik selimutnya saat Reiji masih di kamar mandi. Setelah membersihkan wajah, Reiji masih sempat mengoleskan krim pelembut di bibirnya. Reiji bersiap. Saat kembali, Reiji melihat Misaki sudah terlelap, dan dia pun naik ke ranjangnya sendiri.


Sejenak Reiji ragu. Beberapa kali ia melihat ke arah Misaki. Misi kali ini harus dilakukan, apapun yang terjadi. Reiji mengambil tali yang tersembunyi di bawah bantalnya, kemudian memantapkan hati untuk melakukan misinya. Beberapa kali Reiji mengimajinasikan situasinya.



Tapi belum sempat melakukan apapun, justru Misaki yang bangun. Melihat Misaki, Reiji buru-buru memejamkan mata dan menyembunyikan lagi tali yang tadi dipegangnya di balik bantal.


Menuruti saran Mahiro, Misaki pun berniat untuk melakukannya lebih dulu. Ia beringsut ke ranjang Reiji. Misaki mendekatkan wajahnya pada Reiji, bersiap mencium. Reiji yang belum benar-benar tidur, tahu itu. Tapi ia merasa tidak nyaman hingga sedikit menghindar dan justru menarik tali yang sejak tadi dipegangnya. Kaki ranjang Reiji pun tertekuk ke dalam membuat ranjang itu ambruk. Reiji dan Misaki otomatis terjatuh ke arah futon di bawah.


“Apa itu?”


“Aku, juga tidak tahu yang terjadi,” elak Reiji.


“Apa kau membenciku?” tuduh Misaki.


“Tidak, tentu saja tidak!”


“Lalu kenapa kau menolak?” protes Misaki.


“Ini? Ini bukan alat untuk menghindarimu,” elak Reiji cepat.


“Kalau begitu, itu apa?” cecar Misaki. Ia masih memegang bahunya yang kesakitan karena jatuh tadi.


“Itu ... aku tidak tahu tali apa ini. Saat ditarik, jadi seperti ini,” Reiji mencari alasan. “Ini Katsunori! Dia membuatnya untuk mengagetkanku!” Reiji mencoba menjelaskan.


Tapi Misaki tidak bisa menerima penjelasan Reiji, “Bohong! Kenapa kau bohong?”


“Aku membuat ini untuk mengejutkanmu. Semacam ranjang kejutan. Tapi aku tidak berpikir membuatnya jadi salah baham. Benar, ini hanya salah paham,” Reiji masih berusaha memperbaiki situasi.


Tapi Misaki sudah tidak mau dengar lagi, “Presdir yang cakap dalam pekerjaan, tenang dan dewasa, seorang yang kadang terlalu langsung dan ceria. Itu kesanku terhadapmu.”


“Itu benar. Tapi, kita setuju kan kalau kau tidak memanggilku presdir saat kita Cuma berdua?”


“Kau tahu benar yang terjadi. Selain membuat ranjang ini, tidak bisakah kau pikirkan cara yang lebih baik? Kau banci! Ini pertama kalinya aku bertemu pria yang sangat banci!” suara Misaki meninggi.


Tidak terima dikatakan ‘banci’, Reiji pun naik amarahnya, “Ini juga pertama kalinya bagiku, bertemu wanita keras kepala!”


Pertengkaran keduanya pun makin panas. Reiji dan Misaki saling menyalahkan soal ciuman, soal siapa yang harusnya lebih dulu melakukan ciuman.


“Aku benar-benar kaget sekarang. Aku ingin mengubah pandanganku soal presdir yang selalu berpikiran terbuka! Aku keliru menilaimu, pria yang banci—pengecut—dan sama sekali tidak tenang apalagi dewasa!”



Tidak tahan lagi dimaki oleh Misaki, kata itu pun keluar dari bibir Reiji, “Kau diPECAT!”


“Begitu! Terimakasih untuk semuanya di waktu singkat ini!” Misaki pun beranjak ke ruangan sebelah untuk ganti bajunya. Setelahnya Misaki pun berlari keluar dari apartemen Reiji.


Reiji meminta Misaki untuk berhenti. Rapi Misaki tidak peduli lagi. Marah oleh semua yang terjadi, Reiji mengambil gambar Isanami Suyao dan Isanami Shiho yang ditempelnya di dinding lalu menyobek-nyobeknya dengan kesal.



Presdir Wada kemudian menyusul sekt.Maiko ke kamar hotel. Ia mempersilahkan sekt.Maiko untuk mandi duluan, kalau mau.


“Aku berubah pikiran. Aku tidak bisa berkencan denganmu,” ujar sekt.Maiko tiba-tiba.


Ini membuat presdir Wada kaget sekaligus heran, “Kenapa? Bukankah ini sudah terlambat untuk berubah pikiran?”


“Akhirnya, aku sadar tidak bisa menghianati Reiji. Meski dia bilang tidak masalah, tapi sebenarnya tidak begitu. Dia bukan orang yang dengan mudah mengatakan ‘silakan’. Aku minta maaf.”


Presdir Wada sama sekali tidak mengerti, “Kenapa wanita cerdas sepertimu bisa begitu peduli padanya? Sepenting apa dia bagimu? Bisa kau jelaskan padaku?”


Sekt.Maiko tersenyum, “Benar. Itu tidak bisa dikatakan dengan kata-kata saja. Orang tidak bisa begitu saja mengerti hal baik soal Reiji. Jika aku berpindah memihak padamu, Reiji tidak akan punya rekan yang melindunginya. Itulah kenapa aku perlu berada di sisinya. Itu sudah kuputuskan sejak 8 tahun silam, saat dia mengajakku bergabung.”


“Begitu sukakah kau pada Reiji?”


“Ya, aku suka dia. Sangat menyukainya,” aku sekt.Maiko pula.



Setelah mulai tenang, Reiji mengumpulkan kembali sobekan kertas yang tadi dibuangnya lalu ditata di meja. Sayangnya, satu bagian kertas itu tidak ada, bagian tengah.


Reiji tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya berbaring di sofa dengan tangan terapit kedua kakinya yang tertekuk. Air mata perlahan mengalir di pipi Reiji.


BERSAMBUNG


Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 2


Pictures and written by Kelana


FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net


Kelana’s note :


Kyaaaa ... bang Ohno patah hati. Sini, Bang. Ke pelukan adek aja, kekekeke #dilemparSandal. Terus terang, Na bisa nonton bang Ohno akting jadi detektif atau semacamnya, yang karakternya dingin cool gitu. Jadi nonton dia di sini dengan karakter seperti ini, rasanya jadi fresh aja. Ya maaf deh, Na nggak nonton varshow-nya Arashi sih. Tapi sepertinye leader Arashi ini memang raga gokil gimanaaaaa gitu ya.

Bening Pertiwi 13.02.00
Read more ...